Buku ini merupakan buku kedua yang dikembangkan dari “celotehan” Handry Satriago yang dibuatnya di media sosial Twitter sejak tahun 2011. Dalam buku ini, Handry membahas mengenai dua hal; pembelajaran yang didapatnya dari perjalanan hidupnya yang penuh liku-liku, dan praktik-praktik kepemimpinan dan manajemen yang dipelajarinya selama lebih dari 20 tahun bekerja, termasuk 5 tahun terakhir sebagai CEO perusahaan multinasional di Indonesia.
Berkursi roda sejak usia 17 tahun, Handry menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk “melawan”. Melawan keterbatasannya, melawan ketakutannya dan bertekad keluar dari arena penuh kesukaran itu sebagai pemenang. Hidup Handry Satriago bagai sebentuk prisma kaya warna. Di antaranya ada tiga warna yang perpendar dengan luas dan kuat: cinta pada pendidikan, hormat kepada sains, dan hasrat yang menggebu untuk menemukan anak-anak muda yang bertalenta menjadi pemimpin masa depan. Dalam dunia yang semakin global dan penuh ketidakpastian ini, apa yang Handry sampaikan seperti sebuah gambaran dari lapangan pertandingan. Untuk menjadi pemenang, lapangan pertandingan tersebut harus dikuasai.
Lewat buku ini, Handry berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang agar tidak takut menjalani pertandingannya, dan menikmati pertandingan tersebut.
Sangat membangun sekali kisahnya..jadi memotivasi kita untuk maju dan tampil di depan dan berbagi ide kreatif. Dan yang paling pnting menuntut kita untk punya cita2 tinggi walaupn trasa sulit digapai, karena tidak ada yg tidak mgkn jika Allah bekehndak..so go a head
Di masa pandemic seperti sekarang, salah satu hal yang paling saya rindukan yaitu berkunjung ke toko buku. Melihat koleksi buku-buku terbaru, membaca halaman sampul belakang, kemudian membawanya ke kasir untuk dibawa pulang. Sekarang, koleksi buku yang belum saya baca kian sedikit. Namun beruntung saya menemukan buku ini, #Sharing2 (2015) yang ditulis oleh Handry Satriago. Saat saya menemukan buku ini di rak buku, ia masih terbungkus plastik. Beruntung ia selamat dari banjir tempo lalu. Banyak teman-temannya yang basah, rusak, dan berakhir di tong sampah. Sedih sekali melihat buku-buku yang saya koleksi sejak SMA banyak yang rusak karena banjir. Rencana saya mau membuat perpustakaan pribadi pupus sudah. Akibat kejadian tersebut, saya memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat koleksi buku. Buku-buku yang sudah saya baca dan tidak begitu saya sukai, saya donasikan ke book corner yang ada di ruang publik seperti stasiun MRT atau stasiun Commuterline. Sisanya tetap menjadi koleksi pribadi saya. Balik lagi tentang buku #Sharing2, ini merupakan hadiah dari mantan atasan saya pada 2015, tepatnya saya saya bekerja sebagai Marketing Communications. "Yar, buku ini bagus buatmu. Baca ya!" pesan atasan saya. Buku ini memang buku lama. Namun setiap topik yang dibahas Pak Handry masih sangat dekat dengan kehidupan sekitar saya. Buku ini bercerita bagaimana Pak Handry berdamai dengan keadaan bahwa ia tidak akan dapat berjalan lagi, dilanjutkan dengan cerita pengamalannya memimpin di General Electric Indonesia serta kisah-kisah sederhana lainnya.
Belakangan, kita butuh teman bercerita. Namun tidak semua orang mampu memahami apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan. Buku, adalah sebaik-baiknya teman. Terima kasih sudah menjadi teman saya di masa-masa sulit seperti sekarang. #Goodreads #BookoftheMonth
Kumpulan pembahasan tweet-tweet-nya penulis. Cocok buat dibaca sama para pria eksekutif muda, juga mbak-mbak wanita karir, yang kerjaannya cuma nungguin kapan waktunya gajian. Berkisah seputar pandangan-pandangan penulisnya tentang apa manfaat dan faedahnya memberi nilai tambah pada pekerjaan kita di kantor. Nggak cuma itu, sih. Masih banyak cerita lainnya seputar kehidupan, seputar bagaimana tidak sekadar terinspirasi oleh orang lain, tapi juga cara untuk menginspirasi orang lain.
Kalau sampeyan kepengen jadi leader, setidaknya sempatkanlah baca buku ini.
Soal isi, nggak perlu diragukan lagi. I'm a fan of Pak Handry. Setiap baca cuitan beliau atau dengar dia jadi pembicara rasanya terinspirasi & termotivasi banget. Apalagi melalui sepak terjangnya kita bisa tau kalau apa yang beliau tulis ini memang dia alami & terapkan.
Namun jujur saya kurang suka format cuitan yg disunting seadanga jadi paragraf-paragraf. Jadi 'tanggung'. Padahal kalau dielaborasi jadi essay atau artikel akan keren banget.