Jump to ratings and reviews
Rate this book

Somewhere Only We Know

Rate this book
Ini kisah tentang dua hati yang sama-sama merindukan kehangatan cinta. Tentang dua orang yang selalu berusaha mengartikan cinta, tetapi akhirnya mereka sadar bahwa cinta tak perlu diartikan.
Ririn dan Kenzo belajar dari rasa sakit, meskipun telah banyak kehilangan, mereka tetap memiliki harapan tentang cinta. Bahwa kita hanya perlu jatuh cinta untuk merasakan maknanya. Somewhere Only We Know juga mengisahkan tentang memaafkan masa lalu yang akan membawa kebahagiaan baru. Cinta itu selalu ada.

340 pages, Paperback

First published September 22, 2015

41 people are currently reading
374 people want to read

About the author

Alexander Thian

8 books113 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
65 (19%)
4 stars
84 (25%)
3 stars
106 (31%)
2 stars
57 (17%)
1 star
21 (6%)
Displaying 1 - 30 of 72 reviews
Profile Image for Marina Lee.
65 reviews26 followers
August 29, 2015
Dua bintang aje.

Jujur, melihat betapa hype-nya dan betapa seringnya penulis me-RT pujian untuk ni buku, berhasil bikin gue penasaran. Tapi... yah, gitulah.

Bilang gue seksis, tapi gue nggak suka gaylit. Dan gue nggak suka sama Arik yang oh-so-perfect (yeah, sue me). Terus deskripsi si Arik ini lebay tingkat tinggi banget. Dan menurut gue penulis kayak males gitu karena selalu bilang mirip artis A, B, blablabla.

Jalan ceritanya sih, so-so lah buat gue. Ok aja tapi gak sepesial. Gak jeger gitu, hohoho.
Kayaknya ekspektasi gue ketinggian.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
August 27, 2015
Addicted to pain is not an escape from reality


Ririn dan Kenzo adalah sodara yang jarang akur. Udah gitu keduanya sama sama bermasalah dengan yang namanya cinta. Ririn pernah dikhianati pacar-pacarnya, sedangkan Kenzo dipermainkan oleh gebetannya. Di buku ini kita akan melihat bagaimana kisah cinta Ririn dengan Arik, gebetan barunya yang amat ia puja. Serta kisah cinta Kenzo di masa lalu dengan seseorang bernama Hava.

Secara garis besar, saya cukup suka dengan ceritanya. Percintaan memang tidak pernah akan habis diceritakan dari segala macam sudut pandang. Tapi cukup kaget juga sih karena selama ini ngga ada review yang bilang kalau ini novel LGBT. But that's ok. Saya udah sering baca novel bertema itu sih, jadi ya lanjut biasa aja bacanya. Sebenarnya ekspektasi saya terhadap buku ini ketinggian banget. Setelah membaca karya nonfiksinya (TNSALOA) yang saya suka dengan gaya dia bercerita dan berbagi pelajaran tanpa terkesan menggurui, saya makin semangat buat ikut pre order novel ini dengan harapan saya juga bakal suka. Tapi ternyata saya capek baca buku ini. Capek mbayangin betapa sempurnanya Arik (yang deskripsinya terus diulang berkali kali sama Si Ririn), padahal saya ngga gitu gitu amat kalau liat cowok. (Btw kalau saya sih ogah banget dibanding bandingin, sekalipun ama artis). Capek membaca hubungan Ririn ama beha dan bulu keteknya.

Yah, buat saya ceritanya terlalu manis, terlalu bertele tele, terlalu melebar ke sana sini. Adegan adegannya juga ada yang agak membingungkan, seperti di halaman 76. Saya juga kadang bingung sama jalan cerita si Kenzo karena peralihan adegannya ngga luwes. Mungkin karena tiap bab diselang seling antara Ririn dan Kenzo, jadi saya berasa kepotong gitu ya mbayangin kisah cintanya Kenzo. Atau Mungkin juga memang buku ini Not my Cup of tea. Udah bukan jamannya lagi saya labil dan ngegalau macam Ririn dan Kenzo. Tapi memang banyak quote quote keren sih di buku ini. Ngga nyesel juga belinya, lumayan dapat postcard juga. (Meski ternyata gambarnya ngga terang). But heeeyy, mari kita bersyukur. Oke?

Moga moga aja karya berikutnya jauhhhhh lebih baik lagi, atau setidaknya mirip sama karya nonfiksinya deh. Di sana dia lebih luwes bercerita, dan ngga bertele tele juga. Aku suka gaya ceritanya dia di sana.

The more you try to fight the pain, the more it haunts you and hurts you




Profile Image for liez.
180 reviews20 followers
June 22, 2020
Masih memikirkan rating untuk buku ini. Banyak hal yang ingin ditanyakan sekalian curcol, tapi nanti aja lah udah keburu ngantuk :D.

---UPDATE---
P.S ini adalah curhat colongan saya setelah membaca buku ini. Postingan ini mungkin saja akan terasa sangat panjang.

Sebenarnya saya agak bingung harus bagaimana mereview buku ini #dikeplak. Saya tertarik dengan buku ini karena iming-iming postcard yang didapatkan ketika PO (karena ada foto milky way yang dijadikan bonus dan syukurnya saya mendapatkan foto tersebut). Yah, saya adalah followernya ko Alex dan saya sangat menyukai foto-foto yang ada di Instagram ko Alex. Dulu saya pernah berjanji pada diri saya sendiri, saya akan berhati-hati dengan buku selebtwit karena saya pernah trauma dengan buku selebtwit yang saya baca. Tapi untuk ko Alex adalah pengecualian. Twiter ko Alex tidak berisikan quote galau melulu, isi twitnya sangat interaktif dan terkadang saya juga suka membaca review singkat film ala ko Alex dan tips fotografi yang diberikan. Bagi saya untuk selebtwit yang followernya banyak (dan loyal) ko Alex tidak pelit berbagi ilmu.


Somewhere only we know adalah buku fiksi pertama ko Alex. Sebelumnya ko Alex telah menerbitkan buku non fiksi yang ditulis berdasarkan pengalamannya. Dari berbagai review yang saya baca, buku tersebut termasuk buku yang banyak disukai dan jujur ketika akan membaca buku SWOK ini saya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi. Dan setelah membaca, bukan salah buku ini yang tidak melampaui ekspektasi saya, mungkin buku ini tidak termasuk dalam cangkir teh saya.

Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan saya ketika membaca buku ini, beberapa diantaranya adalah :

1. Kepengin atau kepingin?. Awalnya saya merasa kalau kata kepengin yang digunakan adalah typo. Tapi beberapa kali kata ini terus muncul (dan agak ganggu) yang membuat saya memikirkan apakah kepengin itu memang merupakan kata baku sampai saya penasaran dan mengeceknya di KBBI online

kepingin/ke·pi·ngin/ adv cak :ingin


Tapi mungkin kepengin juga bisa digunakan dan belum terindeks di KKBI karena kata tersebut juga merupakan ragam tak baku dan saya yang kurang biasa dengan kata tersebut.

2. Saya sebenarnya agak kurang nyaman jika bahasa yang digunakan dalam sebuah buku adalah elo-gue (ini masalah selera sih). Untuk sebuah percakapan mungkin sapaan ini masih biasa, tapi jika seluruh narasi menggunakan elo-gue, saya serasa membaca diary atau sebuah postingan blog.

3. Peralihan narasi yang tidak terlalu mulus, membuat saya agak bingung ketika membaca chapter selanjutnya. Saya selalu bertanya chapter milik siapakah ini? karena tidak ada pembeda atau tanda pada kisah Ririn dan Kenzo. Saya tidak akan tau jika si gue ini tidak menyatakan girl atau men dalam narasinya.

4. Saya juga kurang nyaman dengan kata be*a yang bertaburan, pakaian dalam dan celana dalam yang harus ditulis jika si tokoh mengganti baju, mengepak barang, terkena hujan dan lainnya dan g-str*ng sebagai perumpamaan. Saya juga agak gimana membaca kata bin*l, saya lebih nyaman kalau kata tersebut diganti dengan centil atau ganjen (ini mungkin juga masalah selera).

5. Menurut saya dialog bagian Ririn dalam buku ini agak berisik dan Kenzo yang terlalu galau. Sampai ending buku ini saya tidak tau kenapa Kenzo putus dengan Bayu. Adegan Kenzo dan Bayu pertama kali bertemu di kandang macan juga membuat saya bertanya. Apakah (maaf) seseorang yang LBGT langsung mengetahui orang yang ditemui adalah LBGT juga? karena tidak ada penjelasan lebih lanjut awal hubungan Kenzo dan Bayu yang membuat saya berasumsi sendiri. Juga tidak dijelaskan bagimana istimewanya Bayu sehingga Kenzo susah move on.

6. Ririn dan orang yang baru ditemuinya dan belum terlalu dikenal mau saja ketika diajak kemping berdua apalagi imbalan untuk lelaki tersebut adalah (baca sendiri ya). Adegan kempingnya juga agak terlalu ftv sih menurut saya #bilang aja sirik, lis :D

7. Ini murni pendapatku sendiri sih. saya tidak terlalu sreg jika penulis mendeskripsikan tokohnya mirip dengan inilah atau itulah. Penulis mendeskripsikan Arik dengan Eyes of Ryan Gosling. Voice of Benedict Cumbarbatch. Body of Siwon. Brain of Neil Gaiman. Arik ini tanpa cela banget menurut saya. Dilain waktu si Arik juga dideskripsikan dengan orang yang cara menulisnya seperti Ernest Hemingway yang membuat saya double wow (gilaaaa.. dewa banget ini blogger). Saya juga agak gimana saat Kenzo membayangkan Hava yang nggak jauh dari kata "ganteng" dan ketika akhirnya kenzo melihat Hava dan seperti menatap Patrick Dempsey yang berkulit lebih coklat membuat saya triple wow. Saya tidak bisa membayangkan Ryan Gosling karena saya lebih menyukai Jhonny Depp, saya tidak bisa :(

8. Arik yang mencium Hava dikantor (tepat dibibir) dan kejutan lamaran di kantor membuat saya berfikir, apakah hal semacam ini memang biasa terjadi. Karena kalau dikantor saya melakukan hal tersebut bisa jadi saya akan mendapatkan SP dan untuk lamaran, ah entahlah mungkin karena disekitar saya tidak ada hal yang melakukan seperti itu.

9. #Nanyaserius. jaman sekarang masih adakah yang memainkan mIRC?. Saya sempat membatin, "keren-keran pake macbook mainannya mIRC." Tapi ini mungkin karena ketidakupdaten saya. Saya juga bingung ketika Arik mengingat nama lengkap Ririn, padahal Ririn berkomentar menggunakan nama alias yang bukan nama aslinya, apakah Uname dapat menginformasikan identitas asli pemilik Uname? #pembacanyinyir

10. Saya agak bingung dengang pekerjaan Kenzo. Di Viet Nam Kenzo bekerja di kedutaan dan ketika kembali ke Surabaya Kenzo menjadi manager Bank (apakah ini memang bisa ya?). Trus ketika Ario menanyakan Hava pada Kenzo hanya dari updetannya Hava (yang saya asumsikan adalah facebook), apakah Kenzo tidak tau salah satu mutual facebook friends mereka adalah Ario? kalau mutual friendsnya sahabat sendiri, jejaknya Hava akan lebih mudah dicari dong. Saya juga agak bingung dengan keikutsertaan Kenzo dalam paduan suara, sungguh saya banyak bingungnya membaca buku ini (mungkin saya dalam kondisi tidak prima).

11. Saya perhatikan penulis memulai judul disetiap chapter dengan The One and... mengingatkan saya dengan yang-namanya-tidak-boleh-disebut #ditimpuk (mungkin ini ciri khas penulis, lis) #abaikan

12. Dan buku ini nggak jauh-jauh dari stalker, membuat saya agak sedikit bergidik ngeri. (paling seram saat Hava yang menjadi Stalkernya Kenzo). Di buku ini pun saya mendapatkan bukti bahwa dunia memang sempit. Bayangkan Hava adalah

13. #Nanyaserius lagi. Saat Hava mengajak Kenzo dansa di hari pernikahannya Ririn, hal tersebut apakah dilakukan di depan tamu undangan atau di tempat yang hanya ada mereka berdua? karena sejauh saya membaca, tidak dijelaskan apakah orang tua Kenzo tau atau tidak, apakah mereka mendukung atau tidak terhadap pilihan hidup Kenzo?

14. Saya sebenarnya kepo sih sama blognya Silver Shadow setelah Ririn dan Arik pacaran #abaikan. Btw, di halaman 296 ada kesalahan letak yang agak ganggu.

Selain hal yang agak mengganjal menurut saya pribadi. Buku ini sangat quotable bagi pecinta quote. Dan untuk covernya, menurut saya agak terasa kurang, seharusnya ada Ririn yang ikut mejeng disitu #beneran ditimpuk.

Review on blog
Profile Image for D. Wijaya.
Author 2 books35 followers
October 5, 2015
Buku ini sampai di tangan tadi siang. Selesai dibaca malam ini juga dalam sekali duduk. Dan mengingat kecepatan membacaku yang lagi parah-parahnya belakangan ini, menamatkan novel ini dalam sekali duduk adalah prestasi besar. Diulangi biar dramatis: prestasi besar!

Jadi, Somewhere Only We Know ini bercerita tentang Ririn dan Kenzo, kakak-beradik dalam perjalanan mereka menemukan cinta sejati.

Kalian mungkin kenal tahu tentang penulisnya—Alexander Thian, seorang selebtwit lewat akunnya, @aMrazing. Mungkin pasti ada yang skeptis sama tulisan fiksi dia, yang nganggap dia bisa nerbitin novel hanya karena dia seorang selebtwit. Tapi, bagi yang mengikuti dia di Twitter maupun Instagram pasti tahu kalau dia memang adalah seorang pencerita yang baik. Novel ini adalah buktinya. Lima bintang yang aku berikan kurang lebih udah mewakili kesan-kesan aku terhadap novel ini.

Somewhere Only We Know menyuguhkan dua cerita tentang perjalanan mencari cinta dari dua sudut pandang yang berbeda. Aku menyukai cerita Ririn dan perjalanannya. Tapi, jika aku diminta untuk memilih, aku lebih menyukai cerita Kenzo—untuk satu alasan yang personal, well, sangat personal. Penulis berhasil membuat aku bersimpati pada perjalanan Kenzo. Aku memaklumi setiap pilihan yang dia buat. Dan aku geregetan sendiri sama tingkah laku Hava yang nyaris menjurus ke sesosok PHP sejati. Hih!

Salut banget sama penyajian latarnya, terutama latar Viet Nam (aku baru tahu kalau yang benar itu "Viet Nam", bukan "Vietnam"). Detil banget! Dan aku juga suka interaksi antara Kenzo dan Ririn yang berhasil bikin nyengar-nyengir. The ending made me smile and feel warm inside. Perjalanan cinta Kenzo dan Ririn membuat aku percaya bahwa—mengutip kata-kata penulisnya—cinta itu ada, selalu ada, dan akan terus ada.

Ada kesalahan layout di hal 296 di bagian surel Hava untuk Kenzo.

So, yeah, like every single thing in this temporary world, the story may not be perfect. But it managed to touch my deepest heart.

I am waiting for your next book, Mr. Author. For sure.
(:
Profile Image for Ari.
1,040 reviews116 followers
September 28, 2015
**mengandung spoiler***

Saya mengenal Alexander Thian sebagai selebtwit yang udah pernah nulis buku sebelumnya. Bukan follower tapi twit2nya sering mampir di TL. Buku ini menarik perhatian saya ketika salah seorang teman bilang kalau ada unsur LGBT. Sebagai pembaca setia LGBT gak mau dong ketinggalan, beruntung saya dapat pinjeman buku ini hehehe...

SOWK bercerita tentang kakak beradik; Ririn dan Kenzo, dalam menemukan cinta.
Ririn, menjomblo setelah terakhir diselingkuhi pacarnya yang pebasket nasional terkenal, kemudian pergi untuk liburan untuk menghilangkan kegalauan sekaligus stalking bloger favoritnya. Di sini udah bisa ketebak lah nya jalan ceritanya. Dia bertemu cowok super duper sempurna perpaduan Ryan Gosling, Benedict Cumberbach, Ernest Hemingway (dan entah siapa lagi..), yang ternyata adalah juga blogger favoritnya.

Kenzo, setelah patah hati dari pacar sebelumnya, memilih bekerja di Viet Nam, kerja sekaligus menghilangkan galau karena patah hati. (Duh...nih anak berdua emang cocok jadi kakak adik, lari dari kenyataan mulu...). Di sana dia bertemu dengan sosok misterius Hava dan meskipun dia belum pernah melihat wujud Hava, Kenzo mau aja gitu diajak pacaran.

See, ceritanya simple banget kan hampir gak ada konflik, tapi buku ini tebelnya 300an halaman loh...

Sampai sekarang gak ngerti, kenapa ada cowok sesempurna Arik yang head over heel ama Ririn. Asal tau aja yah si Ririn ini, umur udah mau 30 tahun, tapi tingkahnya kayak ABG baru jatuh cinta, over reacts pada semua hal, dan gak keliatan dia punya temen cewe yang akrab...

Kisah cinta Kenzo mestinya sederhana dan cepat selesai kalau Hava bukan seorang selfish-asshole; sok misterius, gak mau ngeliatin wujudnya ke Kenzo. Fakta bahwa Hava ternyata adalah senior Kenzo di kampus, dan selalu berada di sekitar Kenzo di Viet Nam, menunjukan kalau Kenzo adalah pribadi yang too self-absorbs. Sampai sekarang gak jelas kenapa Hava sok misterius, kenapa Kenzo putus dari Bayu, pacar pertamanya.

Kemudian di ending ternyata Hava ini rekan kantor Arik... huwah plot twist! -.-

Pun issue sexualitas Kenzo dibuat sekilas dan mudah. Dan saya merasa tercurangi dengan hal ini. Yah saya tidak mengharapkan sexualitas Kenzo dibahas panjang-kali-lebar-kali-dalam karena ujungnya bakal tipikal buku LGBT lokal lainnya, tapi setidaknya kasih tau reaksi orang tua Kenzo akan hal ini dong. Pertanyaan apakah orang tua tahu, simply dijawab dengan "mbuh..."

Kemudian, saya tidak suka dengan narasinya yang menggunakan "elo" "gue". Kalau untuk percakapan saya masih bisa menerima hal itu, tapi kalau elo gue juga dipakai untuk narasi non-dialog, just no...! Entah yah...saya merasa bahwa penggunaan elo gue pada sebuah publishing work itu seperti me-reduce Indonesia menjadi seputaran Jakarta saja. Saya juga gak ngerti kenapa menggunakan "aku" "kamu" dianggap sebagai romantically level-up.

Buku ini juga dipenuhi dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris. Kalau satu atau dua kalimat sih gak apa-apa, tapi kalau satu paragraf. Man, make up your mind, mau nulis dalam bahasa Inggris apa bahasa Indonesia. Anehnya, tidak ada satupun translasi untuk bahasa Inggris sementara untuk Soroboyoan nya dikasih translasi.

Buku ini juga quot-able banget, masalahnya saya sudah muak dengan semua quote-quote.
Mengutip quote selebtwit lainnya:
Cinta dan karir adalah milik mereka yang mengejarnya, bukan yang koleksi quote

Loh kenapa saya juga ber-quote
Lah kan eye for eye, quote for quote...

sekian



Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
Read
August 22, 2015
Belum berani naro rating dan review gw di sini. Hahahaha....

Sudahlah...mungkin memang mood gw yang gak cocok waktu baca buku ini kemarin. I'll read it again when i'm in a better mood soon.
Yang pasti, novel ini emang quote-able. Dan biasanya gw pencinta novel-novel quote-able.
Profile Image for Elsa Puspita.
Author 10 books44 followers
February 18, 2016
Akhirnya kelar juga...
Aku suka cara Alexander Thian bercerita di blog. Aku pernah ngabisin malam, sampe adzan subuh, buat baca isi blognya. Koh Alex (boleh manggil gini, kan?) punya kemampuan 'memanjakan' pembaca lewat permainan diksinya yg enak banget buat dinikmati.

So, tentu saja ekspektasiku buat novel fiksi perdananya ini lumayan tinggi, sejujurnya.

Tapi, 6 bab awal aku bacanya rada lelet. Entah kenapa, gak begitu menggoda buat cepet diselesain awalnya.

Aku suka bagian Ririn dan Arik, tapi sebel banget karena 'dipaksa' ngebayangin fisik Arik kayak aktor2 itu, padahal aku punya bayangan sendiri. Itu sempet bikin 'ngambek' dan berhenti baca karena ngerasa imajinasiku dijajah.

Penggunaan PoV1 gantian menurutku keputusan berani, apalagi pake kata ganti yg sama buat kedua tokoh dan tanpa keterangan apa pun sebelumnya. Ada penulis yg walaupun pake PoV1 gantian, kata gantinya beda atau ditambah keterangan. Ika Natassa pakai "gue" dan "aku" di Antologi Rasa dan Critical Eleven. Ninit Yunita milih pakai "gue" dan "gua" di Test Pack. Malah, Sophie Kinsella nulis nama tokoh tiap awal bab buat ngasih peringatan si "aku" sudah ganti tokoh di Wedding Night.

Meskipun tiap pergantian rada bikin aku terkecoh, secara keseluruhan menurutku Koh Alex berhasil ngasih pembeda jelas di pola pikir "gue" ala Kenzo dan "gue" ala Ririn. Ririn dengan benaknya yang rame, kadang keramean. Dan Kenzo dengan kegalauannya yg kadang bikin pengin teriak, "KAMU TUH COWOK! GALAUNYA ELEGAN DONG! JANGAN MENYE!" *dikeplak para cowok*
Jangan tanyakan gimana itu galau elegan, pokoknya gitu deh.

Suka sama interaksi para tokoh. Tapi yg beneran aku nikmatin sebenernya bagian Ririn. Aku yakin alasannya sama kayak semua cewek yg baca ini. We are #TeamArik \o/
Walaupun sebenernya sosok Arik ini rada too good to be true, untunglah dia gak dibikin tajir mlintir luar biasa, jadi yasudahlah. Anggap aja yg satu itu kekurangannya. Kalau Arik dibikin udah ganteng mampus, pengertian, perhatian, penyabar luar biasa, jago nulis, ditambah tajir mlintir pula, aku yakin dia bukan manusia. Dan itu bakal jadi kekurangan besar buat dia. Too perfect is boring, right?

Sedangkan pas mulai bagian Kenzo, sejujurnya aku sempet ngerasa bosen dan tergoda buat langsung lompat ke bagian Ririn lagi. Ehehehehe *ampuni aku*
Tapi aku mengakui, as a brother, Kenzo is awesome!

Walaupun dasarnya ini satu buku, izinkan aku ngasih nilai buat masing-masing cerita.
Ririn: 3 + 1 (buat Arik)
Kenzo: 3

Somewhere Only We Know: 3.5 of 5 stars

Ditunggu karya fiksi berikutnya, Koh ^^
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews299 followers
September 23, 2015
Ririn dan Kenzo adalah kakak beradik yang memiliki sifat sangat berbeda satu sama lain, Ririn perempuan yang meledak-ledak, ekspresif, ekstrovert. Sedangkan Kenzo lebih kalem dan introvert, namun apabila dalam hal menggoda Ririn, Kenzo selalu menang, dia juga orang yang selalu ada bila Ririn mengalami masalah cinta, penyembuh kesedihannya. Sebaliknya, Ririn sangat mengerti tentang siapa diri Kenzo yang sebenarnya. Kesamaan yang mereka miliki adalah mereka berdua sama-sama loser dalam masalah cinta, Ririn berulangkali diselingkuhi pacarnya sedangkan Kenzo memiliki kisah cinta yang rumit. Mereka saling mengisi, membagi kesedihan, membagi tawa.

Atas saran temannya, Ririn mendapatkan terapi patah hati dari membaca blog Silver Shadow, seorang tukang dongeng yang ceritanya selalu menakjubkan, tulisannya sangat berjasa dalam hal membuat Ririn move on. Identitas Silver Shadow sendiri sangat misterius, tidak ada yang tahu siapa dirinya, tidak ada yang tahu seperti apa dirinya karena tidak pernah menampilkan foto asli. Lalu suatu ketika Silver Shadow mengumumkan dia akan hiatus ngeblog untuk sementara waktu karena akan berlibur ke Nusa Lembongan, Bali. Saat itulah satu-satunya kesempatan yang dimiliki Ririn untuk bisa bertemu dengan blogger kesayangannya, walaupun Ririn tidak tahu nama dan rupa, dia nekat ingin bertemu dengan Silver Shadow, orang yang mengajarinya bahwa hidup itu seharusnya dirayakan, bukan diratapi.

Tak ubahnya dengan sang kakak, Kenzo memiliki cara tersendiri untuk membunuh luka, dia meninggalkan Indonesia dan memilih bekerja di Viet Nam, berteman dengan kesendirian, menghabiskan waktu di pinggiran Danau Hoan Kiem, menikmati kopi hitam di kafe yang bernama Paris Deli. Di kafe itulah dia mengenal sosok misterius bernama Hava. Mereka belum pernah bertemu, selama ini hanya saling bertukar pesan lewat mIRC, email, dsb tanpa menampakkan wujud asli. Tapi anehnya Hava mengenali Kenzo, dia sangat mengerti Kenzo, memahami aura kesedihan yang selalu nampak pada dirinya. Kenzo selalu dibuat penasaran, hubungan mereka semakin dekat dan dia merasa nyaman, sedikit demi sedikit kekosongan yang ada di dalam dirinya terisi dengan kehadiran Hava. Hava berjanji akan menampakkan diri, membuka semua rahasia tentang dirinya kalau Kenzo mau menjadi pacarnya.

Kedua kakak beradik di dua tempat yang berbeda sama-sama mencoba membunuh luka, menemukan cinta.

The more you try to fight the pain, the more it haunts you and hurt you. I wish I knew it sooner, so I wouldn't have to fight it harder and harder. It hurts me even more.


Sebenarnya agak berat memulai membaca buku ini karena mendapati kejadian yang tidak mengenakkan di goodreads, khususnya bagi kami para pembaca. Tapi saya mencoba optimis, saya suka dengan buku non fiksi pertama penulis sekaligus yang menjadi debutnya, The Not So Amazing Life of @aMrazing, bisa dibilang ceritanya menyegarkan, penuh dengan pesan moral, gaya berceritanya juga asik, tanpa terkesan menggurui. Alasan itulah yang membuat saya penasaran dengan buku fiksi pertamanya, Somewhere Only We Know.

Saya mulai dari kekurangannya dulu, bisa dibilang alurnya cepat namun sedikit bertele-tele, beberapa kali saya kecolongan akan perpindahan alur flashback yang dipilih penulis sehingga saya perlu mengulangi membaca, bagian awal sangat terasa, ketika penulis mulai memecah cerita menjadi dua plot utama. Kemudian saya agak terganggu dengan penggunaan kata 'gue', nggak masalah besar sebenarnya mungkin karena nggak terbiasa saja dan kedua sudut pandang orang pertama utama buku ini, Ririn dan Kenzo sama-sama menggunakan 'gue'. Jadi hampir di setiap kalimat selalu ada kata 'gue' yang jujur sempat membuat saya pusing, untungnya makin ke belakang saya semakin terbiasa. Untuk latarnya sendiri, yang paling kerasa keindahannya dan ingin membuat saya pergi ke sana adalah ketika Ririn dan Arik berwisata ke Nusa Lembongan, entah kenapa deskripsi tentang Viet Nam dan Paris kurang menggugah. Dan salah satu kesalahan terbesar penulis adalah tentang pengkarakteran tokohnya.

Ada istilah Book Boyfriends bagi kami para pembaca maupun book blogger, mereka adalah tokoh fiktif yang kami idolakan, yang ingin sekali dipacari di dunia nyata, meskipun mereka fiksi, semu, nggak mungkin terjadi. Tapi di situlah kehebatan seorang penulis bisa dinilai, dari cara membangun karakter lewat deskripsi yang detail, menciptakan seorang tokoh yang bisa dikenang pembacanya, yang nantinya bisa menjadi ciri khas penulis, yang nggak bisa kita temukan di buku lain. Misalkan saja tokoh Harris di Antologi Rasa karya Ika Natassa. Harris ya Harris, dia punya sesuatu yang nggak bisa kita temukan di tokoh lain, dia tidak meniru siapa-siapa, Harris menjadi dirinya sendiri.

Jadi, sangat tabu bila ada tokoh A yang dideskripsikan mirip dengan aktor B, itu bisa merusak imajinasi para pembaca. Seperti ketika penulis mendeskripsikan Arik, He. Is. Just. Perfect. Eyes of Ryan Gosling. Voice of Benedict Cumberbatch. Body of Siwon. Brain of Neil Gaiman. Oh Good. God. Okey, sempurna memang, banyak perempuan yang mungkin akan berpikiran sama dengan Ririn yang kalau melihat cowok langsung mengarah ke aktor favoritnya. Tapi, saya nggak suka sama Ryan Gosling maupun Benedict Cumberbatch, saya sukanya sama Scott Eastwood atau Chris Pratt atau Chris Evans, saya memang berbeda dengan cewek kebanyakan.

Untung saja 'kesempurnaan' Arik dibarengi dengan kehebatannya mendongeng, saya suka dengan jalan pikirannya, dengan keliaran imajinasinya yang mampu mendongeng secara spontan, yang bisa mengisahkan cerita menjadi apa saja sesuai versinya sendiri. Hal ini menjadi kelebihan penulis. Penulis sebenarnya bisa membuat tokoh yang nantinya membekas di hati pembaca, seperti Arik ini misalnya kalau saja dia dibuat menjadi dirinya sendiri tanpa embel-embel kesempurnaan yang dimiliki oleh para aktor ternama. Penulis juga sukses membangun karakter tokoh Ririn dan Kenzo, tanpa ada nama siapa yang berbicara di awal bab, saya bisa langsung tahu karena sangat jelas perbedaan, Ririn yang ceria dan Kenzo yang memiliki aura sendu, penulis sukses membagi dirinya menjadi Ririn dan Kenzo.

Kalau ditanya cerita siapa yang saya suka saya memilih cerita Ririn. Bagian dia banyak yang humoris dan romantis, yang sanggup membuat saya tertawa, selain itu banyak yang bisa di dapatkan misalkan saja mencoba sesuatu yang baru, mencoba mengatasi ketakutan yang dimiliki, saya suka interaksi antara Ririn dan Arik. Sedangkan bagian Kenzo, terlalu sendu, kesedihannya bisa dipahami dan kerasa, tidak mudah memang menjadi kaum minoritas, dan sangat suka hubungan antara Ririn dan Kenzo. Saya dibuat geregetan, mungkin sama halnya dengan Kenzo yang nggak sabar melihat sosok Hava yang sebenarnya, twist-nya dapet lah. Saya suka cara penulis mengakhiri kisah antara Ririn dan Kenzo. Bagian favorit saya adalah ketika Ririn memancing Arik untuk marah, yang kemudian disusul adegan heroik Arik, ketara sekali rasa sayang Arik kepada Ririn, hehehe.

Walau masih ada kekurangan, buku ini tetap bisa dinikmati kok. Recommended bagi yang susah move on dan ingin mendapatkan cinta yang baru, coba deh baca, siapa tau bisa membuat kalian nggak bermuram durja terus, masih banyak kok cinta di luar sana yang menunggu, cinta yang tepat :D


NB: Bisa dibaca juga di http://www.kubikelromance.com/2015/09...
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
January 22, 2016
“Mungkin. Mungkin cinta itu seperti mi goreng. Nggak bagus buat kesehatan, tapi kamu terus makan karena enak. You just can’t help it.” –Somewhere Only We Know, hlm. 109



Ririn dan Kenzo mungkin terlihat sebagai saudara yang kelewat akur. Kadang saling toyor, tapi kadang hanya Kenzo seoranglah yang dapat mengerti Ririn, begitu juga dengan Ririn terhadap Kenzo. Keduanya menghadapi segala jenis cinta dari tahun ke tahun; Ririn yang selalu diberganti pacar; Kenzo pun berusaha untuk memungkiri dirinya.

Ririn bisa saja dikatakan putus harapan. Sampai ia menemukan sosok Silver Shadow yang menawan lewat sebuah blog. Dalam benaknya, Silver Shadow adalah pria nerd yang pintar mendongeng, namun lantaran dongeng-dongeng itulah akhirnya Ririn terinpsirasi untuk mengejar sosoknya di Pulau Dewata.

Ririn sengaja tidak membicarakan ide gilanya kepada Kenzo, demikian dengan sang adik yang kembali melarikan diri ke Viet Nam. Duduk menikmati pemandangan di pinggir Danau Hoan Kiem. Pikirannya sudah terlanjur kalut selama bertahun-tahun. Mencoba melupakan hubungannya dengan Bayu, Kenzo tak sengaja disapa oleh Hava, seseorang yang iseng ditemuinya lewat jendela chatting mIRC. Hava dengan ID yang mengundang rasa tanya, rupanya tertarik dengan Kenzo dan mengajaknya berkenalan via email.

Surel demi surel mungkin terjawab. Tapi, rasa penasaran itu tak kunjung terjawab, kendati keduanya hendak bertemu, selalu saja ada yang mengingkar. Sementara Ririn terkejut mendapati sosok Silver Shadow yang ditemuinya di Nusa Lembongan, Kenzo masih saja berangan mengenai perawakan seorang Hava yang sulit ia lupakan.



“Somewhere Only We Know” sempat mengundang hype yang cukup besar tahun lalu. Rilisnya ditunggu oleh banyak orang. Komentarnya pun cukup mengompori proses promosinya yang besar-besaran. Ada sedikit pro, pun sedikit kontra. Dan itulah yang akhirnya mengundang saya untuk mengintip ke dalamnya.

Menurut judulnya, “Somewhere Only We Know” dapat diparafrasakan dengan judul lagu terkenal milik band Keane, tapi toh dalamnya tak ada sangkutpautnya dengan cerita lagu satu itu. Dan kalau dibilang buku yang buruk (menurut sebagian orang), saya kira, tidak juga. Saya menyukai gaya bercerita Alexander Thian, walau mungkin bagi sebagian orang, kalimat ceplas-ceplosnya cukup mengganggu, tapi secara esensi tema ceritanya, ini cerita cinta biasa yang mencoba untuk mengingatkan banyak orang mengenai falsafah cinta yang seringnya dilupakan.

Mudah dicerna, dinikmati, dan bahkan bagi yang gemar cerita cinta tulen yang bittersweet, nyaris tujuh puluh lima persen cerita di dalamnya mengandung adegan-adegan fluff tersebut. Bukan adegan menye-menye, pastinya. Tapi, cukup untuk dikomentari dengan celetukan ‘so sweet’. Singkat kata, lewat “Somewhere Only We Know”, Alexander Thian mengundang pembaca untuk menyimak dua cerita cinta. Yang berbalut dengan kesan keluarga, keseruan adik-kakak yang tidak ada habis-habisnya berkilah dan menutupi diri. Dan mengenai “cinta” yang dimaksud di antara keduanya, cinta adalah sesuatu yang punya rasa manis dan pahit tersendiri. Seperti halnya ketika cinta itu pergi lantas kembali dan membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya.


Baca selengkapnya di: https://janebookienary.wordpress.com/...
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
August 28, 2015
"When something is too good to be true, be grateful and accept the happiness you deserve."

Mungkin penulis sengaja menaruh quote ini di halaman menuju bab terakhir sebagai bentuk preventif biar pembaca nggak 'enek' dengan ending yang lumayan too good to be true. Tapi, siapa yang nggak suka dengan ending manis?

Novel ini berkisah tentang nasib percintaan kakak-beradik yang malang, Ririn dan Kenzo. Ririn yang pernah terkhianati oleh mantan pacarnya dan Kenzo yang jadi korban PHP gebetannya. Dua tokoh sentral dengan pergantian dua sudut pandang orang pertama dari masing-masing tokoh Ririn dan Kenzo, memecah novel ini ke dalam dua plot--tetapi saling bersinggungan. Mungkin tantangan untuk bikin cerita yang saling singgung inilah yang jadi penyebab muncul banyaknya kebetulan-kebetulan yang... nggg, begitulah... Begini... Misal, waktu Ririn kebetulan bertemu Silver Shadow, lalu Kenzo yang bertemu Ario dan kebetulan lain yang membawanya bertemu Hava.

Plot dobel juga yang membuat novel ini padat (kalau nggak mau dibilang bertele-tele), dan menjadi PR penulis untuk membelah diri. Untuk penulis cowok yang menulis dengan PoV cewek--tokoh Ririn--bisa dibilang cukup berhasil. Tokoh Ririn terasa cewek sekali, apalagi saat digambarkan betapa dramanya dia saat PMS, gaya yang sok kecentilan, berisik, sampai hal detail kayak pernak-pernik kutang penyok di kamarnya. Yang paling kentara jadi trademark tokoh Ririn adalah dia sering menyebut angka "sejuta dua belas" atau "seribu dua belas" dalam sekian monolog. Kalau tokoh Kenzo, apa ya, mungkin mudah dibedakan karena dia lebih sering mellow dibanding kakaknya.

Tapi, yang disebut di atas nggak akan mengurangi kesan setelah membaca SOWK. Sejak membaca TNSALOA dua tahun lalu, aku sudah suka dengan cara Alexander Thian bercerita. Mengalir. Caranya membangun semua karakter menjadi 'hidup', layak diacungi jempol. Deskripsi tempat yang detail tapi nggak kayak reportase seorang travel blogger. Ditambah hadirnya tokoh Arik yang jago mendongeng di novel ini, tentulah gagasan yang keren.

Nggak mengecewakan untuk novel debut yang dielu-elukan (yang mana jarang terjadi).
Profile Image for Monica Riska Riana Dewi.
26 reviews1 follower
September 19, 2015
Rating: 2,5.
Saat baca buku ini, gue bawaannya pengin buru2 sampai di halaman terakhir. Bukan karena seru tenggelam dalam ceritanya, tapi gue agak2 bingung sama ceritanya yang agak kurang berhasil membuat imajinasi di kepala gue. Terutama di latar tempat dan waktu. Agak2 rancu gitu dan baru sadar setelah ceritanya udah setengah jalan.

Ditambah lagi gue kzl sama Ririn yg kayaknya kok annoying banget jadi perempuan?! Kayaknya aga2 mustahil kalo ada lakik sesempurna Arik, bisa tahan sama dia. Proses Arik bisa suka sama Ririn belum bisa gue terima (maksudnya, semudah itukah?)

Ada hal2 yg udah familiar karena gue followernya Alex xD seperti ketika dia bahas tentang petrichor, aurora, dsb dsb (lupa).

Dibandingkan karya2 Alex yang lain, kayaknya gue lebih suka dengan cerita2 pengalaman dia sendiri aja seperti di buku TNSALOA, cerita di The Journey 3, atau juga di cerita unik di blognya tentang Malinkundang.

Baiklah, gue tunggu TNSALOA #2-nya aja yah!
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
September 10, 2015
mungkin (lagi-lagi) karena dari awal tahun udah terbiasa baca kumcer dan walaupun tahun ini juga udah baca beberapa novel tapi karena banyakan baca kumcernya jadi saat berhadapan dengan novel jadi kaget dan capek.

saya sampai berkali-kali mengulang pada beberapa bab dan istirahat sejenak untuk mendapatkan mood membaca tp memang menurut saya (lagi-lagi) kok kayaknya konfliknya terlalu cepat dan sedikit banget T_T. kurang begitu bisa menikmati kecuali bagian kisah Kenzo karena saya juga mengalami-jatuh cinta dan pacaran dengan orang yg belum ditemui- selebihnya ya biasa aja.

dari beberapa novel yg tahun ini saya baca kayaknya saya merasa semua konfliknya terlalu cepat, baru Marry now sorry later aja yg cukup "masuk akal" selebihnya emang mungkin saya lebih masuk baca kumcer kali ya. tp perasaan dulu2 selalu nyambung deh baca novel T_T
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
October 7, 2015
Baru pertama kali membaca karya Alexander Thian walau memang awalnya aku agak bosen saat membacanya, tapi lama-lama aku bisa menikmatinya juga.

Review selengkapnya menyusulnya ya^6
Profile Image for Rif.
279 reviews35 followers
October 21, 2016
Buku ini penuh dengan frasa-frasa narasi dalam hati berbahasa Inggris yang quotable, dua jempol untuk itu.

Sayangnya, aku bukan pembaca yang terbiasa dengan buku-buku romansa yang seperti ini. Kisah tentang orang Indonesia bernama asing (Kenzo, ---ya meskipun memang ada penjelasan tentang asal-usul namanya) yang terlalu banyak bicara dengan bahasa Inggris. Bukan berarti jelek, tapi aku tidak terbiasa. Gatal rasanya..

Ditambah lagi dengan penggunaan diksi yang tidak konsisten, tercampur antara kosakata 'gaul' dan 'baku'. Contohnya penggunaan 'gue' dan 'lo' tapi dilanjutkan dengan kalimat serba kaku, atau:
"Waktu saya pamit, saya kan bilang, teman saya sudah menunggu di bandara. Dia yang ngurusin tiket pulang saya. Waktu bertemu dia di bandara[...]-p.329
Tapi di luar itu, ini kisah yang bagus. Bonus pula: dua kisah dalam satu buku. Kisah si kakak perempuan yang cadel tapi sayangnya di dialog nggak tampak, padahal sepertinya akan lebih lucu kalau setiap huruf 'R' di dialognya diganti dengan huruf 'L' blangsak, dan cintanya yang too good to be true; serta kisah si adik laki-laki he is gay anyway yang nakal tapi melankolis, dan pujaan hatinya yang also, too good to be true.



Jadi kalau kau suka dengan tipikal kisah seperti ini, silakan baca.. ini buku yang manis :)

P.S. Aku suka pesan yang disampaikan oleh penulis tentang hal-hal yang too good to be true, meskipun sepertinya pesan ini dituliskan agar tidak ada pembaca yang protes saat mengetahui akhir cerita.
"When something is too good to be true, be grateful and accept the happiness you deserve."


Oh iya, di halaman 296 itu narasi-nya Kenzo kok diletakkan dalam bagian surat Hava ya? Sepertinya ada kesalahan tata letak :)
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
September 7, 2015
Somewhere Only We Know, dari judulnya ngingetin gue ke salah satu lagunya Keane. oh yes, setiap kali gue dengerin lagu itu gue kaya pengen mengepakan kedua tangan gue dan ngerasaain angin *lebay*. lagu ini pernah di recover sama banyak penyanyi tapi yang sukses menurut gue Lily Alen. dia bikin jadi agak melow, walau sebenernya dari lyricsnya aja udah Jleb.

Gue pernah ngetweet ke si kak Amarzing ini pas jajak pendapat soal pemilihan cover dan yes gue milih cover ini. kira-kira tweet gue begini : 'ketika hatimu patah, maka berjalanlah', soalnya waktu itu ada cover lain yang terbang dan satunya lagi gue lupa. tapi ini juga jadi salah satu kelemahan novel ini, soalnya dari isi kan menceritakan dua orang yah tapi disini lebih fokus sama Kenzo kayanya.

Selain cover gue juga SUKA BANGET cara pendiskripsian atau bercerita penulis soal kehidupan, terlebih cinta. harus gue akuin pas bagian Kenzo lebih nampol dari pada Ririn.

Buat Novel Fiksi pertama menurut gue ketebelan si, jujur gue menikmati jalan cerita cuman diseperempat diawal selebihnya campur aduk antara bosen sama penasaran. bosen sama tingkahnya Ririn dan penasaran sama endingnya si Kenzo, penasaran campur kesel for sure. kalo boleh saran ni ya, biarlah si sosok lain yang dicari sama Kenzo ini muncul di pertengahan cerita dan setelahnya ada cerita lain diantara mereka.

Konflik : disini konfliknya kurang gereget, soalnya cuman berkutat disitu-situ aja. Kenzo dengan pencariannya dan Ririn yang jatuh cinta sama Arik.

Karakter : gue gak begitu ngitung umur tiap tokohnya, cuman dari Dua yang Utama gue merasa mereka kurang dewasa. bisa diliat dari percakapan diantara mereka sebagai contoh.
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
August 25, 2015
Membaca debut pertama Amrazing dalam novel fiksinya, ngebawa gue berpetualang dalam kisah Ririn- Kenzo.
Sejak Amrazing kasih update an di twitter nya kalau doi nulis fiksi, gue penasaran banget. Sekaligus under estimate dengan tulisan fiksi pertamanya.
Dan setelah gue namatin kisah ini, gue jatuh cinta sama Arik. Gue dibawa Arik dalam dunia dongeng nya dan bagaimana dia membawa hubungan dewasa dengan Ririn.
Suka banget interaksi Ririn- Arik. Kayaknya kalau dalam dunia nyata, Arik sudah susah untuk ditemukan.
Gue juga menaruh respek sama Kenzo dalam cerita ini. Cuma jati dirinya yang bikin gue rada kurang sreg aja. Entahlah.
Move on terlalu lama, patah hati berkepanjangan.
Gue suka banget setiap setting tempat yang dikasih. Gue jadi bisa membayangkan setting tempatnya seperti apa.
Gue suka sekali sama endingnya.
Ada beberapa typo yang gue temui, sayang tidak sempat gue catat, tidak berpengaruh untuk gue menikmati kisah ini.
untuk debut fiksi pertama Alex, 3,5* sebagai gambaran mungkin novel ini bisa jadi rekomendasi bacaan kalian..
Profile Image for far.
34 reviews13 followers
March 24, 2017
Saya baca ini karena penasaran. Begitu saya baca, ah, ini bukan selera saya. Saya jadi teringat teman yang meminjamkan novel ini bilang, dia tidak melanjutkan membaca karena ada unsur LGBT. Setelah saya baca, saya paham kenapa dia nggak lanjut baca. :)

Bukan cuma itu, ada banyak kejadian yang nggak dijelasin lebih lanjut dan buat saya bingung. Karakter-karakter yang sempurna banget kayak Arik apakah ada? Ririn yang jadi cewek kenapa menyebalkan sekali. Saya kok kesel sendiri baca bagian Ririn, ya? Kenzo yang melankolis tapi juga gay. Entah kenapa semua tokohnya nggak ada yang buat saya menjiwai baca ini.

Mungkin asyiknya banyak kalimat-kalimat yang 'quoteable' kali, ya.

Oh ya, saya cepat-cepat membaca novel ini karena bukan penasaran dan meresapi ceritanya, tapi karena ingin cepet selesai. Capek bacanya. Ini juga saya selesaikan karena minjem, kan sayang aja kalau nggak selesai baca. Coba kalau punya sendiri, mungkin udah ditinggalin dari kapan. /eh
Profile Image for Hazell.
47 reviews
January 7, 2018
Gue baca buku ini lama banget. Gara2 awalnya bosen, galau2 mulu si Kenzonya.

Terus tiap chapter bingung ini dari perspektif siapa. Sampe gue misalnya baca pake suara cewek. Terus pas udah berapa kalimat ternyata itu povnya Kenzo. Akhirnya gue terpaksa baca ulang pake suara cowok.
(Atau mungkin gue doang yang baca pake suara beda2 haha)

Bingung sama kerjaannya Kenzo. Di Vietnam dia kerja di kedutaan. Terus di bank. Eh tapi ikut paduan suara di kampus. Itu maksudnya gimana?
Terus hubungan Kenzo sama Bayu ga dijelasin lebih lanjut, jadi bingung.
Dan akhirnya bikin bingung juga, jadi orang2 biasa aja gitu liat Kenzo dansa sama cowok?
(Not that I have anything against homosexual ya, gue fine2 aja)
Atau mungkin mereka dansa di tempat yang ga ada orang? Tapi deskripsinya kayak mereka di taman bareng orang2 lain kan.
Bingung.
Tapi covernya ok, banyak quote2 yang sweet, kata-kata puitis.

Sekian review gue.
Keep up ko Alex!
This entire review has been hidden because of spoilers.
123 reviews14 followers
October 18, 2015
Sama seperti Critical Eleven, saya ikutan PO buku ini karena ada bonusnya.

Ceritanya ringan dan gampang dicerna. Deskripsi lokasinya oke banget. Dongeng-dongengnya menarik. Dan banyak kalimat yang 'quotable'.

Yang saya kurang sreg adalah karakter-karakternya, terutama deskripsi Arik yang super sempurna yang mirip gabungan Benedict Cumberbatch, Ryan Gosling, Siwon, Chris Evans, Ernest Hemingway, dan Neil Gaiman. Saya juga kurang sreg dengan penggunaan elo-gue (walaupun ceritanya emang karakter-karakternya adalah anak Jakarta yang pindah ke Surabaya).
Profile Image for Biru Cahya.
56 reviews6 followers
November 2, 2015
Agak kecewa, sih, karena jujur aja saya punya ekspektasi tinggi terhadap buku ini. Saya suka banget dengan buku solo pertamanya, The Not So Amazing Life of @aMrazing, dengan cara bercerita Alex yang penuh petuah hidup tanpa terkesan menggurui. Entah, ya, tapi jalan cerita Somewhere Only Know terasa terlalu nggelambyar, terlalu ke sana-sini, padahal konfliknya sederhana banget. Tapi, sebagai orang Surabaya, saya cukup terhibur pas baca beberapa percakapan Suroboyoan dalam buku ini. Rasanya kayak lagi dengerin temen sendiri ngobrol dan jadi pengen ikutan nimbrung huahahahahah.
Profile Image for Irina Natasha.
75 reviews
August 23, 2015
I love the story and how it describe love from 2 points of view. The most interesting is there are love from different point of view. Love between man and women, brother and sister and unpredictable love story.
I love all Arik's story. Combination of all story genre doesn't make the story weird, in contrast it makes readers addicted to the story and want to read more. Kenzo's love story indirectly describe what man feel and think when they're fall in love.
Profile Image for Halida Hanun.
325 reviews13 followers
September 18, 2015
this book is not my cup of tea.
okay.
okay.

awalnya udah dibuat nggak nyaman sama banyak kata dalam bahasa inggris yang nggak dicetak miring. rasanya tangan gatel pengin benerin.

tapi meskipun nggak bisa menikmati buku ini, rasanya nggak bikin kapok untuk baca buku kon lexy selanjutnya. apalagi baca TNSLOA 2. can hardly wait!
2 reviews
May 7, 2020
Not going to bother with this book. The reviews sum it up. This idiot narcissist is an awful writer. It's amazing what money can buy. Wonder if he also got on his knees to get this rubbish published 🖕🖕
Profile Image for Loopie.
38 reviews1 follower
September 23, 2015
Sedikit mengecewakan. Jauuuuh dari harapan. Hahaha.

Bab-bab awal sempet berenti, bosan. Dan akhirnya berusaha ngelarin nih buku. Good enough-lah mulai pertengahan.

Profile Image for Khikmatul Maula.
64 reviews22 followers
October 17, 2016
Untuk ukuran penulis yang baru pertama bikin novel fiksi, novel ini not bad lah. Buktinya saya bisa nyelesein kurang dari 24 jam. Dialognya mengalir, gaya bahasa elo gue yang dipermasalahkan banyak orang ternyata ga bermasalah buat saya. Awalnya sy agak pesimis baca novel ini karena review negatif yg sy baca sebelumnya, tp ternyata sy bisa selese baca.

Pertama, karakter ririn yang super bawel, berisik dan sanguin dipadukan dengan karakter adeknya yang bawaannya melankolis dan galau mlulu tp kalo lagi sama ririn bisa berubah drastis jadi witty. Keduanya sy suka dan bisa bersimpati. Kalau disuruh milih lebih suka siapa mungkin sy lebih suka cerita ririn karena ceritanya lebih rame dan ceria, penulis bisa banget gambarin ririn yang super cerewet dan nyenengin walo dengan tampang dan body biasa2 aja (menurutnya). Minusnya, mungkin novel ini ga jauh beda dengan novel2 teenlit yang lain, yaitu sukaa banget bikin love interest dari tokoh utama sebagai karakter yang kata kenzo 'too good to be true', karena jujur menurut saya, karakter erik jadi membosankan karena terlalu sempurna. Bayangin aja apa yang kamu mau dari cowok menjelma menjadi satu, kan aneh. Mungkin itu menurut saya aja sih.
Kedua, ini bukan pertama kali sy membaca novel bertema lgbt, jadi bukan surprise juga sih, penulis pinter banget gambarin karakter kenzo yang mellow dan galaaawww mulu.
Ketiga, yang saya kurang sreg dari novel ini adalah gambaran tentang jatuh cinta yang kayak gampaaaang banget, mulus banget ga pake orang ketiga, seolah2 semesta berkonspirasi mewujudkan keinginan pembaca. Terus, kalo menurut sy sih jadi gay itu agak susah nemu pacar apalagi di indonesia, apa bisa cowok segitu 'terbuka'nya nunjukin kalo dia tertarik dan otomatis dia juga tau kalo mereka sama2 gay dari pertemuan pertama. Hmm, ga tau juga sih, sy bukan gay. Kalo di indonesia, cowok itu paling anti nunjukin rasa sayang mereka ke sesama cowok walo mreka sahabatan, jadi apa iya gay itu bisa love at the first sight dan nunjukin ketertarikan mreka sama orang yang dia ga tau ni cowok straight/gak, dan sekali lagi, mungkin kalo settingnya di luar negeri yang notabene lebih terbuka soal lgbt dibandingkan dengan disini hal itu masih ok dan bisa terjadi. Itu aja sih, selebihnya sy puas dengan cerita ini walo banyak nama2 aktor disebutin untuk gambarin betapa kerennya love interest tokoh utama walo kalo keseringan bikin sebel. Disini juga banyaak banget kata2 yang quotable tapi sayangnya sy agak anti sama kata2 gombal, sebetapa romantisnya adegan dan kata bualan disini bikin saya eyeroll,hahaha.

Oia, menurut sy juara dari novel ini adalah hubungan kakak adek ririn-kenzo dengan dialog2 yang hilarious sukses bikin sy ketawa. Sy lebih suka kenzo bareng ririn, menurut sy dibanding ririn-arik, kenzo-hava, yang paling baguus chemistrynya adalah ririn-kenzo (incest is wincest, lol)

Sebagai followers koh alex di twitter, sy tau bener dia paling pinter bikin cerita jadi next time kalo bikin novel semoga bisa lebih baik dari ini.
Profile Image for Ghaida Nurin.
1 review
March 27, 2018
Novel ini mempunyai cerita roman yang sangat tidak ‘mainstream’, menyuguhkan dua point of view yang berbeda namun memiliki cerita yang menarik.

Karakternya juga sangat menarik, sifat dari karakternya membuat ceritanya semakin berwarna, saya bahkan cukup 2 jam untuk baca buku ini, yang membuat saya enjoy membaca buku ini karena pembawaan bahasanya ringan dan selalu terselip humor, dongeng yang di ceritakan Arik adalah favorit saya, membaca dongengnya membuat imajinasi saya terbuka.

Buku ini wajib dibaca!!
1 review
September 18, 2021
Despite of the bad reviews that I read I still gave it a try because I like Alex. And I'm done reading it after the 4th chapter. I never read anything this bad, sorry Alex :(
The plot is somewhat unbelievable, the characters are too good to be true and unrelatable at all. Maybe his imagination is so high but I can't relateee at all soryyyy
Displaying 1 - 30 of 72 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.