Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah penyair sufi Persia, salah satu yang mewakili puncak tertinggi khazanah sastra Islam. “Orang suci” dari Timur ini—yang sejak bocah diramalkan oleh Fariduddin Attar akan menjadi orang masyhur yang akan menyalakan api gairah ketuhanan ke seluruh dunia—oleh Unesco digambarkan sebagai “seorang humanis, filosof, dan penyair besar milik semua umat manusia”. Namanya memang melekat abadi di hati banyak warga dunia, tak peduali apa pun agamanya, karena kemilau syair dan kandungannya yang menghunjam relung kesadaran.
Tidak menyangka bahwa ini "hanyalah" sekumpulan cuitan ato kutipan2 twitter dari puisi2 Rumi yang terkenal... Awalnya dipikir ini adalah kumpulan puisi beneran. Karena kutipan twitter, maka puisi tersebut terbatas karakter twitter, sehingga dipotong2 dan tidak tahu aslinya lagi seperti apa.
Judul ‘Belajar Hidup dari Rumi’ menggoda saya untuk mengambil buku ini rak toko buku. Pertama, karena nama Rumi. Sudah sering dengar nama ini dipuja-puji, bikin saya penasaran dengan tulisannya. Kedua, ‘belajar hidup’. Saya pikir saya bisa dapat semacam cerita motivasi. Saya pikir buku ini seperti Like A Flowing River (Coelho). Nyatanya tidak sesuai harapan.
Sebagian besar, kutipannya bersifat universal. Sebagian kecilnya spesifik, dilengkapi dengan istilah agama.
Mungkin akan bisa lebih saya nilai baik seandainya potongan potongan kalimat tersebut bisa saya pahami. Ternyata tidak juga.
I’m trying. 🥲 But, why I’m feeling sorry for myself for not enjoying this book. 🙃
Buku Belajar Hidup dari Rumi karangan Haidar Bagir yang merupakan Presdir Mizan, lulusan Magister Pusat Studi Timur Tengah, Harvard University, dan Doktoral Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia, membuat saya lebih mudah memahami karya-karya Rumi. Jika disebut nama Rumi pastinya ada tiga kata yang sudah terbayang: penyair, mistik, dan sufi. Rumi is all about poetry. Syair bukan sembarang syair, melainkan syair mistik.
Buku-buku Rumi memiliki banyak terjemahan, mulai dari bahasa asli (Bahasa Persia), Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dsb. Tiap bahasa memiliki terjemahan yang berbeda-beda makna. Dibandingkan dengan buku-buku lainnya, Haidar Bagir melalui kedua karyanya ini berhasil membantu saya dalam memahami syair-syair Rumi yang begitu kompleks.
Syair-syair Rumi banyak diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan menjadi buku yang paling laris di Barat, khususnya Amerika Serikat. Nah, pertanyaannya, apa yang membuat syair-syair rumi begitu populer? Tentu bukan terutama karena sifat sufistiknya, bukan saja karena sepenuhnya berwarna Islam, tasawuf Rumi justru terhitung berat. Tetapi karena syair Rumi mampu menguatkan jiwa pembacanya untuk lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup dengan sarana kecintaan pada Tuhan. Di Amerika Serikat, buku-buku kumpulan syair Rumi tidak dipajang dalam rak-rak agama atau spiritualitas, melainkan pada rak self-help, karena syair Rumi memang sanggup menguatkan jiwa.
Beberapa syair dalam buku ini akan saya kutip untuk menggambarkan bahwa syair Rumi bukan sekedar keindahan bahasa namun juga kedalaman makna:
“Oh, Tuhanku. Mati untuk bersatu dengan-Mu adalah harapan yang manis. Tapi hidup dalam kepahitan terpisah dari-Mu adalah hangus dilalap api.”
“Kau dilahirkan dengan sayap, kenapa mesti merayap dalam hidup? (Kita adalah makhluk langit, kenapa biarkan terkungkung dunia?)”
“Wahai Kekasih. Ambillah apa-apa yang kumaui, ambillah apa-apa yang kulakukan, ambillah apa-apa yang kubutuhkan. Ambillah semua yang mengambilku dari-Mu. (Dihadapan kerinduan pada Tuhan keinginan kita tak ada nilainya)”
“Jiwaku dari suatu negeri di sana. Di sana juga kumau berakhir. (Kita dari Tuhan, dan adalah percikan Tuhan, kepada-Nya pula kita ingin kembali)”
Rumi melalui syair-syairnya, seolah mengajak kita tersadar bahwa dalam ruhani manusia terdapat kekuatan dahsyat yang tak terkalahkan. Cinta. Cinta Tuhan kepada manusia, cinta manusia kepada Tuhan. Mabuk cinta kepada Tuhan juga yang pada akhirnya menghasilkan hubungan saling cinta kasih antara manusia kepada manusia lain. Semakin kita mendalami syair Rumi, kita akan diajak bermabuk cinta kepada Tuhan.
Untuk kalian yang menyukai syair dan puisi. Saya amat merekomendasikan kedua buku ini. Syair-syair di buku ini walaupun ringkas dan sederhana, namun mampu membenturkan semua perspektif, kekhawatiran, dan kehidupan kita yang terdalam. Di waktu yang bersamaan, syair-syair ini akan begitu lembut langsung menyelusup ke lubuk hati paling terdalam, menyejukkan hati, dan menentramkan jiwa.
Bait-bait puisi yang dirangkum oleh penulis dalam buku ini benar-benar bagus dan mendalam. Dengan judul Belajar dari Rumi saya seolah benar-benar berusaha untuk tidak hanya menyelami kedalaman bait-bait syair tentang ketuhanan tetapi juga berusaha untuk mengenal siapa sejatinya sosok bernama Jalaluddin Rumi ini. Sebagai awal untuk mengenal lebih jauh karya-karyanya, buku ini pantas menjadi bacaan. Berbeda dengan kebanyakan syair dan puisi di jaman modern saat ini, bait syair dari puisi Rumi ini mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang jauh menyentuh hati, sekali waktu perlu dibaca berulang kali untuk menemukan maknanya. Seulas penjelasan dalam setiap puisi yang ada dari pak Haidar Bagir juga membantu pembaca untuk menemukan makna secara lebih jernih meski pada akhirnya, kita hanya bisa menemukan arti itu sendiri dengan terus membacanya. Buku bagus untuk pemenuhan jiwa yang kadang kosong.
tertarik karena design bukunya yang indah, dan karena merasa "tergilagila" dengan Rumi, serta udah bolakbalik rak Gramedia cuma untuk ngomong sendiri, "beli engga? beli engga?" akhirnya kebaca juga buku ini.
isinya memang "cuma" kumpulan petikan puisipuisi Rumi yang diakui sendiri oleh penulisnya diterjemahkan dari baha Inggris bukan langsung dari Persia, dan tidak utuh. tapi buat saya meknanya tetap mendalam, karena sesingkat apapun ucapan Rumi dalam karyanya selalu meninggalkan kesan spesial #biased
***
kami adalah gegunungan yang kami gemakan hanya Engkau saja...
Saya tak keberatan dengan potongan-potongan sajak Rumi yang dikurasi dan diterjemahkan oleh Haidar Bagir dalam buku ini. Meski hanya sepotong-sepotong, sajak-sajak itu tetap saja punya kemampuan untuk membangkitkan perenungan-perenungan sederhana. Hanya saja... saya rasa syarah/penjelasan yang ditambahkan Haidar di bawah sajak justru mengurangi daya imaji dan penafsiran pembaca terhadap sajak-sajak itu.
Firstly I want to start by saying that I have deep respect towards Haidar Bagir, so this review only reflects my views on the book, not the man.
Poetry is notoriously difficult to translate. So many things end up getting lost in translation, hence in my personal view poetry should be left being translated by another poet, or a language expert, or better yet, an expert in the poet. To which Haidar is neither.
Haidar is a journalist, a Muslim intellectual, and a thought leader.. but he is not a poet. This book at least proofs that. Poetry requires messages in between the lines, metaphors, and layers of depth, which was imminent in Rumis work, but not in this.
It might be because the work itself is a reduction of Rumis work, not from its original, but from its English translation. And Haidar picked up certain phrases he liked, that are short enough when translated, and short enough to fit the 144 character limitation on Twitter. So this book has been reduced so far from Rumi, by at least 3 layers. It was not able to contain Rumi.
I would have preferred if Haidar had written instead a collection of essays explaining his thoughts on Rumi, his Prolog writing for instance was beautiful—like most of his essays. But instead it was something...else.
This again shows the weakness of Indonesian Editorship, who was not able to bring out the best of Haidar. On top of that, poetry should be able to stand alone—the design for each page of this book, rather than adding to its beauty, actually reduces its essence. The real essence of poetry should be just in its words. Nothing more nor less.
If you are a Haidar Fan, better read “Islam Tuhan, Islam Manusia”, it’s the better book. If you are a Rumi fan, get a better full version.
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin Al-Khattabi Al-Bakri, born in Balkh (now Afganistan) 30 September 1207 M. I am not really know about his figure, but I conclude, most of his poetry concern in love, happines, and his longing to Allah SWT. Rumi teachs us that this word isn't immortal, and the best thing in life is the life after death which makes us meet our creator, Allah SWT. In addition, he states that love is important thing that makes us conquer our ego, weakness, and vanity. No matter how smart we are, if there is no love in our heart, we just like empty eggshell. His poems are words to live by. Each poem has important value, even it's not complete poem but only quotable quote. Not all poems in this book I know the meaning of it, but reading thia book, hopefully make me always learn how to be a religion person that always remember Allah and make Allah be present in every second of our time.
Here, some quotation of my favorite poems by Rumi : RUMAH PENGINAPAN WUJUD MANUSIA ADALAH RUMAH PENGINAPAN SETIAP PAGI, TAMU BARU KEGEMBIRAAN, KESUMPEKAN, KEKEJAMAN KADANG KESADARAN-KESADARAN SESAAT TIBA SEBAGAI TAMU KEJUTAN. SAMBUT DAN JAMU SEMUA BAHKAN JIKA ITU TUMPUKAN KESEDIHAN YANG GANAS SAPU SEMUA PERKAKAS RUMAHMU BOLEH JADI IA BERSIHKAN DIRIMU DEMI PESONA BARU. KESUMPEKAN, RASA MALU, KELICIKAN SONGSONG DI PINTU DENGAN KETAWA AJAK MASUK SYUKURI APA SAJA YANG DATANG KARENA SEMUA DIUTUS SEBAGAI PANDU DARI SANA
*jika direnungkan dan diambil hikmah-Nya, kesulitan justru mematangkan dan memberikan pencerahan. Keserbaadaan justru melemahkan.
Buku ini seperti membuka percakapan pelan dengan diri sendiri. Buku ini tidak menggurui, tidak memaksa pembaca untuk segera paham, tetapi mengajak berhenti sejenak dan merenung.
Melalui puisi-puisi dan pemikiran Jalaluddin Rumi, Haidar Bagir menuntun pembaca melihat hidup dari sisi yang lebih hening. Tentang cinta, luka, kehilangan, dan pencarian makna yang sering kali kita hindari.
Yang terasa kuat dari buku ini adalah kejujurannya: bahwa hidup tidak selalu tentang menemukan jawaban, tetapi tentang berani hadir sepenuhnya dalam proses. Membacanya membuat saya sadar bahwa tidak semua hal harus dilawan atau diselesaikan; sebagian hanya perlu diterima dan dialami. Buku ini bukan tentang menjadi “lebih baik” dengan cepat, melainkan tentang menjadi lebih utuh, lebih sadar, dan lebih lembut pada diri sendiri.
Buku kumpulan puisi Rumi ini sangat indah untuk dibaca lebih indah lagi untuk direnungi dan menyelami arti dan makna puisa. walaupun dalam buku ini puisi Rumi di translet kan dari bahasa inggris bukan langsung dari persia dan agar tidak panjang penulis banyak menyunting puisi jadi lebih pendek tetapi esensi keindahan Rumi masih terasa dan penulis bertujuan agar pembaca terutama untuk yang masih awam dengan puisi Rumi bisa mengerti sehingga beliau juga membuat arti puisi di bawah puisi sehingga pembaca tidak akan terlalu sulit untuk mengerti makna puisi tasawuf ini karena puisi tasawuf memiliki kesukaran dalam mengartikannya
Berisi kumpulan cuitan sajak dari sufi, Jalaluddin Rumi. Saya sempat lihat cuitan tentang puisi Rumi yang diretweet teman Twitter, dari akun Pak Haidar dan karena saya tengah menulis novel yang menyenggol "puisi" untuk tokoh utama, saya memutuskan untuk memilah puisi Rumi, biar dijadikan kutipan si tokoh tersebut. Cukup banyak yang bisa saya tabung untuk dikutip, setidaknya jika dibandingkan buku puisi Chairil Anwar. Ya, tergantung kebutuhan saya lah.
Buku ini berisi sajak-sajak Rumi yang sudah diterjemahkan oleh Pak Haidar Bagir. Pada pembukaan pada buku pun, ia mengaku masih memiliki kekurangan dalam penerjemahannya karena ia memang bukan penyair. Meskipun begitu, bagi saya, isi dan makna dari setiap sajaknya bisa diresapi dan direnungi. Sebagian besar tema di sajak ini adalah tentang kecintaan manusia kepada Tuhan dan bagaimana manusia bisa "bermesraan" dengan-Nya.
sepertinya buku ini telah menorehkan rekor buku paling banyak anotasinya 😆
kumpulan potongan puisi disini memang mujarab untuk menenangkan jiwa:')) dan suka banget ada sedikit penjelasan di sebelah kanan bagian bawah di tiap halaman!! meskipun belum bisa memaknai sepenuhnya, tapi menggugah banget pas bacanya huuu tentu saja akan aku baca lagi dan lagi~
Puisi-puisi Rumi yang singkat tapi padat. Membaca nukilan Rumi di waktu yang tepat mampu membuat pembaca tercenggang dan menilai ukuran hubungan sendiri dengan Tuhan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seperti pepatah rumi jika lumpur disingkap maka cermin akan terlihat, buku ini tidak menjabarkan kalimat motivasi gamblang namun puisi yang dalam yang mengandung makna hidup
Menyesal beli buku ini. Itulah makanya jangan menilai buku dari sampulnya dan desainnya. Setengah perjalanan membaca perasaan yang muncul adalah bosan. Mungkin buku ini bagus untuk pemula yang baru mulai belajar membaca.
Maaf bung Haidar Bagir. Jika saja puisinya ditulis lengkap dan tanpa embel-embel penjelasan mungkin saya akan berikan bintang lebih.
Hanya menyajikan kutipan-kutipan dari puisi Rumi tanpa membubuhkan karya utuh beliau. Sangat disayangkan. Dan, ya, ada catatan kaki, mungkin Haidar Bagir khawatir pembaca menafsirkan hal yang aneh-aneh yang mana esensi kutipan puisi Rumi yang tertera adalah Tuhan. Hihi