Dian Ambarwati, gadis asal Ngawi yang berusia dua puluh tahun, datang ke Surabaya untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya. Dua bulan setelah kepindahannya, ia ditemukan mati di bawah tanaman Kolbanda di suatu tempat yang sepi oleh seorang gelandangan. Siapakah yang menyudahi hidupnya? Bekas pacarnyakah yang di Ngawi, yang ditinggalkannya setelah ramai bertengkar selama dua hari? Ataukah kekasihnya yang baru, yang berusia sepuluh tahun lebih tua dan sudah bertunangan dengan gadis lain? Mungkinkah juga ia dibunuh oleh tunangan kekasihnya yang pernah bersumpah akan mematahkan batang lehernya?
Kapten Polisi Kosasih dan sahabatnya Gozali dibuat bingung karena satu per satu orang yang mereka curigai ternyata mempunyai alibi yang kuat.
Siapakah yang menghendaki kematian Dian Ambarwati? Benarkah kematiannya hanyalah kasus penodongan biasa? Benarkah Dian Ambarwati adalah seorang gadis yang polos dan suci seperti yang disangka semua orang, ataukah dia mempunyai latar belakang yang lebih rumit daripada yang diduga?
Berawal dari menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya, Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984 (diterbitkan tahun 1985). Tokoh yang diciptakannya adalah seorang kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Sejak itu novel-novel tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali, dalam melacak para kriminal mengalir terus. S. Mara Gd memadukan logika dan humor dalam bahasa sehari-hari yang menarik, di sana-sini diwarnai oleh dialog Suroboyo-an. Lokasi ceritanya umumnya mengambil tempat di Surabaya dan sekitarnya.
untuk debut cerita kriminal kepolisian ini bagus banget. ya mungkin pacenya sedikit terlalu ngebut tapi ga begitu jadi masalah. kasusnya juga bukan yg njelimet walaupun ada plot twist tapi masuk kasus yg "biasa aja". penyampainya cerita straight forward jadi ga berteletele kemanamana. tokohtokohnya pun diberikan porsi yg pas sesuai kebutuhan cerita.
sementara kepribadian Gozali jelas jadi daya tarik sendiri, selain karna otaknya yg cerdas. Kapten Kosasih ya tipikal polisi andalan yg diharapkan rakyat.
Judul pertama kisah dengan duet Kosasih dan Gozali, yang mengusut kasus pembunuhan Dian, seorang karyawati muda di kota Surabaya. Sebelumnya saya sudah membaca beberapa kisah mereka secara acak, jadi seru juga merunut balik dari awal kronologinya.
Kalau dibilang S. Mara Gd itu Agatha Christie-nya Indonesia, mungkin tidak sepenuhnya tepat, karena tidak ada konstruksi misteri yang terasa istimewa. Kasusnya relatif sederhana, pembunuhnya tidak pakai trik macam-macam dan tidak ada juga permainan 'umpan palsu' untuk mengecoh pembaca. Mungkin faktor kalau pembunuhnya itu bisa dibilang 'kejutan', tapi di awal ada petunjuk dialog yang amat mencolok dan rasanya tidak akan terlewatkan bagi yang sudah biasa baca novel detektif :v
Kelebihan penulisnya ini memang lebih terletak pada penokohan dan dialog yang selalu terkesan 'hidup'. Ini sudah terasa dari penggambaran suasana kantornya korban, yang berlanjut ke adegan investigasi Kosasih dan Gozali saat berinteraksi dengan pelbagai tersangka. Satu hal lagi yang saya suka: banyak novel misteri yang setelah pelakunya terungkap, langsung selesai begitu saja tanpa repot-repot memikirkan lagi kelanjutan tokoh-tokohnya. Sebaliknya, di sini ada bagian epilog/refleksi pasca-kasus yang cukup komplit merenungkan lagi tak hanya pelaku dan korbannya, melainkan juga tokoh-tokoh lainnya.
Relasi gender seperti biasa jadi tema utama yang disorot Bu Mara, dengan menampilkan berbagai dinamika hubungan tokoh-tokohnya (yang bisa dibilang... nggak ada yang beres, haha). Ini jadi bumbu penyedap adegan investigasi, yang tak hanya datar bicara soal alibi dan motif, melainkan juga studi karakter secara psikologis yang tak jarang bikin saya ngekek dengan deskripsi semisal:
Andaikata ia bukan laki-laki dan tidak berusia 23 tahun, ingin rasanya ia sekarang lari ke pangkuan ibunya dan menangis keras-keras, supaya ibunya yang mengusir kedua orang yang mengganggu ketentraman hatinya ini.
Adegan interaksi paling favorit saya terjadi antara Gozali dan si 'perempuan perkasa' sekaligus tersangka utama, Herlina Subekti:
Pandangan mata Herlina akhirnya berubah. Dari amarah menjadi keheranan, dan akhirnya rasa kagum.... lelaki bertampang jelek dengan kumis beberapa helai dan senyumnya yang sinis ini sama sekali tidak keder menghadapinya.
Seru rasanya membaca duel urat syaraf saat Gozali menginterogasi si Herlina ini, apalagi karena Kosasih langsung 'di-KO' oleh tokoh satu ini, haha.
Ngomong-ngomong Gozali, dia memang diposisikan sebagai 'Holmes' alias sang tokoh utama pemecah kasusnya, ya. Di sini, Bu Mara pun memperkenalkan kepribadian dan prinsip antinikahnya secara efektif, yang jadi kian menarik karena di novel belakangan . Yang jelas, novel ini ditutup sedemikian rupa sehingga membuat pembaca ingin mengikuti lagi sepak terjangnya lebih lanjut~
Judul : Misteri Dian yang Padam Author : S. Mara Gd Tahun terbit : 2013 (cetul) Tebal : 248 hal ISBN : 9789792297140
Buku ini merupakan karya pertama dari Bu Mara, awal mula beliau berkecimpung di dunia perbukuan saat menerjemahkan buku-buku nya Agatha Christie.
Buku ini pertama kali terbit pada 1 Januari 1985, saat ini pun buku ini mulai langka dipasaran. Tapi beruntung aku bisa membelinya dulu banget (namun baru sempat dibaca sekarang🙈).
Tokoh utama di buku ini adalah Kapten Polisi Kosasih dan sahabatnya Gozali yang merupakan mantan penjahat. Saat aku kecil sering sekali aku mendengar nama tokoh di Novel ini yaitu Kosasih Gozali, sampai pada akhirnya aku bisa membacanya sendiri.
Karena Bu Mara berasal dari Surabaya, buku ini sarat dengan dialog arek-arek Suroboyo dan juga humor dalam bahasa sehari-sehari Surabaya yang menarik.
Gozali sendiri merupakan seorang pencuri ulung yang hebat, tidak meninggalkan jejak terhadap korban nya, namun ia punya prinsip tidak akan melukai atau mencederai korban nya. Ga heran kalau ia menjadi orang nomor 1 yang diburu oleh kepolisian Indonesia. Namun pada akhirnya ia tertangkap dan karena Kosasih melihat peluang Gozali yang hebat dalam membantu kepolisian, akhirnya ia direkrut. (Bertobat istilahnya).
Saat membaca part ini aku keinget film-nya Leonardo Dicaprio yang judulnya " Catch me if You Can" dimana si pencuri ini hebat banget dalam menipu bank dan cek juga lolos terus, namun pada akhirnya ketangkap dan ikut dalam membantu kepolisian dalam menangani penipuan-penipuan.
Ceritanya sendiri tentang Tokoh utama yang bernama Dian yang kehilangan nyawanya, setelah meminta pertanggungjawaban kekasihnya, setelah mengetahui ia Hamil. Yup pacaran mereka kebablasan. Namun malang nasib Dian yang harus direnggut nyawa dan bayinya. Siapakah pembunuh nya?
Buku ini lumayan asyik ku baca dan tidak membosankan. Saat ditulis buku ini tahun 1985 jadi dialog nya berasa khas jaman dulu.
Membaca ulang buku ini setelah sekian puluh tahun berlalu (dan juga setelah serial penyelidikan pasangan Kosasih-Gozali ini resmi selesai), membuat saya menyadari bahwa betapa masih sederhananya kisah misteri pembunuhan di novel pertama ini. Proses pengungkapan mengenai siapa pembunuhnya tidak terlalu pelik dan rumit sehingga mungkin bagi mereka yang menyukai kisah detektif dan baru pertama membaca serial Kosasih-Gozali ini buku ini tidak terlalu menarik dan menjanjikan. Untunglah bagi saya yang membaca serial ini secara tidak berurutan, faktor ini tidak terlalu berpengaruh. Buku ini bukan buku pertama serial ini yang saya baca. Ada beberapa misteri lain dari serial ini yang telah saya baca sebelumnya, jadi saya sudah terlebih dahulu "mengenal" tokoh Kosasih dan Gozali dan cukup familier dengan cara mereka mengungkapkan kasus.
Satu hal yang patut diacungi jempol di seri pertama ini adalah fakta bahwa S. Mara GD telah meletakkan dasar-dasar karakter yang kuat, terutama bagi dua tokoh utama di serial ini yakni Kapten Kosasih dan Gozali. Para penyuka serial ini tentu tahu bahwa interaksi antara dua tokoh utama yang boleh dibilang saling bertentangan dalam hal latar belakang dan juga perwatakan ini kelak akan terus menjadi sisi menarik yang menghibur. Kesimpulan saya, salah satu yang menjadi kekuatan dalam serial karangan S. Mara GD ini adalah konsistensi perwatakan tokoh-tokohnya. Empat bintang saya berikan untuk pengarang.
Hal lain yang sudah tampak di novel pertama ini dan akan terus muncul di kisah-kisah selanjutnya adalah narasi-narasi nilai-nilai hidup yang disisipkan oleh pengarang. Meskipun novel ini di tulis di era yang sudah terasa jauh di masa silam, puluhan tahun yang lalu, saya kira nilai-nilai kehidupan ini akan tetap terasa relevan di masa sekarang.
“Manusia adalah makhluk yang kompleks, Bu,” kata Gozali menjelaskan. “Manusia bukan seperti cat dalam kaleng, kalau berwarna hitamnya seluruhnya hitam, kalau berwarna putihnya satu kaleng putih semua isinya. Manusia merupakan perpaduan beribu-ribu warna dan watak. Orang yang biasanya baik, sabar, lemah lembut, jangan dikira tidak bisa berbuat jahat. Demikian pula orang yang biasanya berwatak keras, kejam, masih bisa mempunyai sifat-sifat yang baik. Tidak ada manusia yang total baik atau jahat di dunia ini. Hanya saja, manusia yang sadar akan berusaha keras menekan watak-watak jahatnya supaya ia dapat hidup aman dan tenteram. Sedangkan manusia yang kurang sadar mengumbar semua sifatnya, entah itu baik atau jahat, dan lebih sering cenderung mengikuti naluri jahatnya.” (hal. 235) . Dian memiliki arti cahaya, lilin, atau lampu dalam KBBI. Jadi, dari judulnya kita sudah bisa menebak misteri yang ingin diungkapkan dalam novel. . Membaca karya S. Mara GD saya diajak bernostalgia dengan kehidupan masyarakat Indonesia dan gaya Bahasa Indonesia yang dipakai di tahun 70-80 an. Novel-novel karya S. Mara GD juga merupakan bukti bahwa kesusastraan Indonesia yang mengankat genre misteri sudah sangat berkembang sejak tahun 70an. Sayangnya, akhir-akhir ini genre misteri seperti ini sudah jarang bisa dinikmati pembaca Indonesia. Novel misteri yang hadir 5-10 tahun ini kurang digarap dengan baik dan tidak ada tokoh utama yang bisa dianggap sebagai hero, seperti Conan di serial Detective Conan dan Hercule Poirot di novel-novel Agatha Christie. Saya berharap usaha Gramedia Pustaka Utama untuk menerbitkan karya S. Mara GD akan menjadi tonggak awal hadirnya novel-novel misteri karya penulis Indonesia yang berkualitas dan mengangkat isu-isu dan kasus local Indonesia yang lebih membumi.
Cerita ini pertama kali dibukukan pada tahun 1985 yang kemudian dicetak ulang oleh GPU dlm perayaan ulang tahun ke 50. Aku beli novel ini just simply sampulnya warna ijo (ini soal preferensi, haha). Selain itu, aku memang suka karya beliau dan nuansa tahun 80-an.
Berkisah tentang Dian Ambarwati yang masih muda belia berusia 20 tahun asal Ngawi yang bekerja di Surabaya. Ia harus kehilangan nyawanya karena dibunuh. Dan polisi Kosasih serta Gozali mengungkap misteri kematiannya. Dari nama-namanya aja sangat klasik :')
Penulisan ceritanya sangat deskriptif jadi benar-benar seperti melihat dan merasakan langsung. Poin-poinnya untuk disajikan dengan sangat detail. Namun sayang dari 248 halaman, di 60% cerita sudah ketebak pelakunya siapa. Dengan motif yang menurutku bukan penyebab langsung. Maksudnya, "masa gara-gara itu? kan bisa dibicarain dulu, siapa tahu?" Itu menurutku. Padahal penjabaran setiap bab sudah sangat berurutan dan sedikit demi sedikit mulai memanas. Dan cara membunuhnya juga kayak, "hah gitu doang?", terlalu sederhana dan tidak ada plot twist.
Mungkin karena sering baca novel misteri lain yang memiliki motif berlapis, plot twist, dengan eksekusi njelimet, jadi saat baca ini serasa sudah "terlatih", hehe. Meskipun begitu, novel misteri klasik ini sangat seru untuk dibaca. Duet Kosasih dan Gozali memang tandem sekali.
Aku suka bagaimana menuliskan nama tokohnya lengkap dengan nama panjangnya di setiap ceritanya: - dian ambarwati - herlina subekti
bahkan untuk gelar dan sapaan formal seperti: - insinyur drajat - nona puji - nyonya firda sumarsono
Sudah lama penasaran sama novel detektif S. Mara Gd., tapi baru kemarin waktu Semesta Buku tertarik beli dan baca. Pasangan penyidik Kapten Kosasih dan rekannya Gozali ini kayak mengingatkan saya dengan pasangan Sherlock Holmes dan John Watson.
Kesan saya selama membaca novel ini adalah saya selalu mengimajinasikan seluruh ceritanya dengan latar waktu tahun 80-an. Seru sekali ternyata. Semacam dalam pikiran saya sedang memutar film beserta aktornya dengan style tahun 80-an. Tapi ya wajar, novel ini kan memang ditulis di tahun 80-an.
Coba bayangkan style rumah mewah kayak semacam di film Warkop DKI atau Suzanna gitu lah. Wkwk.
Anyway, sebenarnya sejak awal cerita sudah bisa ketebak banget siapa pembunuhnya. Terlalu jelas soalnya in the middle of nowhere tiba-tiba si karakter yang cukup suspicious ini diceritakan di halaman-halaman awal. Tapi saya cukup menikmati kisah dalam novel ini. Alurnya rapi banget, semacam alur cerita detektif klasik tapi ini settingnya Indonesia banget.
Saya jadi kepikiran ingin beli novel S. Mara Gd. lainnya deh. Ini semacam membaca Agatha Christie dengan kearifan lokal, mengingat memang beliau adalah penerjemah novel-novel Agatha Christie. Jadi nggak heran lah, gaya berceritanya terpengaruh oleh style-nya Agatha Christie.
Saya baru sadar… entah saya waktu itu baca sambil ngantuk atau otak saya lagi buffering, tapi clue soal pelaku tuh ternyata udah disodorin sedeket itu dari bab-bab awal. Kayak, literally nyempil di depan mata, tapi saya tetep nggak ngeh. Jadi waktu akhirnya diungkap di akhir, saya beneran cuma bisa bengong sambil mikir, Loh? Ini kok mind-blowing banget??
Terus, vibes tahun 80-an di buku ini bener-bener kerasa, baik dari narasinya, dialog karakternya, sampai atmosfernya. Tapi jujur ya… untuk beberapa bagian, terutama yang menyangkut pesan moral, saya merasa penulis agak over-delivery. Ada momen di mana saya ngerasa kayak dicolek bahunya sambil dikasih wejangan, dan bukan yang halus implisit tapi lebih ke arah: "Oke, kamu harus ngerti nih maksud saya. Dengerin ya."
Kadang saya jadi merasa kayak lagi ikut bimbingan rohani singkat. Nggak ganggu banget, tapi ya gimana yah ini buku dewasa, bukan buku anak-anak yang pesan moralnya harus terpampang jelas.
Tapi untuk buku pertama dari 33 series, nostalgia dan karakter utamanya KaptenPolisiKosasih & Gozali, Seperti Sherlock dan Watson atau Poirot dan & Hastings, cukup bikin saya pengen lanjut ke buku berikutnya.
"Uang bukanlah pangkal segala kejahatan, melainkan ketamakan akan uang itulah yang merupakan pangkal segala kejahatan." –hlm. 235
Untuk karangan tahun 1985, cerita dan plot ini seru dan best banget sih. Dibaca sampe hari ini pun aku ngerasa masih seru dan asik buat diikuti, aku selesai dalam waktu kurang dari 24 jam. Page turner bgt sumpah (meski aku bacanya di ipusnas).
Mungkin untuk hari ini agak kurang karena emang segamblang itu plotnya (meski tumoang tindih dan cukup rumit) karena bener-bener dijelasin ini operandinya begini, karakter si A begini, si B begitu, ngerasa baca cerita pendek di ujian soal Bahasa Indonesia yg nyuruh nyari karakternya kaya gimana hehe.
Seru bgt dan favorit aku banget justru waktu Kapten Kosasih dan Gozali nyari info buat pelaku pembunuhan Dian sih, karena pas penangkapannya aku kek hm okeh. Bro nangkepnya digrebek sama saksi lain buset drama, itu kalo aku tetangganya mungkin bisa ikut nimbrung haha. Oh dan dari awal cerita juga kayanya udah terlalu gamblang soal clue siapa tersangkanya sih, cuma nasih bisa dinikmati👍🏻
Ini buku S. Mara Gd. ke-2 yang saya baca. Sebelumnya saya membaca hampir 10 tahun yang lalu, sudah lama sekali. Membaca buku ini rasanya seperti membuka kapsul waktu, karena aslinya diterbitkan tahun 1985. Banyak sekali referensi yang jadul dan gaya bicara yang masih kaku, seperti menonton film jadul pula.
Misteri yang diceritakan di sini adalah mengenai terbunuhnya Dian Ambarwati. Tadinya saya pikir di dalamnya akan secara harafiah ada clue yang berkaitan dengan cahaya/lampu (dian) yang padam. Ternyata maksudnya memang mengacu ke nama korban saja. Penjelasan modus si penjahat di akhir seru juga, lumayan banget novel tahun 1985 sudah ada permasalahan seperti itu.
Di sini Gozali cukup keren tapi yang jadi polisinya (Kosasih) sungguh tidak meyakinkan ;) apakah memang dinamika karakternya sengaja dibuat seperti itu? Nanti saya coba bandingkan lagi di seri Kapten Kokasih dan Gozali lainnya.
Ini kali kedua gw baca buku S. Mara Gd setelah sekian tahun lalu pertama kali membaca buku beliau "Misteri Kunci Tak Bertuan."
Gw kira bakal bisa nebak siapa pelaku dan apa yang sebenarnya terjadi tapi lagi-lagi gw terkecoh sama alurnya. Bahkan "clue" misteri buku ini pun terlewat begitu saja walaupun sempat kepikiran tapi penulis masih bisa "mempermainkan" gw.
Dian, gadis perantauan yang bekerja di perusahaan periklanan ditemukan tewas oleh pejalan kaki yang tak sengaja melihat seorang tuna wisma di dekat jenazah Dian. Siapakah pembunuh gadis yang sedang dekat dengan tunangan seorang wanita kemenakan direktur perusahaannya itu?
Sensasi galau dan susah move on kala mendapati plot twist dan kenyataan yang sebenarnya bikin makin nagih dan penasaran untuk membaca buku-buku S. Mara Gd lainnya.
"Manusia merupakan perpaduan beribu-ribu warna dan watak"
Alurnya cukup sat set sat set, puncak ceritanya dapet sih, apalagi motif si pelaku nggak diduga duga (menurutku). Setelah pertengahan bikin penasaran sih. Ceritanya gak yang berat banget, cukup ringan di antara novel seri detektif yang pernah aku baca.
(TMI) Menemukan buku ini di Blok M Square. Saat ngeliat tanpa ragu langsung beli. Buku pertama cerita Kosasih-Gozali dari S. Mara Gd. Langsung baca saat di perjalanan pulang jugaaa.
Note for myself: buku ini buku pertama yang selesai setelah Agustus bener bener gak selesai 1 buku pun. Target September ini harus menghabiskan (kelarin) buku-buku yang ada di shelf Reading. Semangat aku!
Hats off to a female character here who, with biting cynicism, is able to criticise the futile role of the police within the social structure during the New Order era (and beyond). Unfortunately, this character is not given much scope for development. Beyond that, the novel is a rather enjoyable piece of buddy-cop/investigative crime fiction, peppered with some jibes at the social conditions in Indonesia in 1985. The writing style is strongly reminiscent of Agatha Christie—perhaps because S Mara Gd was indeed inspired by her.
novel S Mara Gd yang pertama saya baca, walaupun gaya berceritanya mirip agatha christie tapi suasana yang akrab dengan keseharian dan lingkungan orang indonesia ngebuat saya langsung akrab dengan deskripsi lingkungan dan tokoh2nya. Dramanya khas roman tahun jadul. Btw Plot ceritanya bagus!! plot twistnya gak nyangka banget hahaha, sumpah keren sih bisa bikin cerita yang ngetwist gini, langsung kesengsem ama kosasih dan gozali ini.
Buku yang aku baca untuk bisa bikin on track lagi sama challenge tahun inii. Ternyata works, satu hari langsung beres karena ringan dan nostalgic. Meski ini buku pertama S Mara Gd yang terbit, tetep masih relevan aja sampai saat ini. Bahkan bisa bikin mikir, “Manusia bisa loh melakukan spt ini” dll. Seruu. Meski aga ketebak dan very light. Again, baca buku ini untuk ‘mantik’ keinginan membaca yg sempet loss bbrp bulan inii
Membaca buku ini di era tahun 80an, dengan membaca buku ini di era sekarang, tahun 2024 jelas terasa bedanya. Di masa sekarang mungkin cerita buku ini terasa sederhana dan tidak relevan. Tapi mungkin di tahun 80an, cerita-cerita seperti ini seru sekali dan menarik. Bagi saya, buku ini bagus, saya nyaman membacanya. Bahasa yang digunakan santun. Khas cerita film jaman dulu. Membaca buku ini seperti melihat adegan film-film layar lebar lawas dengan pakaian vintage para pemerannya.
Pelakunya langsung ketahuan di bagian pengenalan tokoh.
Nggak tahu siapa yang keren, tapi ternyata saya (mungkin) punya pandangan yang mirip dengan penulis. Saat baca bab 1, saya langsung membayangkan seandainya kita udah merencanakan sesuatu dengan sangat matang dan terperinci, tapi orang lain melihatnya hanya sebagai sebuah kebetulan (sepertinya efek baca Gone Girl). Keren sih ini
Buku pertama kisah Kapten Kosasih dan Gozali yg justru kubaca setelah membaca buku Misteri Terakhir. Buku ini kubaca di tahun 2020 sehingga ada kesan nostalgia krn setting ceritanya di tahun 80-90an, saat pekerja di biro iklan masih bisa pulang jam 5 sore 😂. Misterinya dapat ditebak sejak di awal cerita namun jalan utk pengungkapannya mengalir, tidak membosankan, tidak bertele tele.
Nah seru juga nih petualangan Kapten Kosasih dan Gozali di cerita ini.
Saya berhasil menebak yang ini loh.. dan alasannya… Yeay! I’m getting good.
Saya berharap dibuku-buku S. Mara Gd yang selanjutnya, bisa melihat perkembangan penceritaan karakter-karakter di buku beliau, terutama untuk karakter orang di luar Pulau Jawa. Di buku ini, masih kurang greget deh…
3.5 stars. Pertama kali saya baca karya S. Mara Gd pengarang yang dibilang adalah Agatha Christie nya Indonesia. Walau misteri yang ini mudah ditebak, cara S. Mara Gd menulis begitu deskriptif sehingga pembaca merasa seakan-akan di tempat itu juga. Saya jadi ingin membaca karya-karnya nya yang lain :)
Buku pertama dari seri Kosasih dan Gozali. Terlihat bahwa cara penulisan S Mara GD masih simpel, clue-nya müdah ditebak. Walaupun ringan tapi masih tetap enak untuk dibaca lagi setelah 30 tahun berlalu
4.5/5. Buku pertama mara yang gua baca dna bikin pengen baca buku2 lainnya. Novel detektif yang membwrikna plot twist yang cukup menarik dan menegangkan untuk dibaca.
3.5 ⭐️ actually, cukup sederhana namun ditulis dengan baik. Pengungkapan tersangkanya pun cukup mudah di tebak bahkan pikiranku terlalu jauh menebak tersangkanya.