Kisah-kisah fiksi Azhari menunjukan bahwa situasi abnormal,fakta sejarah yang sederhana dapat diceritakan sedemikian rupa yang menghantarkan penderitaan tak bisa lagi dikenali,meski tokoh-tokoh dalam ceritanya menanggung derita. Azhari menggambarkan satu keadaan politik tempat kekerasan itu tumbuh dan gagal membuahkan otoritas.
Azhari dilahirkan di pinggir Banda Aceh, 5 Oktober 1981.
Pernah kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Tahun 1999, ia meraih penghargaan cerpenis terbaik se-Aceh pada 1999, versi Taman Budaya Aceh. Kemudian pada 2003, ia mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik se-Indonesia, versi Departeman Pendidikan Nasional, lewat puisinya ‘Dibalut Lumut’.
Saat ini, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk Komunitas Tikar Pandan, sebuah lembaga yang fokus pada gerakan kebudayaan untuk Aceh.
Kumpulan cerita pendek Azhari mengingatkan saya pada kumcer "Saksi Mata" yang ditulis Seno. Polanya hampir sama. Nestapa, kekerasan, peperangan, pemberontakan, kematian, pembunuhan, penculikan, rasa rindu, laki-laki yang dihilangkan, para perempuan yang ditinggalkan, serta asa dan harapan. Keduanya hanya beda lokasi, satu terjadi di Aceh dan satu di Timor Leste. Kedua daerah ini memang lekat dengan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan konflik bersenjata. Bedanya, saat ini Aceh sudah begitu direduksi dengan pemberitaan-pemberitaan yang melulu soal hukum syariah saja. Saya jadi begitu tertarik dengan apa yang terjadi di Aceh selama GAM masih ada.
Nutmeg Woman is just one of several short stories in this book, written by an author from Banda Aceh. There is an element of folklore infused with darkness. The stories do not relate to one another although there is a continuing theme regarding the disappearance and/or murder of communities of men. The stories are creative. The presence of a certain animal precedes misfortune in some stories and in others some people have special powers.
I really enjoyed reading these stories. I rate this a 3.5 but round down to a 3 as some stories had the same feel to them.
azhari berbicara tentang kisah-kisah seputar konflik di aceh. yang menyenangkan dari cerita-ceritanya adalah, meskipun apa yang ia angkat bisa disebut sebagai sesuatu yang 'lokal' dan barangkali dengan demikian bisa dianggap ia mengangkat 'lokalitas', azhari tidak jatuh pada kegenitan menumpahkan jargon-jargon bahasa daerah. sehingga, apa yang ia tulis adalah sesuatu yang bersifat 'lokal' tetapi juga sekaligus 'nasional'. kata-kata dalam bahasa daerah (aceh) yang muncul sepanjang ceritanya adalah kata-kata yang memang mau tidak mau muncul di sana. sisanya, azhari merangkai dialog, narasi, dan deskripsi menggunakan bahasa indonesia yang mudah dipahami. ada usaha untuk memunculkan 'universalitas' dari apa yang berlangsung di sudut-sudut, pelosok daerah.
It is a dazziling book with cohesive stories. The narrative remains me of 'magical realism', but instead of magic, it's catasthropy and violence. And the author did a great job to not reduce the tragedy into a statistic, because there are distintive stories and names behind numbers.
I really want to read the indonesian version of this book. The english translation felt bumpy and unnatural. It throws me off the edge a bit.
Sebagian cerita ditulis ketika penulis berumur awal dua puluhan. Dan itu menjadi suatu nilai tambah tersendiri. Cerita-ceritanya membuat saya kadang bergidik, kadang begitu sedih dan pilu, kadang bengong saking bagusnya. Satu nasihat dalam cerpen Kupu-kupu Bermata Ibu yang begitu baik adalah: "Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini, bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan."
Ibu, kenapa bintang yang kiamat masih saja menyisakan cahaya di atas langit kita? Dan aku menjawabnya, itulah kemuliaan. - Bako kepada Ibunya, Kupu-Kupu Bermata Ibu
Ada perasan yang janggal ketika membaca sekumpulan cerita azhari, kita kita dipaksa untuk meneteskan air mata sekaligus dipaksa untuk berteriak menyerapah. Kata demi kata adalah raut ketakutan orang-orang yang ia ceritakan. Kematian adalah instrumen bagi Azhari, instrumen untuk kembali mempertanyakan kematian dan desas desus kematian. Karena dalam situasi yang demikian ia gambarkan, kematian adalah jalan kelengkapan hidup.
Meminjam istilah 'Le petite histoire' (sejarah kecil) yang pernah dikemukakan Rosihan Anwar, buku berjudul Perempuan Pala yang ditulis Azhari Aiyub ini merupakan serangkaian cerita pendek yang dikemas fiksi, seolah menceritakan sejarah kecil yang bisa berarti sejarahnya orang 'kecil' atau orang-orang yang tidak berpengaruh besar maupun tidak dianggap, namun bisa juga berarti serangkaian peristiwa kecil sebagai fragmen-fragmen yang mengisi peristiwa besar.
Penulis yang namanya besar oleh karyanya; 'Kura-kura Berjanggut' ini mencuri perhatian saya. Meskipun belum membaca karya besarnya itu, saya mencoba mulai mengenal lewat 'Perempuan Pala'. Memang, kini kian tumbuh buku-buku tentang peristiwa sejarah 'kecil' yang diceritakan dengan latar daerah di luar Pulau Jawa dan yang membedakan dengan buku lainnya, buku ini dituturkan dengan sarat diksi bahasa Melayu-Aceh hingga membawa saya masuk ke dalam ceritanya yang memang tentang selayang pandang Nangroe Aceh dalam khazanah sejarahnya.
Saya selalu suka kumpulan cerita-cerita pendek dengan sudut pandang orang 'kecil' dalam peristiwa besar sebab dari sini perspektif baru diperoleh. Berbagai latar peristiwa dari kesultanan, perang menghadapi Belanda, serangkaian peristiwa sekitar pekai, hingga konflik GAM menjadi kekuatan dalam cerita ini. Nangroe dalam bahasa Aceh berarti Tanah Air, ya saya juga baru tau ini. Tanah air Aceh memiliki sejarah yang amat panjang.
Yang cukup menarik perhatian saya, dalam 'Perihal Abdoel Gaffar dan Si Ujud' membuat saya menebak-nebak kisah ini mungkin terinspirasi dari tokoh Snouck Hurgronje yang ditugaskan pada misi perang Aceh oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga tercatat dalam sejarah sebagai tokoh penting yang berkontribusi memenangkan perang itu. Selain itu, dalam 'Yang Dibalut Lumut', 'Menunggu Ibu', 'Kupu-kupu Bermata Ibu', kehilangan, penantian dan harapan takluput meliputi perasaan orang-orang yang mengalami sejarah panjangnya.
Buku ini kembali mengingatkan kita untuk menolak lupa tentang sekitar peristiwa besar yang mungkin masih menyisakan luka bagi orang-orang 'kecil' yang mengalaminya.
Serumpun kisah dari negeri bunyi dan bau menghadirkan cerita unik dan khas penulis (Azhari Aiyub), bagi saya yang lebih dulu membaca kura-kura berjanggut tidak akan heran lagi dengan cara penulisan beliau dalam mepadupadakan legenda setempat dan bahasa deaerah Aceh. Latar belakang penulis yang berasal dari Aceh pula yang mendukung kekentalan itu ada dalam cerita.
Penulisa juga menyelipkan sejarah yang difiksikan, mematik pembaca untuk menelaah kembali asal usul Takpatuan dari Aceh Selatan. Ada juga cerita seorang ayah yang sangat menyukai kuah asam pedas yang ia seruputnya dalam satu tegukan, menurutnya rasa kuah asam pedas masih asli jika dalam seruputan pertama, yang membuat Penulis juga menghantar cerita seorang Nek Sani yang rela menunggu jemaah Haji pulang untuk dapat rempah-rempah demi memasak kuah asam pedas tersebut. Kisah cermin Pemimpin Mao juga memberi marwah sendiri dalam sekian cerpen di dalam, meski pendek, ia menjadi jamuan manis dari seorang bocah yang percaya diri. Dalam kisah lain, Penulis juga mencoba menyinggung soisal politik, terutama pada bagian Ikan dari Langit.
Karena cerpen ini sebelum Kura-Kura Berjanggut, jadi sangat kerasa jurnalistiknya, kebetulan penulis wartawan, jadi perlu membaca beberapa paragraf dua sampai tiga kali atau mundur kembali untuk mark bagian yang terlewat, sebab setiap epilog cerita tak jarang ditampilkan secara tipis dan tersirat.
Reading this collection of short stories is like imagining the agonizing life of the survivors of the conflict. As what James T. Siegel said in the introduction, most of the stories in 'Perempuan Pala' are pertaining to the era of conflict in Aceh.
Even so, the vitality covering the protagonists and other characters is not about loss and defeat. Instead of exploiting the agony of loss, Azhari Aiyub, the writer, prefers to create the characters who preserve hope and abandon revenge and hatred as well.
However, the stories are not entirely told in rosy or optimistic ways. They are told as it is, merely describing the situation survivors face when they encounter conflicts for a long time: It seems usual to lose beloved people for it happens many times.
As a reader, one may find no answer of several questions coming up after reading this collection. The questions like why does it happen and who is the perpetrators may linger mysterious, as fuzzy as the actual occurence happened in Aceh.
Perempuan Pala was published for the first time in 2004 by AKY Press. Buku Mojok then acquired the copyright in 2015 and published it with a new cover. In 2019, the book republished with some additional stories in a very short form.
Semua cerita pendek di buku ini bercerita soal Aceh, yang memang tanah kelahiran si penulis. Mulai dari cerita rakyat yang dikemas jadi fiksi, cara hidup masyarakatnya, kepercayaan, tradisi, bahkan sejarah konflik yang pernah ada di sana.
Berusaha mengangkat tradisi lokal, tanpa harus betul-betul terlihat lokal, yang biasanya ditunjukkan lewat banyaknya bahasa daerah. Penulis konsisten pakai bahasa Indonesia. Misal ada bahasa daerah, itu memang sebutan khusus yang nggak mungkin diterjemahkan ke bahasa, tapi dicantumkan artinya di akhir cerita.
Suka caranya menggambarkan duka-derita masyarakat Aceh semasa konflik. Emosinya dapet. Salutnya lagi, Azhari seakan bisa menemukan banyak celah cerita cuma dari satu konflik. Jadi nggak perlu khawatir kalau cerita yang dibaca bakal gitu-gitu aja. Memang ada beberapa penggunaan metafora, yang kadang perlu berulang kali dibaca demi paham maksudnya apa.
Ada beberapa cerita favorit. Yang Dibalut Lumut, Orang Bernomor Punggung, Kupu-Kupu Bermata Ibu, Perempuan Pala, Kenduri, dan Hujan Pertama.
Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain Dari Negeri Bau dan Bunyi merupakan KumCer karya Azhari Aiyub yang berkisah tentang gambaran situasi masyarakat Aceh ditengah masa perang. Menurut saya, buku ini cukup menarik karena oleh penulis tidak disebutkan detail dan spesifik kapan waktu dan tempat pada saat situasi tersebut berlangsung. Keambiguan tersebut seolah sengaja dibiarkan supaya para pembaca mempunyai keleluasaan tersendiri dalam menginterpretasikan sudut pandangnya. Bahkan kondisi perang itu sendiri beberapa diantara cerita yang ada tidak benar-benar perang secara harafiah, ada juga yang merupakan makna perang yang hanya mewakili suatu kondisi/keadaan.
Dari sudut pandang yang lain, keambiguan tersebut mungkin saja dimaksudkan supaya menjaga ranah fiksi yang ingin dibangun atau justru ingin menjaga agar fakta yang ada bisa dengan leluasa disampaikan namun tetap terjaga kerahasiaanya.
Saya sesungguhnya tidak mau percaya pada kegetiran hidup orang-orang Aceh yang tergambar dari tokoh-tokoh yang dikisahkan oleh Azhari. Seolah-olah kejadian semacam itu bagiku hanya khayalan saja. Jelas saja karena saya tidak mengalaminya. Tapi karena kamu tidak mengalaminya, bukan berarti kejadian itu tidak pernah ada. Dan aku harus mengakui bahwa Azhari mengisahkan kepedihan tokohnya dengan sangat baik sebab aku ikut larut kemudian iba dan sedih, seolah putus harapan juga.
Karya yang menakjubkan dari salah satu penulis muda berbakat Indonesia. Ada dua cerita yang jadi favoritku, yaitu Orang Bernomor Punggung dan Kupu-kupu Bermata Ibu
Sebenarnya tidak terlalu menyukai cerpen, tapi apa yang disuguhkan Aiyub pada buku Perempuan Pala ini memberikan sebuah gambaran yang perih dari orang-orang Aceh mengahadapi perang dan konflik. Muatan nilai yang coba disampaikan oleh Aiyub melalui cerita-cerita pendeknya demikian menyentuh walaupun disampaikan secara metafora dan butuh sedikit mengulang untuk bisa memahaminya.
Gaya penuturan dan pemilihan diksi sangatlah menggambarkan ciri khas seorang Aiyub. Kalau kalian pernah membaca Kura-kura Berjanggut tentu paham gaya penuturan beliau.
Sebuah buku yang seharusnya bisa dihabiskan dengan sekali duduk. Mengisi saat rehat dan santai.
Kali pertama sebenarnya baca karya Azhari Aiyub, walau buku Kura-kura Berjanggut sudah masuk wishlist sejak lama.
Buku ini merupakan kumpulan cerita, total ada 18 cerita pendek di dalamnya yang semuanya menceritakan Aceh. Saya tentu baru tahu kalo penulis memang dari Aceh. Semua cerita menarik, menyedihkan dan penuh dengan cerita orang hilang, dibunuh dan banyak kepergian. Tentu kesan Aceh terlalu besar dengan semua kosa kata dan istilah dalam bahasa Aceh yang dimasukkan dalam cerita-cerita di buku ini.
Judul favorit : - Hikayat Asam Pedas - Hujan Pertama - Kenduri - Perempuan Pala - Kupu-kupu Bermata Ibu - Menggambar Pembunuh Bapak - Yang dibalut Lumut
Ada rasa yang berbeda ketika aku membaca buku ini. Mungkin karena Acehku juga begitu melekat. Perasaan dekat, jauh dan sesak bergantian muncul saat membacanya. Sungguh kata demi kata dalam penyampaian cerita dibuku ini apik.
Cerita favoritku adalah Hujan Pertama, Perempuan Pala dan Kupu - Kupu bermata Ibu.
“Alangkah setianya pala-pala ini, Mala. Ia akan terus berbuah sampai bertahun-tahun lagi. Sampai aku tiada dan kau menua. Di mana ada perang, pala-pala ini akan terus memberikan gunanya.” (p.56)
Pesan penting yang bisa saya tangkap adalah bagaimana kehilangan orang tercinta (secara tidak normal) kemudian memberikan dampak kepada keluarga terdekat, Konflik juga berpolarisasi bukan hanya tentang dua pihak yang saling berseteru, tapi selalu akan ada orang yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya.
Ini adalah cerita fiksi tentang Aceh ( yang mungkin memuat fakta sejarah juga), sebagai orang luar Aceh, selalu menarik buat saya untuk coba memahami apa yang terjadi dan dirasakan oleh masyarakat Aceh, khususnya saat Aceh menjadi DOM.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ketika memahami bahwa sebagian besar cerpen di buku ini berlatar pada masa kecamuk perang, pemaknaan setiap cerpen akan menjadi kelam. Adanya dampak perang memengaruhi akivitas kehidupan sehari-hari hingga tradisi yang ada, serta alam jiwa dan pikiran sebuah keluarga (atau menjadi anggota keluarga karena ditinggal mati), sehingga melahirkan tanggapan perasaan untuk mengerti dan mencari kebenaran suatu peristiwa.
Cerpen-cerpen dalam buku ini mengambil tempat di Aceh, kebanyakannya berkisar tentang pemberontakan, GAM dsb. Cerita tentang PKI di tanah Jawa dah selalu sangat baca tapi pertama kali baca tentang GAM menarik juga. Setidaknya, tambah pengetahuan baharu.
Ini pertama kali baca tulisan Azhari Aiyub. Aku akui ambil masa juga nak faham laras dan gaya bahasa beliau. Insyaallah nanti aku akan ulang baca lagi kumcer ni.
Ada yang disembunyikan rapat-rapat atau didongengkan dengan terang di baris-baris cerita. Tentang kehilangan, air mata, rasa takut, dan kesedihan yang terjadi di Aceh. Gunung-gunung, jejak lelaki yang menghilang, ibu yang berjuang, dan kecamuk-kecamuk lainnya diceritakan dengan begitu apik. Balutan bahasa dan dongeng-dongeng Aceh menambah aroma sedap dari kisah yang dihadirkan.
Cerita pendek ini menarik karena melihat pergulatan hidup manusia di saat konflik. Saya menyukai diksi dan penuturan cerita Azhari, meski tak semua makna dan isi ceritanya saya pahami karena minimnya pengetahuan saya tentang konflik di Aceh. Jujur, saya jadi ingin membaca tentang Aceh lebih banyak lagi 😊
Pada mulanya, Cerpen Air Raya-lah yang membuatku akhirnya membeli dan membaca buku ini. Selain sebab telah kutamatkan Kura-Kura Berjanggut yang tebalnya naudzubillah itu, tentu saja. Bisa dibilang, ini buku cerpen lokalitas, yang dituturkan dengan cara universalitas. Artinya, mudah diserap dan dialami pembaca. Kurasa ini sebab kepiawaian bertutur-bahasa Azharai dalam mengemas sebuah peristiwa.
Kumpulan cerpen di buku ini sangat "lokal", karena berlatar Aceh. Memang agak sulit memahami tujuan cerita, tapi poin pentingnya adalah mengerti sedikit budaya Aceh yang dibuat menjadi latar cerita.