Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sembilan Budak Setan

Rate this book
Sembilan Budak Setan menghimpun kisah-kisah horor dari sembilan penulis yang membayangkan kengerian dari sudut pandang berbeda. Ada hubungan ibu-anak yang mencekik dan dendam antarsaudara yang mesti dibayar dengan mata; ada kekerasan terhadap perempuan yang dibalas dengan cara paling brutal, ada pula pembantaian massal yang tak pernah diakui. Latar beragam membawa kita kepada alienasi di kota besar, ladang pembunuhan di Eropa, desa yang dilindas modal, hingga bangkai pesawat di planet asing. Horor dalam cerita-cerita ini kerap hadir sebagai orang-orang yang tidak dikubur dengan layak, ingatan yang tak selesai, dan utang yang tak tuntas kepada si mati.

164 pages, Paperback

Published October 14, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Cyntha Hariadi

14 books35 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
8 (57%)
3 stars
5 (35%)
2 stars
1 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,072 reviews2,034 followers
October 14, 2026
Begitu aku berhasil mendapatkan buku ini di toko, aku langsung meninggalkan bacaanku saat itu. Aku sudah menantinya sejak informasi terkait buku ini muncul.

Sembilan Budak Setan berisi sembilan cerita seram dari sembilan penulis. Tentu, bukan cerita asal mengerikan. Melainkan ada kedalaman yang membuatku berdecak kagum.

Misalnya saja dalam cerpen berjudul "Jamur Lituania" yang ditulis oleh Nelden Djakababa Gericke. Horor yang disampaikan ada kaitannya dengan masa lalu Lituania.

Begitu pula dengan cerpen "Mata Sungsang" yang ditulis oleh Clara Ng. Bercerita tentang dendam kakak-beradik yang mengingatkanku pada film horor Thailand.

Cerita-cerita dalam buku ini rasanya cocok dibaca bagi mereka yang ingin menjajal bacaan horor namun masih penakut. Tapi tenang saja, meskipun berupa cerita-cerita pendek, the aftertaste dari setiap cerita akan membuat kita bengong. Memikirkan "kejanggalan" yang barangkali kita lewatkan. Dan kemudian ditutup dengan ungkapan pujian.

Tidak seperti buku Karma yang Tak Pernah Lupa: Kisah-Kisah Horor dari Thailand yang sangat jauh dari ekspektasiku (karena dangkal sekali). Sembilan Budak Setan punya kedalaman cerita yang cerdik dan menarik. Bukan sekadar membawa suasana creepy semata. Tapi mempermainkan cara kita mencerna cerita.

Aku puas dengan buku ini meski agak kecewa karena lama sekali diterbitkan. Setidaknya, Sembilan Budak Setan adalah bacaan yang tengah aku butuhkan dan aku rasa tidak datang secara kebetulan.
Profile Image for Ambivert Sister.
262 reviews
October 21, 2026
"34 tahun bukan waktu yang pendek. Waktu yang cukup untuk menghancurkan sebuah bangsa. Waktu yang sangat cukup untuk lupa."

Judul: Sembilan Budak Setan
Panduan Usia: 16+
Genre: Horor
Author: Cyntha Hariadi, Seno Gumira Ajidarma, Nelden Djakababa Gericke, Ken Hanggara, Clara Ng, Gunawan Tri Atmodjo, Tenni Purwanti, Leopold Adi Surya, & Gunawan Maryanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 156 halaman
Rating: 3.5/5 ⭐️

***

Sembilan budak setan menghimpun kisah-kisah horor dari sembilan penulis yang membayangkan kengerian dari sudut pandang berbeda. Ada hubungan ibu-anak yang mencekik dan dendam antarsaudara yang mesti dibayar dengan mata; ada kekerasan terhadap perempuan yang dibalas dengan cara paling brutal, ada pula pembantaian massal yang tak pernah diakui. Latar beragam membawa kita kepada alienasi di kota besar; ladang pembunuhan di Eropa, desa yang dilindas modal, hingga bangkai pesawat di planet asing. Horor dalam cerita-cerita ini kerap hadir sebagai orang-orang yang tidak dikubur dengan layak, ingatan yang tak selesai, dan utang yang tak tuntas kepada si mati.

***

Jujur, aku membeli kumpulan cerpen ini karena memiliki tema dan cover yang senada dengan kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Karya sembilan penulis dalam buku ini dikumpulkan dengan definisi masing-masing yang unik mengenai horor. Oleh karena itu, aku juga memiliki seleraku sendiri dalam menilai mana cerpen yang kusuka. Akan kubahas cerpen-cerpen dalam buku ini satu per satu.

Cerpen pertama karya Cyntha Hariadi mengenai hubungan ibu-anak yang terasa mencekik. Menurut penafsiranku, sang ibu terlalu banyak meletakkan ekspektasi di pundak sang anak sehingga mendorongnya melakukan perbuatan yang mengerikan demi terbebas dari penderitaan tersebut. Aku agak geram melihat sang ibu tega mengorbankan anaknya demi keselamatan dirinya sendiri. Tidak heran jika anak tersebut bertindak kelewatan. Bahkan terlalu kelewatan menurutku.

Cerpen kedua adalah karya Seno Gumira Ajidarma mengenai betapa mengerikannya situasi di tahun 1965. Secara tersirat, penulis menggambarkan penculikan dan pelenyapan orang secara paksa pada jaman mencekam tersebut. Tidak ada saksi mata. Tidak ada yang tahu kebenaran maupun keberadaan orang-orang yang hilang. Apa lagi yang bisa lebih horor daripada situasi ini?

Cerpen ketiga karya Nelden Djakababa Gericke adalah yang paling unik karena menggunakan latar tempat di luar Indonesia, yakni di Lutiania (Eropa). Kau akan berjumpa dengan seorang indigo sekaligus merasakan betapa ketakutannya orang-orang yang memiliki bakat lebih ini. Kalau aku pribadi jelas lebih baik tutup mata saja seumur hidup daripada melihat makhluk tak kasat mata di mana-mana. Bisa hilang kewarasanku.

Cerpen keempat adalah karya Ken Hanggara mengenai seorang lelaki yang kesepian dan ingin pergi dari dunia ini. Kita tahu betapa susahnya hidup bermasyarakat. Ada beberapa orang yang benar-benar kesulitan, namun kadang malah dirundung habis-habisan. Kita tak pernah tahu apa yang ia rasakan dan lalui untuk bertahan hidup sejauh itu. Ironisnya, orang-orang peduli ketika orang tersebut menyerah untuk hidup. Kesendirian dan kesepian juga merupakan bentuk horor yang ditakuti hampir semua orang.

Cerpen kelima karya Clara Ng mengenai dendam kesumat antara kakak dan adik kandung. Tidak ada hal baik datang dari dendam yang berlarut-larut. Akan tetapi, hati manusia yang sudah dipenuhi dendam sering kali susah untuk dijernihkan. Dendam itulah perwujudan dari horor yang dibawakan oleh penulis.

Cerpen keenam adalah karya Gunawan Tri Atmodjo mengenai seorang tokoh pria yang sibuk bersembunyi di balik topeng "pria baik-baik" versinya, yakni pria yang tidak berurusan dengan polisi. Sebuah definisi yang begitu cetek dan tanpa dasar. Di saat ia mempertanyakan moralitas temannya yang membicarakan aib orang meninggal, ia sendiri merupakan binatang tanpa moral. Begitu mengerikan. Begitu horor.

Cerpen ketujuh karya Tenni Purwanti bisa jadi menakutkan bagi para pembaca laki-laki. Bagaimana tidak, para laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita dihukum dengan mengerikan. Sebuah peringatan untuk memperlakukan perempuan dengan lebih hormat. Aku puas melihat pria-pria itu dihukum dan mendapat ganjarannya tanpa memandang kekuasaan dan status yang mereka miliki. Tidak seperti di negara kita yang beberapa individunya kebal terhadap hukum. Ups.

Cerpen kedelapan adalah karya Leopold Adi Surya. Sejujurnya, aku kurang menyukai cerita bertema sci-fi. Akan tetapi, aku tetap berusaha memahami maksud penulis. Menurut penafsiranku, pilot pesawat antariksa yang meninggal dan bergentayangan masih dibebani dengan pikiran mengenai kedua orang tuanya. Kurasa, kalian yang generasi sandwich tentu relate dengan keadaan ini. Sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikul hingga mati. Kuharap pundak kalian semua senantiasa dikuatkan.

Cerpen kesembilan karya Gunawan Maryanto mengenai orang-orang mati yang menolak dilupakan oleh yang hidup. Tentu saja hal tersebut horor bagi kedua belah pihak, baik yang mati maupun yang hidup. Akan tetapi, ketakutan mereka itu wajar karena orang yang tiada hanya bisa hidup lewat kenangan orang-orang yang hidup. Selain itu, aku juga jadi teringat dengan kondisi negeri kita yang sudah "lupa" dan dibungkam oleh penguasa dengan semena-mena. Kuharap negeriku bisa lekas pulih dan terbebas dari orang-orang jahat.

Bila harus memilih, cerpen yang berkesan bagiku adalah karya Gunawan Tri Atmodjo mengenai laki-laki yang sibuk melakukan pencitraan. Yang mengerikan adalah cerpen karya Nelden Djakababa Gericke mengenai pengalaman seorang indigo. Aku sangat membayangkan situasiku jika menjadi dirinya dan itu sangat horor untukku.

Mungkin, definisi "horor" yang dibawakan oleh para penulis belum terlalu mengena bagiku. Tetapi, aku suka bagaimana cerita dieksekusi dengan alur dan sudut pandang yang cukup menarik. Selain itu, aku juga jadi belajar bahwa tema "horor" bisa bersumber dari hal-hal yang tidak pernah kusadari. Sebuah pengalaman membaca kisah horor yang begitu unik.
Profile Image for Hib.
60 reviews6 followers
October 25, 2026
Setelah selesai membaca Kumpulan Budak Setan, tanganku langsung tergerak untuk segera checkout buku ini tanpa banyak pertimbangan. Sama seperti di Kumpulan Budak Setan, ini adalah kumpulan cerita pendek, bedanya di buku ini ditulis oleh sembilan penulis berbeda. Rupanya 5 cerpen di antaranya adalah pemenang sayembara Kumpulan Budak Setan 2 (Nelden Djakababa Gericke, Ken Hanggara, Gunawan Tri Atmodjo, Tenni Purwanti, Leopold Adi Surya), dan 4 lainnya adalah cerpen dari penulis-penulis undangan (Cyntha Hariadi, Seno Gumira Adjidarma, Clara Ng, Gunawan Maryanto). Kesembilan penulis ini mengartikan horor dengan cara yang berbeda.

Sulit untuk memilih satu dari sembilan cerpen ini sebagai yang favorit. Tapi ada satu cerita yang sangat menarik minatku dan menambah pengetahuanku setelah membacanya. Judul cerpen itu adalah Jamur Lituania karya Nelden Djakababa Gericke. Garis besar cerpen ini meneritakan seorang wanita yang mempunya kelebihan (atau kekurangan?) bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Mungkin terdengar klise, tapi yang menarik adalah yang dia lihat tak hanya hantu, tapi penderitaan suatu bangsa atas peristiwa genosida yang terjadi. Sebutlah korban-korban pemberantasan PKI dan pembantaian Ponary (ini lah yang kumaskud dengan pengetahuan baru untukku). Pembantaian Ponary terjadi pada masa perang dunia 2 dengan jumlah korban yang amat besar dan kisah yang amat mengenaskan. Selesai membaca cerpen ini, aku jadi tergerak untuk mencari tahu lebih jauh mengenai peristiwa mengerikan ini.

Rasanya sungguh tidak adil kalau hanya aku seorang yang bisa melihat hantu-hantu itu. Ini bukan sejarah bangsaku. Penglihatanku pada waktu kecil pun sudah tidak adil bagiku. Tak ada di antara keluargaku yang terkait dengan pembunuhan PKI. Kami pun bukan PKI. Kenapa aku yang masih kecil harus tersiksa oleh apa yang mereka alami? Kenapa aku dipaksa untuk melihat sejarah yang bahkan ingatan akannya pun buka milikku?
Profile Image for Dhea.
30 reviews
October 17, 2026
Sembilan Budak Setan is a collection of horror short stories that I genuinely enjoyed. I finished it in less than two days over the weekend, which says quite a lot about how easy it was to get into. The writing is accessible, the stories are varied, and the collection explores settings beyond Indonesia.

Compared to Iblis di Pekarangan, I found this collection more enjoyable, mainly because its horror relies more on ghosts and supernatural elements than on murder and graphic violence. It is eerie without being too disturbing, making it a comfortable read for someone who enjoys horror but does not necessarily want to be horrified.

Some stories stood out to me because their endings felt just right, almost like the endings of well crafted mystery novels. They were satisfying without needing to rely on shock value alone.

Not every horror book needs to leave me trembling to be a good read. Sometimes, a collection that keeps me curious, entertained, and turning the pages is more than enough.
4 reviews
October 29, 2026
Antologi cerpen yang menarik banget, mengambil nuansa horor dengan tetap tidak meninggalkan kritik sosial di beberapa cerpen. My personal favorite adalah cerpen Pandemonium karya Leopold Adi Surya. Cerpen yang unik dengan sentuhan cosmic horror. Narasinya begitu mengalir, imajinatif, dan tetap terasa personal & humanis. Suka banget!
Profile Image for bilfy.
137 reviews12 followers
October 21, 2026
hands down untuk siti semak-semak.


(agak bingung dengan cerita pulang, tertulis kalau ditulis tahun 2021, tapi kok bandaranya adisutjipto yah… bandaranya tahun segitu udah gak beroperasi for public😭)
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
October 27, 2026
“Aku terus menerus ingin pulang, sedangkan kau sebaliknya. Terus menerus ingin pergi.”

Sembilan kumpulan cerita horor.
Favoritku, Mata Sungsang dari Clara Ng dan Siti Semak Semak dari Gunawan Tri Atmodjo yg juga berbalut komedi.
Profile Image for Rahman.
204 reviews16 followers
October 21, 2026
Cerpen Favorit:
- Siti Semak-semak by Goenawan Tri Atmodjo
- Mata Sungsang by Clara Ng
- Pulang by Gunawan Maryanto

Displaying 1 - 8 of 8 reviews