Saya punya pengalaman yang unik dengan buku ini. Buku ini saya peroleh sejak SMA, sekitar enam tahun lalu. Sudah beberapa kali juga saya sempat membacanya, namun belum pernah sampai tuntas. Dulu saya hanya membaca cerita tertentu saja yang menurut hemat saya punya panjang sekali duduk yang ideal.
Antologi ini terdiri dari sepuluh cerita:
1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan;
2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa;
3. Sybil;
4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat;
5. Chief Sitting Bull;
6. There Goes Tatum;
7. Musim Gugur Kembali di Connecticut;
8. Bawuk;
9. Kimono Biru Buat Istri; dan
10. Sri Sumarah.
Kalau diurutkan dari depan, paling mentok saya baru pernah sampai cerpen keenam, "There Goes Tatum". Tiga cerita selanjutnya bisa dibilang seminovela, baru kemudian sampai pada cerita terakhir, yang kalau saya tidak salah merupakan novela sungguhan
Pada masa itu, saya kira saya tidak akan menyenangi cerpen lain seperti saya menyenangi "Sybil" dan "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" yang panjangnya "ideal" itu. Tapi saya salah.
Saya kemudian mengerti kenapa dulu tidak pernah tuntas membaca buku ini. Pertama, karena seperti yang sudah saya katakan, saya belum tahan baca cerpen yang kelewat panjang. Kedua, saya dulu tidak begitu paham duduk masalah dan premis pada cerita ketujuh dan seterusnya.
Lebih dari sebab tersebut, pada saat itu saya belum mengerti esensi dari aliran tulisan realis. Semakin realis sebuah tulisan, maka semakin besar konsekuensinya untuk terasa "monoton" ketika dibaca. Tentu saja ini juga merupakan pendapat saya.
Dan rupanya, dibanding saat SMA dulu, saat ini saya sudah memiliki kapasitas dasar untuk mengerti tulisan-tulisan Umar Kayam di buku ini.
Jika disimpulkan, buku ini memuat dua kategori yang berbeda. Kategori pertama terdiri dari enam cerita pertama. Kategori kedua terdiri dari empat cerita selanjutnya.
Enam cerita pertama berlatarkan negara-negara western. Gaya penceritaan, dialog, dan tone-nya juga dengan apik berasimilasi dengan literatur terjemahan. Jadi, meskipun tetap diselipi unsur lokal di sana sini, pembaca masih menerima dengan baik nuansa foreign-nya.
Empat cerita selanjutnya —meskipun masih ada yang berlatarkan di luar negeri— dituliskan dengan pembawaan yang jauh lebih bersahaja dan dekat dengan kultur jawa, mulai dari kejawen konservatif sampai dengan yang lebih modern. Sehingga pada titik tertentu, tidak salah jika saya sebut tulisan itu adalah sebuah etnografi. Selain itu, dialog dan plotnya lebih liar, berani, dan lekat dengan politik dan ideologi kiri.
"Bawuk", misalnya, yang menceritakan kilas balik masa kolonial Belanda dan kondisi politik pada pascakemerdekaan. Sedikit mengingatkan saya pada Cantik Itu Luka. Secara umum, "Bawuk" adalah cerita kedekatan batin antara ibu dan putri bungsunya, hal hal yang masing-masing mereka korbankan saat dewasa, beban dan tanggung jawab perempuan, dan dilema ideologis. Cerita ini hangat, penuh nostalgia, tapi juga menyakitkan dan membimbangkan. Setting-nya berpusat pada keluarga kalangan priayi masyarakat Jawa pada zamannya. Pengginaan kata serapan dan istilah-istilah Belanda juga mempertebal kedekatan setting waktu yang dibangun.
Sebagaimana cerita-cerita pendek yang ditemui pada bagian awal buku, keempat cerita terakhir rupanya sama berkesannya bagi saya. Menikmati dilema Tono dan perdebatannya dengan Samsu; mengikuti masa pelarian Bawuk; membaca dialog sepasang sobat lama, Mustari dan Wandi; dan mempelajari lika-liku hidup Sri Sumarah yang sumarah. Semuanya berkaitan erat dengan pergerakan komunisme di Indonesia pada era itu. Diceritakan dari angle dan posisi tokoh protagonis yang berbeda-beda. Menarik!