Jump to ratings and reviews
Rate this book

Wrecking Eleven

Rate this book
Sepak bola menjadi titik balik kemampuanku setelah entah sudah berapa ratus kali kalah dalam pertarungan tazos, bayblade, maupun tamiya. Setelah menemukan passion itu, aku harus berjuang untuk bersama Bang Jep demi mencairkan tim sepak bola Garuda Baja yang sudah setahun dibekukan. Jatuh-bangun kami menghidupkan tim ini kembali.... Duh, kok jadi kayak lagu.

Persatuan dan kesatuan kami diuji ketika kekalahan dan hal lain menghampiri tim Garuda Baja. Rupanya, strategi dan kemampuan saja tidak cukup dalam sepak bola. Kerja sama sangat dibutuhkan. Apalagi, setelah sebagian besar anggota ada yang dapat kontrak iklan sosis dan kacang atom lah, kumat main PS-lah, milih nemenin ceweknya lah, Piala Walikota ini makin berat didapat.

Kami adalah sekumpulan pejuang di lapangan.

“Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat!”

180 pages, Mass Market Paperback

First published August 1, 2015

2 people are currently reading
18 people want to read

About the author

Haris Firmansyah

12 books35 followers
Haris Firmansyah adalah penulis yang menyukai komedi dan komik. Mengidentikkan karya-karyanya dengan nilai-nilai "great effort and fantastic fun".

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (17%)
4 stars
7 (25%)
3 stars
12 (42%)
2 stars
2 (7%)
1 star
2 (7%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for Haris Firmansyah.
Author 12 books35 followers
September 7, 2015
Novel fiksi pertama yang saya tulis. Genrenya komedi bertema olahraga dengan fokus sepakbola, menuliskannya, saya sungguh merasa jantan. Kalau ini manga atau anime, bisalah digolongkan dalam shonen, sport, comedy kayak Kuroko No Basuke dan Haikyu!!.

http://www.harisfirmansyah.com/2015/0...
123 reviews
January 5, 2016
Akhirnya kelar baca, awalnya aku nggak terlalu mudeng sama apa yang dibicarain, sanpai-sampai aku berhenti dan ganti buku bacaan. Tapi setelah aku baca ceritanya lagi, aku merasa moodku keangkat dan kuteruskan baca. Puas banget sama ceritanya.

Awal cerita ini mengisahkan tentang kehidupan Seto sebagai anak kecil yang selalu ketinggalan zaman dalam pergaulannya. Ketika teman-temannya bermain digimon, Seto meminta mainan yang sama dengan emaknya, namun yang terjadi bukannya diberi digimon tapi batu untuk main dampu. Setelah digimon didapatkan, teman-temannya sudah berganti tazos.

Keterlambatan yang sama juga terjadi di tren berikutnya. Dia selalu terlambat dan merasa seperti disisihkan dari pergaulan apalgi oleh Rahmet yang selalu juara dalam permainan.

Tapi semua itu tidak berlaku ketika kartun 'Captain Tsubasa' merajalela. Seto malah merasa sepak bola menjadi titik balik kemampuannya setelah berulang-kali dipecundangi dalam pertarungan Tazos, Bayblade, maupun Tamiya.

Setelah masuk SMP, dia mulai mengikuti ekskul sepak bola yang dilatih oleh Pak RT-nya sendiri. Seto dan kawan-kawan berlatih cukup keras, ditambah rasa semangat Seto yang lebih membara setelah mengenal Gadis dan tau bahwa perempuan itu sering menontonnya berlatih. Tapi sayangnya, Rahmet kembali mencundanginya, Seto merasa seperti anak kecil yang direbut mainannya. Diapun melupakan cinta dan Gadis sepenuhnya, kejuaraan tingkat kecamatan menantinya, dia harus konsentrasi.

Akhirnya dia sukses memenangkan pertandingan selama tiga tahun berturut-turut. Seleksi yang dilakukan sebelum masuk ekskul sepak bola ternyata tidak sia-sia dan juga perkataan Pak Wah a.k.a Pak RT yang terbuktikan kebenarannya di pertandingan.

"Selain skill, yang dibutuhkan seorang pemain bola adalah attitude." (hlm. 31)

Ketika SMA, Seto tidak masuk ke sekolah yang sama dengan Rahmet dan juga Gadis--SMKN 13 Kota Baja yang terkenal akan tim sepak bolanya. Seto menghindari mereka berdua karena setiap melihat mereka berdua bersama konsentrasinya pecah. Maka diapun masuk ke SMA Garuda Baja.

Hari pertama dia kecewa sekali karena tidak ada ekskul sepakbola, adanya ekskul dance dan kebanyakan ekskul yang berbau K-Pop. Ekskul yang bukan passionnya.

Seto mencari informasi tentang ekskul sepak bola, dia bertemu dengan Bang Jep yang dulunya tergabung dalam tim. Ternyata di balik ketiadaan ekskul itu ternyata ada kisah sebab-akibatnya. Mereka berdua--Seto dan Bang Jep--kemudian berusaha keras mendapatkan kembali tempat untuk ekskul sepak bola. Mereka diberi kesempatan untuk mengumpulkan minimal sepuluh anak yang mau gabung dalam tiga hari oleh kepala sekolah.

Dikumpulkannya sembilan orang tambahan setelah nyaris saja ekskul sepakbola ini batal dicairkan. Maka terkumpulah 11 anak yang memiliki bakat masing-masing, bakat yang tidak menjurus langsung pada persepakbolaan namun tetap ada kaitannya dan fungsi di lapangan.

Dapatkah mereka memenangkan Piala Wali Kota yang terakhir kali dimenangkan oleh SMKN 13 Kota Baja sang juara bertahan. Sebuah piala yang hanya bisa dimenangkan lima tahun sekali. Mampukah mereka bertahan dan memenangkan pertandingan dengan dua kali latihan?

"Gue nggak bisa terus-terusan lari dari barisan perang, sementara kalian mati-matian mempertahankan gawang kita. Gue ingin punya kegunaan di tim ini." (hal. 98-99)

Mampukah mereka merebut piala di final setelah hampir semua anggota ada yang dapat kontrak iklan sosis dan kacang atom, kumat main PS, milih nemenin ceweknya, piala Wali Kota makin berat didapat.

-----------------------

Cerita yang sangat menarik dengan banyaknya candaan.

Novel romance komedi gokil campur sepak bola. Membaca dari awal hingga pertengahan membuatku merasa ini bukan novel yang seperti disebutkan di cover, tapi 'novel sepak bola komedi gokil campur romance', karena unsur romance-nya sangat sedikit dan didominasi oleh cerita sepak bola. Tapi setelah sampai akhir membaca, saya mengerti kenapa ini disebut novel seperti itu. Sajian endingnya yang membuat novel ini romance, sedangkan alurnya benar-benar dominan sepak bola.

Kegokilan yang mengundang tawa walaupun dengan bahasa alay-lebay. Tapi disitulah lucunya.

Karakter tokoh yang dibuat sangat menarik, mengingatkan kita pada perbedaan yang ada dapat memperkuat sebuah tim. Beberapa bagian membuat saya merasa terharu, mereka (tim Garuda Baja) sangat berusaha keras walau banyak rintangan. Ada juga satu bab penuh yang membuat saya uring-uringan, kok begini sih? Bahkan saya merasa sebal sendiri, seakan sayalah yang menjadi Seto dan menghadapi masalah itu. Kalau dipikir-pikir, konflik ceritanya sangat real, ada benar di dunia nyata.

Recommended banget buat kamu yang pengen dibuat ketawa, ningkatin mood, dibuat deg-degan, terharu dan sebal setelahnya. Pokonya keren banget ceritanya. Asik.

Semoga nggak spoiler. Terima kasih.
Profile Image for Son Agia.
35 reviews4 followers
December 24, 2016
4.5/5 stars.

Dalam hal bacaan, saya gak pernah mengonsumsi buku yang berlabelkan (full) komedi. Entahlah, mungkin karena sudah terlalu nyaman dengan picisan Romance/Sci-Fi/Mystery dan lainnya. Ya, walaupun tidak jarang terselip unsur komedik di dalam genre-genre tersebut.

Nah jadi bisa dibilang Wrecking Eleven adalah buku komedi pertama yang saya baca. Tentu saja saya antusias atuh ih, apalagi ini bertemakan sepak bola, olahraga terpopuler di jagad raya.

Begitu membaca deskripsinya, "Novel komedi gokil campur sepak bola", saya sempat mengira unsur sepak bola yang terkandung cuma sekadar pelengkap. Komedi yang akan mendominasi.

Ternyata saya salah. Unsur drama, olahraga, dan leluconnya pas dan seimbang. Saya cukup puas. Aura' kompetisinya dapet, ketegangan saat bertandingnya terasa, dan yang paling penting, sukses bikin ketawa dan 'fokus' di saat yang sama.

Kekurangannya cuma satu, yaitu terlalu banyak kata keterangan yang malah membuat imajinasi saya rusak.

Contoh paragraf yang saya ingat:
"Oiya, kalau butuh sesuatu, beli aja di istri saya, Bung." Bung Udin malah promosi dagangan istrinya.

Seharusnya pembaca gak usah dikasih tahu kalau bang Udin sedang promosi. Biarkan mereka menangkap sendiri maksud dari dialog/narasinya.

Contoh lain (saya bikin sendiri):
- "kamu siapa?" tanyaku penasaran.
- "Agia ganteng lho." ucapnya bangga.
- "Aku memang munafik," tutur politikus itu.

Di novel ini terlalu banyak keterangan semacam itu. Khususnya pada bagian dialog. Itu apa ya namanya? Kalau gak salah speaker attribution. Sisipan 'ucap', 'sahut', 'tutur', 'protes', 'sungut' dkk. yang berlebihan menyebabkan rangkaian kalimat jadi kurang dinamis dan menggigit. Tapi mungkin itu cuma perasaan saya aja sih.

Selebihnya, mantap! Bahasa Inggris ah dikit: I like it, mate!

Salut juga, katanya novel ini ditulis hanya dengan bermodalkan jempol tangan dan hape Blackberry.
Profile Image for Vivie Hardika.
Author 5 books11 followers
October 15, 2015
Novel ini bercerita tentang seorang anak yg lelah mengikuti tren. ketika semua tren yg diikutinya berlalu ketia ia baru memiliki waktu untuk mengikutinya, tren tersebut hanya melambaikan tangan ala-ala finalis uji nyali. hasilnya pilihan 'follow your heart' dilakukan. --ngomong apasih?
yaudah deh baca aja. Pokoknya seruuu...
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 14, 2015
"Ketika kita diberi kekalahan, sebenarnya Sang Pencipta sedang menyiapkan kemenangan dalam bentuk berbeda." (hlm 179)


Di luar dugaan, saya ternyata menyukai novel ini. Simpen satu ah #eh. Review lengkap di http://dionyulianto.blogspot.com/2015...
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 6, 2017
Seto, tokoh utama dalam Wrecking Eleven pernah mengalami fenomena "ikut-ikutan biar dibilang gaul" saat SD. Saat teman-temannya main tamagotchi Digimon, Seto pengin dibeliin juga. Namun, ketika akhirnya Emak membelikan tamagotchi, Digimon telah beralih ke Pokemon, tamagotchi udah nggak gaul lagi. Ternyata nggak sekali itu Seto telat gaul. Berikutnya, permainan tazos, beyblade, mengalami hal serupa. Dalam pertarungan beyblade, gasing Seto dihajar telak oleh gasing Rahmet. Lalu masuklah ke zaman tamiya meraja. Beruntung, kali itu Seto berhasil punya tamiya sendiri sebelum tren balapan tamiya meredup. Apalah dikata, Seto asal ikut lomba aja, nggak paham kalau sebelum diikutkan lomba, tamiya sebaiknya dimodifikasi agar bisa lebih cepat, lebih keren, dan tentunya nggak pakai baterai bekas jam dinding! Bisa ditebak, tamiya Seto menjelma siput! Lagi-lagi, ia diolok-olok Rahmet.

Eits, tunggu dulu. Setelah melewati segala kesialan masa kecil, akhirnya Seto menemukan keahlian dan passionnya: sepak bola. Peristiwa pecahnya kaca rumah Pak RT akibat tendangan Rahmet, mempertemukan Seto dan Mulyadi pada sosok pecinta sepak bola dalam diri Pak RT. Ternyata, beliau adalah pengasuh ekskul sepak bola SMP Kubang Bekicot, yang katanya sangat keren. Langganan menang kejuaraan. Tapi, SMP itu bukan SMP favorit. Singkat cerita, akhirnya Seto dan Mulyadi, (serta Rahmet juga ternyata) bersekolah di situ. Inilah awal mula karier Seto, yang mengidolakan Tsubasa, dalam tim sepak bola SMP Kubang Bekicot yang berhasil memenangkan kejuaraan lagi dan lagi!

Dikarenakan cinta tak sampai pada Gadis, karena cewek itu malah kelihatan dekat sekali dengan Rahmet, (padahal sebelumnya Seto yakin kalau cewek itu tertarik padanya, karena tak pernah absen menonton latihan sepak bolanya) hati Seto pedih melihatnya. Sampai tiba saatnya masuk SMA, Seto sengaja tidak mendaftar di SMKN 13 yang terkenal memiliki ekskul sepak bola yang keren, karena Gadis dan Rahmet juga mendaftar di sana. Seto tersesat di SMA Garuda Baja, yang dulunya punya tim sepak bola yang sangat keren, tapi sekarang tak lagi, karena suatu masalah di masa lalu.

"Sekolahku adalah sekolah K-pop. Sepak bola kurang populer karena cowok-cowoknya lebih gandrung dengan eskul dance ala boyband Korea. Cewek-ceweknya apalagi." (hlm. 42)

Bagaimana Seto akan menempatkan dirinya di SMA Garuda Baja? Tidak ada eskul sepak bola, lantas ia harus masuk eskul apa?
Selanjutnya, baca di sini: http://kimfricung.blogspot.co.id/2015...
Profile Image for Wardah.
953 reviews172 followers
January 3, 2016
Seto selalu tidak bisa mengikuti tren permainan yang berada di sekelilingnya. Ketika teman-temannya menggilai Digimon lewat tamagotchi, Seto baru berhasil memiliki tamagotchi saat teman-temannya sudah berpindah permainan: duel Pokeman dengan tazos. Dan ketika Seto mulai mengumpulkan tazos, teman-temannya justru sedang keranjingan main tamiya.

Begitu seterusnya. Seto selalu terlambat mengikuti arus permainan yang sedang tenar di antara teman-temannya. Hingga akhirnya Seto berhenti ikut-ikutan dan memilih menyisihkan diri dari pergaulan. Hal ini tidak berlangsung lama, karena beberapa waktu kemudian Captain Tsubasa sedang booming dan seluruh anak ganti senang bermain bola. Saat itulah, Seto menunjukkan kebolehannya.

“Seto berbakat jadi pemain bola, nih.”
“Kamu kayak Tsubasa.” (h. 16)


Sejak saat itu, sepak bola menjadi bagian dari hidup Seto.

Hal yang menyenangkan ketika membaca Wrecking Eleven adalah novel ini berisi penuh kenangan. Kehidupan Seto benar-benar mengingatkan saya pada masa kecil saya. Seto menjalani hidup dengan kartun hari Minggu yang persis dengan saya. Digimon, Pokemon, Let’s & Go, Beyblade, hingga Captain Tsubasa.

Saya sangat menikmati novel ini. Gaya bahasanya renyah. Saya suka komedi yang disajikan penulis (meski ada beberapa yang garing sih, tapi banyak yang bikin saya ketawa).

Dengan karakter-karakter yang super ajaib, penulis menyuguhkan kita kisah jatuh-bangun kesebelasan Garuda Baja. Perjuangan mereka di awal pertandingan. Kekalahan mereka. Hingga kemenangan yang berhasil mereka raih. Membaca Wrecking Eleven benar-benar sangat menyenangkan.

Meski demikian, novel ini tetap memberikan banyak pesan. Pesan-pesan yang luar biasa.

Ketika kita diberi kekalahan, sebenarnya Sang Pencipta sedang menyiapkan kemenangan dalam bentuk berbeda. (h. 179)


Review lengkap silakan klik di sini. Selamat membaca! :D
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
September 15, 2015
Entah pengaruh mood yang kurang baik saat membaca atau memang selera humorku sedang bermasalah, yang bikin aku jadi tersendat-sendat baca buku ini. Padahal ini novel komedi ringan. Di tiap halaman, beberapa kali aku bersugesti, "Haris lucu! Haris lucu! Haris lucu!" tapi tetap saja, ketawa maksimalku cuma di paragraf berikut:

"Dari kekuatannya meniup peluit, kayaknya waktu kecil pak wasit suka niupin pulpen macet."

Sebetulnya, masalah utamanya bukan soal humor sih. Aku cuma sangat terganggu dengan narasi di buku ini yang menurutku agak mentah dan kurang smooth. Awalnya, kukira Haris cuma belum terbiasa dengan pronomina 'aku' karena setahuku dia lebih sering menulis dengan pronomina 'saya' baik di buku maupun blog. Rupanya yang mengganjal adalah penggunaan klitik 'ku' yang sering kurang tepat. Seperti kalimat, "Bang Jep menepuk bahu aku." Aneh nggak bacanya? Atau beberapa dialog tag yang mengganggu seperti "tanya aku" dan "ucap aku" alih-alih "tanyaku" dan "ucapku".

(maaf, kerasukan editor)

Terlepas dari masalah teknis yang mengurangi kenyamanan membaca, di novel ini Haris tetap menyuguhkan ide cerita yang menarik. Walaupun sudah banyak cerita fiksi yang mengangkat tema sepak bola dalam bentuk film/sinetron, kayaknya masih jarang yang menulis dalam bentuk novel, ditambah lagi dalam genre komedi. Mungkin karena kesukaran untuk menggambarkan aksi visual seperti menendang, menyundul, menangkis, dan sebagainya dalam bentuk tulisan naratif. Memang susah sih, apalagi penulis ditantang untuk show don't tell dalam narasi yang ditulis.

Kesimpulannya, novel dengan perpaduan judul football game terkenal ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan lagu Miley Cyrus yang mana hobinya menjilat martil.
Profile Image for Ayatin Anisa.
47 reviews2 followers
January 29, 2017
kocak. ini adalah novel kedua dari Haris Firmansyah yang saya baca. karena saya tertarik dengan novel pertama, makanya ketika ada novel lainnya dari Haris Firmansyah saya tebak pasti lucu. dan dugaan saya tepat. tapi ternyata saya prefer ke novel pertama/; Tiga Koplak Mengejar Cinta
Profile Image for Arintya Widodo.
60 reviews31 followers
October 12, 2015
Masih inget anime ‘Captain Tsubasa’ nggak?

Itu lho, yang sempat hits waktu saya masih SD *lah?

Opening anime ini hits banget, bahkan saya sampai sekarang masih apal!

“Lari…lari…lari…tendang dan berlari! Berjuanglah, Tsubasa, pahlawan kita~~”

Seto, dari kecil selalu terombangambing mengikuti tren mainan. Mulai dari kartu Tazos, Bayblade, hingga Tamiya. Sayangnya, ia juga selalu ketinggalan untuk sekedar mengikutinya. Saat teman-temannya tengah gandrung Bayblade, ia malah baru punya kartu Tazos. Saat mereka pindah ke Tamiya, Seto malah baru punya Bayblade. Hhhh Seto…

Tapi, untuk kali ini, Seto menetapkan pilihan dan tidak akan terombang-ambing lagi. Ia akhirnya menjatuhkan pilihannya di sepak bola. Sejak masuk SMP, ia sudah bergabung di tim sekolah. Menginjak SMA, ia bersama Bang Jep, berusaha mengaktifkan kembali ekskul sepak bola yang sempat dibekukan oleh pihak sekolah hingga berambisi untuk merebut kembali Piala Wali Kota.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa novel ini adalah novel dengan berbagai ramuan. Ramuan dari romance, komedi, gokil dan dicampur lagi dengan sepak bola. Mmm tapi memang saya akui, ramuan komedi dan gokil lebih kuat daripada yang lain. Jadi, nggak ada yang namanya bahasa kaku, formal dan membosankan. Bhay!

Further review klik disini : https://arintyawidodo.wordpress.com/2...

Xoxo,
ARINTYA
Profile Image for Edotz Herjunot.
Author 5 books14 followers
January 2, 2017
salut sama Haris yang bisa terus produktif nulis!

Pertama, dari segi kaver, menurut gue buku ini terlihat biasa aja. Warnanya keliatan pudar gitu, kurang mencolok. Malah bagusan gambar yang waktu itu pernah diupload temennya Haris (kalo gak salah)

Kedua, salut juga sama Haris yang bisa ngambil tema sepakbola buat dijadiin novel. Tapi kayaknya kalo dicampur komedi, jadi kurang dramatis ya bacanya. Mungkin karena gue baca buku ini di era buku komedi yang udah mulai terpinggirkan kali ya.

Ketiga, konflik puncak mendekati endingnya kayaknya agak dipaksakan ya (mau jelasin detail barangkali spoiler).

Novel ini cukup bikin gue pengin baca halaman selanjutnya dan selanjutnya. Lumayan jadi bacaan menghibur di awal tahun. Salut juga nulis novel pake Blackberry. . :D

Terakhir, di novel gue Lelaki Gagal Gaul juga ada bab yang berbau bola-bolanya, kondisinya kayak awal-awal Garuda Baja terbentuk gitu deh .. haha
Profile Image for Leni .
16 reviews
August 30, 2015
Saya suka buku ini. Meskipun bicara tentang olah raga, khususnya sepak bola, yang tidak begitu saja sukai, saya bisa dengan cepat mengalir di dalamnya. Kalimat-kalimat pendeknya menghipnotis dan menggelitik. Menghibur. Berikut review lengkap tentang buku ini https://lenimarlins.wordpress.com/201...
Profile Image for Arista Devi.
13 reviews3 followers
January 16, 2016
Seperti kata penulisnya, novel ini ditanami nilai "great effort and fantastic fun" dan saya bisa merasakannya. Betapa Seto yang ngenes bisa menjadi teman sekaligus penyemangat bagi pembacanya agar terus berupaya menggapai mimpi-mimpi. Buku ini recommended banget buat yang ingin bisa tetap tertawa dan ceria dalam perjalanan sesulit apapun.
Profile Image for Hadi Kurniawan.
Author 4 books3 followers
February 16, 2016
Baca buku ini kayak nonton turnamen olahraga. Lucunya dapat. Menghibur. Ditunggu novel berikutnya ya
Profile Image for niduviras.
26 reviews3 followers
May 10, 2020
Humornya oldist. Tapi jokesnya dekat. Tapi lucu. Tokoh Seto adalah aku. Tapi bukan aku yg kesengsem bola. Aku di universe yg lain.
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.