What do you think?
Rate this book


360 pages, Paperback
First published August 15, 2015
"Selama belasan menit kemudian, Ina diserbu pertanyaan dari hati nuraninya. Mengapa dia membiarkan dirinya terikat pada sesuatu yang tidak diinginkan? Mengapa Ina membiarkan orang lain mengatur hidupnya, terutama pernikahan?"Buku yang ditulis dengan kombinasi sudut pandang pertama dan ketiga ini menceritakan tentang sebuah pernikahan yang terjadi melalui situasi yang tidak biasa. Kisahnya terpusat pada karakter utamanya, Inanna, yang mengalami banyak perubahan setelah menikah pada usia 22 tahun. Meskipun ia tidak sepenuhnya merasa adil dengan situasinya, Inanna berjuang untuk mencari tahu lebih banyak tentang suaminya, Alistair, meskipun mereka belum lama saling mengenal. Bagian pertama bukunya sebagian besar digunakan untuk membangun hubungan Ina dan Alistair yang awalnya canggung, namun perlahan-lahan mulai menghangat seiring dengan waktu. Aku selalu dibuat penasaran dengan alasan di balik kesediaan Alistair untuk menikah dengan Ina yang notabene baru dikenalnya. Dan di bagian selanjutnya, hal tersebut akhirnya terungkap; mengakibatkan konflik utama ceritanya yang menimbulkan perseteruan hebat antara Ina dan Alistair. Penyelesaian ceritanya sempat membuatku geregetan tetapi di sisi lain aku juga bisa bersimpati terhadap karakternya. Aku cukup puas dengan ending
"Seminim-minimnya pengalaman Ina soal asmara, boleh kan kalau dia punya harapan? Bahwa suaminya kelak adalah, kalau bisa, orang yang dicintainya dengan sungguh-sungguh. Bukan "hadiah" yang disodorkan ayahnya meski dalam bungkus kado paling menyita perhatian. Pasangan itu semestinya hadiah yang berasal dari Tuhan, bukan dari manusia lain."Ada cukup banyak karakter yang berperan dalam cerita ini, tetapi tentu saja fokus utama ceritanya ada pada Inanna dan Alistair. Inanna yang menikah pada usia yang tergolong muda menunjukkan sifatnya yang kekanak-kanakan pada beberapa situasi, dan melalui apa yang terjadi dalam buku ini karakternya pun turut bertumbuh jadi lebih dewasa dibanding sebelumnya. Pada saat Ina tingkah laku kekanakan Ina muncul, aku sedikit merasa kesal dengan karakternya, tetapi kemudian bisa memaklumi setelah mengingat usianya yang baru 22 tahun. Sedangkan karakter Alistair adalah sosok yang pada awalnya terkesan kaku, namun sikapnya melunak seiring dengan waktu. Sebenarnya karakter Alistair bisa dibilang hampir sempurna; caranya memperlakukan Ina dan pengertiannya yang luar biasa seharusnya bisa membuatku jatuh cinta pada karakter ini. Sayangnya aku merasa terkadang Alistair agak cheesy, terutama dengan panggilan sayangnya untuk Ina xD Tetapi yang benar-benar membuatku terpesona adalah rumah kaca Alistair yang terlihat sangat luar biasa dalam imajinasiku. Rasanya ingin sekali tinggal di rumah seperti itu :)) Karakter lain yang cukup berperan dalam buku ini adalah saudara kembar Ina, Zora, orangtua Alistair, Navid—ayah Ina dan Zora, Juno, dan Vicky—sahabat sekaligus asisten Alistair, dan Emily—perempuan dari masa lalu Alistair. Dari karakter sampingan yang ada, aku memfavoritkan Juno yang meskipun perannya tidak terlalu banyak, ia adalah karakter yang manis :))
“Jangan kira kalau semua yang diawali dengan cinta bergelora itu akan bahagia selamanya. Cinta juga bisa habis.”
“Inilah masalah penyampaian informasi yang bisa menjadi bumerang. Manusia cenderung menambahi atau mengurangi fakta agar lebih menarik.”