Ketika pada tahun 1909 Jan van Mees membangun rumah impiannya di desa Ngadisari dengan latar belakang Gunung Bromo, ia tidak membayangkan bahwa rumah itu akan menjadi tempat terjadinya begitu banyak tragedi. Masa berlalu.... Di tengah-tengah kebun belakang rumah ini, yang panjangnya sekitar tujuh puluh meter, terdapat sebuah kolam yang dinaungi dua batang pohon besar. Dan pada suatu senja mereka menemukan sesosok mayat terapung di sana... inilah permulaan serangkaian kejadian di Weltevreden. Kelima orang anak, dua orang menantu, dan tujuh orang cucu Pak Sosro sedang berada di rumah itu untuk merayakan ulang tahunnya dan mendengarkan pembagian warisannya. Tiba-tiba anak sulung Pak Sosro yang menerima bagian warisan terbesar ditemukan tidak bernyawa. Siapakah yang telah membunuhnya? Kosasih dan Gozali yang datang ke Weltevreden ternyata mendapatkan terlalu banyak tersangka. Seorang perawan tua yang sempat bertengkar dengan korban beberapa jam sebelum kematiannya, seorang kemenakan cacat yang pernah mau memukul kepala korban dengan alu, seorang adik yang akan mewarisi seluruh hak korban jika ia meninggal, dan seorang perempuan muda yang menjalin hubungan gelap dengan korban. Pengurustan belum lagi selesai ketika menyusul musibah kedua dan ketiga. Salah satu dari mereka yang sekarang berada di Weltevreden ini pasti adalah orang yang mengakibatkan semua kematian ini. Salah satu -tapi siapa?
Berawal dari menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya, Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984 (diterbitkan tahun 1985). Tokoh yang diciptakannya adalah seorang kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Sejak itu novel-novel tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali, dalam melacak para kriminal mengalir terus. S. Mara Gd memadukan logika dan humor dalam bahasa sehari-hari yang menarik, di sana-sini diwarnai oleh dialog Suroboyo-an. Lokasi ceritanya umumnya mengambil tempat di Surabaya dan sekitarnya.
*masih dalam rangka bernostalgia dengan bacaan semasa SD*
Untuk siapa saja yang melihat kover novel ini dan mungkin membayangkan kisah pembunuhan supermodel dengan TKP di kolam renang, di sini aku bersaksi kalau itu semua tidak benar! (≧▽≦) Wkwkk, jadi keinget dulu pernah ngobrol soal ilustrasi kover yang kadang-kadang menyimpang~ Yah, bisa juga kovernya dijadikan sebagai pemikat, ya ( ´ ▽ ` ) Masalah nanti si pembaca setelah tamat menutup buku, berpaling kembali ke kover dan berseru, "Lalu kamu siapaah?!" itu urusan lain lagi 。゚( ゚^∀^) ゚。
Buatku yang masih anak-anak, dulu cerita ini rasanya seram. Setelah dibaca ulang, aku bener-bener menikmati suasana pedesaan yang ditampilkan, juga kerusuhan keluarga besar yang rebutan warisan tapi dengan nuansa lokal.
Buku yang menarik dengan akhir yang menarik juga, disini novel ini saya baru tahu latar belakang Gozali sepeti apa dahulunya sebelum bekerjasama dengan kapten polisi Kosasih dalam menangani berbagai macam kasus pembunuhan dan yang kedua saya suka akhir ceritanya yang benar-benar memuaskan.
Buku ini patut dibaca bagi orang yg menyukai cerita detektif terlebih lagi ini merupakan salah satu novel detektif buatan penulis indonesia.
Buku ke-5 serial Kapten Polisi Kosasih dan Gozali ini jujur bikin saya cukup puas. Secara cerita, ini salah satu yang transisinya paling enak. Karakter yang muncul lumayan banyak, tapi penyajiannya halus, nggak bikin bingung. Dan setiap perpindahan adegannya terasa natural. Ditambah lagi ada denah rumah Kakek Sosro di awal halaman awal, itu lifesaver banget sih. Jadi gampang bayangin siapa di mana, kamar mana nyambung ke ruang apa, vibesnya langsung kebangun.
Ngomong-ngomong soal rumah Kakek Sosro, walahh saya jatuh cinta.
Rumah besar “Weltevreden” itu beneran terasa hidup. Namanya aja artinya “tenang dan puas”, dan jujur, saya ngerasa vibes itu dari halaman-halaman awal. Saya kebayang suasana rumahnya pasti adem, asri, halaman luas, pemandangan hijau, dan arsitektur rumah Belanda kuno yang elegan. Baca deskripsinya bikin saya mikir, “Duh, enak banget jadi cucunya.” Bayangin liburan di sana, jogging, ngemil, makan enak, tidur siang, lanjut santai sore sambil lihat pemandangan. Kalau ini bukan novel thriller, sumpah, ini bisa jadi novel slice of life yang cozy dan healing calming gitu.
Yang bikin saya lumayan surprise kali ini adalah karakter Kosasih. Biasanya saya lihat dia sebagai sosok yang konservatif, kaku, gampang nge-judge dan taat aturan. Tapi di sini dia lebih moderat, lebih rasional, bahkan bisa mengakui kesalahan.
Dia mau dengerin pendapat orang lain-termasuk yang bertolak belakang sama pemikirannya. Sisi sebagai seorang ayah pun dibuat hangat banget. Untuk ukuran tahun 1985, hubungan Kosasih dengan anak-anaknya surprisingly egaliter. Dia sayang, dia dengerin, dia support anak-anaknya. Keliatan banget kalau dia bukan cuma polisi, tapi juga ayah yang hadir.
Soal misteri? Lumayan. Saya sempat curiga ke orang yang salah sampai pada pertengahan cerita, baru deh saya ngeh sama pelaku sebenarnya. Nggak yang mind blowing banget, tapi cukup buat bikin saya betah ngikutin alurnya sampai selesai.
Secara keseluruhan, buku ini punya keseimbangan cerita, karakter, dan atmosfer yang bikin bacaannya enak. Dan jujur, rumah Weltevreden itu highlight pribadi saya. Rasanya sampai pengen ditarik masuk ke cerita biar bisa numpang tinggal sebentar. Siapa tau dapat jatah warisan juga.
Rumah Weltevreden yang tenang di Desa Ngadisari menjadi heboh saat anak sulung Pak Sosro ditemukan meninggal di sebuah kolam yang dangkal. Para anggota keluarga yang datang untuk merayakan ulang tahun Pak Sosro, sekaligus mendengarkan pembacaan surat warisan, menjadi saling curiga satu sama lain. Apalagi sebelum kematiannya terjadi, Hadi mengakibatkan serangkaian rahasia besar keluarga itu timbul ke permukaan. Belum selesai pengungkapan kasus Hadi, satu mayat lagi ditemukan di hutan.
Saya membuka tahun 2023 ini dengan membaca novel detektif. Kisah Kosasih dan Gozali yang satu ini terasa begitu kental dengan nuansa Agatha Christie-nya. Kasus pembunuhan di sebuah desa kecil yang melibatkan sebuah keluarga kaya, pembagian harta, cinta masa lalu, anggota keluarga yang penuh warna, hingga para pembantu yang selalu pasang mata dan telinga. Di sini juga ada plot tambahan dengan Kosasih yang "cemburu" karena anaknya Bambang tampaknya jatuh hati dengan salah satu cucu Pak Sosro.
Ceritanya cukup menarik dengan perpaduan kisah misteri dan cinta masa lalu salah satu karakternya. Hanya saja mungkin ada beberapa tokoh yang bisa lebih ditonjolkan lagi ke permukaan sehingga bisa memberikan efek yang lebih besar saat penyelesaian kasus terungkap.
Ketebak sejak pembunuhan kedua, tapi tetap enak dibaca. Lagian seru membayangkan lokasi kejadiannya. Cuma heran aja pas lihat denah rumah itu, dengan 10 kamar tidur plus 1 master bedroom plus 2 kamar pembantu di belakang, masa kamar mandinya cuma 1? OK, gagal fokus, abaikan.
Sangat kaget dengan penemuan dari sosok pembunuh karena tak terduga. Namun, cerita tentang keterlibatan si pembunuh dalam buku ini sangat kurang. Seharusnya, ada lebih banyak penceritaan terkait sosok pembunuh ini.
Yang bikin semua cerita detektif S. Mara Gd jadi favorit sampai detik ini: 1. Setting tempatnya sekitar Jawa Timur, yang otomatis, bikin imajinasi tempatnya lebih gampang. 2. Korbannya lebih dari satu. Ini seru! Bikin makin penasaran siapa yang sebegitu berdarah dingin dan bunuh banyak orang. 3. Ada daftar nama dan gambaran singkat dari tiap tokoh. Jadi nggak ada yang tiba-tiba nongol tanpa diundang. Karakter tiap tokoh juga kuat.
Tapi dari keseluruhan cerita ini, malah dibuat penasaran sama bentuk TKP, Weltevreden. Di ceritanya ditulis ada di Desa Ngadisari, daerah gunung Bromo. Itu rumahnya kalau beneran ada, pasti keren bangeeettt... oke, ini galfok.