This volume recounts the lives of the mother and wife of Harun al-Rashid, contemporary of Charlemagne and hero of many a tale from the "Arabian Nights". Khaizuran and Zubaidah, the "two queens", flouted the taboos of Muslim society and left their imprint on a key period of Islamic history.
دوستانِ گرانقدر، نویسنده در این کتاب به تحقیق و پژوهش در موردِ زندگی و نوع حکومت دو خلیفهٔ عباسی، یعنی دو برادر به نام های <هارون> و < هادی> پرداخته است... دو خلیفهٔ مسلمین که بیشتر شما عزیزان نام آنها را بارها شنیده اید خلاصه ای از این کتاب را برایِ شما بزرگواران در زیر مینویسم دوستانِ عزیز، < هادی> برادر بزرگتر و < هارون> برادر کوچکتر، هر دو مانندِ پدرشان < مهدی> عملاً اختیاری از خودشان در برابرِ مادرشان <خیزران> نداشتند... در زمان حکومتِ < هادی> سران لشکری و حکومتی، هر بامداد به خدمتِ ملکهٔ مادر، < خیزران> میرسیدند و گزارش میدادند و دستوراتِ لازم را از او میگرفتند... روزی <هادی> نظرِ مادرش را رد کرد و بر خلافِ نظرش عمل کرد و در جمع حرفِ خودش را به کُرسی نشاند... سه شب بعد، تمام کنیزانِ مادرش < خیزران> به اتاق خلیفه رفتند و بالشتی بر دهانش گذاشته و دست جمعی بر رویِ آن نشستند و < هادی> را به دستورِ مادرش < خیزران> به قتل رساندند امیرالمونینِ< بیست و دومِ> تازیان و مسلمان ها < هادی> تنها یک سال و ۴۵ روز حکومت کرد و در ۲۴ سالگی مُرد... این تازی و مسلمانِ حرام زاده و کثیف، در دورانِ حکومتش بیش از هزار چوبه دار برایِ پیروانِ <مزدک> و < مانی> فراهم کرده بود بعد از <هادی> برادرِ کوچکتر < هارون> به خلافت رسید که معروف شد به < هارون الرشید> ... روز خلافتِ < هارون> را روزِ < تقارن ثلاثه> نامیدند، زیرا در آن روز برادرش < هادی> به خاک سپرده شد - خلافتِ < هارون> اعلام شد - فرزندش < مأمون> به دنیا آمد... در زمانِ خلافت < هارون> امورِ خلافت و حکومت، عملاً در اختیارِ خاندانِ ایرانیِ < برمکی> بود روزی که خاندانِ < برمکیان> به دستورِ < هارون> قتل عام شدند، کارِ حکومتِ < هارون> به سقوط انجامید این تازی نیز همچون دیگر خلیفه ها و امامان تازی بی خرد و نادان و حیوان صفت بود... از کارهای جالب توجه او این بود که همسرش < زبیده> بوزینه ای داشت که محبوب بود و این بوزینه پردهٔ بکارتِ بیش از ۳۰ کنیز را پاره کرده بود... خلیفه این بوزینه را به مقامِ <امامت> رساند تا همتراز باشد با امامانِ به اصطلاح معصوم شیعیان... درست است که کارِ ابلهانه ای بوده. ولی دور از لطف به ائمه نیست روزی < یزیدبن مزید شیبانی> این بوزینه را کشت و < هارون> او را به دار آویخت... و روزها در بالایِ جنازهٔ امامِ مسلمین، آن بوزینهٔ محبوب، قاریان قرآن تلاوت کردند و برایش دعا خواندند تا با پیامبر و اصحابش در بهشتِ تازیان محشور شود
امیدوارم دوستانِ خردگرا و گرامی، از خواندنِ این مطالب استفاده کرده و لذت برده باشند < پیروز باشید و ایرانی>
Informasi buku • Penerbit: Republika • Halaman: 309 • Penulis: Nadia Abbott • Kategori: Sejarah Islam
Alkisah, ada dua orang ratu di zaman yang berbeda tapi masih dalam satu dinasti di Bagdad. Ratu tersebut adalah Khaizuran dan Zubaidah. Dua orang ratu ini punya peranan penting untuk menentukan bagaimana semestinya kekhalifahan bisa bekerja.
Kisahnya yang tersaji, terasa seperti di negeri dongeng. Bagaimana digambarkan konflik untuk mendapatkan kekuasaan, percintaan, dan lainnya, ya masalah khas kerajaan. Tapi, mungkin dari kita mikir, oh yang penting cuman raja aja, padahal ratu pun juga banyak perannya.
Kalo dari aku sendiri, lebih suka pas masuk ke bagian kedua, kaya ada warnanya gitu. Bagaimana seorang perempuan juga bisa punya andil gitu, ngga cuman yang oh yaudah ngikut aja. Tapi, pendapatnya juga bisa tetep matters, walaupun tetep aja dirasa kurang.
Mengenal Dua Ratu dari Dinasti Abbasiyah Judul : Twi Queens of Baghdad Penulis : Nabia Abbott Penerjemah : Juslich Hanafi Penerbit : Buku Republika Cetakan : Pertama, Juli 2021 Tebal : vii + 301 halaman ISBN : 978-623-791-084 Peresensi : Ratnanmi Latifah
Selama ini mungkin kita hanya mengenal nama-nama besar dari khalifah pada Dinasti Abbasiyah. Misalnya Khalifah Al-Saffah, Al-Mansur, Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Amin atau Al-Makmun. Nama-nama mereka telah terukir dengan sangat gamblang dalam sejarah Islam. Kisah dan keteneran mereka banyak menarik pada sejarawan, penulis biografi atau pihal lain yang memang menggemari literatur. Namun seringakali kita lupa, bahwa di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita yang memiliki peran penting dalam pencapaian tersebut.
Hal itu juga berlaku bagi tokoh-tokoh besar di masa kepemimpinan Dinasti Abbasiyah. Sayangnya kisah yang berhubungan dengan peran wanita tersebut, tidak banyak dibahasa dalam literatur sejarah Islam. Dan hemat saya, ketika mempelajari pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, selain para Khalifah yang dibahas secara luar, tokoh dan peran wanita tidak disebutkan secara spesifik.
Maka beruntung sekali jika kita membaca buku karya Nabia Abbott, yang akan membahas tentang sejarah dua ratu yang memiliki peran penting selama Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Karena tanpa adanya campur tangan mereka, bisa jadi para Khalifah yang selama ini kita kenal mungkin tidak ada dalam catatan sejarah. Dua ratu yang dimaksud penulis adalah Ratu Khaizuran dan Ratu Zubaidah. Dengan cukup detail penulis mecoba mengungkapkan tentang fakta-fakta menarik yang belum banyak kita ketahui.
Sebagaimana kita ketahui, di masa lampau perbudakan masih marak terjadi negeri Arab. Tak terkecuali pada masa Dinasti Abbasiyah. Namun siapa yang menyangka dari rahim seorang budak itulah terlahir tokoh-tokoh fenomenal yang akhirnya memberikan banyak kontribusi pada perkembangan Islam. Ratu Khaizuran merupakan gadis budak dari seorang Arab dari Bani Thagafi. Memiliki pesona yang memikat, gadis itu akhirnya dapat meluluhkan hati Khalifah Mansur yang kemudian membuatnya menjadi menantunya. Di mana pernikahannya dengan Al-Mahdi maka lahirlah dua calon khalifah besar yaitu Al-Hadi juga Harun Ar-Rasyid. Namun pencapaian itu tidaklah diperoleh Khaizuran dengan mudah. Ia harus bersusah payah dan tentu harus memiliki kecerdasan dalam dunia politik, juga memiliki tekad kuat untuk mewujudkan impiannya. Termasuk upaya besarnya menjadikan Harun ar-Rasyid sebagai seorang Khalifah.
“Matahari yang menakutkan telah melarikan diri, Dan menyembunyikan wajahnya yang bercahaya di malam hari; Dunia yang suram tidak ceria. Tapi Harun datang dan semua baik-baik saja. Kembali matahari memancarkan sinarnya; Alam dihiasi jubah kecantikan: Karena goyangan tongkat harun yang perkasa, Dan tangan Yahya menopang dunia.” (hal 129)
Buku ini dibagi menjadi 2 part: Khaizuran dan Zubaidah. Pas baca di bagian awal, memang cukup sulit dicerna kisah tentang Khaizuran tapi setelah masuk ke part Zubaidah, aku langsung enjoy aja bacanya.
Data buku, Judul: Two Queens of Baghdad Penulis: Nabia Abbott Penerbit: Republika Tebal: vii + 301 halaman Tahun: 2021 Penerjemah: Juslich Hanafi Kategori: Buku sejarah islam sebagai penunjang kepustakaan
Buku ini pertama kali diterbitkan itu di tahun 1946. Untuk penulisnya sendiri, Nabia Abbot (1897 - 1981), adalah seorang sarjana Islam Amerika. Dan di 2021 ini, kita berkesempatan membacanya dalam versi bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Penerbit Republika.
Buku sejarah Islam ini, menulis tentang sejarah Bani Abbasiyah, yang berfokus pada pemerintahan Harun Ar-Rasyid, yang ditulis dilihat dari sudut pandang Ibundanya dan sang istri.
Fyi, kekhalifahan dalam islam setelah wafatnya Rasul, diduduki oleh para Khulafaur Rasyidin, kemudian Dinasti Umayyah, lalu dikuasi oleh Dinasti Abbasiyah, terakhir, Dinasti Utsmaniyah (secara garis kekhalifahan utama ya, karena ada beberapa dinasti lain).
Kita ngomongin latar belakang Harun Ar-Rasyid dulu ya. Jadi, khalifah pertama bani Abbasiyah adalah Abu al-Abbas al-Saffah, kemudian diduduki oleh saudara tirinya, Abu Ja'far al-Mansur. Al Mansur memiliki seorang putra, Al-Mahdi, yang kemudian melanjutkan kepemimpinan dan memiliki dua orang putra yang ikut juga menjadi khalifah, Al-Hadi dan Ar-Rasyid.
Jaman dulu itu ada yang namanya Harem (tempat berkumpulnya wanita, baik itu istri, selir, atau budak dalam kesultanan), Al Mansur mengenalkan Khaizuran pada Al-Mahdi. Khaizuran ini lah ibundanya dari Khalifah Harun Ar-Rasyid. Khaizuran awal mulanya adalah budak, selir, dan kemudian menjadi permaisuri (istri kedua Al-Mahdi).
Ayahnya khalifah Harun Ar-Rasyid adalah Al-Mahdi dan ibundanya adalah Khaizuran. Ia juga memiliki saudara laki-laki yang lebih dulu menjadi khalifah, Al-Hadi.
Untuk ratu kedua dalam buku ini, Zubaidah, merupakan seorang istri yang juga sepupu dari Harun Ar-Rasyid sendiri.
Buku sebagai penunjang kepustakaan ini, dibuka dengan pendahuluan yang berisi sedikit banyaknya tentang silsilah Bani Abbasiyah dan Latar belakang Bani Abbasiyah, serta sedikit tentang Khaizuran dan Zubaidah. Kemudian, kisah Khaizuran dan Zubaidah dibagi ke dua bagian. Setiap bagiannya berisi 4 judul.
Untuk bagian Khaizuran, ada diceritakan tentang Nyonya Harem, Kekuasaan di Balik Tahta, Penghinaan dan Kemenangan. Di bagian istri sang Khalifah, diceritakan tentang Keluarga Kerajaan dan Asmara, Pewaris Kekhalifahan Harun, Perang dan Perdamaian, dan Kemasyhuran.
Dari daftar isi tersebut, bagiku yang paling menarik ada pada judul Kemenangan pada bagian Khaizuran dan dua judul pada bagian Zubaidah, Pewaris Kekhalifahan Harun sama Perang dan Perdamaian.
Oiya, awalnya aku kira buku ini akan berisi berbagai perjuangan Harun ar-Rasyid dengan ditemani oleh Ibunda dan sang Istri, tapi ternyata lebih pada hal-hal dalam intrik kerajaan, seperti perselisihan terhadap tahkta, asmara para Khalifah juga termasuk lumayan banyak diceritakan.
Yang dibahas tidak hanya tentang Khalifah Harun ar-Rasyid, tapi dari Kakeknya, Khalifah Al-mansur, hingga dua Putra Khalifah Harun ar-Rasyid, Abdullah -Al Ma'mun- & Muhammad -Al Amin- ( pada masa mereka perang saudara ke IV dalam islam terjadi). Menurutku, malah minim bahasan tentang Harun Ar-Rasyid sih.
Ini buku yang sudah lumayan lama terbit, dan aku suka gaya terjemahannya, -kurasa- ini mengikuti gaya bahasa kita sekarang & buku ini isinya lumayan padat.
buku dengan banyak sumber ini akan membantu menambah pengetahuan sejarah islam kita, ditulis sedikit banyak dari sudut pandang Khaizuran dan Zubaidah tentang Bani Abbasiyah yang kuyakin tidak banyak kita jumpai di tulisan sejarah islam lain. So, ini highly recommended.
Judul : Two Queens of Baghdad Penulis : Nadia Abbott Penerjemah : Juslich Hanafi Penerbit : Buku Republika Cetakan : pertama, Juli 2021 Tebal : vii + 301 halaman ISBN : 978-623-791-084
Buku two queens of Baghdad memiliki banyak pesan penting yang dapat dipelajari oleh kalangan muslimah saat ini. Buku ini menceritakan tentang kisah dua Ratu dari Dinasti Abbasiyah yang bernama Khaizuran dan Zubaidah. Pembaca akan melihat betapa pentingnya peran perempuan dalam pemerintahan sebuah kerajaan besar. Khaizuran dan Zubaidah merupakan Ratu dari Dinasti yang sama, namun mereka berperan di zaman yang berbeda.
Banyak tokoh pejuang di masa kejayaan Abbasiyah yang namanya tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban islam, yang paling mashur adalah Khalifah Harun Ar Rasyid. Dibalik kejayaan tersebut pasti ada peran penting perempuan yang mampu mengantarkan namanya menjadi salah satu Khalifah hebat sepanjang sejarah islam.
Dari sanalah kisah ini dimulai. Standar sosial dan moral yang berlaku di Istana Dinasti Abbasiyah awal secara keseluruhan cenderung mengalami kemunduran. Banyak praktek trio pologami, gundik/perbudakan, dan pengucilan perempuan. Namun kuasa Allah mengubah segalanya. Dari Rahim seorang budak Arab Bani Thagafi, lahirlah tokoh-tokoh hebat pejuang islam yang mengubah kemunduran tersebut menjadi kemajuan islam salah satunya dengan memuliakan perempuan.
Peran politik dan domestik Khaizuran dan Zubaidah mencerminkan dan melanjutkan posisi perempuan di negara islam awal. Layaknya Khadijah dan Aisyah yang terus membersamai perjuangan Rasulullah dalam syiar islam di berbagai aspek. Khaizuran dan Zubaidah juga memiliki peranan penting dalam kemajuan Dinasti Abbasiyah. Khususnya menggunakan kecerdasan di bidang politik.
Meskipun buku ini adalah buku terjemahan, namun setiap kata yang terangkai sangat mudah untuk dicerna dan dipahami. Buku ini sangat direkomendasikan untuk semua kalangan khususnya para muslimah. Karena semangat Khaizuran dan Zubaidah dalam memperjuangkan islam akan tertular dalam setiap kisah yang tertuang.
Bacalah dan temukan banyak semangat baru untuk memperjuangkan islam.
Pas baca Kata Pengantar, "agar pembaca dapat memahami dan mempelajari dengan lebih baik sifat dan tingkat pengaruh mereka terhadap Harun, serta terhadap beberapa pelaku sejarah terkait lainnya, pada masa awal ke Khalifahan Abbasiyah"
widih, semangat kali untuk memulai buku ini. Apalagi latar belakang Khaizuran adalah seorang budak yang dibeli oleh Al-Mansur dan Khaizuran lah yang memberi penerus Dinasti Abbasiyah tidak terlupakan.
Jadi di awal-awal disebutkan sejarah singkatnya perubahan pimpinan dari Abu al-Abbas al-Saffah hingga Harun ar-Rasyid. Menarik. karena singkat padat dan jelas. Setidaknya udah ada bayangan nih gimana peran Khaizuran nantinya. Pokoknya udah memggebu-gebu perasaan hati ini.
Eh ternyata, ini nggak lebih dari ajang ghibah versi cerdas. Intrik perebutan kekuasaan, poligami, jual-beli budak, hasrat Khalifah yang gila wanita. Sikit-sikit kawin dengan cewek cantik yang merupakan budak, perselisihan selir dan isinya begitu aja sampai bab Khaizuran tamat. Koleksi kain brokat Khaizuran pun dibahas 😵💫 Dan jangan lupa tuduhan kalau Khaizuran meracuni Al Hadi, agar Harun naik takhta
Zubaidah masih lebih baik, karena sepertinya catatan tentang beliau lebih jelas, tidak seperti Khaizuran yang kebanyakan dari pov para Khalifah atau catatan sejarah dari pihak ketiga.
Ternyata sama saja. Konflik seputar harem, cemburu, asmara, konflik para penyair dan lain-lain yang menurut aku gak penting buat dibahas. Rasa iri ketika melihat kelebihan Abdullah (anak pertama dari ratu pertama) dibandingkan anaknya sendiri. Aku gak peduli Khalifah mau bolak balik kawin. Aku nggak peduli urusan foya-foya anggota kerajaan. Aku cuma ingin lihat peran dua wanita hebat yang di janjikan buku ini.
Penulisnya sendiri mengakui sulit mencari tentang kedua wanita itu karena keengganan muslim tradisional menerima sepak terjang perempuan dalam kehidupan politik. Tapi kan ....
Buku ini mematahkan hatiku.
Meski begitu, aku suka isinya yang begitu informatif dan diselipi catatan kaki sumber-sumbernya. Aku kagum juga, budak-budak dulu yang dipersembahkan ke Khalifah adalah penghafal Al-Qur'an. antara mau marah & nangis sebenarnya 😭
٥من٥ لـ ملكَتانِ في بغدادَ: المرأةُ والسياسةُ في العهدِ العبّاسيِّ - نبيهة عبود -دار المركز الأكاديمي للأبحاث- • • في قلب بغداد العباسيّة، حيث ازدهرت الحضارة وتلاطمت التيارات السياسية، برزت امرأتان وتركتا بصمتهما العميقة في تاريخ الخلافة: الخيزران، أمّ الخليفة هارون الرشيد، وزبيدة، زوجته. تسرد لنا الباحثة العربية نبيهة عبود بوصفٍ دقيق ومعتمد على مصادر تاريخية موثوقة، صورة صادقة لهارون الرشيد وعصره، وأثرًا حاسمًا للمرأتين في حياته، أمه الخيزران وزوجته زبيدة. تبدأ نبيهة عبود بسرد القصة من بدايتها، فنُلقي نظرة سريعة على بداية العهدِ العبّاسيِّ، ومن ثمّ نتعمق بعهد هارون الرشيد ويليه عهدُ كلٍّ من ولديه، الأمين والمأمون. ويتركّز الاهتمام على أثر الخيزران وزبيدة بالسياسة. وفي وصف الخيزران بأنها كانت امرأة تُخشى وتُخيف، لا امرأة تُحب وتُندب بعد موتها وقد كانت تحكُم وتأمر، فلا يقف أمام سلطانِها سلطانٌ. فلم تكن سوى جارية عادية تُباع وتُشترى، ولكن بدهائها استطاعت بأن تحكم امبراطورية كاملة، حتى وإن كان ذلك خلف الستار. وعلى الرغم من قلّة المؤرخين الذين دوّنوا تاريخ الخيزران، إلّا أن الباحثة نبيهة عبود قد بذلت قصارى جهدها في تجميع كلّ ما يعرفه التاريخ عن الخيزران من مصادر موثوقة. ولم تقف زبيدة موقف المتفرّج، بل برزَ دورها السياسي وظهرت في قصرها كأول سيّدة في الدولة، ووصفها الجاحظ بأنها من أعظم الشخصيات في عهد الرشيد. ونرى أيضًا الحرب على الخلافة التي أُشعلت بين الأخوين، محمد الأمين، وعبدالله المأمون، بكامل التفاصيل من غدرٍ ورثاء، وجشعٍ ودهاء. وفي النهاية، لا يُنكر أثر تلك المرأتين اللتين غيرتا موازين التاريخ في الدولة العباسيّة وستظّل أسماء زبيدة والخيزران مخلّدة في التاريخ. وتُشكر جهود الباحثة العراقية نبيهة عبود لكتابتها عن المرأة في التاريخ الإسلامي، فإني لا أطيق صبرًا بأن أقرأ جميع إصداراتها الأخرى بهذا المجال.
“Penderma yang bahagia adalah dia yang lebih awal menyadari fakta bahwa kita lebih diberkati ketika memberi alih-alih menerima.” Hal. 299
Kegemilangan Dinasti Abbasiyah sebagai Golden Age sangat masyhur dalam sejarah peradaban. Dari sanalah berbagai ilmu pengetahuan berkembang membawa kemajuan disetiap lini kehidupan. Tokoh legendaris dibaliknya mungkin tak asing lagi didengar. Ya, ketenaran Harun Ar-Rasyid terus menggema dibarisan sejarah. Namun, peran kedua wanita dibaliknya jarang sekali dibahas yaitu Khaizuran (Ibu) dan Zubaidah (Isteri).
Saya belum dengar sebelumnya kisah dua orang ratu Abbasiyah yang begitu luar biasa. Buku ini menggambarkan ambisi, kebijaksanaan, dan keberanian seorang Khaizuran. Kisah Ibunda Harun Ar-Rasyid ini begitu tak terduga dalam setiap narasi tulisan buku ini. Tak lupa pula Zubaidah digambarkan memiliki kepribadian yang cerdas, bijaksana, dan berpandangan jauh ke depan. IMO, buku merupakan salah satu karya penelitian penulis itu sendiri sehingga cukup runtut dalam membedah kedua kehidupan dua ratu Abbasiyah.