What do you think?
Rate this book


248 pages, Paperback
First published September 14, 2015
"Inge takut bertanya karena jauh di lubuh hatinya, Inge tahu dia tidak ingin mendengar jawabannya.Sejak membaca buku debut Tia Widiana,Mahogany Hills, aku tahu aku akan langsung membeli apapun yang ia terbitkan setelahnya. Oleh karena itu saat aku tahu Tia Widiana menerbitkan buku ini, aku seketika memasukkannya dalam wishlist-ku. Dan betapa beruntungnya aku saat Tia Widiana menghubungiku dan menawarkan buku Sincerely Yours untuk aku baca dan review! Tentu saja aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakan tawaran tersebut dan sangat berterimakasih kepada penulisnya :)
Inge takut bertanya karena Alan merupakan salah satu hal terbaik yang terjadi di hidupnya. Inge takut, karena dia tahu, hal-hal terbaik dalam hidup tak terjadi dua kali.
Dia hanya punya satu kesempatan."
"Dia tidak menjadikanmu selingkuhannya. Dia menghargai mantan pacarnya, dengan tidak menjelek-jelekkannya di hadapanmu. Alan tidak berusaha memacarimu sebelum memutuskan hubungan sebelumnya. Because that's what lesser man would do."Tentu saja, karakter favoritku adalah Alan. Tidak hanya karena karakternya yang nyaris sempurna tetapi lewat karakter ini juga pikiranku jadi sedikit terbuka. Jika situasi Alan ditempatkan di dunia nyata, mungkin orang akan menganggapnya telah berselingkuh. Tetapi setelah membaca cerita ini, aku merasa bahwa apa yang Alan lakukan kemudian justru membawa kebaikan untuk mereka semua. Dan aku cukup menyetujui hal tersebut. Walaupun akan ada pihak yang terluka, aku rasa apa yang terjadi adalah untuk kebahagiaan semua orang. Dan itu jauh lebih baik daripada meneruskan apa yang sudah ada namun dengan keterpaksaan. Karakter Alan adalah tipe the perfect gentleman
"Truth and reconciliation, and in that order. Perdamaian hanya bisa dicapai denngan kebenaran. Diam-diam Inge bersyukur ibunya mengatakan yang sejujurnya, tidak sekuat tenaga membela diri atau membela pilihan-pilihan yang diambilnya di masa lalu."Harus kuakui, setelah membaca buku kedua Tia Widiana ini, aku tahu aku sudah terlanjur jatuh cinta pada penulisannya yang selalu mengalir dengan baik. Meskipun aku menemukan beberapa typo dalam buku ini, hal tersebut tidak terlalu mengurangi kenikmatan membacaku. Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, kisah Inge dan Alan ini sangat sederhana namun tetap terasa manis. Buku ini berhasil membuatku sulit untuk berhenti membaca karena aku selalu memikirkan tentang bagaimana ceritanya akan berakhir. Tentunya, aku akan terus menantikan karya Tia Widiana yang selanjutnya—dan semoga aku tidak perlu menunggu terlalu lama ;)
"Tapi menjadi pengecut memang selalu mudah. Melarikan diri memang selalu mudah, seperti yang dilakukan Inge saat dia dan Alan bertengkar hebat soal Ruby.
"Aku serius. Banyak yang mengira karena tema yang kami tulis, maka kami semacam psikopat terselubung." Inge menatap Alan dengan sungguh-sungguh.
"Memangnya bukan?" tanya Alan geli, dia berhenti berjalan.
"Tentu saja bukan," sergah Inge, dia ikut berhenti. "Sebagai penulis misteri, aku sudah mengeluarkan segala pikiran gelapku dalam buku, sehingga tidak ada lagi yang tersisa." Inge menatap Alan lekat-lekat. Dengan nada penuh rahasia, gadis itu berbisik, "Sebenarnya yang perlu dicurigai, adalah mereka para penulis novel romance..."
Alan tidak mendengar perkataan Inge sampai selesai karena sampai di situ, dia sudah keburu tertawa terpingkal-pingkal.
("Sincerely Yours" by Tia Widiana pages 43)
“Karena aku tidak mungkin menjadi pacarmu jika aku jatuh cinta pada orang lain.”
—Alan kepada Ruby, halaman 122—