Citra membuka pintu kamar tidur sahabatnya. Apa yang dilihatnya membuatnya berteriak sebelum dia menyadari bahwa mayat yang terkapar di lantai itu bukanlah Ani sahabatnya itu! Namun kelegaan yang timbul segera terselip olah rasa kekuatiran. Di manakah Ani kalau begitu?
Ini merupakan awal pengusutan Kapten Polisi Kosasih bersama kawan karibnya Gozali. Siapakah yang telah membunuh gadis yang tidak dikenal ini? Orang yang pertama mereka curigai adalah Ani sendiri! Ani yang rumahnya telah dipakai seagai tempat pembunuhan! Ani yang terlihat meninggalkan rumahnya bersama seorang lelaki pada malam pembunuhan itu terjadi! Ani yang kemudian diketahui adalah seorang bekas narapidana!
Betulkah Ani yang telah membunuh gadis yang tak bernama ini atau ia sendiri merupakan korban sandera si pembunuh sebenarnya?
Semua usaha polisi untuk menemukannya tidak membuahkan hasil. Kemudian terjadi percobaan pembunuhan yang kedua!
Berawal dari menerjemahkan novel-novel Agatha Christie, S. Mara Gd mulai menulis novel pertamanya, Misteri Dian yang Padam pada tahun 1984 (diterbitkan tahun 1985). Tokoh yang diciptakannya adalah seorang kapten polisi bernama Kosasih dan sahabatnya yang punya latar belakang hitam, Gozali. Sejak itu novel-novel tentang petualangan dua serangkai, Kosasih dan Gozali, dalam melacak para kriminal mengalir terus. S. Mara Gd memadukan logika dan humor dalam bahasa sehari-hari yang menarik, di sana-sini diwarnai oleh dialog Suroboyo-an. Lokasi ceritanya umumnya mengambil tempat di Surabaya dan sekitarnya.
Baru-baru ini dapat novel bekasnya yang edisi kover baru. Aku inget dulu pas SMA baca yang kover lawas itu agak-agak serem rasanya (⁀ᗢ⁀;;) tapi yang baru ini pun rasanya agak gimanaa gitu liat tangan yang tergeletak itu ( *ˊᵕˋ* ) Ternyata mungkin akunya yg penakut~ (^///^;)>
Cerita lama kalau dibaca sekarang memang memuat hal-hal yang sifatnya sudah nggak berlaku lagi, kayak stereotipe peran perempuan yang harus begini-begitu. Tapi bukan berarti dimuatnya hal-hal tersebut bikin novel ini jadi "tidak layak" dibaca. Malah justru menurutku bagus sebagai catatan 'sejarah', bahwa seperti inilah pandangan masyarakat kebanyakan pada masa itu. Bahwa di masa sekarang sudah ada perubahan yang signifikan dan menggembirakan, walau mungkin belum semuanya dan belum sebaik yang diimpikan.
Di luar hal-hal tersebut, baca ulang novel yang terakhir kali aku baca minjem di perpus SMA, yang ceritanya nyaris terlupakan sama sekali, ternyata sangat-sangat menghibur. Mungkin ini penyakit 'orang-tua'? (≧▽≦) Ada rasa gembira pas baca lalu "eh aku inget bagian ini!" dan rasa seru pas baca bagian-bagian yang gak diingat~ (*ˊᗜˋ*) Puas dengan penjelasannya, dan trik penulis saat menyampaikan bukti yang penting itu
Aku jadi pengin baca ulang lagi judul-judul lainnya~~ (≧◡≦) ♡
Novel detektif indonesia pertama yang saya baca :D
Waktu baca novel ini, kerasa beberapa pelajaran yang bisa diambil dari dialog-dialognya. Nggak berasa kayak baca novel detektif karena percakapan antar tokohnya--terutama Gozali-- terasa lebih menarik daripada kasusnya. Tapi pemecahan kasusnya yang perlahan-lahan itu juga menarik, bagaimana sejak awal, pembaca sudah dibawa ke pemikiran bahwa yang terbunuh adalah seorang gadis yang tidak dikenal, dan baru di akhir terbongkarlah semuanya. Walaupun ada beberapa hal yang terasa ganjil buat saya sendiri, soal kenapa pihak forensik tidak menyadari wajah Ani dan wajah perempuan yang terbunuh itu mirip, toh yang rusak sebagian wajahnya bukan seluruh wajahnya, selain itu soal tinggi badan, mbok sri memberi kisaran tinggi badan yang berbeda dari yang diberikan kosasih. Semuanya menggiring pembaca ke opini, korbannya beda dengan Ani, korbannya bukan Ani. Dan soal pelaku yang sebenarnya membunuh Ani pun, benar-benar tak masuk daftar tersangka sejak awal. Untuk bagian ini kalau saya tidak membaca halaman terakhir lebih dulu--kebiasaan ini sedikit menyebalkan-- mungkin saya juga akan terkejut.
Untuk keseluruhan, sebenarnya mau memberi 3.5 saya suka dialog-dialog pembelajarannya, saya suka hubungan antara Gozali dan Kosasih, dan kenyataan bahwa Gozali tidaklah tampan itu juga menarik hahahahah~
This entire review has been hidden because of spoilers.
4.8 ☀️ Buku ke 6 dari serial Kapten Polisi Kosasih dan Gozali.
Ketika membaca novel ini, saya sadar bahwa bukan rasa penasaran pada kasus misterinya yang membuat saya menyukai buku ini. Kasusnya memang ada, bergerak, dan diselesaikan. Inti ceritanya lumayan menarik, dengan plot twist. Tapi perhatian saya justru sering tertinggal di percakapan-percakapan kecil, dialog yang seolah tidak begitu berpengaruh pada alur, namun diam-diam membangun sesuatu yang jauh lebih dalam dan sarat makna.
Dalam banyak novel detektif, kasus adalah pusat segalanya. Tokoh-tokohnya sering hanya berfungsi sebagai mesin logika: dingin, efisien, dan selesai ketika teka-teki terpecahkan. Namun novel ini bergerak ke arah yang berbeda. Di sini, misteri justru terasa seperti latar. Yang benar-benar hidup dan membekas adalah karakternya, terutama dua figur sentral dengan pandangan hidup yang bertolak belakang: Kosasih dan Gozali.
Kosasih digambarkan sebagai sosok yang lurus dan konservatif. Prinsip hidupnya sederhana namun teguh. Bekerja sebaik mungkin adalah bentuk pertanggungjawaban langsung kepada Tuhan. Gaji, atasan, bahkan sistem yang tidak adil bukan pusat motivasinya. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus dilawan dengan kemarahan. Bahwa dalam sistem yang cacat, seseorang masih bisa memilih untuk tetap bersih tanpa merasa paling benar. la hanya hidup sesuai dengan keyakinannya sendiri, dan itu sudah cukup kuat sebagai pernyataan moral.
Sikap ini membuat Kosasih terasa utopis, terlalu baik, atau bahkan naif untuk dunia yang penuh dengan kompromi. Namun, di situlah kekuatannya. Ia menjadi semacam pengingat bahwa integritas masih mungkin ada tanpa harus berteriak atau memaksa orang lain sepakat. Bukan sebuah penyerahan yang bodoh dan kosong, melainkan sikap pasrah yang sadar dan berprinsip. Ada garis yang jelas antara apa yang bisa dia kendalikan dan apa yang di luar kuasanya.
Baginya iman menjadi mesin yang membuat dia tetap waras. Bukan iman yang menjanjikan keajaiban instan ala lampu Aladdin, tapi iman yang percaya bahwa berkat itu bentuknya macam-macam. Kesehatan keluarga, ketentraman hidup, anak-anak yang dimudahkan pendidikannya, semua itu dianggap imbalan yang sah, bahkan mungkin lebih berharga dari sekadar uang atau materi.
Kosasih menjadi pengingat bahwa kadang, integritas itu kelihatan naif dan hampir mustahil, tapi karena itu juga lah integritas menjadi mahal harganya. Di tengah dunia yang terus menuntut lebih, Kosasih seperti mengingatkan bahwa rasa cukup itu mungkin, meski langka.
Gozali, di sisi lain, adalah kebalikan yang sama-sama meyakinkan. Ia tidak puas dengan kepatuhan semata. la bertanya, menggugat, dan menggali makna di balik nilai-nilai yang selama ini diterima begitu saja.
Yang paling membekas bagi saya adalah keberanian Gozali menyentuh hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Dalam percakapannya dengan Beni, seorang remaja berusia 14 tahun, Gozali berbicara tentang pendidikan bukan sebagai jalan menuju status sosial, melainkan sebagai proses memahami dunia dan diri sendiri. Kepintaran baginya adalah sumber kepuasan batin yang tidak ada habisnya, sebuah alat untuk menjadi manusia yang utuh, yang mampu bersyukur dan berempati. Bukan alat untuk sekadar mengumpulkan harta atau ketenaran, yang mana hal tersebut begitu dangkal maknanya.
Ia juga menyinggung tentang kewajiban anak untuk mengurus orang tua di masa tua mereka, dan memisahkan dengan tegas antara kewajiban dan cinta. Anak, menurutnya, tidak pernah meminta untuk dilahirkan, sehingga tidak adil jika sejak awal hidupnya sudah dibebani tanggung jawab yang tidak ia pilih. Bakti yang sejati bukanlah hasil tuntutan, melainkan buah dari cinta yang dipupuk dan tumbuh alami. Pandangan ini terasa sangat humanis, visioner dan melampaui zamannya, bahkan jika dibaca hari ini, mengingat novel ini terbit di tahun 1986.
Sebagai pembaca, saya merasakan bahwa Gozali bukan sedang mengajarkan pembangkangan, melainkan kejujuran emosional. la memberi ruang pada pertanyaan-pertanyaan yang sering dipendam karena takut dicap durhaka atau tidak bermoral. Dalam percakapannya dengan Beni, Gozali hadir bukan sebagai figur otoritas, melainkan sebagai manusia dewasa yang mau mendengarkan kegelisahan seorang anak tanpa menghakimi.
Saya merasa Gozali bukan sekadar tokoh cerdas, tetapi juga manusia yang peka. Ia berbicara dari kesadaran bahwa manusia, termasuk anak-anak punya kegelisahan yang layak didengarkan. Dalam genre detektif yang sering menomorsatukan logika dingin dan metode sistematis, kehadiran Gozali sebagai sosok reflektif dan perasa terasa seperti anomali yang menyegarkan.
Di sinilah saya merasa novel ini menjadi lebih dari sekadar cerita detektif. la tidak memaksa pembaca untuk memilih siapa yang paling benar. Sebaliknya, ia menghadirkan dua pandangan hidup yang sama-sama logis, sama-sama berakar pada nilai, dan sama-sama bisa dipertanggungjawabkan. Kosasih dan Gozali tidak saling meniadakan, mereka saling melengkapi. Keduanya menunjukkan bahwa moralitas bisa lahir dari kepatuhan maupun dari keberanian berpikir.
Bahwa iman bisa hadir dalam diam yang patuh, maupun dalam dialog panjang yang penuh keraguan.
Bahwa kepatuhan tanpa kesadaran bisa menjadi hampa, sementara pertanyaan tanpa keteguhan bisa menjadi tak terarah.
Pada akhirnya, membaca novel ini bagi saya adalah pengalaman bercermin. Seakan saya dipaksa bertanya pada diri sendiri: nilai mana yang selama ini saya jalani? Mana yang saya yakini, dan mana yang hanya saya terima begitu saja tanpa pernah benar-benar saya pikirkan? Dan mungkin, justru di pertanyaan-pertanyaan itulah kekuatan utama novel ini bersemayam.
Sebenernya mau ngasih 4,5 sih tp kalo dibuletin jadi 5 kan ya? :p Ini novel detektif-detektifan pertama yg pernah aku baca dan I tought I knew everything but.......... I was wrong. The last chapter really has an unpredictable twist :''''' ending dari kasusnya bener-bener bikin nganga :O Novel ini bikin aku pengen baca novel S. Mara Gd lainnya apalagi petualangan(?) Kapten Kosasih dan Gozali. Suka sama pasangan ini banget :3 Intinya sih this novel suits me lah. I enjoy reading every page of it :') *ngubek-ngubek laci lagi*
Sebuah buku yang memuat petuah-petuah tentang keputusan berumahtangga atau tidak, arti sebenarnya pendidikan sebagai tempat penimbaan ilmu alih-alih pencarian gelar, hubungan orangtua dan anak yang harus didasari cinta dan keikhlasan, dll.
(Lho, bukannya ini cerita misteri pembunuhan?)
Begitulah memang gaya menulisnya S. Mara Gd, yang doyan menyelipkan dialog obrolan kehidupan di sela-sela ceritanya. Kadang mengingatkan saya juga pada gaya serupa di cerita silatnya Kho Ping Hoo—mungkin memang begitulah tipe cerita fiksi yang paling digandrungi pembaca di zaman mereka! Daripada lewat buku-buku self-help/motivasi yang sudah terang-terangan ingin berpetuah kepada pembacanya dari awal, kedua penulis laris tersebut memilih menyisipkannya melalui drama panggung karakter fiksi, walaupun di dua genre yang berbeda.
Ah, bukan berarti kasus atau misterinya jadi tenggelam dan terlupakan. Namun, saya jadi kian paham keunggulannya Bu Mara, yang memang amat kuat dalam penokohan dan dialog. Beliau agak menghindari narasi trik atau investigasi yang kompleks, dan lebih fokus pada drama hubungan antar manusianya. Melalui dialog lincah nan autentik serta penggambaran humoris macam '…potongan tubuhnya yang dulu seperti gitar sekarang sudah berubah seperti labu siam berkaki', semua karakter jadi benar-benar terasa hidup; baik itu pasangan penyelidik Kosasih dan Gozali dengan segala dinamika persahabatan mereka, para tersangka dan tokoh kunci, maupun tokoh-tokoh figuran yang hanya nongol di satu-dua bab sekalipun.
Sejujurnya, sewaktu kasus berupa sesosok mayat perempuan tak dikenal ditemukan dengan jari-jari hangus terbakar dan wajah remuk (sementara nona tuan rumahnya hilang entah ke mana), saya langsung sotoy berpikir:
“OH, INI MAH PASTI BEGINI KEJADIANNYA! JANGAN MAIN-MAIN SAMA SAYA, YANG SUDAH KENYANG BACA NOVEL DETEKTIF BERPULUH-PULUH TAHUN!”
Saat arah ceritanya makin mengarah sesuai asumsi tersebut, saya pun jadi kian sumringah… sebelum kemudian melongo, karena ternyata masih ada kejutan tak terduga. Jadi teringat pemikiran Seishi Yokomizo melalui diskusi tokoh fiktifnya, khususnya tentang pola/trope misteri mayat berwajah rusak, yang intinya penulis misteri harus terus menyiapkan antisipasi agar bisa mengecoh ‘pembaca berpengalaman’ sekalipun. Dalam hal ini, SMG jelas sudah menyiapkan kartu as, yang dimainkan secara memuaskan dan membuat saya jadi manggut-manggut, “Oke, jadi itu alasannya kenapa ada dialog/adegan demikian di awal…”
Walau belum banyak baca karyanya beliau, rasanya judul ini ujungnya akan jadi salah satu favorit saya. Ada misteri yang awalnya gampang ditebak tapi juga mengecoh, karakter-karakter yang menghibur, serta tentunya, masukan-masukan kehidupan yang bikin saya ingin duduk ngerumpi bersama Bung Gozali—yang tak dinyana mendapat akhiran begitu manis setelah kasus yang tragis.
"Jangan sekali-kali menuntut cinta dari orang lain! Biarpun itu dari ibumu sendiri, misalnya. Kalau kau menghendaki ia mencintaimu, maka berbuatlah hal-hal yang bisa menimbulkan rasa cinta itu. Kau tidak bisa menuntut, tapi kau bisa membantu membangkitkan perasaan yang istimewa itu."
(Gozali, hal 208).
Ani adalah seorang pekerja keras yang hidup dan dibesarkan di sebuah panti asuhan di Jakarta. Dengan kerja keras dan ketekunan, ia mampu menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah SKKA dan bekerja di perusahaan industri tekstil. Dari seorang buruh tukang potong kain sampai menjadi asisten kepercayaan atasannya.
Saat merantau ke Surabaya, ia mencoba peruntungannya dengan bermodalkan bakat alami sebagai perancang pakaian dan menjualnya ke butik milik Citra yang saat itu tengah memulai bisnisnya. Karena merasa cocok Citra pun akhirnya mempekerjakan Ani sebagai karyawan dan perancang semua gaun dan pakaian di butik Citra. Seiring berjalan waktu akhirnya mereka menjadi partner bisnis dan semakin dekat sebagai sahabat.
Namun suatu hari Citra menemukan sahabatnya Ani menghilang, bersamaan dengan itu ditemukan pula sesosok mayat seorang gadis di kediaman Ani yang tidak dapat dikenali karena wajah dan jari-jarinya dirusak.
Siapa sebenarnya gadis tersebut dan apakah sahabatnya Ani memang terlibat pembunuhan sehingga harus menghilang dari rumahnya?
* * *
Dosa masa lalu meninggalkan bayangan yang panjang. Namun demikian masa lalu yang suram tentu bisa diperbaiki dengan niat dan usaha yang keras. Kejujuran adalah hal terpenting dalam membina hubungan dengan orang lain sehingga tidak ada kesalahpahaman dan prasangka.
Buku ini cukup membangkitkan rasa ingin tahu dari awal sampai akhir, meski saat awal kita merasa bisa menebak siapa pembunuhnya namun di akhir cerita ternyata penulis mampu membuat kejutan. Layak baca untuk suasana santai di rumah tapi jangan baca pas malam Jum'at ya.
Ceritanya lagi males baca novel berbahasa Inggris, eh malah keterusan..
Ditemukan mayat seorang gadis dengan muka separuh hancur dan ujung-ujung jari hangus. Sedang pemilik rumah tidak diketahui batang hidungnya.
Konsep cerita yang cukup unik di mana tokoh utamanya, Kapten Kosasih dan Gozali, jauh dari kata tampan. Deduksi-deduksinya juga sangat wajar, bahwa tidak perlu menjadi dekettif handal untuk memecahkan kasus. Yang paling penting adalah ketelitian.
Buku kedua S. Mara Gd yang saya baca ini sepertinya lebih banyak mengandung petuah dari pada pemecahan masalah. Mana kata-katanya lebih mengena daripada bisikan tetangga pula, haha.
Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, sebenarnya ini adalah kasus yang sangat gampang. Penampakan mayat pun sudah memberi clue tersendiri. Belum lagi kata-kata para tokoh. Tapi mencari pelaku dan motifnya perlu sedikit menggaruk kepala. Dan yang cukup menggegerkan tentu saja ending-nya! Twist yang tidak disangka-sangka! Benar kata Serina. Yang namanya selesai itu ya tidak boleh ada yang tersisa. Entah harus takjub atau tertawa jadinya.
Novel misteri itu yang paling baik adalah yang bisa menyisipkan hal penting sampai di akhir penyelesaian baru pembaca sadar bahwa ternyata itu hal penting. Bagian terpenting dari kasus ini menurutku mudah ditebak karena aku langsung tahu bahwa paragraf yang ditulis ini penting, jadi mudah tertebak misterinya. Tapi ada bagian lain yang ditulis dengan lebih halus jadi lebih sulit ditebak.
Secara misteri masih kurang greget, tapi karakter-karakter yang ada menarik semua. Aku suka wejangannya Kosasih dan Gozali sangat atraktif walaupun berkali-kali disebut mukanya tidak tampan. Hint romansanya Gozali juga lucu sedangkan keluarganya Kosasih menyenangkan untuk dibaca. Kontras kepribadian dua detekfif ini juga menyenangkan diikuti.
Gara2 membereskan buku karangan S. Mara Gd, saya menemukan ada beberapa buku yang ternyata belum dibaca, alias ditimbun. Padahal sudah disampul rapi. T.E.R.L.A.L.U sekali saya.
Ada Citra sebagai pemilik Butik Citra yang terlibat dalam kisah kali ini. Salah satu gadis rekan bisnisnya menghilang. Dan di tempatnya ditemukan mayat seseorang.
Saya penasaran, jika saya membaca kisah ini beberapa tahun lalu, apakah bintangnya tetap sama? Hem...
Pertama kali membaca novel S. Mara Gd dan berakhir dengan rasa kagum.
Buku terbitan tahun 1991 (menurut google, semoga benar) tetapi pembicaraan karakternya masih relevan sampai dengan tahun 2023 saat saya membaca buku ini. Jadi terasa seperti buku misteri, tetapi dibumbui self-help dan pengembangan diri.
Kasusnya sendiri cukup unik dan twist di akhir menurut saya tidak terduga.
Saatnya membaca lebih banyak petualangan Detektif Kosasih dan Gozali.
Dari awal ga kepikiran sama sekali siapa pembunuhnya soalnya korban aja ga diketahui identitasnya. Ternyata kok pelakunya malah yang paling ga disangka-sangka terutama pas halaman-halaman terakhir. Suka juga deh ceramah Gozali ke Beni, pokoknya ciri khas novel-novel Mara Gd ini selalu diselioin pesan-pesan moral disamping pemecahan misterinya.
4/5. Buku s mara ketiga yang saya baca (di ipusnas) dan masih tetep menarik, seru dan pengen cepet2 sampe akhir, walaupun alurnya kurang lebih mirip tapi perbadaan ceritanya masih bikin seru buat dibaca, dan plot twisnya bener2 ngecoh tapi bikin mikir masa gitu.
Ani, gadis yang bekerja kepada Citra di sebuah butik tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan sialnya ditemukan sesosok mayat tanpa identitas yang tak dikenal ada di kamarnya. Siapakah gadis tersebut dan ke manakah Ani menghilang?
Hhhmm sebenarnya udah ketebak sedari awal apa yang terjadi dengan Ani dari pengenalan tokoh di halaman awal. Ditambah topik yang diangkat sangat menjurus sebagai clue akan pengungkapan misteri di buku ini. Namun, saat buku ini terbit beberapa dekade lalu tentulah 'orang dulu' belum sefamiliar 'orang sekarang'terkait topik tersebut jadi tidaklah terlalu mudah ditebak apa maksudnya. Pun lagi kalau tidak jelipun serta tidak akrab dengan hal tersebut bisa jadi orang jaman sekarang yang membacanya juga akan terkaget-kaget dengan 'teknik' tersebut.
Lagi-lagi walaupun gw kira udah mecahin semua misterinya, in the end akan ada the real suspect yang mencengangkan dan membuat pembaca bertanya-tanya, kok bisa sih?????
Citra and Ani are business partners. They run a high end boutique shop together. One day Ani didn't come to the shop without any explanation. Later on, Citra found a body of an unidentified girl in Ani's house, and still Ani is nowhere to be found.
Good story. Good development. Unexpected ending. Classic! :)
But I still have one question though. If the victim is not very close with the real murderer, despite the connection, how could the murder happenned in Ani's BEDROOM? Has it happenned in another room and then somebody moved the victim?
Plot : 4.5/5 Charachter : 4.5/5 Gaya penulisan : 4.5/5
S. Mara Gd, Agatha Christie-nya Indonesia. Gaya penulisan beliau mirip banget dengan Agatha Christie, mungkin karena beliau sebelumnya adalah translator untuk karya-karya Agatha.
Khusus untuk buku ini, saya suka plot-nya. Motif pembunuhan serta pelaku yang sulit ditebak dan juga plot twist di akhir. Buku ini jadi yang paling favorit buat saya dari semua karya S. Mara Gd, yang sudah saya baca.
Cerita yang segar dan menegangkan - dengan adanya plot twist yang mengejutkan pembaca. Percakapan sehari-hari yang terasa akrab berhasil mewarnai cerita ini dan menghilangkan kesan monoton. Pembicaraan filosofis yang mendalam - tetapi juga ringan - juga berhasil memikat pembaca.