Saya coba menyorot sebijj puisi dalam buku karya Emha Ainun Nadjib ini, yakni puisi pertama. Sajak tersebut adalah sajak yang diberikan nomor atau judul “0” (nol). Angka nol menyiratkan arti (sense) tentang tingkat persiapan sebelum memasuki tingkat, fase, atau tahapan pertama dalam urutan (kelas). Angka nol sering diidentikkan dengan kekosongan atau ketiadaan (isi). Artinya, angka nol memungkinkan diri untuk diisi dengan angka-angka atau nilai-nilai yang dapat memungkinkan ia berlanjut menjadi angka satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dalam khazanah Islam, angka ini dapat dimaknakan baik sebagai persiapan permulaan penciptaan dari alam semesta secara umum (makrokosmos) maupun manusia secara khusus (mikrokosmos). Berkaitan dengan penciptaan manusia di alam malakut, manusia sebenarnya tidaklah lahir ke dunia dalam keadaan benar-benar steril, melainkan telah memegang perjanjian dengan Tuhan (Allah) sejak awal mula penciptaan rohnya. Setelah dilahirkan dalam rupa bayi di alam dunia, manusia dapat dikatakan “bernilai” nol kembali, sebab pengetahuan dan ilmu dalam memahami realitas dunia dan seisinya haruslah diturunkan melalui pendidikan, baik pendidikan dalam lingkup keluarga, formal, non formal, lingkungan, dan sebagainya.
Angka nol, apabila ditarik ke dalam pemahaman tasawuf, maka yang tercermin adalah persiapan seorang penempuh jalan tauhid (salik) sebelum melakukan mujahadat (mujahadah) dan riyadlah dan melangkah ke fase-fase berikutnya: takhalli, tahalli, dan tajalli. Pada fase nol, lazimnya identik dengan penyucian rohani melalui tobat nasuhah. Setelah melakukan tobat nasuhah, masuklah ia ke dalam pengosongan sifat-sifat tercela dalam diri yang selanjutnya jiwa diisi dengan sifat-sifat terpuji.