Komponis Kecil adalah salah satu judul dalam buku ini yang sebelumnya sudah pernah dimuat di salah satu majalah khusus anak-anak di ibukota. Dan kemudian dikumpulkan bersama cerita-cerita anak-anak lainnya dan kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Penerbit N. V. Nusantara-Bukittinggi-Djakarta pada tahun 1963 dan cukup laris pada waktu itu. Pada bulan Juni tahun 2011, PATABA Press pernah menerbitkan ulang kumpulan cerita yang berjudul Komponis Kecil dengan menggunakan versi baru dan dengan ejaan baru pula secara kecil-kecilan, karena penerbit lama tersebut bangkrut dan tidak ada kabar beritanya. Di kemudian hari, setelah kami menemukan kumpulan cerita-cerita lainnya tentang sosok komponis kecil secara utuh, maka kami mengetik ulang naskah buku tersebut lalu menyatukannya ke dalam buku yang kami beri judul Komponis Kecil ini. Komponis Kecil sendiri merujuk pada sejarah hidup seorang pemain biola legendaris Indonesia. Naskah buku tentang cerita lengkap komponis kecil ini sendiri bertanggal 16 November 1979 yang terdapat pada halaman daftar isi. Ketika penulis masih tinggal di Jalan Multikarya No, 16 RT. 06/09, Utankayu, Jakarta Timur. Kini, setelah lebih dari enam puluh lima tahun yang lalu semenjak salah satu cerita dalam buku Komponis Kecil ini dimuat, penerbit berharap supaya buku ini dapat menjadi tambahan bacaan yang bermanfaat bagi anak-anak Indonesia pada khususnya dan anak-anak dunia pada umumnya. Amin.
Sebagaimana tertulis pada pangantar, memang benar bahwa buku ini kuno, tapi tetap segar.
Buku yang bermula dari kumpulan cerita pendek dan pertama kali terbit secara utuh pada tahun 1963 ini, berkisah soal Henki, anak Kampung Kebon Jahe yang hidup dalam latar kemiskinan dan sengsara perang revolusi dan menemukan selingan cerah dalam nasibnya yang mendung, dari alat musik bernama biola. Biola ini didapatnya dari Meneer Kleber, seorang pemusik Austria, yang suatu ketika ditemuinya di makam saat mengais tambahan rezeki sebagai pengantar kembang.
Buku ini bisa dibaca anak-anak, tapi menarik juga buat orang dewasa. Untuk anak-anak, banyak hal yang bisa membakar semangat dan hal baik, seperti kegigihan, bakti kepada orang tua, dan kepercayaan pada diri sendiri. Buat yang dewasa, dari buku ini bisa kita saring pengetahuan soal kira-kira kondisi negara kita pada zaman perang revolusi. Baris-baris yang ditulis Soesilo Toer, mungkin halus tapi juga cukup mengiris, seperti "... apa arti sekolah pada zaman perang? Pengetahuan tidak dipakai ketika orang berbunuhan. Membunuh tidak perlu menjabarkan angka-angka di papan tulis. Namun perut kosong perlu dipecahkan dengan cara mengisi. Henki memilih jalan yang tepat; berhenti sekolah untuk tidak berhenti hidup."
Ditambah sedikit 'bocoran' dari penulis bahwa buku ini merujuk pada sejarah hidup pemain biola legendaris, sungguh, membaca buku ini asyik dan tak terasa tiba-tiba habis. Sangat layak laris.
Buku ini berkisah tentang seorang anak bernama Henki yang tinggal di Kampung Kebon Jahe, atau yang sering disebut "Kebor" oleh orang-orang pada jaman penjajahan Belanda. Ayah Henki adalah seorang gerilyawan. Henki tinggal bersama ibunya, Mpok Ana, dan kedua adiknya, Harun dan Haris. Henki sehari-hari membantu ibunya berjualan di pasar, kecuali setelah minggu pagi. Karena setelah minggu pagi tidak ada yang dilakukannya, maka Henki menjadi tukang pembawa bunga orang-orang asing. Disinilah Henki berjumpa dengan Meneer Kleber, seorang pemain biola sekaligus pencipta lagu berkebangsaan Austria yang nantinya akan mengenalkan Henki pada musik. Meneer Kleber juga memberikan Henki sebuah biola yang nantinya akan dipakai Henki sebagai alat untuk membantu keluarganya mencari nafkah.
Buku ini sangat menarik. Penulis menyajikan cerita ini dengan singkat, namun memilik makna yang dalam tentang keluarga, persahabatan, perjuangan hidup, dan juga kepercayaan diri. Sangat layak dibaca oleh siapa saja, khususnya anak-anak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebuah buku anak-anak yang nikmat untuk dibaca segala usia. Sebuah kisah tentang pengamen kecil bernama, Henki. Dengan segala pergolakan batin dan kemiskinan, anak itu tumbuh dewasa untuk usianya yang masih kecil.
Jika anda mengharapkan konflik sekaligus penyelesaian yang meledak-ledak, mungkin buku ini tak akan sesuai dengan apa yang anda harapkan. Ceritanya realistis, karena mungkin saja ide ceritanya diambil dari hal-hal yang pernah dialami oleh Pak Soes sendiri.
Saya suka hubungan lucu antara Henki dan adiknya, Haris. Saya rasa itu adalah gambaran hubungan antara Pak Soes dan Pram di masa muda.
Buku ini berisi rangkaian cerita pendek yang pertama kali diterbitkan tahun 1963 kemudian diperbaharui dan diterbitkan kembali pada tahun 2015. Semua berpusat pada karakter, Henki, seorang anak gerilyawan yang gugur di medan perang. Henki beserta ibu dan kedua adiknya berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Namun, suatu hari nasib mempertemukannya dengan 'meneer' asal Austria yang kemudian mengajarinya bermain biola. Ini lah yang kemudian banyak membawa cerita baru dalam hidup Henki.
Ceritanya pendek-pendek, realistis, ditulis khas cerpen anak-anak tapi penuh dengan pelajaran yang masih relevan sampai sekarang. Menghangatkan mata dan hati :)
Dengan gaya bahasa indonesia pasar, buku ini bisa membawa kita pembaca ke masa jelang kemerdekaan. Ceritanya dibuat santai, kadang ada perasaan sedikit tegang, lalu menggelikan dan sedikit kontemplatif tentang hidup Henki, bocah tanggung yang hidup di Batavia. Hidupnya keras, ia habiskan di jalanan, sampai día berjumpa dengan Meneer Kleber. "Orang jujur itu dalam keadaan sulit pun selalu sedia menolong orang lain yang dalam kesulitan, walaupun akhirnya akan menyulitkan diri sendiri."
Sejujurnya bingung harus menulis apa tentang buku ini, not my favorite. But still, somehow we need this kind of story to remind us that though life is FUCKED UP BIG time, there will always be small kindness in everyday life. Ofc it won't do much in your life, but at least it gives you warmness and somehow can restore your faith in humanity.