Jump to ratings and reviews

Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde #123

Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20

Jan Breman mengobservasi nasib para kulidi Sumatera Timur pada awal abad ke-20. Lewat penelitiannya ia memaparkan praktek keji politik kolonial terhadap ribuan kuli asal Cina, India, Jawa dan daerah-daerah lain di Sumatra yang dipekerjakan di perkebunan Sumatra Timur pada awal abad 19 hingga awal abad 20.

Para kuli kontrak tersebut , tulis Jan Bremen jika dianggap bersalah diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Mereka diseret kuda dengan tangan terikat, dicambuk dengan daun jelantang kemudian disiram air, digantung, ditusuk bagian bawah kukunya dengan serpihan bambu, dan untuk kuli perempuan–maaf–digosok kemaluannya dengan merica halus. Hukuman ini tidak ada bedanya dengan hukuman yang diberikan untuk para budak yang melarikan diri. Bahkan ada semacam polisi untuk menangkap para kuli-kuli yang melarikan diri dari perkebunan.

346 pages, Paperback

First published January 1, 1987

Loading...
Loading...

About the author

Jan Breman

47 books9 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (64%)
4 stars
9 (20%)
3 stars
6 (13%)
2 stars
1 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Madelein Feij.
71 reviews1 follower
November 19, 2025
Nagenoeg het eerste historische werk dat écht schreef over de misstanden bij contractarbeiders op Sumatra. Heel boeiend, uitgebreid en nauwkeurig werk. Super nuttig!
Profile Image for Franditya.
32 reviews5 followers
July 1, 2011
Skandal ketenagakerjaan di Indonesia pertama terjadi di zaman kolonial sekitar 1864 pada awal kapitalisasi pembukaan lahan perkebunan di Deli, Sumatra Timur. Tembakau sebagai komoditas ekspor Hindia Belanda telah membuat industri perkebunan di Deli bersifat internasional. Pada tahap akumulasi modal pimitif, perusahaan perkebunan di Deli telah menggunakan teror dan kekerasan untuk mengatur proses produksi ekonomi, bukan semata-mata rasionalitas industri. Waktu itu buruh kontrak didatangkan dari Cina dan Jawa. Di sisi lain, Ordonansi Kuli ditetapkan berlaku pada 1880 untuk mengatur dan mengawasi sepak terjang para majikan.

Para kuli kontrak menerima porsekot, mengikatkan diri bekerja selama tiga tahun di perkebunan. Kontrak berisi rincian tentang sifat kerja, jangka waktu, serta persyaratan lain. Mereka yang melanggar dihukum oleh pejabat pemerintah yang bertindak selaku hakim. Sebaliknya, majikan juga berkewajiban memberi nafkah kuli kontrak dan harus memperlakukannya dengan baik.

Tercatat tuan kebun pertama di Sumatra Timur, Nienhuys, telah menyerahkan pengelolaan kebun tembakaunya kepada para sekelompok haji yang ia datangkan dari Penang. Peristiwa itu mengawali prinsip pemborongan pekerjaan menjadi unsur hakiki dalam kontrak kuli. Sistem pembayaran upah harian beralih pada sistem upah yang ditentukan oleh prestasi kerja.

Kuli menerima uang panjar sebagai hutang saat pertama kali bekerja. Tiap orang kuli berkewajiban mengembalikan panjar itu sampai lunas. Perjanjian kerja berlaku untuk satu tahun, sedangkan perpanjangan kontrak berlaku secara otomatis. Kuli yang memutus hubungan kerja dianggap melakukan pelanggaran dan wajib dihukum.

Pada praktiknya kuli bekerja mati-matian selama delapan bulan, atau selama satu musim panen. Pemimpin perusahaan masih memotong jumlah gaji keseluruhan untuk menutup berbagai pengeluaran yang seharusya menjadi tanggungjawab perusahaan. Skandal kuli kontrak di era kolonial justru dibuktikan oleh berlakunya Ordonansi Kuli beserta penerapan sanksi yang sengaja diciptakan untuk menjamin terus masuknya arus tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja waktu itu lebih besar dari ketersediaan lahan. Selain itu majikan lebih leluasa membayar upah kuli lebih rendah dari biaya reproduksi. Rejim planter, tuan kebun, berakhir saat puluhan perusahaan tembakau mulai gulung tikar dan tren permintaan tembakau dunia mulai menurun. Membaca buku "menjinakkan sang kuli" seperti menguak fakta kekejian rejim planter yang pernah menguasai peradaban sumatra abad 18.
Profile Image for melancholinary.
486 reviews42 followers
January 7, 2025
It took years before Tan Malaka finally voiced his critique of the practice of contracted coolies and (pre-modern) slavery during the colonial era. This book reveals the complicit role of feudal sultanates (kingdoms) in the expansion of capital through colonialism (hello, Sultanate of Deli?). What’s also interesting is the push and pull/tensions, along with slight criticisms from the Dutch colonial government, towards plantation owners during the early formation of capitalism. Deli could be considered a frontier of capitalism. It’s fascinating to see how, in an effort to save their dignity (and possibly due to Christian-Calvinism moral ethics), the colonial government seemingly tried to regulate the working conditions of indentured labourers (coolies) from Java and China. Meanwhile, companies and plantation owners acted arbitrarily with regard to wages and the treatment of their workers/labourers, cosplaying like the most evil capitalist ever.
32 reviews1 follower
March 1, 2024
Old but gold is a perfect definition towards this book. If you wanted to understand the colonial capitalism organise labour through race mox with contract farming in the first /legendary plantation site in Deli, East Coast of Sumatra, Indonesia, try to read this book.
Profile Image for Anitha Silvia.
36 reviews3 followers
Currently Reading
September 24, 2026
“Ann Stoler (I985) undoubtedly provides the most extensive and complete account of the labour regime on Sumatran plantations. The scope of my own work is similar to her study from which I have derived much inspiration. But while Stoler concentrates on the late-colonial era from where she extrapolates until after the Independence of Indonesia, my own story stops at the beginning of the twentieth century. The body of literature and archival material referred to in this monograph deal with the first decade of that period. With a few exceptions, I shall mention publications of later date only insofar as they are relevant for the earlier history of the Sumatran plantation.” -Jan Breman
32 reviews1 follower
February 25, 2024
You understand the effect on how colonial capitalism combine with violence (re)organize and (kept with force) labour inside the first plantation system in indonesia (east coast of sumatera).
Displaying 1 - 8 of 8 reviews