Puisi-puisi ini ditulis ketika Afrizal Malna mengikuti artis residen dari DAAD di Berlin selama 1 bulan (2012), dilanjutkan selama 1 tahun (2014-2015) Mengalami situasi Representasi yang khas dalam hubungan antar bahasa, tubuh, arsip dan makna yang berada di tempat berbeda. Sebuah pengalaman retreat tubuh dari bahasa dengan situasi neurotik berhadapan dengan kerja representasi makna. “Kadang saya seperti berlari mengejar cahaya yang sinarnya segera menghilang”
Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Dri-yarkara (tidak selesai). Buku yang pernah terbit:
1. Abad Yang Berlari, 1984 (mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, 1984) 2. Yang Berdiam Dalam Mikropon, 1990; 3. Arsitektur Hujan, 1995 (mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan RI, 1996). 4. Biography of Reading, 1995. 5. Kalung dari Teman 6. Museum Penghancur Dokumen, 2013
Karya yang terbit dalam antologi bersama:
1. Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto, 1986); 2. Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (Linus Suryadi, 1987); 3. Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan, Kuala Lumpur, 1991); 4. Dinamika Budaya dan Politik (Fauzie Ridjal, 1991); 5. Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (Hendra Pasuhuk & Edith Koesoemawiria, Köln, 1995). 6. Ketika Warna Ketika Kata (Taufiq Ismail, et.all, 1995); 7. Pistol Perdamaian 8. Cerpen Pilihan Kompas 1996; 9. dalam Frontiers of World Literature (Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo, 1997) 10. dalam bahasa Jepang; jurnal Cornell University (Indonesia, Ithaca, Oktober, 1996); 11. dan Anjing-anjing Memburu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas 1997.
Penghargaan lain yang pernah diperoleh:
1. Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Neder-land Wereldomroep, 1981. 2. Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika harian Republika, 1994. 3. Dan esei majalah Sastra Horison, 1997.
Enggak pernah sesyok ini baca puisi, saking jeniusnya Afrizal Malna saya langsung membandingkannya dengan Buli-buli Lima Kakinya-nya Nirwan Dewanto. Rupanya masih mendingan kumpulan puisinya Afrizal ini. Sangat progresif saking progresifnya saya sampai bingung dengan isi kepala sang penyair.
Membaca Berlin Proposal mengingatkan kita agar terus berhati-hati terhadap kata-kata dan aturan, agar terus curiga dan mempertimbangkan seluruh kemungkinan-kemungkinannya. Afrizal, seperti biasanya dia, menjalankan seluruh poetic license-nya dan merusak bahasa sebagaimana kita ketahui dengan kekuatan tinggi.
Puisi-puisi dalam buku ini enak dibaca, dan perlu, agar kita terus ingat bahwa seluruh aturan, konvensi, dan anggapan, adalah hasil dari persepsi manusia, dan pasti akan dapat diubah dan berubah. Dalam "puisi-puisi tanpa kata"-nya seperti tektonik digital, Afrizal mengingatkan kita bahwa kata tertulis seyogyanya adalah representasi suara, dan bentuk kata, bentuk huruf, serta bentuk tanda baca (dan pada akhirnya, bentuk puisi) juga merupakan buatan manusia yang dapat berubah. Puisi-puisinya yang berbentuk gambar serta foto mengingatkan saya bahwa selain aksara yang kita gunakan, terdapat juga karakter piktografik dari Cina, misalnya. Dalam sistem tersebut, satu karakter merepresentasikan satu suara dan satu makna. Ditambah lagi, makna yang berada di balik kata juga selalu bersifat buatan dan dapat diubah dan berubah.
Meskipun demikian, saya yakin pembaca yang hanya hendak mencari bacaan yang ringan akan sangat kesulitan menghadapi buku ini. Ini bukanlah buku puisi biasa yang dapat Anda skim selama setengah jam kemudian letakkan. Membaca Malna adalah semacam pembebasan sekalian sejenis latihan berpikir.
agak pelik rasanya jika saya harus menilai buku ini dengan rating -- ada begitu banyak puisi yang tidak saya dapati maksudnya, namun ada juga beberapa yang begitu mengesankan dalam hati saya. puisi memang tidak diciptakan untuk sepersis mungkin dipahami -- itu untuk buku teks dan buku nonfiksi lainnya -- namun setidaknya puisi dapat dirasai. entah karena keawaman saya atau hal-hal lainnya, (sangat) sulit rasanya bagi saya bahkan hanya untuk merasai banyak puisi yang ada di dalamnya.
bagaimana pun juga juga, saya tertarik untuk kembali membacai buku ini, bagaimana pun juga saya masih tertarik untuk merasai setiap puisi yang ada di dalamnya. setidaknya saya bisa merasai meski sedikit. pada saat itu, semoga saya bisa menilai buku ini dengan baik ^^
Bapak, bapak, bapak, kamu gapapakah? Saya tau kamu gegar bahasa, gegar budaya, dan mungkin gegar lainnya, tapi kamu masih baik-baik saja kan, Pak? Soalnya ya, Pak, puisi-puisi kamu di sini kayak keluar dari komputer yang galat parah.
Pak, saya ga paham, loh, Bapak nulis soal apa (oke, paham, sih, cuman ga juga—itupun bisa dihitung pakai jari), soalnya tulisan Bapak kayak isi kepala yang meledak secara mahadahsyat sampai membentuk semesta baru.
Tapi kamu keren, sih, Pak, bisa bikin struktur-struktur aneh buat puisi—secara harfiah, bukan soal rima dan tatanan kata. Terus-terusin, deh, Pak. Nanti saya baca buku Bapak yang lain. Siapa tau lebih waras.
Bahasa mampu menciptakan gempanya sendiri. Berlin Proposal adalah upaya Afrizal Malna untuk mendekati bahasa Indonesia-nya yang ia kenal. Puisi-puisi di buku ini semacam laboratorium bedah. Bahasa tidak hanya lurus, namun bagi Afrizal, ia mampu berkelok-kelok. Juga, seperti tanah liat, ia bisa menciptakan bentuk-bentuknya yang ajaib.
"Berlin Proposal" is a slight departure from Malna's usual works, nevertheless captivating still. In it, Malna delves into a more contemporary, borderline asemic territory, which for me shows the growing maturity of his distinctive "afrizalian" style. Recommended!
Puisi Afrizal di buku ini memberi saya banyak pengetahuan tentang sejarah perjuangan suatu bangsa. Puisi puisinya ibarat proposal. Meski beberapa puisinya belum bisa saya pahami tapi menurut saya sangat menarik dibaca.
Konteks membaca intensif puisi Afrizal Malna terakhir bagi saya adalah antologi "Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing". Sehingga ketika membaca antologi "Berlin Proposal" ada rasa kaget yang ditawarkan di setiap empatsub-bagian antologi ini yaitu berlin proposal, kaldera, arsip pemotretan tubuh, dan paket kiriman.
Rasa kaget ini mengingatkan saya pada antologi puisi "mbeling" karya Remy Sylado. Ah, barangkali selera awam saya yang berpegang teguh pada peraturan dan ajaran resmi (ortodoks).
Puisi paling awal "memotret cermin" membuat kejutan dengan tipografi abjad yang dibuat 2 buah lingkaran mengelilingi gundukan abjad yang tidak terbaca. Lalu, "puisi digital" dengan garis-garis yang membentuk paragraf tanpa abjad (pola sama dalam puisi "tektonik digital" & "resonansi garis"). Lalu "bungkusan kematian" sebuah puisi testimoni hukum cambuk di Aceh berupa foto dari surat kabar Jerman (pola sama dalam puisi "hotmail: otto dix"). Lalu "teritori digital" puisi barcode, ya sebenar-benarnya bentuk barcode. Saya berangan jika saja memiliki alat pindai barcode, saya ingin memindai puisi ini, siapa tahu itu akan memunculkan bentuk puisi berupa teks pada monitor atau bahkan sebuah gambar grafis lainnya. Sebuah peta harta karun barangkali :).
Pada puisi "kaldera" sebuah puisi bazaar dengan banyaknya diksi dan istilah mengenai gunung berapi Indonesia. Kata dibuat berjajar rapi menyerupai parkir supermarket grosir dan penebalan untuk diksi Toba, Krakatau, dan Tambora saja. Sebuah pengkhususan untuk gunung-gunung supervolcano yang mengubah paras atmosfer dan iklim dunia.
Namun cita rasa Afrizal Malna masih bisa diambung pada potongan puisi salah satu kesukaan saya "apartemen identitas"
aku ingin bisa melihat angin. menatapnya menggenggamnya. menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang lain. biji-biji bahasa berjatuhan. seseorang melihatku melalui mata sebuah bangsa, di eugene sue. telah berlalu meninggalkan yang akan berlalu. biji-biji bahasa memecah identitas, kamus-kamus tercabik. malam yang datang bersama suara ambulan. kita belajar sendiri-sendiri ketika bersama. ....
Atau pada puisi "paket kiriman", sebuah ensiklopedia mini tahun 1900-1937 bertipografi panji simetris di kedua halaman nan lancip. Penulisan sumber utama puisi pun dituliskan Chronology of the European Avant Garde by Chris Michaelides. Sayang hanya sampai tahun tersebutlah perbandingan informasi di Eropa dan Indonesia dilakukan oleh Afrizal Malna.
Secara keseluruhan, catatan moabit (nama distrik di Jerman) merupakan pintu terbaik menelusuri antologi "berlin proposal" agar tidak sasar. Sebuah kata pengantar yang memukau, bahkan sudah menjadi puisi tersendiri bagi saya, penggemar kata pengantar.
[..] Di konteks itulah, Malna tampak sebagai pengemban gema dari politik wacana yang pernah diajukan Sutardji Calzoum Bachri pada waktu yang lebih lampau, 30 Maret 1973: “pembebasan kata dari beban dogmatiknya” —dengan sedikit improvisasi, mutatif. Bila Tardji mendekatkan puisinya pada seni pertunjukan: kata-mencari-bunyi-menjadi-mantera-untuk-meraih-keberartian-fonologisnya, Malna mendekatkan puisinya pada seni rupa: semacam kubisme-pemeristiwaan yang surealistik, terkesan mewarisi prosa tanpa plot, seolah-olah ingin mengejar keserentakan melalui sebentuk instalasi keheningan yang heboh. Proses mutasi itu bertunas dari “pengerusakan kata” menuju “pengerusakan sintaksis”, dari “mengembalikan bunyi pada getarnya” menuju “mengembalikan peristiwa pada geraknya”. Sebuah upaya yang Malna sebut sebagai “penjernihan untuk menata kembali bayangan makna ke dalam kata, seperti menyusun barang-barang bekas di tempat yang lain.” (catatan moabit, hal 9) [...]
unik dan sulit dipahami. kalau menurutku, inti dari beberapa puisi dalam buku ini adalah: bahasa hadir saat bahasa lain sirna, puncak bahasa bisa pingsan dan pada akhirnya melahirkan bahasa yang sebagaimana dipahami setiap jiwa. bahasa adalah segalanya untuk yang segalanya. barangkali penafsiranku seperti itu. sebagai pembaca aku cukup menikmati buku ini, modern dan janggal adalah kelebihan buku puisi Afrizal Malna yang satu ini. puisi favoritku tidak ada, tapi yang terakhir, berjudul "paket kiriman", aku menyukainya.
"aku tidak bisa membaca puisi dengan coklat dalam mulutku." ~berlin proposal~
meski saya kesulitan untuk memahami puisi-puisi AM di buku ini tetapi saya cukup bisa untuk sekadar berkelana ke Jerman, menyusuri lorong-lorong yang telah dipetakan Malna.
Tidak mudah untuk memahami puisi Afrizal Malna, termasuk kumpulan puisi ini. Yang bisa saya nikmati adalah kekaguman saya akan ketakterbatasan imajinasi Afrizal Malna dalam penyajian puisinya. Mulai dari bentuk, narasi, rima, diksi sampai keisengannya memainkan tanda baca, gambar, foto, hingga permainan garis yang tak terbaca. Entah apa yang ia pikirkan ketika menulis puisi-puisi ini, saya hanya dapat menduga. Ini salah satu puisi yang bisa saya nikmati dengan mudah:
alat pembuka
seorang menulis untuk keluar dari aku dan ia berjalan menuju sebuah pagar tinggi. tebal. /tebal/ menjadi ekor binatang dalam kata berlalu
Salah satu hal yang mengagumkan dari seorang Afrizal Malna adalah konsistensinya terhadap upaya 'membunuh bahasa'. Buku ini berisi sekumpulan keresahan-keresahan Afrizal terhadap bahasa. Kumpulan puisi ini adalah 'upayanya' untuk tetap 'survive' menghadapi benturan dengan bahasa yang bukan bahasa Ibunya.