DAMN. DAMN. DAMN.
Saya nggak tahu kata apa yang tepat buat menggambarkan novel What If ini. Tapi satu hal yang saya yakini, novel ini brilian.
Saya sudah pernah membaca Forgiven dan Notasi. Dan keduanya bagus. Sangat bagus, padat, dan saya menyukainya. Tak berbeda dengan What If ini. Hanya saja, di novel ini, saya bisa merasakan perkembangan Morra dalam menulis. Yang, tentu saja, menjadi semakin baik dan 'rapi', bila dibandingkan dengan dua novelnya yang lain yang sudah saya baca.
Isu di dalam novel ini lebih kuat, khususnya dalam cara penceritaannya. Dan itu nggak berhenti membuat saya salut terhadap Morra, terhadap caranya mengangkat suatu isu tertentu di dalam novelnya. Fisika, seperti di dalam novel Forgiven; politik-historis, seperti dalam novel Notasi; dan kali ini, isu keberagaman. Ya, suatu isu yang sangat lekat dalam kehidupan kita sehari-hari, terlebih di negara Indonesia ini, yang masih saja memunculkan kontroversi.
Bukan berarti belum ada penulis lain yang membawa isu yang sama seperti di dalam novel ini, tapi somehow, pembawaan Morra tidak terasa picisan. Atau berat sebelah. Atau terlalu menggurui. Saya seperti diajak berpikir, atau lebih tepatnya mengkritisi pikiran-pikiran yang selama ini, sadar tidak sadar, memang sudah melayang-layang di pikiran saya. Hanya saja saya mungkin tidak mengungkapkannya terus terang, entah karena pengaruh lingkungan atau simply because rasa peduli saya tidak sebesar itu. Entahlah. Tapi thanks to Morra, ia berhasil membuat saya berpikir kritis. Tak peduli isu yang dibahas di sini termasuk suatu isu yang sensitif, yang tidak menutup kemungkinan bisa memunculkan ketersingguan pihak-pihak tertentu. Tapi toh, bukannya kita punya hak untuk berpendapat dan bahkan mengemukakan pendapat kita sendiri? Tak peduli seberapa kontroversial itu dengan apa yang ada di sekitar kita. Tidak seharusnya kita merasa cemas, merasa terlarang, merasa kecil; karena pada dasarnya, kita semua diciptakan sama. Dengan hak-hak yang sama pula. So, kembali lagi kepada setiap pribadi, perihal mereka ingin menerima pendapat tersebut atau tidak, ingin bersikap terbuka atau tetap berpegang teguh pada apa yang ia yakini, that's their choice.
Di samping itu, dalam novel ini, entah mengapa perasaan saya berhasil teraduk-aduk dengan sangat kuat. Saya tertawa, saya deg-degan, terkejut, dan tak ketinggalan, saya menangis. Bukan berarti novel Morra terdahulu tidak memengaruhi perasaan saya; bukan itu. Tetapi di novel ini saya merasa lebih tersentuh, sepertinya dengan cara Morra menguraikan cerita yang menurut saya, kali ini, terasa lebih smooth, tidak tergesa-gesa, dan alurnya yang jelas. Tidak banyak detail yang missing, dan entahlah, sesudah membaca novel ini, saya merasa... penuh. Entah dengan perasaan-perasaan yang menguar dari kisah Kamila-Jupiter-Finn ini, atau dari pertanyaan-pertanyaan serta pendapat kritis penulis yang banyak terdapat di dalamnya, atau mungkin karena campuran keduanya.
Pada akhirnya, again and again, thanks to Morra Quatro, yang telah mengenalkan saya kepada Kamila yang mungil dan manis, kepada Jupiter yang senyumnya, menyenangkan (dan, OH, matanya), kepada Finn-si Gembul-yang entah mengapa terasa 'dekat', dan kepada tokoh-tokoh lainnya. Terimakasih telah mengangkat kisah ini, kisah yang bukan tak mungkin, bisa saja memang dialami oleh orang lain di luar sana. Terimakasih. Untuk membuat saya mengerti, melalui cerita ini, mengenai cinta, mengenai pilihan, mengenai kenyataan bahwa kita hidup bersama-sama dengan orang lain, dengan begitu banyak perbedaan yang tentu tidak bisa dihindari, mengenai bagaimana, pada akhirnya, keterbukaan dan toleransilah, yang bisa membuat kita satu. Karena sebenarnya, perbedaan itu ada bukan untuk memisahkan atau menghancurkan, tetapi untuk memberi warna, untuk memberi cerita, untuk menyatukan.
4,5/5 untuk What If.
p.s.
Thankyou so much untuk note dan tanda tangannya, Morra:)