"34 tahun bukan waktu yang pendek. Waktu yang cukup untuk menghancurkan sebuah bangsa. Waktu yang sangat cukup untuk lupa."
Judul: Sembilan Budak Setan
Panduan Usia: 16+
Genre: Horor
Author: Cyntha Hariadi, Seno Gumira Ajidarma, Nelden Djakababa Gericke, Ken Hanggara, Clara Ng, Gunawan Tri Atmodjo, Tenni Purwanti, Leopold Adi Surya, & Gunawan Maryanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 156 halaman
Rating: 3.5/5 ⭐️
***
Sembilan budak setan menghimpun kisah-kisah horor dari sembilan penulis yang membayangkan kengerian dari sudut pandang berbeda. Ada hubungan ibu-anak yang mencekik dan dendam antarsaudara yang mesti dibayar dengan mata; ada kekerasan terhadap perempuan yang dibalas dengan cara paling brutal, ada pula pembantaian massal yang tak pernah diakui. Latar beragam membawa kita kepada alienasi di kota besar; ladang pembunuhan di Eropa, desa yang dilindas modal, hingga bangkai pesawat di planet asing. Horor dalam cerita-cerita ini kerap hadir sebagai orang-orang yang tidak dikubur dengan layak, ingatan yang tak selesai, dan utang yang tak tuntas kepada si mati.
***
Jujur, aku membeli kumpulan cerpen ini karena memiliki tema dan cover yang senada dengan kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Karya sembilan penulis dalam buku ini dikumpulkan dengan definisi masing-masing yang unik mengenai horor. Oleh karena itu, aku juga memiliki seleraku sendiri dalam menilai mana cerpen yang kusuka. Akan kubahas cerpen-cerpen dalam buku ini satu per satu.
Cerpen pertama karya Cyntha Hariadi mengenai hubungan ibu-anak yang terasa mencekik. Menurut penafsiranku, sang ibu terlalu banyak meletakkan ekspektasi di pundak sang anak sehingga mendorongnya melakukan perbuatan yang mengerikan demi terbebas dari penderitaan tersebut. Aku agak geram melihat sang ibu tega mengorbankan anaknya demi keselamatan dirinya sendiri. Tidak heran jika anak tersebut bertindak kelewatan. Bahkan terlalu kelewatan menurutku.
Cerpen kedua adalah karya Seno Gumira Ajidarma mengenai betapa mengerikannya situasi di tahun 1965. Secara tersirat, penulis menggambarkan penculikan dan pelenyapan orang secara paksa pada jaman mencekam tersebut. Tidak ada saksi mata. Tidak ada yang tahu kebenaran maupun keberadaan orang-orang yang hilang. Apa lagi yang bisa lebih horor daripada situasi ini?
Cerpen ketiga karya Nelden Djakababa Gericke adalah yang paling unik karena menggunakan latar tempat di luar Indonesia, yakni di Lutiania (Eropa). Kau akan berjumpa dengan seorang indigo sekaligus merasakan betapa ketakutannya orang-orang yang memiliki bakat lebih ini. Kalau aku pribadi jelas lebih baik tutup mata saja seumur hidup daripada melihat makhluk tak kasat mata di mana-mana. Bisa hilang kewarasanku.
Cerpen keempat adalah karya Ken Hanggara mengenai seorang lelaki yang kesepian dan ingin pergi dari dunia ini. Kita tahu betapa susahnya hidup bermasyarakat. Ada beberapa orang yang benar-benar kesulitan, namun kadang malah dirundung habis-habisan. Kita tak pernah tahu apa yang ia rasakan dan lalui untuk bertahan hidup sejauh itu. Ironisnya, orang-orang peduli ketika orang tersebut menyerah untuk hidup. Kesendirian dan kesepian juga merupakan bentuk horor yang ditakuti hampir semua orang.
Cerpen kelima karya Clara Ng mengenai dendam kesumat antara kakak dan adik kandung. Tidak ada hal baik datang dari dendam yang berlarut-larut. Akan tetapi, hati manusia yang sudah dipenuhi dendam sering kali susah untuk dijernihkan. Dendam itulah perwujudan dari horor yang dibawakan oleh penulis.
Cerpen keenam adalah karya Gunawan Tri Atmodjo mengenai seorang tokoh pria yang sibuk bersembunyi di balik topeng "pria baik-baik" versinya, yakni pria yang tidak berurusan dengan polisi. Sebuah definisi yang begitu cetek dan tanpa dasar. Di saat ia mempertanyakan moralitas temannya yang membicarakan aib orang meninggal, ia sendiri merupakan binatang tanpa moral. Begitu mengerikan. Begitu horor.
Cerpen ketujuh karya Tenni Purwanti bisa jadi menakutkan bagi para pembaca laki-laki. Bagaimana tidak, para laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita dihukum dengan mengerikan. Sebuah peringatan untuk memperlakukan perempuan dengan lebih hormat. Aku puas melihat pria-pria itu dihukum dan mendapat ganjarannya tanpa memandang kekuasaan dan status yang mereka miliki. Tidak seperti di negara kita yang beberapa individunya kebal terhadap hukum. Ups.
Cerpen kedelapan adalah karya Leopold Adi Surya. Sejujurnya, aku kurang menyukai cerita bertema sci-fi. Akan tetapi, aku tetap berusaha memahami maksud penulis. Menurut penafsiranku, pilot pesawat antariksa yang meninggal dan bergentayangan masih dibebani dengan pikiran mengenai kedua orang tuanya. Kurasa, kalian yang generasi sandwich tentu relate dengan keadaan ini. Sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikul hingga mati. Kuharap pundak kalian semua senantiasa dikuatkan.
Cerpen kesembilan karya Gunawan Maryanto mengenai orang-orang mati yang menolak dilupakan oleh yang hidup. Tentu saja hal tersebut horor bagi kedua belah pihak, baik yang mati maupun yang hidup. Akan tetapi, ketakutan mereka itu wajar karena orang yang tiada hanya bisa hidup lewat kenangan orang-orang yang hidup. Selain itu, aku juga jadi teringat dengan kondisi negeri kita yang sudah "lupa" dan dibungkam oleh penguasa dengan semena-mena. Kuharap negeriku bisa lekas pulih dan terbebas dari orang-orang jahat.
Bila harus memilih, cerpen yang berkesan bagiku adalah karya Gunawan Tri Atmodjo mengenai laki-laki yang sibuk melakukan pencitraan. Yang mengerikan adalah cerpen karya Nelden Djakababa Gericke mengenai pengalaman seorang indigo. Aku sangat membayangkan situasiku jika menjadi dirinya dan itu sangat horor untukku.
Mungkin, definisi "horor" yang dibawakan oleh para penulis belum terlalu mengena bagiku. Tetapi, aku suka bagaimana cerita dieksekusi dengan alur dan sudut pandang yang cukup menarik. Selain itu, aku juga jadi belajar bahwa tema "horor" bisa bersumber dari hal-hal yang tidak pernah kusadari. Sebuah pengalaman membaca kisah horor yang begitu unik.