Setiap tahun Kompas menerbitkan antologi Cerpen Pilihan Kompas yang disaring dari cerpen-cerpen yang telah dimuat dalam rubrik cerpen di Kompas edisi Minggu. Sebanyak 52 cerpen berkompetisi melewati lubang seleksi para juri. Perdebatan selalu tak bisa dihindari. Tahun ini, para juri memberikan rekomendasi untuk menerbitkan 24 cerpen terpilih yang disaring dari cerpen-cerpen yang telah dimuat Kompas sepanjang tahun 2014. Ini jumlah terbanyak untuk isi sebuah buku antologi Cerpen Pilihan Kompas sejak pertama pemilihan diselenggarakan tahun 1992.
Hal yang paling mengejutkan, tahun ini para juri memilih cerpen ”Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon” karya Faisal Oddang, seorang pengarang muda dari Makassar. Oleh sebab itu, buku ini menjadi penuh arti saat Kompas mencapai usia 50 tahun. Sejak pertama memuat cerpen tahun 1967, Kompas beranggapan bahwa menulis cerpen tak hanya memenuhi hasrat manusia untuk bercerita, tetapi juga memberi wadah akan kepentingan latihan intelektual sejak dini. Sangat menjadi harapan besar di kemudian hari lahir generasi yang mahir bernarasi, juga cakap dalam kemampuan olahpikir.
Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine.
He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee.
Sampai sekarang, saya masih heran mengapa "Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon" jadi yang terbaik diantara Cerpen Pilihan Kompas 2014. Jikalau alasannya soal mengangkat tema budaya nusantara, bagi saya, masih ada beberapa cerpen dengan tema serupa yang menarasikan lebih baik. AH, tapi apalah saya yang masih tak tahu apa-apa. Bagaimanapun, dengan alasan, primordial, saya turut berbahagai karena Faisal Oddang dan saya berasal dari provinsi yang sama. Dalam satu kesempatan, saya sempat berbincang dengan Dee Lestari. Katanya, kemenangan Faisal Oddang di Kompas dan DKJ, sebelumnya, menjadi pembuktian kebangkitan literasi dari Makassar. Yeaa!
Dari semua, saya paling senang dengan tulisan Agus Noor dan Anggun Prameswari. Mungkin ada lagi, tapi saya sudah terlalu pikun.
Saya nggak begitu mengingat detail tiap cerpennya, banyak judul yang juga gak cepat nyantol di otak saya, begitu pula nama penulis2nya. Tapi satu hal yang jelas terekam, perasaan puas tiap menuntaskan ceritanya.
Yang paling saya suka Travelogue-nya Seno Gumira Aji Darma dan Hotel Tua Budi Darma.
For a selection of short story, this book is quite inconsistent; there must be quite a number of editors involved in selecting these short stories. The best short story (voted by editors) is a story by Faisal Oddang called Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon (In Tarra’s Body, In the Womb of the Tree)—which strangely positioned in the first of all the stories in the book, unlike many short story collection where the main story is placed at the extreme back—which tells a cultural story of Toraja ethnic where the dead bodies of newborn are laid to rest inside the main trunk of a big tree. The story is told in part Indonesian, part Torajan with rich cultural vocabulary and footnotes, and could easily discourage unknowing readers. The editors were right: Faisal Oddang’s story is one of the good stories presented in the book. ‘Good’ means fresh. But there are other stories that are so banal I couldn’t help rolling my eyes and falling asleep.
Let’s get to the good stories first. My favourite of the bunch is a short story titled, ‘5 Stories by Sapardi Djoko Darmono’. I remembered laughing so hard at one of the stories that sarcastically narrates a commuter’s trip back home after a day’s work in the city. He staggers home only to find his daughter points out to him that one of his legs aren’t actually his. His leg has been misplaced with others’ in the chock-full train on his way home. His writing is funny, poignant, and unmistakably old-skool. That reminds me so much of how my grandfathers talked with his friends (in a good way). Other than that the good stories are ‘Angela’ by Budi Darma, ‘Jalan Asu’ by Joko Pinurbo, ‘Beras Genggam’ by Gus TF Sakai, and of course the one by Faisal Oddang. That makes 5 good stories. I also noticed one piece by a good writer, Seno Gumira Ajidarma, but I just don’t get his work this time.
Now, as I have said before, there are a lot of disappointing stories. Disappointing because some blindly adopt plot driven narratives which are too reliant on twist they lack of real emotion and depth of characters; disappointing because the topic is stale; but mostly disappointing because they are so boring. Which makes me wonder, for whom does Kompas publish this book? Not for the teenagers, of course; not to entice new readers, I guess; but also not for literary snobs, for some of the stories offend advanced readers with bland narratives, banal topics, and unashamed use of plot twist. It is also worth noting that LG Saraswati Putri did write an epilogue (which feels very much like introduction put at the back) that feels to me like a weak, irresponsible glorification laced with famous philosopher’s names and wisdoms.
All flaws aside I applaud Kompas for its commitment in local literature scene. This book does bring me joy for a wonderful glimpse of rich Indonesian culture, however, I do wish, in the future, Kompas’ editors will get on his desk more interesting short stories so there will be a better distribution of good short stories in its next (2015/2016) short story anthology.
Buatku, jauh lebih sulit memberi penilaian pada kumpulan cerpen yang ditulis banyak orang. Beberapa penulis yang karyanya pernah kubaca akan membuatku memiliki ekspektasi, dan pada titik tertentu bisa jadi tidak terpenuhi. Beberapa yang lain, penulis yang bahkan tidak pernah aku ketahui namanya, ternyata bisa menawarkan warna-warna dan pengalaman baru dalam proses membacaku.
Begitu pun kumpulan cerpen ini. Beberapa kusukai, beberapa harus kubaca dengan menghela napas agar bersabar, beberapa kubaca cepat agar lekas selesai.
Cerpen Sapardi Djoko Damono adalah salah satu yang melampaui ekspektasiku sebab aku tidak begitu cocok saat membaca tulisan-tulisan panjangnya, terutama novel, seperti Trilogi Soekram, namun ternyata Lima Cerpennya membuatku terkikik seperti saat membaca karya-karya Joko Pinurbo, salah satunya Jalan Asu. Tidak menyangka bahwa SDD memiliki selera humor yang bisa dituangkan dalam twist di cerpennya. Sebetulnya, kumcer ini dibuka dengan sangat apik melalui cerpen Faisal Oddang dan dilanjutkan dengan Harimau Belangnya Guntur Alam. Sama-sama bertema alam dan tradisi. Wanita dan Semut-semut di Kepalanya juga berhasil membuatku bergidik seperti Cerpen: Angela. Aku merasa dikecewakan oleh Travelogue dan Tenggat Waktu yang mana ditulis oleh penulis besar, tetapi justru tidak mengantarkanku pada sesuatu yang baru. Sedangkan, Gus TF Sakai dan Zaidinoor termasuk penulis yang baru aku ketahui dari kumcer ini, tapi sudah berhasil memberi warna pada proses membacaku!
Secara pribadi, cerpen Kompas merupakan air baptis yang saya terima untuk secara tidak sadar tenggelam dalam sastra. Awal SMA, saya berkenalan dengan sastra melalui Sepi Pun Menari di Tepi Hari: Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2004 dan seiring detak waktu, saya terus mencoba mengikuti seri buku "Cerpen Pilihan Kompas". Setelah sekarang saya menjadi "budak korporat" saya semakin menyadari bahwa hidup saya seringkali berseberangan dengan keresahan yang acapkali menjadi tema cerpen Kompas. Justru berkebalikan, di mana saya secara tidak langsung yang menyebabkan adanya keresahan itu. Paling nampol ketika membaca cerpen "Protes", anyaman kata dari Putu Wijaya dalam buku ini. Tak ubahnya saya terbelalak mendengar ceracau si tuan tanah dengan narasi pembangunannya, demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Saya mengamini nilai-nilai tuan tanah, dan benar, ada yang mengganjal di situ, mengusik, dan membuat saya kembali merenung.
Saya jadi teringat saat SMA, saya mengikuti seminar kecil tentang konservasi lingkungan. Ketika saya tanya tentang konsep "green economy" kepada pemateri, dengan menggunakan bahasa sesederhana mungkin, pemateri menjawab kalau itu hanya akal-akalan pengusaha saja. Gimik. Melalui cerpen ini saya menyadari bahwa ada kegenitan dalam pembuatan fiksi. Pertama, cerita yang memakai latar lokal, namun sebenarnya dalam alurnya, latar lokal itu sama sekali tidak penting. Bisa diganti latar apa saja, asal ceritanya sama. Ini sama menyebalkannya dengan cerita-cerita yang memakai latar luar negeri agar terlihat wah, padahal ya tak ada gunanya, gimik. Kedua, ada cerita yang memang jiwanya dari lokalitas, cerpen "Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon" yang jadi pemenang di tahun 2014 adalah salah satunya. Dimensi Toraja merupakan semesta tempat cerpen ini lahir, tidak bisa diganti dengan yang lain. Ini baru bukan gimik.
Nah ini yang mengusik saya, apakah selama ini saya mengarahkan energi saya dalam pekerjaan hanya untuk gimik, asal ada unsur lokal atau lingkungannya. Atau memang dijiwai dari yang lokal dan yang hijau itu. Dengan meningkatnya kesadaran akan pertumbuhan keberlanjutan dan dengan ekosistem yang sudah terancam, saya perlu tetap berpegang pada jiwa itu, tidak membubuhkannya hanya sebagai make up alias gimik. Terima kasih pada buku ini sudah membuat saya kembali "eling".
Saya menyadari ini bukan review buku yang baik. Lebih tepat menjadi refleksi saya pribadi terhadap buku ini. Apapun itu namanya, saya tetap merekomendasikan buku ini, karena mengandung banyak gizi tentang isu lokalitas, perempuan, mistis, hingga pemaknaan dalam aktivitas sehari-hari. Cerpen-cerpennya relatif sederhana dengan puntiran alur di sana sini yang selalu asyik dinikmati.
Buku ini memang kental banget lokalitasnya. Sebut saja Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon, lalu ada Harimau Belang, Neka, Menunda-nunda Mati, Jalan Asu, Beras Genggam, Kaing-kaing Anjing Terlilit Jaring, dan Bulu Bariyaban, semuanya mengusung tema lokalitas. Atau setidaknya ada lokalitas yang tersentuh dalam porsi yang cukup.
Buku ini memuat 24 cerita pendek (cerpen) yang telah dimuat di Kompas sepanjang tahun 2014. Tema kisah yang diangkat sangatlah beragam, seperti tema tradisi atau nilai lokal, isu perempuan, dan kehidupan sehari-hari. Ketiga tema ini yang akan saya bahas pada ulasan berikut.
Cerpen pertama yang menjadi favorit saya adalah “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon” karya Faisal Oddang, yang mewakili tema tradisi lokal. Pada awalnya saya sebagai pembaca agak kesulitan bolak-balik melihat catatan jargon bahasa Toraja, tapi selanjutnya saya menjadi larut dalam percakapan antara dua roh bayi yang bercakap-cakap selayaknya orang yang masih hidup. Hal yang unik adalah kisah fantasi ini dirangkai dengan realita kehidupan orangtua sang bayi yang mengalami masalah adat tradisi dan ekonomi.
Kemudian pada tema perempuan, cerpen favorit saya adalah “Wanita dan Semut-semut di Kepalanya” karya Anggun Prameswari. Cerpen ini mengambil semut sebagai simbol bagaimana perempuan berpikir dan berperilaku. Perempuan yang mempunyai segala macam pemikiran cenderung ditekan oleh masyarakat yang biasanya masih memiliki pemahaman patriarkis. Sepanjang kisah ini, saya ikut sedih dengan penderitaan sosok perempuan yang terus mengalami konflik dengan semut-semut pikirannya.
Cerpen favorit saya yang ketiga adalah “Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono”. Kelima cerpen ini masing-masing hanya terdiri dari 4-5 paragraf dan kisahnya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari (seperti naik KRL, menonton pertunjukkan, dll). Akan tetapi, setiap kisah sangat berkesan, bahkan ada cerpen yang berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal karena keabsurdannya.
Buku antologi cerpen ini dapat dijadikan sebagai alternatif bagi teman-teman yang tidak memiliki banyak waktu untuk membaca, tapi ingin menyelami keragaman budaya dan perilaku manusia. Kisah-kisahnya yang sarat unsur sosial dan kultural dapat membuat kita kembali memahami kemanusiaan.
(Ulasan ini ditulis dalam rangka Readathon Indonesia)
Dari 24 cerpen di 'Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon', barangkali saya hanya memberi bintang 5 ke yujuh cerpen saja. Ini hanya sekadar selera pribadi, saya rasa: ketujuh cerpen tersebut saya nilai punya koherensi plot yang baik dan menghadirkan alam imajinasi yang logis. Saya sendiri kurang tertarik pada cerpen bergaya fabel atau kelewat surreal, sehingga cerpen yang saya akui baik pun tinggal sejumlah tujuh itu.
Menyimak ungkapan seorang sastrawan Salihara, sejumlah penulis cerpen selalu menulis dengan baik, apapun materinya. Di kumpulan ino, Agus Noor dan Gus tf Sakai mewakili penulis macam itu. Saya baru sempat membaca karya2 mereka di kumpulan cerpen KOMPAS tahun 2013, dan saya rasa kualitas bagusnya cerpen mereka konsisten.
Selebihnya... semua kembali pada subyektivitas saya saja. Jadi, tak ada faedahnya saya tulis di sini. Namun, secara umum, saya tetap merkomendasikan kumpulan cerpen KOMPAS 2014, dan juga tahun 2013 yang tak kalah baik, untuk dibaca dan dicermati.
Cerpen Faisal Oddang yang menjadi judul kumpuan cerita ini menjadi salah satu cerita favorit saya. Tema yang unik dengan semangat lokalitas, cerita tentang budaya toraja, sangat baik sebagai representasi cerpen terbaik Kompas.
Cerpen favorit saya dalam kumpulan cerpen ini: 1. Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon 2. Matinya Seorang Demonstran 3. Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya
beberapa cerpen menurut saya terlalu "nyastra" untuk otak saya yang tidak sanggup meraihnya.
Cerpen-cerpen Kompas memang pilihan. Dalam satu buku, kita bisa menemukan banyak gaya penulisan, beragam tema kehidupan, juga bermacam pesan yang hendak disampaikan. Paling favorit adalah cerpen "beras Genggam" karya Gus TF Sakai.
Cerpen Pilihan Kompas tidak pernah mengecewakan. Meski ada beberapa kisah yang kelewat puitis, kritis dan lebay, ada juga beberapa yang sungguh sangat indah, entertaining dan menyenangkan untuk dibaca.
Cerpen favorit saya adalah Beras Genggam karya Gus tf Sakai, Protes karya Putu Wijaya, Lima Cerpen Sapardi karya SDD, dan tentu saja Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon. Beberapa cerpen menurut saya terlalu dangkal untuk bisa masuk kumcer ini, sehingga menimbulkan kondisi yg "jomplang" antara yg terbaik dan kurang baik (tentu saja ini relatif, menurut saya). Atau mungkin juga saya yang terlalu bebal sehingga tidak mampu menyelami maksud si penulis cerpen yg saya anggap kurang baik itu. Oh ya, saya juga suka Wanita dan Semut-semut di Kepalanya karya Anggun Prameswari. Saya membaca cerpen-cerpen dalam kumcer ini tidak berurutan dari depan ke belakang, tapi dengan urutan mulai dari cerpen-cerpen yg mendapat suara bulat para juri, lalu yg mendapat 4 suara juri, baru kemudian sisanya. Nah, saya ingin membuktikan apakah memang yg mendapat 4 atau 5 suara juri itu lebih baik ketimbang yg tidak. Kadang selera para juri cocok dengan selera saya (seperti Beras Genggam yg mendapat suara bulat itu) tapi kadang juga tidak. Sebenarnya Matinya Seorang Demonstran menarik, terlebih itu tentang Eka Kurniawan, tapi saya gagal paham kenapa judulnya seperti itu. Toh yg pada akhirnya mati bukanlah seorang demonstran. Mungkin memang perenungan saya yg cethek.
tahun ini cerpen-cerpen kumpulan kompas banyak dihiasi denagn cerita-cerita dengan warna lokal. selain mengundang petualangan imajinasi, juga melepaskan kerinduan akan kisah-kisah yang khas nusantara. favorit saya? "matinya seorang demonstran" karya Agus Noor, cerpen ini mengisahkan kemungkinan kekeliruan sejarah dalam mencatat sebuah peristiwa, Agus Noor menampilkan 2 tokoh, eka dan arman, yang berlatar belakang berbeda, eka seorang demonstran, sementara arman aanak jendral yang glamor. mereka mencintai seorang gadis yg sama, ratih. cerpen ini menunjukkan bagaimana kekacauan politik berujung pada kejadian yang tidak terduga. arman seorang pengecut dapat menjadi pahlawan reformasi karena mati terkena peluru nyasar, dan namanya diabadikan menjadi nama jalan. namun sejarah tidak mengenal eka, seorang demonstran sejati yang lenyap menjadi korban pergolakan reformasi. really worth reading.
I am losing my ability to read on my bed. So, for me this place is quiet nice. I managed to finish one book. Short story collection of Kompas 2014. There several good stories that catches my attention.
1. Matinya Seorang Demonstran by Agus Noor I like how Agus Noor start and finish the story with satirical statement, "Pahlawan hanyalah pecundang yang beruntung."
2. Neka by Eep Saefullah Fatah I know nothing about politics in Timor Timur. And this story gives me good intro. I can start digging from here.
3. Darah Pembasuh Luka by Made Adnyana Ole Tragic story, amazing use of symbolization.
4. Wanita dan Semut-semut di Kepalanya by Anggun Prameswari "Suatu hari, ia bilang ia lelah. Katanya aku terlalu rumit." I can really relate to that. Our patriarchy culture still demand women not to think too much. And it frustrates me sometimes.
Sebenarnya saya tidak membaca buku ini, yang saya baca versi pdf berisi semua kumpulan cerpen kompas 2014 yang isinya 49 cerpen itu.
Saya pikir itu sama saja kayak baca buku ini kan? Toh saya gak mungkin baca lagi kalopun dapet buku ini dalam waktu dekat karena banyak buku lain merajuk minta dibaca. Hehehe
Isinya..... KEREN! Hampir setiap cerpen punya kedalaman unik tersendiri, membawa khayal saya menuju pertanyaan bagaimana mereka bisa menuliskan sebaik itu.
Saya memang tergolong baru sebagai peminat cerpen pilihan kompas. Tapi cerpen yang memiliki sebuah batas cerita dan tidak melonjak keluar dari batasan yang dibuatnya sendiri itu, sudah cukup bisa memuaskan dahaga saya akan cerpen.
Berikutnya saya akan lebih rajin baca cerpen2 kompas dari penulis2 manapun itu.
Btw saya sependapat dengan juara cerpen terbaiknya yang dijadikan kaver buku. Sangat otentik.
Di sini, di dalam tubuhnya – bertahun-tahun kami menyusu getah. Mengela usia yang tak lama. Perlahan membiarkan tubuh kami lumat oleh waktu – menyatu dengan tubuh Indo. Lalu kami akan berganti menjadi ibu – makam bagi bayi-bayi yang meninggal di Toraja. Bayi yang belum tumbuh giginya. Sebelum akhirnya kami ke surga. – Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon (Faisal Oddang)
Sebelum aku jatuh cinta lebih jauh, aku telah menamatkan kumpulan cerpen yang dikupas dengan begitu elegan dan mengagumkan. Seperti kumpulan cerpen Kompas lainnya – sebagian besar memiliki makna tersirat namun dalam. Meminta untuk dikupas secara perlahan tanpa membuka tabir keindahan secara benderang.
Membaca kumpulan cerpen Kompas selalu menyenangkan. Setiap cerita membawa kekhasan masing-masing, cerita-cerita yang memperluas khasanah sastra kita. Seperti buku sebelumnya, koleksi cerpen ini bagai mikrokosmos sastra Indonesia. Penulis-penulis senior dengan karya-karya yang "nyeni" beradu dengan penulis-penulis muda dengan kisah-kisah menarik. Beberapa cerpen-cerpen bersinar lebih terang dibanding yang lain. Memadukan pengetahuan yang luas dengan plot yang tak terduga. Dan selalu ada kisah dari berbagai ranah nusantara yang menunjukkan kedalaman dan kekayaan budaya kita. Hal yang membuat saya akan terus kembali setiap tahun.
Sebagai salah satu penulis di buku ini, tentu saya tak akan membicarakan karya saya sendiri. Juga saya tidak perlu membahas karya penulis lain. Ada tulisan panjang LG Saraswati Putri yang telah menjabarkan semuanya.
Tapi izinkan saya menuliskan 7 cerpen favorit saya: 1. Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono (SDD) 2. Jalan Sunyi Kota Mati (Radhar Panca Dahana) 3. Menunda-nunda Mati (Gde Aryantha Soethama) 4. Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya (Anggun Prameswari) 5. Jalan Asu (Joko Pinurbo) 6. Matinya Seorang Demonstran (Agus Noor)
Roller coaster emosi. Beberapa cerpen sangat saya suka, beberapa lainnya hanya berkesan oh. Saya suka sekali Matinya Seorang Demonstran-nya Agus Noor, Wanita dan Semut-semut di Kepalanya-nya Anggun Prameswari, Jalan Asu-nya Joko Pinurbo, Jalan Sunyi Kota Mati-nya Radhar Panca Dahana, dan Beras Genggam-nya Gus TF Sakai. Saya juga suka sekali Pacar Pertama-nya Vika Wisnu; bagi saya, cerita itu adalah cerita termanis dalam kumpulan cerpen ini.
24 cerita pendek dalam buku ini masing-masing memiliki warna yang unik namun bersatu dalam harmoni yaitu "sastra sebagai sublimasi pikiran dan perasaan". Satu penulis memiliki gaya bertutur yang bisa sangat bertolak belakang dengan sama lain, namun kesan yang muncul dalam masing-masing cerpen tetap kuat dalam menjalankan perannya sebagai perpanjangan pikiran pengarangnya. Menyajikan cakrawala pengetahuan yang luas, kumpulan cerpen ini dapat dikatakan luar biasa.
Sebenarnya sejak membaca cerpen yang jadi judul buku ini, aku sudah langsung menjagokannya sebagai salah satu calon kuat pemenang terbaik cerpen Kompas. Esai para juri cukup menarik. Cerpen favorit saya tetap 'Matinya Seorang Demonstran'. Beberapa cerpen yang terpilih agak mengecewakan karena saya pikir masih banyak yang lebih layak.
Dari seorang teman, dia mengeluhkan setahun ini cerpen KOMPAS amat lesu. Tidak banyak yang menonjol. Adapun yang menonjol, malah tidak menang sebagai yang terbaik. Ya tidak masalah, karena terbaik versi siapa dulu.