-= Lot =- Tiba di Bali, Dean bertemu dengan seorang gadis ceroboh yang merusak ponselnya. Dean mengejar Nunik untuk meminta pertanggungjawaban. Dari sanalah Dean bertemu Arin. Arin yang sudah ‘membaca’ kehadiran Nunik, tidak menyangka akan dipertemukan dengan Dean yang ternyata adalah kunci pemecah misteri foto usang yang ditemukan bersama kalung pemberian ibunya.
Nunik sudah mengira akan ada kisah cinta yang terjadi antara Dean dan Arin. Hal itu pun didukung kelebat peristiwa yang Nunik terima lewat ‘penglihatannya’. Nunik pun patah hati. Nunik berusaha ikhlas karena menurut penjelasan Arin, Arin dan Dean memang harus bersatu untuk menunaikan janji yang dibuat leluhurnya.
...
-= Purple Hole =- Adakalanya mimpi bukan sekadar mimpi atau hanya bunga tidur. Mimpi bisa saja menjadi gerbang membuat pesan pun pertanda disampaikan kepada mereka yang percaya dan dipercaya-Nya.
Dinar, Luki, Celia, Novi dan keluarganya masing-masing belajar banyak hal, bagaimana terkadang suatu peristiwa kerap dibiarkan lewat begitu saja dalam hidup tanpa pernah bisa dimengerti bahwa ada pesan untuk pelakunya agar mau belajar menerima dan mengerti bahwa di saat tak ada lagi yang bisa menguatkan seseorang selain doa, maka saat itulah bagaimana kekuatan kepakan sayap doa bisa menjelma tongkat pengharapan yang bertumbuh menjadi keajaiban.
Editor’s Note Dua naskah yang berhubungan dengan intuisi. Memberi tidak sekadar hiburan tetapi pertanda bagi pemilik intuisi itu sendiri, untuk memanfaatkan kekmampuan yang dia punya. Pembaca akan tercengan dengan kebetulan yang merupakan jalan bagi tokoh dalam cerita.
Buku ini berisi 2 judul cerita bertema 'Intuisi' dengan 2 kelompok penulis. Untuk Lot, yang ditulis oleh 3 orang, gaya bahayanya mengalir dan rapi, kadang puitis disertai beberapa bahasa Bali. Ceritanya sendiri membuat saya tahu bahwa adat Bali hingga saat ini masih sangat kental. Menarik.
Sedangkan Purple Hole, yang ditulis oleh 5 orang, gaya bahasa seperti bahasa sehari-hari. Bercerita tentang Luki, seorang laki-laki keras kepala yang tidak ingin menggunakan kemampuan intuisinya. Sayang, kecewa sekali setelah bab ketiga Purple Hole ini. Banyak pengulangan kalimat. Meski pengulangan itu dilakukan dengan menggunakan POV tokoh berbeda, tetap saja saya merasa bosan membaca 2 hingga 3 kali pengulangan kalimat/dialog itu.
Buku ini sungguh unik. Konsepnya adalah satu cerita punya banyak POV (point of view) dari beberapa penulis.
Aku kasih nilai 3,5 dari 5. Alasannya karena ceritanya kurang dikembangkan dan rasanya sebal. Cerita disitu situ saja, meskipun banyak POV nya. Kurang suka. Ini selera ya. Mungkin penilaian ini akan berbeda,jika dibaca remaja SMP atau SMA. Hehe.
Bukunya tidak terlalu tebal. Rasanya seperti tidak baca novel. Seperti baca cerpen saja. Singkat. Kurang panjang. Sebenarnya masih bisa ceritanya diperluas. Ya tapi gitu deh. Tidak ada lanjutannya. Bagaimana kehidupannya Dean? Bagaimana nasibnya Luki? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Untuk remaja zaman now, buku ini sangat ringan. Nggak perlu lah mikir berat-berat. Ukurannya juga sedang, bukunya ringan dan tidak terlalu tebal. Cerita remaja tidak melulu romantis bukan? Jadi inget dulu sering baca buku teenlit. Haha.
Buku yang bagus hanya saja ada beberapa bagian yang ceritanya di ulang walau pun hanya beberapa halaman,dan itu sudah bisa membuat saya sedikit bosan...