“Mengapa kau menari di sini?” tanya Kevin lantang. “Bukankah kau bisa menari di panggung dan dapat uang lebih banyak?”
“Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu.”
Keputusan sang ayah untuk pindah ke New York membawa angin segar dalam kehidupan Kevin Huston. Di kota yang sibuk itu, dia bisa melupakan kenangan buruk akan ibunya dan bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu riwayatnya sebagai mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine (“Senyum, senyum, senyum karena kau ada di Golden Sunshine!”). Kevin berhasil menarik perhatian Carla Friday, gadis paling populer di sekolah dan dia bisa berteman dengan siapa pun yang dia mau. Siapa pun kecuali Scarlett Mendelsohn, gadis penari yang ia temui di Battery Park. Berulang kali Kevin mencoba mendekati Scarlett, tapi gadis itu tidak menggubrisnya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tapi Kevin tidak mau menyerah. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang mengingatkannya pada kondisinya dahulu.
"Brink of Senses" menceritakan tentang Kevin Huston, seorang murid SMA mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine. Keputusan sang ayah untuk pindah dari Wales ke New York membawanya bertemu dengan Scarlett Mendelsohn, seorang gadis aneh yang menari secara cuma-cuma di Battery Park.
Perkenalan pertamanya dengan Scarlett membuat Kevin merasakan satu hal. Ada sesuatu pada gadis itu yang mengingatkannya akan dirinya sendiri di masa lalu.
Tidak terasa, akhirnya saya sampai juga di pengujung seri YARN. Total ada 15 buku. Rasanya seperti baru kemarin Remedy diterbitkan. Tahu-tahu sudah buku ke-15 aja :')
Kovernya cakep banget. Saya suka nuansa hitam-putih dengan aksen pebalet merahnya. Saya juga suka dengan lingkaran putus-putusnya yang menyerupai gambar pergerakan bintang.
Saya suka dengan karakter-karakter di BoS ini. Mulai dari Kevin yang kalau marah seram, sampai Scarlett yang aneh dan penuh misteri. Beberapa tokoh sampingan seperti Marcus dan Krupin juga memberi warna tersendiri bagi cerita.
Untuk plotnya, saya suka dengan ide dasarnya. Eksekusinya juga sudah baik. Mungkin yang kurang hanya suatu ledakan dalam cerita kali, yah. Bagian akhir tentang rahasia Scarlett tidak cukup untuk memberikan kejutan buat pembaca soalnya.
Secara keseluruhan, Brink of Senses ini punya karakter dan cerita yang enak untuk dibaca. Narasinya juga sudah mengalir dengan baik. Hanya saja, dia mungkin butuh letupan lebih dalam ceritanya. Tiga bintang buat novel ini.
Aku sudah mengikuti seri YARN ini sejak awal, sehingga saat melihat buku ini akan terbit aku tidak ragu lagi membacanya. Dan aku cukup menikmati saat membacanya.
Kisah ini bermula dari kepindahan Kevin Huston dan keluarganya ke New York. Kepindahan yang sangat disyukuri dan bisa menjadi awal yang baik bagi kehidupan baru seorang Kevin Huston. Apalagi dulu dia punya kehidupan yang sangat ingin sekali dilupakannya. Ya, Kevin Huston pernah harus menjalani rehabilitasi kejiwaan, dan menjalani serangkaian terapi demi terapi untuk mengatasi kondisinya. Kevin yang dulu pernah tinggal di Golden Sunshine, tidak ingin kembali lagi kesana.
Kevin dulunya tidak seperti itu. Tetapi kematian ibunya didepan matanya, membuat Kevin trauma dan depresi karena selalu menyalahkan dirinya karena tidak mampu menyelamatkan ibunya.
Di sekolahnya yang baru, Kevin bertemu dengan sosok Carla, tetangga apartemen sekaligus cewek populer di sekolahnya. Bersama Carla, Kevin pun menjadi salah satu cowok populer di sekolahnya. Dan teman-temannya tidak tahu masa lalunya.
Namun, semua berbeda ketika Kevin bertemu dengan sosok Scarlett, seorang gadis remaja yang sangat suka menari. Setiap pagi diwaktu yang sama, Scarlett akan menari balet dan tariannya begitu menghipnotis semua yang melihatnya. Anehnya Scarlett seakan punya dunianya sendiri. Uang yang didapatkannya pun tidak pernah diambilnya. Kevin pun terusik dan ada semacam dorongan untuk mengenal sosok Scarlett yang misterius ini.
Kevin pun berusaha mendekati Scarlett tapi tidak mudah. Scarlett selalu berusaha menjaga jarak. Scarlett selalu berkata dia sedang menunggu Henry. Siapa Henry sesungguhnya?
Membaca novel ini tidak membutuhkan waktu lama. Aku bisa merasakan perasaan Kevin maupun Scarlett tentang kehidupannya. Mereka hanya terlalu mencintai dan membangun pertahanan diri agar tidak terluka lagi. Baik Kevin maupun Scarlett seakan hidup dengan kenangan, disinilah mereka butuh seseorang...
Diceritakan dari sudut pandang Kevin, sebagai pembaca aku diajak mengikuti aktivitas Kevin dengan kehidupan barunya. Perkenalannya dengan Scarlett, Markus sepupu Scarlett yang cukup membingungkan dan teman-teman sekolah Kevin.
Membaca novel ini seperti membaca suatu karya terjemahan. Sebagai novel debut, novel ini menarik. Premis yang diangkat pun tidak biasa, sehingga membuatku semakin tertarik membacanya.
Walau sejak awal aku sudah bisa menebak isi ceritanya, tapi aku begitu larut dengan kisahnya. Penulis perlahan-lahan membangun ceritanya, membuatku terus menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi dan ternyata dugaanku benar. Penulis mampu membuatku melahap halaman demi halaman dan merangkainya menjadi sebuah kisah yang utuh. Novel psikologi remaja yang sayang sekali untuk dilewatkan =)
[IKUTI GIVEAWAY BERHADIAH ALL OUR YESTERDAYS & BRINK OF SENSES DI SINI: bit.ly/1OFi0e3]
Mertha Sanjaya Brink of Senses IceCube Publishing 5.0
Dari sekian banyaknya buku YARN yang sudah terbit, Brink of Senses ini barangkali yang paling membuat saya bertanya-tanya ini inti ceritanya apa hanya dari blurb. Biasanya, saya sudah bisa menerka-nerka kira-kira masalah utama di buku ini apa, dan, yah walaupun biasanya saya kadang meleset, paling tidak saya bisa mengira-ngira kira-kira buku tersebut membahas masalah apa. Itu sebabnya Brink of Senses unggul di departemen Hal-Hal yang Bikin Penasaran buat saya. Coba kasih tahu bagian mana yang tidak menarik? Seorang cowok remaja yang sudah merasakan pusat rehabilitasi mental? Cewek yang menari-nari di Battery Park? Pindah ke New York? Itu hal-hal yang menarik sekali buat saya.
Itu sebabnya kenapa saya memutuskan buat beli Brink of Senses dulu daripada Happiness sewaktu ada promo lewat CIMB clicks . Tapi, saya baru sempat baca sekarang karena kebetulan saya harus buru-buru ke Bandung sementara bukunya saya kirim ke Solo.
Setelah saya baca-baca, saya merasa Brink of Senses ini superfisial. Hanya menyentuh bagian permukaannya saja. Tidak hanya karakter-karakternya yang terasa aneh, dialognya, latar New York yang digunakan, penyakit kejiwaan yang diderita, menurut saya masih kurang mendalam dan masih sangat bisa digali lebih dalam lagi.
Kita bertemu dengan Kevin Huston, yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi mental, yang pindah ke New York dari Wales untuk memulai hidup baru. Untuk seorang yang baru saja keluar dari sebuah pusat rehabilitasi mental, saya merasa Kevin kurang kompleks. Karakternya cenderung polos dan lugu, meskipun beberapa kali kita sempat diajak mengintip isi pikiran Kevin. Mungkin ini karena pemilihan sudut pandang orang ketiga yang digunakan, membuat penulis sulit untuk mengeksplorasi isi kepala Kevin. Ketika saya membaca The Silver Linings Playbook (yang belum selesai dibaca juga wkwk), Quick menulis dari sudut pandang orang pertama dari Pat Solitano, Jr. membuat pembaca bisa meraba-raba bahwa memang Pat baru keluar dari pusat rehabilitasi mental, tapi karakter Pat tak hanya itu saja. Pat merasa bahwa dirinya baik-baik saja, dan itu biasanya memang salah satu gejala penyakit mental. Saya berharap Kevin juga sedikit kompleks karakter. Sama seperti karakter Scarlett Mandelsohn juga sebetulnya, tapi sebetulnya karakter Scarlett ini sudah "aneh" in a good way, jadi saya tidak akan mempermasalahkannya.
Dialognya terasa kurang "Amerika" buat saya. Mungkin karena saya sering membaca novel YA Amerika dan bisa menebak kira-kira bagaimana kalau ini diterjemahkan. Saya merasa dialog di Brink of Senses kehilangan jiwanya dan kurang hidup. Ada sesuatu yang kurang menurut saya. Latar New York-nya juga menurut saya kurang gereget. Beberapa tempat yang digunakan, seperti Battery Park, Patung Liberty, terasa seperti deskripsi TripAdvisor, kurang menyentuh elemen-elemen trivial yang bisa ditemukan di tempat tersebut. Mungkin bisa diperbaiki dengan menyelipkan deskripsi suasana atau menambah sesuatu yang membuat latarnya terasa hidup. Selain itu, saya sebetulnya berharap ada bagian-bagian New York yang kurang banyak tereksplorasi oleh banyak media. Lagi pula, kesenangan untuk menulis cerita berlatar di luar negeri adalah eksplorasi latar. Menurut saya, Brink of Senses kurang memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik.
Rust in Pieces juga membahas soal masalah kejiwaan, dan saya merasa riset mengenai kleptomania dilakukan dan ditulis dengan baik, sementara saya merasa masalah di Brink of Senses ini kurang mendalam. Saya sebetulnya berharap mendapat banyak informasi mengenai penyakit yang diderita oleh kedua tokohnya, dan bagaimana cara menghadapinya, seperti itu. Ketika Scarlett akhirnya menerima kebenaran karena perkataan Kevin, saya agak merasa penyelesaian ini sedikit deus ex machina. Maksud saya, kenapa hanya Kevin yang bisa membuat Scarlett menerima kebenaran, kenapa hanya Kevin yang bisa menemukan Scarlett. Selain itu, saya merasa Brink of Senses sedikit melebihkan masalah bullying di sana. Bullying itu memang nyata, clique-clique sosial memang beneran ada. Lagi pula, remaja mana, sih, yang enggak ngegeng. Masalah saya adalah self-awareness mereka bahwa mereka itu populer. Sama seperti label hipster label populer itu disematkan orang lain, dan saya enggak bisa enggak senyum waktu Dean dan Carla dengan bangganya menyatakan bahwa mereka anak populer waktu mem-bully orang lain. Ini sedikit mengingatkan saya dengan bos-bos game RPG yang masih sempat-sempat ngomong-ngomong cantik dulu sebelum battle.
Brink of Senses punya begitu banyak potensial menurut saya. Karakter yang "aneh" (in a good way), latar yang sangat explorable, konflik utama yang lain daripada yang lain. Sayang sekali kalau potensial itu kurang dibangun dengan baik, tapi saya yakin penulis bisa memperbaikinya di buku berikutnya (denger-denger naskah berikutnya udah kelar, ya? #taubanget).
Senang sekali jika membaca suatu buku dan kamu dibawa rasa penasaran akan kemana cerita ini diarahkan oleh penulisnya. Itulah yang aku rasakan saat membaca seri YARN ini.
Kevin yang saat itu baru pindah ke NY bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya penasaran. Gadis itu menari di sebuah taman dan tampak memukau di matanya.
Pertemuan pertama memunculkan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kevin selalu penasaran akan sosok Scarlett yang selalu menari seperti seorang pengamen. Banyak orang yang menganggumi tariannya dan bilang pertunjukan yang disuguhan Scarlett itu sekelas dengan tarian di sebuah pentas mewah. Namun anehnya Scarlett tidak pernah mengambil uang pemberian penontonnya usai dia menari.
Awalnya susah sekali Kevin berusaha untuk mengenal Scarlett, namun ternyata dengan usaha yang gigih, Kevin mendapatkan hasil. Dia mulai mengetahui latar belakang Scarlett.
Namun, apa yang harus dilakukan Kevin saat Scarlett tidak pernah menganggapnya ada? Bahkan Scarlett masih menunggu Henry. Siapa dia?
Seri YARN ini memang kelam. Karakter yang menderita depresi mental - Kevin dan Scarlett- yang membuatnya. Kevin yang digambarkan baru sembuh dari penyakit mentalnya, tidak menggambarkan karakter yang baik. Bahkan aku mengira Kevin hanya tokoh biasa aja sambil lalu. Walaupun ada beberapa bagian dimana penulis berusaha mengajak pembaca untuk mengenal sisi kelam Kevin dulu.
Karakter Scarlett sebaiknya. Sepanjang cerita karakternya lah yang ngebuat gue penasaran. Dengan bodohnya dia menunggu seseorang yang tidak kunjung pulang tanpa adanya komunikasi diantara mereka. Lalu saat penulis membaca pembacanya akan fakta di balik hal tsb, doaaar... sebuah plot twist sukses membuatku terkejut.
Kekurangannya hanyalah tidak digalinya lebih dalam penyakit kejiwaan yang timbul.
ini gak jelek, tapi dibilang bagus juga nggak. baca ini saat terjebak macet selama perjalanan dari Glodok-Ancol yang nyaris 2 jam dan saya bisa memastikan bahwa itu 2 jam yang paling menyiksa saya untuk tahun ini. apa ya, baca ini saya nggak ngerasain feel macem2. datar bae. sedih nggak, seneng nggak, penasaran nggak. ya pokoknya asal baca aja gitu.
ceritanya sendiri juga gajelas. ada banyak keanehan yang membuat saya mengernyit gajelas. seperti misal tentang hubungan Kevin-Scarlett ini yang tau2 bisa dekat, trus hubungan saling membutuhkan mereka yang penjelasannya kurang masuk akal gimana akhirnya bisa nerima.
rasa ''membutuhkan'' yang dirasakan Scarlett pada Kevin ini masih belum bisa saya tangkap dengan baik.
trus ya, endingnya juga mbuh.
mbuh banget sampai dijelasin ulang pun kok ya males bener.
pas bagian nari baletnya juga, saya gak kebayang lho tariannya gimana. tak belain sampai cari di youtube tarian balet Sang Penanti tapi gak kebayang juga. sosok Scarlett, Clara, Dean dan yang lain2 ini pun juga gak kebayang ''bentukannya'' gimana dengan deskripsi yang cantik dan ganteng.
setelah selesai baca ini komen saya cuma ''surem, ini buku apaan anjir'' hhh niat mengisi waktu luang saat kemacetan dalam 2 jam justru malah bikin tambah pusing karena cerita di buku ini.
tidak jelek, tapi tidak bisa juga dikatakan bagus. cuma mungkin mood ketika membaca ini kurang bagus dan otak saya nggak mampu mencerna dengan baik aja hh
Gaya tulisannya keren! Serasa lagi baca buku terjemahan. Cocok sih sama setting-nya: di New York.
Kevin, adiknya Gabe dan ayahnya baru pindah ke New York. Punya aksen Welsh kental, dan bertetangga dengan cewek paling populer di sekolah barunya. Kevin pindah untuk memulai hidup yang baru. Di sekolah lamanya di Inggris, dia selalu diejek karena mantan pasien rumah sakit jiwa (mengidap PTSD setelah kematian ibunya yang mengerikan).
Scarlett suka menari balet, diiringi oleh Serenade di Battery Park. Kevin yang saat itu hanya keliling, terpukau oleh kepandaiannya menari. Kevin seakan melihat dirinya dulu saat melihat gadis dengan rok tutu merah itu.
Siapa Scarlett? Kenapa dia selalu menari di sana? Apa yang dia tunggu?
Awal-awal baca buku ini, aku dibikin penasaran–tapi jadi agak bingung juga. Sempat nebak (dan ternyata benar setelah sampai di halaman 200-an). Aku suka buku ini karena ceritanya mengalir, mudah dibaca, dan karakternya yang agak aneh tapi unik.
Saya cukup bersemangat mereview buku ini. Kenapa? Karena sekali lagi saya menemukan seorang penulis yang karyanya sangat enak dinikmati.
Novel ini adalah karya pertama Mertha Sanjaya, namun tulisannya tidak terasa sebagai penulis pemula. Tulisannya sangat mengalir dan enak dibaca. Dan jika saya disuguhkan novel ini tanpa informasi apapun tentang penulisnya, maka sejujurnya saya akan berpikir ini adalah sebuah karya terjemahan.
Namun jelas tidak ada karya yang sempurna. Dan ini sedikit pendapat saya. Di akhir cerita, recovery Scarlett terlalu cepat. Ini membuat saya sebagai pembaca merasa bahwa ini tidak sinkron dengan lamanya penantian Scarlett. Tapi saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Nanti spoiler :D
Mengambil setting tempat di New York, kisah Kevin dan Scarlett ini terasa seperti novel terjemahan. Kevin yang berasal dari Inggris pindah ke New York untuk memulai hidup baru. Harapannya, dengan kepindahannya itu, Kevin bisa menjuah dari teman-teman sekolah yang tahu dirinya pernah masuk ke pusat rehabilitasi mental karena menderita PTSD. Saat hari pertama tiba di New York, ia memutuskan untuk berjalan-jalan melihat patung Liberty. Dalam perjalanannya yang salah arah, membuat ia tidak sengaja bertemu dengan gadis memakai gaun bewarna merah. Rasa penasarannya, membawa Kevin mengenal sosok Scarlett yang menari setiap hari dengan pakaian yang sama di taman yang sama. Rasa ingin menyelamatkan gadis tersebut karena Kevin merasa seperti melihat dirinya yang dulu dalam sosok Scarlett. Gadis yang selalu menari untuk menunggu kepulangan seseorang. Kepulangan Henry.
Alur bergerak maju mundur dan bergerak lambat. Ide cerita dan konflik sebenarnya fresh,tapi karena aku sudah menanamkan mindset ini adalah novel lokal, lalu aku menganggap konflik di dalamnya seperti novel luar, jadi aku kurang menikmatinya. Begitu menjelang akhir mungkin sudah mulai paham dengan keseluruhan kisahnya baru mulai menikmati. Tapi ternyata sudah habis. Kalau menurutku sih kurang mendalam saja konflik di dalamnya. Itu menurutku. Selebihnya setting tempat dan waktu cukup baik.
Novel ini mengangkat masalah pembulian yang dilakukan oleh teman sekolah (memang hanya gambaran besar), lebih membahas sisi kehidupan di balik sosok yang dibuli tersebut, bahwa mereka berjuang sedang melawan atau menyembukan luka mereka sendiri. Stop pembulian! Karena setiap orang berhak bahagia. Dan kepopuleran bukanlah status yang membuat seseorang jadi punya hak istimewa di lingkungan sosial.
Hmm... idenya menarik sebenarnya, mengangkat isu ptsd dan mgkn jenis gangguan lainnya yg dialami Kevin dan Scarlett. Namun, ide yg menarik ini kurang disuguhkan dg ciamik di sini. Seperti hanya permukaan, padahal kuyakin jika digali lebih dalam, akan lebih terasa menyenangkan saat dibaca. Kendati demikian sukses utk Kaka penulisnya
[http://bit.ly/1JDA4Rc] PTSD atau Post-traumatic Stress Disorder adalah gangguan kejiwaan yang dialami satu individu ketika ia mengalami hal traumatis seperti kecelakaan, kekerasan, atau kematian orang yang dicintai. Gangguan ini bisa diturunkan kadar kelainannya ketika penderita dimasukkan ke rumah sakit jiwa atau sebuah pusat rehabilitasi mental selama beberapa bulan. Dalam novel Brink of Senses, remaja bernama Kevin Hudson mengalami hal tersebut, untungnya alur cerita bergerak setelah Kevin sudah lumayan sembuh dari kelainan tersebut dan mendiami lingkungan anyar. Semua disebabkan akibat kehilangan orang yang dicintainya yaitu Ibu Kevin. Saat Kevin beserta ayah dan adiknya mencoba memulai kehidupan baru di New York meninggalkan Inggris, Kevin benar-benar terpancing nuraninya ketika bertemu Scarlett. Gadis itu seperti Kevin, bedanya kelainan yang dialami gadis New York itu lain. Gadis itu terus-terusan menunggu seorang bernama Henry dan ia tak pernah berhenti menari di Battery Park, sebuah taman kota yang lokasinya tepat menghadap ke Patung Liberty. Inti kisah ini adalah perjuangan menaklukkan sesuatu yang terus menyakiti kita. Kevin sebagai tokoh utama berusaha terlepas dari bayang-bayang masa lalu yang menguntitnya. Dia trauma ketika ibunya meninggal saat melindunginya dari sekawanan perampok, meskipun Kevin selamat ia harus menanggung kelainan psikologis yang begitu parah sehingga harus mendekam di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine. Luka ternyata tak habis setelah itu, saat ia lumayan sembuh dan dibawa ke rumah, tetangganya memandang jijik karena Kevin bisa disebut mantan orang gila, di sekolah tekanan lebih membabi buta saat bullying mendera Kevin. Di New York kisah baru bergulir ketika Kevin menutup masa lalunya, mendekap rahasianya rapat-rapat dari siapa pun. Kehidupan normal memang kini ada di hadapan Kevin, tetapi gadis penari bernama Scarlett yang tak pernah berhenti menari mengundang simpati Kevin terhadapnya. Penulis mencoba mengundang pembaca untuk terus penasaran dengan kisah Scarlett lewat banyak cerita yang didominasi pandangan Kevin terhadap Scarlett, sekaligus tingkah laku kedua remaja itu sangat membumi meskipun latar cerita di luar negeri. Membaca novel ini kita tidak akan bosan mengikuti kisahnya yang dilematis. Dikatakan begitu memang karena kisahnya begitu pilu, bagaimanapun bukan hal mudah jika kehidupan mental seorang remaja mendapatkan ‘kecelakaan’ yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga pikiran serta perasaan. Novel karya Mertha Sanjaya ini akan mengajak kita semua untuk percaya bahwa segala hal sia-sia yang kita lakukan sebenarnya berasal dari sikap abai kita yang salah menilai suatu problema. Juga sebagai makhluk sosial, kita harus peduli dan merasa lega ketika membahagiakan orang lain.***
Here are several of my literal reaction when I read the entire book and finished it
"WHY?", you might ask. Because, I just don't get the whole book. I was confused and bored and pretty much didn't enjoy it as much as I wanted to. The writing style in my opinion was just okay, the plot was quite simple too. It was like, there were nothing that could make me "OH MY GOD". Get it? I knew one of the main idea was the mental illness factor (which was a very good thing and I liked it very much) but, the execution was just.... argh!!
When I was reading this book, honestly, I didn't even know what was the main plot, what was the goal? The whole 80% of the book was only about this lead dude trying to hit on this girl but ended up failing. And the rest 20% was the climax and the solution. And then, the end. Just like that. That bit, my friend, confused me a lot. LIKE, HOW CAN YOU SOLVE A FREAKING PROBLEM IN THAT SHORT CHAPTERS (only 20%??).
Okay... Now, I actually still had a few more issues with this whole book, but I decided not to mention them now in here, probably anytime soon, but not now. But, I'm glad I finished this book, tho. My TBR pile is finally getting shorter!
Also, it's super fine if some of you who happened to read this crappy review of mine actually enjoyed this book more than I did. This review is only my own opinion and I'm glad you actually liked this whole book.["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Aku suka dengan cara bercerita Metha di sini, sama seperti gaya bercerita D, mereka punya tulisan bercita rasa terjemahan. Love it!
Brink of Senses menceritakan tentang Kevin Huston yang pindah ke New York untuk memulai hidup barunya pasca dirawat di pusat rehabilitasi Golden Sunshine karena PTSD setelah kematian ibunya.
Di Battery Park, New York, Kevin bertemu dengan Scarlett, penari balet yang terus menerus menari, dan menunggu. Ada sesuatu di diri Scarlett yang mengingatkan Kevin pada dirinya sendiri, dan itulah yang akhirnya membawa Kevin dekat dengan gadis itu.
***
Aku ulangi, Aku suka tulisan Metha ini.
Dan cerita yang bergulir membuat aku penasaran siapa yang ditunggu Scarlett, kenapa dia menunggunya? Secara keseluruhan, ini debut yang sangat baik.
Hanya saja, ada beberapa hal yang membuatku belum cukup puas. Pertama, soal sekolahnya. Tadinya aku pikir, kondisi di sekolah Scarlett juga akan berperan besar terhadap apa yang terjadi pada diri Scarlett, bukan sebaliknya. Aku sudah membayangkan cemooh dan bully dari teman2 sekolah Scarlett yang juga menghantarkan Scarlett hingga titik rendah yang ia alami. Kedua, dengan kebiasaannya menari menari dan menunggu, kurasa tingkat schizo yang dialaminya sudah lumayan tinggi. Semacam berharap ada fase di mana usaha Kevin membawa Scarlett kembali ke dunia nyata lebih dramatis (soalnya pernah ketemu dan ngobrol sama beberapa orang seperti Scarlett, dan walau sudah dinyatakan sembuh, mereka masih kesulitan menerima apa yang terjadi).
Tapi, itu adalah maunya pembaca yang cerewet dan doyan drama, sih. Hahaha. Di luar keinginan-keinginan yang drama itu, buku ini tetap merupakan debut yang bagus.
I think this is a good and interesting novel, I love the story, the character, and how you describe the places despite the fact that you've never been there. Besides the place, I also love the way you describe their 'insanity' tough, you really did a great job!
But one thing is missing from this novel, I think its the ending. The ending is too short, and the solution is not clear enough, so I hope you will fix this at your next writing. I also think that some of these parts are ... to much, I mean maybe I don't really understand about people's insanity, but I think there is some parts like when they angry, I think some of these parts are too much.
I rate this 3/5, a B score! I'll be waiting for your next stories, good luck!
I have to be honest here: aku udah lihat berbagai review sebelum dan selama baca buku ini. Aku nggak mau asal nge-judge juga cuma karena beberapa review bilang ceritanya terlalu cepet and I just wanted to see it myself.
Eeeeh, ternyata, review-review yang aku baca itu bener dong. ಥ_ಥ
Aku sebenernya nggak ngerti apa yang aku ekspektasikan dari buku ini. Dari awal, motivasi Kevin emang nggak begitu kelihatan. Instalove-nya sama Scarlett juga terlalu berlebihan, belum lagi Carla yang ternyata perannya cuma gitu doang, dan ending-nya juga cuma gitu doang.
Mungkin itu frase yang bisa mendeskripsikan buku ini: ya udah, cuma gitu doang. Sorry to say, aku setuju sama review-review yang bilang cerita ini cuma ngebahas secara surface doang. Nggak ada sesuatu yang bikin karakter Kevin lebih wholesome dan fully-rounded. Dia cuma cowok yang terobsesi sama Scarlett, oblivious sama Carla, dan semua hal tentang Golden Sunshine di blurb pun nggak ngefek apa-apa sepanjang cerita.
Scarlett pun sama. Dia cuma cewek yang terobsesi sama nari, dan somehow dari deskripsi Marcus dan gerak-gerik Scarlett, aku udah bisa nebak apa yang terjadi. Twist tentang identitas Henry itu agak tiba-tiba emang, dan nggak ada foreshadowing-nya sama sekali. Jadi begitu mencapai dua bab terakhir sebelum epilog, aku kayak hah??? Udah, cuma gini doang???
Mungkin aku pengen Kevin lebih bisa mengendalikan(??) dirinya sendiri, karena aku ngerasa isu dia dengan kemarahan dan masa lalunya belum bener-bener kelar. Mungkin bisa dateng ke psikiater, minum obat lagi, ke-trigger di saat-saat tertentu.
Sadly, we don’t get that at all. =w=
Kevin mungkin juga bisa ngerasa relate dulu sama Scarlett, tapi caranya pelan-pelan. Ya ngajak ngobrol lah, trus sadar ada pola tertentu yang bikin cewek ini kelihatan nggak biasa, obsesi-obsesinya. Kevin harusnya ngerasa ada kesamaan antara dia dan Scarlett dari awal, dan pengen jadi temen dulu lah, at least. Nggak asal naksir, deg-degan, trus perjalanan cintanya mulus kayak pantat bayi gitu aja.
Dan Carla bisa dibikin lebih subtle lagi kalo emang ending-nya mau dibikin gitu. Ngajak pulang bareng kek, ngerjain PR, apalah yang intinya dia nggak tiba-tiba ngejatuhin plot twist di akhir trus kita sebagai pembaca diharapkan ikut kaget juga. Like WTF, girl??? Kesan tuh nggak kerasa sama sekali. Datar dan ganjel kayak keselek biji salak.
Toh, di epilog, tiba-tiba aja Kevin nggak terlalu khawatir sama kemungkinan dia di-bully lagi. Masalah Scarlett juga tiba-tiba aja selesai, kayak ketiban hidayah entah dari mana (sinetron Ind*siar), lmaooo.
Kalo nggak serba terburu-buru, dan bisa lebih dideskripsikan kayak mauku di atas, menurutku emotional bonding mereka bakal lebih ngena. Nggak cuma asal pergi ke sana kemari trus “udah ya, selesai, lo mau terima ini atau nggak ya bukan urusan gue, kan dari awal emang ceritanya cuma gini doang.”
Intinya, buku ini kurang greget aja buat aku. Kurang nendang dan seharusnya bisa dieksplor lebih jauh lagi—kayak The Double Bind, mungkin? Atau buku-buku lokal sejenis yang ngebahas mental health??
I dunno.
Aku ngasih buku ini 2.5 bintang tapi aku buletin jadi tiga.["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Sebelum masuk ke bahasan kontennya, izinkan aku memuji covernya. Covernya cantik kalau bisa kubilang. Aku suka perpaduan warnanya, designnya simple pula. Aku memang lemah terhadap kombinasi design simple dan dominasi warna hitam putih seperti cover ini. Oke masuk ke konten. Sebenarnya waktu baca blurb di belakang buku, aku masih belum kebayang isi dari bukunya. Maaf khususnya untuk Kak Mertha, blurbnya kurang menarik menurutku. Tapi karna covernya cantik dan aku ga mau ngejudge buku ini lewat blurbnya, aku lanjutin baca.
Overall, buku ini menceritakan tentang perjuangan Kevin untuk bisa berteman dengan Scarlett. Penulis menyisipkan isu mental illness di cerita ini. Disini Kevin pernah mengalami PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder) dimana muncul setelah ibunya meninggal dan itu mengakibatkan Kevin dikirim ke pusat rehabilitasi. Sedangkan, Scarlett mengalami Skizofrenia dan Bipolar. Dua mental illness sekaligus, itu karena dia kehilangan ayahnya. Gegara itu, setiap 10 pagi di Battery Park, NY, Scarlett selalu menari disana. Menunggu. Dia percaya kalau dia terus menari ayahnya akan pulang.
Hampir setengah dari buku ini diisi dengan Kevin menunggu Scarlett selesai menari - mengobrol sebentar - keduanya pulang. Tidak ada kejutan yang berarti di kejadian itu. Sedikit boring buatku. Tapi kejadian selanjutnya dimana Scarlett bersedia tampil di pertunjukkan sedikit menghibur. Gak cuma soal mental illness, penulis juga mengangkat pembullyan lewat tokoh Carla dan Dean. Di buku ada sedikit humornya. Lewat tokoh Albert yang kocak suasana tegang bisa tercairkan. Dan makasih buat Albert yang udah setia ama Kevin hehe.
Maaf lagi buat Kak Mertha. Kisah ini sebenarnya bisa dibuat wah. Cuma riset untuk masalah PTSD, Skizofrenia, dan Bipolar kurang karna waktu baca ini aku kurang merasakannya lewat Kevin dan Scarlett. Dan tokoh yang seharusnya bisa menyelamatkan Scarlett malah buat aku jengkel. Tokoh Marcus ngeselin banget sumpah. Ga tau ini cuma aku apa gimana. Karakternya dia tuh bener2 ngeselin. Iya sih dia emang mahasiswa psikolog tapi cara dia maksa itu loh.nyebelin banget pokoknya.
Penulis mengambil latar di Amerika dengan Kevin dan keluarganya orang Wales dan teman2 Kevin yang orang Amerika. Tapi baik latar, budaya, maupun tingkah laku tokohnya kurang mencerminkan Amerika. Malah aku merasa tokohnya orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Ending cerita ini buatku biasa aja walaupun misteri tentang Scarlett terjawab. Yah setidaknya jawaban misteri itu bisa terjawab. Bintang 3,8 untuk buku ini. 2 untuk ceritanya. 1,8 untuk covernya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
“Karena mencintai, tidak harus menunggu.” . . Nggak, nggak. Novel ini bukan soal remaja dan drama romansanya. Nggak pula tentang bucin yang terus-terusan bucin. Hehehe . Novel ini tentang seorang Kevin yang pernah jadi pasien di rumah sakit jiwa Golden Sunshine dan membuatnya dikucilkan di kotanya sendiri. Itulah sebabnya kevin sekeluarga memutuskan pindah ke new york dan berakhir bertemu scarlett yang suka menari. Bagi scarlett tidak ada yang lain, selain menari, menari dan menunggu. . Cerita yang emosional dan bikin geregetan. Dari awal cerita aku dibuat salah paham berkali-kali. Dari masa lalu kevin, penyebab kevin pernah tinggal di RSJ, hingga Scarlett dan kenapa Ia terus menari. . Menarik. Yhaa seri Yarn memang nggak ada yang nggak bagus sih ya. Jadi kalian sudah punya seri Yarn yang ini belum? Katanya buku ini sudah termasuk langka lho😅
"Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu."
Jarang-jarang baca cerita yang dua karakter utamanya punya mental illnes. Yang jelas novel ini lumayan kelam dan covernya sendiri udah pas banget buat ngegambin hal itu (covernya cakep btw hehe)
Suka sama cara penulisnya ngegambarin gimana Kevin sama Scarlett yang sedang/masih berkutat sama penyakit mereka dan gimana pengaruhnya sama kegiatan sehari-harinya. Walaupun jalan ceritanya agak kurang mulus, dua hal itu jadi poin penting buat novel ini. Plot twistnya juga lumayan, aku termasuk yang gak kepikiran soal budaya luar negeri yang dibilang marcus karena terlalu fokus ke kevin-scarlett 😂
Kalau ada yang lagi cari bacaan baru tentang mental illness, novel ini bisa dicoba 😊
Buku ini ber-genre romantis young adult. Namun juga mengandung unsur kehidupan sekolah, psikologi, masalah keluarga. Pemeran utamanya sekitar usia 17-18 tahun. Pendidikan jenjang SMA. Berlatar belakang di New York, Amerika Serikat.
Lagi-lagi saya dapat buku ini dari event tukar buku dengan book Instagramers. Temen sendiri. Asik deh. Mau tukar buku juga dengan saya? Silahkan kontak saya lewat Instagram atau sosmed lainnya ya. ^^
Awal mula saya tertarik dengan buku ini karena mengandung unsur psikologi. Maklum saya alumni mahasiswa jurusan psikologi. Tapi sekarang kerjanya bukan 100% bidang psikologi. Hedeh. Hehe. Maaf curhat. Agar bisa me-recall (mengingat kembali) pelajaran di zaman kuliah. Maka dari itu suka dengan unsur psikologi. Selain itu, apapun yang berkaitan dengan psikologi menarik loh.
Saya bingung dan bertanya-tanya di akhir ceritanya. Kenapa bisa dengan mudahnya Scarlett sembuh hanya dengan bisikan Kevin? Ajaib banget dong si Kevin? Nggak paham deh adegan yang disini. Terlalu cepat. Terlalu mudah. Padahal skizofrenia itu tidak bisa 100% langsung sembuh. Dikurangi gejalanya, atau dialihkan ke kegiatan yang lebih bermanfaat. Kan ada pelukis yang pengidap skizofrenia. Ada terapinya, minum obat, bahkan kalau parah bisa dirawat di RSJ. agar bisa mendapatkan pengobatan intensif.
Novel ini merupakan bentuk ajang lomba menulis yang diadakan oleh ice cube di tahun 2014. Dinamakan series YARN (young adult realistic novel). banyak kok novelnya. Ada lah beberapa. Tema nya juga hampir mirip. Romantis dan ada sisi psikologis nya. Cmiiw.
Novel ini tokoh utama nya si Kevin. Tapi juga bercerita dari sudut pandang tokoh lain yaitu Scarlett. Misalnya bab 1 khusus untuk sudut pandang Kevin. Lalu bab 2 khusus untuk sudut pandang Scarlett.
Seru kok. Bagus banget menurut saya. Karena buku ini tidak terlalu tebal. Ada 253 halaman. Jadi dalam waktu 4-5 jam saya selesai membacanya. Cepat ya? Mungkin ini rekor membaca tercepat dalam hidup saya. Haha. Novel romantis juga seru banget. Selalu bikin penasaran.
Tapi saya yakin banget. Novel ini bisa banget lah dikembangkan lagi ceritanya. Bagaimana kehidupan Carla. Atau seluk beluk tarian balet. Awal mula kehidupan Kevin. Kehidupannya di golden sunshine. Kehidupan sekolahnya di Inggris. Banyak deh yang bisa dikembangkan. Namun, perlu juga diperhatikan. Apakah ceritanya jadi membosankan kalau dikembangkan? Hem ... Di sinilah letak peran editor.
Saya bertekad suatu saat akan mencetak buku solo. Entah apa judulnya. Mungkin berdasarkan tulisan-tulisan saya di blog. Mohon doanya ya. Hehe.
Terakhir, terimakasih untuk penulis & penerbit! Good job!
Disini menceritakan tentang penderita PTSD yang dialami Kevin & sikap Scarlett yang menutup mata, pikiran serta telinga bahwa ayahnya sudah tiada. Kisah ini memberiku pelajaran hidup bahwa kita harus terus berjuang menjadi lebih baik.
Judul : Brik of Senses Penulis : Mertha Sanjaya Penerbit : Ice Cube Tahun : 2015 Tebal : 254 halaman ISBN : 978-979-91-0906-4
Kevin Hutson dan keluarganya pindah dari Newport ke New York untuk memulai hidup baru dan melupakan semua kenangan pahit akan kematian ibu Kevin yang menyebabkan Kevin depresi berat hingga menjadi penghuni Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine. evin berhasil mendapatkan predikat cowok populer berkat kedekatannya dengan Carla Friday, gadis paling populer di sekolah barunya. Kevin pun dapat berteman dengan siapa saja yang dia mau kecuali Scarlett Mendelsohn, gadis aneh yang selalu menari di Battery Park. Kevin merasa tertarik pada gadis itu karena ada sesuatu darinya yang mengingatkan Kecin pada kondisinya dulu. Novel ini punya ide cerita yang sangat cemerlang yang berbeda dari novel-novel lainnya yaitu tentang PTSD (Post Trauma Disstress Sindrome). Kak Metha punya gaya bahasa yang unik dan menarik. Dia selalu membuat kita ikut merasakan apa yang dirasakan para tokoh melalui deskripsinya yang detail dan mendalam. Setiap tokoh punya proporsi tersendiri, tidak ada tokoh yang tidak berperan dalam alur cerita. Bahkan tokoh Albert yang pada awalnya tidak terlalu penting ternyata menjadi tokoh yang cukup krusial pada kisah ini. Albert ini mengingatkan saya pada sahabatnya Sulvian di Save Ian, cerita yang ditulis Kak Metha di GWP. Aneh, cerewet dan sok keren tapi setia kawan. Tokoh Carla memberikan kejutan di pertengahan sampai akhir cerita. Saya juga sangat menyukai Joseph, ayah Kevin yang sangat menyayangi anak-anaknya. Kutipan yang paling saya sukai adalah kata-kata dari Albert pada halaman 216 : "Kalau kau menunggunya minta maaf duluan menyapa duluan, atau kalau kau terus menunggununggu waktu yang tepat untuk meminta maaf, aku yakin waktu yang akan mati bosan menunggumu!" Juga kata-kata Joseph di halaman 195 : "Cinta tidak menunggu," kata Joseph, setelah mereka melewati beberapa blok rumah. "Cinta tahu siapa yang sedang menderit. Biarkan hatimu yang memberitahumu apa yang harus kaulakukan. jika kau memang menyukainya, cobalah rajut persahabatan yang erat dengannya dulu, sebelum melangkah kejauhan. Intinya, cobalah bicara lagi padanya." Kekurangan dari novel ini hanya satu yaitu kurang panjang (hehe). Endingnya menurut saya masih menggantung, padahal saya ingin tahu bagaimana Kevin dan Scarlett setelah mereka memulai kembali kehidupan sekolah mereka. Ayo Kak buat sekuelnya! (hehe). Saya merekomendasikan novel ini untuk teman-teman yang ingin bacaan yang lebih berat karena sudah bosan dengan novel teenlit menye-menye nggak jelas.
Tampilan cover yang sederhana & unik, ditambah sosok penari yang menyala. Keren. Kehidupan Kevin & Scarlett dikemas dengan alur campuran, namun dapat kupahami dengan baik tanpa aku harus membaca ulang. Sedikit banyak aku bisa memahami perasaan Scarlett & Kevin, karena aku tahu bagaimana rasanya merindukan orang tercinta yang telah tiada. Meski waktu berlalu, rasa sakit & sedihnya masih sama seperti pertama kali. Namun, aku tidak punya orang seperti Kevin & Marcus disampingku, maka aku sangat menghargai usaha mereka membantu Scarlett. Sungguh. Ohiya, sejak awal aku tertarik dengan Marcus, dia begitu tidak biasa, & ternyata dugaanku benar. Marcus memang bukan orang biasa, itu membuatku semakin kagum padanya. Aku yakin penulis sudah melakukan research dan membaca banyak buku. Hal ini nampak pada penggunaan bahasa yang baik. Aku juga menemukan beberapa kosakata baru yang jarang kudengar. Membaca buku ini membuatku belajar banyak hal tentang kehidupan, kesedihan, pertemanan, cinta, kematian dan kejujuran. Kuharap buku ini dibaca oleh lebih banyak orang lagi.
2,5* agak tersendat membacanya di awal, terbawa rasa penasaran apa yg sebenernya terjadi sama scarlett.. ide cerita yg sangat menarik tentang PTSD (post traumatic stress disorder) mungkin gw akan ngasih lebih dr 3* jika saja penyelesaian konfliknya ga semudah itu.. terasa seperti terlalu biasa untuk konflik yg sudah dibangun dr awal... dan terlalu banyak kalimat2 yg klise di akhir cerita.. Jadi cukup oke lah, walau sebenernya bisa lebih oke lagi