Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ceremony: Novel

Rate this book
A coming-of-age tale, a tapestry of erotic and tragic liaisons, a dreamscape of nightmare and wonders, the novel "Ceremony," is above all, a paean to the ceremony-rich life of the Benuaq Dayak people of Kalimantan. This post-modern novel took the Indonesian literary scene by storm when it won the Jakarta Arts Council's novel writing competition award in 1976. The author, relatively unknown when he received the award, went on to establish himself as one of Indonesia's major literary figures. After almost four decades, "Ceremony" retains its power to thrill, awe, and mystify readers.

164 pages, Paperback

First published January 1, 1978

20 people are currently reading
235 people want to read

About the author

Korrie Layun Rampan

57 books18 followers
Korrie Layun Rampan lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Semasa muda, Korrie lama tinggal di Yogyakarta untuk berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini telah lahir sejumlah sastrawan ternama seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Iman Budhi Santosa, Naning Indratni, Sri Setya Rahayu Suhardi, Yudhistira A.N.M. Massardi, dll.

Pengalaman bekerja Korrie dimulai ketika pada 1978 ia bekerja di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sentawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di samping itu, ia juga mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Dalam Pemilu 2004 ia sempat duduk sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Kutai Barat, tetapi kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalegan. Oleh konstituen, ia dipercayakan mewakili rakyat di DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009. Di legislatif itu Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I.

Sebagai sastrawan, Korrie dikenal sebagai sastrawan yang kreatif. Berbagai karya telah ditulisnya, seperti novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia.

Novelnya, anatara lain, Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di sekolah dan perguruan tinggi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (25%)
4 stars
33 (32%)
3 stars
30 (29%)
2 stars
8 (7%)
1 star
6 (5%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Tomi Pakei.
54 reviews2 followers
September 11, 2013
Kontemplatif, berani
Sebetulnya ceritanya sederhana. Seorang pemuda, punya pacar dan ingin kawin, yang kebetulan kesehatannya kurang baik. Lalu orang kampung (para tetua) berupaya menyembuhkannya. Yang sangat tidak biasa dari Upacara adalah, alih-alih mengikuti 'perjalanan fisik', kita justru lebih diajak untuk mengikuti 'perjalanan awareness' tokoh 'si Aku'--dari satu upacara ke upacara berikutnya. Suatu 'perjalanan ruh' yang [sering] tak terikat ruang dan waktu.

Sebuah cerita semimetafisik yang pada dasarnya tak hanya berkisah tentang 'si Aku' tetapi juga menggambarkan kronik universal tentang terdesaknya nilai-nilai (values).
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
April 25, 2016
"Upacara" bercerita tentang 'Aku' seorang laki-laki remaja (menuju dewasa) yang berasal dari Suku Dayak. Dalam kesehariannya, 'Aku', selayaknya penduduk dalam sukunya, melewati berbagai upacara yang merupakan kebudayaan dari Suku Dayak.

Satu hal yang menarik dari novel Korrie Layun Rampan ini, selain pendeskripsian upacaranya yang detail dan hidup, adalah bagaimana penulisnya menjadikan upacara-upacara itu sendiri sebagai kegiatan sentral dari kehidupan 'Aku'. Kalau mengutip Dodong Djiwapradja, salah satu juri lomba Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1976, "'kehidupan biasa' seolah-olah hanya merupakan selingan dari upacara." (hal. xvi).

Korrie Layun Rampan dengan santai menggabungkan mistisisme yang ada di lingkungan tempat 'Aku' tinggal, yang sifatnya tidak hanya berupa kepercayaan, tapi juga lewat peristiwa ajaib yang pernah 'Aku' saksikan dan alami sendiri, dengan pemikiran 'Aku' yang sifatnya progresif.

Adat begini memang sudah mengarang. Mendarah-daging, sukar dilepas. Pembaharuan tak mudah apalagi kalau tak dibarengi peristiwa-peristiwa yang dapat mengundang simpati. (hal. 43-44)


Yang sedikit jadi pertanyaan buat saya adalah, darimana si 'Aku' memperoleh semua pengetahuan itu? Di salah satu bagian cerita, 'Aku' menceritakan keinginannya untuk membendung sungai dan membuat sebuah kincir air yang dapat dimanfaatkan orang-orang di desanya. Bagaimana si 'Aku' tahu tentang teknik ini? Apa dari interaksinya dengan Tuan Smith, seorang antropolog/arkeolog yang meneliti di desanya? Atau dari radio yang Tuan Smith tinggalkan? Atau bahkan dari para (kemungkinan) penebang liar yang menggunduli hutan sukunya?

Typo di versi yang saya baca banyak sekali. Sangat disayangkan mengingat ceritanya yang bagus diganggu oleh salah ketik di mana-mana.

Secara keseluruhan, "Upacara" adalah sebuah novel yang bagus. Tidak hanya karena penulisnya berhasil menggambarkan lima upacara yang ada di Suku Dayak, tapi juga karena kepiawaiannya untuk menghidupkan suasana dari upacara-upacara itu dan kehidupan si 'Aku' sebagai seorang Suku Dayak.
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
December 19, 2015
Dua hari ini baca beberapa buku kayak kejar setoran:D.
Buku ini sebetulnya agak membosankan bagiku, tapi harus kuakui memiliki muatan yang sangat bagus. Baru tahu kalau orang Dayak memiliki beragam upacara, yg kalau boleh dibilang di tiap sendi kehidupan mereka. Aku jadi berpikir bahwa sepertinya kehidupan mereka sarat dengan berbagai upacara adat yang memerlukan biaya tidak sedikit. Entah hal itu masih bertahan sampai sekarang atau tidak.
Oh iya, kisah cinta si tokoh utama ngenes banget. Untung aja novel ini ditutup dengan ending yang bagus.
Profile Image for Dwi Hermawan.
3 reviews
January 20, 2023
Ini adalah kisah tentang orang-orang suku Dayak pada masa sebelum Indonesia merdeka. Bukan, ini bukanlah kisah tentang penjajahan, meskipun dalam ceritanya ada orang asing masuk ke sana. Upacara berfokus pada kehidupan suku Dayak di pedalaman pulau Kalimantan.

Apa yang disampaikan benar-benar berbeda dari pandangan selama ini tentang suku Dayak. Ada hal-hal magis yang terdapat dalam novel ini, sama seperti banyak kata orang tentang suku Dayak yang didengar melalui orang lain.

Namun, Upacara benar-benar berbeda. Ceritanya dituturkan melalui hal yang berbeda. Seperti “aku” yang selalu menjalani upacara, cerita ini berjalan. Saya serasa berada di tengah-tengah orang-orang suku Dayak ketika membaca novel ini. Sederhana, detail, dan berbobot. Terutama mengenai hal yang berbau magis dalam upacara sendiri. Penulis mampu menyelaraskan antara kenyataan dengan sebuah khayalan dengan ciamik.

Bahasa dalam Upacara sangat puitis. Banyak penggunaan kata-kata yang jarang dipakai saat sekarang ini. Saya mesti bolak-balik KBBI supaya paham apa maksud dari sebuah kata dalam novelnya. Mengingat ini adalah novel keluaran 1978, adalah hal yang wajar jika ada kata-kata yang sangat jarang ada pada novel sekarang banyak di sana. Ada banyak kiasan dalam novel ini, sehingga terkesan berat. Namun, di situlah letak daya tarik Upacara.

Penggambaran tentang suku Dayak, alamnya, kehidupannya, dan upacaranya benar-benar rapi. Ceritanya disampaikan dengan runut. Bagaimana “aku” menjalani kehidupannya melalui upacara-upacara sedari kecil. Lalu tentang pandangan “aku” mengenai agama, alam, dan sosial adalah hal yang mampu pembaca juga kembali ikut mempertanyakan hal-hal tersebut.

Upacara termasuk ke dalam novel roman. Dan yang lebih penting, Upacara termasuk novel budaya Indonesia sendiri. Penjelasan mengenai suku Dayak adalah hal yang sangat menjadi daya tarik. Novel ini bisa menjadi jembatan bagi orang-orang yang ingin mendalami suku-suku yang ada di Indonesia, terlebih pada suku Dayak yang acap kali menjadi bahan perbincangan.

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi Anda yang menyukai hal-hal yang berbau kearifan local yang sangat kental. Terdapat banyak pelajaran yang bisa dimbil dalam Upacara. Atau bagi Anda yang mencari buku-buku inspiratif, Upacara sangat saya sarankan.
Profile Image for Bambang.
26 reviews1 follower
October 24, 2015
"yang beginikah hidup? begitu aku bertanya pada diriku sendiri. hanya siklus upacara demi upacara. atau hidup ini memang upacara itu sendiri?" (hal 100). penulis membawa pembaca (saya) pada rangkaian upacara-upacara dalam adat suku dayak. dirangkai dengan kisah percintaan anak muda, pencarian jati diri dan pencarian pasangan hidup sejati seorang lelaki dari suku dayak. mengunakan rangkaian kata yang amat puitis. "lalu apakah tujuan hidup? Datang. Ada. Lalu pergi. Hilang tak berbekas. Inikah yang dinamai hidup? kalau bukan, lalu yang bagaimanakah yang dinamai hidup? tetapi kalau ya?"
Profile Image for Lutfi Retno.
Author 2 books14 followers
September 30, 2011
baca buku ini gara2 lagi nyari2 referensi tentang masyarakat Dayak. Novel ini menarik karena latar budaya kuat banget. Kelihatan deh klo yang nulis deket sama lingkungan tadi. Sayangnya (pendapat pribadi lo) alurnya agak kepotong-potong. Trus dia cuma cerita tentang upacara-upacara yang dijalani seorang dayak selama hidup, tapi engga cerita gimana sih rasanya ngalamin upacara tadi?
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
September 27, 2010
Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan upacara-upacara dalam kebudayaan Dayak. Upacara tersebut dipimpin oleh seorang Balian,dukun kampung. Kehidupan dari tokoh 'aku' tidak terlepas dari satu upacara ke upacara lainnya.
Profile Image for Puspa.
168 reviews2 followers
August 10, 2020
"Yang beginikah hidup? Begitu aku bertanya pada diriku sendiri. Hanya siklus upacara demi upacara. Atau hidup ini memang upacara itu sendiri? (tokoh aku dalam "Upacara" bertanya pada dirinya sendiri)

Bagi suku Dayak, upacara memegang peranan penting dalam kehidupan. Sejak mereka dilahirkan ke dunia, upacara demi upacara mereka lalui hingga maut menjemput mereka. Upacara itu merekatkan mereka dengan pencipta, juga ke alam lainnya, alam yang tak kasat mata, namun memiliki kaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Adalah sosok aku yang merasa upacara demi upacara itu menyita sebagian waktunya. Ia telah mencicipi beragam upacara, upacara ngejakat ketika ia lahir; upacara tempong pusong saat tali pusarnya mengering, selanjutnya pada 40 hari usianya ia akan menjalani upacara ngenus. Upacara yang membawanya ke alam gaib, Anan La Lumut, merupakan perjalanan yang memperkaya batinnya. Ia menjalani 100 tantangan yang begitu berat dan hampir merengut nyawanya.

Ketika ia akhirnya kembali ke alam fana, ia merasa bersyukur. Tapi benaknya terus mempertanyakan makna upacara tersebut, benarkah upacara demi upacara tersebut dapat menolong kampung dan lingkungan sekitar tempat tinggalnya dari rongrongan orang asing yang terus membabati hutan dan meracuni gadis-gadis desa?

Tokoh aku telah mengalami berbagai penderitaan. Dua calon istrinya meninggal. Sedangkan desanya mulai mengalami perubahan dengan kedatangan orang-orang asing. Perubahan itu sebagian besar meninggalkan duka. Pohon-pohon mulai ditebang, gadis-gadis yang telah dinikahi secara adat kemudian ditinggalkan dengan bayi dalam kandungannya.

Saat ia mulai didesak untuk segera menikah, ia memikirkan banyak hal, termasuk masa depan. Batas-batas huma mereka semakin terdesak, banjir mulai lebih sering datang menggenangi huma sehingga mereka sering gagal panen. Tokoh aku kuatir mereka akan terus terdesak dan menjadi orang hutan,

---

Saya seperti menemukan harta karun ketika menemukan buku ini, "Upacara" karya Korrie Layun Rampan, sastrawan asal Samarinda. Buku ini diterbitkan kali pertama tahun 1978, kemudian menghilang, dan kembali dicetak oleh Dunia Pustaka Jaya pada tahun 2000. Buku ini kemudian diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2007 dan 2014.

Buku ini sebuah karya sastra yang luar biasa. Nuansa etniknya kental dan terasa magis. Membaca pengalaman sosok aku ini maka sebagai pembaca saya pun seperti ikut berkelana menyelami perjalanan batin dan merasai kehidupan suku Dayak di sekitar sungai Mahakam, yang terpencil pada saat itu.

Pembaca diperkenalkan dengan budaya masyarakat Dayak yang unik dan menggambarkan harmonisasi antara alam dan kehidupan sehari-hari. Mereka begitu menghargai alam dan menganggap burung gagak, rangkong, dan punai, sebagai dewa-dewa, dengan dewa tertinggi adalah Laleya. Ketika membaca bagian ini saya jadi merasa begitu sedih teringat akan nasib burung rangkong yang sekarang masuk satwa langka karena ditangkapi dan diburu oleh oknum.

Korrie dengan gaya bahasa yang puitis mengajak pembaca menyaksikan upacara demi upacara yang dipimpin oleh balian. Upacara satu dan lainnya tak sama. Upacara ini dipersiapkan dengan cermat dan dibiayai secara gotong-royong oleh setiap penghuni bilik di lamin -- rumah panjang suku Dayak -- karena biayanya yang tinggi dan berlangsung berhari-hari.

Novel ini tak hanya mengupas tentang upacara, tapi juga percintaan muda-mudi, kehidupan sehari-hari, juga ancaman yang mereka rasai dengan kehadiran orang asing. Buku ini dibuat sejak tahun 1974 oleh Korrie dan pada tahun tersebut mereka telah mulai merasa terdesak oleh orang-orang asing. Saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka saat ini ketika hutan Kalimantan semakin gundul dan rimba banyak berganti perkebunan dan pertambangan.

Novel "Upacara" ini menurutku salah satu karya sastra yang brilian. Pembaca tak hanya dihibur oleh diksi yang memikat, namun juga diberi tambahan wawasan akan budaya suku Dayak yang jarang didapatkan di sekolah.

Ulasan juga tayang di: https://thr.kompasiana.com/dewi_puspa...
1 review
July 19, 2018
Novel ini mengentarkan kita pada imajinasi tingkat tingga pada sebuah kehidupan masyarakat daerah yang unik. ada hal yang mencekam, menegangkan, namun penuh kejutan. peristiwa sederhana yang unik ini menjadikan sebuah dunia kehidupan baru tercipta dalam imajinasi masyarakat modern. Upaya "kembali" pada keindonesiaan dapat terwujud juga melalui pembacaan pada novel ini.
Sungguh, sesuatu yang luar biasa dihadirkan oleh Korrie Layun Rampan melalui bahasa-bahasa sederhana yang mampu menggiring imajinasi pembacanya.

Meskipun novel ini telah lama diciptakan dan saya pun sudah lebih dari dua puluh tahun lalu menikmati, membacanya kembali saat ini menjadikan hadirnya keindahan baru. Jadi, novel i9ni merupakan keindahan budaya lokal yang tak usang.
Profile Image for Reisa.
62 reviews
January 9, 2019
Novel tipis yang habis dibaca sekali duduk. Terdiri dari 5 bagian, yang mana setiap bagian menggambarkan setidaknya satu jenis upacara adat Dayak Benuaq.

(+) Menggambarkan prosesi upacara, adat istiadat, serta susunan masyarakat berikut filosofinya dengan cukup rinci. Bagus untuk referensi awal jika ingin mengetahui tentang adat Dayak Benuaq.
(+) Bahasanya cantik dan menggambarkan kedekatan manusia dengan alam.
(+) Ceritanya sederhana, filosofinya juga sederhana.

(-) Catatan kaki / indeks bahasa daerah kurang lengkap.
(-) Deskripsi latar tempat cenderung sangat detail dan bertele2, jadi malah susah membayangkannya.
Profile Image for Karna Bimantara.
22 reviews3 followers
August 4, 2017
Buku ini saya baca waktu SMA sekitar tahun 2005. Menarik, gaya bahasanya mamikat. Membuka wawasan juga menggali kedalaman.
Profile Image for AhyaBee.
151 reviews3 followers
January 28, 2023
Aku suka banget buku ini, untuk buku tipis ini aku baca sampai seminggu, tetapi aku sangat menikmatinya. Upacara juga merupakan buku yang paling berkesan yang aku baca~
Profile Image for Windi.
11 reviews2 followers
July 7, 2010
masi pelan-pelan bacanya, hehehe takut ga ngerti
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.