Jump to ratings and reviews
Rate this book

Merindu Cahaya de Amstel

Rate this book
Cahaya mentari sore menciptakan warna keemasan di permukaan Sungai Amstel. Mengingatkan Nicolaas van Dijk, mahasiswa arsitektur yang juga fotografer, pada sosok gadis Belanda dengan nama tak biasa, Khadija Veenhoven. Gadis yang terekam kameranya dan menghasilkan sebuah foto “aneh”.

Rasa penasaran pada Khadija mengusik kenangan Nico akan ibu yang meninggalkannya saat kecil. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari sang ibu, sampai Khadija memperkenalkannya pada Mala, penari asal Yogya yang mendapat beasiswa di salah satu kampus seni di Amsterdam.

Ditemani Mala, Nico memulai pencariannya di tanah kelahiran sang ibu. Namun Pieter, dokter gigi yang terpikat pada Mala, tak membiarkan Nico dan Mala pergi tanpa dirinya. Dia menyusul dan menyelinap di antara keduanya.

Tatkala Nico memutuskan berdamai dengan masa lalu, seolah Tuhan belum mengizinkannya memeluk kebahagiaan. Dia didera kehilangan dan rasa kecewa itu dia lampiaskan pada Khadija yang telah mengajarinya menabur benih harapan.

Kembali Nico mencari jawaban. Hingga sinar yang memantul di permukaan Sungai Amstel menyadarkannya. Apa yang dicarinya ada di kota Amsterdam ini dan sejak awal sudah mengiriminya pertanda. Akankah kali ini Nico berhasil memeluk kebahagiaannya?

272 pages, Paperback

First published September 24, 2015

27 people are currently reading
253 people want to read

About the author

Arumi E.

28 books97 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (26%)
4 stars
43 (33%)
3 stars
37 (29%)
2 stars
8 (6%)
1 star
5 (3%)
Displaying 1 - 30 of 35 reviews
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
May 10, 2016
3,5/5 star

Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Mba Arumi E, setelah sebelumnya aku cukup menikmati membaca Pertemuan Jingga dan Eleanor: Do You Want To Know A Secret. Kali ini, Mba Arumi hadir kembali dengan karya terbarunya yang seperti biasa masuk novel romance religi.

"Soal keyakinan adalah soal hati. Biarkan hatimu mencari sendiri apa yang paling nyaman untuk kamu jalani."

Ini tentang kisah Khadija, seorang mualaf. Khadijah, seorang gadis Belanda yang dulu bernama Marien Veenhoven. Khadijah memutuskan untuk memeluk muslim sejak 3tahun lalu sejak mengalami perjalanan spritual yang cukup menyejukkan hatinya, yang membuat dirinya mantap dengan keyakinan barunya. Sekalipun pilihannya ini membuat dirinya harus tersisih dari keluarga besarnya.

Khadija dulunya juga seperti gadis Eropa lainnya, yang hidup bebas dan pernah punya kisah masa lalunya sendiri, tetapi sejak memutuskan menjadi muslim, Khadija mengubah penampilannya layaknya wanita muslimah seutuhnya, termasuk menutup auratnya dengan berhijab dan hubungannya dengan lawan jenis juga lebih dijaga.

Nicoolas van Dijk yang sedang hunting foto begitu penasaran dengan sosok yang terpotret dalam kameranya. Sosok yang dinaungi cahaya layaknya malaikat. Sosok itu adalah Khadija yang sedang asyik membaca buku di Museumplein, tempat favoritnya.

Nico penasaran dengan sosok Khadija dan ingin memotretnya lagi, tetapi Khadija keberatan. Sosok Khadija yang teguh dengan pendiriannya membuat Nico makin penasaran, perlahan-lahan mereka pun semakin dekat walau tetap dalam batas kewajaran.

Suatu hari Khadija pun bertemu dengan sosok Mala, gadis Indonesia yang menggeluti dunia menari. Awalnya Mala tidak ingin berdekatan dengan Khadija, karena takut akan dinasihati soal islam, mengingat Mala walaupun muslim tapi sudah lama tidak melaksanakan ibadah seperti Khadija.

Berkat Khadija pula, Nico akhirnya bertemu dengan Mala dan akhirnya membuka peluang bagi Nico untuk ke Indonesia, mencari sosok mamanya sudah tidak ditemuinya sekian lama. Nico masih penasaran dengan keputusan mamanya untuk meninggalkannya dan papanya hanya karena keyakinan yang tidak sama.

Bagaimana akhir kisah Khadija, Mala dan Nico?

Membaca novel ini begitu menyenangkan, ini bukan hanya tentang kisah Khadija yang berjuang menjalani kehidupan barunya sebagai seorang mualaf, tetapi ini lebih daripada itu. Kita akan melihat sosok Khadija yang begitu teguh dalam menjalani kehidupan barunya, yang tentunya tidak mudah. Perubahan yang sedemikian besar dalam hidupnya, hingga pertentangannya dengan keluarga besarnya. Belum lagi pandangan orang-orang di sekelilingnya. Interaksinya dengan sosok Nico yang begitu apatis dengan Islam karena punya kejadian buruk dengan ibunya. Hingga sosok Mala, yang terlahir muslim tapi lupa dengan semua kewajibannya.

Aku suka dengan cara penulis menggambarkan kisah ini, tidak terkesan menggurui atau menasihati, semua berjalan apa adanya dan mengalir lancar. Kita akan diajak berkenalan dengan sosok Khadija, pertemuannya dengan Mala, dan Nico. Berbagai konflik muncul seiring berjalannya waktu, hingga mereka pun akhirnya saling berkaitan satu sama lain.

Aku benar-benar dibuat jatuh cinta dengan sosok Khadija yang santun dan berpendirian teguh terkait masalah keyakinannya. Aku yang terlahir sebagai muslim saja masih terasa susah sekali untuk menjadi muslimah seutuhnya. Sosok Khadija yang berdakwah tentang Islam pelan-pelan, tidak berusaha untuk memaksa terhadap Mala, maupun Pieter sepupunya yang juga tertarik terhadap Islam.

"Aku tidak akan memaksamu menjalani hidup seperti aku, Mala. Karena yang akan menjalani hidupmu adalah kamu sendiri."

Sosok Khadija juga tidak digambarkan sebagai sosok wanita yang sempurna, ia juga manusia yang punya salah dan khilaf. Khadija juga punya kehidupan masa lalu yang buruk bahkan cenderung kelam, tetapi dia mau berubah sebagai sosok yang baru dan selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

"Kalau kamu sudah punya niat kuat untuk ingin mewujudkan sesuatu, selalu ada jalan untuk mencapainya. Itu law of attraction namanya. Yakinlah dengan keinginanmu."

Overall, novel ini tidak hanya cantik covernya, tetapi juga cantik isinya. Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah ini.^^
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
October 19, 2015
“Karena manusia memang diciptakan beragam. Tuhan bilang supaya kita saling mengenal. Manusia memang tidak akanbisa seragam, punyacara hidup dan keyakinan pilihan sendiri. Yang harus kita lakukan adalah saling menghargai pilihan masing-masing.” (hlm 237)

Nicolaas van Dijk dan Khadija (Marien Veenhoven) dipertemukan di tepian sungai Amstel, kota Amsterdam Belanda. Dua sosok yang berbeda 180 derajat, walaupun sama-sama Eropa. Ada hal tidak biasa dalam sosok Khadija yang membuat Nico seolah selalu ingin mendatangi gadis itu. Bukan hanya siluetnya yang tampak berselimut cahaya ketika tanpa sengaja Nico memotret gadis itu untuk pertama kalinya, tetapi keteguhan prinsipnya yang sedikit banyak mengingatkan Nico akan keadaan dirinya sendiri. Dua insan dipertemukan, tanpa satu pun menyadari bahwa benang-benang takdir telah mempertemukan keduanya sebagai awal dari rangkaian begitu banyak peristiwa.

"Semua butuh proses, Mala. Allah menilai proses yang kamu lalui. Yang penting kamu sudah berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.” (hlm 100)

Sejak terpesona dengan Ayat-Ayat Cinta sekitar sepuluh tahun lalu, saya belum menemukan novel Islami sejenis yang mampu menghadirkan sesuatu yang baru. Novel-novel religious berembel kata ‘cinta’ pada judulnya seoah seperti membebek kesuksesan AAC, dengan jalan cerita yang bisa dikatakan agak-agak mirip. Di satu sisi, kemunculan novel religi Islami selayaknya disambut dengan sukacita sebagai pengimbang novel-novel pop yang membanjiri pasar. Namun, perlu adanya sentuhan baru agar pembaca tidak bosan dengan cerita yang begitu-begitu saja. Di novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E ini akhirnya saya menemukan apa yang saya cari.

“Dan tanpa sadar kita akan melakukan kesalahan-kesalahan baru. Tidak apa-apa. Itu membuat kita bersemangat ingin menjadi lebih baik lagi.” (hlm 53)

Seorang gadis Belanda memutuskan untuk memeluk agama Islam. Sungguh sebuah keputusan yang berat karena hal ini berarti mengubah 180 derajat seluruh aspek kehidupannya. Dari yang gemar berpesta pora menjadi lebih banyak puasa sunnah, dari yang semula bebas bergaul dengan siapa saja menjadi dengan mereka yang sudah muhrim saja, dan yang paling berat baginya mungkin adalah harus mengenakan kerudung yang menutupi rambut hingga ke badannya. Sungguh ini adalah sebuah keputusan dengan konsekuensi yang tidak ringan.

“Kalau kamu sudah punya niat kuat ingin mewujudkan sesuatu, selalu ada jalan untuk mencapainya. Itu law of attraction namanya. Yakinlah dengan keinginanmu.” (hlm 184)

Tapi, tidak, buku ini bukan tentang kisah perjuangan Khadija dalam mendalami Islam. Kisah tentang seorang muallaf mungkin sering sudah kita baca, sementara novel ini adalah semacam perpanjangan dari seorang muslim yang juga seorang Eropa. Jadi, kisahnya dibalik. Kita diajak memandang Islam dari kacamata seorang Belanda, baik seorang muslim maupun nonmuslim (Pieter). Bahkan, Mala—yang adalah seorang Indonesia di buku ini—oleh penulis ditempatkan sebagai seorang yang belajar Islam dari seorang Eropa. Sudah saya bilang, buku ini bukan sekadar novel Islami pasaran, ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Bedanya baru akan terasa saat kita membacanya.

“Manusia sering salah dan khilaf. Tapi, dari kesalahan itu kita belajar memperbaiki diri.” (hlm. 53)

Dengan setting Belanda, saya awalnya mengira paling-paling setting di luar negerinya hanya sekadar tempelan (seperti novel-novel lokal bersetting luar negeri yang sudah-sudah). Ternyata dugaan saya keliru. Aroma Belanda terasa begitu kental di novel ini, bahkan setting Indonesia hanya mendapat porsi sekitar 25 – 30% dari keseluruhan buku ini. Inilah kekuatan riset, tampak benar kalau penulis melakukan riset secara serius selama proses penggarapannya.

“Tidak masalah bagiku. Aku seorang yang memandang ke depan. Tidak terpengaruh dengan masa lalu seseorang.” (Hlm 97)

Lalu bagaimana dengan ceritanya? Saya yang sudah lama tidak membaca novel Islami saja terkagum-kagum dengan kebaruan yang dibawa buku ini. Walau ini novel Islami, sama sekali tidak terasa kesan menggurui atau menceramahi. Semua karakter dibiarkan mengalir apa adanya: ketegasan Khadija dalam mepertahankan prinsipnya, dorongan benih-benih cinta yang memang manusiawi, apatisme Nico sebagai warga Eropa, juga tentang pandangan realitis Mala yang memang apa adanya. Semua tidak terasa dipaksakan dan ditulis dengan begitu realistis.

"Aku tidak punya hak memaksamu, Mala. Kamu punya hak penuh akan menjalani hidupmu seperti apa. Kamu sendiri yang menentukan.” (hlm 100)

Ini benar-benar novel Islami yang beda! Ikutan giveawaynya dong di http://dionyulianto.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Indri Octa Safitry.
Author 1 book18 followers
January 27, 2021
Buku kesekian dari karya ka Arumi yg ku baca. Dan aku selalu suka tulisannya. Rapih dan detail. Menceritakan kisah Hadija yang menjadi mualaf yang di sekililingi oleh orang2 non muslim dia berpegang teguh dan berusaha tetap istiqomah. Bahkan dia memberikan cahaya untuk teman-temannya yg memerlukan penerangan

Aku suka karakter tiap tokoh. Ada beberapa konflik dalam cerita ini. Bukan hanya tentang keteguhan Kadija semata, bukan tentang rasa suka di hati, melainkan tentang kekeluargaan, toleransi, persahabatan, kepercayaan. Semua ada dalam cerita ini. Sayang, endingnya terlalu cepat. Kurang puasss. Kurang banyakkkk hehe
Profile Image for Yessyka Widy.
221 reviews19 followers
November 6, 2015
Sebenarnya saya ingin memberi empat bintang, tapi karena ada poin plus untuk covernya yang begitu cantik, saya jadikan lima bintang, ya Mbak… Hihi~

Kisah ini mungkin juga ditemui di cerita lain, tentang mualaf, pribumi yang beragama Islam tapi melalaikan kewajibannya, bahkan manusia non muslim yang sedang mempelajari tentang Islam, tapi pasti ada beda, entah alur cerita, tempat atau pelakunya, yang pasti setiap penulis memiliki caranya sendiri untuk menuangkan ide itu.

Bagaimana pun, saya suka bagaimana cara Mbak Arumi melakukannya, indah. Bahkan saya sayang untuk meninggalkannya.

Pun, dalam cerita bergenre Islami ini saya dapat menemukan banyak pembelajaran –tanpa bersifat menggurui dan ceramah-, tentang bagaimana seharusnya pria dan wanita berperilaku, tentang pacaran, berhijab, dan melakukan kewajiban-kewajiban yang lainnya bagi setiap muslim. Hal-hal yang selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Semua itu cukup membuat saya malu, saya sebagai seorang muslimah sejak lahir dan berada di lingkungan yang mendukung, tak sebagus Khadija, masih tak bisa se-istiqamah dia…

Coba lihat Khadija, seorang mualaf dari Eropa yang selalu berusaha memperbaiki diri, yang bisa membuat pengaruh yang baik bagi sekitarnya, Nico, Pieter dan Mala. Tidakkah itu sangat membahagiakan?

Apalagi, dalam cerita ini, tidak muluk-muluk menceritakan tentang cinta lawan jenis, tapi juga tentang cinta keluarga. Yang sejatinya, di sana rasa cinta itu tak pernah hilang. Bagaimana pun keadaannya.

Great job, Mbak Arum! Will be waiting for your next religious novel ^_^
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
April 12, 2016
Akhirnya kesampaian baca ini. Sejak melihat sinopsis dan covernya sudah bikin penasaran. Penjabatan setting sangat detail. Romance Religi yang mengaduk-ngaduk emosi. Tidak melulu tentang cinta, tapi bagaimana menjalani proses untk memperbaiki diri. Bahwa setiap orang memang akan mengalami fase itu. Dan manusia kadang juga khilaf.
Ah, khadija or Marien. Dia muncul sebagai seorang muslim taat. Yang menjaga pergaulan. Berbanding terbalik dengan masa lalunya yang kelam.

Lalu tiba-tiba Nico cowok blasteran Belanda-Indo itu muncul. Nico yang tidak mempercayai Tuhan. Dia hadir membuat secuil hati Khadija tidak tenang. Bersama itu ada juga Mala gadis Yogyakarta, seorang penari yang menjadi teman Khadija dan tertarik dengan Nico. Bahkan mereka pergi ke Yogya bersama. Mala membantu Nico mencari ibunya.

baca selengkapnya di sini http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...

Profile Image for Intan Kamala sari.
18 reviews7 followers
October 25, 2015
Ini kali ke-lima membaca karya kak Arumi E. Merindu Cahaya de Amstel, khas tulisan kak Arumi yang bergenre religi romantis. Kali ini aku diajak menjelajahi Belanda. Berandai-andai, alangkah indahnya jika di Bengkulu ada taman umum yang asik dijadikan tempat membaca seperti Museumplein. Juga manisnya jika bisa merasakan langsung senja di sungai Amstel. Aw, so sweet!

Belum baca isinya, aku udah jatuh cinta sama novel ini loh. Soalnya covernya cantik. Sepakat? Dan nggak cuma cantik loh, Ketimpukers, covernya juga sinkron sama isi. Aku malah membayangkan kalau cover ini adalah salah satu hasil jepretan Nico. Hihi.

Review lengkap di http://ketimpukbuku.blogspot.co.id/20...
Profile Image for nunaalia.
4 reviews1 follower
March 23, 2016

“Kita mungkin tak bisa menjadi sempurna, tapi selalu ada kesempatan menjadi lebih baik.”

~ Sinopsis ~

Cahaya mentari sore menciptakan warna keemasan di permukaan Sungai Amstel. Mengingatkan Nicolaas van Dijk, mahasiswa arsitektur yang juga fotografer, pada sosok gadis Belanda dengan nama tak biasa, Khadija Veenhoven. Gadis yang terekam kameranya dan menghasilkan sebuah foto “aneh”.

Rasa penasaran pada Khadija mengusik kenangan Nico akan ibu yang meninggalkannya saat kecil. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari sang ibu, sampai Khadija memperkenalkannya pada Mala, penari asal Yogya yang mendapat beasiswa di salah satu kampus seni di Amsterdam.
Ditemani Mala, Nico memulai pencariannya di tanah kelahiran sang ibu. Namun Pieter, dokter gigi yang terpikat pada Mala, tak membiarkan Nico dan Mala pergi tanpa dirinya. Dia menyusul dan menyelinap di antara keduanya.

Tatkala Nico memutuskan berdamai dengan masa lalu, seolah Tuhan belum mengizinkannya memeluk kebahagiaan. Dia didera kehilangan dan rasa kecewa itu dia lampiaskan pada Khadija yang telah mengajarinya menabur benih harapan.

Kembali Nico mencari jawaban. Hingga sinar yang memantul di permukaan Sungai Amstel menyadarkannya. Apa yang dicarinya ada di kota Amsterdam ini dan sejak awal sudah mengiriminya pertanda. Akankah kali ini Nico berhasil memeluk kebahagiaannya?

~ ◊◊◊ ~

~ My Review ~

Nicolaas Van Dijk adalah pemuda Belanda campuran Indonesia. Mahasiswa arsitektur yang juga fotografer lepas. Nico menyukai street photography. Di jalanan, terkadang dia menemukan sesuatu tak terduga yang menjadi gambar menarik setelah terekam kameranya. Salah satu foto yang menarik perhatiannya adalah foto seorang gadis berkerudung yang sedang duduk membaca buku di rerumputan. Foto itu menjadi tidak biasa karena ada semburat cahaya mengelilingi tubuh gadis itu. Gadis yang tidak sengaja ditabraknya saat ia asyik memotret. Gadis muslim berwajah Eropa.

“Dia bukan sejenis malaikat, kan?” – Nico - (Hal.6)

Karena foto tak biasa itu Nico nekad mencari dan mendatangi gadis itu. Ia memperkenalkan diri dan meminta ijin memotretnya. Namun gadis bernama Khadija itu menatapnya curiga dan menolak dengan tegas. Nico yang penasaran tidak menyerah begitu saja, ia malah mengambil foto Khadija diam-diam. Dan ternyata di foto berikutnya tidak ada cahaya aneh pada foto Khadija.

“Aku penasaran kenapa kamu tertarik dengan Islam. Sementara aku justru punya pengalaman tidak enak tentang itu.” – Nico - (Hal.23)

Khadija yang ternyata seorang mualaf, mengingatkan Nico pada sosok mamanya yang juga seorang muslim. Mama yang meninggalkannya saat kecil dan memberikannya kenangan pahit yang membuatnya kecewa dan patah hati karena ditinggalkan.

Suatu ketika Nico meminta ijin pada Khadija untuk memuat fotonya di majalah karena ada tema yang cocok dengan foto itu. Namun Khadija tetap keberatan. Khadija malah memperkenalkan Nico dengan Mala, penari asal Yogya. Khadija pun menyarankan Nico memotret Mala. Profil Mala yang seorang penari tradisional Indonesia yang mendapat beasiswa belajar tari kontemporer di Amsterdam pasti menarik untuk dimuat di majalah.

Mengenal Mala kembali mengingatkan Nico pada mamanya yang seorang wanita jawa. Ucapan Mala yang mengatakan kalau Nico merindukan mamanya mengusik batin Nico. Memunculkan perasaan yang selama ini dipendamnya. Dan secara tiba-tiba saja ide untuk ke Indonesia muncul. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.

Dengan ditemani Mala yang kebetulan pulang ke Indonesia untuk menghadiri undangan menari di acara festival tari Internasional di Yogya, Nico pun mencari keberadaan ibunya.

Bagaimana pertemuan Nico dengan ibunya yang sudah berpisah selama enam belas tahun? Dan apa yang terjadi pada Nico ketika akhirnya dia harus kehilangan lagi?

Lalu, bagaimana pesona seorang Khadija sehingga dapat mempengaruhi orang-orang terdekatnya, seperti Mala, Pieter, bahkan Nico?

~ ◊◊◊ ~

~ My Opinion ~

Novel ini berkisah tentang beberapa tokoh diantaranya Nico, Khadijah, Mala, dan Pieter. Walau porsi kisah Nico dan Khadija lebih banyak, cerita tentang Mala dan Pieter juga sangat menarik perhatian. Penggunaan Pov ketiga membuat kita diajak mengenal pribadi dan kehidupan keempatnya lebih dalam. Nico yang memendam kekecewaan sekaligus kerinduan kepada ibunya yang meninggalkannya sejak kecil. Khadija yang karena keputusannya menjadi mualaf membuat hubungannya dengan orangtua dan saudaranya menjadi renggang. Ada juga Mala yang berusaha keras menyelesaikan kuliahnya di Amsterdam dan terpaksa harus jauh dari keluarganya di Indonesia. Dan Pieter, sepupu Khadija, yang karena penasaran akhirnya menemukan cahaya dalam kehidupannya.

Novel ber-setting di Belanda, khususnya Amsterdam ini, membawa kita seperti berjalan-jalan di sana dan mengetahui bagaimana kehidupan orang-orangnya. Kita akan disajikan penggambaran tentang pemandangan senja di tepian Sungai Amstel, suasana di sekeliling Museumplein, juga kegiatan di Gedung Euromuslim Amsterdam. Yang menarik, orang Amsterdam menyukai memakai sepeda sebagai alat transportasi. Selain ke Amsterdam, novel ini juga membawa kita ke Yogya, Jakarta dan Bali, mengikuti perjalanan Nico berburu gambar-gambar yang menarik dan indah.

Selain membawa aku berjalan-jalan ke beberapa tempat, novel ini juga cukup membuat terharu. Di beberapa part aku sempat meneteskan air mata. Tapi aku tidak akan mengungkapkan kisah mana saja yang sukses membuat sesak itu, takut spoiler hehee. Oya, dalam novel ini juga mba Arumi mengenalkan kita dengan beberapa kata/frase/kalimat dalam bahasa Belanda.

Aku baru pertama kali membaca novel karya Mba Arumi, dan aku suka sekali dengan novel ini. Novel bergenre spiritual begini memang selalu membuat hati adem juga menohok diri sendiri. Aku merasa disadarkan ketika membaca kisah seorang Khadija yang baru menjadi mualaf selama 2 tahun, tapi begitu total menjalankan hidupnya sebagai the real muslimah, dari sikapnya, cara berpakaian, sampai konsep pergaulan antar lawan jenis. Sementara aku yang terlahir sebagai seorang muslimah, baru menjalankannya setengah-setengah. Aku dibuat kagum dengan pribadi Khadija dan pesonanya yang dapat membuat orang-orang yang mengenalnya menemukan cahaya dalam kehidupan mereka.

Kalau boleh kritik, menurutku sinopsis di belakang buku terlalu detail. Uraiannya sangat jelas sehingga aku sendiri sudah bisa menebak kemana ceritanya akan bergulir. Walau begitu tetap ada kejutan dalam cerita ini, tentang Pieter terutama, dan aku sangat excited mengikuti kisah Pieter ini. Sementara untuk masalah penulisan novel ini minim typo, aku hanya menemukan tiga kali typo. Good job! Jadi membaca novel ini nyaman sekali tanpa banyak gangguan typo. :D

Oya, aku juga mau berbagi sedikit tentang pengucapan salam. Ketika memasuki rumah, orang muslim selalu mengucapkan ‘assalamualaikum’, dan orang yang mendengarnya wajib menjawab ‘waalaikumsalam’. Nah jika kita masuk ke dalam rumah yang dalam keadaan kosong dan tidak ada orang yang akan menjawab salam, maka mamaku mengajarkan untuk mengucapkan ‘assalamualaina wa’ala ibadillahis solihin’ sebagai salam. Itu aja sih, semoga bermanfaat.

Ada beberapa kalimat menarik dan penuh makna yang tersebar dalam novel ini, diantaranya:

“Aku seorang yang memandang ke depan. Tidak terpengaruh dengan masa lalu seseorang.” –Nico- (hal.97)

“Aku tidak akan memaksamu menjalani hidup seperti aku. Karena yang akan menjalani hidupmu adalah dirimu sendiri. Kamu yang paling tahu seperti apa cara hidup yang paling nyaman buatmu.”
–Khadija- (hal.99)

“Soal dosa atau tidak dosa, Cuma Allah yang berhak menilai.”
“Kita sama-sama menuju kebaikan pelan-pelan.”
“Semua butuh proses. Allah menilai proses yang kamu lalui. Yang penting kamu sudah berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.”
–Khadija- (hal.100)

“Semoga Allah memberi aku kesempatan memperbaiki diri sedikit demi sedikit.” –Mala- (hal.100)

“Apa harus ada penjelasannya? Kamu yang bilang sendiri masalah keyakinan adalah hal yang personal. Efeknya berbeda pada setiap orang. Tiap orang punya rasa nyamannya sendiri tentang bagaimana cara menjalani hidup.” –Pieter- (hal.162)

“Seriuslah berusaha mewujudkan tekadmu, jangan cuma bermimpi.” –Nico- (hal.171)

“Kalau kamu sudah punya niat kuat ingin mewujudkan sesuatu, selalu ada jalan untuk mencapainya. Itu law of attraction namanya. Yakinlah dengan keinginanmu. –Nico- (hal.184)

Novel ini mengingatkanku kalau sudah lama banget aku tidak membaca novel bertema religi yang selalu sukses menyentuh jiwa dan membangkitkan sisi keimananku yang naik turun, terutama saat membaca cerita tentang Khadija. Novel ini bagus dan layak dibaca siapa saja. Seperti judulnya, Merindu Cahaya De Amstel, semoga pembaca dapat menemukan cahaya dalam hidupnya kembali seperti para tokoh dalam kisah ini.

So, selamat membaca ya! ;)

~ ◊◊◊ ~

“Kita mungkin tak bisa menjadi sempurna, tapi selalu ada kesempatan menjadi lebih baik.”
( Arumi E )


Salam
Nunaalia ^_^
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
January 25, 2022
Nicholas Van Djick adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan arsitektur di sebuah kampus di Belanda. Terlepas dengan kegiatannya di kampus, Nico sangat gemar memotret. Dan, menangkap gambar di sekitaran Sungai Amstel adalah kegiatan yang tak pernah bosan dia jalani.

Satu sore, saat mengambil beberapa foto di sana, dia mendapati sebuah foto aneh di mana seorang gadis yang menjadi objek fotonya terlihat dilingkupi cahaya. Dia memberanikan diri mendekat dan menyapa.

Perempuan itu -Marien, tentu saja kaget saat tiba-tiba muncul pemuda tak dikenal yang menunjukkan hasil foto di kamera dan juga minta izin dipotret lagi. Apalagi pemuda itu bilang akan mengirimkan foto tersebut ke majalah demi mendapatkan honor.

"Apa? Kamu mau mengirim foto ini ke media? Aku tidak mengizinkn! Kalau aku melihat foto ini termuat di salah satu majalah, aku akan menuntutmu!" Hal.10.

Marien menolak cukup keras. Apalagi Nico mulai bertanya ke hal-hal pribadi. Termasuk penutup kepala yang dipakai oleh Marien. Ya, Marien seorang mualaf yang kini mengganti namanya menjadi Khadija Veenhoven.

Penolakan semacam itu rupanya tak membuat Nico gentar. Lama-lama, Khadijah mulai melunak dan mau berteman dengannya. Terutama perlahan Khadijah menyadari bahwa Nico pemuda yang baik dan tidak ada niat jahat. Apalagi, rupanya Nico memiliki darah Indonesia yang didapat dari ibunya. Sedangkan, Khadijah banyak memiliki teman dari Indonesia yang berjasa banyak dalam proses hijrahnya.

Proses pertemanan itu berlanjut saat kemudian Khadijah bertemu dengan Mala, seorang mahasiswa jurusan tari asal Indonesia. Dengan cepat ketiganya menjalin hubungan pertemanan dengan baik. Nico, yang belasan tahun tak pernah bertemu dengan ibunya mulai menjajaki beberapa kemungkinan dia ikut Mala pulang ke Indonesia.

Ibunya meninggalkan ia saat berusia 6 tahun karena menyadari bahwa pernikahan dengan papanya tidak dapat dilanjutkan karena perbedaan agama. Jujur, Nico menyimpan rasa sakit hati yang dalam. Pertanyaan seputar kenapa agama yang harusnya menjembatani perasaan sayang dua insan malah menjadi jurang pemisah sebagaimana yang terjadi pada orang tuanya.

Dalam sebuah undangan pentas yang singkat di Indonesia, Mala mengajak serta Nico untuk menelusuri tempat tinggal ibunya. Sayang, pertemuan pertama itu tidak berjalan mulus. Masih ada ruang kecewa yang besar di hati Nico, terlebih kini ibunya sudah menikah dan punya dua anak. Dia merasa tersisih.

Di sisi lain, kedatangan mereka di Indonesia juga tak lepas dari Pieter, sepupu Khadijah yang diam-diam meyukai Mala. Padahal, Mala sendiri menyukai Nico dan Nico menyukai Khadijah. Ya, terselip juga cinta segi empat di antara mereka yang menjadikan bumbu-bumbu cerita di novel ini.

Ceritanya sebetulnya klise, tentang persahabatan, cinta yang diselipi dengan pencarian hidayah. Secara garis besar menarik walaupun ada beberapa hal yang mengganggu. Misalnya saja saat Nico k Indonesia tak disebutkan soal visa padahal dia pergi dengan mendadak.

Di ujung cerita (saat Nico kembali ke Indonesia), baru disinggung soal itu. Lalu, di zaman yang modern ini, saat Nico berkomunikasi dengan adik tirinya dan kesulitan, alih-alih membuka ponsel dan mencari kata yang ingin ia ucapkan lewat aplikasi penerjemah, dia malah membuka kamus hehe.

Saat ini filmnya tengah tayang di bioskop. Kalau dilihat dari trailernya, sepertinya ada bagian-bagian penting yang dihilangkan. Misalnya saja ketiadaan tokoh Pieter yang cukup penting di buku. Nah untuk membuktikan apakah benar tokoh Pieter dihilangkan, kayaknya harus nonton langsung. Ya minimal buat kangen-kangenan sama Amsterdam.

Skor 8/10
Profile Image for Ahmad Ghufron.
7 reviews1 follower
June 29, 2022
#catatana_greviewbooks

📚 Merindu Cahaya de Amstel | Arumi E | Gramedia Pustaka Utama | 272 halaman | Islam 16+

🔸Baru kali ini, aku menikmati membaca buku dengan tema islam yang penuh inspirasi itu. Biasanya aku malas membaca buku-buku dengan genre seperti ini. Bukan berarti tidak suka, tapi aku lebih suka dengan langsung menonton film daripada membaca bukunya. Tapi sekarang, aku mulai tertarik membaca buku-buku yang mengangkat tema agama tersebut.

🔸Merindu Cahaya de Amstel, itu judulnya. Di awali dengan kisah pemuda Belanda yang bercampur dengan Indonesia, Nicolaas Van Dijk namanya. Dia sangat menyukai fotografi, hingga akhirnya dia mengolah hobinya tersebut menjadi sebuah pekerjaan freelance setiap hari di masa senggang kuliahnya. Hingga akhirnya dia dikejutkan dengan hasil jepretan kamera DSLR-nya tersebut. Seorang wanita berjilbab yang mengeluarkan cahaya disekitar tubuhnya bagaikan malaikat yang turun dari langit.

🔸Dia mencari sosok wanita tersebut. Dan pertemuan mereka berdua bagaikan takdir yang telah direncanakan Allah untuk keduanya. Khadijah, gadis mualaf asli Belanda yang juga sedang berkuliah. Dari pertemuan itu, muncul pertanyaan besar dibenak Nico tentang kisah masa lalunya yang begitu menyakitkan.

🔸Dari sudut lain, terdapat gadis Indonesia yang mendapatkan beasiswa kuliah di Amsterdam. Namanya Mala, orang Jawa asli yang lahir dan besar di Yogyakarta. Kemahirannya dalam menari tarian tradisional Indonesia membuat dia mendapatkan beasiswa kuliah di Belanda. Di kampusnya pun ia ditunjuk untuk mengajarkan tari-tarian tradisional kepada teman-temannya. Namun dia merasa belum menemukan titik terang didalam hidupnya. Walaupun dia beragama muslim, tetapi dia tidak begitu taat dan bisa dibilang lalai untuk menjalankannya selama di Belanda.

🔸Pertemuan mereka bertiga tak bisa dihindarkan, mereka akhirnya berteman dan seiring berjalannya waktu mulai tumbuh rasa perhatian lebih antara satu sama lain. Terjadilah pergulatan rasa antara mereka bertiga. Namun masih banyak kisah lain yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu. Mampukah mereka bertiga menyelesaikan permasalahannya masing-masing?

🔸Siapa yang tidak mengenal karya Kak @arumi_e ? Ya penulis buku "Aku Tahu Kapan Kamu Mati" itu. Pasti semuanya tau bukan. Buku kali ini menurutku banyak memberikan pesan moral tersendiri bagi para pembacanya. Termasuk tentang pengetahuan agama. Buku ini juga telah difilmkan ya kawan-kawan dengan judul yang sama.

🔸Dari mulai tata cara berpakaian, bersikap dan masih banyak hal lainnya yang diingatkan penulis melalui tokoh-tokoh yang ada diceritanya ini. Alur ceritanya sendiri campuran. Dan menggunakan sudut pandang orang ketiga yang serba tau lagi. Latar utamanya sudah jelas pasti di Amsterdam, tapi tak luput pula penulis merangkai tempat-tempat bersejarah dan wisata yang berada di Indonesia. Apalagi tokohnya ada yang berasal asli dari Indonesia.

🔸Gaya bahasanya pun mudah dipahami dan aku suka juga beberapa kosa kata bahasa Belanda yang sering diselipkan saat para tokoh berdialog serta tak lupa juga dengan artinya. Perasaan kita juga dibuat campur aduk saat mendekati akhir cerita. Cerita ini juga mudah dipahami kok, bikin kita larut dalam cerita dan permasalahan para tokohnya. Buku ini cocok untuk kalian yang mencari cerita ringan yang dibalut unsur agama yang pas dan tidak terlalu menggurui menurutku👍🏻.

🔸Penilaianku : 4,4/5⭐

#reviewbuku #bookstagramindonesia #bookstagram #reviewyuk #bukumerinducahayadeamstel #merinducahayadeamstel #cacatana_g
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Didi Syaputra.
53 reviews13 followers
May 30, 2020
Nicolaas Van Dijk mengintip dari balik kamera DLSRnya. Dia menangkap pemandangan yang menarik minatnya. Senja di tepian sungai Amstel. —Hlm. 1

Kisah ini dibuka dengan menyajikan pemandangan sore di sungai Amstel, Amsterdam. Di lembaran awal buku ini saya sudah sangat tertarik dengan kisah yang disuguhkan, lebih lagi dengan setting Belanda yang memang telah lama menjadi salah satu negara yang ingin saya kunjungi.

Di novel ini penulis tidak hanya menggagas kisah cinta selayaknya novel roman lainnya. Akan tetapi juga menyelipkan pesan dakwah yang halus, namun sangat menyentuh. ❝... Manusia sering salah dan khilaf. Tapi dari kesalahan itu kita belajar memperbaiki diri.❞ Khadija —Hlm. 53

Sosok Khadija yang bernama asli Marien Veenhoven, wanita Belanda yang memutuskan muallaf meski harus berberat hati berpisah dengan keluarganya karna persoalan keyakinan. Meninggalkan masa-masa kelamnya, menanggalkan pakaian dan pergaulan bebas layaknya masyarakat umum lainnya, berhijrah dan memeluk erat agama yang diyakininya— Islam.

Tak habis sampai di sini. Merindu Cahaya De Amstel juga menyuguhkan kisah cinta islami yang manis dan sangat bisa diterapkan bagi yang ingin taaruf dengan pasangan. ❝Jadi, aku dan kamu harus menghalalkan hubungan dulu, baru aku boleh meminta bimbinganmu?❞ Nicolaas pada Marien. —Hlm. 269. Penulis sangat lihai mengemasnya dengan kata-kata sederhana namun pas dan mengena.

Selain itu, sosok wanita pribumi Indonesia juga turut melengkapi kisahnya— Kamala Nareswari, Mahasiswa Institut Seni Amsterdam asal Jogja. Di novel ini saya tidak hanya dimanjakan dengan indahnya Amsterdam. Melainkan juga disuguhi keindahan Tanah Air Indonesia. Sangat menarik dan fantastis.

So, bagi kamu yang ingin mengenal roman islami berlatar Belanda sangat dianjurkan untuk mengadopsi novel keren ini. Take it and read!
Profile Image for Kurnia.
175 reviews10 followers
May 14, 2020
Akhirnya menyelesaikan satu dari empat buku sasaran untuk dibaca ketika Ramadhan. Termasuk TBR lama sejak tahun 2016 an, hasil pinjam Sisterbook wkwk. Saya cukup kaget dengan kenyataan ini buku pertama Mbak Arumi yang saya baca, padahal saya punya bukunya yang lain, ternyata statusnya on hold alias belum selesai. Hahaha.

Membaca de Amstel ini mengingatkan aku sama novel-novel STPC (Setiap Tempat Punya Cerita), menonjolkan setting tempat yaitu Kota Amsterdam dari tokoh-tokoh novel di dalamnya. Kupikir di awal cerita, tokoh utamanya hanya seorang pemuda bernama Nicholas Van Dijk yang ternyata keturunan Indonesia, dan mualaf Belanda bernama Khadijah. Tetapi, diperkenalkan juga tokoh lain yang punya porsi cerita cukup banyak, yaitu Mala: teman Khadijah naik bus yang seorang Indonesia, dan Pieter sepupu Khadijah yang naksir berat sama Mala.

Perjalanan hijrah Khadijah hanya sekilas lalu dijelaskan, poin novel ini lebih kepada pencarian 'cahaya' hidayah tokoh Nicholas, Mala, dan Pieter. Khadijah di sini jadi semacam benang merah ketiga tokoh ini.

Novel ini cukup aman konfliknya, yang paling menonjol adalah konflik Nico dengan ibunya yang sudah berpisah selama 16 tahun sejak perceraian orang tuanya. Bumbu romens tetep ada, dan mungkin dengan baca blurp sudah cukup menebak, hahaha.

Value dari novel ini adalah menikmati proses ketika 'cahaya' hidayah itu mulai menunjukkan tandanya, ikuti kata hati, mantapkan tekad, dan Tuhan akan tunjukkan jalan-Nya.
Profile Image for Nursari Halim.
51 reviews3 followers
May 25, 2022
Novel ini merupakan salah satu novel yang bergenre romance religi yang mengisahkan kehidupan Marien Veenhoven, seorang gadis Belanda yang mengubah namanya menjadi Khadijah sejak menjadi muslimah dua tahun yang lalu. Yup, Khadijah adalah seorang mualaf. Ia memutuskan menjadi mualaf setelah berkunjung ke rumah temannya di Turki. Saat itu ia mendengar suara adzan bersaut-sautan yang menyejukan hatinya, hal itu membuatnya penasaran terhadap islam dan tertarik untuk mendalaminya.

Berlokasikan di Amsterdam, sungai Amstel adalah sungai yang indah. Khadijah bertemu dengan Nicolaas van Dijk, seorang fotografer profesional yang hasil fotonya dimuat di banyak majalah yang ada di Amsterdam.

Banyak hal yang terjadi dalam novel ini, akan ada banyak tokoh juga yang kita temui, selain Amsterdam, kita juga akan berkunjung ke Yogyakarta dan Bali juga.

Sosok Khadijah dalam novel ini benar-benar memberikan motivasi untuk terus memahami dan mendalami keyakinan yang kita sudah kita pilih dan kita yakini. Apapun pilihanmu dan keyakinanmu itu semua adalah hak kamu, yang terpenting kita semua saling merhagai💜

Selain menceritakan perjalanan Khadijah menjadi seorang mualaf, kita juga akan ikut menyaksikan kehidupan dan permasalahan tokoh-tokoh lainnya.

Oh, ya....novel ini sudah di filmkan loh. Kabarnya novel ini juga berasal dari kisah nyata 🍁
12 reviews
November 26, 2021
Jujur saya baca buku ini karena gak sengaja liat trailer film dengan judul sama di youtube. Karena tertarik sama trailernya, saya mutusin untuk baca bukunya.

Mengenai buku ini, saya memiliki perasaan yang campur aduk. Di awal saya sangat menikmati, menceritakan ttg Khadijah yang harus berjuang mempertahankan kepercayaan barunya, melawan berbagai stigma dari orang sekitar, dan berkutat dengan hatinya. Sampai dia gak sengaja bertemu Mala, seorang gadis muslim dari Indonesia yang sedang belajar di Amsterdam yang juga ikut menghakimi Khadijah di awal pertemuan mereka. Sumpah, premis ini menarik.

Tapi entah kenapa, semakin ke tengah hingga akhir, saya merasa konfliknya semakin turun dan jadi kurang greget. Setiap tokoh di sini punya struggle-nya masing2. Khadijah dengan keyakinan barunya, Mala dengan kegalauannya apakah harus terus mengikuti passionnya menari atau agamanya, Nico dengan pergulatan masa lalunya, bahkan Pieter dengan perasaannya dengan Mala. Tapi semua ini terasa kurang digali. Semuanya terasa diburu-buru. Jujur di awal saya baca memang sudah skeptis, konflik sebanyak ini apakah bisa di-unfold hanya dengan 270an halaman saja?
Profile Image for Fumyrain.
64 reviews6 followers
December 25, 2020
Buku itu bercerita tentang Marien Veenhoven, gadis berkebangsaan Belanda yang memutuskan untuk menjadi mualaf dan mengubah namanya menjadi Khadija.

Lewat buku ini, aku banyak diajarkan nilai-nilai sosial. Seperti bagaimana Khadija menghadapi tudingan orang-orang yang mempertanyakan mengapa Khadija memilih untuk memeluk Islam dan menggunakan hijab.
.
Aku terharu dengan keteguhan hati Khadija dalam memeluk agamanya. Karena dengan memeluk Islam dan berhijab, bukan berarti akhlak kita telah sempurna. Tapi karena kita ingin berusaha sebaik yang kita bisa.

Salah satu buku yang hanya aku baca sekali, tetapi nilai-nilainya melekat didalam hati.
Profile Image for Diamonda Putra.
25 reviews1 follower
January 24, 2022
Jauh beda yaa buku dan filmnya. Ya tipikal cerita mainstream tentang muslim mualaf di Eropa. Lumayan menarik, cuman terlalu naratif aja sih ceritanya. Masih bisa digali lagi problem masing-masing tokoh. Yang aku suka dari buku ini, sosok Khadijah yang menampilkan ajaran agama dari tindakan, bukan sekedar ucapan. Dia tak memaksa Mala untuk buru-buru mengikutinya(berhijab), ataupun memastikan niat Pieter sepupunya masuk Islam karena Iman atau Cinta. Dalam buku ini terasa hangat persahabatan, kekeluargaan, emosi nya dapet. Tapi yaa gitu, aku nonton filmnya duluan, dan kesel karena ceritanya datar dan terasa mainstream. Untung juga sih nonton duluan baru baca hehe. 3 bintang untuk buku ini ⭐⭐⭐
27 reviews
March 14, 2022
Suka sama karakter-karakter di dalamnya yang beragam. Sayangnya, tema ceritanya terlalu meromantisasi keputusan untuk menjadi mualaf. Apa iya, pindah keyakinan semudah itu? Dakwah kok rasanya gampang banget untuk Khadijah, padahal latarnya di negara yang penduduk muslimnya nggak terlalu banyak.

Selain itu, saya merasa terganggu dan sedikit kagok membaca beberapa dialog yang ditulis dalam bahasa asing (Inggris dan Belanda) yang sesekali muncul sebagai selingan. Nggak tahu kenapa, rasanya aneh aja gitu. Kayak lagi baca fanfiction K-Pop yang tiba-tiba muncul “annyeonghaseyo”, “blabla Oppa,” dll. Agak out of place.

Overall, novel ini cocok buat yang lagi pengen baca yang ringan-ringan.
Profile Image for Habilah Wahdah.
7 reviews21 followers
March 26, 2022
Cerita tentang kehidupan Khadija setelah menjadi seorang muslim. Berteman dengan Nico dan Mala. Menjaga hubungan baik dengan Tante Mirthe dan Pieter, sepupunya. Serta berusaha mengambil hati orangtuanya untuk mau memaafkan dan menerima dirinya kembali di keluarga mereka, karena sejak menjadi mualaf kedua orang tua Khadija marah dan tidak mau lagi bertemu dengannya.

Di buku ini, tidak hanya tentang Khadija yang menarik. Kehidupan tokoh-tokoh lain juga diceritakan secara apik. Nico dengan masalah keluarganya, Mala dengan keinginannya untuk menjadi seseorang yang lebih baik, Pieter dengan kisah asmaranya. Semua menjadi cerita yang nyatu dan seru untuk dibaca.
Profile Image for Maryam Qonita.
39 reviews6 followers
February 16, 2020
Ini novel Mbak Arumi pertama yg kuselesaikan dan latarnya bukan di New York. Padahal aku awalnya gak begitu suka Belanda sebagai negeri penjajah Indonesia. Ternyata asyik aja sih bacanya dan aku gak nyangka bisa lebih open minded baca cerita latar belakang Belanda daripada New York. Mungkin karena aku jadi penduduk New York nya sendiri jadi sulit nikmatin novel dengan latar kota ini. Bahkan Belanda bisa jadi lebih menarik.

Sukses Mbak Arumi untuk filmnya.
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books72 followers
August 21, 2022
Cerita Islami gini saya paling suka. Apalagi dengan setting luar negeri. Kehidupan muslim di LN seperti apa hanya bisa dibaca dari buku dan novel, dan salah satunya novel ini, yang kental sekali dakwahnya, tapi tidak menggurui.

Novel ini menceritakan kisah mualaf yang ada di Belanda. Dan kenyataan bahwa makin banyak pemeluk agama Islam di sana, menjadi tamparan buat saya pribadi. Malu, ketika orang non muslim mencari Islam, saya yang terlahir sebagai muslim malah biasa aja belajarnya.
Profile Image for salwafnl.
37 reviews
June 27, 2025
Taking me really slow to read this cause I didn’t enjoy it as much as I expected it to be. Get kinda confused whether its telling Khadija’s religious journey or her romance story with Nico instead. Found some parts that based in my perspective not really needed and found some which I think needed some more explanation too. But well, I finished it ✅
Profile Image for Waliullah.
3 reviews
December 3, 2025
Due to being in Bangladesh, I did not get any hard copy, translation or PDF of the book. From what I saw in the movie, I understood it. It would have been better if Khadija's character had been developed a little more. For example, the stories of her journey on the path of religion were told step by step. It would have been better if the ending could have been extended a little.
1 review
Read
April 2, 2021
Cinta🥰
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Monika Oktora.
Author 1 book1 follower
October 3, 2021
Kisah menarik antara muda-mudi di Belanda, dengan setting kota Amsterdam dan sekitarnya di Belanda. Namun penyelesaikan kisah terasa too good too be true.
Profile Image for Evita MF.
92 reviews8 followers
January 19, 2016
“Aku berkerudung karena yang kubaca di dalam Al-Quran, perempuan muslimah dianjurkan menjaga tubuhnya sebaik-baiknya. Mengulurkan kerudungnya hingga ke dada. Aku mencoba melakukannya dan ternyata aku merasa nyaman. Aku merasa tenang dan aman. Tapi, aku tidak bisa bilang, sekarang aku sudah menjadi muslimah yang sempurna. Aku masih terus belajar, selamanya akan terus berada dalam keadaan memperbaiki diri”—halaman 99

Merindu Cahaya de Amstel bercerita tentang pahit manis perjalanan hidup Khadija—seorang gadis berkebangsaan Belanda—yang memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Sebelum masuk Islam, Khadija bernama asli Marien Veenhoven, ia mengganti namanya karena ingin menjadi seperti tokoh wanita Islam yang sangat dikaguminya. Khadija memutuskan untuk memeluk agama Islam setelah berkunjung ke rumah temannya di Turki. Saat itu ia mendengar suara adzan bersaut-sautan yang menyejukan hatinya, lantas setelah pulang kembali ke Negara asalnya Khadija semakin penasaran untuk mempelajari tentang Islam. Keputusannya untuk beragama Islam tentu ditentang oleh keluarganya. Ia bahkan tidak dianggap lagi oleh ayah dan ibunya. Biar pun begitu, Khadija tetap pada prinsipnya untuk menjadi seorang muslimah yang yang terus memperbaiki diri.
Di Museumplein, sebuah tempat untuk duduk-duduk bersantai menikmati senja yang tak jauh dari Sungai Amstel, Khadija pertama kali bertemu dengan seorang fotografer bernama Nicholaas Van Dijk. Nico tak sengaja memotret Khadija yang tengah membaca buku di tempat itu. Khadija seolah dikelilingi cahaya ketika hasil fotonya keluar. Hal inilah yang membuat Nico tertarik untuk mengetahui Khadija lebih dalam. Nico sebenarnya tidak suka Islam, karena ibunya juga seorang muslim. Ibunya keturunan Indonesia sementara ayahnya keturunan Belanda. Setelah tahu bahwa pernikahan beda agama tidak diperbolehkan dalam Islam, ibunya pun menceraikan suaminya dan kembali ke Indonesia meninggalkan Nico dan ayahnya. Sejak saat itu ia kurang menyukai agama Islam, dan bahkan memutuskan untuk tidak memeluk agama manapun.
Suatu hari Khadija bertemu dengan seorang gadis asal Indonesia di sebuah halte. Gadis itu bernama Mala dan sedang kuliah jurusan seni tari. Mala awalnya risih dengan pertemuannya dengan Khadija. Melihat bagaimana Khadija berpakaian dan bersikap, ia mengira Khadija akan menasihatinya untuk menjadi muslimah yang baik seperti dirinya. Walau beragama Islam tapi Mala sudah lama tidak solat dan menjalankan ibadah puasa ramadhan. Namun, ternyata Mala salah, Khadija tidak pernah memaksa dan menasihatinya sehingga membuatnya tesudut.
Pertemuan Khadija dengan Nico dan Mala, membuat mereka saling kenal satu sama lain. Nico bahkan pergi ke Indonesia bersama Mala pada satu kesempatan untuk bertemu ibunya setelah belasan tahun tidak berjumpa.

“Karena manusia memang diciptakan beragam. Tuhan bilang supaya kita saling mengenal. Manusia memang tidak akan bisa seragam, punya cara hidup dan keyakinan pilihan sendiri. Yang harus kita lakukan adalah saling menghargai pilihan masing-masing.”—halaman 237

Membaca novel ini membuat saya kagum sekaligus iri dengan tokoh utama bernama Khadija yang memutuskan untuk memeluk agama Islam di tengah-tengah Negara dengan jumlah pemeluk agama Islam yang sedikit. Setelah memutuskan untuk pindah agama, Khadija terus belajar dan memperbaiki diri. Ia menaati kewajiban-kewajiban dalam Islam dan menjalankan sunah-sunahnya. Seorang pemeluk agama Islam sejak lahir saja, kadang tidak seperti itu.
Setelah membacanya hingga akhir saya suka sekali dengan cara penulis mengisi halaman demi halaman tanpa kesan menggurui. Penulis menyampaikan pesan dengan sangat baik melalui dialog antar tokoh maupun konflik dalam novel ini.
Saya juga sangat suka dengan proses yang dialami tokoh dalam novel ini. Khadija, Mala, Nico, maupun Pieter dikisahkan melalui proses yang tidak singkat untuk berubah menjadi lebih baik.
Khadija yang digambarkan selalu berusaha untuk menjadi muslimah yang lebih baik pun dikisahkan begitu manusiawi. Karena merasakan jatuh cinta pada Nico, Khadija pernah khilaf pergi berdua dengan Nico ke tempat pembuatan bir. Sehingga hal ini sempat membuat Mala merasa bahwa Khadija adalah seorang wanita yang munafik, karena Khadija pernah bilang sendiri bahwa laki-laki dan perempuan dilarang berdua-duaan apalagi yang bukan mahromnya. Menurut saya masalah ini merupakan bagian yang penting sekali, membuat saya sadar bahwa tidak ada manusia yang terhindar dari salah dan khilaf.
Secara keseluruhan saya suka sekali membaca novel Merindu Cahaya de Amstel. Sebuah novel Islam yang menggugah pembaca muslim/muslimah untuk terus menerus memperbaiki diri. Serta memberi harapan pada pembaca bahwa walau masa lalu tidak mungkin bisa diubah, tapi ada masa depan yang masih bisa diubah dengan cara terus memperbaiki diri.

Read full review: https://booknivore.wordpress.com/2016...
Profile Image for Mesyi Days.
17 reviews
August 6, 2016
Merindu Cahaya de Amstel
Blur:

Cahaya mentari sore menciptakan warna keemasan dipermukaan Sungai Amstel. Mengingatkan Nicolaas van Dijk,mahasiswa arsitektur yang juga fotografer, pada sosok gadis Belanda dengan nama tak biasa, Khadija Veenhoven. Gadis yang terekam kameranya dan menghasilkan sebuah foto “aneh”.Rasa penasaran pada Khadija mengusik kenangan Nico akan ibu yang meninggalkannya saat kecil. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari sang ibu,sampai Khadija memperkenalkannya pada Mala, penari asal Yogya yang mendapat beasiswa di salah satukampus seni di Amsterdam.Ditemani Mala, Nico memulai pencariannya di tanah kelahiran sang ibu. Namun Pieter, dokter gigi yang terpikat pada Mala, tak membiarkan Nico dan Mala pergi tanpa dirinya. Dia menyusul dan menyelinap di antara keduanya.Tatkala Nico memutuskan berdamai dengan masa lalu, seolah Tuhan belum mengizinkannya memeluk kebahagiaan. Dia didera kehilangan dan rasa kecewa itu dia lampiaskan pada Khadija yang telah mengajarinya menabur benih harapan.Kembali Nico mencari jawaban. Hingga sinar yang memantul di permukaan Sungai Amstel menyadarkannya. Apa yang dicarinya ada di kota Amsterdamini dan sejak awal sudah mengiriminya pertanda. Akankah kali ini Nico berhasil memeluk kebahagiaannya?

***

Salah buku pertama mbak Arumi yang pernah aku baca. Yah, cukup menikmati sampai detik-detik terakhir.

Aku suka sekali kepada cover novelnya, serasa hidup, dengan latar sungai Amstel. Membuatku benar-benar pernah ke sana.

Aku suka karakter khadija yang sabar dan ikhlas untuk menjalani hari-harinya sebagai seorang mualaf. Aku sangat suka sekali pembawaan Khadija ketika ia sedang menceritakan hal-hal yang ia ketahui tentang islam kepada Nico dan Petter. Juga tentang Mala yang sejak kenalan dan bertemu tak sengaja dengan Khadija, Mala mulai menjalankan kewajiban lima waktunya yang sempat ia tinggalkan sejak menempuh pendidikan di Amsterdam.
Khadija dan Mala pun akhirnya berteman, walau kadang Mala ragu dan ingin menghindar agar tak selalu bertemu dengan khadijah secara kebetulan lagi. Satu tanda tanya buat Mala. Apakah ia harus berteman dengan Khadija?

Novel religi ini cukup bagus dengan latar tempat kota Amsterdam, yang memang sebagian besar penduduknya adalah non muslim. Aku butuh waktu seminggu buat menyelesaikannya, maklum masih anak sekolahan yang sedikit punya waktu luang. Dan aku juga baru sempet memberi review-ku sekarang, padahal bukunya sudah ku baca setelah tahun baru kemarin.

Btw, menurutku tokoh utama dari novel ini adalah Nico. Seorang photografer yang sedang berdamai dengan Masa lalu tentang keluarganya, terutama pada ibunya yang meninggalkannya sejak kecil. Dia akhirnya bertekad menemui Ibunya di Indonesia untuk menanyakan alasan mengapa dulu ibunya meninggalkannya. Meski awalnya ia ragu, namun kehadiran Khadija yang selalu mendukung dirinya agar ia segera menemui ibunya, membuat dirinya membulatkan tekad untuk terbang ke negara yang belum pernah ia kunjungi. Dibantu oleh Mala, ia pun sampai juga di tempat itu. Rumah Ibunya.

Nggak terasa ceritanya mengalir sampai di akhir. Novel yang banyak mendandung pesan moral. Antaralain:
-Novel Religi yang menginspirasi
-Tentang agama islam yang mampu berkembang di negara non muslim
-Tentang Cinta yang datang tanpa disadari
-Tentang saling memaafkan, mengeratkan hubungan keluarga
-Ah, banyak sekali hal2 yang dapat di ambil dari novel ini.
Ku rekomendasikan buat kalian yang suka religi tapi ada chemistry cinta dan keluarga, yang ini pas banget buat mu..

"Hari ini adalah hari paling bahagia sepanjang tahun ini. Berdamai dengan ayah ibunya dan melihat niat kuat untuk berubah terpancar di mata cokelat terang Nico"
--Khadija Veenhoven

Selamat belajar bahasa Belanda yang terselip di tiap-tiap halamanya,
Goede Middag.

Judul Buku : Merindu Cahaya de Amstel
Penulis : Arumi E
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 272 Halaman
Terbit : September 2015
Harga : Rp66.000,00
ISBN : 978 – 602 – 03 – 2010 - 6
Profile Image for An Unforgiven Reader.
47 reviews
February 17, 2025
Tanpa bermaksud menyinggung, menurutku buku ini "oke". Aku suka dan gak suka dalam waktu yang bersamaan.

3,5.
Mungkin ekspetasi aku beda, tapi dari blurbnya, aku mengharapkan sesuatu yang lebih rumit. Menurutku, konflik disajikan terlalu cepat. Sebenernya ga masalah; Lagipula menurutku terlalu klise konflik nya (ini juga salah satu kontra dari aku). Tapi, dengan ekspetasiku yang ngebaca "Akankah Niko memeluk kebahagiaannya kembali?", aku ngerasa penasaran dengan semacam apa perjuangan dan seberapa berat konflik yang akan dilalui si Nico. Sayang, buku ini kurang memuaskan aku dibidang itu.

Selain itu, aku ga masalah sama novel religi. Aku tetep bertoleransi dan aku bisa enjoy kok. Tapi entah kenapa menurutku kali ini, it's all over the place. Tapi aku ga terlalu masalah—karena Khadija digambarkan sebagai tokoh yang tidak sempurna dan tidak memaksa orang untuk sempurna juga. Tertolong sama itu.

Tapi, untuk bagian pronya, aku suka gimana penulis mendeskripsikan sesuatu. Dia punya bakat alami mungkin ya, aku bisa ngerasain deskripsinya, suasana yang diciptakan oleh penulis dan bahasanya juga enak. Poin tambahan karena aku suka menuju bagian ending (spoiler dikit), Nico balik ke sungai De Amstel.

Secara keseluruhan, it's an enjoyable experience, but not the one i'll be willing to read one more time. 3,5 (mengarah ke 3).

Edit: Setelah ngebaca review ini, ada beberapa hal ketinggalan.

Buku ini rasanya ga punya identitas. Menurutku, 70 halaman pertama adalah 'peak' nya buku ini. Masa pengenalan, masa kalimat deskriptifnya lagi gila-gilaan, masa kesedihan, kebingungan, amarah, kecemburuan itu digambarkan dengan baik semua. Setelahnya? Aku bahkan masih ga bisa ngerti. So, all of these, ended up on 1 simple sentence, and then that specific character disappeared for a while, and then suddenly it all lead to one of their relative being dead? What.

^Ini bener-bener kontra terbesar dari buku ini, dan ini bener-bener kekecewaan terbesar aku. Konflik yang terlalu pendek, itu kayak makan mie goreng tapi cuma dikasih bumbu ⅒.
Displaying 1 - 30 of 35 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.