Jump to ratings and reviews
Rate this book

See You Again

Rate this book
Tanpamu, yang tersisa hanyalah sepi.
Namun, memang tidak segalanya berjalan sesuai yang kita mau.
Waktu akan terus melaju meski kita memohon agar ia menunggu.
Meski nyatanya waktu pun belum mampu mengubah diri kita.
Kita masih saja orang-orang yang tak punya nyali.
Setelah semua yang terjadi, apakah arah kita masih sama?

Tahun-tahun lewat begitu cepat.
Sempatkah ia menumbuhkan keberanian untuk tiga kata yang tak pernah terucap?

Bagas menemukan sebuah novel grafis. Mengusik memori dan rindu yang lama ia simpan. Tentang Sharon, Angin, Dito
—wajah-wajah yang menyimpan luka di balik senyuman.
Namun, juga merupakan sahabat-sahabat yang berjanji menggenggam harap dan mimpi yang sama.

360 pages, Paperback

First published July 1, 2015

6 people are currently reading
66 people want to read

About the author

Arini Putri

6 books86 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (21%)
4 stars
27 (47%)
3 stars
14 (24%)
2 stars
3 (5%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
September 14, 2015
beli buku ini spontan banget, sekalian sama Big Brother Complex-nya Primadonna Angela, karena malam sebelumnya chatting sama Elsa ngomongin bukunya Arini Putri dan brother complex HAHA

bagus banget! suka banget narasinya. ngalir, pilihan katanya sederhana tapi rangkaiannya bagus, ngena. kadang kerasa titik di mana penulis kayak ogah-ogahan nulis narasinya (mungkin saat nulis itu, pikiran penulis baru sedikit kurang fokus atau gimana--I know that feeling, I'm a writer too) tapi itu bukan masalah kok. Dito Nira bikin pengin banting buku terus saking sweet-nya--serius. Angin bikin ngefangirl. yah intinya semua karakternya dapet deh. karena penulis suka Koreaan aku jadi tersugesti mikir cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari School 2013, jadi kayak versi novelnya School 2013, tapi tentu saja ada banyak sekali perbedaan jadi gausah dimirip-miripinlah. BAGUS BANGET POKOKNYA. AKU PENGIN NULIS CERITA DENGAN NARASI YANG SEDERHANA TAPI NGENA BEGINI, MBAK ARINI PUTRI. AND BTW MBAK ARINI ALUMNUS PSIKOLOGI UGM YHA. Saya maba UGM jadi masih norak kalo tahu ada orang hebat alumnus UGM HEHE HARAP MAKLUM.

WELL DONE, MBAK ARINI. AYO TERBITIN BUKU LAGI.

P.S.
KOVERNYA BAGUS BANGET!
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
December 19, 2015
"Ya, cerita itu memang belum selesai. Seakan waktu berjalan terlalu singkat hingga tahun ajaran itu tak cukup menampung kisah mereka. Kisah dari satu kelas kecil yang tak tahu kapan dimulai dan ternyata tak pernah diselesaikan."
Ini adalah kali keempat aku membaca karya Arini Putri dan aku sangat berterima kasih karena pada kesempatan kali ini penulisnya berbaik hati mengirimkan buku ini untuk aku baca dan review. Kisah See You Again ini ber-genre young adult; menceritakan kisah masa remaja serta berbagai macam permasalahan yang mereka hadapi pada masa itu. Awalnya aku cukup khawatir karena ada banyak karakter yang diperkenalkan dalam buku ini, tetapi untungnya Arini Putri berhasil memfokuskan ceritanya pada beberapa karakter tertentu. Ditulis dari sudut pandang ketiga, cerita ini memiliki alur maju mundur dengan dua setting waktu: yang pertama adalah tahun 2014 saat Bagas menemukan novel grafis yang dibuat oleh teman sekelasnya, dan yang kedua adalah tahun 2007 saat mereka semua masih duduk di bangku SMA.

Aku sangat suka cara penulisnya memperkenalkan setiap karakter satu-persatu, menguak konflik masing-masing dan pada akhirnya berhasil membuatku seolah benar-benar mengenal mereka dengan baik. Sebagian besar permasalahan yang menjadi fokus ceritanya berhubungan dengan keluarga, seperti harapan/ekspektasi orangtua yang besar terhadap anak, anak yang merasa terbebani oleh reputasi orangtuanya, bahkan anak yang dibenci oleh Ayahnya sendiri. Selain itu ada pula masalah yang dihadapi oleh remaja, yaitu persaingan, menentukan masa depan, serta pencarian jati diri. Tidak lupa juga adanya pengaruh lingkungan yang membawa perubahan buruk pada salah satu karakter buku ini. Dengan adanya begitu banyak konflik, Arini Putri berhasil menelusuri setiap permasalahan dengan baik dan meleburkan semuanya menjadi satu cerita yang utuh. Ending-nya yang bittersweet adalah penyelesaian yang cukup memuaskan dan pas untuk ceritanya. Tentu saja aku mengharapkan akhir yang bahagia untuk semua karakternya, tetapi seperti yang disebutkan dalam buku ini, terkadang tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan harapan.
"Kalian bisa belajar banyak dari semua peristiwa yang kalian alami selama berada di kelas ini... Tentang persahabatan tulus yang selalu kalian butuhkan, mimpi yang selalu tak pernah terlambat untuk diperjuangkan, juga hal-hal yang tak bisa berjalan sesuai dengan kemauan kita. Selama kalian bisa memetik pelajaran itu dan bertumbuh dewasa bersamanya, kalian tidak pernah gagal. Karena tujuan sekolah ini bukan hanya nilai, melainkan juga belajar bagaimana kita hidup."
Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, ada banyak karakter yang terlibat dalam buku ini. Tetapi karakter yang paling berkesan untukku adalah Dito, sahabat baik Bagas. Dito adalah karakter yang sangat menyenangkan, ia berhasil membuatku tersenyum beberapa kali selama membaca buku ini, dan ia adalah seseorang yang sangat setia kawan. Selain itu interaksinya dengan Nira juga sangat manis. Karakter Angin juga tidak kalah berkesan karena aku rasa ia melalui perjalanan yang paling emosional di antara karakter lainnya. Tentunya aku juga tidak akan lupa menyebutkan karakter Bagas yang berperan sebagai semacam pusat bagi kelas XII Bahasa. Masih ada banyak karakter lain yang mendukung jalannya cerita, tetapi aku tidak akan menyebutkan semuanya dalam review ini agar kalian bisa berkenalan sendiri dengan mereka saat membacanya :)

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati kisah perjalanan masa remaja siswa-siswi kelas XII Bahasa yang sarat emosi. Penulisan Arini Putri juga sangat mengalir dan aku rasa ia berhasil menyuguhkan cerita yang apik meski dengan jumlah karakter serta konflik yang beragam. Aku yakin buku ini pun bisa menjadi inspirasi bagi pembaca yang masih remaja; mendorong mereka untuk tidak berhenti mengejar impian, menghargai persahabatan, serta belajar banyak hal tentang menjalani kehidupan.

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2015/1...
Profile Image for Fanny.
98 reviews26 followers
January 26, 2020
I am going to be blunt here and this is what I think about this book.

It's boring. The plot is predictable and to be honest, the high school life portrayed in this book doesn't make sense at all.

Saat saya membaca buku non-fiksi, saya berharap untuk dibawa ke dunia yang dekat dan masuk akal, tapi dengan cerita yang tersembunyi. Tapi saat saya membaca buku ini, yang ada saya malah mengernyitkan alis berkali2. Dunia SMU mungkin memang penuh drama, tapi pastinya tidaklah sedrama seperti yang saya baca di buku ini. It's hard to connect with the story, and when I don't get the connection at all, I just lost the interest.

Dan saya memang bukan pecinta deskripsi panjang seperti yang saya temukan di paragraf2 buku ini. I admit, I even skipped most parts of few chapters, dan cuma baca beginning dan ending nya aja because I was that bored. I just wanted to finish the pages, not the story itself because like I said, it's so freaking predictable.

Pros nya apa dari buku ini? Well, ada satu karakter yang saya suka. It's a super honest character. Dito namanya. Dia satu2nya anak SMA di buku ini yang bisa saya relate. Sedihnya, karena dia adalah satu2nya tokok yang menurut saya masuk akal buat exist.

Overall, buat Arini Putri: sebagain penulis yang sudah menerbitkan beberapa buku sebelum ini, I expected better from you.
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
February 18, 2016
Cerita tentang anak-anak kelas bahasa. Tokohnya banyak, jadinya kurang tereksplor--menurut gue konflik masing-masing murid jadinya standar dan kurang mengikat gue sebagai pembaca secara emosional. Padahal konflik masing-masing murid cukup menarik. Harusnya sih dibikin serial aja macam Hundred Oaks-nya Miranda Kenneally gitu ya, di buku I fokusnya siapa, di buku II fokusnya siapa lagi tapi masih sekelas sama si tokoh utama buku I, jadi si tokoh utama buku I masih suka nongol sebagai pendukung atau cameo aja.

Yang gue bingung sih soal ilustrasi tiap awal bab, ada yang bunga, ada yang post it gitu. Tadinya gue mikir yang bunga buat setting zaman sekarang, yang post it setting zaman SMA, tapi ternyata di bab berawal post it ada juga setting zaman sekarang. Jadi apa gunanya pembedaan itu ya?

Namun begitu, untuk kisah remaja, ceritanya menarik untuk diikuti. Gue inget dulu zaman sekolah juga punya teman-teman yang mengalami masalah di keluarganya. Orangtua biasanya mau main aman dan ngelarang anaknya untuk berteman dengan anak-anak yang bermasalah semacam itu, tapi untungnya orangtua gue gak kayak gitu. Jadinya, gue malah banyak tau dan belajar dari teman-teman gue. Dan seneng juga, sekarang, pas kita sering ngumpul atau ngeliat up date temen-temen gue di FB, mereka udah jadi orang yang lumayan sukses. Hehe.
Profile Image for Dinur A..
258 reviews97 followers
January 14, 2020
Anu. Mungkin karena saya pun lagi berada di penghujung masa SMA, buku ini rasanya nyess bgt. Iya, emang klise bgt ceritanya, tp bikin terharu berkepanjangan. Si Angin minta dipeluk.
Profile Image for Meru Riz.
26 reviews3 followers
April 3, 2021
⭐2/5

Setelah empat tahun, akhirnya aku selesai baca buku ini. Aku nggak paham hantu apa yang merasukiku sampe 2016 lalu bisa pengen beli buku ini. Dari awal baca buku ini, aku bener-bener nggak bisa get along sama cara bercerita penulisnya. Sering banget ada kata yang diulang-ulang. Misalnya di halaman 74.

"Seperti saat ini. Sharon melangkah setelah perutnya terus menerus berteriak, mengganggu konsentrasinya menulis. Seperti biasa, rumahnya begitu sepi dan gelap. Bahkan saat mamanya berada di rumah seperti saat ini."

Banyak banget kata "seperti". Aku ngakak saking keselnya. Trus deskripsinya juga nggak asik menurutku. Contohnya Sharon, dia berulang kali disebut "cewek dingin itu" atau waktu dia bicara narasinya bakal "terdengar suara dingin" dan itu berkali-kali dilakukan kalo Sharon datang. That's cringe. Yang bikin makin cringe, kata "dingin" yang selalu disematkan kepada Sharon sama sekali gak membantu memberi vibe dingin ke Sharonnya. Kurasa dia malah lebih cocok disebut judes dan cuek.... Atau pemarah? Portret Sharon yang nyampe di otakku begitu soalnya.

Itu nggak terjadi di Sharon doang. Di tokoh-tokoh lain juga ada. "Gadis pendek itu" "cowok tinggi itu" "Cowok dingin itu" Kayaknya cuma begitu cara penulis meyakinkan pembaca soal deskripsi tokoh-tokohnya. Trus, karakterisasinya kurang kuat. Jadi aku berasa semakin nggak relate sama mereka dari aspek apapun. Apa karena penulis kelimpungan gara-gara karakternya banyak banget?

Kemudian soal konflik cerita. Konfliknya klise dan nggak asik. Memang sih ini masuk kategori bacaan ringan. Tapi seringan-ringannya bacaan masa sampe nggak asik sih? Cara eksekusinya pun B aja. Yang paling sedih malah si Angin; character development dia cuma secuil. Padahal konflik dia yang paling wow menurutku.

Yang bikin jengah lainnya adalah Judul buku dan beberapa judul sub-bab yang keinggrisan. That's unnecessary. Apalah intensi penulis ngasih judul sub-babnya pake inggris sementara ada padanan kata bahasa indonya? Aku nggak masalah sih sama buku yang keinggrisan, aku sendiri sehari-hari pun ngomong nyampur. Tapi di buku ini semua itu terasa nggak perlu. Padahal nggak ada juga tokoh-tokohnya yang bicara bahasa inggris. Narasinya pun nggak ada yang pake bahasa inggris. Menurutku kalo masih bisa pake bahasa indo, pake bahasa indo aja deh. Dialog aja yang terserah mau pake bahasa apa karena itu tergantung karakternya. Apalagi ini kan soal kelas Bahasa. Kayak kata Bagas di halaman 55, "Kenapa kita nggak angkat karya lokal aja?" Iya. Kenapa kita nggak melokal aja?

Nah bicara soal kelas Bahasa, Bagas dan Sharon, bahkan juga Angin suka sastra. Aspek itu sayangnya kurang dieksplor sama penulis. Penulis cuma nunjukin kalo Sharon suka nulis novel, Angin diam-diam sering nulis puisi, Bagas ambis banget untuk jadi sastrawan lewat narasi biasa. Nggak ada action yang lebih nyata. Yang kerasa cuma waktu Sharon dan Bagas debat milih novel lokal atau luar buat tugas kelompok mereka. Udah cuma itu doang. Maunya ada gitu ya scene dimana mereka bener-bener "diskusi" soal sastra. Dikit aja juga gapapa biar berasa nih mereka beneran suka sastra. Si angin yang dibilang suka bikin puisi pun nggak pernah dipamerin puisinya gimana. Aku sampe nggak yakin dia beneran bisa bikin puisi apa nggak.

Intinya selama aku baca buku ini rasanya sesak. Sesak karena aku harus maksa kelarin baca:(
Profile Image for Lala.
185 reviews27 followers
October 31, 2020
Baca buku ini mengingatkanku pada masa SMA, tepatnya pada kelas 10-7. Kasusnya sangat jauh berbeda memang, tapi ada momen-momen yang memaksaku memanggil kembali memori tentang "kelas spesial" itu.
Kukira novel ini akan fokus ke satu atau dua orang yang ingin mencoba menyelesaikan "sesuatu yang belum selesai" ketika SMA. Ternyata tidak, novel ini bercerita tentang sebuah kelas, XII Bahasa, yang punya keistimewaannya tersendiri. Diceritakan dalam dua waktu; masa sekarang (2014) dan masa SMA (2007).
Minusnya, terlalu banyak tokoh, terlalu banyak latar belakang yang diceritakan, terlalu banyak konflik yang muncul.
Plusnya, novel ini kental sekali nuansa persahabatan dan kekeluargaannya. Karena alurnya maju-mundur, jadi lebih mudah melihat hubungan sebab-akibat.
Selain itu, novel ini juga menunjukkan kalo "kelas" bukan sekedar sejumlah anak yang dikumpulkan dalam satu ruangan untuk belajar, tapi bisa lebih dari itu. Menekankan tentang impian, ambisi, pilihan, proses pendewasaan, dan waktu.
Yang mau nostalgia masa SMA boleh lah baca novel ini~
Profile Image for Ardina Rahma.
134 reviews14 followers
April 23, 2018
Enam tahun setelah melepas seragam putih abu-abu mereka bertemu lagi. Membuka memori masa putih abu-abu mereka saat menjadi murid kelas Bahasa.
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
September 6, 2015
Aku... suka sekali sama novel Kak Arini yang ini..

Novel ini berkisah tentang reuni kembali kelas bahasa dan flashback2-nya. Tentang anak-anak yang saling bersahabat, menyusun mimpi, jatuh cinta, mencari jati diri...

Tentang kehilangan dan kekosongan yang timbul bertahun-tahun setelahnya, dan ketika menemukan, mungkin, apa yang ada di hadapan jauh berbeda dengan yang diharapkan.

Tokohnya banyak, ya. Berbeda dengan Goodbye Happiness yang tokohnya lebih sedikit. Meski padat narasi dan awalnya sedikit bosan, nyatanya aku berhasil bertahan dan di akhir cerita malah jatuh cinta dengan kenangan-kenangan mereka itu.

Rasanya... apa, ya. Mengingatkan aku pada masa-masa sekolahku sendiri. Karena kebetulan, sekolah2ku, terutama SD dan SMA punya ikatan seperti Bagas dan kawan-kawannya. Masih berusaha catching up meski segala kesibukan membawa kami pada arah yang berlawanan.
Aku juga merasakan yang Bagas rasakan, saat kita peduli pada seseorang, teman kita sahabat kita, dan berharap hidupnya baik-baik saja, yang terjadi malah sebaliknya.
Rasanya kesal, menyesal, tapi itu menjadi pilihan hidup masing2. Kita tidak bisa sepenuhnya ikut campur terhadap pilihan-pilihan orang lain, meski itu sahabat kita sekalipun.

(Ih, malah curhat)

Masih ada typo2 dan beberapa kata kedobel, tapi ya sudahlah. Cerita ini bagus, menurutku. Rasanya seperti diajak kembali ke masa-masa sekolah. Berbagi impian dengan teman2 kita. Dan tanpa kita sadari, ternyata sudah jauh sekali waktu terlampaui sejak kita tertawa bersama-sama....

3,8/5 dibulatkan ke atas!
Profile Image for Anna.
59 reviews
December 29, 2015
Sudah jatuh cinta sejak baca sampelnya di google books. Dan gak kecewa sampai akhirnya bisa baca lengkapnya. Oke, ralat. Ada kecewa sedikit sih, sedikiit. Itu karena tokoh favorit saya tidak mendapat akhir yg cukup bahagia di sini. Huhu. Tapi, seperti kata Bu Fitri di novel ini "tak semua hal berjalan seperti yang kita inginkan." So, no prob. Setidaknya saya bisa banyak belajar dari novel ini. (Yay, dapet ilmu berharga lagi). Buku ini secara garis besar menceritakan kisah kelas XII Bahasa yg beragam. Hampir semua tokoh disorot sehingga banyak cerita dan nilai yg bisa dipetik (dan untungnya tanpa ada kesan untuk menggurui pembaca). Membuat saya akhirnya rindu hari-hari bersama kelas IPA 2 di zaman SMA. Lalu, untuk ending cerita yang dipilih penulis kali ini mendapat dukungan dari saya, karena tak selamanya happy ending adalah ending yg bagus. Eits, gak bisa dibilang sad ending juga lo. Kalau kata saya sih, nice ending, hehe. Well, terima kasih kak Arini sudah menulis novel yg bermanfaat. Saya tunggu buku berikutnya dengan kisah-kisah dan tentunya pelajaran-pelajaran yang bermanfaat. :)
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
June 1, 2016
Bisa jadi secara personal, tokoh tokoh di novel ini bukanlah sosok sosok yang sempurna. Masing masing dari mereka, punya masalah masing masing.Baik yang berkenaan dengan diri sendiri, dengan lingkungan maupun dengan keluarga mereka. Tapi lewat bimbingan bu Fitri, mereka menjadi remaja remaja yang punya tekad kuat dan mimpi besar. Mengambil setting sebuah kelas bahasa, tokoh tokohnya begitu hidup. Masalah masalh yang mereka hadapi juga khas anak sekolah. Mereka kadang bandel, tapi setia kawan. Mereka mungkin pernah hampir menyerah, lalu kemudian sadar bahwa mimpi harus dikejar.

Dengan tokoh utama lumayan banyak, yakni Bagas, Dito, Sharon, Angin dll dan setting dua kurun waktu, novel ini tidak membosankan atau dengan kata lain segar. Penulis juga cukup fair dengan tidak memberikan happy ending pada kesemua tokohnya.Satu lagi yang saya suka, tulisannya santun.Ini novel Arini Putri kedua yang saya baca setelah Come Back To Me dan sepertinya saya mulai jadi fansnya sekarang.Semoga karya karya selanjutnya sekeren ini.
Profile Image for Kirana Nath.
49 reviews4 followers
November 30, 2017
Ini buku yang narasinya begitu sederhana, aku langsung ngena banget sama ceritanya. Aku dapetin semua feeling selama baca buku ini. Begitu ada adegan yang lucu, seperti ketika diceritakan bahwa G5 menyanyikan yel-yel dengan nada sumbang saat Dito main sepak bola, aku tertawa ngebayanginnya. Dan waktu berbagai kisah menyentuh tentang beberapa karakternya, aku nangis bacanya.

Banyak pesan yang bisa diambil di buku ini. Dan semuanya disampaikan benar-benar ngena di hati aku. Aku jadi merasa nostalgia sendiri dengan masa-masa SMA aku. Bagaimana begitu senangnya punya banyak sahabat. Bagaimana senangnya menonton pertandingan teman kelas kita dan sekolah kita. Bagaimana paniknya menghadapi Ujian Nasional. Bagaimana senangnya memiliki wali kelas yang begitu perhatian. Ah, Kak Arini memang hebat!!

Review lengkap : https://kiranathya.blogspot.co.id/201...
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.