"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap." ―Milea "Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama." ―Dilan
Pidi Baiq adalah seorang seniman yang punya banyak kelebihan. Selain sebagai seorang musisi dan pencipta lagu, ia juga seorang penulis, ilustrator, pengajar dan komikus. Pidi Baiq mengaku imigran dari surga yang diselundupkan ke Bumi oleh ayahnya di Kamar Pengantin dan tegang.
tidak berekspektasi banyak terhadap novel ini, dan ya, sebenarnya saya kurang menikmati sih. kenapa? 1. karakter dilan justru melemah dan kurang menonjol padahal konflik semakin berkembang (duh, seperti bukan Dilan banget kalau menurut saya). 2. banyak repetisi di bagian awal. dan saya saya sempat bosan karenanya. sebenarnya ini bagus karena membuat orang yang tidak membaca bagian satu tetap mendapat gambaran kisah mereka sebelumnya. 3. Milea (menurut saya) di buku ini jadi terlihat tidak begitu istimewa selain bahwa dia anak cantik yang disukai semua laki-laki dan ibu-ibu yang mempunyai anak laki-laki. 4. pada dasarnya saya suka bunda Dilan dan Ibu Milea, tapi kesan yang saya tangkap mereka terlalu "muda". maksudnya, kalau saya jadi orang tua, saya mungkin akan lebih "menjaga" anak saya yang masih SMA, apalagi mereka punya pacar (say me conservative or so, tapi Bunda Dilan dan Ibu Milea rasanya oke oke saja dengan sikap dan tingkah laku anak anak mereka.) bagusnya buku ini? ada pick up line khas Dilan untuk Milea, yang, gombal sih tapi kreatif. lalu pesan bahwa memang dalam kehidupan ini tidak semua rencana / hal yang kita inginkan bisa terwujud. menurut saya line yang paling menyedihkan dari Milea adalah ini: Aku rindu! Kau harus tahu itu selalu. Mengerikan membayangkan milea sudah berkeluarga dan punya anak, tetapi perasaannya ke Dilan masih tetap sama. dan menyebalkan sekali pembaca tidak tahu perasaan dari sisi Dilan semenjak mereka putus. ah!
Setelah membaca buku Dilan bagian dua sampai habis, saya teringat dengan perkataan Sudjiwo Tejo
“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kita bisa berencana menikahi siapa tp tak dapat kita rencanakan cinta kita tuk siapa.. Nasib bisa diperjuangkan tapi takdir tidak bisa ditolak.”
Takdir telah membuat Milea dan Dilan Saling mencintai, tapi nasib berkata lain. keduanya berpisah dan menikah dengan pasangan masing-masing. Perih, lebih perih dari shampoo yang masuk ke mata ketika mandi.
Pidi Baiq sedang curcol melalui novel ini, betapa dia cinta pada Milea Adnan Husein. Tapi seperti biasa, Pidi Baiq selalu punya cara untuk menyampai perasaan dan pikirannya dengan cara yeng berbeda. Dia lempar batu sembunyi tangan, menjadikan benak Milea sebagai sudut pandang cerita. Seolah kisah ini tentang orang lain, padahal novel ini curahan kenangan masa lalu Pidi.
Cerita di novel Dilan bagian kedua tidak seajaib yang pertama (pendapat pribadi saya). Cerita tentang Dilan hanya sedikit. Selebihnya cerita tentang tokoh-tokoh lain yang ada di kehidupan Milea.
Cinta itu tidak adil, banyak orang yang baik kepada Milea, tapi hati Milea tetap cenderung pada Dilan. Padahal Dilan banyak kekurangan, ya namanya manusia. Ini semakin menguatkan pendapat saya kalau cinta itu bukan karena, tapi walaupun
walaupun Dilan anak geng motor walaupun Dilan suka berantem walaupun Dilan sudah punya pacar baru walaupun Dilan Sudah jauh entah di mana Cinta Milea hanya untuk Dilan
Begitulah kejamnya takdir cinta. Ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai, suara Adele terdengar sayup-sayup
Why don't you remember? Don't you remember? The reason you loved me before, Baby, please remember me once more,
Kalau ada yang bilang novel Dilan bagia pertama lebih seru dari bagian kedua, aku rasa itu hal yang wajar, karena yang namanya masa-masa PDKT jauh lebih seru dan menyenangka tinimbang ketika sudah jadian yang penuh drama.
Ya, tapi walau bagaimanapun, seperti yang dikatakan Milea, " Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, mari biarkan."
Karena ini bukan buku biasa, sebaiknya dibaca dari yag kedua dahulu baru masuk ke buku pertama. #alasanasal
Bila banyak yang terkesan oleh rayuan maut Dilan yang meluncur deras dan memang layak kutip, saya lebih terkesan oleh kejujuran dan otentisitas Dilan. Romantis lahir dari dua hal tadi. Ia adalah buah dari kemampuan jujur atas perasaan dan tetap menjadi dirinya sendiri. Orang sering menyebutnya dengan nyeni, mungkin karena seni juga berurusan dengan otentisitas. Tapi otentisitas juga berkait erat kesadaran aku yang positif, seperti ungkapan dia yang mengenal dirinya mengenal Tuhannya. #lohkokserius
Mengapa Beni tidak romantis? Karena Ia menjadikan dirinya seolah Gibran namun sesungguhnya ia plagiator. Mengapa Kang Andi tidak sungguh bijak dan dewasa tetapi malah berkesan tua dan patronizing? Karena ia saat menasehati Lia menyembunyikan interesan yang lantang terbuka. Nasihatnya pretensius demi kepentingannya. #antagonisyangmenjadicermincekungDilan
Namun Dilan? Terpujilah yang bisa menyuarakan kegalauan dengan lantang tanpa kemudia takut menjadi murahan. Karena jujur itu sungguh mahal, terutama pada diri sendiri. Dilan sanggup jujur dan jadi dirinya sendiri (otentis). Suratan apa yang membawa Dilan dan Lia bukan soalan. Karena pada manusia-manusia otentik yang sanggup menjadi dirinya tanpa berpikir untuk asal nganehi, saya menjura. #bukanreview #belumbacabuku1 #kokjadikekinstagram #masihpengennulisreviewpanjangnya #nungguketemusamayangmaungasihbuku1nya
"tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah."
Ini kisah Dilan dan Milea satu tahun setelah buku pertamanya. Tahun 1991. Milea masih menceritakan kelanjutan kisah pacarannya dengan Dilan. Setelah peresmian hubungan mereka yang konyol di dalam warung.
Masih sama menghibur. Milea masih mendampingi Dilan yang tambah sering membuat onar bersama genk motornya.
"Kamu harus tau, senakal-nakalnya anak genk motor, mereka juga shalat pada waktu ujian praktek agama."
PRAKTEK AGAMA! gila emang kang Pidi pemilihan katanya. hahahahahaha..
Beberapa kali Milea berusaha membuat Dilan lebih baik dengan tidak ikut genk motor lagi. Tapi Dilan memang punya sifat tidak ingin di kekang.
"kalau kamu ninggalin aku, itu hak kamu, asal jangan aku yang ninggalin kamu. Aku takut kamu kecewa."
di Novel ini juga masih digambarkan gimana Milea memang sosok wanita Bandung yang geulis, banyak laki-laki yang mendekatinya. Sayang hatinya masih untuk Dilan.
Sedih baca kisah dilan kedua ini. Gimana Dilan dan Milea sama-sama menyanyangi, tapi Milea harus menyerah akan sikap Dilan yang bandel. Gue masih suka sama penggambaran Dilan yang tidak bisa ditebak. Dia membuat pembaca ikut tertawa akan usaha banyolannya. bahkan dengan kalimat sederhana yang kang Pidi ciptakan : "itu langit" "itu pohon"
Gelo! Tp gue mau protes akan kisah menjelang akhir! kemana Dilan kang Pidi???? kemana dia?????
Gue cukup sedih sih gitu menjelang buku ini selesai. Gak rela aja Dilan kayaknya gak ada usahanya memperbaiki apa yang sudah rusak.
Dan gue rasa kisah Dilan biarlah cukup sampai buku kedua ini. Jangan dirusak jika ada seri ketiganya. Bakalan gak sesuai sama pembaca harapin pastinya :')
Terimakasih kang Pidi akan gombalan tahun 90 an bersama Dilan.
Best part in relationship adalah masa-masa pedekate. Membaca lanjutan buku Dilan, kebenaran kalimat itu terasa sekali buat saya. Terasa sekali bahwa hal yang sulit itu adalah proses mempertahankan dan bukan proses mendapatkan. Yang sulit itu adalah menerima dan berkompromi dengan kekurangan pasangan.
Dilan #2 adalah kisah ketika Dilan dan Milea sudah sah menjadi pasangan pacar (gini amat bahasanya..). Dan seperti perempuan pada umumnya (apa saya doang itu ya), status nyata seakan memberi kuasa kita untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya segan dilakukan. Mengakui kangen, misal, atau merasa berkewajiban tahu “kamu dimana sama siapa lagi apa”, bahkan merasa berhak meminta (yang lama-lama jadi mengatur) apa saja. Perasaan memiliki juga menambah tekanan perasaan takut kehilangan yang berimbas menjadi kekhawatiran berlebihan, posesif, dan ujung-ujungnya larangan ini itu.Itu yang terjadi pada Dilan dan Milea.
Dari buku pertama pun Milea sudah tahu bahwa Dilan anak geng motor. Awalnya, fakta itu sangat menganggu. Tapi dasar laki-laki kalo lagi pengen sesuatu pasti usahanya kenceng banget, segala upaya pedekate Dilan (yang memang beda dan memorable) berhasil meluluhkan Milea, sampai akhirnya Milea bisa berdamai dengan fakta itu, pada awalnya. Belakangan, menjadi pacar anak geng motor yang selalu terlibat perkelahian mau tak mau membuat Milea khawatir. Takut Dilan kenapa-napa.Wajar, iya, wajar banget. Dan lalu, inilah masalahnya.
Biasanya nih ya, biasanya, dalam satu hubungan ada aja pihak yang merasa dikekang dan sejenisnya (PAKAR YHA??). Dilan, yang berjiwa seniman, memang dasarnya keras, tidak mau diikat aturan, berjiwa bebas, tidak suka diperintah apalagi dipaksa ini itu. Ketika kekhawatiran Milea menjadi-jadi, Dilan tidak bisa berkompromi atau sedikit pun menenangkan Milea. Dia bertahan dengan sikapnya dan malah memberontak serta memilih bersikap defensif. Milea juga, udah tau Dilan begitu, bukannya dibikin tenang dan diyakinkan “aku ada di sini, aal iz well” malah cenderung menekan dan memaksa Dilan. Saya bukan #TimMilea atau #TimDilan yang ramai diributkan itu. Sikap Milea beralasan, Dilan juga. Mungkin karena mereka masih muda, hati dan kepala mereka mudah panas, sama-sama tidak mau mengalah, dan merasa paling benar. Hambok ya kalo sayang cari jalan keluar yang lebih enak buat berdua. Daripada sok masokis gitu menyakiti perasaan sendiri tapi keukeuh sama sikap masing-masing. (PAKAR BENERAN YHA??!!)
Suka dengan endingnya. Ceritanya tidak terkesan dipaksakan, apa adanya, dan yaaa kehidupan memang begini.
Perlukah saya mengomentari anu-anuan Pidi Baiq? Saya rasa engga. Ayah Pidi Baiq jelas bukan menulis sesuatu yang berdasarkan KBBI. Untuk ahli tata bahasa, membaca ini pasti membuat kepala berdenyut dan migren. Pidi Baiq sama sekali mengabaikan kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan menulis semaunya. Walaupun sejujurnya saya rada terganggu juga dengan penutupan buku Dilan #2 yang terkesan memaksa ingin memasukkan quote-quote, tapi selebihnya, saya menikmati membaca ini.
Buku yang oke buat dibaca kalo lagi pengen rehat dari bacaan berat dan perlu mikir. Lebih rekomen buku pertama sih daripada buku kedua. Buku pertama manis-manis bikin gula darah stabil gitulah, buku kedua lebih menaik-turunkan emosi. Tapi yaa, kalo udah baca buku pertama biasanya penasaran sih sama buku kedua.
masih aja gw ga suka ma meelia :D buku kedua ini lebih melow dibanding buku satu.. suka banget sama karakter bunda dan ayahnya dilan.. nyokapnya melia juga.. tapi endingnya ga asik ah :(
btw emang th 90an udah ada ungkapan "sok iye"?
tapi pastinya membaca buju dilan #1 dan #2 membuat gw pengen teriak ke temen2 seangkatan gw " woooy lo baca ni buku niiih, noraaak banget tp bikin kangen.. khas 90an" hwahahaha
"Kalau di buku Dilan yang pertama, Dilan membuatku jatuh cinta, di buku yang kedua ini aku dibikin patah hati." Ucap salah seorang temanku.
Ya, betul sekali ucapan temanku tersebut. Membaca buku ini berakhir dengan kesedihan. Walaupun dalam prosesnya kita masih bisa menemui sosok Dilan yang menghibur dengan spontanitasnya dalam setiap obrolan dan rayuannya pada Milea. Dan sosok Milea yang benar-benar dibuat jatuh cinta oleh Dilan. Milea yang seringkali dibikin kesal oleh tingkah-tingkah Dilan, namun tidak kuasa untuk mengkhawatirkannya, tidak ingin sesuatu yang buruk apapun terjadi kepada Dilan.
"Kalau dulu aku berkata bahwa aku mencintai dirimu, maka kukira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap dan berlaku tidak hanya sampai pada hari itu, melainkan juga di hari ini dan untuk selama-lamanya." (Milea)
Ya, saat kita mencintai seseorang, orang tersebut selalu memiliki tempat di hati kita. 'Aku mencintaimu' bukan hanya kata-kata yang berlaku untuk sesaat. Sekali diucapkan, aku mencintaimu, akan selalu begitu hingga seterusnya. Orang yang kita cintai tidak pernah meninggalkan tempatnya di hati kita, namun hati kita selalu sangat luas untuk menerima orang-orang baru untuk dicintai juga.
Bintang 5 rasanya cukup untuk menggambarkan pengalaman ku membaca cerita Dilan bagian kedua ini. Cerita yang kedua ini sarat dengan konflik. Penuh haru. Dari awal membaca buku ini tidak pernah bisa berhenti penasaran sampai cerita berakhir. Yang masih saya kagumi dari cerita tentang Dilan ini adalah karakter2 dalam cerita ini begitu khas dan mudah diingat. Tidak seperti beberapa cerita yang memiliki begitu banyak karakter yang sifatnya mirip2. Next... Saya penasaran sekali dengan bagian/ seri ketiga cerita tentang Dilan dan Milea ini. Good job buat Pidi Baiq.
Selesai membaca buku yang pertama dan dengan akhir yang ternyata seperti itu, aku rasa aku harus melanjutkan hingga buku kedua. Ternyata buku ini di luar ekspektasiku.
Kalau kamu ingin merasa jatuh cinta dengan Dilan, baca saja buku pertama. Tidak perlu melanjutkan ke buku kedua. Bukankah kamu sudah tahu bahwa suami Milea bukanlah seorang Dilan?
Seperti yang aku tulis di review Dilan 90, cerita di Dilan bagian kedua ini memang bikin lebih penasaran lagi. Kisahnya sendiri bersambung mulus dari Dilan 90.
Disini memang bisa dibilang konfliknya lebih memuncak. So on an on.
Tapi dibalik semuanya, aku cuman mau nulis, gue salut sama mbak Milea, atau siapapun namamu mbak, kisah hidupmu berkesan.
Gue nulis ini dengan mix feelings. Sumpah. (Di jam 2 pagi lebih lima menit), iya 2 seri aja butuh maraton dari jam 9 malem-2 pagi. Saya bukan speed reader.
Ceritamu beresonansi dengan kuat kepada pembaca. Itu yang kukira sebagai alasan kenapa buku ini layak diberi lima bintang. Nggak sabar nunggu versi filmnya juga.
Sh#$ masih ada 1 buku lagi. Gimana caranya biar bacanya nggak baper ya?
Overall buku ini, sekali lagi karena udah selentingan kabarnya memang kisah nyata, jadi bener-bener, apa ya, mau dibilang, touching, nggak, ya, ngena di hati aja.
So, this book is cringier than the first one. And Milea turned out to be even dumber and more selfish than ever. But did I enjoy the story? Yes, I did and I'm looking forward to read the last book in this trilogy!
Sebenarnya saya nilai 3.5 bintang. Dari keseluruhan bab, bagian yang paling saya suka adalah di empat bab terakhir. Di situ adalah saat paling menentukan kelanjutan hubungan Milea dan Dilan. Entahlah, buku kedua ini kurang dapat gregetnya. Lebih banyak diisi oleh curhatan Milea yang terobsesi dengan Dilan. Mengapa saya bilang terobsesi, karena Milea seperti jatuh ke dalam perasaannya yang mendalam kepada Dilan sampai-sampai harus mengekang kegiatan Dilan bersama geng motornya. Dan ketika Milea membuat keputusan, hal itu malah membuat penyesalan untuknya. Di sisi Dilan, ia telah merasa menjadi pacar yang gagal untuk membahagiakan Milea. Oleh sebab itu, Dilan mundur dan berhenti untuk mempertahankan hubungannya. Saya tidak bisa bilang bahwa Dilan sangat lemah di sini, karena mungkin pada saat itu banyak kejadian yang membuatnya bimbang, termasuk ketika sahabatnya, Akew, meninggal dikeroyok orang tak dikenal.
So, memang buku pertama lebih bikin deg-degan karena toh moment 'pendekatan' memang selalu manis untuk diceritakan. Apalagi pria yang mendekati adalah Dilan, pria yang lain dari pria-pria biasanya :)
Ya, saya menangis di buku ini. Apalagi bagian endingnya. Endingnya realistis. Sifat Dilan tidak berubah, sifat Milea pun terasa mengalir sangat wajar. Keduanya tidak sempurna, selayaknya manusia pada umumnya. Punya kelebihan, punya kekurangan. Kelebihan Dilan menonjol di buku pertama, kekurangannya sangat amat menonjol di buku ke dua.
Andai endingnya berbeda, saya rasa, cerita ini menjadi tidak ada bedanya dengan cerita-cerita remaja zaman sekarang yang kebanyakan beredar.
Saya masih suka dengan cara si Penulis bercerita. Sederhana tapi bikin bahagia. Kalau kamu satu selera dengan saya, saya yakin kamu juga akan suka.
Milea nya nyebelin. Kayak aku. Dilan nya nyantai tapi keras kepala. Kayak kamu. Akhirnya mereka nggak bersatu dan menikah dengan orang lain. Kayak kisah kita. Ngahahahahahahahaha kok sakit...
Satu-satunya yang menarik dari buku ini dan berhasil saya memberikan bintang tinggian dari Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 adalah ENDINGNYA! Hahahaa.. Biasa saya kan pecinta yang sedih2 wkwkk.. kalau endingnya gak begitu tampaknya akan kembali 2 bintang :p
Saya yang gak habis pikir ini apaan sih Milea.. Meskipun lo pacar gue tapi masak bisa sok asik sama ortu gue.. Dan lalu meskipun kita udah putus akhirnya gw yang udah lulus kuliah dan bekerja masih nelponin ortu mantan dan nanyain kabar si mantan. mana ada real pacaran yang begituan coba? *menghela napas
Buku kedua ni tak sehebat buku pertama. The first book was amazing.
Pada awal cerita, banyak betul repitition sampai rasa bosan. Tapi lama-kelamaan agak memuaskan. Cerita jadi semakin menarik apabila berlakunya konflik antara Dilan dan Milea.
Watak Dilan seakan-akan lemah walaupun banyak konflik yang terjadi. Tapi saya masih suka dengan pick up line yang diberi Dilan ke Milea. Sedih bila baca kisah Dilan dan Milea dalam buku ni. Sama-sama sayang tapi terpaksa berpisah.
Ending juga memuaskan tapi lebih recommend first book.
Abis kelar baca, harus diakui kalo aku baper:( Hubungan Dilan-Milea, walau ga sama persis, rasanya jadi mirip banget sama hubunganku sendiri:”) Sedih sih bayanginnya. Dan aku ngerti banget perasaan Milea ke Dilan, karena aku juga begitu.
Konflik disini makin runyam aja, tapi ekspektasiku ga kesampean soalnya tokoh yg kuharap banyak nongolnya malah jarang:(
Dan kutipan Ayah “Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah” bener2 nerkam hati banget dah ini buat yg abis putus:(
Dan kelar baca tuh ya pasti auto kangen Bandung:”)
Dwilogi novel Dilan : Dia Adalah Dilanku karya Pidi Baiq adalah novel ter-asik yang pernah D baca. Sekali kamu baca lembaran pertama, kamu akan terus baca sampai habis tanpa jeda. Serius. Kecuali untuk Sholat dan dipanggil mama. Kata-katanya ringan dan mudah dicerna. Pengambilan latar belakang cerita, dan tokoh sangat sederhana namun tetap istimewa, sering ditemui di kehidupan sehari-hari, tergambar jelas dari deskripsi dan bantuan visual sederhana. Jalan ceritanya mantap, dan akan terus membuat kita penasaran apa yang akan terjadi berikutnya.
Kontennya asik, penuh humor segar, romantis, puitis, di beberapa bagian juga tegang. Terutama menuju ending-nya.
Nah, yang membuat D sangat terkesan adalah konten, ide, dan pola pikir tokoh Dilan sangat tidak lazim dari kebanyakan orang. Dilan selalu memiliki ide sederhana namun selalu istimewa dalam penyampaiannya. Kemudian pengambilan sudut pandang Milea yang menjadi objek sikap dan perbuatan Dilan, membuat pembaca merasa seolah Dilan melakukan itu untuknya. Sehingga pembaca mengerti, bahwa apa pun yang dilakukan Dilan sangat istimewa, sangat melibatkan perasaan atau emosi pembaca.
Untuk latar belakang tempat dan waktu, ini merupakan personal D. Dimana D terkenang akan Kota Bandung dan seluruh isinya yang pikasonoeun. Juga Jakarta dengan segala aktivitas dan kesibukannya. Ah, dua kota yang sangat emosional. Juga latar belakang waktu tahun 1990 yang mengajak pembaca untuk menembus ruang waktu pada masa ‘pernah muda’.
Ada beberapa potongan yang berkesan, yang siapa pun akan tersentuh, kemudian baper *bawa perasaan* dalam novel Dilan : - Dilan memerankan berbagai peran aneh dan unik. Ketika Dilan memperkenalkan dirinya sebagai peramal, yang meramal nama Milea, kapan Milea dan Dilan berjumpa kembali. Jujur, itu menciptakan awareness yang tinggi. Atau saat berkunjung ke kediaman keluarga Milea, disitu Dilan mengaku sebagai ‘utusan dari kantin’.
- Pemikiran Dilan yang liar namun kreatif! Hadiah ultah Milea berupa buku TTS yang telah lengkap diisi, ‘aku ga mau kamu pusing isinya, Lia’. Effort yang keras jika Dilan mau berpusing-pusing mengisi TTS. Atau hadiah cokelat yang diberikan melalui tukang pos, tukang Koran, tetangga, atau siapa pun. Seolah semua orang bersekongkol untuk membahagiakan Milea. Atau pemikiran dodol Dilan ketika praktek bahasa Indonesia yang mengirimkan surat untuk anjingnya, isi suratnya ‘guk guk guk’, sedangkan teman sekelasnya mengirim untuk orang tua atau temannya.
- Dilan adalah tokoh pintar dan cerdik, juga nakal. Selalu mendapat ranking satu, atau dua di kelas, namun anak motor yang hobinya berantem. Namun siapa pun pasti suka dengan anak yang humoris. Ingat ketika Dilan berantem dengan teman sekelasnya, kemudian gurunya selalu menyalahkan Dilan sebagai troublemaker. Apa yang dilakukan Dilan untuk menghilangkan image itu? Dilan membawa obat nyamuk bakar yang telah dipasang petasan diatasnya, kemudian dinyalakan dan disimpan di bawah bangkunya. Kemudian, DUAAR DUAAR DUAAARR!! Dilan berakting kaget, dan lemas. Seolah dia adalah ‘korban’ sehingga ibu guru bersimpati pada Dilan dan mengumpat pelaku yang tidak mengaku (pelakunya justeru Dilan).
- ‘Milea, kamu memang cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Mungkin nanti sore’. Yoih, konten dari novel adalah percintaan anak SMA yang sangaaatt romantis. Siapa pun akan iri dengan perlakuan Dilan kepada Milea. Bagaimana Dilan begitu mencintainya, selalu memuji, tidak pernah berprasangka buruk, atau cemburu pada Milea. Dilan sangat perhatian pada Milea dengan cara yang berbeda.
Ah, pokoknya semua bagian novel itu penting, dan seru!
Aku kira Pidi Baiq adalah penyihir, dimana dia mampu menyihir pembaca untuk masuk ke dalam cerita, dan menghentikan realita sejenak. Pidi Baiq juga mampu membuat orang yang tidak menyukai novel tebal yang bertemakan cinta, menjadi berubah pikiran. Yaah, setidaknya itulah yang terjadi pada D, yang anti novel romantis. Itu dulu, ketika D belum menyadari kalo di dunia ini ada novel Dilan!
Ending ceritanya? Bersiaplah untuk menyaksikan akhir yang bahagia! Bahagia versi Pidi Baiq, tentunya.
Akibat penasaran dengan ending menggantung di buku yang pertama, saya pun tergoda untuk baca buku kedua. Sebagaimana buku pertama, bagian awal buku ini lucu-lucu, asyik, nan menggemaskan. Hingga akhirnya ketika sampai ke tengah cerita, saya mulai sedikit baper, sampai di ending cerita, baper saya pun mencapai klimaksnya! Ah, meskipun sebenarnya saya suka dengan novel yang bukan-sad-atau-happy-ending, tapi diam-diam saya geregetan juga, termasuk dengan ending di buku ini.
Entahlah, meskipun saya bukan Milea, dan masa SMA saya juga ga seru-seru amat (baca: kisah romensnya), tapi baca novel ini bikin saya kembali ke masa SMA yang rasanya memang asyik untuk dikenang kembali. Yaa... meskipun masa SMA saya sudah berakhir hampir empat tahun lalu~ Dududu~~
Yaa... novel ini sukses membuat saya ingin kembali ke masa SMA beserta memori-memorinya. Ditambah lagi, saya suka sekali dengan atmosfer setting tahun 90-an nya. Halah~ :D
Walaupun semua orang bilang lebih suka buku pertama, jujur, saya sedikit lebih menyukai buku kedua ini. Rasanya lebih manusiawi, lebih realistis. Beginilah kehidupan nyata; bukan fairytale. Terkadang, meskipun perasaan masih saling mencintai, dua orang tidak bisa bersama karena ini dan itu--faktor-faktor realistis.
Saya juga lebih suka buku kedua ini karena perkembangan karakternya sangat manusiawi dan bisa dimengerti, pun dinamika hubungan Dilan-Milea yang naik turun. Selain itu, emosi di buku kedua ini lebih dapet karena narasi Milea lebih banyak sehingga dialog-dialog yang di buku pertama bisa dikritisi habis-habisan, di buku ini jauh lebih berkurang.
Terima kasih Kang Pidi Baiq sudah menuliskan kisah Dilan dan Milea. :)
Karakter Dilan memang unik dan otentik. Sedangkan karakter Milea: cantik. Eh, cantik mah bukan karakter ya, itu takdir :P. Soalnya sering disebut tentang cantiknya Milea ini. Jadi banyak yang suka Milea, karena dia cantik, titik. (gue ngiri banget ya Milea cantik, haha).
Well, tetap asyik baca sekuel Dilan ini, menikmati keotentikan Dilan, yang kayaknya sih susah ditiru oleh para cowok buat ngerayu cewek. So, nggak usah niru-niru lah, be yourself aja *Mario Teguh mode* :D). Ceritanya seputar pacaran dan pacaran dan pacaran dan geng motor. Geng motor yang bikin Milea cemas sama Dilan, hingga... hingga... begitulah.
Saya sih nggak terlalu suka, apalagi ada... *tiiitt*. Mungkin karena saya nggak pernah pacaran, jadi nggak bisa nostalgia masa-masa 90an, hahaha, kesian deh lo!
Tidak terlalu banyak perbedaan antara buku pertama dan buku kedua ini, sehingga saat awal membaca buku ini, saya cukup merasa bosan - maklum, jarak waktu saya membaca buku pertama dan kedua cukup berdekatan. Menurut saya, cerita dalam buku ini baru menarik pada sekitar 60 halaman terakhir, ketika ada sebuah kejadian penting yang terjadi. Sebelum kejadian tersebut, cerita yang disajikan cukup mudah tertebak ujungnya dan kurang dibahas secara mendalam. Bagaimana pun juga, saya tetap kagum pada Pidi Baiq yang berhasil merilis sebuah buku dengan gaya penulisan seperti ini. Sungguh sangat menarik. Selain itu, strategi dia untuk menarik pembaca juga sukses. Salut!
Heran sekaligus hebat, sih, menurut saya. Bisa gitu... Di awal cerita sudah ditegaskan suami Milea bukan Dilan. Tapi seiring jalannya cerita, pembaca, khususnya saya, dibuat lupa dengan kenyataan itu, malah berharap kemungkinan akhir cerita akan berbeda, yang padahal sudah jelas nggak bisa...
Tenang, Lia, saya paham betul. "every girl has that one guy she goes back to, heartbreak after heartbreak, and nobody knows why, not even her, she just can't let go."
Begitu, Lia?
Atau ini: "People always ask, 'do you still like him?' honestly I don't really know. But I do know there's just something about him I can't let go."
"Dilan, Kalau dulu aku pernah berkata bahwa aku mencintai dirimu, maka kukira itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap dan berlaku tidak hanya sampai di hari itu, melainkan juga di hari ini dan untuk selama-lamanya. "
Milea was getting on my nerves. i understand why she did what she did but, come on... her character in this book is just annoying. and i didn't enjoy it, i did enjoy it at least just a couple of the first pages though. and i think the first book is enough for me, but oh well..
The novel "Dilan 1991" is a continuation of the novel "Dilan 1990". The difference is, this novel tells us more about the love struggle between Milea and Dilan. In this novel, they are actually more intense with Airin, Milea and Dilan's parents, Wati, Beni, Milea's maid, and Disa. It started when Wati visiting Milea's house with Piyan. From that time, Wati started telling to Milea about Dilan's past, which was full of mischief and humor. Milea and Dilan's relationship faces many tests. One of them is when Milea received a letter from Beni, Milea's ex-boyfriend, who suddenly asked her to get back together. Without any hesitation Milea was rejected Beni, because she had promised Dilan to stay together. Dilan's habit of often taking revenge and fighting has never changed at all. This made Milea very worried. Until Dilan's father who is a military man, asked police officers in Bandung to detain Dilan so that his son would be deterred by his naughty attitude. As time goes by, Milea gets bad treatment from Yugo, the son of Milea's mother's friend. Until one of the teachers at Milea's school also has feelings for her. Like most teenagers, Milea suddenly asked to break up with Dilan. However, Dilan still acts romantic and kind to Milea. Until Milea graduated from high school and went to the Indonesia University in Jakarta, she still had no contact with Dilan. Then, she entered into a new relationship with her senior who had the same fate. In the end, Milea has graduated and holds a bachelor's degree. She got the job on a contract basis. Then she returned to Bandung because she received a news that Dilan's father had died. At that time, Milea saw that Dilan already had a new girlfriend. This novel also tells of the atmosphere of reform in 1998 in Jakarta and the massive demonstrations that occurred.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Khas romansa remaja. Pdkt >> Jadian >> Cekcok >> Putus.
Kayaknya teori masa-masa termanis suatu hubungan itu ada di fase pendekatan (pdkt) benar adanya. Dilan dan Milea, setelah resmi jadian di ending buku #1 Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (yaya, surat pernyataan resmi pacaran bermaterai itu) keduanya bak pemilik dunia saja. Cukup banyak cheesy-lines bertebaran di buku kedua ini. But, wait bukan tipe yang bikin kita pengen muntah kok - well, khas Dilan banget (iykwim) bikin kita senyum-senyum geli sendiri.
Everything seems rite, sampai granatnya dilempar Bunda ke rumah Anhar (eh, bukan). Mulai dari Lia yang sedikit lebih suka ngatur Dilan (salah satu hal yang sampai mati ngga bakal bisa dipahami sama cowok-cowok) sampe fase Dilan beneran statement kalau gasuka diatur-atur yang membuat perpisahan jadi tak terelakkan (bahasa apa ini? otl).
Begitu nyampe last chapter (Aku Sekarang) Milea udah menikah dengan Mas Herdi rasanya udah gak ada harapan yang tersisa buat Dilan dan Milea. Ah, benar2 menghancurkan harapan para readers si Ayah mah. Meskipun rindu Milea untuk Dilan tetap seperti dulu, tapi memang "Masa lalu bukan untuk diperdebatkan. Itu sudah bagus. Biarkan." - page 342.
Satu soundtrack untuk novel kedua ini : #nowplaying Six Degrees of Separation - The Script , well sekian.