A quest to save the sun that shines on two worlds begins the day a magic stone falls from the sky into the hands of Yuuki Wakasa, an ordinary fifth-grader.
Megumi Tachikawa (立川恵) is a Japanese shōjo manga artist, best known for the manga Saint Tail, which was also adapted into an anime series. She made her manga debut in 1992 with 16-sai no Tiara, which was nominated for the 'New Face' manga award.
Suka banget sama ceritanya! Berisi dan seru. Konfliknya ciamik, karakternya kuat, feel-nya dapet, amanatnya mantep. Pas baper, baper banget. Pas kocak, kocak banget. Pas greget, greget banget.
Pas adegan hati kristalnya Takaomi pecah, yang di dalam pikiran Takaomi yaitu Takaomi sendiri, asli yaaa itu gue ngakak banget! "Apa dia memikirkan dirinya sendiri? Bahwa dia yang paling manis?" HAHAHA eeeh abis itu baper per per gara-gara doi langsung nyamperin Yuki. Yhaaa ... bisa banget emang ya.
Terus ending vol. 4 ini bikin jerit-jerit. Dasar lelaki tukang modus!!
"Kamu mau apa? Jika mau bunga, kutaburkan tiap malam di tempat tidurmu. Ingin permata, kurampaskan yang lebih besar dari bolamatamu. Jika negeri yang kamu inginkan, akan kudapatkan kerajaan di suatu tempat. Jika untukmu, apa pun akan kulakukan. Karena itu ... mari hidup berdua di suatu tempat."
I'm so close to finishing this series, and I'm happy to see I'm near the end.
This volume feels like there's a lot more going on than in the previous ones, and the pacing flows a little more naturally this time around. The basis for Lord Tsukuyomi's plot is unfolding, the characters are reliving the events that occur in Japanese mythology, and more and more we get closer to revealing the mystery behind Takaomi. I would say that this volume feels like it has a little less hyperfocus on Yuuki and Takaomi, and the spotlight is shared a bit more evenly with the rest of the gang, with moments where we see them use the powers of their magic stones to help solve or overcome challenges they encounter. We end on a bit of a cliffhanger moment with Yuuki and Takaomi however, and I'm curious to see how this wraps up.
So far I can say that as far as cute, younger shoujo series go, I do enjoy this one a lot and I appreciate its use of Japanese mythology as the vehicle for story-telling.
Wuah makin seru. Usaha penyelamatan Kaya dari serangga kristal membawa Takaomi menghadapi naga kristal berkepala delapan. Teman-temannya pun berkata bahwa dia mirip Susanoo di mitologi. Tapi setelah Putri Kaya berhasil diselamatkan, Yuki menangis. Hatinya sakit melihat Takaomi bersama Putri Kaya. Sementara itu Cermin Flora yang seharusnya dibawa Putri Kaya ternyata dipegang oleh Tsukuyomi. Mereka pun harus kembali ke istana dengan perasaan tertipu. Namun, di malam sebelum mereka berangkat, Takaomi mengungkapkan perasaannya pada Yuki dan mengajaknya pergi serta tinggal berdua saja di suatu tempat.
Tapi aduh, masak anak kelas 5 SD digambarkan berciuman sih? Arrrghhh.