Jump to ratings and reviews

Made in Library

Kedai buku tempat kanak-kanak berlari riang, The Library. Di sinilah tersimpan segala yang pernah kita cari.”

Bagi aku yang ditinggalkan ibu sejak kecil, dibesarkan oleh ayah yang ketagih berjudi dan terpaksa mengharungi kemiskinan tanpa penghujung dengan bekerja sambilan di kedai serbaneka, dunia tidak pernah menjanjikan apa-apa selain kekejaman.

Dengan luka yang tidak benar-benar sembuh, aku membesar sambil membawa persoalan tentang ibu yang tidak pernah terjawab.

Sehinggalah suatu hari, aku menemui sebuah alamat asing dalam sistem navigasi kereta ayah. Tanpa mengetahui ke mana navigasi itu akan membawa aku, aku menjejaki alamat itu, seolah-olah dipandu oleh takdir.

Di penghujung perjalanan, berdirilah sebuah kedai buku misteri bernama The Library, sebuah tempat yang kewujudannya seakan-akan disembunyikan daripada dunia.

Aku percaya, di sinilah mungkin tersembunyi petunjuk untuk menemukan ibuku.

Dan mungkin juga … peluang untuk menemukan semula kehidupan yang selama ini hilang daripada aku.

“Tanggungjawab orang dewasa adalah melindungi kanak-kanak. Tiada apa yang lebih penting daripada itu. Langsung tiada.”

378 pages, Paperback

First published December 18, 2024

Loading...
Loading...

About the author

Casey

12 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (9%)
4 stars
19 (59%)
3 stars
8 (25%)
2 stars
1 (3%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Fikriah Azhari.
387 reviews171 followers
April 26, 2026
❝Bisa dibilang, tujuanku pergi ke toko buku adalah untuk mengalami gesekan yang menyenangkan dengan buku-buku yang secara kebetulan menyapaku.❞

Ayahnya memang baru saja meninggal, tetapi “Aku” sejatinya sudah tidak punya tempat pulang sejak ibunya pergi 10 tahun yang lalu. “Aku” pun tumbuh dengan kesepian dan luka batin, hingga akhirnya menemukan penyembuhan lewat sebuah toko buku. Di The Library, langkahnya dengan sang Ibu semakin dekat, membuka kesempatan untuk menebus kerinduan dan segala tanya yang selama ini mendambakan jawaban.

Buku ini unik banget! Sampai akhir, kita nggak tahu “Aku” ini sebenarnya namanya siapa, pun dengan tokoh-tokoh lain di buku ini yang diberikan nama panggilan khusus; Kuku Kaki, Hiki, Belek. Interaksi “Aku” dan temen-temennya juga lucu! ASBUN BANGET! Terkadang mereka tuh ada di kondisi yang-penting-NGOMONG, bukan ngomong-yang-PENTING. HAHAHA. Pokoknya dari ngatain satu sama lain [lovingly] sampai ngatain aparat #OOPS.

Made in Library pada dasarnya ngajakin kita mengikuti proses bangkitnya “Aku”. Keteguhan terpancar darinya yang meski hidup bersama ayah penjudi di tengah kesulitan ekonomi dan putus sekolah, tapi tak lantas membiarkan hidupnya berakhir begitu saja. Dan untungnya, dia nggak sendirian menghadapinya. Bersama Kuku Kaki, Hiki, dan Belek, walau masing-masing berada dalam kesulitan berbeda, mereka dapat berbagi perjuangan serupa dan saling menarik satu sama lain untuk bangkit bersama.

The Library nggak sekadar jadi latar cerita, tapi hadir sebagai hiburan dan penyembuhan yang membantu “Aku” bangkit dari luka yang ikut tumbuh bersama dirinya. Proses penyembuhan diri dan hubungannya dengan buku ini digambarkan dengan hangat. Di sana, “Aku” bertemu dengan Ibu Pengurus dan Kak Kenari yang menyambutnya dengan hangat sejak menjadi pelanggan hingga bergabung menjadi pegawai. “Aku” juga belajar banyak dari Ibu Pengurus, bahwa orang-orang yang terlihat baik-baik saja bisa jadi pada kenyataannya adalah orang-orang kuat yang sedang mengatasi tragedi dengan hati yang lapang. Sebagai pembaca, aku melihat bahwa kebaikan yang diterima tokoh utama “Aku” inilah yang mendorong dirinya untuk melakukan hal yang sama pada Kuku Kaki, Hiki, dan Belek. “Aku” ingin Kuku Kaki sukses dengan studionya, Hiki nggak lagi mengurung diri, dan Belek bisa menyelesaikan perkuliahan dengan baik.

Berdamai dalam hidup bagi “Aku” sendiri nggak hanya hidup mandiri dan lepas dari ayah yang gila judi, tetapi juga dengan menemukan ibunya. Nggak jarang kalau lihat sepasang ibu-anak di toko buku, “Aku” jadi keinget ibunya. Perasaan dia ke ibunya nih sebenarnya tarik-ulur, pengin ketemu tapi takut ibunya udah punya kehidupan lebih baik tanpa dirinya dan tentunya dia nggak mau mengacaukannya. Sedih banget, tapi ternyata lebih sedih lagi waktu tahu alasan ibunya "pergi".

Konsep The Library terasa seperti toko buku yang aku dambakan! Tata ruang hangat dan ramah anak, meja-kursi untuk membaca, papan pembaca untuk berbagi ulasan, pegawai yang paham betul buku untuk direkomendasikan. Mereka nggak hanya membangun bisnis, tetapi juga komunitas. Sebagaimana bagi “Aku”, membaca bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan akar yang menjadi penguat dalam menjalani hidup. Penulis juga tampak menikmati momen menyisipkan judul-judul seperti The Little Prince, The Old Man and the Sea, One Hundred Years of Solitude, hingga Cosmos, membuat novel ini terasa seperti surat cinta dari pembaca untuk pembaca lain.

Overall, Made in Library terasa cocok dibaca saat piknik di cuaca yang cerah; kisah di dalamnya mengantarkan sensasi hangat yang menjalar pelan, menghadirkan ketenangan, bahwa walau merasa hidup terasa sudah hancur, kita masih punya peluang untuk pulih, sebab setiap orang punya kesempatan untuk terlahir kembali.
Profile Image for Aira Zira.
234 reviews5 followers
September 23, 2026
Rate : 4⭐

Buku yang berbicara tentang buku.
Asalnya kita peduli nak tahu siapa watak ‘Aku’ dan pencarian ibunya. Kenapa tajuk dan gambaran kulit buku tidak seiring? Yang sebetulnya bila pembaca dah masuk ke dunia ‘Aku’, segalanya terungkai. Dari kedai serbaneka, dia belajar tentang corak kehidupan manusia. Dari kedai buku, dia belajar tentang ketenangan hidup.

Semakin saya selak, semakin banyak teguran halus tentang hakikat di sekeliling. Buku yang bukan sekadar cerita tapi pelajaran bagi mereka yang tergapai-gapai tiada sokongan. Buku yang menjadi dunia untuk kita teroka tanpa mengembara. Bestnya bacaan bila banyak kata-kata yang boleh dikaitkan dengan diri kita. A lot!

Ye pada awalnya saya kekok sedikit dengan terjemahannya. Mungkin belum biasa tapi, semakin ke belakang saya semakin sayang nak habiskan. Kisahnya terlalu dekat dan nyata. Kata-katanya lurus ke akal untuk dihadam. Bukan sekadar seseorang yang rindukan ibu tapi bercerita tentang matlamat hidup yang lebih baik.

Made In Library, hasilkan seorang yang tiada hala tuju kepada sesuatu. Menjadikan seseorang lebih tenang dan lapang menerima takdir. Menyakinkan hidup ini penting dan punya tujuan berbeza setiap orang. Ibu yang dekat tapi jauh. Tersentuh betul saya lepas faham keadaan si ibu. ‘Dendam’ terlunas.🫶🏻

Saya sangat recommend buku ni pada reader yang lain. Bukan sekadar punya kulit buku yang cantik tapi, isi ceritanya yang unik. Buat otak kita bekerja dan berfikir. Tentang persahabatan, cinta pada buku dan pelajaran. Cara berdamai dengan takdir dan kematangan dari hasil pembacaan. Ada juga sedikit thrill! Menarik!
Profile Image for aynsrtn.
661 reviews28 followers
August 17, 2026
Bagiku, membaca buku adalah bukti nyata bahwa aku hidup. (p. 54)

Tertarik kepada buku ini pada awalnya karena dua hal. Satu, sampul bukunya cantik. Dua, tentang buku. Dan setelah membacanya, ternyata bukunya pengen kutandain semua kalimatnya karena saking relate-nya dengan hal yang kusuka. Curiga penulisnya avid reader sebab kalimat di catatan penulisnya tertulis, "sebab, orang yang membaca, pasti akan menulis."

Buku ini bercerita tentang Aku—di mana sampai akhir nggak tahu namanya siapa—yang sedang mencari ibunya yang telah lama pergi. Aku ini tinggal sebatang kara selepas ayahnya yang penjudi, mati begitu saja. Di tengah pencarian itu, dia bekerja di sebuah toko buku bernama The Library. Disanalah Aku  belajar memaknai hidup.

Kutipan buku yang kusuka.
Baca buku ini beneran banyak banget relate sama perbukuan, apalagi kutipan-kutipannya kusuka.
Sebab, ke mana pun aku pergi, akan selalu ada tempat pelarian yang luar biasa, yaitu buku. (p. 59)

"Orang yang membaca pasti akan menulis. Membaca membuat kita menyadari adanya sayap, dan menulis membuat sayap itu mulai bergerak. Kekuatan menulis membuat hal yang tidak terlihat menjadi terlihat. Bahkan lagu pun ditulis, kan? Menulis adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk bergerak secara terperinci. Write dulu, barulah create dan make. Garis yang ditarik dengan berani adalah permulaan. Permulaan dari segalanya." (p. 124)

Aku dan caranya memanggil nama orang.
Ini buku unik banget. Selain sampai akhir, kita nggak akan tahu siapa nama si Aku ini, juga tokoh Aku punya panggilan unik untuk semua orang yang dia kenal. Mulai dari Si Kuku Kaki, Kak Kenari, Hiki, Ibu Pengurus, Kakak Penerbit, Belek, dan lain sebagainya. Sampai akhir pun nggak tahu nama asli mereka karena semua diceritakan dari sudut pandang Aku.

Transaksi narkoba di toko buku.
Biasanya kalau transaksi begitu di mana sih? Buku ini jadi bergeser genre ketika si Aku menyelidiki sebuah transaksi yang terindikasi ke sana di toko buku. Alih-alih menghubungi polisi, si Aku malah bertindak jadi detektif jadi-jadian. Seru sih, cuma kek ngapain sih dia? Haha.

Rekomendasi.
Akhir kata, cerita tentang buku itu selalu seru buat dibaca. Made in Library tidak hanya buku tentang seseorang anak perempuan yang mencari ibunya, tetapi juga proses untuk pulih dari trauma dan bagaimana untuk terus mencintai buku dan ekosistemnya.

Buat yang suka asian lit dari Korea Selatan dengan tema buku, bisa banget baca ini.

🌹 4 bintang untuk Thus Spoke Zarathustra karya Friedrich Nietzsche.
Profile Image for Nay B.
66 reviews4 followers
September 18, 2026
No sé muy bien cómo valorar esta lectura.

Ha sido todo un viaje de emociones y, desde luego, no me ha dejado el corazón calentito como pensaba que pasaría al tratarse de una novela «feel good».

Este libro habla del abandono, la pérdida de sí misma y la esperanza, pero lo hace desde una perspectiva bastante cruda y con una protagonista de moralidad gris. Creo que refleja muy bien cómo es el ser humano y la realidad a la que algunas personas tienen que enfrentarse.

No voy a negar que ha sido duro de leer en algunos momentos. Además, no he acabado de conectar con la manera en la que está escrito. Hay saltos temporales constantes y toda la historia está narrada en primera persona, algo que en determinados momentos hizo que me perdiera y no terminase de entender qué estaba pasando.

A pesar de todo, creo que es un libro que merece la pena leer. Es una historia que emociona y, sobre todo, que invita a pensar y reflexionar sobre algunos temas bastante complejos.

Eso sí, solo lo recomendaría a personas que disfruten del drama y de las historias duras. Porque, desde luego, no es ni mucho menos una lectura «cozy».


Profile Image for Mariela.
533 reviews81 followers
September 16, 2026
No sé ni qué pensar de este libro. 🤔📖

Tuvo partes que me gustaron, pero otras no tanto.

Nuestra protagonista fue abandonada por su madre cuando era chica y, a lo largo del libro, vemos cómo intenta encontrarla. Pero también conocemos un poco de su vida cotidiana, su trabajo en un minimercado, las relaciones con los clientes y cómo termina trabajando en una librería. 📚

Y acá estuvo mi mayor problema. La protagonista no es una persona del todo buena y, con la subtrama de la librería y los hombres que van a comprar libros, sentí que eran dos historias diferentes que se superponían, pero que nunca terminaban de coexistir dentro del libro.

Es entretenido, pero por momentos me perdía y no terminé de disfrutarlo del todo.

Tal vez también influyó mi idea previa de que la literatura oriental suele ser reconfortante y dejar algún mensaje positivo. Y este libro definitivamente no fue el caso. La protagonista nunca llega a ser alguien particularmente positiva y tampoco sentí que su historia fuera reconfortante o feliz.

Así que terminé el libro un poco como lo empecé, sin saber muy bien qué pensar. 🫠

¿Te gusta la literatura oriental? 📚
✨ ¿Cuál me recomendarías para seguir descubriendo este tipo de historias?
Profile Image for Nia potterr.
256 reviews11 followers
July 7, 2026
FMC nya hebat banget bisa begitu mandiri di tengah ujian dan keterpaan yang tengah dialaminya. Mulai dari mencari ibunya, bekerja di supermarket, memberantas organisasi narkoboy, hingga membayar hutang yang ayahnya tinggalkan, hingga ia bekerja di toko buku yang akan memulai hidupnya dengan baik dan bertemu ibunya kembali
Profile Image for Zsuzsi.
2 reviews
August 21, 2026
I’m usually not one to write reviews, but this book was so painfully bad that I simply can’t leave it without saying a word.

It’s marketed as “healing fiction,” but honestly… what exactly did I just read? An underdeveloped, painfully slow and boring story about… what, exactly? Throughout the entire book, I had the feeling that even the author didn’t know.

It’s riddled with logical inconsistencies, while the protagonist is exhausting, inconsistent, and frustratingly poorly written. The side characters are nothing more than props scattered throughout the story, serving no real purpose whatsoever.

I wouldn’t recommend this book to anyone. The only remotely redeeming part of this entire disaster is the cover. But let’s be honest: charging money for this scribble of a novel is a crime.
Profile Image for Athyrah Nazry.
31 reviews
September 24, 2026
⭐️⭐️⭐️⭐️.5

Made In Library bermula dengan seorang “Aku” yang membesar tanpa ibu dan hidup bersama ayah yang mempunyai masalahnya sendiri. Jadi, pencarian terhadap ibu menjadi satu persoalan besar dalam hidupnya. Tetapi semakin cerita bergerak, saya sedar bahawa perjalanan mencari ibu itu sebenarnya hanyalah sebahagian daripada perjalanan “Aku” untuk memahami dirinya, masa lalunya dan kehidupan yang sedang dia jalani.

Apa yang menarik, buku ini tidak memaksa pembaca untuk belajar sesuatu melalui nasihat yang panjang. Banyak pengajaran disampaikan melalui perkara kecil...daripada perbualan, pengalaman, pertemuan dengan orang lain dan cara “Aku” menghadapi apa yang berlaku dalam hidupnya.

Saya turut tersentuh dengan tema ibu, kehilangan dan penerimaan yang dibawa dalam cerita. Ada persoalan yang mungkin kita fikir mudah untuk dijawab, tetapi apabila melibatkan hati dan masa lalu seseorang, jawapannya tidak semudah yang disangka. Dari situ, saya rasa buku ini banyak mengajar tentang melepaskan rasa marah, memahami keadaan orang lain dan menerima bahawa tidak semua perkara dalam hidup akan berjalan mengikut apa yang kita mahu.

Sebagai seorang pembaca, saya juga suka bagaimana buku bukan sekadar latar, tetapi menjadi sebahagian daripada jiwa cerita. Ada rasa nyaman yang hadir setiap kali kisahnya kembali kepada dunia buku. Seolah-olah membaca sendiri menjadi salah satu cara untuk “Aku” memahami manusia dan memahami dirinya.

Made In Library mengingatkan saya bahawa proses untuk sembuh bukan sesuatu yang berlaku dalam satu malam. Kadang-kadang kita cuma perlu terus berjalan, walaupun perlahan, sehingga suatu hari kita sedar bahawa hati kita sudah jauh lebih ringan berbanding dahulu.
Profile Image for Nani S.
26 reviews3 followers
September 23, 2026
'Aku terfikir, jika kita menelusuri kebaikan seseorang, mungkin di hujungnya tersembunyi sebuah tragedi.'

Pada ayat ini, aku berhenti lama. Sangat terkesan. 🥲

Made in Library membawakan kisah Aku dalam mengubah hidupnya dan mencari ibunya yang lama menghilang. Bagaimana dia masih boleh waras walaupun punya ayah yang tidak bertanggungjawab. Ceritanya hidup dan menghidupkan.

Terselit misteri dan aksi. Hidup ini begitulah. Ada random moments tiba². Dan sebenarnya, aku rasa kisah Aku dalam Made in Library ni memang random. Dari kedai serbaneka, beralih ke kedai buku.

Dalam perjalanan mencari ibunya, dia jumpa pelbagai ragam manusia dan akhirnya menemukannya dengan Si Kuku, Hiki, Kak Walnut, Birch, Pengarah dan Si Tahi Mata. Nama² dalam novel ni comel eh. 😂

Overall, this is a good storyline. Perbualan yang menggunakan analogi dan kiasan, I feel like that's beautiful. Frasa dan kata² yang menghidupkan dan membuatkan kita berfikir tentang kehidupan.

Meminjam ayat di dalam novel,

'Selepas membaca, kita perlu berani berdiri di hadapan buku itu. Kita tidak boleh hanya membaca dan kekal sama. Jika membaca, kita harus berubah. Jika tidak, kita akan ditelan oleh cerita itu sendiri.'
Profile Image for Hamidah Effendi.
677 reviews7 followers
September 14, 2026
📚 Made in Library

Buku ini adalah kisah slice of life yang berlatarbelakangkan sebuah kedai buku. Watak utamanya ialah “Aku”, seorang yang membawa trauma dari masa lalu dan mempunyai satu misi — mencari “ibu” yang hilang sejak kecil.

Apa yang menarik bagi aku ialah nama-nama wataknya yang unik. 🤣 Ada Kakak Walnut, Pengarah, Si Tahi Mata, Si Kuku, Hiki, Puan Guru… malah pekerja-pekerja kedai buku pun diberikan nama pokok oleh “Aku”. Kreatif betul! 🌳😂

Selain kisah kehidupan di kedai buku, terselit juga sedikit misteri tentang pencarian ibu. Sepanjang cerita, kita dapat lihat bagaimana “Aku” perlahan-lahan merawat luka lama yang selama ini dibawa. Ada juga banyak kata-kata tentang kehidupan dan dunia buku yang boleh buat kaki buku berhenti sekejap dan fikir. 🥹📖

Cuma satu yang buat aku penat… “Aku” ni kadang-kadang sibuk sangat jadi detective menyiasat benda yang mencurigakan sebab nak protect apa yang dia anggap sebagai safe space. 😭

Hello, boleh fokus tak? Ibu tu nak cari juga! 🤣

Tapi overall, aku suka perjalanan ceritanya.

⭐ Rating: 4.5/5

Kredit juga kepada penterjemah. Terjemahan sangat selesa dibaca dan tak memeningkan. Saya suka. ❤️

Dan design buku ni pun cantik! Ada efek shining-shining ✨, flap pun tak keras bila selak. Memang seronoklah nak pegang dan baca. 📚💕

Akhir kata…

Adakah anda sudah jumpa “safe place” anda? 🏡📖
Profile Image for Lyana.
23 reviews
September 19, 2026
Made in Library telah diterjemahkan ke dalam bahasa melayu. Banyak beautiful quotes dalam buku ini.

Tentang buku, tentang kehidupan, tentang kehilangan dan tentang mencari seseorang yang pernah meninggalkan kita. Kisah seorang anak yang ditinggalkan ibunya sejak kecil dan memilih untuk bekerja di sebuah toko buku, dengan harapan dapat mencari semula ibu yang telah meninggalkannya.
Profile Image for loundraw.
240 reviews8 followers
July 31, 2026
Padahal paruh pertama ceritanya udah menarik banget soal si tokoh utamanya ini yang mencari keberadaan ibunya, tapi pas di rekrut jadi pegawai The Library kenapa tujuan ceritanya malah kelempar sana sini jadi ga fokus lagi ke tujuan utama dan terasa bertele tele.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews