Ditengah maraknya tren penulisan fiksi yang kian berkutat pada cerita-cerita dan permasalahan remaja kota besar,Damhuri Muhammad tetap setia menjelajah inspirasi sastranya dari pergulatan hidup di udik.
Dari legenda tentang manusia anjing, jimat sakti preman pasar, cinta terlarang,jurus silat, dan korupsi yang berurat sampai ke pelosok, Damhuri menunjukkan bahwa ditengah gempuran modernitas yang memabukkan, orang-orang biasa tetap membawa dalam diri mereka jejak-jejak masa lalu yang tak terhapuskan.
Sinopsis: Ditengah maraknya tren penulisan fiksi yang kian berkutat pada cerita-cerita dan permasalahan remaja kota besar, Damhuri Muhammad tetap setia menjelajah inspirasi sastranya dari pergulatan hidup di udik.
Dari legenda tentang manusia anjing, jimat sakti preman pasar, cinta terlarang, jurus silat, dan korupsi yang berurat sampai ke pelosok, Damhuri menunjukkan bahwa ditengah gempuran modernitas yang memabukkan, orang-orang biasa tetap membawa dalam diri mereka jejak-jejak masa lalu yang tak terhapuskan.
Review: Anak-Anak Masa Lalu karya Damhuri Muhammad ini merupakan kumpulan cerita yang menurutku berbeda dari buku kumcer yang pernah aku baca sebelumnya. Cerita-cerita di dalam buku cerpen ini semuanya berisi cerita yang latar tempatnya daerah pinggiran seperti desa, bukan di kota-kota urban. Di dalam buku cerpen ini juga di beberapa ceritanya terdapat unsur-unsur magical realism ala Indonesia alias kepercayaan lokal seperti macam tahayul, sihir hitam dan kawan-kawannya.
Memang seperti buku kumcer biasanya, susah untuk menyukai semua cerpen yang ada di dalamnya. Pasti ada beberapa yang disukai, beberapa biasa aja dan mungkin beberapa tidak disukai. Aku selalu memberikan rating untuk buku kumcer berdasarkan berapa banyaknya cerpen yang aku sukai di buku tersebut. Untuk buku ini, lebih banyak cerpen yang aku sukai dan akhirnya buku kumcer ini aku nobatkan sebagai buku kumcer terbaik yang pernah aku baca sejauh ini.
Dari pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancarkan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan maktan.
Apa jadinya lemang tanpa tapai? Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai? Barangkali itu sebabnya buah tangan yang kau bawa dari pekan ke pekan tiada beralih dari lemang-tapai.
Menurut pendapatku Damhuri Muhammad adalah salah satu penulis sastra otentik Indonesia. Karya-karyanya bercerita dengan latar belakang yang hanya terjadi di Indonesia, dengan penuturan yang juga sangat Indonesia. Damhuri tidak perlu mencari identitas karena dia sudah punya.
Buku ini penuh dengan kosa kata berlimpah, kalimatnya kadang pedas tapi juga mendatangkan geli, dengan cerita-cerita yang variatif. Mulai dari legenda, cinta tak sampai, dan korupsi. Kisah orang-orang biasa yang ada disekitar atau dikampung kita.
Banun, perempuan tua tuan tanah. Yang mempertahankan tanah pertaniannya selayak mempertahankan harga diri sebagai petani. Banun tidak membutuhkan kemewahan, cukup untuk bisa hidup, sen demi sen dikumpulkan untuk membeli tanah pertanian. Hingga layak memperoleh gelar Banun Kikir.
Anak-anak masa lalu mengingatkanku pada cerita masa kecil yang selalu digunakan para orang tua menakuti anak-anaknya agar tidak bermain terlalu jauh karena takut diculik sebagai syarat tumbal pembangunan jembatan.
Atau Dua Rahasia Dua Kematian yang membuat hati terpiuh-piuh saat membacanyanya.
Rumah Amplop yang penuh sindiran tentang kisah PNS yang rumahnya makin bercahaya seiring dengan makin berhamburannya amplop ke dalamnya.Dari kisah ini kita jadi mengerti jalan-jalan rusak bukan karena ulah mobil besar yang kerap melindas tapi karena mobil kecil. Kenapa? Karena setiap sang papa terlibat pembangunan jalan maka sang mama akan merengek minta mobil mewah baru, dan sang papa atas nama cinta memerintahkan pemborong untuk menipiskan aspal yang semestinya tebal, merapuhkan yang semestinya kokoh dan semua penyunatan anggaran itu untuk membeli mobil mewah mama?Mobil yang tentu berukuran kecil.... hmm aku jadi paham.
Untung aku tidak perlu balik modal gegara jadi PNS karena memang tidak ada setoran modal uang hanya modal nekat , jadi tidak ada alasan untuk punya rumah amplop seperti sang papa ini. Tak sanggup aku menanggung hidup seperti kisah bang Dam ini.
Untuk kisah lainnya sila dibaca, semoga suka, tapi aku tidak.... aku sukaaaaa!!
Yang mengejutkan, setelah membaca epilog aku tidak menyangka Damhuri ternyata garang juga, berbeda sekali dengan penampilannya (difoto) karena belum pernah bertemu langsung yang terkesan cool dan lembut hati ... hahaha
"Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu," ikrarmu. Selalu.
Ada lebih dari satu cara memaknai masa lalu, tapi "Lelaki Ragi dan Perempuan Santan" ini berbahaya bagi mereka yang baru-baru saja nggerus--bayangkan saja si lelaki setia menolak rantang gulai kentang dengan kuah yang kental dan kentang yang kempuh sempurna sebagai tanda pinangan, semua demi menanti si wanita. Namun si wanita justru menerima pinangan pengusaha dari Jakarta.
Ada simetri di cerpen-cerpen Damhuri. Di "Reuni Dua Sejoli", kedua sejoli sama-sama menghalau teman-teman lama, karena jengah ditanya kapan beroleh keturunan. Di "Dua Rahasia, Dua Kematian", Angga dan Anggita sama-sama tidak beroleh restu orang tua--yang lalu menyesal ketika anak mereka menjadi korban gempa.
Tapi tidak semua cerpennya berlatar nestapa cinta. Tidak ada romansa di "Luka Kecil di Jari Kelingking"--yang nampaknya bersumber pada pengalaman penulis dihardik saudara dari kota karena lancang mendekat-dekat mobil sedannya, atau di kisah tukang cukur yang menjadi centeng los daging ("Badar Besi"). Ada beberapa cerita mistis, seperti "Tembiluk" tentang anjing berkepala manusia dan "Bayang-bayang Tujuh", tentang upaya menghabisi raja judi yang punya kekuatan sakti. Ada juga cerita tentang Alimba di "Anak-anak Masa Lalu" yang kesurupan arwah anak-anak yang dipotong kepalanya untuk tumbal pembangunan jembatan--ini adalah salah satu favorit saya.
Bagian paling "menyenangkan" justru ada di epilognya. Karena ternyata pengalaman pribadi penulis lebih penuh drama dari apa yang direkanya menjadi cerita. Pengalaman tinggal di kampung ternyata memang menumbuhkan "dendam" tersendiri, tentang bagaimana perlakuan bak raja bagi si kaya, para orang tua yang rela merendahkan diri serendah-rendahnya, serta perjamuan mewah yang mengorbankan segala yang dimiliki seorang bocah. Damhuri Muhammad berhasil membawa saya "pulang kampung" lewat imajinasi. Berbagai konflik khas kampung disuguhkannya dengan apik dalam cerita-cerita di buku ini. Kami sama-sama punya dendam pribadi dengan penderitaan hidup sebagai anak kampung, dan semoga kelak saya pun bisa melampiaskan dendam itu melalui karya seperti yang dilakukannya.
Akhirnya buku ini tiba juga. Kalau disuruh pilih juara dua untuk KSK, saya bakal pilih buku ini. Review lengkap menyusul.
Edit: ampun, bukunya saya lupa taruh di mana :'). Yang pasti, ini salah satu kumpulan cerpen yang ndeso. Suatu hal yang diakui oleh si penulis bahwa dia memang tidak bisa lepas dari desa.
Pernah ada sebuah masa, di sekitar tahun 2000an, sebuah penerbit ternama begitu getol menerbitkan kumcer. Adalah penerbit buku Kompas namanya. Walau bukan sebagai pionir dalam hal kumcer, namun langkahnya kala itu begitu dikenang kuat, karena pada saat itulah kita dapat menemukan dengan mudah kumcer-kumcer dari penulis–penulis cerpen yang selama ini hanya bisa kita baca di koran. Tak kurang dari Jujur Prananto, Agus Noor, Taufik Ikram Jamil, Cecep Syamsul Hari, Hamsat Rangkuti, Umar Kayam, Isbedy Setiawan, Triyanto Triwikromo, dan masih banyak lagi lainnya. Sebagai penggemar cerpen sejak lama, saya menikmati sekali masa-masa itu. Sampai sekarang kumcer-kumcer itu masih saya simpan dengan baik.
Bila mengambil benang merah, ada satu kesamaan yang saya dapati dari kumcer-kumcer yang terbit di masa itu. Dengan teknik yang tentu berbeda-beda, dan gaya yang juga tentu berbeda-beda pula, satu yang saya ingat adalah hampir semua cerpenis pada masa itu kerap mengangkat tema-tema lokal dan sosial.
Tapi ternyata masa itu ternyata tak bertahan lama. Di medio tahun 2010an, buku berlabel kumcer mengalami masa berat. Penerbit Kompas tak lagi mencoba menerbitkan (selain kumpulan cerpen terbaiknya). Saya pikir ini mungkin buah dari strategi yang terburu-buru beberapa tahun lalu. Untungnya di beberapa tahun terakhir ini, kumcer kembali bergeliat. Namun ada perbedaan yang signifikan kumcer-kumcer dulu dengan sekarang. Bila dulu kita menemukan judul-judul beraroma magis dan puitis seperti: Bibir dalam Pispot (Hamsad Ramngkuti), Malam Sepasang Lampion (Triyanto Triwikromo), Ikan Terbang Tak Berkawan (Warih Wisatsana), Dua Tangisan dalam Satu Malam (Puthut EA), dsb, sekarang kita lebih menemukan kumcer-kumcer itu kebanyakan dikemas dalam nuansa cinta. Tentu jangan salahkan penulisnya, kadang ini merupakan strategi penerbit agar dapat meraup pembaca lebih banyak lagi, setidaknya di luar dari pembaca yang menyukai lokalitas atau pun sosial.
Membaca kumcer Anak-anak Masa Lalu (AAML) tulisan Damhuri Muhammad (DM), yang diterbitkan Marjin Kiri beberapa bulan lalu, saya kembali seperti terlempar lagi ke masa lalu, masa tahun 2000an itu. Mungkin karena saya mulai membaca cerpen di masa itu, saya menikmati cerita-cerita bertema lokal dan sosial. Ada lemparan-lemparan ingatan yang membawa saya ke masa-masa itu.
Apalagi di kumcer AAML ini, masa lalu menjadi kemasan. Semula saya mengira –seperti yang biasa dilakukan cerpenis terhadap kumcernya- DM sekadar mencomot satu cerpennya yang paling indah untuk dijadikan judul. Namun ternyata itu juga merupakan perwakilan dari kisah-kisah yang terangkum di buku ini.
Dari 14 cerpen yang ada, sepertinya hanya 3-4 cerpen yang beralur lurus ke depan. Selebihnya DM menyajikan masa lalu bagai sebuah menu utama. Masa lalu diletakkan sebagai sebuah titik balik, seakan penyibak tabir dari kisah-kisah yang ditulisnya. Secara jelas dapat saya rasakan bila hampir semua kisah dalam AAML memiliki alur ke belakang, ke masa lalu. Atau bila tidak: para tokoh-tokohnyalah yang bergerak ke sana: dalam pikiran atau kenangannya.
Teknik mengeksplorasi masa lalu tentu sudah biasa dilakukan para penulis. Salah satu penulis yang kerap menghidangkan masa lalu dalam tulisannya adalah Khaled Khoseini dalam And the Mountain Echoed (Qanita). Di novel itu –yang lebih suka saya sebut kumcer berbenang merah- bahkan mengelindankan masa lalunya dengan luar biasa. Bagaimana masa lalu kemudian yang menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh lainnya. DI sini masa lalu menjadi kunci bagi kepenasaran pembacanya.
Salah satu penulis Indonesia, Leila S. Chudori, juga pernah mengumpan masa lalu dalam 9 dari Nadira –yang kemudian disempurnakan dengan Nadira (KPG). Bagaimana ia menyicil masa lalu sedikit demi sedikit bagi tokoh-tokohnya, hingga para pembaca –terutama saya- menjadi tak sabar akan cerita selanjutnya.
Masa lalu juga yang menjadi bagian terpenting dalam cerpen-cerpen di AAML. Dalam cerpen Anak-anak Masa Lalu, masa lalu dijadikan jawaban bagi arwah yang ternyata tetap memilih menetap di tubuh Alimba. Dalam cerpen Badar Besi, masa lalu dijadikan jawaban bagi kisah tentang ajimat kebal yang ternyata dengan sengaja ‘diserahkan’ pada tukang cukur anaknya. Dalam cerpen Ambai-ambai, masa lalu dijadikan jawaban dari kisah sang ibu yang selama ini dikabarkan bekas seorang ambai-ambai –atau pelacur.
Masa lalu seperti menjadi kunci dalam setiap cerita AAML. Sehingga setiap saya membaca kisah di kumcer ini satu demi satu, saya mulai menebak-nebak, selaput apa yang ada di balik para tokoh yang diciptakan DM ini? Dan hasilnya, tebakan saya itu sebagian besar luput.
Pembacaan saya ternyata tak sampai di situ. Di bagian kecil dari kisah-kisah itu, saya seperti menemukan paragraf-paragraf yang bisa membuat saya terlempar ke masa lalu. Ini aneh, dan tak biasa. Bagaimana pun saya tak mengenal penulisnya, dan setting yang digunakan pun tak cukup sama dengan tempat saya tinggal. Tapi tentu periode waktu yang diceritakan dalam AAML, merupakan periode waktu yang juga masih cukup dekat dengan saya, seperti halnya kasus saat terjadinya Kedungombo.
Lebih dari itu, beberapa fragmen dalam AAML juga membuat saya merenungi masa lalu saya. Misalnya di cerpen Banun, cerpen yang merupakan sindiran bagi para petani yang menjual sawahnya untuk anak-anaknya bersekolah dan menjadi sarjana pertanian. Di situ Banun berupaya menghidupi dirinya dengan menanan tanaman di tanahnya sendiri. Sejak dulu, ayah dan ibu saya melakukan hal yang sama. Tentu tak sebesar itu tujuan Banun, tapi sejak dulu kami jarang sekali membeli Cabai, Tomat, dan buah-buahan seperti Mangga, Jambu Air dan Jambu Biji.
Masa lalu memang punya kekuatan sendiri. Itu karena dalam masa lalu selalu terselip kenangan. Dan siapa pun –termasuk saya- akan dengan mudah tersentuh pada hal-hal semacam itu. Walau dalam teks yang samar sekali pun. Namun yang sedikit berbeda, masa lalu yang ditawarkan dalam AAML adalah masa lalu yang beraura muram dan murung. Kisah-kisah dalam Banun, Badar Besi, Orang-orang Larenjang, Tembiluk, dan beberapa lainnya, tak sekali pun membuat saya tersenyum. Tapi saya mencoba berpikir positif. Ini tentu karena media memang lebih menyukai cerita-cerita yang muram. Cerita yang muram lebih mudah diendapkan di hati. Efek kisah yang muram pun terasa lebih kuat dari sekadar cerita yang bahagia. Atau –mungkin- bahagia sudah menjadi milik anak-anak yang menonton Frozen, dan kita -orang dewasa- enggan merebut itu.
Saya kemudian mahfum saat mulai membaca epilog Fosil-fosil Bernyawa di Kepala Saya. Tulisan DM di akhir bukunya ini seperti menyibak kemuraman yang ada di kisah-kisahnya dalam AAML. Jejak biografis sang penulis di cerpen-cerpen ini terasa sangat kuat. DM nampaknya tak mencoba menghindari itu. Ia tak ingin sekadar menuliskan apa yang dilihat dan dibacanya saja, tapi juga menghubungkan dengan dirinya secara personal. Ini satu poin yang membuat kumcer ini menjadi kuat.
Pada akhirnya, masa lalu yang kemudian menguatkan kumcer ini. Masa lalu pula yang menyempurnakannya. Dan bagi saya sebagai pembaca yang lugu, saya akan terus mengenangnya sebagai sebuah buku yang berkali-kali melempar saya ke masa lalu.
Ah, kenapa baru sekarang baca karya pengarang ini, dulu waktu zamannya Lidah Sembilu sempat pengin, tapi entah kenapa kelewatan. Trus terbit kumcer ini, kelewatan juga. Untung memang rejeki (timbunan) gak kemana, akhirnya dapat juga. Lalu ditimbun. Baru sekarang sempat dibaca.
Penulisnya mendaulat diri sebagai urang udik, maka aku sebagai sesama wong ndeso (and proud of it) merasa sangat cocok didongengi dengan tema-tema yang diangkat. Satu sisi ada rasa nostalgik pada cerita ala kampung, legenda, mitos dan preman pasar, tapi di sisi lain ada rembesan modernitas yang mulai menyeruak. Aku juga suka gaya penulisannya dan diksinya yang melimpah ruah. Mewah.
Cerita-cerita tentang kampung halaman, masa kecil walau meninggalkan kegetiran tetap bisa menjadi hal yang menarik. Damhuri menulis cerita yang dia bilang udik, tapi nyatanya semua cerita dalam kumcer ini menarik banget.
Ini memang kali pertama saya membca karya Damhuri Muhammad, saya merasa sungguh terkesan dengan hampir semua cerita dalam buku ini. Ibarat kata, sungguh ditulis dari hati gitu lho. Apalagi setelah saya baca Fosil-Fosil Bernyawa di Kepala Saya di bagian akhir buku ini, membuat saya berpikir 'oh, pantas saja'.
Hampir semua cerpen dalam buku ini sudah dipublikasikan di media cetak pada periode 2009 - 2013.
Judul paling favorit : Rumah Amplop dan Kiduk Menggiring Bola.
Pengarang memiliki ruang main sendiri. Ruang pribadi itu dapat berisi nostalgia, spiritualitas, fantasi, misteri, sejarah, politik atau sebut saja. Ruang suci itulah yang senantiasa memanggil-manggil jiwa kreatif seniman untuk tak berhenti berkarya.
Di ruang bermain itu, pengarang tak terpaku zaman. Bahkan mungkin menolak modernitas dan teknologi kalau itu akan menggeser lokasi ruang sucinya. Baginya, yang terpenting adalah dapat selalu kembali ke ruang yang nyaman dan akrab itu.
Membaca empat belas cerita pendek dalam kumpulan cerpen ini memberi gambaran peta bermain pengarang asli Minang: nostalgi. Tema-tema sendu tak henti dilancarkan. Cerita kasih tak sampai, praktik mistis, mitos ala kampung, perilaku masyarakat komunal, kenakalan dan keusilan masa kecil, berkelindan di sini.
Cerpen “Luka Kecil di Jari Kelingking” menjejaki kembali sebuah pengalaman pengarang di masa kecil yang nyelekit betul sakitnya, semacam pembenar bagi sikap-sikapnya. Sementara cerpen “Kiduk Menggiring Bola”, terinspirasi dari kenangan kanak-kanak pengarang yang gemar olahraga murah ini.
Cerpen “Anak-anak Masa Lalu” yang menjadi judul buku, merumorkan jembatan angker yang sering makan korban jiwa pada waktu-waktu tertentu yang ketika tokoh menjadi dewasa, memanfaatkan kenangan tersebut untuk mendasari tindakan yang bahkan lebih jahat dari rumor yang didengarnya di masa kecil.
Kefasihan pengarang menyoal tradisi Minang dan misteri yang hidup di desa terlukis dalam cerpen misteri “Tembiluk” dan “Badar Besi”. “Reuni Dua Sejoli” adalah cerpen sendu yang menjelaskan teks dari dua narator pernah saling cinta di masa lalu, terpisah dan tidak bahagia, sama-sama terpuruk dalam ketidakpercayaan diri, sampai-sampai tak berani datang ke satu reuni. Ahai.
Cerpen “Dua Rahasia Dua Kematian” dengan seting peristiwa gempa di Padang beberapa tahun lalu, mengisahkan seorang ibu dan ayah yang sama-sama menyesal karena telah menolak meminangkan anak mereka. Di pemakaman, kedua orang tua saling menghibur, tanpa membuka rahasia masing-masing.
Cerpen “Banun”, menggambarkan prototipe perempuan (desa) yang gigih sekaligus tak peduli dengan pandangan nyinyir orang sekitar. Observasi pengarang tentang pertumbuhan desa tergambar baik dalam cerpen “Kepala Air”, bahwa uang atau industri pariwisata yang tidak disiapkan dengan baik, akan mengubah tradisi bahkan petaka bagi mental manusia-manusianya tanpa ia menjadi hakim atas benar dan salah.
Langgam Melayu-Minang bernyanyi di sini. Coba dengar ini: retak-rengkah, terbang-hambur, salah cakap, lepau kopi, kenduri, mumbang jatuh kelapa jatuh, terpiuh-piuh, ambai-ambai, kerelaan yang tiada sumbing, lelaki jatuh tapai. Atau tradisi hantaran gulai kentang, larangan kawin sesuku, manusia surau.
Cerita menyumbang rasa ndeso yang menawan dan diksi menarik ala Minangkabau. Nama-nama tokoh seperti Tungkirang, Alimba, Sipur, Inje, Inyik Centang. Atau makanan lemang, tapai, panara, lepat-pisang, limping rebus. Atau nama udik seperti Lubuktusuk, Bukit Kecubung, Ujung Tanjung, Bukit Limbuku, Lubuk.
Pengarang memperlihatkan “ruang bermainnya” yang khusyuk. Kalau sastra yang baik diharapkan dapat mengangkat kejujuran dalam suatu masyarakat, maka pengarang kita telah melakukannya. Ia secara melankolis mengakui “kebenaran” bahwa masa kecilnya yang dirobek orang-orang dewasa justru telah menempatkannya pada puncak kreatif yang menakjubkan. *
Saya tidak setuju dengan tulisan di bagian back cover yang menyatakan kalau saat ini banyak cerpen yang berkutat pada cerita permasalahan remaja kota besar. Cerpen dengan latar adat daerah seperti yang tertulis di kumcer ini tak kalah banyak. Masing-masing memiliki pangsa pembaca sendiri-sendiri. Yang jelas surat kabar mencari yang tipe seperti ini. Atau saya yang kurang banyak membaca cerpen? Bisa jadi.
Nah, sekarang saya mau membandingkannya secara apple to apple. Bila dibandingkan dengan cerpen-cerpen lain berlatar yang sama, cerpen dalam kumcer ini memiliki kekuatan tersendiri. Plotnya jelas, kata yang menyusun kalimat-kalimatnya efisien, urutan adegan enak diikuti dan memiliki ending yang tak bisa diduga.
Satu lagi, setelah selesai membacanya, tidak sulit sama sekali untuk menceritakannya dengan bahasa lisan ke orang lain. Ini nih yang suka kedodoran di cerpen-cerpen lain dengan latar dan muatan yang sama.
Benar seperti apa yang Damhuri katakan pada epiognya bahwa cerita-cerita yang ia tulis memang begitu bernuansa udik, dan jauh sekali dari kesan modernisme. Hal ini tentu berbeda sekali dengan cerita-cerita yang belakangan disuguhkan oleh para pencerita.
Namun, yang saya suka --bahkan sangat-sangat suka-- adalah kenyataan bahwa cerita yang Damhuri tulis begitu dekat dengan diri saya secara pribadi, cerita-ceritanya tidak terlalu panjang, namun dalam dan berkesan. Tentu, wong buku ini mlebu KLA.
Saya bersyukur bahwa buku yang saya selesaikan pertama di 2016 ini adalah buku yang bagus, dan semoga, tidak seperti tahun sebelumnya yang tidak mampu menembus 50 buku, tahu ini saya ikhtiarkan semoga sampai. Karena pada dasarnya, membaca buku adalah sebuah kebutuhan, tidak lagi hanya sebagai hiburan belaka.
Tadi malam menyelesaikan buku ini yang ditutup dengan epilog yang luar biasa. Kumpulan cerpen ini terdiri atas 14 cerita yang dimuat dalam berbagai surat kabar dalam rentang tahun 2008 sampai 2014. Kisah yang beragam mulai dari legenda, kisah cinta yang getir hingga kritik sosial akan korupsi. Yang menyatukan adalah kesetiaannya mengangkat kisah dari kampung halamannya lengkap dengan penamaan tokoh dan tempat di pelosok. Kumpulan cerpen ini sungguh menyegarkan, dan menyadarkan bahwa masih banyak sastra kita yang sangat baik dan layak dinikmati.
Sebuah cerita yang baik adalah ironi. Aku lupa tahu ini dari siapa. Dan begitulah ceritacerita yang ditulis Uda Damhuri. Terlebih mereka ditulis dengan sangat bersahaja.
Ada banyak kisah yang akrab juga dengan saya seperti agar jembatan kokoh, perlu tumbal kepala anakanak, orangorang kebal, dan indahnya naik bergelantungan di mobil bak terbuka.
Kurangnya, apa ya, terganggu dengan scene yang berulang, kayak lihat mobil sedan bagus dan pengen mendekatinya...
Rating sebenarnya: 4.5⭐ Aku suka semua cerpennya. Cerita-ceritanya terasa dekat karena aku sekarang lumayan familiar dengan budaya Minang. Cerpen favoritku: Tembiluk, Anak-anak Masa Lalu, Ambai-ambai & Luka Kecil di Jari Kelingking. Tapi, yang favorit dari yang paling favorit tentu adalah Epilog-nya. Direkomendasikan bagi yang suka cerpen koran, sebab hampir seluruh cerpennya telah dimuat di koran-koran terkenal.
"Kampung yang ketika saya gelap-mata melakukan sebuah kesalahan fatal, hampir menyelenggarakan majlis yasinan guna mendoakan kematian saya." - hal 119
dan cerpen Reuni Dua Sejoli menjadi bagian favorit saya, begitu pula buku ini, tak perlu ada bagian akhir yang serba misterius, segalanya mengalir, hangat, pelan, dan menghentak.
Berisi 14 cerita dengan latar kampung dan kehidupan sub-urban. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota dan gemerlap peradaban, namun tetap memberikan kesan mendalam. Damhuri begitu lincah mengartikulasikan idenya dalam cerita-cerita memikat. Salah satu cerita yang paling yang suka, Reuni Dua Sejoli yang membuka kumcer ini.