Kemampuan menulis Rendra, kupikir tidak hadir begitu saja dari langit. Terdapat pengaruh di sana. Itulah yang kemudian (dalam pikiranku) mengilhami ditulisnya Mukadimah dalam buku puisi ini.
Rendra di bangku sekolah, sudah mampu memperlihatkan kemampuan menulisnya yang mumpuni. Eksplorasinya terhadap peran bahasa kemudian mengantarkannya pada penciptaan puisi-puisi yang di buku ini berada pada bagian Puber Pertama. Bagaimana bahasa yang begitu sederhana (tidak puitik, bahasa sehari-hari) bisa mengantarkan pesan yang mendalam kepada lawan bicara? Itulah yang hendak dijawab Rendra melalui puisi-puisi di bagian Puber Pertama.
Eksplorasi peran bahasa mengingatkanku pada Chairil Anwar dan bagaimana ia mencoba "menghancurkan" bahasa Melayu tinggi sebagai standar bahasa sastra. Dalam sajak-sajak bagian Puber Pertama, tentu saja kita temukan Rendra di usia yang masih remaja menuliskan puisi-puisi cinta yang membuat kita senyum-senyum manis, karena... Alamak! Ini kalau dipakai di masanya, pasti, lah, sudah banyak perempuan klepek-klepek.
Kenaifan cinta anak remaja yang kemudian dirumuskan Rendra dalam sebuah bahasa yang sederhana membentuk puisi dengan metafor-metafor penuh harap; menyenangkan melihat Rendra sudah memperlihatkan sisi puitiknya sejak remaja dan kepekaannya dalam memandang dunia sekitar, juga bahasa.
Pembagian buku puisi ini dalam tiga babak menurutku adalah untuk memperlihatkan perubahan paradigma dan tentu saja perkembangan Rendra dalam menulis.
Bagian kedua, atau disebutnya Puber Kedua memperlihatkan bentuk lain. Kupikir ini adalah masa-masa ketika Rendra sudah mulai mengerti cinta yang ditabrakan dengan realita. Diksi-diksinya memperlihatkan itu, manis tapi juga memberikan kesan pahit berkepanjangan. Barangkali, pada tahap ini Rendra berhadapan dengan apa yang kemudian kita katakan sebagai patah hati—yang ternyata benar adanya, karena Rendra sendiri ditinggal mati kekasihnya saat itu. Puber Kedua bagiku adalah upaya Rendra menyadari apa itu cinta dan sisi lain yang lengket bersamanya.
Puber bagian ketiga, adalah puber "hati" yang menurutku memperkenalkan Rendra pada apa itu keikhlasan dan penerimaan; lagi-lagi sisi lain dari cinta. Tidak banyak tema atau apa pun yang bisa kukomentari dari bagian ketiga, kecuali kenyataan bahwa puisi Hei, Ma! yang menjadi penutup buku puisi ini menyentakku dengan diksi-diksinya yang garang, manis, tapi tidak memperkeras makna cinta, melainkan memperlembutnya.
Oh, pada puber kedua dan ketiga, puisi lebih sering berbentuk sajak panjang, atau bisa dikatakan Balada. Rendra dengan apik pada bagian pertama mempertahankan pola dan aturan puisi pre-Chairil Anwar.
Aku senang membaca hasil wawancara dengan Willy (panggilan kecil Rendra) di bagian akhir. Mengantarkanku untuk sejenak lebih kenal dengan sosok yang kemudian menjadi patron dari banyak karir kepenyairan modern.