A young Indonesian woman with an ailing mother and a celebrity father whose moon is on the wane. A painful family secret dragged into the open, a subversive Western lecturer, and nowhere else to turn. A steady drift into dangerous waters, a choice between black and white when everything seems grey.
‘A simple and perceptive drama, Annisa shines a light on social matters close to the hearts of many Indonesians.’ Muzakkir Husain, Berita Satu
Kisahnya sebenarnya menarik, hanya saja bukan tipe bacaan yang akan saya baca ulang. Harus saya akui, kisah seorang gadis bernama Annisa yang diibaratkan sebagai sebuah kapal di lautan luas bernama kehidupan ini begitu puitis dan romantis dalam sinopsis. Sinopsis di cover belakang inilah yang membuat saya tertarik membeli. Sayangnya ketika membaca kehidupan Annisa dalam buku, saya merasa serba nanggung. Pergulatan batin Annisa, kebingungan dan kemarahan yang menjadi akar tindakannya, rasanya seperti tidak tuntas dituangkan. Sering kali ketika membayangkan apa yang saya baca, yang "hidup" justru sosok wanita dengan tatapan kosong dan sedang berdialog atau menjelaskan perkara hatinya dengan datar. Ada pula karakter Peter, digambarkan sebagai sosok cerdas dan misterius yang juga sedang menghadapi dilema hidup yang berat. Sayangnya, seberapa beratnya dilema Peter pun tidak bisa saya tangkap sepenuhnya. Boleh dibilang, saya membaca tapi tidak paham emosi apa yang coba penulis sampaikan dalam cerita. Saya gagal menangkapnya. Entah apa yang membuat saya sering gagal fokus, tapi ketika membaca buku ini saya tidak merasakan klimaks dalam konfliknya.
Yang paling menarik dari buku ini adlaah saya berkesempatan mengintip satu dua bab saat John menggubahnya. Merupakan sebuah kehormatan besar untuk saya, John, a very devoted writer, mengizinkan saya untuk membaca sedikit pembuka buku ini. Seingat saya, dulu ia belum memberikan judul untuk cerita tentang Annisa ini.
Setelah beberapa waktu lalu, akhirnya buku ini terbit. Saya membelinya di Pameran Buku, sekaligus bersua dengan Mr. John. Berbincang ringan dan berbagi kabar tentang kehidupan sehari-hari.
Buku ini berbeda dengan Mualaf. Buku pertama John yang saya baca. Saya rasa buku ini lebih membumi. Lebih mewakili mayoritas penduduk Indonesia. Benar bahwa buku ini punya potensi untuk dicibir sebagai terlalu sinetron-y. Tapi bagi saya, tidak ada yang salah dengan itu. Toh laporan data kepemirsaan televisi menunjukkan bahwa sinetron adalah program teve yang paling banyak disuka pemirsa.
John meletakkan konflik dalam Annisa dengan jeli. Sedikit tricky untuk seorang penulis yang bukan lahir dan besar di Indonesia, tapi ia melakukannya dengan cukup baik. Belum brilian, tapi cukup menyenangkan. Isu-isu dan konten yang pada dasarnya berat dan tabu menjadi menarik saat dituliskan oleh ia yang punya latar belakang budaya berbeda.
Buku ini sangat cocok menjadi teman memasak, menyetrika, mencuci piring, dan melepas lelah usai mengantar anak sekolah. Mengapa demikian? Karena buku ini akan sangat dicintai oleh para ibu-ibu rumah tangga. Mama saya, menghabiskan Annisa hanya adalam waku satu malam! Ya, benar-benar satu malam. She let herself awake until very late night. Sepertinya ia sangat menikmati alur cerita dan drama yang ada di dalam Annisa.
Apa kekurangan buku ini? Entahlah, sepertinya saya penasaran dengan sisi humoris seorang John Michaleson. Buku ini bukan "mainan" John. Saya tahu ia bisa lebih keren lagi!