Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mawar Hitam

Rate this book
Engkau adalah kata yang hendak diucapkan pensil, yang meski telah kuruncingkan ternyata tak segera berani kupilih aksara pertama. Namamulah yang pada mulanya akan kutulis, tetapi kita belum saling mengenal .... Namun, dari serangkum mawar hitam, akhirnya kutemukan namamu.

Lincah, cerkas, dan mendalam. Begitulah cara Gus Can meramu kisah-kisah di dalam buku Mawar Hitam ini. Berbagai tema diangkatnya, mulai dari cinta, keyakinan, kematian, hingga eksistensi Tuhan. Tapi, Gus Can tak sekadar bercerita. Ia merayakan hidup dan kehidupan manusia di dalamnya. Dan, seperti hidup pula, sering kali kisah-kisahnya itu menemukan akhir yang tak terduga.

232 pages, Paperback

First published August 1, 2015

13 people are currently reading
137 people want to read

About the author

Candra Malik

12 books48 followers
Lahir di Solo, 25 Maret 1978. Sosok seniman serba bisa. Telah melahirkan album religi Kidung Sufi berkolaborasi dengan para maestro, berkeliling dengan tur konser bersama legenda, melintas batas genre, mewarnai film nasional dengan soundtrack dan scoring, dan meraih Piala Vidia FFI 2014 untuk FTV.

Sufi, penulis lagu dan penyanyi, penulis buku, esai, kolom, dan cerita pendek di media cetak dan online; jurnalis, penyair, pembicara, pemeran, dan pengasuh pesantren. Belajar Tasawuf kepada delapan mursyid dan kini belajar kepada sufi penyair Umbu Landu Paranggi di Bali.

Delapan tahun bekerja sebagai wartawan Jawa Pos; posisi terakhir Koordinator Liputan Jakarta. Lalu, dua tahun silih berganti sebagai kontributor Majalah Art Indonesia, Tabloid Nyata, Travel Lounge Magz, dan dua tahun penuh sebagai kontributor The Jakarta Globe.

Sejak 2012, Candra Malik menjadi Kepala Biro Sastra dan Budaya Pengurus Pusat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, namun tidak aktif lagi menulis laporan jurnalistik sejak memilih berkesenian dan berdakwah. Masih menulis buku serta esai dan kolom di sejumlah media.

Candra Malik meraih Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang untuk Film Televisi (FTV). Mengembangkan Tausiakustik (Tausiah & Akustik), kini ia memperkenalkan DialoQustik (Dialog & Akustik) dan terus berkeliling daerah. Mengasuh Kelas Sufi dan dua tahun ini menyelenggarakan Santri Bernyanyi ke pesantren-pesantren.

Dalam setiap penampilannya bermusik, Candra Malik diiiringi oleh Minladunka Band dan Whirling Dervishes atau Penari Sufi Berputar.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
25 (25%)
4 stars
24 (24%)
3 stars
40 (41%)
2 stars
7 (7%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
October 23, 2015
Membaca buku kumpulan cerpen dari Candra Malik ini saya mulai dengan harapan yang tinggi bahwa jika Candra Malik yang nulis bisa jadi keren? Tapi yang namanya ekspektasi bisa jadi terlalu tinggi ketika tahu yang didapat tak begitu. Saya baca beberapa cerita pendek di awal yang menurut saya tidak gripping pada pembaca. Hingga selesai satu cerpen, tidak ada kesan yang berarti dan hal ini terus saya lanjutkan hingga sampai setengah halaman buku saya lahap. Belum terjadi apa-apa. Tetapi satu hal yang pasti dalam buku ini, Candra Malik memang memiliki diksi dan cara meramu kata yang menarik, kata demi kata dirangkai begitu indah sehingga kita benar-benar harus merenung atau memikirkannya setelah membaca. Barulah ketika saya sampai pada cerpen seperti Wajah, Kaki Tangan Tuhan, Eksekusi Sebelah Mata dan Lelaki yang Membakar Neraka, saya benar-benar bisa menikmati cerita pendek yang beliau tulis. Begitu dalam, penuh dengan perenungan yang membuat saya sebagai pembaca mengamini isi cerita. Logika-logika sederhana yang beliau putar balik juga menarik dan hal ini yang membuat saya menikmati cerpen-cerpen itu. Meski di cerpen terakhir berjudul Pertengkaran Terakhir, saya lagi-lagi tak bisa menikmati cerita yang disajikan. Perpisahan seorang suami yang pergi dari keluarganya sehabis pertengkaran dengan istrinya tentu menimbulkan kerisauan, kegalauan selama perjalanan. Bisu dan hening yang tercipta tanpa komunikasi ini penulis kupas begitu dalam seolah berefleksi pada pengalaman pribadi yang akhirnya menjadi biasa saja. Tetapi patut dipuji usaha penulis untuk membuat karya yang menarik. Saya rasa secara pribadi Gus Can lebih pandai membuat esai dengan rangkaian kata dan diksi yang dia kuasai. Tetapi sekali lagi, siapalah saya ini yang berusaha mengajari Gus Can yang sufi itu untuk menulis apa. Hehehe.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
September 30, 2015
Seperti bunga yang kuncup kemudian layu, kumcer ini genit seperti perawan di halaman-halaman awal, mulai menghitam di pertengahan, kemudian mekar sempurna dalam cahaya sufistik, dan lalu kembali ... seperti layu di belakang. Cukup sekadar sebuah penggenap kehidupan yang putarannya lelah dan telah sempurna.










Wuopppoooo iki!
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
November 10, 2015
Meski aku ora dong mengenai teori sastra, tapi aku bisa merasakan ini cerpen yang menarik. Apalagi gaya-gaya sufisme dulu pernah dikenalkan Danarto (paling kagum dengan cerpen Adam Makrifat-nya). Meski berbeda, Candra Malik dengan gaya bahasa membumi mengenalkan nilai-nilai sufisme lewat cerita pendek. Ada cerpen-cerpen dengan idiom ketuhanan yang sangat kentara, (seperti cerpen wajah, dll) atau juga cerpen yang sebenarnya biasa saja, namun bila ditelisik mengandung banyak layer makna.

Cerpen favorti saya tetap LOLITA! Bagi yang sedang galau, dianjurkan sekali membaca buku ini. Mengapa? Biar makin melting itu hati!

Resensi atas buku ini dimuat di Jawa Pos, 6 September 2015. https://alterteguh.wordpress.com/2015...
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
December 24, 2015
Saya merasa agak terbebani dengan membaca kumpulan cerita dari penulis sufi ini. Pikiran saya memang jadi sedikit menumpul belakangan hari ini. Jadi, setiap selesai membaca setiap cerita dalam buku ini, saya hanya bergumam "oh" atau "ah..." dan selesai. Beberapa cerita memang meninggalkan impresi yang cukup dalam, tapi kebanyakan hanya berlalu dan terlewatkan.
Salah satu yang disukai adalah cerita pertama, "Membaca Tubuhmu". Tidak menyangka, akhirnya akan sedramatis itu. Hahaha, saya memang sedang keranjingan hal-hal dramatis sekarang. Hidup saya bak drama memang. (kemudian ngelantur)...
1 review
November 11, 2015
Diksi yang dipakai Gus Can dalam menulis cerpennya keren, sangking kerennya bahkan kadang perlu berulang dan pelan dalam membaca agar dapat sepenuhnya memahami isi dari cerpen, namun itu tidak mengurangi dari kekerenan isi yang disampaikan dari berbagai cerpennya, justru sangat menantang untuk dibaca, apalagi cerpen2 yang bertemakan tentang keyakinan akan eksistensi Tuhan
Profile Image for Doddy Rakhmat.
Author 4 books4 followers
February 14, 2016
Membaca Mawar Hitam ibarat menghayati persoalan kehidupan yang rumit, mencari sebuah kebenaran atas kebenaran, menjadikannya kitab perenungan melalui tiap kalimatnya. Gaya penulisan Candra Malik yang lintas dimensional, membuat kita harus mencecapnya perlahan hingga kandas. layaknya menyesap kopi panas menyisa ampas.
Profile Image for Sarah Reza.
236 reviews4 followers
December 20, 2022
Sebenarnya ini kumpuan cerpen yang tanpa sadar kaya antara satu ceritanya saling nyambung gitu. Tapi yang paling berkesan adalah cerita tentang kenanga. Entah kenapa, kenanga dan kenangan memang seperti suatu kesamaan sendiri.
Profile Image for Laras.
160 reviews
June 13, 2016
Sephia mengarsir samudra. Di rembang senja, mataku melanglang ke utara. Dari puncak bukit ini, kutatap gelombang menggalang kekuatan. Menyatu dengan angin yang mendesir dari belakang tengkukku. Panah-panah hujan meluncur ke pelukan ombak. Lahir sebagai buih-buih laut, diangkat menjadi anak-anak asuh angkasa, bergerombol di awan hitam, terbang ditiup sang bayu dan kembali terempas bebas. Tak seberapa lama, derainya sampai di sini. Menembus kainku. Kuyup.
--Kenanga

Meresapi setiap jengkal cerita-cerita yang ditorehkan di atas kertas oleh Candra Malik serasa dibawa terbang mengawang. Keindahan bahasa yang diutarakan memanjakan mata dan hasrat untuk terus membaca. Bukan sekedar itu, tentu saja. Ajaran sufi sedikit melesak di antara kisah-kisah dalam antologi ini. Kemudian juga imajinasi tentang kehidupan sehari-hari, yang mungkin sering kita temui namun kerap kita abaikan. Candra berhasil membuat saya jatuh cinta dan enggan melepas buku ini dari genggaman barang sebentar, hingga dahaga itu tertuntaskan setelah lembar terakhir buku ini saya tamatkan.
Profile Image for Itus Tacam.
61 reviews2 followers
November 8, 2017
Kali pertama baca Candra Malik.
Mawar Hitam adalah judul cerpen sekaligus judul buku kumpulan cerpennya.

Gus Can sebagian besar menggunakan sudut pandang orang pertama utama atau orang pertama serba tau.

Bagi yang belum familiar dengan garapannya, saya lumayan tidak mudah konsentrasi dengan kata ganti aku-kamu yang berselang seling. Sebab nama tokoh tokohnya jarang Ia mau jelaskan di awal. Dan sangat ekstrim di luar dugaan karakter aku-kamu ini sulit ditebak antara aku sebagai peran perempuan dan aku sebagai laki laki. Sehingga, untuk beberapa cerpennya, saya sering keliru menetapkan peran perempuan-laki laki tersebut.

Maka, tidak mengherankan praduga inilah yang malah melahirkan keunikan alur cerita. Selain, kekhasan istimewanya merangkai bunyi tulisan menjadi suara harmonis, tidak diragukan lagi Gus Can terkesan piawai.

Tapi tak usah khawatir, sebelum pembaca kelihatan sudah mbulet dan belibet dengan penokohan, satu per satu Ia menyebut nama nama mereka dan mulai memetakan penyelesaian. Baik secara gamblang maupun secara sentuhan batin.

It,
Profile Image for Nisrina Habibaty.
21 reviews2 followers
June 29, 2016
Buku yang 'seksi' kupikir. Bahasanya sederhana, namun pemaknaannya lebih dari sekedar dalam.

"Apakah salah jika kepala Gustaf mengaku sebagai Gustaf? Apakah keliru jika kaki Adi mengaku sebagai Adi? Justru keliru kalau kepala Gustaf mengaku sebagai Adi," papar Terdakwa

Banyak sentilan khas sufisme yang muncul di dalam buku ini. Ada pula cerita masyarakat urban yang problematikanya sering menjadi bahan pergunjingan di siang hari. Harus diakui, buku tipis yang membacanya hanya butuh waktu sebentar, namun terasa tebal untuk dimaknai dan diresapi (khas buku sufisme lainnya). Butuh sesuatu yang membuat Anda berpikir namun tetap terasa indah untuk dibaca..
Profile Image for Septian Hung.
Author 1 book9 followers
July 12, 2016
Kata-kata yang indah. Cerita yang mengesankan dan sarat makna. Tema yang luas. Dan pertama kali saya membaca pun saya langsung terpukau pada cerita-cerita dalam buku ini. Mawar Hitam adalah salah satu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah saya baca selama ini.
Profile Image for Steven S.
703 reviews66 followers
December 24, 2015
Kumcernya seru. Blak-blakan. Saya menyukai cerita-cerita di paruh pertama buku ini. Selebihnya tetap bagus tapi sejujurnya kurang greget. Begitulah buku ini.

Profile Image for Salman Al farisi.
9 reviews1 follower
April 18, 2016
cukup menarik karya candra malik ini. bagian yang paling berkesan adalah kisah orang buta di samping masjid
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.