Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mohammad Hatta: Politik, Kebangsaan, Ekonomi

Rate this book
Kumpulan tulisan Bung Hatta mengenai politik, kebangsaan, dan ekonomi periode 1926-1977.

Editor: Nina Pane
Kata Pengantar: Daniel Dhakidae

494 pages, Paperback

First published September 1, 2015

12 people are currently reading
102 people want to read

About the author

Mohammad Hatta

84 books181 followers

Latar Belakang dan Pendidikan
Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (60%)
4 stars
6 (24%)
3 stars
3 (12%)
2 stars
1 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Cornelius Pulung.
38 reviews2 followers
December 12, 2015
Saya hanya membaca buku ini di Gramedia, dan tidak membacanya hingga tuntas. Namun sekilas saja membaca buku ini tidak membuat saya ragu untuk memberikan rating lima bintang (dan juga saya jadi tergoda untuk membeli bukunya).

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Bung Hatta seputar politik, kebangsaan, dan ekonomi. Membaca buku ini membuat saya menyadari bahwa Bung Hatta dapat dikatakan sebagai "raksasa intelektual", pemikirannya sungguh visioner dan mendalam. Ada berbagai informasi sejarah dan juga analisis terhadap sejarah dan topik lainnya, yang membuat buku ini sangat menarik dan berbobot. Tidak terasa kering atau membosankan saat membacanya, malahan dapat menumbuhkan rasa kagum terhadap sosok Bung Hatta.
Profile Image for Taufan Yudha.
8 reviews
June 5, 2019
Kita mengenal sosok Bung Hatta sebagai salah satu dwitunggal, proklamator dan wakil presiden RI pertama.
Namun sejarah yg kita pelajari mungkin tidak akan semenarik kesan, pendapat dan kutipan dari berbagai tulisan dan pidato Bung Hatta yg ditampilkan dalam buku ini sejak "Indonesia" belum ada hingga era pembangunan di orde2 selanjutnya.
Dalam situasi dimana negeri ini akan semakin diuji oleh berbagai paham dan tantangan, baik lama maupun baru, pembaca mungkin akan memperoleh pencerahan kembali dengan bagaimana semua itu berawal dan ide2 para pendirinya.
Profile Image for Muhammad Ridha Ar-Rasyid.
95 reviews12 followers
June 12, 2016
Menyelesaikan buku yang berisi tulisan-tulisan dan pidato seorang Bapak Bangsa yang saya kagumi ini, tentu tidak bisa dilaksanakan dengan segera. Perlu waktu setengah tahun untuk mencerna isi-isinya, dengan beberapa buku penunjang.

Hatta berbicara banyak soal bangsa Indonesia, walau tidak se-eksplisit Sjahrir dalam pengutaraannya. Hanya, mungkin yang amat perlu digarisbawahi adalah tulisan-tulisan Hatta mengenai Pancasila yang justru menjadi inti dalam memahami bagaimana bangsa Indonesia diwujudkan.

Tampaknya, Hatta berhasil mengemukakan itu semua dalam sekurang-kurangnya tiga sudut pandang, sesuai dengan judulnya. Politik, seperti yang dikatakannya ketika mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, kemudian kebangsaan itu sendiri, dan ekonomi, yang memang sepantasnya diulas oleh Hatta sebagai seorang ekonom yang terjun dalam pergerakan politik di Hindia-Belanda.

Singkat kata, buku ini merupakan khazanah penting perjuangan Hatta bersama kawan lainnya, dalam mewujudkan gagasan bernama Indonesia.
Profile Image for Yogi Saputro.
143 reviews7 followers
November 6, 2016
Buku ini berisi naskah pidato Bung Hatta sejak masih menjadi ketua perkumpulan pemuda di Belanda hingga setelah mundur dari jabatannya sebagai wapres RI. Ini pemikiran Bung Hatta yang asli. Di dalamnya ada ide, prinsip, dan sejarah asli tuturan satu founding father Indonesia.

Dari buku ini, saya tersadar bahwa Bung Hatta adalah tokoh terpandai dan paling visioner pada masa lahirnya bangsa Indonesia, bahkan dibanding Bung Karno sekalipun. Sampai sekarang pun masih sedikit yang mengkaji pemikiran beliau. Tentang koperasi misalnya, belum sepenuhnya sama dengan versi ideal beliau. Selain itu, Bung Hatta menjabarkan filosofi Pancasila yang menjadi rujukan buku pelajaran Sejarah dan Kewarganegaraan saat ini.

Ide yang pemikiran yang tak lekang zaman dari Bung hatta selayaknya ditinjau kembali untuk mengenali kembali tujuan negeri ini. Buku ini mengungkap pemikiran tersebut dengan baik. Sangat layak dibaca. Meskipun bukan bacaan ringan, ilmunya sebanding.
Profile Image for Raka Rivaldi.
40 reviews
December 25, 2015
Buku ini berisi tentang pidato-pidato Pak Hatta yang banyak menyinggung tentang ideologi bangsa Indonesia, politik, dan ekonomi. Pemilihan pidato yang baik membuat rasa dan pemikiran dari Pak Hatta tersampaikan dengan cukup jelas. Pengulangan daripada tujuan founding fathers membuat Saya memahami betul apa yang mereka ingin capai untuk Indonesia di masa depan. Namun terasa ada yang kurang, mungkin beberapa pidato ada yang diterjemahkan sehingga beberapa kalimat terasa kurang enak dibaca. Juga terdapat beberapa kata yang salah ketik, sehingga sulit untuk dibaca.

Secara keseluruhan pidato beliau masih relevan untuk mengatasi beberapa masalah yang ada di Indonesia yang berarti penerbitan buku ini cukup tepat. Namun ketidakpahaman Saya akan bahasa belanda mengurangi efektifitas dalam memahami beberapa isi buku.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.