Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan

Rate this book

730 pages, Hardcover

First published January 1, 1980

Loading...
Loading...

About the author

Meutia Farida Swasono

7 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (50%)
4 stars
16 (28%)
3 stars
8 (14%)
2 stars
2 (3%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for fraulein.
106 reviews8 followers
January 26, 2019

Suatu hari di perpus rektorat yg terpencil dan jarang dikunjungi, takdir membawa saya bertemu buku ini. Pesonanya membuat saya punya pikiran jahat u/ pinjem buku ini tanpa mengembalikannya lagi. Hahahaha.

Tenang. Saya kembalikan, kok. Dengan berat hati tentu saja karena saya nggak tahu kapan saya bakal bisa baca lagi. Tp untunglah teknologi informasi berkembang sampai sejauh ini, saya nemu lagi di lapak online setelah sekian sekian sekian sekian lama.

Terbayang di pikiran saya betapa terlukanya hati Bung Hatta klo saya pake acara nilep2 (buku tentang beliau pula) segala. Tp sebetulnya saya lbh takut skripsi saya nggak lolos sidang gegara ada tunggakan pengembalian buku sih. Walopun saya nggak yakin seketat itu. Sungguh. Soalnya perpustakaannya kuno dan bulukan.. Hahahaha.

Eniwei, sebelum saya ketemu buku ini, saya cuma tahu Bung Hatta dari buku sejarah standar sekolah yg entah akurat apa tidak, kering emosi krn hanya mencantumkan deskripsi kejadian penting dan tanggal serta angka yg dipantengin hanya karena takut nggak bisa jawab ulangan.

Apakah buku ini seperti buku pelajaran itu? Otentu tidak. Saya nggak mungkin mau nilep ini buku klo cuma pengen mengulang pelajaran 'menghafal' sejarah. Hahahaha.

Saya yakin banyak dari kita yg beranggapan bahwa tokoh sejarah dari masa lalu seperti tokoh fiksi yang tak nyata. Tentu saja karena kita memang nggak hidup di era beliau2 dan tak merasakan langsung kehidupan saat itu. Anggapan di otak saya tentang Bung Hatta (dan juga tokoh sejarah lain) juga begitu. Saya berterimakasih pada beliau2 tapi hanya sebatas itu karena relasi yg saya punya ya cuma sebuah keterpaksaan demi nilai pelajaran.

Tapi semuanya berubah sejak saya baca buku ini (udah kayak ketemu jodoh aja.. hahaha). Membaca tulisan2 di dalamnya seperti membaca testimoni yg sangat berharga dari orang2 yg jalan hidupnya pernah bersinggungan dengan hidup Bung Hatta.

Mulai dari keluarga, orang di rumah tangga, teman2 seperjuangan.

Satu waktu saya sampai menitikkan air mata. Bagaimana enggak, sang pembantu rumah tangga sampai pingsan saat mendengar berita Tuan Besarnya sudah tiada. Saya jd teringat kutipan JK Rowling: if you want to know what a man's like, take a good look at how he treats his inferiors, not equals. Mengetahui reaksi Mbak Surip, Bung Hatta adalah contoh sempurna. He nailed it. Perfectly.

Di lain waktu saya amat terpana dengan keteguhan dan ketenangan beliau saat menjalani pengasingan bersama 16 peti bukunya. Ampun deejay...

Saya ketawa ngakak waktu Des Alwi bilang Bung Hatta berenang pake sepatu tenis, serta kucingnya di Neira, si Turki yg nggak kabur krn mungkin lebih netral dari si Hitler.

Perasaan saya sebagai jojoba (tsaaah) membuncah saat permintaan Bung Karno yg disampaikan melalui Bu Fat agar Bung Hatta menjadi wali nikah Guntur langsung diiyakan Bung Hatta tanpa ba bi bu. Indah sekali perasaan kemanusiaan Bung satu ini.


Saya percaya bahwa karakter seseorang yg sesungguhnya akan terlihat dalam kehidupan sehari2, yg rutin dan repetitif. Nggak akan bisa bohong lah. Apalagi yg seperti Bung Hatta, yg menghabiskan sebagian besar waktu bekerja di antara banyak orang. Lalu gimana hasilnya? Jreeng. Percaya ato enggak, dari awal sampai akhir hampir semua 'testimoni'-nya senada. Gila. Saya pas baca aja terheran2, Bung ini saking konsistennya bahkan mampu membuat tulisan orang jadi mirip2. Eh tapi walaupun senada, bukan berarti jadi nggak menarik lho ya (setidaknya menurut saya).

Selain itu, peristiwa dalam keseharian ini membuat jadi membumi seorang tokoh yg dulu terasa di awang2 dan tak terjangkau ini. Yah, walaupun kualitas manusia Bung Hatta memang susah dijangkau siapapun, sih. Apalagi oleh kebanyakan politisi zaman sekarang. Ups.

Masih banyak lagi permata2 lain yang nggak akan kita temukan di buku pelajaran sejarah. Kalau mau cari kutipan yang bagus juga ada banyak. Saya sampai berandai2 jika saja saya dapat buku ini lebih awal, pasti saya akan lebih menyukai sejarah nasional. Ya gimana enggak, daripada cuma menghafal mati tanggal dan nama2 yg terlibat dlm peristiwa Rengasdengklok, bakal lebih nempel di ingatan klo tahu ada insiden macem Guntur ngompolin Bung Hatta waktu itu. Rengasdengklok = Bung Hatta diompolin Guntur. Kan menarik tuh.

Kalau di Memoir Bung Hatta hampir tidak menceritakan hal2 bersifat pribadi, anggaplah buku ini sebagai pelengkap walaupun tidak ditulis langsung orangnya. Justru mungkin akan lebih memperkaya krn disampaikan dari sudut pandang masing2 penulis. Saya rasa maksud penerbitan buku ini seperti yg tertulis di pengantarnya, sudah berhasil. Sangat berhasil, malah. Saya yang awam ini pun sampai terpana dibuatnya.

Saya bersyukur saya tahu buku ini. Saya bersyukur perpustakaan butut belakang rektorat masih menyimpan buku ini (dan Memoir edisi bhs Inggris yg juga sempet pengen banget saya tilep.. hahahaha). Setidaknya buku ini sudah membuat saya pengen nyanyi lagu2 nasional macem Indonesia Pusaka, dll lagi. Setidaknya saya tahu bahwa pernah ada manusia besar Indonesia dimana dalam dirinya mewujud satunya pikiran, perkataan dan perbuatan. .

Langka. Pake banget.

NB.

Beberapa tulisan yg saya suka diantaranya dari M Bondan, testi Suratmi Surip dan orang2 di rumah tangga, Des Alwi, juga Biju Patnaik. Ada banyak lagi yg bagus, tapi sayang memori saya terbatas.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Elbasyar Aroe.
9 reviews
July 6, 2017
wajib dibaca bagi mereka yang ingin mengenal bung hatta lebih dekat
Displaying 1 - 4 of 4 reviews