Waktu bisa berubah, cuaca mudah berubah, apakah cinta juga bisa berubah?
Cerah, gadis energik yang tak pernah menangis, hanya punya satu impian: melihat Biru.
Sampai kemudian ia bertemu dengan Biru, seorang lelaki yang membuat Cerah percaya bahwa hidup harus punya tujuan. Biru adalah tujuan hidup Cerah.
Tapi cinta Biru tak mudah diubah, ia mencintai Krisan lebih dari apapun. mampukah Cerah mempertahankan cintyanya atau membiarkan hujan meluruhkan segalanya?
Masih, saya menemukan banyak nama-nama langka dalam cerita ini. Entah dipaksakan atau tidak. Hanya saja, ceritanya masih berkutat pada "menunggu" tentang asmara. Meskipun kini dilakoni oleh orang yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.
Isinya masih melanjutkan sedikit buku sebelumnya, Cloud[y]. Tokoh utama, Cerah menjadi sahabat dari tokoh utama di buku itu, Mendung. Seorang Cerah Ceria yang berusaha menemukan biru (warna) dalam hidupnya. ia seorang pengidap buta warna parsial.
Pencariannya akan biru, berujung pula pada pertemuan dan jatuh cintanya pada seorang tokoh yang bernama Biru Matahari. Akan tetapi, ia harus memilin-miin hati. Biru jatuh cinta pada seorang permepuan bernama Krisan, yang juga menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
Saya masih menemukan kisah asmara lazimnya dalam buku ini. Pada dasarnya, saya bisa menebak jalan ceritanya. Beberapa kejadian agak mirip dengan kisah-kisah asmara biasanya. "A yang mencintai B. tapi B yang mencintai C. Dan akhirnya C....."
Untuk tahu seperti apa jalan ceritanya, silakan baca sendiri... :)
------------------ "Kadang menyenangkan bila kita tahu kita tidak sendirian dalam menanti sesuatu. Bukankah hidup ini memang sebuah rangkaian menunggu? Menunggu lahir, menunggu menjadi anak-anak, menunggu remaja, menunggu dewasa, menunggu tua, menunggu kematian, dan menunggu seseorang ziarah ke makammu kelak." --Hal.74
"Untuk apa pulang ke kampung halaman tanpa impian? kamu boleh tetap di kampung halaman jika kamu punya mimpi dan berani membesarkan mimpi itu disana. Bila di kampung halamanmu kamu tak tak pernah menemukan impian dan cita-cita, mengapa tak mencarinya di tempat lain?" --Hal.82
"Apakah orang-orang yang tak punya impian dalam hidup mereka, itu artinya mereka tak berpijak pada kehidupan?" tanyaku mulai kritis. "Ya!" jawab Niki tegas. "Mereka hidup, tapi jiwa mereka mati. Bahkan untuk masuk ke dalam surga Tuhan pun kamu harus punya keinginan dan impian untuk bisa ke sana." --Hal.83
"Meski kita tak bisa menyentuh cinta orang yang kita cintai, setidaknya kita belajar bagaimana rasanya jatuh cinta. Sehingga kita tahu, bagaimana harus membalas perlakuan orang yang sangat mencintai kita." --Hal.193
"Pengetahuan baru tentang orang yang kau cintai tentu membuat hatimu lebih hangat, bukan?" --Hal.207
"Memangnya kamu tahu bagaimana rasanya menginginkan sesuatu, tapi kamu tahu seumur hidup kamu tak bisa mendapatkannya?" --Hal.232
"Itulah kehilangan... dia pernah ada dalam hidup kita lalu pergi selama-lamanya. Aku harap untuk bisa bertemu kembali dengannya, tapi seumur hidup aku tahu dia tak akan pernah hidup lagi." --Hal.236
"Cinta itu bukan untuk diminta-minta, Bunda. Dia harus datang sendiri, pergi sendiri." --Hal.320
"Cengeng tidak selalu ditandai air mata. Tapi ketidakberanian untuk menghadapi masalah itu sendiri... kabur dari masalah." --Hal.323
"Kau boleh redupkan mimpimu sejenak agar memberi jalan pada kehidupan yang lain. Tapi jangan pernah dipadamkan. Memadamkan mimpi sama saja dengan memadamkan masa depanmu." --Hal.362
"ketika kamu sudah siap untuk jatuh cinta, kamu sudah harus siap mengikhlaskan hatimu untuk bisa terluka atau bahagia." --Hal.443
Novel ini mengisahkan tokoh bernama Cerah Ceria dia gadis yang selama lima belas tahun terakhirnya tidak pernah menangis, hal apapun yang menimpa dirinya selalu ia hadapi dengan tersenyum sehingga kadang membuat orang-orang disekitarnya merasa aneh dengan sikapnya yang mudah tersenyum pada segala hal Cerah mempunyai impian dapat melihat warna biru, keinginan yang terlalu sederhana bagi orang-orang yang bermata normal. Namun, tidak dengan cerah yang mengalami buta warna parsial terhadap warna biru. Itulah yang menyebabkan Cerah sulit mendapat pekerjaan seperti yang di harapkan bapaknya. Merasa lelah dengan penolakan yang selalu ditemuinya ketika melamar pekerjaan. Cerah memutuskan untuk menjadi penulis dan berguru pada Niki di Jakarta. Niat utamanya yang belum sepenuhnya terwujud membawanya bekerja pada Writing Event yang di miliki Awan dan Mendung. Disanalah ia bertemu dengan cintanya yaitu Biru. Cinta Cerah yang tumbuh terhadap Biru harus pupus karena Krisan, seorang florist yang akan menikah dengan Biru lima bulan lagi. Tetapi cinta memang buta sehingga membawa Cerah untuk bersahabat dengan Krisan selama kurang lebih tiga bulan. Tetapi sebuah takdir memporak – porandakan persahabatan dancintamereka. Bagaimana cara Cerah mempertahankan cintanya pada Biru? . lalu bagaimana dengan pernikahan Biru dan Krisan yang sudah semakin dekat?.
Novel kedua mbak Achi ini menurut saya bisa dinikmati secara terpisah dengan kata lain tidak harus urut dari Cloud(Y) ke Sun(ny) karena hubungan diantaranya sangat sedikit sekali. Tetapi konflik yang diangkat sangat bagus, karena membuat saya sebagai pembaca pempertanyakan kekuatan Sun(ny) untuk menghadapi ujian melalui suaminya. Novel ini mengajarkan pada saya bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Begitu keras usaha Cerah untuk membuat suaminya mencintainya sebagai Cerah membuat saya percaya akan kekuatan cinta.
Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan penulis wanita tapi untuk yang satu ini mungkin bisa dibilang lumayan. Walaupun di awal-awal agak membosankan tapi si penulis sanggup membuat kita penasaran hingga di akhir cerita