Buku ini tidak berisi keluh kesah, apalagi ratapan cengeng— kita tetap boleh nangis bila merasa tersentuh. Ini kisah Chili, emak-emak funky nan lembut lulusan Fakultas Seni Rupa ITB, yang kelimpungan merawat ibunya yang pikun lantaran ilmunya nol tentang penyakit demensia. Dia jatuh-bangun belajar sana-sini demi membahagiakan ibu kesayangannya sampai berhasil menemukan komunikasi ala Chili.
Kita bisa ngakak, terpana, bahkan ternganga-nganga selama membaca kisahnya yang luar biasa. Sungguh, pengalaman Chili bukan cerita ngawur. Selain memanggil kenangan, dia juga rajin menghubungi dokter psikogeriatri, dokter ahli gizi ageing, dokter gigi yang mempelajari pikun, pengurus nursing house, serta menyimak curhatan teman berbagai usia yang ibunya pikun. Setelahnya? Ia bersyukur dan hanya bersyukur.
Kisah Chili adalah cerita kita, orang modern yang sebenarnya melompong soal pikun. Padahal sebagai anak, kans orangtua kita menjadi pikun selalu saja ada. Mengenali dan memahami gejala awal pikun sedari dini serta sigap merespons dan mengintervensinya dengan tepat jelas bermanfaat bagi kedua belah pihak: kita dan si orangtua. Baiknya kita mulai saja sekarang!
Saya belum tentu bisa sesabar mbak Chili dan saya salut dengan kesabaran para Caregiver merawat orang tua yang menderita demensia. membaca buku ini berhasil membuat saya mellow jadi bertanya-tanya apakah jika kita diposisi mbak Chili bisa kuat dan sabar merawat orang tua kita sendiri? sedangkan disatu sisi saya tidak bisa membayangkan betapa tinggi kesabaran orangtua kita merawat kita sedari bayi sehingga usia saat ini T.T