Jump to ratings and reviews
Rate this book

sHe

Rate this book
Dhinar dan Dinar bukan saudara kembar. Mereka memiliki sifat, pola pikir, dan kehidupan yang berbeda, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang. Dhinar pendiam, kutu buku, sinis, tertutup, dan sangat cerdas. Sementara Dinar sebaliknya. Kebetulan saja nama mereka mirip, hanya terpaut satu huruf “h”. Kesukaan mereka pada manga dan anime-lah yang membuat mereka akhirnya bertemu. Dan cerita pun dimulai dari sini…

Ini bukan cerita tentang bertukar posisi.

Ini juga bukan cerita tentang persaingan.

Ini cerita tentang jalinan persahabatan, tentang menemukan cinta dan jati diri.

248 pages, Paperback

First published March 13, 2007

22 people are currently reading
311 people want to read

About the author

Windhy Puspitadewi

17 books438 followers
Buat cewek yang lahir tanggal 14 Februari ini, menulis merupakan caranya berbagi pikiran, perasaan, mimpi, imajinasi, dan cita-citanya dengan orang lain. Ia ingin tulisannya bisa menggugah dan menginspirasi pembacanya, sama seperti tulisan kedua tokoh yang pertama-tama menginspirasinya untuk menulis: almarhum Umar Kayam dan Jostein Gaarder.


Banyak yang mengira Windhy mengoleksi kutipan orang-orang terkenal (mulai dari Ralph Waldo Emerson sampai Detektif Conan) yang sering ia selipkan dalam novel-novelnya. Padahal sebenarnya ia hafal! Kata-kata yang bagus itu langsung menempel hingga sewaktu-waktu dibutuhkan, ia tinggal mencomotnya dari ingatan dan sesekali mengecek ke Oom Google supaya lebih akurat.


Kesan, komentar, masukan, atau kritik teman-teman ditunggu di: my_cool_killer@yahoo.com. Boleh juga add FB dengan alamat e-mail yang sama atau Windhy Puspita, atau kalau mau lebih real time, follow twitter-nya di @windhy_khaze.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
124 (21%)
4 stars
171 (29%)
3 stars
197 (34%)
2 stars
61 (10%)
1 star
18 (3%)
Displaying 1 - 30 of 63 reviews
Profile Image for Annelice.
200 reviews8 followers
November 23, 2023
Bintang 3!

Pernah baca sekitar tahun 2010 dan tiba-tiba pengin baca ulang karena lupa sama jalan ceritanya.

Sebenernya konflik di novel ini flat benget loh, tapi saya malah enjoy bacanya wkwk.

sHe, bercerita tentang Dinar dan Dhinar. Mereka bukan saudara kembar, bukan pula kakak-adik. Mereka adalah 2 orang gadis yang tidak sengaja bertemu karena kegemaran mereka terhadap segala hal yang berbau Jepang.
Dinar, gadis yang berjiwa bebas, ekspresif, supel dan nggak peduli kata orang. Dia berpenampilan sesuai keinginanya. Rambut cat kuning, rok pendek dan segudang hal-hal nyentrik lainnya.
Sedangkan Dhinar adalah kebalikanya. Dia gadis yang sangat pintar, selalu menghitung untung-rugi terhadap segala hal, tidak mau mengambil resiko dan tak berani membantah keinginan orang tuanya.
Dinar memiliki pacar bernama Erwan dimana si Erwan ini sangat mirip dengan Dhinar baik dari segi prestasi, jalan berpikir dan kegemaran. Dinar sampai cemburu dan berharap hidupnya seperti Dhinar agar disayangi orang tuanya.
Tanpa Dinar sadari, Dhinarpun merasakan hal yang sama. Ia ingin bertukar hidup dengan Dinar. Ia ingin bebas, ia ingin vokal terhadap sesuatu agar orang tuanya mengerti dan menghargai keinginan dan hobinya.
Disisi lain ada Flemming, play boy pindahan Jakarta yang suka tebar pesona. Flemming naksir berat Dhinar karena cewek itu sangat cuek, judes namun jenius.
Tapi, apa iya Flemming sanggup mengatasi sikap Dhinar yang selalu apatis terhadapnya? Belum lagi melihat kedekatan Dhinar dan Erwan yang sama-sama peraih NEM No.1 se-Semarang membuatnya minder. Lalu bagaimana dengan Dinar yang juga merasa nggak selevel dengan Dhinar dan Erwan?

Hmm.. menurut saya cerita di novel ini tuh minim konflik, tapi mengalir aja gitu dibacanya. Novel ini bukan bercerita tentang romance, frendship atau family (ya ada sih dikit-dikit) tapi lebih menekankan ke pencarian jati diri.

Tentang apa yang sebenarnya diinginkan. Bisakah kita keluar dari zona nyaman yang walaupun beresiko tapi kalau kita nggak coba, kita bakalan menyesal nanti.
Atau bisakah kita vokal terhadap sesuatu yang sebenarnya kita nggak mau dan mengemukakan pendapat kita sendiri.
Bisakah kita bangga dengan apa yang kita sukai tanpa peduli omongan orang lain.

Yah semacam itu. Kadang kita memang susah ya mau berpendapat apalagi kalau bertentangan dengan pikiran orang tua.

Saya suka dengan Dinar yang bebas dan bisa menginspirasi orang lain. Saja juga suka Flemming yang manis. Manisnya bukan manis ala-ala novel romance gitu loh. Manisnya pas wkwk. Baik, mau berjuang untuk Dhinar tapi dia juga bukan tipe yang menye-menye gitu walaupun playboy. Dia sesuai porsinya anak SMA.

Eh tapi Flamming juga menginspirasi orang lain deng. Buktinya dia bisa ngajak demo para siswa dan aspirasinya didengarkan Kepsek.

Setuju banget sama Erwan dan Dhinar. "Kalau jalan pikiran, hobi dan level kepandaian sama, bahkan sifat dan karakternya mirip atau setipe yang ada justru membosankan karena nggak ada hal baru yang bisa diambil. Pasangan itu kan saling melengkapi. Kalau dua-duanya sama dari berbagai sisi yang ada cuma menuh-menuhi hati bukanya mengisi kekosongan hati"

Oh iya, selain Flemming, Erwan juga manis kok. Setia pula! Buktianya dia bisa pacaran 5 tahun sama Dinar padahal watak mereka bertolak belakang banget kan.

"Dari dulu, sekarang dan mungkin seterusnya, bagiku sudah cukup kamu saja. Nggak ada lagi tempat kosong untuk orang lain" Erwan

"Gue pikir, kalau lu gue cuekin, lu bakal merasa kehilangan dan akhirnya menyadari perasaan lu ke gue. Eh, nggak tahunya malah gue sendiri yg nggak kuat" Flamming

Kan kan kan mereka bikin gemessss. 😆😆


Overall saya enjoy banget baca novel lempeng ini wkwk.
Profile Image for Rana.
Author 6 books23 followers
October 11, 2013
Aku cinta buku ini.

Dari semua novel yang pernah kubaca, novel ini adalah satu-satunya novel yang bikin aku seneng baca lagi dan lagi karena satu hal; idenya yang gak biasa dan alurnya yang gak mainstream.

Novel ini mengajarkan kita untuk menjadi diri sendiri dan menjalani hidup kita sesuai dengan letak kebahagiaan kita, bukan kebahagiaan orang lain. Seperti halnya Dinar dengan cueknya mengecat rambutnya jadi kuning jeruk demi memuaskan hatinya semata, dan jelas-jelas ditentang orang tua dan sekolahnya. Bagaimana Flemming dengan percaya dirinya ngirim proposal pentas seni yang semua orang juga tau gak akan diterima. Bagaimana anak-anak Genki Ji yang notabene hanya sekumpulan orang yang suka anime dan manga dan kaga punya modal apa-apa bisa bikin acara yang memamerkan soundtrack anime dan manga favorit mereka.

Tapi di sisi lain, novel ini juga mengajarkan kita untuk gak jadi manusia yang seenaknya sendiri alias egois. Bisa dilihat dari bagaimana Dhinar nurut banget sama kemauan orang tuanya (minus beli dan baca komik ngumpet-ngumpet). Gimana dia dengan penuh rasa sabar ikut kursus bahasa Jepang, belajar sepanjang waktu, dan ditekankan untuk dapat nilai bagus dan selalu jadi lulusan terbaik di angkatannya.

Novel ini juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang tahan banting, yang bisa bangkit lagi walau udah disakiti berkali-kali. Seperti curhatan Dhinar ke Flemming tentang teman-temannya yang menyukainya hanya gara-gara apa yang dia punya dan bukan karena dia apa adanya. Seperti Flemming yang berkata kalau orang memang harus sakit dulu baru bahagia. Seperti Dhinar yang memutuskan untuk ikut demo pensi. Seperti Anita dan teman-temannya yang lain yang akhirnya menerima Dhinar kembali. Yang jelas, bukan teman namanya kalo menyukai kita atas dasar "apa yang kita punya" dan bukan karena kita apa adanya.

Aku gak bisa ngerti kenapa bisa ada orang yang segitu miripnya; Dhinar dan Erwan. Hobi baca buku-buku tebal nan berat, juara umum seangkatan, bergantian jadi peraih NEM tertinggi se-Semarang, sinis bin sarkastis, dan sebagainya. Bahkan Dinar sampai bilang kalo Dhinar itu "Sapu dalam bentuk cewekk". Gak kebayang aja sih, kalo Dhinar itu bener-bener sosok Erwan dalam bentuk cewek. Hahaha.

Aku gak nyangka kalo Flemming yang asal ceplos dan suka sok-sokan itu bisa mempengaruhi orang lain. Misalnya aja, setiap Flemming ngacoblak panjang lebar ke Dhinar, pasti akhirnya Dhinar jadi bimbang dan berpikir. Yah, walau biasanya Dhinar bakal kembali ke jalannya yang udah dia rintis sejak kecil. Seenggaknya, kata-kata Flemming seringkali bikin orang merenung. Anehnya, dia juga menjabat sebagai "playboy kelas kakap yang jadian sama kutu buku" yang bikin aku gak ngerti lagi. Flemming bisa suka sama Dhinar itu ajaib, apalagi Dhinar bisa suka Flemming yang notabene anak berandal tingkat dewa. Sama halnya dengan Dinar dan Erwan; yang satu trouble maker nomor wahid sedangkan yang satunya suri tauladan bagi anak-anak satu sekolah.

Awalnya, waktu Dinar cemburu dan minta putus ke Erwan, aku kira mereka bakal tukeran: Dinar sama Flemming dan Dhinar sama Erwan. Nyatanya, justru Erwan dan Dhinar ngasih penjelasan kalo jadian dengan orang yang sama itu gak asyik. Kenapa? Karena gak ada yang bisa dibagi. Kalo kita jadian dengan orang yang beda, justru pasangan kita itu bisa menutupi kekurangan-kekurangan kita dan kita bisa menutupi kekurangan-kekurangan dia.

Jempol yang banyak banget buat "sHe".
Profile Image for Dya Ragil.
Author 8 books43 followers
March 2, 2016
Serius, udah nggak bisa saya hitung lagi pakai jari berapa kali saya ngebanting buku ini dan kehilangan mood untuk lanjut baca. Tapi akhirnya saya bersikap masokis dengan membacanya sampai tuntas. Pertama, bukunya Windhy Puspitadewi gitu. Kedua, saya ini gila jejepangan juga. Dua unsur yang seharusnya bisa bikin saya ngasih paling gak 4 bintang. Tapi sepertinya saya mengekspektasi terlalu tinggi, makanya jatohnya ya... ya gitu deh. Kena PHP buku itu memang gak pernah enak -_-

First, saya benci banget semua karakter orang dewasa di sini. Mereka gak berguna banget. Dengan sepatah dua patah kata ucapan sok diplomatis dari anak-anak langsung luluh gitu aja. Iya, semuanya di situ kayak gitu. Kalau cuma satu atau dua karakter sih nggak apa-apa ya, tapi ini semuanya. Nggak guru, nggak ortu, hellooooow... konfliknya yang 'diada-adakan' jadinya selesai dengan supermudah.

Kayaknya cuma ada satu pesan positif di sini: be yourself.

Ya benar, itu pesan bagus. Tapi apa gunanya jadi diri sendiri kalau seenaknya dan sebebas-bebasnya tanpa rasa tanggung jawab, hah?! God help me ._.

Saya. Nggak. Suka. Banget.

Pesan negatif yang disampaikan buku ini terasa mendominasi sampai pesan positifnya ketutup.

Dan apa-apaan itu Kak Tony? Komunikasi sama ortu dulu kek. Mereka yang membiayai Kak Tony kuliah. Dan si Kak Tony ini seenaknya keluar gitu? Tanpa konsultasi? Alasannya cuma karena nggak mau bikin khawatir? Dan pas ketahuan pun dengan santainya ngeles tanpa rasa bersalah dan ortunya yang sangat keras itu langsung maafin bahkan berpelukan kayak teletubbies? Wong edan kabeh! Logikanya gak ada!

Dan masalah dua main chara cewek sama ortu mereka diselesaikan oleh pacar atau calon-pacar mereka. Buat saya itu udah... ah kenapa kau nggak biarin mereka kelarin masalah keluarga mereka sendiri sih, Mbak Windhy? Kenapa harus bawa-bawa pihak ketiga?!

Dan itu si bapaknya Dhinar pas didebat sama Flemming yang dengan kurang ajarnya motong ucapannya? Itu bocah kurang ajar gak tahu etika harusnya ditendang sampai benua antartika, bukan malah dipuja-puji setinggi langit. Si Papa ini karakternya yg awalnya saya pikir paling normal di antara semua karakter orang dewasa di sini, imejnya langsung hancur berkeping-keping. Hei, Papa, mana wibawamu yang dari awal kautunjukkan? Kewarasanmu ikutan hilang kayak cewek-cewek penggila Flemming di sekolah?!

Dan masih banyak banget hal-hal lain yang nggak make logika. Soal jejepangannya? No comment. Tapi bisa dibilang saya kecewa. Gitu aja. Genki Ji ini sok banget ya. Ngetes anggota dengan cara obvious kayak gitu. Saya juga pernah ikut kelompok jejepangan yang circlenya sekecil Genki Ji. Pernah bikin acara segedhe acara mereka juga. Dan cara mereka menyambut anggota baru itu sangat ramah. Nggak perlu pakai ada ujian segala. Mereka bisa nerima anggota baru yang beneran awam soal anime-manga. Genki Ji ini kesannya eksklusif banget. Saya mah secinta apa pun sama anime-manga nggak akan gabung ke kelompok jejepangan yang harus pakai 'tes' ini. Paling ogah banget deh sama kelompok elitsh*t macam gini.

Udah deh gitu aja... males ngelanjutin.

Ini bukan review. Cuma keluh kesah saya doang -_-

Sekian.
Profile Image for Ira Booklover.
691 reviews45 followers
March 9, 2016
Life is a book.

Everyday has a new page.

With adventures to tell,

things to learn

and tales to remember.

(sHe, hlm. 11)

Kejar tayang baca buku di iJak (lagi) buat tantangan #GPU42. Sebenarnya sudah sering lihat novel GPU berlabel teenlit, tapi ntah kenapa, untuk saya yang bukan pembaca teenlit, kalau melihat label teenlit di sampul novel, bawaannya jadi malas banget buat baca XD

Dari sekian banyak novel teenlit GPU, saya akhirnya memutuskan untuk membaca sHe. Walaupun temanya sudah umum, tapi sepertinya asik. Dan syukurlah saya tidak menyesal memilih sHe. Ceritanya, membuat saya tergelak. Apalagi drama saat Dhinar memperkenalkan namanya. Ahahaha, mirip seperti saya memperkenalkan diri. Kalau Dhinar kesulitan menjelaskan huruf "H" yang nyempil di namanya, saya kesulitan menyebutkan huruf "R" yang ada ditengah-tengah nama saya karena penyebutan huruf "R" saya kurang sempurna. Kalau bahasa Banjar-nya sih huruf "R" saya batagar. Lucunya, reaksi orang-orang selalu hampir sama. Benar-benar perjuangan.

Ceritanya sendiri terasa begitu dekat. Persaingan dan dendam kesumat antara Dhinar dan Sapu dalam perebutan NEM tertinggi membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Senang mengetahui ternyata bukan hanya saya yang dulu menganggap hal itu sangat penting.

Kalau kata saya sih, sHe ini ceritanya seger, walaupun saya rasa anak-anak muda ini terlalu bebas dan berani.

Sepertinya saya lupa menandai halaman tempat kutipan tentang sesuatu yang benar atau salah itu sangat relatif. Atau cuma saya saja yang membayangkannya yak, ahaha. OOT, inilah salah satu alasan saya tidak suka baca ebook, kalau mau bolak-balik halaman buat mencari kutipan rada susah, capek nge-scroll melulu.

Saya iri dengan kemampuan dan keberanian anak-anak ini untuk menyadarkan para orang tua keras kepala yang selalu memaksa anaknya untuk melakukan ini itu. IMO, itu yang paling berat. Kadang, di kota kecil seperti kota saya, bukan hanya orang tua yang perlu disadarkan, seperti Flemming yang cukup menyadarkan ayahnya Dhinar, tapi semua orang. Kadang setelah capek-capek memberikan penjelasan kepada orang tua, eh besoknya saat mereka ngobrol sama tetangga dan teman-teman mereka, pikiran mereka berubah lagi. Bahkan saat ada bukti nyata pun kalau apa yang mereka yakini itu belum tentu benar, mereka tetap ngotot. Capek deh.

At last, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Untuk suntikan keberaniannya, walaupun kurang ampuh untuk saya, tapi cukup membuat saya kagum. Dan juga untuk ceritanya yang kocak dan seger. I really liked it ^_^
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
May 30, 2016
Sukaaaa

Begitu selesai membaca ini, saya langsung berikan ke adik saya karena kami berdua adalah penggemar berat mbak Windhy. Selang beberapa halaman, adik saya sedikit protes

''kak, kok bahasanya kacau gini ya?''

Ya, itulah sedikit minus yang terdapat dalam buku ini. Kadang seorang tokoh menggunakan kata ''aku-kamu'' kadang menggunakan ''gue-lo''

tapi entah mengapa saya memaafkan mbak Windhy XD

dan saya memaklumi karena ini merupakan karya yang sepertinya debut awal mbak Windhy.

Satu hal yang saya sukai dari setiap karya mbak Wind adalah, mbak Wind pintar menyelipkan kutipan-kutipan bijak. Tidak semua penulis pintar melakukan ini dan saya selalu suka dengan cara mbak Wind melakukannya.

Oiya, mbak Windhy merupakan salah satu orang yang berhasil membuat saya menyukai dunia Jejepangan loh,hehe

Ditunggu karya lainnya!
Profile Image for Adelia Ayu.
147 reviews1 follower
June 15, 2013
Novel pertama karya Mbak Windhy yang aku baca, tapi sampe sekarang lupa belum kasih review -_-v Pokoknya seru! :3
Profile Image for Silvi S..
10 reviews
January 9, 2017
novel pertama mbak Windhy yg sya baca :D dan baru di riviu skrang...TAT padahal sya bacanya pas kelas 2 smp -__- (thx banget buat sarah yg udah minjemin saat itu
Profile Image for Shanya Putri.
350 reviews160 followers
January 12, 2018
3rd book of 2018!

Telat banget, ya, baru baca sekarang? :"))

Intinya aku suka sama cerita ini. Sama Flemming juga hehe😂😂
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews10 followers
May 15, 2017
Bukan adek kakak, apalagi saudara kembar. Cuma beda di penulisan namanya aja. Dinar si cewek agak tomboy, pembangkang, pemberani, bisa dibilang tukang bikin onar juga. Sementara Dhinar kebalikannya dari Dinar. Penurut, agak kalem, selalu nurutin apa kata orang tuanya. Yang sama antara mereka berdua adalah sama2 penyuka anime dan segala hal yang berbau Jepang.

Awal pertemuan mereka di toko buku yang saat itu sama2 lagi cari seri kelanjutannya komik Conan. Eh gk nyangka lagi mereka 1 tempat kursus, bahkan 1 kelas di kursus bahasa Jepang.

Well dari situ persahabatan mereka dimulai.

Dinar sudah mempunyai pacar bernama Erwan, sementara Dhinar sendiri dikejar2 sama cowok baru yang dicap sebagai playboy di sekolahnya. Ya silakan baca sendiri ya gimana keseruan mereka.

Hmm sebenernya ceritanya bagus ya, gue uga suka sama tokoh2 yang disini. Hanya saja, entah kenapa nama Dhinar ini mengganggu. Tiap dia nyebutin namanya: Dhinar pakai H.. Helloww ya gk gitu juga kali ya. Gk bisa gitu cukup nyebut Dhinar tanpa ada embel2 H nya.. Nama gue Lisa, dan gue gk nyebut pakai S ya bukan Z, atau Caca, gk pake H ya jadi ChaCha -__- Jujur aja agak keganggu banget gue. Urusan nama yang hanya sepele gitu aja sampe dipermasalahin banget.
Profile Image for Ratih Cahaya.
413 reviews7 followers
June 18, 2019
Dari ide ceritanya sih cukup seru. tentang dua orang gadis remaja yang bernama mirip (hanya beda huruf H), tetapi memiliki sifat dan kehidupan yang cukup berbeda. alur cerita dan konfliknya ya khas cerita teenlit pada umumnya lah. hanya saja ada beberapa 'pesan moral' yang tidak kusetujui di dalam cerita ini.

contohnya, bagian kisah Dinar menekankan untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan tanpa memedulikan orang lain. hal ini tidak sepenuhnya salah. kalau kita punya keinginan ya memang lakukan saja, jangan terlalu mikirin kata-kata orang lain. masalahnya, di cerita ini lebih ke 'Lakukan saja apa yang kau mau, masa bodoh dengan orang lain' seolah-olah kita bebas melakukan apa saja sesuka hati. padahal kan ya jangan begitu-begitu amatlah. kalau apa yang kita lakukan merugikan orang lain gimana? apakah tetap nurutin apa yang semua kita inginin?

Yah, pokoknya menurutku begitulah. mungkin seharusnya ada penjelasan lebih lanjut tentang hal tersebut lewat cerita tanpa terkesan menggurui. supaya remaja yang membaca nggak menelan mentah-mentah 'pesan moral' tadi.

selebihnya, cerita ini oke. terbit tahun 2000an awal. bawaaannya jadi nostalgia masa SMP. wkwkwk

Profile Image for cher.
107 reviews1 follower
February 19, 2022
Satu kata yang menggambarkan buku ini secara keseluruhan; frustrating. Sebenernya gak ada hal yang ngebuat pembaca sebegitu frustasi, hanya saja, alur ceritanya terlalu cliche, dipaksakan, dan akhirnya jatuhnya cringe. Latar belakang cerita ini tuh di tahun 2000an. Tokoh utamanya merupakan anak SMA yang bernama Dhinar dan Dinar dengan kepribadian bertolak-belakang.
Ceritanya dikemas dalam 250 halaman yang menurutku juga sebenernya bertele-tele. Karena, ya, buku ini gak punya plot pasti. Gitu-gitu aja. Don't get me wrong, aku suka karya Windhy yang 'Let Go', tapi entah kenapa, buku kali ini gak masuk di aku. Karakteristik tokoh-tokohnya juga terkesan.... aneh? Terutama hubungan Flemming dan Dhinar. Keliatan banget mau menonjolkan trope enemies to lovers which turned out to be a total disaster. Yet, I still like the moral of the story.
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
February 10, 2024
"Justru karena kami sama itulah, kami nggak cocok satu sama lain. Yang namanya pasangan, harus bisa melengkapi satu sama lain."

"Menutupi kekurangan pasangan dengan kelebihan yang kita miliki. Ibaratnya hati yang terbelah dua, ada sisi kiri dan sisi kanan. Kalau kami sama, seperti aku dan Dhinar, hanya akan menghasilkan dua sisi kiri atau dua sisi kanan. Tidak akan punya arti apa pun."

"Apa asyiknya jadian dengan orang yang sama?"
"Jalan pikiran, hobi, semua sama. Semuanya jadi membosankan karena tidak ada hal baru yang bisa diambil dan dinikmati.

"Kamu bisa mengisi kekosongan-kekosongan hidupnya. Kalau denganku, aku tidak bisa mengisi kekosongannya, aku hanya bisa mengisi sedikit ruangnya yang sudah penuh."

Love these idea about a concept of couple. I've had the same thought since a while as well.
Profile Image for Chacha.
90 reviews6 followers
January 29, 2019
Novel pertama dari Kak Windhy yang aku baca, menceritakan dua orang gadis dengan nama yang hampir sama, Dhira dan Dira. Tetapi kehidupan dua cewek ini jauh berbeda. Dhira yang takut untuk memperjuangkan hobinya. dan berprestasi di sekolahnya sementara Dira yang pemberani untuk memperjuangkan kesukaannya. Mereka akhirnya nggak sengaja bertemu dan pertemuan mereka memberikan kepada mereka masing-masing kekuatan. Lucunya di dalam novel ini ada tokoh yang bernama Sapu, yang merupakan pacar Dira. Selain soal menggapai mimpi, novel ini juga ada sisi romancenya antara Sapu dengan Dira juga Dhira dengan Flemming. Aku rekomendasikan untuk dibaca.
Profile Image for soonie.
2 reviews
November 27, 2021
tau buku ini udah dari lamaaa banget waktu jaman smp, tapi baru sempet baca tahun 2021.

sebenernya buku ini klise, konfliknya terlalu cepat buat diselesaikan. paling sebel di bagian penyelesaian konflik Dinar dan kedua orang tuanya, kaya yang?? segitu gampangnya buat berubah pikiran? tapi yah yaudahlah...
kalau aku versi 9 tahun yang lalu baca ini pasti bakal sukaaa bangeeettt, sedangkan aku versi sekarang sih suka aja, mungkin gara-gara bacaanku sekarang udah beda kaya jaman dulu.
cuma satu sih yang aku sayangkan, sampai akhirpun Dinar sama Dhinar nggak sadar kalau dulu pernah ketemu. aku pikir mereka bakal inget.
Profile Image for Achame.
178 reviews1 follower
January 27, 2021
been long time i haven't read any kak windhy books. Ini buku terbitan lama. Buku kedua kak windhy. Buku ini buat remaja. Ceritanya klise sih, mdh ditebak tp bisa dibaca kl lg bth bacaan ringan. Not so bad lah.
20 reviews
July 22, 2017
Baca ini waktu masih SD dan gatau kenapa scene pidatonya berkesan banget buat aku. Great novel for me
Profile Image for naiyu.
79 reviews37 followers
February 18, 2022
i thought it will be like windhy’s other book but it doesnt t__t
Profile Image for nai.
25 reviews
April 9, 2024
i loveee windhy's book!! tidak pernah mengecewakan 😵‍💫🫶
Profile Image for Novita Anggun.
20 reviews3 followers
February 14, 2021
🇸​​​​​ 🇭​​​​​ 🇪​​​​​

Karya : Windhy Puspitadewi
Cetak ketiga 2017 oleh PT. GPU

Awalnya nyari seri dari Touche' kok gak nemu di iPusnas jadi rencananya mau nyari online tapi nunggu uang jajan turun. Akhirnya baca karya yang lain. Masih genre teenlit.

At first sight dari judul dan Kaver aku ngiranya "wah kembar" pas baca Blurb di belakang ternyata kebetulan namanya mirip. Eh, ternyata based storynya ini real tapi penulis pesan sih yang tahu bagian mana yang fiksi dan non-fiksi hanya "Windhy-Windy dan Tuhan" dan reader cuma bagian nikmat aja.

Buku ini berkisah tentang Dhinar dan Dinar yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Dhinar introver dan Dinar ekstrover. Dhinar kayak robot dan Dinar bebas lepas. Tapi, ada satu hal yang keduanya sukai. Mereka berdua suka hal-hal yang berbau JEPANG sehingga mereka dipertemukan di khursus bahasa Jepang. Bedanya Dhinar khursus buat persiapan beasiswa dan Dinar cuma suka all about Japan.

Alur cerita ringan dan meski related dengan kehidupan para teen itu gak bosen bacanya. Apalagi ada duo cowok yang bikin hidup cerita ini. Babang Erwan Saputra punya Dinar dan Babang Flemming punya Dhinar. Eh, ini bukan Alexander Flemming si penemu penisilin atau Ian Flemming si penulis James Bone. Namun, penulisnya terinspirasi dari situ deh.

"ᴷⁱᵗᵃ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵖᵉʳˡᵘ ᵐᵉˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵃᵖᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵒˡᵉʰ ²⁰ ᴴᵉʳᵒᵉˢ ᵁⁿᵈᵉʳ ⁴⁰ ᵛᵉʳˢⁱ ᵐᵃʲᵃˡᵃʰ ᵀⁱᵐᵉ ˢᵉᵖᵉʳᵗⁱ ʸᵃᵍⁱʳᵃ ʸᵘᵘʸᵃ⸴ ᴺⁱᵍᵒ⸴ ᴮᵘᵗᵉᵗ ᴹᵃⁿᵘʳᵘⁿᵍ⸴ ᵈᵃⁿ ˡᵃⁱⁿ⁻ˡᵃⁱⁿ ᵃᵍᵃʳ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱˢᵉᵇᵘᵗ ᵖᵃʰˡᵃʷᵃⁿ‧ ᶜᵘᵏᵘᵖ ˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵃᵖᵃ ʸᵃⁿᵍ ⁱⁿᵍⁱⁿ ᵏⁱᵗᵃ ˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ˢᵘⁿᵍᵍᵘʰ⁻ˢᵘⁿᵍᵍᵘʰ⸴ ⁱᵗᵘˡᵃʰ ᵏᵉᵖᵃʰˡᵃʷᵃⁿᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ˢᵉᵇᵉⁿᵃʳⁿʸᵃ”‧ ⁻ ᴰʰⁱⁿᵃʳ
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 24, 2015

Dinar dan Dhinar bukanlah saudara kembar, saudara jauh pun juga bukan. Mereka berkenalan pertama kali secara tidak sengaja ketika hendak membeli komik Conan dan kemudian berlanjut ketika keduanya satu kelas saat mengambil kursus Bahasa Jepang.

Dinar adalah sosok gadis yang mandiri, percaya diri dan seringkali semaunya sendiri. Ia tidak malu atau sungkan untuk mengekspresikan perasaannya, tidak pula merasa takut untuk memilih apa yang menjadi keinginannya. Hidupnya dijalankan dengan enteng, hari-harinya diisi dengan tawa dan keceriaan sehingga ia amat disukai orang orang di sekitarnya. Perangainya yang ramah dan mudah bergaul juga membuatnya memiliki banyak teman, bahkan ia menjadi ketua geng Genki Ji, komunitas pencinta anime dan manga di Semarang.

Sedangkan Dhinar, amat berkebalikan dengan Dinar. Dhinar seorang bintang kelas, nilai pelajarannya selalu memuaskan, bahkan dia selalu menyempatkan diri untuk belajar seakan akan itu adalah hobinya. Dhinar selalu berpikir logis dan teratur, tindakan tindakan yang dia lakukan sudah dipikirkan masak masak mengenai untung ruginya. Meskipun seringnya dia menjalankan apa yang diinginkan orang lain terhadap dirinya, bukan berdasarkan keinginan Dhinar sendiri. Kecuali untuk hobi membaca komiknya yang dilakukan diam diam, sebab kalau orang tuanya tahu, mereka pasti murka dan membakar koleksi komik Dhinar, seperti yang dulu pernah terjadi.

Berkenalan dengan satu sama lain, membuat Dhinar maupun Dinar jadi melihat segala sesuatunya jadi berbeda. Dhinar mulai merasa tidak nyaman dengan rutinitasnya serta kebiasaan-kebiasaannya, sedangkan Dinar jadi kepikiran betapa sempurnanya Dhinar jika dibandingkan dengan dia yang slengean. Terus gimana kelanjutan ceritanya? Nah, baca sendiri yaak..

Buku ini ceritanyaa sederhanaa banget, bahkan bisa jadi ada di sekitar kita atau mungkin kita sendiri yang pernah mengalaminya. Saya jadi ingat sewaktu SMA dulu pernah satu kelas dengan anak laki laki bernama Alfian, setahun penuh kami diisengi oleh wali kelas sendiri. "Iyaa, Alfi.... silakan maju ke depan." Lalu saya dan Alfian akan celingukan berdua karena ngga yakin yang dipanggil si Bapak Wali Kelas itu tadi Alfian atau Alvina. x___x

Atau hal lain, seperti pendaftaran lomba atau di rumah sakit, atau sekadar berkenalan dengan orang baru, saya jarang menyebutkan Alvina dengan V sih, seperti halnya Dhinar dengan H, yang alhasil sebagian besar mereka akan menuliskan nama saya dengan Alfina atau Alpina. Ya, seperti merk tas. X(

So, yeah, Dhinar, i feel you.

She ini agak sedikit membosankan sih, tapi karena peran para laki, jadi lebih lucu dan berwarna. Tokoh favorit saya, si badung Flemming. Slengean sih, but i love him. Dibandingkan dengan Incognito atau Touche, saya lebih suka Touche sih, mungkin karena She ini juga merupakan awal awal karir penulisnya, jadi masih butuh polesan lebih yak. Tapi saya menikmati kok, meski agak ngga mudeng sama judul judul manga atau anime di dalam ceritanya XD
Profile Image for nasya.
829 reviews
April 11, 2021
baca ini pertama kali waktu kelas 5SD, tapi sekarang waktu baca lagi kok agak beda gitu ya, agak membosankan. tapi ya, aku bisa mengambil maknanya dan mencoba menerapkan ke kehidupan putih abuku yang juga membosankan
Profile Image for Rose 📚🌹.
536 reviews133 followers
January 12, 2017
"Lu memang mesti ngerasain sakit sebelum bisa ngerasa arti senang yang sebenarnya. Itulah hidup! Orang baru bisa naik sepeda setelah jatuh berkali-kali."

Dua orang yang memiliki pelafalan nama yang sama, hanya beda huruf H, yaitu Dinar dan Dhinar memiliki kepribadian yang jauh berbeda. Dinar tipe wanita yang ceria dan kerap kali melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Sementara Dhinar tipe yang introvert, kaku, kesayangan para guru disekolah dan frenemy bagi teman - temannya.

Setelah saling berkenalan, Dhinar ingin sekali memiliki hidup seperti Dinar yang bebas karena selama ini Dhinar hidup dalam bayang - bayang orangtuanya yang selalu memutuskan segala sesuatu secara sepihak tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya. Memang rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau ya, karena Dinar pun menginginkan hal yang sama. Hidup Dhinar kelihatan perfect, dia jago berbahasa jepang dan bahkan akan segera melanjutkan studi disana. Itu adalah mimpi Dinar! Ketika ia harus berusaha mati - matian, Dhinar malah dengan mudah mendapatkannya.

"Kami melakukan hal yang kami sukai dan itu sudah cukup. Kami menikmati setiap detik yang kami lakukan demi acara ini, suka maupun dukanya, dan kelak kami akan mengenangnya. Mengenang sambil tersenyum bahwa kami pernah melakukan sesuatu untuk memberi makna hidup kami yang sebenarnya."

Buku ini simple tapi banyak maknanya. Buku ini menceritakan tentang arti persahabatan, perjuangan untuk mencapai hasil yang diinginkan, perjuangan menjalankan apa yang dianggap benar bukan mudah. Awalnya saya sempat bingung membaca buku ini karena tidak fokus dengan nama Dinar dan Dhinar. Saya pikir mereka adalah orang yang sama dan ternyata bukan. Untungnya cepat tersadar dan get back on track. Kalau nggak saya bakal berpikir Dhinar ini orangnya berkepribadian ganda.

Hal yang ingin ditekankan dalam buku ini adalah masa remaja kamu adalah masa - masa yang tidak boleh kamu lewatkan begitu saja. Meskipun kamu mungkin kena strap didepan kelas, dihukum membersihkan toilet, dll, nikmati saja semuanya. Karena hal - hal tersebut takkan dapat terulang lagi. Ya, masa remaja kamu hanya berlangsung sekali seumur hidup. Belajar itu penting, tapi lebih penting lagi menciptakan kenangan. Kenangan yang akan kamu kenang ketika kamu beranjak dewasa, kenangan yang akan membuat kamu tertawa ketika mengingatnya, rindu ingin mengulangnya, dan terharu karena pernah menjadi bagian darinya.
Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
March 21, 2016
Review :
“Sejak kapan cewek mesti mengambil langkkah duluan?” (hal. 24)

Dhinar dan Dinar. Dua cewek bernama hampir sama, yang membedakannya hanyalah huruf ‘h’. Mereka pertama kali bertemu di toko buku dan ternyata juga sekelas saat kursus bahasa Jepang. Tidak hanya namanya yang sedikit berbeda, tetapi kepribadian dua cewek itupun juga sangat bertolak belakang.

Dhinar merupakan anak kebanggaan orangtua. Dhinar mau-mau saja menuruti apa yang menjadi keinginan orangtuanya. Sebaliknya, Dinar akan menentang habis-habisan apa yang menurutnya tidak sesuai dengan kehendak hatinya.

Sama-sama menyukai komik dan anime, Dhinar dan Dinar pun saling mengenal satu sama lain. Secara tidak sadar mereka saling iri akan kehidupan yang mereka jalani.

Lalu, bagaimana kelanjutan kisah Dhinar dan Dinar ini?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Setelah membaca Incognito dan Touche, aku jadi kepngin baca karya Kak Windhy yang lain dan akhirnya kebaca juga sHe ini.
Mengapa dia harus menuruti apa yang ‘benar’ menurut pendapat orang kalau dia sendiri sudah tahu yang ‘benar’ bagi dirinya sendiri? (hal. 183)

Ceritanya sederhana ya, tentang seseorang yang mencari jati dirinya. Mungkin ada yang pernah mengalami hal yang sama dengan Dhinar? Atau malah lebih senang menjadi beda seperti Dinar? Kalau aku sih, enggak termasuk keduanya. Untunglah, orangtua-ku tidak telalu mengekangku, kalaupun dikekang, sepertinya aku enggak akan seberani Dinar deh.

Jujur saja, aku lebih bersimpati dengan Dhinar. Soalnya, tindakan yang dilakukan Dinar terbilang ekstrim, sih. Yah, gimana ibunya enggak ngomel ya, wkwk.
“Kami menikmati setiap detik yang kami lakukan demi acara ini, suka maupun dukanya, dan kelak kami akan mengenangnya. Mengenang sambil tersenyum bahwa kami pernah melakukan sesuatu untuk memberi makna hidup kami yang sebenarnya.” (hal. 128)

Di luar itu semua, aku sangat sangat menyukai Flemming. Namanya unik, yah. Dia cowok yan tengil banget sih. Terus cowoknya Dinar, si Sapu, juga bikin klepek-klepek sama perhatiannya.

Secara keseluruhan buku ini baguuus banget. Enggak cuma remaja aja yang bisa baca buku ini, orangtua pun kalau mau bisa baca bukuni. Siapa tahu kesentil juga dengan ucapannya Flemming ke bapaknya Dhinar, haha.
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
August 8, 2015
2.5 Bintang.
Di bagian awal banget Mbak Windhy udah ngasih peringatan kalau mungkin akan ada teman-teman (pembaca) yang kecewa dengan buku ini. Aku nggak ngerti kenapa penulis khawatir, karena sejauh ini aku cukup menyukai buku-bukunya, terutama Incognito dan Heart and Soul. Tapi ternyata kekhawatiran penulis terbukti. Aku lumayan kecewa.

Dibandingkan dengan novel-novel Mbak Windhy sekarang, novel ini memiliki bahasa yang terlalu sederhana. Penulis berusaha menyampaikan pesan-pesan moral seperti yang biasa ia lakukan di buku-buku sebelumnya. Tapi sayangnya, menurutku pesan yang ingin disampaikan sedikit ambigu. Dalam beberapa hal aku tidak sepakat dengan penulis.

Memang tak ada salahnya berusaha menjadi diri sendiri. Tapi kalau kau harus melanggar berbagai peraturan sekolah dengan mengecat rambut, berbaju ketat, atau berusaha menikmati hidupmu dengan membolos dan malak ke teman-teman sekolah, aku tidak menganggap itu hal yang tepat. Karena aku pikir, syarat menjadi diri sendiri adalah tidak merugikan orang lain dan sebisa mungkin masih sesuai dengan aturan dan norma yang ada.

Dari segi cerita, novel ini setipe dengan novel Mbak Windhy yang 'Morning Light'. Tentang seseorang yang berusaha menemukan jati diri dan lepas dari bayang-bayang orang lain. idenya bagus sih, cuma eksekusi ceritanya lumayan membosankan dan aku cukup maklum karena novel ini ditulis tahun 2005an. Karena itu nggak bakalan kapok baca tulisan penulis berikutnya karena aku tahu tulisannya yang sekarang udah jauh berbeda dari yang ini
Profile Image for Hesti Mujiastuti.
49 reviews5 followers
October 28, 2013
satu lagi karya kak widhy yang aku baca setelah Let Go, Seandainya, dan Confeito. dan harus kuakui, sHe harus menempati posisi ke-tiga setelah Let Go dan Seandainya... #halah.

bercerita tentang dua orang cewek yang namanya hanya terpaut huruf 'H' tapi dengan sifat yang sangat bertolak belakang.

Dinar, gadis dengan rambut sebahu dan berwarna kuning jeruk ini sangat atraktif dan ceria. Dhinar, gadis pintar yang sinisnya 11-12 sama Nathaniel Irawan-Let Go. bertemu disebuah lembaga kursus bahasa jepang dan sama-sama menggilai hal-hal tentang anime dan komik jepang.

ceritanya bagus. khas kak windhy yang selalu mengangkat tema tentang persahabatan, tapi kurang kental menurut aku untuk novel ini. disini yang jadi sorotan utama kan DINAR dan DHINAR. tapi menurutku, mereka belum jadi 'sahabat'. baru sekedar teman 'sekedar kenal' aja. isinya lebih menceritakan kehidupan pribadi masing-masing tokoh, tapi tidak berkaitan dengan persahabatan Dinar dan Dhinar ini. malahan aku lebih terkesan sama Flemming *.* kalau gak ada tokoh Flemming, mungkin sudah aku tutup buku ini dari pertengahan karena Dinar dan Dhinar baru 'sadar' ketemu kira-kira sudah lebih dari setengah isi cerita.

tapi untuk ide cerita, aku sangat suka. ringan, tidak terkesan menggurui tapi banyak dapet 'sesuatu'.

so, I give 3.5 stars :)
Profile Image for Tiara Orlanda.
201 reviews18 followers
September 16, 2015
“Mungkin akan banyak rintangan yang akan menghadang dalam perjuangan kita dan mungkin pula kita akan mengalami banyak pengalaman pahit dan kegagalan. Tapi jangan pernah menganggap kegagalan dan pengalaman pahit sebagai kenangan buruk yang harus dilupakan. Pengalaman yang tidak menyakitkan tidak akan ada artinya, karena manusia, jika belum pernah mengalami pengorbanan, tidak akan ingat. Percayalah, sesakit apa pun, sesedih apa pun, kenangan buruk itu suatu saat akan membuat kita menjadi orang yang lebih kuat.”

Buku ini menceritakan tentang dua orang perempuan dengan nama yang hampir mirip, yang akhirnya dipertemukan secara tidak sengaja. Kedua nya memiliki perbedaan, dan layaknya manusia, mereka merasa tidak puas dengan hidupnya masing-masing. Pertemanan mereka menjadikan mereka berani untuk mencoba hal-hal yang selama ini mereka anggap tidak bisa mereka lakukan.

Buku ini menyenangkan untuk dibaca. Salah satu bacaan yang ringan dan memberi “pesan” di dalamnya. Mengajarkan untuk percaya diri, untuk sedikit bersenang-senang asal masih dalam batas wajar itu perlu dan tidak ada salahnya.
Profile Image for Hana Bilqisthi.
Author 4 books279 followers
September 2, 2015
it my favourite novel :D
soalnya novel ini bahas komik :D
kumpulan otaku gitu
suka banget sama karakter dhinar dan dinar
novel ini mengajarkan untuk tidak takut menjadi diri sendiri dan berani mengejar mimpi

sayangnya novel ini ilang pas dipinjem temen :'(
Alhamdulillah diganti tapi bukan novel yang sama karena novel ini udah ilang dari peredaran
kalau gramed cetak ulang, mau beli lagi
harus!

update 1 September 2015:
Alhamdulillah berhasil beli lagi dan baca ulang :D
masih suka sama novel ini, tokoh flemming dan sapu mengingatkan sama tokoh lelaki yang populer di manga2 shojo tahun 1990an.
membaca ini juga jadi bersyukur punya orang tua yang tidak melarang membaca komik
kasian sama Dhinar yang komiknya dibakar sama ibunya :'(
alhamdulillah umi ngga marah sih kalau hana baca komik selama nilai masih bagus tapi kalau nilai jelek, pasti komik dianggap biang keladi
trus dilarang beli komik sampai nilai kembali baik
hahahaha

sekarang pas baca lagi, waktu rencana dinar mau cat rambut kuning padahal ngga perlu diancam digundul, disuruh pakai jilbab aja..
tapi hijab belum booming kayak sekarang sih.
Hehehe
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
May 5, 2015
Lagi butuh bacaan ringan tanpa perlu mikir yang bisa dituntaskan dengan cepat. Akhirnya pilihan jatuh pada buku yang sudah lama dipinjam dan belum dibaca ini (saya emang peminjam yang ngelunjak yak x))
Ceritanya tentang dua remaja cewek yang bernama mirip. Hanya dibedakan satu hurup H. Dinar dan Din-Har, eh maksudnya Dhinar. Walaupun punya nama hampir sama dan hobi sama (baca komik), kepribadian mereka amat bertolak belakang. Dinar lebih ceria seakan hidupnya tanpa beban, dia juga berani melakukan apa pun yang menjadi keinginannya. Sedang Dhinar cenderung tertutup, dingin dan selama hidupnya selalu "disabotase" oleh kedua orangtuanya. Dia tidak diizinkan memilih apa yang menjadi keinginannya.
Saya lumayan suka dengan bukunya, tapi ini merupakan buku mbak Windhy Puspitadewi yang paling biasa dibanding buku-bukunya yang lain (yang pernah saya baca).
Profile Image for Dhea Safira.
Author 8 books2 followers
February 26, 2016
Hmm.... coba karakter Dhinar-Fleming ditukar, mungkin aku lebih suka ^^
Kedua karakter cowok di sini bener2 bikin aku suka,
Fleming yang easy-going dan Sapu yang gituuuuu deeeh..... cuek2 tapi perhatian :)

Kayaknya enak punya hidup kayak Dinar, dimana nggak harus peduli bagaimana tanggapan orang, just be yourself.
Sementara kehidupan kayak Dhinar membuatku boring gila!
Pinter sih pinter, tapi kalau serius terus juga nggak enak kan?
Hidup itu butuh penyegaran, apalagi di cerita dikisahkan masih SMA,
boleh lah sekali2 bandel, asal jangan kenemenen *lupa bahasa indonesianya apa*

Setuju banget sama kata Gurunya yang waktu demo minta diadakan pensi *lupa detilnya* atau nggak kata Fleming ke ayahnya Dhinar pas mau ngajak Dhinar pergi *lupa detilnya juga*

But overall, I love this novel ^^
Displaying 1 - 30 of 63 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.