Jump to ratings and reviews
Rate this book

What If

Rate this book
Kamila.
Si Anal. Pengagum Sigmund Freud. Asisten dosen ilmu sosial yang sangat detail, yang selalu menjawab tiap pertanyaan di kelas. Menurut Kamila, orang-orang, terutama pada usia muda mereka, sesungguhnya punya kehausan alami akan ilmu. Baginya, hubungannya dengan Jupiter kemarin terasa seperti mimpi, sisanya tak benar-benar nyata.

Jupiter.
Mahasiswa tingkat dua. Penyuka basket, pemain gitar, perayu ulung. Ia telah menghadirkan Kamila di dalam hatinya sejak kali pertama pertemuan mereka di bawah langit siang. Baginya, ada sekelumit cerita yang harus ia ungkap. Tentang gadis yang ingin selalu ia antar pulang; tentang kisah yang datang bersamanya. Namun, ketika mereka tak lagi berjarak, ia menyadari ada sesuatu yang membuat segala hal di bawah langit siang itu terasa tak sama.

WHAT IF, tentang harapan yang terhalang. Tentang kenyataan yang tak mungkin dimungkiri. Tentang hidup yang tak selalu berpihak—hingga memaksa Jupiter dan Kamila menjadi lebih kuat daripada yang mereka sadari.

280 pages, Paperback

First published September 18, 2015

11 people are currently reading
233 people want to read

About the author

Morra Quatro

7 books159 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
61 (22%)
4 stars
130 (47%)
3 stars
72 (26%)
2 stars
5 (1%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 86 reviews
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
December 3, 2015
"Sejak awal, mereka perlu berbeda. Mereka memang seharusnya berbeda. Sebab ada kalanya itulah yang dibutuhkan manusia untuk menyadari seluas apa hati mereka. Itulah yang mereka butuhkan untuk tahu; sebesar apa hati sanggup mencintai."

Dibuka dengan sebuah prolog di sebuah rumah sakit yang cukup menyesakkan cerita ini bermula. Kak Morra kembali hadir dengan karya terbarunya yang kembali membuatku penasaran sejak awal. Sejak membaca Forgiven, aku sudah tahu bahwa Kak Morra sungguh piawai mengolah kata dan merangkai sebuah kisah dengan elemen "berbeda" tetapi tetap bisa dinikmati oleh pembaca.

Seperti dalam What If, Kak Morra menghadirkan kisah Kamila dan Jupiter, dua orang yang "berbeda" yang kemudian akhirnya jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama. Perbedaan yang ada tidak main-main, bahkan cukup sensitif sekali dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, bukankah perbedaan itu yang menjadikan kehidupan menjadi lebih berwarna?

Kamila, seorang asisten dosen, yang terkenal dengan Si Anal. Bukan dalam arti konotasi seksual, tetapi seseorang yang sungguh detail, bertubuh mungil dan seorang muslim. Jupiter, mahasiswa tingkat 2, playboy, penyuka basket, tidak pernah serius dalam kuliah dan seorang nasrani.

Semuanya berbeda sejak mereka bertemu. Jupiter sungguh penasaran dengan sosok Kamila, dan berusaha untuk mengenal Kamila lebih dekat. Tetapi sejak awal, Kamila sudah membentengi dirinya dari pesona Jupiter, keisengan Jupiter yang meminta nomor teleponnya dijadikan sebuah tantangan bagi Kamila. Jupiter merasa tertantang mendekati Kamila, hanya untuk mendapatkan sebuah nomor telepon, Jupiter rela menghabiskan waktunya untuk menyusun sebuah essai yang ternyata menjadi salah satu konflik dalam novel ini.

Ketika akhirnya baik Kamila maupun Jupiter tak kuasa menolak rasa yang hadir diantara mereka, mereka harus menyadari bahwa semua tidak akan mudah. Perbedaan agama diantara mereka pastinya akan menjadi batu sandungan sendiri, baik dari keluarga, dan lingkungan di sekitar mereka, tidak terkecuali dari diri mereka sendiri. Bagaimana akhir kisah Kamila dan Jupiter?

"Yang paling menyakitkan dari semua perbedaan ini: bila sesuatu terjadi, misalnya pertengkaran, pembelaan itu selalu muncul; ah, nanti juga nggak bisa sama-sama, ngapain capek-capek sekarang, ini juga nggak pasti. Padahal, pikiran itulah yang sebenarnya menghentikan kita untuk berkorban banyak ke orang yang kita sayang karena kita takut terlalu sakit nanti. Karena kita pikir, kita nggak akan bisa sama-sama juga. Padahal, tentang itu, siapa yang tahu? Lalu, kita memilih orang lain dengan alasan-alasan cemen karena nggak berbeda sehingga bisa saling mengerti. Cinta macam apa itu? Cemen. Cuma karena kita nggak mau rugi. Kalau cinta ya cinta saja, kenapa nggak ambil risiko perasaan sakit yang datang bersamanya? Kenapa orang-orang begitu takut berbeda?"

Membaca karya terbaru Kak Morra ini aku sungguh larut dengan kisahnya, aku dibuat penasaran dengan perjalanan kisah Kamila dan Jupiter. Kak Morra mencoba mengangkat isu perbedaan agama ini dengan sangat baik. Ini memang bukan pertama kalinya aku membaca novel yang mengangkat tema ini, tetapi di tangan Kak Morra isu ini terasa "cantik" karena dipadukan dengan unsur politik kampus.

Gaya menulis Kak Morra pun terasa lebih berkembang dari novel-novel sebelumnya, lebih rapi dan mengalir. Aku suka dengan pemilihan nama karakter dan bagaimana kisah ini dimulai, dari konflik kemudian kita diajak berkenalan dengan sosok para tokohnya.

Isu perbedaan agama yang diangkat dalam novel ini juga tidak terkesan menggurui, bahkan tidak berat sebelah. Kak Morra menulis dengan seimbang, tidak terasa memihak dari kisah Kamila dan Jupiter. Kak Morra menunjukkan kepada pembaca bagaimana pun perbedaan agama akan selalu menjadi permasalahan yang sulit untuk mencari solusi terbaik, kembali kepada pilihan masing-masing pihak. Bagaimana pun setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing. Pertentangan dari keluarga Jupiter maupun Kamila juga terasa manusiawi, bagaimana pun orang tua tentunya ingin punya keyakinan yang sama dengan anaknya.

Aku bisa merasakan pergolakan batin Kamila yang ragu dengan hubungannya dengan Jupiter, sedangkan sungguh berbeda dengan Jupiter yang masih optimis mereka bisa melalui semua perbedaan yang ada. Disinilah Kak Morra mengakhiri kisah mereka dengan realistis. Walaupun seperti novel-novel sebelumnya, aku mungkin sama dengan pembaca lainnya banyak yang kurang menyukai ending yang dipilih. Tetapi entah kenapa, hal yang berbeda kurasakan pada What If. Aku malah menyukai kisah Kamila dan Jupiter ditutup seperti ini, memang masih akan ada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang hadir tetapi endingnya terasa realistis dengan kisah yang mengangkat isu seperti ini.

"Bagaimana orang bisa melawan nature? Bagaimana bisa menghindari perasaan jatuh cinta ketika mereka, kaum-kaum yang saling berbeda ini, harus berbaur dan saling mengenal?"

Cerita ini memang mengalir dengan cepat, rasanya aku masih ingin menggali lebih dalam kebersamaan Kamila dan Jupiter, persahabatan Jupiter dengan sahabatnya Fin dan Steven, keluarga Kamila dan Jupiter yang menjadi elemen yang tak kalah penting dalam novel ini.

Bagian favoritku dalam novel ini adalah saat pertemuan pertama Kamila dan Jupiter, adegannya sungguh memorable banget, bagaimana sebuah celetukan Kamila "Oh, God" malah dilanjutkan dengan Jupiter menjadi sebuah lagu. Percakapan yang akhirnya tercipta hingga Jupiter iseng meminta nomor telepon Kamila yang sama sekali tidak dianggapnya itu.

Overall, Kak Morra cukup sukses mengeksekusi kisah mengenai perbedaan agama ini dengan cukup baik, dipadukan dengan unsur politik kampus cerita ini menjadi lebih berwarna. Kak Morra berhasil menyelipkan kekhasan tulisannya di setiap novelnya yang tidak dimiliki oleh penulis lainnya.

Novel ini mengajarkan bahwa bagaimana pun dalam kehidupan, kita akan sering bersinggungan dengan perbedaan, tidak terkecuali dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Novel yang indah dan menghangatkan hati. Tidak hanya tentang cinta, tetapi juga persahabatan, keluarga dan pilihan.

"Hidup sudah menghantarkan mereka ke titik ini. Kaum-kaum yang berbeda ini, yang seperti sepasang rel kereta dalam satu rentang perjalanan, mereka akan saling berdampingan. Bersama, beriringan, tetapi sampai kapan pun tak akan pernah bersatu. Bila pun pernah, persilangan itu mungkin akan membawa perjalanan mereka ke titik yang saling menjauh."

Kalau kamu mencari sebuah kisah romance tentang cinta terlarang, aku rekomendasikan novel ini untukmu. Semoga jatuh cinta dengan kisah Kamila-Jupiter :)
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
September 28, 2015
review lengkap http://www.kubikelromance.com/2015/09...

tetep ya, bikin endingnya yg paling ak g suka =))

akhirnya ada cerita ttg perbedaan agama, sangat menanti-nantikan jenis cerita cinta seperti ini, khas mbak Morra ceritanya, tokoh yg jenius, kali ini dipadupadankan dg unsur politik di kampus

walau sebel dg endingnya, ak akan setia menunggu cerita lain yg endingnya sesuai cangkir kopiku, entah kapan itu terjadi =))
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
September 27, 2015
Dear Kak Morra,

Sebelumnya aku mau ucap terima kasih dulu karena sudah menulis buku ini, dan masih menulis, dan tetap menulis. Mungkin kalau Kak Morra jadi penulis lagu, aku nggak segan-segan membeli albumnya, nggak peduli siapa yang nyanyi. Pokoknya kalau itu tulisan Kakak, aku tetap akan jadi penggemar nomor satu.

Membaca What If ini seperti sedang ditampar bolak balik, ditonjok, dan sampai akhir disadarkan bahwa hidup memang begitu, sakit. Tinggal bagaimana kita mau menyikapinya. Mau balik marah, atau memaafkan dan terus menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Meski itu nggak sesuai harapan.

Membaca What If membuat kita sadar kalau segala sesuatu itu tentatif, kecuali perasaan. Perasaan juga tentatif, sih. Tapi tentatif-nya perasaan tergantung kita, tergantung manusianya. Sedangkan hal-hal lain dalam alam semesta ini tentatif aturan Yang Maha Kuasa. Aku pernah berkata pada seseorang, Tuhan memang Maha segalanya, termasuk Maha Membolak balik hati manusia. Tapi tetap kitalah yang memilih dan mengusahakan, mau terus mencintai, atau meninggalkan.

Nah, di What If ini pilihan kita--tetap mencintai atau meninggalkan itu--aku temukan berdampingan dengan aturan-aturan alam semesta yang nggak bisa diganggu gugat. Bahwa mungkin ada perbedaan yang membuat kita harus memilih untuk meninggalkan, atau persamaan yang membuat kita bertahan untuk mencintai dan terus memperjuangkan. Alam semesta mengajari sampai sejauh mana kita bisa mencintai di tengah perbedaan, dan juga mengajari kapan harus berhenti, kapan harus melanjutkan. Membaca What If nggak cuma sekedar memahami bahwa Piter dan Kamila harus memilih, tapi juga bahwa segala sesuatu di dunia ini ya begitu. Benturan-benturan antara pilihan kita dan kenyataan. Benturan-benturan antara keinginan kita dengan apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Dan kembali, cara kita merasakan dan menyikapinya tergantung kita. Apakah marah akan mengubah kenyataan? Atau kita justru menyadari bahwa perbedaan diciptakan untuk membuat kita belajar dan menerima kenyataan?

Dear Kak Morra,

Maaf, mungkin review ini akhirnya ngelantur ke mana-mana. Bacanya sambil baper, soalnya. Tapi seperti biasa. Dengan membaca kita belajar. Dengan membaca What If, aku juga belajar. Berbahagia atau tidak, dalam kondisi apa pun adalah pilihan kita. Apakah kita mau tetap mencintai meski tahu tidak bisa memiliki atau tidak, juga pilihan kita. Mungkin kita tidak bisa melawan aturan alam semesta dan ketetapan-ketetapan-Nya. Tapi kita bisa melakukan apa yang kita bisa untuk terus mencintai, dan melihat seluas apa hati kita diciptakan untuk semua perasaan dan perbedaan itu.

Kak Morra,
What If, seandainya. Ah, manusia memang kerapkali berandai-andai. Tapi Kamila takkan menyesal, Piter juga, Finn juga. Sebab mereka telah berusaha, menghapus pengandaian--bagaimana jika mereka tidak berusaha? bagaimana jika tidak melakukannya?--dan barangkali itu yang kita semua perlukan. Berusaha. Jika tidak berhasil pun tidak apa-apa, kan?

I still love you and your writings, Kak.
Jangan pernah berhenti menulis.
Profile Image for Iklima Bhakti.
145 reviews13 followers
December 21, 2015
Tuhan Memang Satu, Kita yang Berbeda

Isu cinta beda agama itu bukan hal baru. Ada beberapa kisah yang berputar di sekitarku. Tentang seorang teman perempuanku yang seorang muslim dan pacarnya yang Katolik. Atau yang baru-baru ini, keduanya temanku, perempuan itu seorang Protestan dan laki-laki itu muslim sepertiku. Perbedaan-perbedaan yang ada di setiap selubung kehidupan manusia itu memang tidak sebatas kaya-miskin, cantik-jelek, pintar-bodoh, rajin-malas, dan banyak hal bersifat adjective lainnya.
Kita mahkluk sosial, sama-sama ciptaan sang Khalik. Punya insting untuk saling mengenal satu sama lain, saling berbagi apapun yang sepantasnya bisa dibagi. Punya rasa ketertarikan, bahkan rasa benci dan permusuhan. Kita semua manusia hidup berdampingan. Sesadar apapun kita dengan banyak sekali perbedaan yang membentang di dalam hidup manusia. Jauh sebelum manusia sebanyak sekarang. Bahkan saat akhirnya Tuhan memutuskan menciptakan Adam.
Dalam novel ini, ‘What If’, aku kembali disadarkan bahwa segalanya pasti ada sebab dan ada solusi. Tapi, terkadang sebab dan solusi akan menciptakan sebuah dilematis tersendiri yang mengakibatkan orang yang bersangkutan di antaranya merasakan perasaan yang mungkin hanya mereka atau beberapa yang punya posisi yang sama seperti mereka.
Selama menyelesaikan kisah Kamila-Jupiter, aku tidak menyalahkan mereka, baik Kamila maupun Jupiter. Banyak pertanyaan yang berseliweran di dalam sumsum kelabuku. Bahkan aku sempat melontarkan pertanyaan kepada ibuku.
“Kenapa hidup manusia itu rumit? Maksudku hubungan antar manusia itu rumit?” ada jeda sejenak, “ketika sepasang anak manusia saling jatuh cinta, saling mengasihi. Apa yang salah dari mereka. Kenapa perbedaan yang mereka miliki harus selalu mengunggulkan logika daripada apa yang mereka saat ini rasakan?
Kenapa stigma masyarakat begitu kuat melempar mereka ke sudut dan bolak-balik membenturkan mereka agar sadar bahwa mereka berbeda? Lantas kalau memang Tuhan menuliskan jalan mereka demikian, siapa yang patuh dipersalahkan? Mereka tidak sedang merancang bom bunuh diri. Mereka hanya sedang jatuh dalam kubangan bernama cinta.”
Kemudian ibuku mendebat, “Itulah ujian Tuhan yang bersifat inmaterial. Tidak melibatkan apa-apa. Hanya hati, perasaan, dan juga imanmu. Seberapa kuat iman yang saat ini kamu teguhkan dalam hati. Seberapa yakinkah kamu dengan kitab sucimu, yang bicara tentang ayat-ayat dan perihal apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Tuhan tidak serta merta mencipta manusia dalam perbedaan. Itulah kenapa logika harus selalu bermain dalam setiap keputusan yang dibuat manusia. Sekalipun hati nurani dan perasaan beriringan menyertai.”
Yah, pembicaraan ini pasti sangat panjang. Dan selama dekade-dekade di masa depan pasti akan masih ada kisah Kamila-Jupiter yang lain. Mbak Morra kembali sukses membuatku berpikir hanya dengan membaca novel setebal 279 halaman saja. Percintaan yang tidak melulu soal cinta segitiga. Tidak dengan drama dan tidak dengan kata-kata indah penuh rekayasa.
Penuturan yang gamblang dan yakin bahwa di luar sana memang demikian. Semakin dibuat rindu dengan ulasan Teori-Teori Sosial. Buku Das Kapitalis, milik Karl Max kalau tidak salah sempat mencuri perhatian di awal aku mengunjungi Kafe Pustaka, bulan-bulan yang lalu. Karena kavernya lebih tepatnya. Lalu seorang yang aku ikuti di Wattpad memasangnya sebagai gambar sampul berandanya. Kemudian Kamila dan Helena membahasnya. Aku tertarik ingin membacanya. Mereka semua mata kuliah semester satu atau dua. Dulu sekali, sekarang aku semester delapan. Skripsi. Aku hampir lupa soal itu.
Satu rahasia kubuka, bulan-bulan lalu aku hampir merasa nyaman dengan seseorang yang berseberangan denganku. Tapi, kuberitahu bahwa itu adalah nyala lilin yang sebentar kemudian terhembus angin dan mati. Aku sadar dan kembali menatapnya dengan tatapan seperti sebelumnya. Hanya teman, tidak lebih. Dan semua hilang begitu saja tak bersisa. Ini hanya sekadar sementara. Aku bersyukur soal itu.
Profile Image for Maggie Chen.
145 reviews85 followers
July 11, 2017
Ini adalah kali pertama aku membaca karya Kak Morra Quatro. Saat baru terbit, aku sempat sedikit penasaran karena cover-nya yang cantik. Walau pada akhirnya yang benar-benar membuatku membeli buku ini adalah karena diadakannya What If review contest. Melihat cover What If, aku jadi teringat ucapan temanku. Ia mengatakan bahwa cover Gagas itu bukan hanya cantik, tapi juga fotogenik. Cover Gagas Media itu berseni. Aku yang sebenarnya lebih suka cover novel ala kartun pun tidak mengerti ucapan temanku itu. Tapi untuk kali ini, aku mengerti. Cover What If menurutku sangat cantik dan fotogenik. Walau tetap, satu hal yang aku tidak begitu suka dari cover novel-novel Gagas adalah bagaimana terkadang foto yang dijadikan cover sama sekali tidak berhubungan dengan isi cerita. Termasuk What If, aku tidak dapat menemukan hubungan antara cover dengan isi cerita.

What If bercerita mengenai perbedaan antara dua insan yang saling mencintai. Tepatnya, perbedaan dalam hal agama. Topik yang diangkat sebenarnya sangat berat dan juga menarik. Ketika sudah mencapai pertengahan dan tahu mengenai topik yang diangkat, aku tidak dapat berhenti membaca barang sedetikpun. Aku sangat kagum akan keberanian Kak Morra dalam mengangkat topik tersebut. Diperlukan ketelitian dan perhatian ekstra dalam menulis novel dengan topik agama. Apalagi agama yang diangkat sebenarnya memang cukup sering berseteru.

Di dalam What If, kita diajak untuk mengikuti kisah antara Jupiter, seorang pria Kristen bermata indah. Dan juga Kamila, seorang wanita Islam yang sangat pintar. Aku berani bersumpah, ada sesuatu yang salah dengan tokoh novel bernama 'Peter' atau 'Piter'. Setelah keberhasilan Peter di novel To All the Boys I've Loved Before dalam mencuri hatiku, sekarang PITER di What If yang tak henti-hentinya membuat jantungku berdebar sangat keras.

Aku benar-benar menyukai hubungan antara Kamila dan Piter. Perjuangan Piter dalam mendapatkan nomor HP Kamila benar-benar patut dinominasikan sebagai salah satu adegan ter-aww yang pernah kubaca dalam novel. Aku benar-benar menyukai betapa 'tengil' seorang Piter. Dan juga, matanya... Kumohon, adakah yang dapat memberitahuku seseorang dengan mata seperti Piter? Mata Piter tidak hitam, tetapi lebih cerah. Tidak juga cokelat, tetapi lebih kelam. Warnanya dideskripsikan seperti kopi, dan anak matanya berwarna keemasan. Kurasa mata Piter bahkan lebih indah dari mata Edward Cullen. Hahaha... Tidak aneh Kamila tidak dapat berhenti memandang Piter dengan mata semacam itu

Read Full Review >> Nocturnal Catfish: [BOOK REVIEW] What If by Morra Quatro http://iamnumberthirteen.blogspot.com...
Profile Image for Natasha.
40 reviews
June 21, 2017
Mungkin di antara para pembaca buku ini, hanya saya yang benar-benar puas dengan ending-nya.
---
Masalah yang diangkat di buku ini menarik, sangat menarik malah, di tengah-tengah pluralisme Indonesia. Perbedaan agama. Dan cinta.
Kak Morra juga melontarkan banyak analisis dan teori mengenai tema ini dengan cerdas dan khas Kak Morra.

Karakter-karakter Kak Morra selalu terasa hidup, termasuk tokoh-tokoh di What If. Sedikit banyak terdapat kesamaan antara karakter yang perempuan (entah mengapa heroine di cerita Kak Morra meninggalkan kesan yang mirip), tetapi karakter laki-lakinya lebih beragam. Penokohannya dilakukan dengan sangat baik; karakternya diceritakan dengan jujur dan apa adanya, dilengkapi juga oleh latar belakang.

Mengenai ceritanya. Pilinan kata-kata Kak Morra sangat mengesankan. Ceritanya dibuat sangat mengalir. Novel ini juga menunjukkan bahwa ada keindahan dalam setiap relasi, dalam cinta, bahkan kalau akhirnya harus berpisah pun. Walaupun ending-nya mungkin akan menarik banyak komplen, saya rasa tidak ada yang lebih cocok dari akhir yang seperti ini-- sebuah akhir yang sangat pas (bahkan lebih pas daripada buku-buku Kak Morra lain yang sama-sama memiliki bittersweet ending).

Buku ini ditutup dengan sangat indah. Karakter-karakternya bertumbuh dewasa, dan di akhir buku ini terdapat sebuah kesimpulan yang terus terang (dan indah, in a sense), yang menutup cerita mengenai pergumulan dan masalah yang tokoh-tokoh ini hadapi. Buku ini tidak hanya memberikan pandangan-pandangan mengenai isu perbedaan agama di dalam ceritanya, tapi juga memberikan rangkuman dari apa yang telah para karakter pelajari atau rasakan. Penutup buku ini benar-benar memberikan closure kepada baik para tokoh maupun para pembaca. Entah mengapa saya merasa ini sebuah cerita yang cocok dengan ungkapan all's well that ends well.
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
October 21, 2020
Actual 2.5⭐
Karakter utama lelaki di sini Finn atau Jupiter ya?
Terlalu banyak distraksi dari bagian2 pendukung, sehingga bagian utama dari kisah Kamila dan Jupiter tidak terlalu menyentuh karna terasa nanggung dan kurang all out.
Profile Image for vio 。 ₊°༺❤︎༻°₊ 。.
329 reviews152 followers
January 3, 2022
“barangkali, memang perjalanannya harus sepanjang itu.”

Akhirnya ada juga buku beliau yang bisa kunikmati sampai selesai. Gaya cerita beliau di buku ini ngalir, enak bgt utk diikuti sampai gak sadar udah selesai ceritanya. Sedikit kecewa dengan keberadaan Piter dibuku ini gak terlalu banyak. I mean, ini kisah Piter dan Kamila kan ya? Tapi yg jadi center kayaknya malah Finn. Bukannya aku gk suka sm Finn, ya. Terus jg, kenapa hubungan Anjani dan Noah terus muncul tapi penyelesainnya dengan Finn jg kayak belum tuntas alias nanggung bgt. Dari awal harusnya hubungan mereka gak ush terlalu dimunculkan. Pengen tau sih gimana Piter setelah kejadian itu karena di ending gak ditunjukkan. Itu aja sih yg aku sesali. Oleh karena itu, cuma bisa kasih 3 bintang ☹️
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for nrgitha.
251 reviews51 followers
October 16, 2015
Terima kasih kak Morra sudah menulis kisah yang menghangatkan hati pembacanya.
Setiap baca karya Morra Quatro, tidak hanya kisah pemerannya saja yang membuat pembaca terlarut. Kisah-kisah latar belakangnya pun membuat pembaca mendapatkan pengetahuan mengenai tema yang diangkat.

Ah, aku pikir Jupiter mampu membuatku melupakan William Hakim *sejenak saja ya kak ;)*. Jupiter tipe bad boy yang ternyata memiliki kejutan-kejutan manis. Kamila tipe tokoh utama perempuan yang aku suka, berpendirian teguh, pintar, dan berani berkorban untuk hal yang patut diperjuangkan.

Menjadi saksi kisah mereka melalui rangkaian kata ala Kak Morra, membuat aku seolah hadir di dekat mereka. Kisah yang jujur menggambarkan cinta yang sulit ditemukan titik temu yang tepat.

Bagiku ending yang diberikan kak Morra sangat memuaskan. Walaupun berharap ending yang lain, namun aku tahu hidup tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Begitu pula kisah Jupiter dan Kamila.

Ditunggu ya kak karya selanjutnya.
Profile Image for nasya.
828 reviews
October 2, 2023
Simpelnya novel ini cerita tentang orang yang pacaran beda agama. Tapi menurutku pribadi, pemilihan kata yang ada di novel ini tuh cukup rumit, cukup puitis, sehingga aku yang memang kecerdasannya rata-rata ini, kadang nggak bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Kadang kalo ada scene Kamila dan Ali Akbar, juga membuatku berpikir mereka ini pernah ada apa-apa, tapi ternyata nggak ada ceritanya. Antara Kamila sama Finn juga bikin aku bingung. Intinya aku agak bingung baca cerita ini
Profile Image for Afifah Mazaya.
122 reviews7 followers
August 3, 2017
Orang-orang ngewanti-wanti soal ending. Udah siap-siap dong, buat ending yang bikin guling-guling kayak 2 buku yang udah aku baca lainnya.

Dan, akhirnya, nggak paham kenapa orang pada ngewanti-wanti. Kayaknya, ini malah ending yang paling bikin nggak guling-guling.

Adil dan nggak akan ada tuduhan penistaan agama. Lol.
76 reviews
September 28, 2015
DAMN. DAMN. DAMN.
Saya nggak tahu kata apa yang tepat buat menggambarkan novel What If ini. Tapi satu hal yang saya yakini, novel ini brilian.

Saya sudah pernah membaca Forgiven dan Notasi. Dan keduanya bagus. Sangat bagus, padat, dan saya menyukainya. Tak berbeda dengan What If ini. Hanya saja, di novel ini, saya bisa merasakan perkembangan Morra dalam menulis. Yang, tentu saja, menjadi semakin baik dan 'rapi', bila dibandingkan dengan dua novelnya yang lain yang sudah saya baca.

Isu di dalam novel ini lebih kuat, khususnya dalam cara penceritaannya. Dan itu nggak berhenti membuat saya salut terhadap Morra, terhadap caranya mengangkat suatu isu tertentu di dalam novelnya. Fisika, seperti di dalam novel Forgiven; politik-historis, seperti dalam novel Notasi; dan kali ini, isu keberagaman. Ya, suatu isu yang sangat lekat dalam kehidupan kita sehari-hari, terlebih di negara Indonesia ini, yang masih saja memunculkan kontroversi.

Bukan berarti belum ada penulis lain yang membawa isu yang sama seperti di dalam novel ini, tapi somehow, pembawaan Morra tidak terasa picisan. Atau berat sebelah. Atau terlalu menggurui. Saya seperti diajak berpikir, atau lebih tepatnya mengkritisi pikiran-pikiran yang selama ini, sadar tidak sadar, memang sudah melayang-layang di pikiran saya. Hanya saja saya mungkin tidak mengungkapkannya terus terang, entah karena pengaruh lingkungan atau simply because rasa peduli saya tidak sebesar itu. Entahlah. Tapi thanks to Morra, ia berhasil membuat saya berpikir kritis. Tak peduli isu yang dibahas di sini termasuk suatu isu yang sensitif, yang tidak menutup kemungkinan bisa memunculkan ketersingguan pihak-pihak tertentu. Tapi toh, bukannya kita punya hak untuk berpendapat dan bahkan mengemukakan pendapat kita sendiri? Tak peduli seberapa kontroversial itu dengan apa yang ada di sekitar kita. Tidak seharusnya kita merasa cemas, merasa terlarang, merasa kecil; karena pada dasarnya, kita semua diciptakan sama. Dengan hak-hak yang sama pula. So, kembali lagi kepada setiap pribadi, perihal mereka ingin menerima pendapat tersebut atau tidak, ingin bersikap terbuka atau tetap berpegang teguh pada apa yang ia yakini, that's their choice.

Di samping itu, dalam novel ini, entah mengapa perasaan saya berhasil teraduk-aduk dengan sangat kuat. Saya tertawa, saya deg-degan, terkejut, dan tak ketinggalan, saya menangis. Bukan berarti novel Morra terdahulu tidak memengaruhi perasaan saya; bukan itu. Tetapi di novel ini saya merasa lebih tersentuh, sepertinya dengan cara Morra menguraikan cerita yang menurut saya, kali ini, terasa lebih smooth, tidak tergesa-gesa, dan alurnya yang jelas. Tidak banyak detail yang missing, dan entahlah, sesudah membaca novel ini, saya merasa... penuh. Entah dengan perasaan-perasaan yang menguar dari kisah Kamila-Jupiter-Finn ini, atau dari pertanyaan-pertanyaan serta pendapat kritis penulis yang banyak terdapat di dalamnya, atau mungkin karena campuran keduanya.

Pada akhirnya, again and again, thanks to Morra Quatro, yang telah mengenalkan saya kepada Kamila yang mungil dan manis, kepada Jupiter yang senyumnya, menyenangkan (dan, OH, matanya), kepada Finn-si Gembul-yang entah mengapa terasa 'dekat', dan kepada tokoh-tokoh lainnya. Terimakasih telah mengangkat kisah ini, kisah yang bukan tak mungkin, bisa saja memang dialami oleh orang lain di luar sana. Terimakasih. Untuk membuat saya mengerti, melalui cerita ini, mengenai cinta, mengenai pilihan, mengenai kenyataan bahwa kita hidup bersama-sama dengan orang lain, dengan begitu banyak perbedaan yang tentu tidak bisa dihindari, mengenai bagaimana, pada akhirnya, keterbukaan dan toleransilah, yang bisa membuat kita satu. Karena sebenarnya, perbedaan itu ada bukan untuk memisahkan atau menghancurkan, tetapi untuk memberi warna, untuk memberi cerita, untuk menyatukan.

4,5/5 untuk What If.

p.s.
Thankyou so much untuk note dan tanda tangannya, Morra:)
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
November 18, 2015
Kamila. Si Anal. Pengagum Sigmund Freud. Asisten dosen ilmu sosial yang sangat detail, yang selalu menjawab tiap pertanyaan di kelas. Jupiter. Mahasiswa tingkat dua. Penyuka basket, pemain gitar, perayu ulung. Ia telah menghadirkan Kamila di dalam hatinya sejak kali pertama pertemuan mereka di bawah langit siang.


Saya sengaja mengutip bagian perkenalan kedua tokoh yang ada di halaman belakang sampul novel ini. Kalimat-kalimat itu sudah menjelaskan karakter Kamila dan Jupiter, tokoh utama dalam novel ini. Tapi masih ada fakta lain yang penting dan menjadi inti dari novel ini. Kamila seorang muslim. Jupiter seorang Nasrani.

Finnigan, sahabat Jupiter sebenarnya ingin menjodohkan Kamila dengan Steven, sahabatnya yang isi otaknya bisa disetarakan dengan Kamila. Tapi Steven menolak, dia tahu mereka tidak akan bisa bersama. Di luar dugaan Finn, justru Piter, yang kuliahnya saja sering bolos, berusaha mendekati Kamila. Dan usaha pendekatan Piter bersambut, meski diikuti pertentangan batin di dalam diri Kamila.

"Apa yg berbeda itu memang tidak pantas bersama?


Bukan hanya kata hati Kamila yang melarang hubungannya dengan Piter. Ibunya Peter dan Ayahnya Kamila juga tidak memberikan restu atas hubungan itu. Meski keduanya menyadari bahwa anak-anak mereka saling mencintai. Cinta Kamila semakin besar, ketika dia melihat Piter terbaring tak berdaya di rumah sakit karena ada yang salah dengan paru-parunya.

Saya “berkenalan” dengan tulisan Morra Quatro lewat novelnya yang berjudul Notasi dengan setting kampus UGM dan politik mahasiswa di masa reformasi. Kali ini Morra kembali lagi dengan background serupa, meski dengan fokus yang berbeda : cinta beda agama.

Carefully written . Topik ini memang sangat rawan dan berpotensi menimbulkan pro dan kontra. Namun di dalam novel ini semuanya tersaji dengan seimbang. Mungkin karena penulis (katanya) pernah mengalami hal yang sama. Penulis juga mengungkapkan lewat tulisan ini bahwa dalam hubungan cinta beda agama, biasanya ada satu pihak yang berusaha berjuang mempertahankan, namun ada satu pihak yang juga selalu mempertanyakan apakah bisa terus bersama. Dan apakah cinta itu bisa bertahan jika hanya satu orang saja yang berusaha?
Bukan hanya Kamila dan Piter yang mengalami hal itu. Finnigan dan pacarnya, Anjani juga sudah lebih dahulu mengalami segala pertentangan itu. Dan uniknya dalam novel ini, Kamila menemukan jawabannya bukan dari seorang Piter. Tapi dari Finnigan.

Selain topik perbedaan agama itu, ada nuansa politik kampus dalam hal ini pemilihan presiden mahasiswa yang juga dibahas (masih ada kaitannya dengan agama juga sih). Ada juga joke-joke renyah ala mahasiswa. Bagian favorit saya adalah ketika Finnigan (oh btw Finnigan juga tokoh favorit saya di novel ini) yang berusaha menghibur Kamila yang sedang kalut di rumah sakit.

Pilihan diksi Morra Quatro memang layak diacungi jempol. Hanya saja, karena dituliskan dengan hati-hati, ada bagian-bagian yang sulit dicerna oleh saya, sehingga saya seperti meraba-raba apa maksud dari kalimat yang dituliskan itu. Kemudian ada bagian dimana Piter menyebutkan simbol Trinitas sebagai “God Father, Jesus and Mother Mary” . Tadinya saya berpikir ini typo, tapi disebutkan dua kali dalam novel ini. Yang saya tahu itu ketika membuat tanda salib, yang diucapkan adalah “In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit” (Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus). Semoga bisa dikoreksi untuk cetak ulang berikutnya.
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
December 6, 2015
Kamila Rasyid, seorang mahasiswa Antropologi tingkat akhir. Kamila Rasyid, si gadis mungil yang berani memotong rambutnya menjadi pendek sekali agar mendapat perhatian pada Pekan Raya BEM. Kamila Rasyid, si mahasiswa yang terkenal sebagai si anal, super kritis. What if berkisah tentangnya juga Jupiter Europa, mahasiswa Administrasi Publik tingkat dua, si pemalas itu, suka terlambat datang kelas, yang tubuhnya penuh harum sabun mandi saat baru duduk di kursinya yang seperti sudah ditakdirkan untuknya--duduk berjajar dengan Finnigan dan Steven.

Mereka berdua dipertemukan oleh semesta di tengah lapangan basket pada siang hari. Piter yang playboy, bergerak cepat meminta nomor ponsel Kamila setelah terpesona oleh gadis itu, diawali dengan pembicaraan tentang aksi gadis itu pada forum diskusi Ali Akbar--seorang mahasiswa tingkat akhir dengan banyak penggemar. Kamila ternyata adalah asisten dosen, Bu Miranda, pada mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial yang didatangi Piter, Finn, dan Steven--tiga sekawan itu. Piter yang sinting dan jail itu semakin gencar berkenalan dengan Kamila sampai akhirnya Kamila menyerah juga dan memberikan nomor ponselnya kepada Piter--bersamaan dengan tragedi ditolaknya esai Piter oleh Ali Akbar.

Piter dan Kamila akhirnya dekat lalu mulai menjalin hubungan. Tetapi jalan mereka berdua tidak semulus itu. Perbedaan yang begitu kentara di antara mereka menjadi penghalang. Piter dengan salib-nya, dan Kamila dengan salat-nya. Piter begitu yakin perbedaan tidak akan menjadi masalah, namun Kamila tidak. Tidak setelah perlakuan Helena, ibu Piter, yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap hubungan Piter dan Kamila. Tidak setelah kemarahan ayah Kamila saat melihat Piter. Tidak setelah janjinya untuk menjauhi Piter ketika Piter dapat sembuh dari sakitnya.

"Aku berusaha mencari laki-laki yang lebih baik, lebih pantas. Laki-laki yang mungkin akan membanggakanmu. Dan, kau tahu? Dia menolakku. Bila mengenalmu dia mungkin akan menolakmu dua kali."
***

Berkisah tentang cinta beda agama yang biasa, Morra Quatro membungkus What If dengan luar biasa. Entah ada apa dalam setiap novelnya, tiap kalimat yang ditulis saja punya kelebihan tersendiri. Dialog yang nggak kacangan, bahkan kelakar yang garing (memang sengaja dibuat garing sepertinya) punya nilai plus bagiku dan mungkin bagi fans Kak Morra yang lain. Setting perkuliahan nya begitu real, seakan saya bisa ikut berada bersama Kamila di kelas Pengantar Ilmu Sosial nya, ikut menyaksikan ramai nya Pekan Raya BEM dan panasnya orasi Pemilwa, ikut merasakan serunya berteman dengan Piter, Finn, dan Steven yang begitu berbeda. Piter yang pemalas dan agak sinting--begitulah yang disebut dalam novel. Steven yang rajin dan jadi tujuan mahasiswa lain untuk memfotokopi catatan, dan Finn walau tidak serajin Steven tapi manis, tampan, santun, juga rajin dan penuh perhatian. Kampus fiksi itu seperti benar-benar ada, dan saya tidak keberatan untuk mengunjunginya. Penggambaran dunia kampusnya juara.

Baca selengkapnya di http://readingvibes.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Kurnia.
175 reviews10 followers
February 14, 2016
Membubuhkan novel ini dengan empat bintang, walaupun sebenarnya sedikit ragu-ragu. Barangkali ekspektasi yang cukup tinggi membuat saya agak kecewa. Bayang-bayang Notasi dan Forgiven masih dalam benak. Saya sangat menyukai dua buku Mbak Morra sebelumnya.

Walau harus saya akui, saya tetap menikmati What If. Diperkenalkan dengan Kamila si mahasiswi perfeksionis-dengan sebutan si Anal-yang terlalu detil dan Jupiter mahasiswa adik tingkat satu tahun di bawah Kamila yang sangat tidak tahu aturan dan tidak peduli pada kelas perkuliahan.

Mereka dipertemukan dalam keadaan 'saling' berbeda. Saling namun berbeda memang terdengar menyedihkan. Tetapi begitulah kehidupan. Tuhan menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar di antara kita saling mengenal. Barangkali begitulah Kamila dan Jupiter. Untuk Saling mengenal. Dan (sayangnya) juga saling mencintai dalam perbedaan mereka.

Banyak hal-hal yang membuat saya ikut merenungi kisah ini. Tentang perbedaan, tentang isu cinta beda agama. Tentang masyarakat secara luas dan perbedaan di dalamnya. Dan pada akhirnya membuat saya ingin menelisik lebih jauh ilmu antropologi walau saya tidak tahu akankah keinginan mempelajarinya suatu saat akan tereksekusi atau hanya dalam angan saya. XD

Dari segi plot, saya menyayangkan ada beberapa yang membuat saya berasa tak puas. Beberapa deskripsi seperti kurang. Dan membuat kisah Kamila dan Jupiter sedikit terburu-buru. Entahlah itu hanya perasaan saya saja atau memang begitu. Kabar baiknya, eksekusi dalam buku ini cukup membuat saya puas.

Saya cukup tercengang Mbak Morra menyebut-nyebut Ibnu Kaldun, seorang sejarawan Islam di dalam esai yang dibuat Jupiter, bukan Tiara, apalagi Ali Akbar (Ah tokoh ini di akhir membuat saya sedikit tidak suka karena sikap ambisiusnya, tetapi saya merasa familiar dengan keambisiusannya, membuat saya sedikit bernostalgia beberapa semester lalu, wkwk~). Angin segarnya, saya 'naksir' Finnigan, tokoh pendukung lain yang memiliki kisahnya sendiri walau masih sangat beririsan dengan kisah Mila-Piter. Dia seperti guardian angel di sini. Hehehe~

Dan saya sangat menyukai beberapa penggalan kisah Rasul dan para sahabat yang tersisip dalam novel ini. Seperti kisah Ali bin Abi Thalib, dan ahli ibadah yang dihalangi iblis ketika akan salat Subuh, juga pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing. Dan semua itu dibawa oleh seorang Jupiter. Piter yang sangat berbeda dengan Kamila. Sangat menarik menurut saya.

Barangkali itu dulu ulasan dari saya. Semoga novel selanjutnya akan lebih membuat saya tercengang lagi. Sukses untuk Mbak Morra :)

Profile Image for Lovila.
32 reviews2 followers
June 2, 2019
**spoiler alert**
**spoiler alert**
**spoiler alert**


spoiler detected. and a lil bit my story.


aku pikir sakitnya piter bakal dibahas panjang disini. ternyata nggak seperti itu. harusnya aku bisa menebak sih, khas kak morra.
tulisan kak morra memang selalu membahas masalah-masalah yang kalau dilihat wajar terjadi. tapi namanya masalah, tetap bagaimanapun juga tidak seharusnya terjadi. aku sudah pernah membacaca dua novel kak morra yang lain, forgiven dan notasi. novel kali sama seperti kedua novel tersebut, bedanya tema yang diangkat kak morra pada what if.
kak morra mengangkat tema cinta beda agama. simple. but, yaah, menyakitkan, setidaknya bagiku. karena aku mengalaminya, sedang mengalaminya. *malah curhat*.
aku tak menangis ketika larangan-larangan ibu piter kepada kamila. begitupun larangan ayah kamila. aku juga tak menangis saat membaca piter sakit. mungkin kalau seandainya piter meninggal seperti will (novel forgiven), mungkin aku tak sesedih itu.
aku justru menangis karena cinta beda agama. bagaimana kamila face perbedaan itu. bagaimana konflik batin yang dialami kamila. karena aku juga merasakannya. bedanya aku tak menjalin hubungan seperti kamila, aku tau aku tak bisa bersamanya tapi biarkan aku mencintanya, biarkan aku pergi saja dengan menanggung perasaan ini. karena aku tak tau jawaban atas pertanyaan mengapa sekarang bersamanya, kalau sudah jelas nanti tak mungkin bersama. seperti kamila sebenarnya, tapi kamila tetap bersama piter hingga janjinya. karena, yah, kita memang selalu ingin bersama dengan orang yang kita sayang, kita selalu ingin berada di dekatnya. aku tau karena itulah kamila masih bersama piter.
aku juga ingin seperti kamila, tapi aku tak sanggup apabila mengingat kenyataan akan jurang yang menghadang. dan itulah mengapa ketika kamila mengingat jurang itu, aku ikut merasa sedih.
*aku malah beneran curhat, haahaa. sorry.*
balik ke awal.
awal aku membeli buku ini agak kecewa karena tipis. tapi setelah selesai membaca, aku merasa porsinya sudah pas. apabila lebih panjang lagi akan menjadi memuakkan.
akhir buku piter dan kamila tak bersama. yaah, sudah diduga. sama seperti finn dan anjani. mereka memang masih saling mencintai, tapi sejak awal memang sudah berbeda jalan. jadi yah, harus berpisah karena memang tak sanggup dan tak bisa kalau dipaksakan harus sejalan. memang harus sadar sih dan harus rela. dan mungkin dengan hati yang sedikit berdarah, ralat banyak.
tiba-tiba lupa mau nulis apa lagi. haahaa. nanti deh kalau sudah mengingatnya akan dilanjut lagi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Red.
18 reviews2 followers
January 27, 2016
Awalnya sebenarnya saya agak ragu untuk membaca karya Mba Morra yang terakhir ini, dengan alasan PASTI AKU BAKALAN BAPER lagi...
Dan ternyata alasan aku terbukti TERPAMPANG DENGAN NYATA DI LUAS CAKRAWALA INI..

Mba Morra selalu menamatkan bukunya dengan menggantungan ceritanya di langit malam (halaaahh...opo tho iki) dan Saya harus ikhlas merelakan Jupiter danKamila berakhir. Entah akhir yang bahagia ataupun sedih, sepertinya Mba Morra ingin menyerahkan itu semua kepada pembacanya.


WHAT IF adalah cerita yang ada di sebelah kanan kiri kita, dimana kita hidup di negara dengan kekayaan berupa keanekaragaman adat, budaya dan bahkan agama. Sudah barang tentu antara yang satu dengan yang lainnya akan bersinggungan. Tapi bukan persinggungan yang diangkat melainkan ketertarikan akan perbedaan yang sangat pula mungkin terjadi di negara ini, dan salah satunya diangkat dalam cerita ini.

Kamila, seorang "anal" yang tidak bisa tidak menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan (meski bukan untuk dirinya), karena keyakinannya bahwa sesungguhnya sebagai pemuda itu pasti haus akan pengetahuan. Namun tidak dengan keyakinannya terhadap lelaki yang secara tidak sadar sudah dicintainya diam-diam, yang akhirnya dia lepaskan dengan satu tetes air mata dan kebisuan.

Jupiter, seorang "visual dan kinestetik" dengan mata cokelat indah, yang rajin tidak menyentuh bangku di ruang kuliah yang seharusnya didatanginya. Ia lihai menempatkan diri dan perasaannya saat berhadapan dengan perempuan selama ini. Sampai suatu hari Ia yakin telah melihat satu tetes air mata jatuh dari mata seorang wanita dan merubah isi hatinya selama ini.

Kamila dan Jupiter bertemu siang hari di lapangan basket kampus Fisipol salah satu universitas di Jakarta. Kisah mereka dimulai setelah saling memberitahu nama satu sama lain dan berlanjut sampai kinerja Printer Canon yang lambat untuk mencetak hasil pemikiran Jupiter, demi rangkaian nomor handphone milik Kamila.

Mba Morra, aku ngga sanggup nerusin review ini, karena ketulusan hati dan cinta yang dirangkai di sini terlalu indah. Terimakasih Mba Morra telah menyuguhkan Jupiter dan Kamila untuk jagad raya ini..
Profile Image for Anna.
59 reviews
October 3, 2015
Yah, pada akhirnya akan sampai juga di halaman terakhir. Dan yup, well done!
Kesan pertama: wah!
Terlalu banyak kata pujian untuk novel ini sampai-sampai sulit untuk ngungkapin semuanya. Intinya, good! very good! nice! (jiah ujungnya banyak juga)
Hampir semuanya saya suka, ide cerita, tema, nama tokoh, karakter tokoh, latar cerita, dan yang paling menarik adalah cara Kak Morra untuk menjelaskan detail latar waktu, suasana, dan tempatnya yg sangat "menarik", "cantik", "genius", ah pokoknya saya jatuh cintaaa. Mungkin di buku lain oleh pengarang lain saya pernah menyuarakan keberatan untuk menyentil tema agama. Tapi di novel ini, karena memang fokus utamanya itu, saya justru sangat suka. Kak Morra menampilkan masalah yg memang kita hadapi sekarang di masyarakat kita. Namun bagusnya, Kak Morra berhasil membuat cerita ini jauh dari kata berat sebelah atau memihak salah satu. Bahkan masing-masing agama disuguhkan dengan kondisinya masing-masing yg sederhana, apa adanya, jujur, tapi indah. Bahkan saya sangat menyukai part cerita tentang malaikat Mikail yg mengekang matahari. Ah, betapa cantiknya cerita ini.
Dan yg terpenting, eksekusi ceritanya lagi-lagi memuaskan dan pas. Saya baru menyadari ini, dari semua buku Kak Morra, semua tokoh utamanya ternyata tidak digariskan untuk bertemu di ujung cerita (maaf saya agak lupa dengan Believe) tapi anehnya, saya justru lebih menyukai eksekusi itu, sejauh ini saya justru mendukung setiap ending yg diberikan Kak Morra pada tiap tokohnya. Semuanya terasa pas dan adil.
Soooo, saya tunggu buku berikutnya ya Kak :). Good job! Really beautiful story ;)
Profile Image for Heryani.
120 reviews22 followers
December 27, 2015
Udah excited banget sejak Kak Morra ngumumin soal novel terbarunya ini, langsung dilahap selama 3-4 jam perjalanan Bandung-Jakarta Idul Adha kemarin :D Dan tulisan Kak Morra memang nggak pernah ngecewain! Suka suka sukaa ceritanya..

Awalnya sama sekali nggak kepikiran tema besarnya ternyata seperti itu. Pas baca prolog sama bab 1 di blog Kak Morra juga belum kepikiran, makanya kejutan sekali. Ini pertama kalinya baca novel dengan tema seperti ini, dan aku suka. Suka cara pengeksekusian ala Kak Morra, dengan tutur kata yang indah dan bikin terhanyut. Suka karakter-karakter yang diciptakan Kak Morra. Kamila Si Anal, asisten dosen yang jenius, Jupiter si bad boy yang rela menyeberang jauh demi cewek yang dia cintai, dan terutama, aku suka Finn yang santun tapi kadang bisa lucu tanpa diduga2. Disini juga kerasa sedikit nuansa Notasi, dengan isu-isu politiknya di kampus, dan pemilihan ketua BEM. Btw agak gimanaa gitu sama si Ali Akbar :P

Makasih Kak Morra udah nulis cerita yang indah ini. Semoga yang berikutnya nggak terlalu lama ya Kak :P

(Oiya suka banget sama nama panjangnya Piter, Jupiter Europa :p)

full review: http://twocappuccinosaday.blogspot.co...
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
July 17, 2016
Waow... Endingnya. Aku nggak suka endingnya. Tapi aku suka ceritanya. I love it. Tapi kurasa itu memang akhir yg terbaik untuk mereka. Oh My God. I hate it.

Kak Morraaaa, please bikin ending yg bahagia sekali2 :))
Profile Image for mollusskka.
250 reviews158 followers
March 13, 2020
Kisah cinta beda agama. Ada politik kampusnya. Lumayan deh dapet sisipan ilmu politik (kalau nggak salah. Maaf lupa tepatnya, udah lama bacanya :D)
Profile Image for Wulan Kenanga.
39 reviews1 follower
October 13, 2015
setelah membaca tiga karya sebelumnya, saya sudah menebak endingnya "ending yang tidak diharapkan pembaca" tapi saya suka ceritanya... tulisan Kak Morra selalu berani, lugas, dan cerdas.
Profile Image for miaaa.
482 reviews419 followers
December 28, 2016
Somehow reading Morra's book is my Christmas tradition, or well Year End tradition. As usual her writing had me at the awe, interesting topic and strong characters. I adore strong characters.
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
March 30, 2019
2,5 bintang. saya gabisa baca novel ini dalam waktu singkat. pernah dulu baca, tapi berhenti bertahun-tahun. baca lagi, berhenti lagi berbulan-bulan. akhirnya (AKHIRNYA) sekarang selesai. trus saya gangerti sebenarnya novel ini ceritanya tentang apa. cinta beda agama, oke, tapi plotnya meleber ke mana-mana sampai saya ngerasa ada banyak hal lain juga yang diceritakan, tapi gangerti fokusnya ke mana. di belakang-belakang yang diceritain bukan Kamila-Piter lagi, melainkan Kamila sama Finn. ada Ali Akbar juga. ada Om Pram juga. Piternya jadi dikit.

saya ngerasanya cerita meleber karena narasi mbak Morra yang... meleber. ada begitu banyak yang ditulis mbak Morra di sini, tapi saya ngga begitu menikmatinya karena yang sebenarnya pengin saya baca adalah roman yang plotnya... apa ya namanya... lurus aja gitu di antara Kamila dan Piter. ngga bercabang-cabang. bercabang pun ngga terlalu jauh, masih seputar Kamila sama Piter aja. kayak, beberapa kali dituliskan Kamila sebenarnya cinta banget sama Piter, tapi kesannya jadi ya gitu doang, karena Kamila ngga berbuat banyak. i mean, action-nya ngga banyak. i was expecting more actions, more actions than thoughts, but thoughts all i got.

selain itu, tata paragraf (?) di novel ini repetitif sekali. paragraf panjang, paragraf panjang, paragraf panjang yang penuh detail dan mendayu-dayu, lalu disela paragraf pendek yang terdiri atas satu kalimat tok, yang sering kali diawali dengan "namun". setelah itu paragraf-paragraf panjang lagi. begituuuuu terus. jenuh jadinya. malah lama-lama jadi terganggu juga ahahaha.... TAPI, detail mbak Morra bener-bener bagus. like, BAGUS BANGET. saya belajar banyak kosakata baru, sudut pandang penceritaan yang belum pernah saya pikirkan, dan penulisan gagasan-gagasan yang rapi dan teratur. ini yang paling saya suka dari novel ini. kalau dipikir-pikir lagi, saya gapernah gasuka tulisan mbak Morra. tapi, kalau ceritanya Kamila-Piter ini? umm, not so much.

2,5 bintang dibulatkan jadi 3 aja gapapa, ya. i really struggled to get this far. daripada DNF :')
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Septa.
99 reviews2 followers
February 7, 2024
satu kata buat novel ini, SWEET AF. aaaaa kyut banget plus manis gitu loo. sweetnya tuh bukan yang alay lebay berlebihan gitu, tapi takarannya pas untuk novel sweet yang natural gitu.

sebenarnya, tau novel ini dari seorang penulis kak bayu permana, yang di dalam SGnya sering kali menyebutkan novel ini sebagai novel favoritnya. alhasil ikut penasaran dengan novel ini.

tapi, aku tau itu udah mulai dari tahun 2018. dan pernah waktu itu baca sekilas, and ga matches gtu di aku, gatau sulit aja dulu buat paham alurnya. dan di tahun 2022 ini aku kembali mencoba buat baca, WELL TERNYATA MANIS BANGETTTTT. mungkin karena sekarang juga sudah anak kuliahan jadi bisa dipahami alur dan plotnya, karena relateable gtu.

jujur aja, aku ga begitu suka dengan kisah cinta yang cowoknya lebih muda dari si cewek, dan entah mengapa novel ini merusak perspektifku tentang kisah cinta yang seperti itu di otakku, hingga aku pun berpikir “ternyata kisah cinta yang kayak gitu not bad juga”

ini juga pengalaman pertamaku membaca novel fiksi dengan tema beda keyakinan. sebelumnya, belum pernah atau nggak terlalu tertarik dengan tema yang seperti itu. karena, belum pernah ngerasain mungkin dan tidak terlalu membuat imajinasiku tergugah.

untuk bagian yang kurang aku sukai ada di plot dan penggambaran suasana dalam novelnya. mungkin, untuk orang yang terbiasa membaca novel dengan diksi yang banyak, buku ini malah akan menjadi sangat menarik, namun itu berbeda denganku yang kurang familier dengan diksi yang seperti ini, terlalu sulit buat dipahami. terkadang, ketika membaca satu paragraf yang diksinya itu banyak, aku harus kembali membaca ulang paragrafnya karena sesulit itu untuk dicerna oleh otak ini.

Profile Image for Nindya Chitra.
Author 1 book22 followers
July 6, 2025
Bahasanya indah dan sangat visual. Di awal aku agak kesulitan masuk ke ceritanya karena aku cenderung auditori dan sedang kesulitan masuk ke ranah visual rasa-ini alasan pribadi-jadi agak sulit memahami bacaan, yang mana kadang perlu kuulang beberapa kali supaya paham. Namun, menuju pertengahan dan sampai habis, aku sangat menikmati dan mendalami kisah indah ini.

Hanya satu yang agak membuat kurang sreg: pilihan Finn dan Kamila untuk datang ke kampus tengah malam untuk esai Piter. Mengingat kepribadian Kamila yang cenderung anal, aku rasa akan lebih cocok penyelesaian yang direct di bagian ini. Cetak saja esai Piter lalu sampaikan baik-baik ke Bu Miranda, jadi nggak perlu ada drama atau kekacauan. Hehe. Tapi mungkin jika begitu nggak akan terasa greget, ya.

Sama ending yang diselesaikan dari sudut pandang Finn, juga terasa 'ngawang' bagiku. Manis, tapi akan lebih nyelekit seandainya ada momen Piter dan Kamila bicara dari hati ke hati sekali lagi. Lebih direct.

Terlepas semua yang kurang direct itu, aku menikmati kisah ini. Aku rekomendasikan novel ini buat kamu yang tertarik baca cerita cinta beda agama dengan balutan kehidupan perkuliahan dan politik.

note: entah kebetulan atau gimana. di novel ini dibahas teori multiple intelligence. pas banget aku lagi belajar memahami tipe kecerdasanku. hehe.
Profile Image for Andina Firdaus.
32 reviews
October 21, 2025
Sejak awal, mereka perlu berbeda. Mereka memang seharusnya berbeda. Sebab adakalanya itulah yang dibutuhkan manusia untuk menyadari seluas apa hati mereka. Itulah yang mereka butuhkan untuk tahu; sebesar apa hati sanggup mencintai. - hal. 278

Ini novel pertama Morra Quatro yang kubaca setelah menyadari kalau ini ditulis oleh pengarang yang sama dengan novel Notasi (aku belum baca tapi ini novel kan happening sekali ya!)

Untuk pertama kalinya senang dengan kisah romansa anak kuliah yang beda agama, dengan ending yang juga aku suka. Penceritaannya juga menarik. Ada Finn yang disorot di awal cerita, yang kukira tokoh utama. Ternyata dia semacam pengamat yang punya cerita mirip dengan Kamila dan Jupiter:' tapi sangat sangat mencuri perhatian~

Dan aku turut senang bersama Kamila karena Ali Akbar kalah!!!! Jujur, cukup tertarik sama cerita politik kampusnya selama pemilihan. Kirain bakalan dibahas lebih lagi, tapi udah segitu aja.
6 reviews1 follower
February 20, 2019
Karya Kak Morra! Siapa yang sudah baca What If? Hmm bagiku kisah yang diangkat dalam novel ini sensitif. Tentang kisah cinta beda agama. Tapi seperti biasa, penulis bisa membawakannya dengan apik. Meskipun di awal —baru beberapa halaman, saya sedikit bosan hehehe tapi setelah saya lanjutkan, saya jadi menyesal karena baru menyelesaikan buku itu.

Narasinya khas penulis, menceritakan tentang Kamila dan Piter yang mencoba bertahan diatas perbedaan. Perbedaan yang tidak nampak namun sangat menyakitkan untuk disadari. Saya bahkan nggak habis pikir, penulis bisa membawakannya dengan baik padahal kisahnya sensitif —tapi tak urung, saya jadi suka dengan karakter cerita ini. Selesai saya baca buku ini, berkali-kali saya tertegun. Gimana bisa sih, buku ini sebagus itu... 😌

Sukses terus untuk Kak Morra😍😍

Displaying 1 - 30 of 86 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.