Poli-tikus
Di dunia ini, selalu kita temukan sebuah bagian dari keberlangsungannya masyarakat yang tak benar, dan kita tak akan selesai menghitungnya. Kita adalah satu makhluk yang tak jera dengan banyaknya masalah di dunia - dan masalah-masalah ini terus berjaya dengan konteks yang terus berkembang, seiring berkembangnya pemikiran manusia, budaya, dan teknologi. Satu hal yang kita suka kritik adalah orang-orang yang ‘mengurus’ kita, atau juga ‘memerintah’. Di negara ini, mereka sangat jeli dengan uang di jari-jemari mereka, dan mereka mau lebih… lebih… dan lebih banyak lagi. Negara ini terselubungi polusi, korupsi, dan kolusi, serta ketidakadilan yang berdatangan setelah itu untuk populasinya, dan novel oleh Romo Y.B. Mangunwijaya ini, Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, berperan baik dalam mengekspresikan suatu hal yang ruwet, yang juga dialami oleh banyak negara lain dalam sejarah.
Y.B. Mangunwijaya suka bertutur tentang sejarah, yang di buku ini terlihat sifatnya dalam cerita buku yang berkutat tentang sejarah di kepulauan Maluku. Banyak alur yang mengupas ekspresi para tokoh (atau setidak-tidaknya perkiraan ekspresi mereka) yang menjalani sekaligus menjadi korban peperangan sengit antara setidaknya 3 strata pihak – bangsa farang (asing), kesultanan-kesultanan Ternate dan Tidore, dan masyarakat Halmahera (yang termasuk Tobelo dan Dodinga). Ketiga strata yang dituliskan di dalam buku Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa seakan 3 ikan yang berbeda – tetapi berada dalam rantai makanan yang sama. Dalam rantai makanan ini, bangsa farang adalah ikan hiu yang menggunakan dan menipu bangsawan kesultanan, ikan-ikan ido, dan yang bergiliran membuat perangkap untuk penjelmaan masyarakat Halmahera (ikan-ikan homa). Dalam buku ini pun, kita bisa lihat bagaimana strata-strata berkekuatan dan derajat yang beda dapat berjalan yang sama dengan apa yang terjadi di dunia riil.
Di dunia asli, kita hanya dapat melihat beraksinya dan merasakan dampaknya orang-orang yang berdiri dan bergelora di atas sana. Di mata banyak orang Indonesia, orang-orang ini adalah para advokat yang kerjanya duduk di kursi, berfikir, makan, berfikir, makan, dan, akhirnya berkata beberapa hal yang kita tak tahu kebenarannya atau tidak – dan cara berfikir ini dapat kita justifikasikan jika kita lihat kejadian-kejadian yang telah menimpa kita dan memperbelakangkan perkembangan kita beberapa dekade terakhir. ‘Politikus’ adalah sebuah kata yang tentu tak akan lengkap tanpa kata ‘tikus’ di akhir katanya (dan sejujurnya ‘poli’ adalah kata dari bahasa Yunani yang berarti ‘banyak’). Di permainan kekuatan, kita bisa lihat di dunia pemerintahan, antara semua negara, adalah politikus-politikus itu yang memimpin - mau kata itu diterjemahkan sebagai penyelamat atau diktator, kita dapat berpendapat berbeda-beda.
Tanah Airku – dan kau – adalah sebuah taman bermain untuk tikus yang banyak itu. Di sini, mereka membuat banyak kasus berkat maraknya berajang serakah untuk mereka sendiri. Kasus-kasus yang pernah terjadi dan sekarang juga berlangsung itu bisa juga dikatakan poli. Menurut Indonesia Investments, korupsi di Indonesia merupakan sebuah kejanggalan yang sudah mendarah-daging – dan mungkin sudah tidak janggal sama sekali – bagi pemerintah Indonesia. Masyarakat pun telah membuat sebuah akronim yang tepat: KKN – bukan Kuliah Kerja Nyata, tapi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Akronim ini merdu nan lantang suaranya saat disuarakan 1000 orang di depan gedung-gedung seperti Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Menurut Indonesia Investments pun, masalah ini telah memakan bangsa tersendiri (yang termasuk pemerintah kita tercinta) sejak 50 tahun yang lalu, yakni awalnya Orde Baru. Pada saat itu, Presiden Soeharto menaikkan status Rakyat Republik Indonesia saat ia menaikkan ekonomi tanah air (dengan produk nasional bruto yang menaik per tahun sekitar 6.7 persen). Kejayaan ini sayangnya memang terlalu janggal dan cukup terlihat mantranya apa – penggunaan sistem patronase sang Presiden yang mendapatkan loyalitas bawahannya, yang beragam dari elit kroni kapitalis sampai nasionalis ekonomi. Semua kolusi ini dilakukan dengan cukup kentara, janggalnya juga.
Kita bisa lihat, ada bangsa-bangsa yang tidak menenggelamkan atau memakan dirinya sendiri melalui ketangkasan-ketangkasan seperti berikut, berdasarkan Transparency International, yang, sejujurnya, minim. Bangsa-bangsa ini kebanyakan berada di peninsula Skandinavia, tempat edukasi nomor 1 di dunia (di Finlandia) dan sebuah obligasi kritis yang unik, yakni menjaga lingkungan. Negara-negara Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia semua berada di Top 5 negara-negara yang berkaliber memuncak dalam komitmennya melawan KKN. Transparency International juga bertutur bahwa negara-negara ini adalah negara yang sangat terbuka terhadap masyarakatnya, dan dengan itu, informasi adalah sesuatu yang dibagikan secara transparan dan normatif. Tradisi ini pun sudah dimulai dari sekitar 200 tahun lalu, tepatnya di tahun 1766 oleh Swedia. Dengan ini, semua kejadian dapat diliput dan media tak perlu menjadi sebuah entitas yang labil atau berkecenderungan akan pemihakkannya tehadap partai atau calon Perdana Menteri.
Yang kita lihat di dua kasus ini adalah bagaimana adanya ikan-ikan hiu (atau ido) yang menindas, membebani – mencekik – ikan-ikan homa (ya, kita sang rakyat), yang hanya bisa dimakan dan terus dimakan jati dirinya. Negara-negara di ujung atas dunia itu, pada sisi satunya, adalah ikan-ikan yang tak berlevel atau berderajat yang beda. Dengan adanya sebuah rantai makanan yang arahnya hanya satu seperti ini, Indonesia memang memerlukan sebuah kekuatan yang belum terkemuka dari jati diri bangsanya sendiri – inisiatif dan keketatan yang murni (dan kekal sebisanya).
“Ya, begitu selalu ikan-ikan ido itu. Merasa diri pencaplok jaya; tetapi pada kenyataannya ido-ido itu sendirilah yang tercaplok. Sebenarnyalah siapa yang menganiaya orang? Akhirnya si orangnya sendiri itu juga. Penganiayaaan oleh pihak luar masih mudah diatasi. Tetapi bagaimana apabila si penganiaya dan yang dianiaya ada dalam diri satu orang? Kemerdekaan, kebesaran hati, ketegakan sikap, semua itu harus dari dalam.” - Y.B. Mangunwijaya