Membaca buku kumpulan cerpen dari Candra Malik ini saya mulai dengan harapan yang tinggi bahwa jika Candra Malik yang nulis bisa jadi keren? Tapi yang namanya ekspektasi bisa jadi terlalu tinggi ketika tahu yang didapat tak begitu. Saya baca beberapa cerita pendek di awal yang menurut saya tidak gripping pada pembaca. Hingga selesai satu cerpen, tidak ada kesan yang berarti dan hal ini terus saya lanjutkan hingga sampai setengah halaman buku saya lahap. Belum terjadi apa-apa. Tetapi satu hal yang pasti dalam buku ini, Candra Malik memang memiliki diksi dan cara meramu kata yang menarik, kata demi kata dirangkai begitu indah sehingga kita benar-benar harus merenung atau memikirkannya setelah membaca. Barulah ketika saya sampai pada cerpen seperti Wajah, Kaki Tangan Tuhan, Eksekusi Sebelah Mata dan Lelaki yang Membakar Neraka, saya benar-benar bisa menikmati cerita pendek yang beliau tulis. Begitu dalam, penuh dengan perenungan yang membuat saya sebagai pembaca mengamini isi cerita. Logika-logika sederhana yang beliau putar balik juga menarik dan hal ini yang membuat saya menikmati cerpen-cerpen itu. Meski di cerpen terakhir berjudul Pertengkaran Terakhir, saya lagi-lagi tak bisa menikmati cerita yang disajikan. Perpisahan seorang suami yang pergi dari keluarganya sehabis pertengkaran dengan istrinya tentu menimbulkan kerisauan, kegalauan selama perjalanan. Bisu dan hening yang tercipta tanpa komunikasi ini penulis kupas begitu dalam seolah berefleksi pada pengalaman pribadi yang akhirnya menjadi biasa saja. Tetapi patut dipuji usaha penulis untuk membuat karya yang menarik. Saya rasa secara pribadi Gus Can lebih pandai membuat esai dengan rangkaian kata dan diksi yang dia kuasai. Tetapi sekali lagi, siapalah saya ini yang berusaha mengajari Gus Can yang sufi itu untuk menulis apa. Hehehe.