Buku pertama di 2017 ternyata adalah buku yg nggak saya suka. Aduh, capek banget bacanya. Sebuku ceritanya begitu doang. Bahkan saya udah nggak punya energi buat nulis reviewnya, karena dari awal sampai akhir ceritanya nggak bisa masuk ke otak saya, biarpun saya paksa.
Jadi, saya baca buku ini karena penasaran sama karyanya Mbak Alia Zalea, yang menurut review teman-teman di Goodreads, bagus. Tapi memang review orang tuh sering punya efek terbalik buat saya, apalagi di genre-genre romens dalam negeri, khususnya lagi Metropop macam ini. Sebenernya sih saya penasaran sama yang "Dirty Little Secret", tapi karena di iJak yang tersedia cuma ini, ya jadi saya pikir gak papalah buat kenalan dulu sama karyanya dia.
Baru baca beberapa halaman, saya langsung menyesal. Tapi saya masih berusaha untuk mengikuti. Hingga sampai beberapa bab, saya sudah menyerah untuk memahami cerita ini, karena saya sudah lelah dan ehm... eneg. Maaf ya Mbak, sepertinya cerita romens gaya mbak memang nggak cocok buat orang macam saya.
Pertama, saya nggak suka dengan ketidakefektifan kalimat-kalimatnya. Banyak kalimat yang bisa disampaikan secara sederhana tapi dijelaskan dengan kata yang berputar dan membuat saya capek. Kedua, saya nggak suka dengan pemilihan katanya, yang menurut saya kadang nggak pas sama situasi. Lagi situasi non formal eh dipake bahasa formal dan sebaliknya. Maaf saya nggak menyertakan contoh, karena saya terlalu malas untuk mencarinya. Ketiga, novel ini nggak bisa dibaca oleh warga negara Indonesia yang nggak mengerti Bahasa Inggris. Meskipun bisa dipahami kenapa pakai boso enggris karena si cewek tinggal di Amrik dan pacaran sama bule, tapi tetap saja itu nggak sesuai sama selera saya. Ketika ada satu kalimat berbahasa asing yang dipakai, saya nggak masalah. Tapi satu paragraf.... Dan satu paragraf lagi... Dan satu paragraf lagi.... Eerrrrrrrr... Terlalu berlebihan saya rasa.
Buat saya, membangun suasana keamrikan nggak perlu dengan memakai bahasa Inggris saja. Itu memang sebaiknya dipakai, asal sesuai porsinya. Latar tempat dan suasana bisa digunakan untuk mengantarkan pembaca seolah berada di sana, menyaksikan kedua tokohnya berinteraksi secara langsung. Tidak perlu dengan terus menggunakan Bahasa Inggris, yang tidak dimengerti oleh banyak orang di negara ini. Eh tapi mungkin karena Metropop, jadi memang khusus untuk orang-orang kalangan ibukota yang doyan pake boso enggris, kali yaa.... Heuheuheuu
Jadi, itulah kira-kira kesan saya setelah membaca novel ini. Saya nggak tau bagaimana karya Mbak Alia Zalea berikutnya, tapi sepertinya novel ini membuat saya cukup kapok untuk mencicipi karyanya yang lainnya.