Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani

Rate this book
Bercerita tentang kepedihan hidup wanita suku Dani di Papua. Garis hidup yang bernama adat telah meminggirkan segala hak akan kenyamanan hidup dan menjalani segala pilihan dengan bebas. Keindahan lembah Baliem yang digambarkan dengan hijaunya hutan perawan yang selalu berselimut kabut putih tipis serta honai dan silimo yang bergerumbul bak cendawan di musim hujan tak mampu menutup luka hati akibat penindasan hidup atas nama adat kepada kaum perempuannya.

252 pages, Paperback

First published January 1, 2007

7 people are currently reading
72 people want to read

About the author

Dewi Linggasari

3 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (40%)
4 stars
9 (36%)
3 stars
4 (16%)
2 stars
2 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Anisa Nisa.
6 reviews1 follower
August 26, 2010
bukunya bagus,.
Kisah perempuan suku Dani yg harus rela mananggung hidup suami & anak setelah dia menikah, (bekerja banting tulang, tunduk pada suami, derajad sangad rendah) di karenakan peraturan adat yg kental dan berada di wilayah pedalaman yg sangad jauh dari kehidupan modern
Profile Image for Anni .
106 reviews5 followers
February 14, 2009
Buku ini (juga) milik sahabatku Atticus. Ketidakadilan. Namun harusnya Sali bisa melawan dengan cara lain.
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
September 4, 2022
Membaca novel etnografi ini dengan amarah dan kekesalan yang memuncak bikin saya lelah dan jenuh sekaligus. Terlalu banyak trigger warning, terlalu banyak hal yang mengganggu dan bikin emosi sampai-sampai saya jadi nggak menemukan hal yang menarik dari novel ini selain lokalitas dan adat yang ditonjolkan, diiringi dengan masalah-masalah yang muncul di dalamnya. Saya tahu, novel yang mengangkat isu-isu feminisme memang selalu mengobjektifikasi tokoh perempuannya, tapi dengan nggak adanya 'penyeimbang' yang jelas (dalam hal ini, perlawanan terhadap adat juga saya rasa belum cukup), justru menjadikan novel ini agak berat sebelah.

Seperti kutipan berikut ”Adat kita membenarkan seorang laki-laki yang kehilangan istrinya, menikah dengan adik kandungnya. Hal itu berarti, dapatlah kiranya aku menikahimu dan Liwa dapat pula menjadi anak tirimu”, Kugara menatap Liwa dengan penuh permohonan. (Sali:29) yang mana semua orang tahu bahwa adat memang nggak bisa diganggu gugat.

"Lah iya novel feminis ya tokoh perempuannya harus diinjak-injak, kalau nggak namanya ya bukan novel feminis. Apa yang mau diperjuangkan?", mungkin begitu yang orang lain akan katakan untuk menyanggah pendapat saya soal keberatsebelahan Sali. Oleh karena buku ini dicetak secara terbatas, terbitan lama, nggak seterkenal novel etnografi lain yang ternama, dan jarang mendapat sorotan publik, saya mengakui memang hanya mahasiswa sastra, antropologi, dan sosiologi saja yang benar-benar membaca dan mengkajinya secara akademik. Saya juga menghargai latar belakang pendidikan Dewi Linggasari, si penulis, yang memang memiliki pengalaman dan pengetahuan soal Suku Dani. Namun, kembali pada fakta saya merasa bosan membacanya adalah karena keberatsebelahan itu.

Untuk bahan kajian, tentu novel ini adalah novel yang mudah. Temuan fakta-fakta dan narasi yang sesuai dengan teori sangat banyak. Utamanya, masalah feminisme. Banyak hasil dari analisis gender novel Sali ini menunjukkan bahwa tokoh utama mengalami marginalisasi, subordinasi, sterotipe, kekerasan, dan beban kerja. Memuakkan bagi pembaca awam, surga bagi peneliti. Kekontradiktifan ini bikin saya jadi memutuskan untuk memberi bintang tiga. Selebihnya, soal penokohan, alur, dan unsur strukturalisme lainnya masih lumayan oke. Oh iya, ada satu highlight penting yang bisa menjadi semacam warning utamanya bagi pegiat hak asasi manusia, aktivis perempuan, hingga masyarakat adat sendiri: soal pemerkosaan dalam perkawinan.

Ada dalam kutipan berikut: Setiap malam ketika Kugara mengunjunginya di dalam honai. Lapina hanya memejamkan mata. Ada rasa sakit yang menyentak, karena ia kehilangan hak akan kebebasan diri. Lapina ingin menjauh, tetapi ia tak tahu kemana harus berlari. Ruangan di dalam honai itu terlalu sempit untuk mengelak dari belenggu adat. (Sali:31)

Kalau di novel etnografi lain, beberapa terobosan baru soal adat sudah mulai dimunculkan, sementara dalam Sali, baru terlihat dari semangat menentang tokoh-tokohnya. Pergerakan yang sudah lumayan, tapi tetap harus dicermati lamat-lamat apalagi oleh pembaca yang kurang melek isu gender.
1 review
Currently reading
October 17, 2019
saya terinspirasi dn sangat kagum dengan kekuatan jiwa seorang perempuan suku Dani namun bentuk pertanyaan muncul sampai kapan hal ini terjadi,,,adakah waktu di mana mereka BEBAS atau adakah bentuk KEBEBASAN yang mereka alami meski kenyataannya tidak......
Profile Image for Tio.
30 reviews3 followers
January 22, 2008
Keren abis.. gw bisa ikut merasakan gimana menderitanya wanita - wanita suku dani yang harus berjuang sendirian untuk anak,suami dan dirinya, karena telah di beli dengan 20 ekor babi.Dan perjuangan kaum papua yang masih terbelakang begitu besar ingin maju,hanya karena "Beliau - Beliau" di kota lebih mementingkan perutnya sendiri.

Profile Image for Wa Ode.
1 review
Read
November 10, 2015
gimana caranya bisa baca novelnya??? sy tdk bisa buka atau membaca novel sali ini??
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.