“Mia!” Sukiman menjerit. “Lakukanlah sekarang juga, Mia!”
Di liang lahat, Mia pelan-pelan merebahkan diri di sisi jenazah ibunya. Pipi jenazah itu ia usap dengan penuh kasih sayang, dan ia berkata penuh cinta, “Kita tidur, Ibu? Kita tidur yaa…?”
Sukiman tidak lagi mendengar apa yang diucapkan dan tidak tahan menyaksikan apa yang dilihatnya. Perasaan takut dan kalap telah menguasai dirinya sedemikian rupa. Ia cemburu setengah mati, tidak peduli kecemburuan itu ia tujukan pada seorang ibu. Dengan kemarahan membabibuta, Sukiman terjun ke liang lahat dan menghunjamkan mata lembing sampai tenggelam di lambung jenazah ibu Sumiati.
Dan tragedi mengerikan itu pun akhirnya terjadi.
Tragedi yang diawali oleh salah seorang anak buah Karaeng Galesung, kepala pasukan pelaut Makassar yang dahulu kala membantu Pangeran Trunojoyo mempertahankan Kerajaan Kediri dari serbuan pasukan VOC. Kecewa dan marah oleh pengkhianatan yang berakibat terbunuhnya Pangeran Trunojoyo, si pelaut Makassar melarikan diri sambil menuntut ilmu ke hutan perawan di kaki gunung Kawi. Malang menimpa, ia melakukan kesalahan fatal dan berbuntut kutukan yang di masa kini harus ikut diemban oleh Mia. “Hidup atau matilah sebagai serigala!”
Abdullah Harahap dikenal sebagai penulis horor Indonesia yang sangat produktif khususnya di era 1970 dan 1980-an. Ia mulai menerbitkan cerita pendek sejak kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan bandung, Jurusan Civic Hukum (tidak tamat). Awalnya Abdullah banyak menulis novel populer bertema percintaan, namun sejak 1975 ia sepenuhnya meninggalkan tema tersebut dan menulis sekitar 70 judul cerita horor dan misteri. Novelnya, Dikejar Dosa, dimuat di Tabloid Stop dan diangkat ke layar lebar oleh sutradara Wim Umboh. Judul-judul buku Abdullah Harahap antara lain adalah Sumpah Leluhur, Manusia Serigala, Menebus Dosa Turunan, Dendam Berkarat dalam Kubur, Misteri Anak-anak Iblis, Langkah-langkah Iblis, Tarian Iblis, Panggilan Neraka, dan Babi Ngepet. Buku-buku tersebut dicetak dalam format buku saku setebal 100-300 halaman, dengan sampul yang sering tidak mencantumkan tahun terbit maupun ISBN.
Tahun 1990-an, ia mulai berhenti menulis novel, meski tidak total dan mulai beralih membuat skenario untuk siaran televisi, khususnya yang bertema roman dan horor. Sejak itu pula novelnya mulai langka di pasaran. Di tahun 2010 tiga orang pengarang yakni Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad berkolaborasi membuat suatu proyek pembacaan kembali karya Abdullah melalui kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan. Gairah terhadap genre horor ini kemudian disambut pula oleh Paradoks, anggota Kelompok Kompas Gramedia, dengan meluncurkan Misteri Perawan Kubur, karya lama Abdullah.
Sosok manusia serigala pada umumnya identik dengan mitologi Eropa atau Amerika, jadi menarik juga melihat versi cerita lokal tentang makhluk yang satu ini. Maestro horor lokal Abdullah Harahap pun mampu menyajikannya dengan gaya khasnya yang lugas, erotis, dan berdarah-darah. Nuansa erotis di novel ini pun makin terasa karena tokoh utamanya yang jelita, Sumiyati....
Unsur pembalasan atas nama keluarga, orang kaya yang berusaha menyelesaikan segala masalah dengan uang, dan bahkan kilas balik zaman VOC turut menjadi bumbu penyedap kisah horor ini. Kadang klise dan mudah ditebak, sementara beberapa dialognya yang konyol membuat saya jadi ikut-ikutan menggeram seperti manusia serigala dalam buku ini. Berbagai adegan yang mengobjekkan Sumiyati pun sering hadir dalam rangka membuat pembaca lelaki menelan ludah.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa saat masuk adegan horor, kengerian yang dapat ditampilkan Abdullah Harahap tak ada duanya. Klimaksnya luar biasa menegangkan, dengan penyelesaian yang seperti kebanyakan buku beliau lainnya....
Mencekam, kelam, dan magis, namun bertebaran hetero-male gaze yang lumayan membuat pembacaan yang bisa mulus terasa seperti melaju di jalanan berlubang. Saya juga membaca bagian akhir buku ini yang pesimistik sekali itu sebagai suatu perwujudan gagasan bahwa yang liyan pada akhirnya harus menyingkir dan mati (berbeda dengan film Ponpoko yang juga berakhir dengan kecenderungan gagasan ini, novel ini tidak memberikan pondasi yang cukup bagi pembaca untuk memahami posisi liyan tersebut sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan untuk tetap ada).
Bermula dari kecelakaan tragis yang menimpa sang ibu, Sumiyati memendam kesumat atas pelaku tabrak lari yang tak bertanggungjawab. Bertahun-tahun kemudian muncul teror yang meresahkan warga. Pembunuhan demi pembunuhan sadis para penjahat yang diduga dilakukan makhluk misterius terjadi. Kuat dugaan ayah Sumiyati yang terkena imbas kutukan turun temurun terhadap leluhurnyalah pelakunya. Lelaki kurus itu lolos dari pasungan setelah seseorang membuatnya makan pantangan dan menjadikannya jauh lebih kuat. Sumiyati yang saat itu telah menjadi wartawati handal, diminta membantu 'menangkap' sang ayah. *** Menggunakan sudut pandang orang ketiga. Alurnya padat dan menghadirkan misteri demi misteri yang mengundang rasa penasaran. Perpindahan antar peristiwa sambung menyambung dan saling berkaitan. Tema serta lanjarannya kuat. Beberapa teka-teki mudah ditebak, namun tak mengurangi keasyikan membaca. Hal-hal yang dideskripsikan sadis atau menakutkan, tidaklah terlalu mengerikan bagi saya. Saya masih bisa nyenyak tanpa mimpi buruk meski membacanya sebelum tidur. Tak hanya menghadirkan teror selayaknya kisah horor, novel ini juga memuat kritik sosial serta pesan moral dan hikmah. Tiga bintang.
Membaca karya Abdullah Harahap berarti mengingat kembali mendiang ayah saya. Karena beliau penggemar novel misteri karya Abdullah Harahap. Sebagai bacaan ringan cukup dapat dibaca dalam waktu seminggu.
Membaca buku ini jadi ingat film ala Hollywood tentang manusia yang berubah menjadi serigala setiap bulan purnama. Bahkan film HP juga pernah mempergunakan adegan tersebut. Dibandingkan dengan karya yang lain buku ini bisa dikatakan agak beda. Intro yang lumayan panjang untuk menyusun kisah. Plus mempergunakan nama Sum Kuning sebagai salah satu tokoh. Padahal itu julukan bagi korban kasus perkosaan yang cukup heboh saat itu.
classic pak abdullah. how do men deal with the hands dealt them? fate as curse. curse as a way of life. subtexts of greed, sexual deviance, megalopolitan evilness—it's got it all. language is as cinematic as always.