Dalam novel ini, ada derai air mata, ada pula darah yang menyembur. Ada pesta pora, ada pula rintihan yang mencabik sanubari.
Inilah buku sejarah yang dipersembahkan sebagai sumbangsih bagi khazanah pustaka Islam tanpa pretensi apa pun. Buku ini menampilkan dan memotret semua yang terjadi; kepongahan, kesederhanaan, kekejaman, kesengsaraan, kemanusiaan dan kebinatangan.
hanya 60 tahun setelah kepergian Kanjeng Nabi, umat islam telah mengalami sebuah peristiwa tragis akibat keserakahan akan kekuasaan. imam husain, cucu kanjeng nabi, menolak tunduk terhadap kekuasan yazid yang gemar berjudi dan korupsi. imam husain diburu. 70 orang pengikut dan keluarga imam husain dirajam oleh 40 ribu tentara yazid. imam husain dipenggal kepalanya. tubuhnya dimutilasi dan diarak keliling kota. di mana para sahabat nabi yang lain? di mana umat islam yang lain?
keserakahan itu bahkan terjadi sampai hari ini. 14 abad setelah Kanjeng Nabi tidak ada. negeri ini dikuasai oleh pemerintahan yang korup. hukum hanya untuk diperdagangkan. kesewenang-wenangan merajalela. penindasan ada di mana-mana. di mana manusia yang mengaku umat Muhammad? bisu. tuli. bahkan MUI hanya menjadi lembaga sertifikasi halal bagi sebuah produk henpon.
umat islam sibuk membangun masjid megah tapi tak pernah membangun masjid di hatinya. umat islam sibuk sujud menghitamkan dahinya tapi tak pernah menengok nasib hitam para tetangganya. umat islam sibuk mengkafirkan orang lain dengan mengacungkan senjata.
hari ini kita kembali berada di karbala. tapi tak ada husain di sini. hanya ada kadal-kadal yang mengaku cicak dan buaya. jika memang ada neraka, hari ini kita berjanji, kita akan berada di sana bersama pembantai husain. karena kita hanya menyimpan diam untuk sebuah penindasan.
novel ini sedikit banyak memberi gambaran tentang peristiwa karbala yang terjadi 10 dzulhijah 61 H. meski kurang dramatis karena terjebak dalam teks-teks yang tidak menyatu dalam konteks. seharusnya kisah ini bisa membuat mata saya berair deras. tapi tak berhasil. tapi memang hati seperti teriris. membayangkan husain sendirian dibantai. keluarga ahlulbait dicincang habis hanya karena kekuasaan.
Buku ini saya beli di perpustakaan Yayasan Fatimah di awal-awal mengikuti pengajian di tempat itu. Walaupun akhirnya cuma sebentar mengaji di situ (karena kurang sreg dengan beberapa fakta sejarah yang disampaikan kaum syiah), tetapi ada peninggalan yang cukup berharga saat saya meninggalkan pengajian tersebut, yaitu buku ini.
Buku Husein sang Ksatria Langit menyingkap salah satu catatan hitam dalam sejarah Islam, yaitu tentang tragedi pembantaian cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abu Thalib, beserta keluarganya oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di zaman kekhalifahan Bani Umayyah. Beberapa kali saya menangis dan bergetar membaca uraian-uraian kisah di buku ini. Apalagi saat salah satu anak Husein, Ali al Awsath mengucapkan kata-kata menyentuh yang intinya menyadarkan para penduduk salah satu kota bahwa anak-anak dan perempuan yang sedang digiring pasukan Bani Umayyah layaknya tawanan terhina adalah turunan Rasulullah, nabi terakhir yang mereka yakini. Di antara cerita-cerita sejarah Islam tentang perjuangan Rasulullah menyebarkan Islam, kejayaan Islam di zaman Khulafaur Rasyidin, tragedi Karbala menjadi sangat mengiris hati. Tapi mungkin itu sudah sunatullah...
Back to this book, buku ini bagus banget dalam menceritakan detail tragedi Karbala. Walaupun ada beberapa adegan yang sangat 'syiah', seperti cara para putri Ali ra mengungkapkan kesedihan dengan memukul-mukul badan. Tapi saya sih cuma mencoba berpikir terbuka bahwa tragedi Karbala - entah dari sudut pandang Syiah atau Sunni - tetap saja dianggap catatan hitam dalam sejarah Islam. Hanya saja saya pertama kali mengetahui secara detail lewat buku ini.
Buku novel sejarah islam ini membawa kita kembali ke peristiwa kekejaman tiada tara terhadap ahlulbait. Kita bisa rasakan panas dan dahaganya padang karbala serta kesadisan pasukan Ibnu Ziad atas perintah Yazid untuk membantai anggota keluarga Rasulullah. Tidak ketinggalan bagaimana pengecutnya orang-orang Kufah yang asalnya mengundang Iman Husain RA, tapi kemudian berbalik mengkhianatinya. Tapi dibalik itu kita bisa rasakan juga keteguhan iman dalam menyongsong kesyahidan dari Imam Husain RA dan rombongannya. Mereka tidak takut mati, karena surga Alloh sudah menunggu mereka. Allohu Akbar!!!
Membaca sejarah acapkali tidak menarik atau membosankan, karena otak seolah dijejali dengan fakta- fakta peristiwa, tokoh, dan tanggal – tanggal yang kaku. Namun, akan lain rasanya jika sejarah dikemas dalam sebuah novel . Apalagi jika penulisnya menyajikan dengan bahasa yang indah dan mudah dicerna. Pembaca seakan dibawa ke dalam peristiwa tersebut sekaligus turut merasakan emosi jiwa tokoh – tokohnya. Salah satunya adalah buku yang berjudul Husain Sang Ksatria Langit ini.
Crita sjarah dibalut dengan nivel, membut irg betah mmbacanya. Oh ya, ini sjrah dri sudut pndang pendukung ali bin abi thalib(syiah). Ketika para ahlul bait dipersekusi olh pemerintahan yg sah, yakni oleh dinasti umayah (muawiyah bin abi sufyan dan anaknya yazid bin muawiyah)