Merantau ke Deli by Hamka [2017]
*Ada banyak hal yang mau aku bahas jadi celotehanku terhadap buku ini mengandung bocoran lebih dari 50%. Silakan baca beberapa paragraf awal celotehan ini saja jika tak mau terkena spoiler lebih banyak.
Aku sudah lama mendengar nama besar Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal Hamka. Karyanya Di Bawah Lindungan Ka'bah sering didengungkan. Bahkan, novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sudah difilmkan.
Walau begitu, aku baru berkesempatan berkenalan dengan (tulisan) Hamka melalui novel setebal 189 halaman berjudul Merantau ke Deli ini yang menceritakan kehidupan Poniem, seorang perempuan Jawa yang oleh karena nasip menghantarkannya ke tanah Sumatra menjadi simpanan tauke perkebunan.
Bukan kehendaknya menjadi (katakanlah) gundik atau istri tak sah/simpanan. Tapi, dia tertipu. Berharap penghidupan yang baik di tanah rantau, yang ada, dia dijadikan simpanan yang nasipnya bergantung penuh terhadap kontrak perkebunan. Jika kontrak habis, bisa jadi dia akan dicampakkan dan sang tauke akan mencari wanita lain untuk menggantikannya.
Leman, seorang pemuda asal Minangkabau yang merupakan salah satu pekerja di perkebunan menaruh hati pada Poniem.
Bukan hal mudah bagi Leman untuk mendapatkan hati perempuan manis ini. Berbagai macam cara dilakukannya.
"....Aku mau menikah. Aku berjanji sepenuh bumi dan langit akan memeliharamu dan membelamu."
"Demi Allah, aku akan melindungimu, Poniem! Dan biarlah Allah akan memberikan hukuman yang setimpal kepadaku, jika aku mangkir dan berkhianat." Hal.16.
Poniem luluh. Dengan harapan akan memperoleh status yang jelas sebagai seorang istri, dia menerima ajakan Leman untuk pergi dari perkebunan dan memulai hidup baru. Bagaimanapun, sebagai seorang perempuan besar pengharapannya ada laki-laki yang bertanggung jawab penuh dan melindungi dirinya. Dan, laki-laki itu adalah Leman.
Mereka "kabur" ke Deli. Tauke pun seolah tak peduli. Baginya, Poniem tak ubahnya alat yang saat usang, ya tinggal dibuang. Walau begitu, dia agak sebal karena Poniem membawa sedikit hartanya saat pergi.
Di Deli, Leman dan Poniem memulai hidup baru dengan berniaga. Dengan menggunakan sedikit perhiasan pemberian tauke, mereka memulai usaha dari 0. Sedikit demi sedikit usaha berkembang dan dapat dikatakan berhasil. Hidup keduanya pun bahagia.
Banyak orang yang mendatangi mereka dan mengharap kemurahan hati, salah satunya Suyono, pekerja kebun yang kemudian tampung dan diminta membantu berniaga. Dengan keramahannya, kedai makin berkembang pesat dan Leman jadi semakin kaya.
Satu hari, terbersit harapannya untuk pulang kampung menjenguk famili. Bukan main senangnya Poniem saat Leman mengutarakan hal itu.
"...aku ingin mengenal kaum sanak famili pula, hendak memperhubungkan kasih sayang dengan mereka sekalian." Hal.49.
Di hari yang ditentukan mereka berangkat. Urusan perniagaan diserahkan sementara kepada Suyono.
Setelah menempuh perjalanan 2 hari lamanya, tibalah mereka ke kampung. Kabar akan kembalinya Leman memang sudah terdengar. Setibanya, ia dan Poniem disambut dengan baik.
Pembawaan Poniem yang ramah dan tulus dengan cepat menarik hati famili. Tak henti-henti orang memujinya.
"Memang amat baik budinya dan pandai bergaul, tahu seluk-beluk adat kita."
"Orang kita sendiri tidaklah akan serendah hati itu. Biasanya orang kita apabila sudah dibawa oleh suaminya merantau lalu pulang kampung, subangnya bertatah intan, dia telah sombong.... Tetapi Mbak Ayu Poniem itu tidak begitu, harta bendanya seakan-akan tidak diacuhkannya, mulutnya manis, tegur sapanya terpuji."
"Hanya satu itu saja salahnya," ujar perempuan tua.
"Apa?"
"Dia bukan orang kita." Hal.54.
Ya, mau sebaik apapun prilaku Poniem, maka tak jadi berlaku karena dia bukan Urang Awak. Dia orang Jawa yang selamanya tidak akan bisa menjadi bagian dari lingkungan Minangkabau.
Di sisi lain, Leman ternyata juga mendapatkan "nasihat" dari para sesepuh tentang itu.
"Suku tidak dapat dialih, malu tidak dapat dibagi." Hal.57.
Orang kampung menawarkan beberapa gadis untuk dijadikan istri oleh Leman. Disodorkan beberapa nama. Dipaparkan juga betapa molek dan indah paras mereka. Leman pun goyah.
"Bagaimana nasip istriku yang sekarang, kalau aku beristri lagi?"
"Itu perkara gampang, perkara mudah."
"Dia jangan diceraikan. Perempuan sebagus itu, seelok itu perangainya, mesti dipegang terus. Asalkan dia sabar. Namun, kalau tak sabar, tentu pulang penilaiannya kepada dirinya sendiri. Karena orang laki-laki tidak boleh diperintah oleh orang perempuan. Perlu diceraikan, tentu diceraikan." Hal.60.
Teringat Leman dengan janjinya saat meminta Poniem untuk dinikahi. Saat itu, Poniem sudah mewanti-wanti tentang kesetiaan. Namun, bayang-bayang dapat memerawani seorang gadis molek meruntuhkan akal pikiran dan melalaikan janjinya sendiri.
Nasihat Mak Tuo (sesama urang awak namun ia kenal diperkebunan) berupa, "kalau engkau beristri lagi, Leman, percayalah perkataanku, engkau akan menyesal kelak... Kalau memang kamu cinta kepada perempuan melarat itu, yang hanya engkau ibarat seutas tali tempatnya bergantung, hanya engkau orang tuanya, hanya engkau familinya, tentu dia tidak akan engkau duakan dengan yang lain. Tentu hatinya tidak akan engkau tikam."
"Namun bagaimana dengan famili? tentu kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan sanak famili?" tanya Leman Pula.
"Ah. Jawabanmu hanya meninggikan tempat jatuh saja Leman. Sekarang orang merasa berfamili dengan engkau, yakni setelah engkau berada, punya uang. Dahulu orang tidak ingat engkau. Dahulu familimu hanya Poniem saja. Engau jatuh, dia yang menyambutmu, engkau karam dia yang menyelami." Hal.73.
Pernikahan kedua dilangsungkan. Bukan main betapa sakitnya Poniem. Namun, dia mampu menerima kehadiran madunya dengan senyuman.... untuk beberapa saat. Selanjutnya, perangai si madu kian menjadi-jadi dan Poniem tak tahan lagi. Mereka kerap bertengkar karena sikap semena-mena dari si madu yang kerap menganggapnya babu.
Dan, oleh karena itu, hidupnya kini dipertaruhkan antara tetap dipertahankan oleh suaminya, atau dilepaskan begitu saja? kalian harus baca sendiri novel ini.
* * *
Novel ini mulanya ditampilkan sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat di tahun 1939 hingga 1940. Ya, cerita ini ditulis jauh sebelum Indonesia merdeka.
Salut dengan Buya Hamkah yang berani mengkritik (katakanlah) adat kampungnya dengan seberani ini. Dan jujur, walaupun kisah ini ditulis 80 tahun lalu, di beberapa bagian masih relevan sampai sekarang.
Misalnya saja, keinginan para orang tua yang menginginkan anaknya HANYA menikah dengan orang yang sesuku dan satu daerah saja. Coba lihat kesekeliling, orang seperti ini masih mudah ditemui. Atau, kalian adalah pelaku/korbannya? 🙂
Aku sangat menikmati buku ini. Walaupun bahasanya mendayu-dayu dan (dengan bahasa gamblang) agak lebay, tapi tetap enak disimak karena sesuai dengan waktu dan tempat kejadiaan saat cerita bergulir.
Misalnya, "Kalau abang benar-benar hendak pulang, tidaklah teringat di hati abang untuk membawa aku serta?" Hal.49.
I mean, udah sedikit orang yang berdialog kayak gini sekarang kan? bukan nggak ada ya aku bilang, tapi aku pribadi jika nemu percakapan kayak gitu, artinya dilakukan (setengah) bercanda.
Nano-nano rasanya saat baca buku ini. Aku ikutan merasakan kegelisahan, kesedihan dan kemarahan Poniem. Untungnya, ending cerita ini berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. SPOILER: Intinya hati-hati dengan janji yang diucapkan, karena Tuhan punya banyak cara untuk menghukum pribadi yang ingar janji.
Mudah-mudahan bisa baca buku Buya Hamka yang lain selepas ini.
Skor 9,5/10