Jump to ratings and reviews
Rate this book

Last Forever

Rate this book
“Seharusnya, aku tidak boleh mengharapkanmu. Seharusnya, aku tahu diri. Tapi, Lana..., ketakutanku yang paling besar adalah... aku kehilangan dirimu pada saat aku punya kesempatan memilikimu.” — Samuel

“Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua yang kumiliki. Duniaku. Apa kau sadar?” — Lana

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus mulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka, kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara. Lalu, bagaimana saat menyerah kepada cinta, justru membuat mereka tambah saling menyakiti? Berapa banyak yang mampu mereka pertaruhkan demi sesuatu yang tak mereka duga?

384 pages, Paperback

First published October 20, 2015

23 people are currently reading
327 people want to read

About the author

Windry Ramadhina

12 books824 followers
young woman with lots of interests, ambitions and dreams, which shattered into pieces, each surfaced as different face and waiting for itself to become whole once more time. her world came to architecture, illustration, photography, literature, business, and japan. used to known as miss worm in cyber world. shattering her pieces at kemudian.com and deviantart.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
86 (18%)
4 stars
231 (49%)
3 stars
132 (28%)
2 stars
16 (3%)
1 star
5 (1%)
Displaying 1 - 30 of 124 reviews
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
November 13, 2015
"'Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri.' Mungkin sekarang kau memikirkan ulang kata-kata itu."
Aku selalu menikmati penulisan Windry Ramadhina yang manis dan tidak pernah mau melewatkan buku terbarunya. Dan di buku kali ini, Windry Ramadhina tetap berhasil memikatku dengan tulisannya yang apik serta dua karakter utamanya yang sangat berkesan. Buku yang ditulis dari sudut pandang ketiga ini diawali dengan memperkenalkan kedua karakter utamanya: Samuel Hardi dan Lana Hart, serta hubungan yang mereka jalani selama bertahun-tahun. Konflik utama ceritanya muncul tidak lama kemudian, tetapi aku tidak akan menceritakannya dalam review agar yang belum membaca bisa ikut menikmati kejutannya :) Yang jelas konflik tersebut menimbulkan banyak permasalahan lain dalam ceritanya. Hal yang paling aku sukai dari buku ini adalah melihat perkembangan yang terjadi pada karakter Lana dan Samuel. Aku sangat suka bagaimana dua karakter yang sama-sama anti-komitmen garis keras ini perlahan-lahan mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu. Pembaca akan melihat dengan jelas perjalanan emosi yang harus dilalui oleh Samuel dan Lana dalam cerita ini. Banyak ketakutan, kekhawatiran, dan juga ketidakrelaan saat mereka harus menghadapi apa yang ada di depan. Setelah semua emotional rollercoaster yang harus aku lewati bersamaan dengan kedua karakternya, ending-nya yang manis benar-benar membuatku turut bahagia. Entah apakah hanya aku saja yang terlalu tenggelam dalam ceritanya, yang jelas hatiku menghangat saat membaca adegan terakhir yang sederhana namun menyentuh :')
"Sungguh, dia tidak memahami jalan pikiran lelaki dan perempuan muda zaman sekarang. Mereka kelewat skeptis. Seakan-akan, dunia ini telah menjelma sangat buruk dan mereka tidak berani mengambil risiko menderita. Atau, barangkali, mereka semata-mata tidak berani percaya bahwa di balik risiko tersebut ada harapan meskipun setitik."
Mengesampingkan kedua karakter utamanya sebentar, aku harus mengatakan bahwa karakter favoritku dari buku ini adalah Rayyi, orang yang bekerja untuk Samuel. Karakter Rayyi merupakan karakter utama dalam novel Windry Ramadhina yang berjudul, Montase (2013) ; dan sebenarnya cukup ironis karena dalam review-ku untuk Montase aku malah memilih Samuel Hardi sebagai karakter favoritku XD. Karakter Rayyi yang cukup menyebalkan bagi Samuel terasa seperti angin segar karena ia selalu mengatakan hal-hal yang memang perlu didengar oleh atasannya itu. Di tengah semua konflik yang pelik dalam buku ini, kemunculan Rayyi selalu berhasil membuatku tersenyum saat membaca :)

Walaupun bukan karakter favoritku, itu bukan berarti aku tidak menyukai karakter Samuel Hardi, karena ia adalah karakter yang sangat berkesan untukku. Kepribadiannya yang arogan dan perfeksionis memberi pesona tersendiri pada karakternya. Karena sosoknya yang angkuh itulah, gesture manis sekecil apapun yang ia lakukan jadi terasa menyentuh. Namun yang paling aku suka adalah sewaktu karakter yang sangat keras ini perlahan-lahan melembut, bahkan nyaris terlihat lemah saat dihadapkan pada perasaannya. Sedangkan karakter Lana Hart memiliki luka masa lalu yang membuatnya takut terhadap komitmen. Ia selalu takut kehilangan kebebasan untuk melakukan apa yang dia cintai dan menyesalinya kemudian. Meskipun karakternya tidak seangkuh Samuel, Lana juga adalah sosok yang keras kepala yang tidak mudah digoyahkan.
"Samuel bukan takut berhadapan dengan penolakan. Dia takut keinginannya memiliki Lana justru akan menyebabkannya kehilangan perempuan itu. Dia akan kehilangan perempuan itu juga apabila tidak segera berbuat sesuatu. Malakama. Sialan benar."
"Dalam hubungan lelaki dan perempuan, memang harus ada yang dikorbankan. Itu yang membuat hubungan berhasil. Itu yang menjadikan hubungan berharga."
Dalam buku ini, Windry Ramadhina sukses membuatku tenggelam dalam kisah Samuel dan Lana serta membuatku bersimpati terhadap apa yang dilalui oleh kedua karakternya. Ceritanya juga sedikit banyak memberikan pencerahan tentang komitmen; mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi orang-orang yang selama ini juga merasakan ketakutan/kekhawatiran yang sama seperti Samuel atau Lana. Selain itu, aku juga suka latar belakang pekerjaan Samuel dan Lana yang adalah pembuat film dokumenter; apalagi karena mereka bekerjasama dengan National Geographic. Sedikit banyak aku jadi tahu seluk-beluk pekerjaan tersebut. Aku akan terus menantikan karya Windry Ramadhina yang selanjutnya, karena aku tidak sabar untuk kembali menikmati penulisannya yang selalu berhasil membuatku terbuai :))
"Dia tidak tahu bagaimana omong kosong tersebut berhasil memengaruhi Samuel. Dia tidak mengerti mengapa lelaki itu membiarkan dirinya berubah. Yang jelas, dia dan lelaki itu tidak lagi sama. Sekarang, mereka berdiri berseberangan."


Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2015/1...
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
October 24, 2015
Wow, tulisan Mba Windry selalu memikatku. Rekomen banget ini buat kamu pecinta kisah romance, dijamin jatuh cinta dengan kisah Samuel-Lana :)
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
November 30, 2015
pertama, kovernya.
mungkin ini kover terburuknya gagasmedia. saya nggak paham dengan konsep bunga-bunga yang, ya, cewek banget barangkali. saya membaca buku ini dalam waktu 8 jam perjalanan kereta, dan para penumpang di samping atau yang sekadar lewat, tentu melihat kovernya yang ada bunga-bunganya. tapi tipografi buat konsep filmnya keren.

kedua, gaya menulis penulis.
penulis berkembang pesat, tentu. tapi saya lihat, di sini, penulis seperti kehilangan kontrol. dia kebablasan. sebagai pembaca saja, saya melihat banyak sekali hal-hal yang layak dihilangkan di buku ini. Penjabaran mengenai Rayyi, juga Samuel diawal too much, salah satunya. pembaca dijejali soal mereka, sehingga, benar kata Mbak Hetih, ke halaman berikutnya, kadar menarik dari buku ini berkurang banyak hingga halaman terakhir. Saya juga melihat ada beberapa typo di sini, yang biasanya nyaris tidak ada di buku penulis yang sebelum-sebelumnya.

ketiga, ceritanya.
saya menyukai prinsip keduanya. Samuel dan Lana punya alasan yang jelas kenapa mereka tidak berkomitmen. bagi laki-laki, komitmen merenggut kebebasan. bagi perempuan, saya nggak tau. komitmen merusak esensi dari cinta sendiri. komitmen itu mengatur. komitmen menghantarkan hubungan pada... kebosanan, tidak bisa dihindarkan. semua hal yang disuguhkan penulis di sini soal keantikomitmenan mereka, saya amini. Hanya saja, saya tidak bisa menyukai Lana yang, katakanlah, membenci ayahnya dengan alasan yang kekanakan.
juga, jelas sekali di sini penulis masih ingin menonjolkan Rayyi sebagai guest star, seperti cara Ika Natassa menampilkan Harris Risjad di Critical Eleven. Tapi jelas cara penulis di sini sangat berbeda. sedikit terlalu berlebihan.
di halaman 250, saya mendapati kekeliruan. Pat, yang saya ketahui warga Amerika keturunan Tionghoa, tapi bisa nimbrung obrolan Rayyi yang memakai bahasa Indonesia. itu saja, sih.
karakter tokoh-tokohnya kuat. saya suka interaksi Rayyi kepada Samuel, menyebutnya, "kakek". Nora kepada Samuel juga. entah kenapa, sosok Nora ini menarik. perempuan yang menarik dia.

akhir kata, saya hanya bisa menyukai tulisan Windry Ramadhina yang menggunakan sudut pandang orang pertama, karena apa-apa yang disampaikan nantinya tidak terkesan dipaksakan. dan di sini, meskipun dia memakai pola POV 3, tapi teknis penyampaian yang dia pakai masih POV 1 dan itu sedikit noise.
2.5
Profile Image for Wardah.
926 reviews171 followers
July 27, 2017
Jujur, nggak terlalu menikmati tulisan Windry sejak novel ini. Rasanya makin panjang, bertele-tele, dan berlibet-libet. Lebih suka tulisan-tulisan Windry yang singkat, seperti Memori. Beberapa bagian novel ini masih bikin sembab, sulit buat nggak nangis ketika adegan keluarga (apalagi sama ibu). Namun, secara keseluruhan, saya nggak terlalu suka konflik tokohnya. Rasanya dipanjang-panjangkan.
Profile Image for Cindy Claudia.
99 reviews15 followers
January 30, 2016
Entahlah.. Bukan berarti saya tidak menyukai tulisan Windry yang satu ini, malah saya cukup menyukai temanya yang berani.

Saya cukup terkesan dengan penggambaran tokoh Samuel yang dingin, sinis, dan berpandangan liberal ala Windry. Interaksinya dengan Rayyi konsisten, sama seperti dengan di Montase.

Begitu juga dengan Lana. Wanita itu bukanlah tokoh favorit saya dan secara pribadi saya kurang menyukai tabiatnya yang manja dan suka mencari sensasi (ini hanya pendapat saya). Tetapi rasanya Lana dan Samuel begitu pas untuk satu sama lain.

Yang membuat saya hanya memberikan bintang tiga untuk karya ini adalah saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa seperti yang saya temukan di Montase. Sejak di bagian awal Lana menemukan dirinya telat datang bulan, saya sudah mampu mengetahui cerita ini mau di bawa ke mana. Sebenarnya tidak masalah untuk saya apabila seorang penulis menggunakan tema yang sudah sering digunakan, karena saat ini rasanya sudah tidak ada lagi tema yang benar-benar orisinil pertama kali digunakan, tetapi penulis harus dapat menyajikan sesuatu yang benar-benar fresh olahan dari tema itu. Hal itulah yang tidak saya temukan dalam karya ini: 1) Wanita dan pria yang bersama atas dasar seks selama 7 tahun. 2) Wanita dan pria yang walaupun sebenarnya saling mencintai, memilih tidak bersama karena keduanya takut akan komitmen. 3) Seorang pria yang konon playboy, tetapi akhirnya memutuskan untuk bersama wanita yang paling berarti untuknya. 4) Wanita dan pria yang akhirnya "harus" bersatu karena adanya seorang anak. 5) Wanita dan pria yang sama-sama memiliki karir yang sukses dan keduanya terlalu egois untuk mengalah bagi satu sama lain.

Untuk saya, semua poin di atas sudah usang dan tidak ada hal baru yang saya temukan. Kecualj untuk bagian Ruruh Rahayu, sang penari Jawa Ibu Lana. Cerita di balik Ruruh yang sekarang terasa manis dan indah. Saya tetap menyukai tulisan Windry yang mengalir dan enak untuk dibaca. Saya harap untuk karya-karya selanjutnya, saya bisa kembali menemukan hal-hal fresh dari Windry.
Profile Image for Yessyka Widy.
221 reviews19 followers
January 3, 2016
Beberapa kali saya tegang. Haha~ Saya sedikit... Uhm, this is adult novel for God's sake! Ya meski saya juga pernah baca, tapi I didn't expect it, still...

Tapi terlepas dari itu, saya dengan tak enggannya memberi lima bintang.
Padat, ini bukanlah alasannya. Dari kepadatan itu, saya tak menemukan rasa jenuh yang biasa saya rasakan jika saya membaca buku tebal, malah, saya tak bisa berhenti untuk terus menemukan apa yang terjadi selanjutnya.
Nagih, Mbak Win, ceritanya!

Kedua pihak bukanlah orang yang memiliki komitmen untuk menikah. They wanna be as free as birds flying in the sky. Tapi karena sesuatu konflik -you can find it on the novel-, mereka harus dihadapkan pada komitmen itu, entah harus memilih iya atau tidak.

Beberapa kali saya menangis, I know saya ini melankolis-slash-cengeng, tapi siapa yang tak terharu saat si Samuel yang angkuh, suka gonta-ganti perempuan dan bebas itu melamar Lana?
Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa kebahagiaan itu selalu ada, ada pada waktunya. who doesn't?
Dan saya juga seorang perempuan yang tak memungkiri memiliki pemikiran yang cukup rumit, riweh. Bahkan dengan hal yang sepele, saya bisa memikirkannya sampai hal itu tampak menjadi ribet. It might happen to other girls or women, right?
Jadi, Samuel Hardi, atau Samuel-Samuel lainnya, please bear with us dengan segala kerempongannya, ya.. :D Karena bagaimana pun, hubungan perempuan dan laki-laki itu tak sekadar saling memberi kabar, bertemu, mengucap cinta, tapi juga pengorbanan yang akan saling memberikan bahagia, last forever. ^^

Thumbs up, Mbak Windry! ^_^
Profile Image for ijul (yuliyono).
813 reviews970 followers
October 22, 2016
Rating: 2,5 out of 5 star

First line:
Dia menyelinap turun dari tempat tidur.

ide cerita dan eksekusinya:
Sebagaimana telah dinyatakan dengan cukup jelas di sinopsis (blurb)-nya, Last Forever berkisah tentang dua tokoh antikomitmen yang justru harus tunduk pada komitmen. Dalam perjalanannya, konflik ini dibumbui perang batin masing-masing (terutama menyangkut prinsip hidup dan karier) ditambah kisah hidup orang terdekat mereka yang sedikit-banyak memberi pengaruh bagi pengambilan keputusan.

Namun, ya, begitu saja. Tak seperti Memori atau Interlude atau Walking After You atau London: Angel yang memberi kesan begitu mendalam dan kompleks, Last Forever selesai begitu saja. Hampir tak ada rasa yang membekas ketika saya membalik halaman terakhirnya. Bahkan, ending-nya pun terasa... ya, begitu saja. Tidak ada ledakan yang mengejutkan. Tidak ada lelehan manis yang memabukkan. Entahlah, kali ini saya dicukupkan hanya pada kenikmatan diksi racikan Windry Ramadhina yang, seperti biasa, demikian indah.

meet cute:
Kedua tokoh utama sudah saling mengenal sehingga tak ada adegan perkenalan bernuansa romantis, paling hanya ketika salah satu tokoh membuka lembar ingatan saat mereka kali pertama bertemu dalam sebuah event di Cannes.

plot, setting, dan karakter:
Last Forever beralur maju, dengan beberapa bagian para tokohnya memutar kenangan masa lalu dalam rangka pengembangan konflik atau penguatan karakternya.

Last Forever ber-setting waktu modern (masa kini tanpa penyebutan tahun secara pasti) dengan setting lokasi: Jakarta, Flores, dan Washington. Sebagian besar cerita terjadi di Jakarta tapi Flores adalah lokasi sumber konflik. Oleh karena latar belakang para tokohnya, ada sedikit gaya penceritaan kisah perjalanan (traveling) di lokasi-lokasi tersebut.

Tokoh utamanya adalah Lana dan Samuel Hardi. Keduanya sama-sama pekerja seni, lebih tepatnya pembuat film dokumenter. Lana adalah kru National Geographic yang berkantor di Washington sedangkan Samuel Hardi adalah pemilik studio film Hardi di Jakarta yang kerap jadi langganan partner Nat Geo. Lana adalah tipe easy going, supel, ramah, tapi juga ambisius. Samuel justru kebalikannya: kaku, dingin, perfeksionis, sekaligus playboy. Keduanya memiliki persamaan: antikomitmen dan tak percaya pada institusi pernikahan. Di sekitar keduanya ada Pat (rekan kerja Lana di NatGeo), Rayyi (kolega Samuel), Ruruh Rahayu (ibu Lana), William Hart (ayah Lana), Nora (asisten pribadi Samuel), dan beberapa tokoh pendukung lainnya.

konflik:
Well, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, konfliknya cuma satu: perang batin dua tokoh antikomitmen. Lana dan Samuel digambarkan sebagai dua pekerja kekinian yang hampir-hampir tak lagi terikat adat ketimuran. Keduanya memilih berhubungan tanpa status, tanpa komitmen, dan mungkin (awalnya) tanpa cinta.

Ini juga yang membuat saya agak terganggu selama proses pembacaan. Tumben banget, Windry membuat tokohnya sedemikian bebas. Pun, orang-orang di sekitar mereka seolah-olah mengamini dan mendukung mereka. Hanya ibu Lana saja yang sepertinya berkeberatan meskipun hanya sejenak. Namun, ini murni preferensi pribadi saya saja. Mungkin saya kolot, mungkin saya tidak open-minded, hanya saja saya selalu dan terus berharap para pengarang tetap berupaya mengampanyekan hal-hal baik, minimal yang telah disepakati secara umum.

Bumbu konflik utama minim sekali. Poros bumi sepertinya hanya berpusar pada Lana-Samuel. Sumbangan subplot yang paling terasa hanya pada rahasia kehidupan pernikahan orangtua Lana. Selebihnya hanya remahan yang melingkupi tarik ulur antara Lana dan Samuel. Karenanya saya sampai membaca-cepat alias skimming dengan melewati banyak bagiannya. Entahlah, apakah ada hal penting yang akhirnya tak tertangkap radar baca saya, tapi saya rasa tidak.

catatan:
Sebagai seseorang yang bercita-cita bisa menulis dan menerbitkan buku sendiri, saya menyukai gaya menulis Windry yang tak berlagak serbatahu. Contohnya: Windry tak pernah menarasikan sesuatu yang belum terdefinisikan lewat jalan tengah seperti ketika menggambarkan warna sesuatu: kehitam-hitaman, kecokelatan, keemasan, dan sebagainya alih-alih langsung menyebut: berwarna hitam, cokelat, atau emas.

kesimpulan:
So far, Last Forever menjadi novel Windry yang paling tidak saya favoritkan, menyusul kemudian Orange. Biasanya selalu ada kesan mendalam selepas membaca karya-karya Windry, tapi saya tak mendapatinya kali ini. Selama proses pembacaan saya hanya merasa datar-datar saja. Karakter yang coba dibangun pun hanya sanggup bertahan sampai pertengahan, setelahnya tak bisa membuat saya bersimpati kepada keduanya. Pat dan Rayyi mungkin menyumbang poin untuk novel ini, tapi saya justru kepincut sama Nora. Asisten Samuel ini benar-benar menyenangkan, tampak tanpa beban, dan sepertinya bisa menaklukkan siapa saja yang dihadapinya. Maka, kali ini saya hanya menyematkan 2,5 bintang dari skala 1-5, dengan poin besar untuk diksi menawan khas Windry.

Kini, tinggal menunggu Angel in the Rain. Saya (lumayan) suka London: Angel dan berharap bisa kembali tak hanya menyukai diksinya saja tapi juga sekaligus cerita racikan Windry. Semoga! Selamat membaca, tweemans.

end line:
Bertiga, mereka melewatkan pagi.
Profile Image for Iklima Bhakti.
145 reviews13 followers
December 27, 2015
Cinta dan Komitmen Bukan Akhir dari Kebahagiaan

Terima kasih sudah memberi kisah menarik. Novel ini edisi akhir tahun bagiku, membacanya juga di bulan Desember. Last Forever aku dapatkan dengan harga diskon di toko buku online. Saat membacanya aku tidak menyangka jika akan sepadat ini. Di antara novel-novel mbak Windry, Last Forever punya kepadatan yang signifikan. Kisah cinta orang dewasa, dengan pola pikir orang dewasa kebanyakan. Tak apa, aku sudah sering baca kisah cinta orang dewasa. Hahaha
Cinta dan komitmen yang diusung dalam novel ini menarik. Di mana kedua karakter utamanya bukan jenis orang yang suka mengikatkan dirinya pada sebuah hubungan yang memiliki dasar komitmen atau ikatan. Mereka berjiwa bebas, penuh gairah dalam karir dan kehidupan. Lana dan Samuel sama saja. Mereka keras kepala, passionate, penuh percaya diri, bebas, penuh karakter, dan antikomitmen. Tapi, mereka bodoh, menurutku, mereka lupa ketika keduanya menjalin hubungan, saling mendamba satu sama lain, selalu menyisakan waktu jika bertemu, selalu berharap pertemuan-pertemuan yag akan datang, dan tidak mengharapkan perpisahan. Tanpa sadar mereka sudah membentuk ikatan. Pengecualian bayi mereka.
Lana benar-benar perempuan yang ambisius dan keras kepala. Aku sempat berpikir, orang ambisius memang tidak jauh dari yang namanya keras kepala. Aku menyadari itu pada diriku sendiri saat membaca novel ini. Aku selalu dikatai, “Kau itu ambisius, Ma.” Dan berakhir dengan penyangkalanku. Tapi, kalau ada yang bilang, “Kau itu keras kepala.” Iya, memang aku keras kepala. Tapi, saat membaca mengenal Lana, aku seakan melihat diriku. Ambisius dan keras kepala. Kadang aku bingung, ambisius itu negatif apa positif. Karena kebanyakan mengungkapkannya dengan nada miring. Jadi aku tidak suka dibilang ambisius.
Meski begitu, aku menyukai karakter Lana yang kuat. Bukan jenis perempuan lemah. Samuel pun demikian. Pria angkuh yang aku kenal. Superior sekali, tapi dia terpuruk hanya karena seorang Lana Lituhayu Hart.
Ada Rayyi dari Montase. Aku melihat Rayyi adalah karakter cowok-cowok Jepang. Cara dia memanggil Samuel ‘Kakek’—menjadikan diriku menganggap Samuel sudah tua—, jika kalian suka baca manga atau melihat anime Jepang pasti tidak akan asing dengan panggilan ‘Oyaji’ artinya bapak atau lelaki tua’ atau ‘Jiji’ yang punya artinya paman atau lelaki tua.
Memang sebuah komitmen kebanyakan diambil berawal dari cinta, adapula karena tanggung jawab. Juga kewajiban. Saat fase Lana terluka karena terkhianati oleh Samuel yang tiba-tiba melamarnya, aku melihat Lana adalah sosok yang egois. Dia selalu berlindung pada rasa takut, traumatis akan masa lalu ibunya yang menikah dengan ayahnya. Dia takut berkorban, jatuh cinta, dan kehilangan. Dia selalu menjadikan kesedihan ibunya yang kehilangan impian dan dunianya sebagai alasan untuk membenarkan semua sikap keras kepalanya. Itu yang membuatku gemas sepanjang kisah mereka mengalir. Tapi, anehnya Lana selalu ingin bersama Samuel. Tidak mau kehilangan. …Namun, lelaki itu adalah Samuel. Lana tidak ingin kehilangan lelaki itu…
Percaya atau tidak, ia sudah mempersulit dirinya sendiri. Dia sudah cinta, tapi menyangkalnya kuat-kuat. Dia melukai dirinya sendiri. Dia takut ditinggalkan, intinya itu. Tapi, dia tahu, bersama Samuel perlahan dia menemukan kata ‘bahagia’. Yah, dia bahagia sekarang. Good job, Mbak Win. Hehehe… :))
Profile Image for Ira Booklover.
688 reviews45 followers
September 10, 2019
Aaaaaaaaaaaaaaaaa...saya suka sekali sama karya Windry Ramadhinaaaaaa!!!, *teriak pakai TOA*. Ini adalah buku ketiga beliau yang saya baca. Pertama adalah Memori, yang kedua Interlude. Tiga-tiganya saya suka dan tiga-tiganya saya pinjam dari perpustakaan, *eh*, *selfkeplak*. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengoleksi semua buku Mbak Windry, tapi karena saya penggemar buku fantasi, jadi buku-buku roman selalu kalah prioritas. Mohon doanya semoga suatu hari nanti saya bisa mengoleksi semua novel karya Mbak Windry yak. Aamiin.

Ngomong-ngomong, tema yang diangkat oleh novel ini nge-jleb banget. Bagi teman-teman yang sering main medsos, tentu pernah sesekali menemukan trending topic tentang pilihan hidup antara menikah atau tidak menikah.

Nah, dua tokoh utama kita di sini, Lana dan Samuel, sama-sama anti komitmen. Kata pernikahan tidak ada di kamus mereka.

Lana Lituhayu Hard, adalah seorang gadis blasteran Indonesia-Amerika yang bekerja sebagai seorang produser di National Geographic Channel di Washington. Lana sangat mencintai pekerjaannya. Dia senang pergi ke tempat-tempat eksotis di berbagai belahan dunia. Menurutnya, pernikahan hanya akan membuatnya kehilangan semua itu.

"Kau mudah saja bicara pernikahan. Buatmu, mungkin itu sakral dan indah, seperti dongeng yang berakhir bahagia selama-lamanya. Buatku, pernikahan berarti meninggalkan semua yang kumiliki saat ini." ---hlm. 313


Samuel Hardi, adalah seorang produser sekaligus sutradara film dokumenter yang sangat hebat. Di usia yang masih muda, dia pernah menyabet penghargaan bergengsi. Tak lama kemudian, dia sudah punya studio film sendiri. Jika National Geographic ingin membuat film dokumenter di Indonesia, maka studio film Hardi lah yang dipilih untuk bekerja sama. Sedangkan soal penampilan fisik, Samuel adalah tipe pria yang menjadi pujaan kaum hawa. Dia terkenal sebagai playboy. Menurutnya, pernikahan hanya akan menghilangkan keasyikan itu.

"Percayalah, menikah cuma akan menghilangkan keasyikan. Begitu terikat, lelaki dan perempuan berubah membosankan. Segala hal, bahkan seks, mereka lakukan semata-mata karena rutinitas dan kewajiban. Lalu, salah satu atau keduanya mulai menginginkan pasangan baru. Ujung-ujungnya mereka berpisah, Kalaupun tidak, mereka saling membenci sampai mati." ---hlm. 15


Lalu seperti apa hubungan Lana dengan Samuel?
Yaaah, Lana jatuh cinta pertama kali dengan film Samuel, bukan dengan orangnya, hihihi. Mereka kemudian bertemu dan saling tertarik satu sama lain. Mereka mempunyai kesamaan. Sama-sama suka film dan sama-sama tidak menginginkan komitmen.

Masalah jarak dan sibuknya pekerjaan masing-masing membuat mereka jarang bertemu. Dan itu juga membuat Samuel dan Lana masing-masing menjadi spesial bagi satu sama lain.

Di pertemuan yang jarang itu, mereka berkencan dan bercinta. Dan setelah itu, Lana akan meninggalkan Samuel begitu saja untuk pulang ke Washington. Dan Samuel harus menunggu pertemuan mereka selanjutnya lagi untuk melampiaskan rasa frustasi sekaligus rasa rindu.

Ya, hanya Lana yang bisa meninggalkan Samuel seperti itu. Dan Samuel tidak bisa marah karenanya. Lana juga tidak bisa marah dengan gaya hidup Samuel yang suka gonta-ganti cewek saat dia tidak ada. Mereka benar-benar tidak ingin terikat.

Namun bisakah hubungan antara pria dan wanita berlangsung seperti itu selamanya?
Hmmm...sepertinya tidak, ya? Bahkan bagi Lana dan Samuel yang menganut paham kebebasan ala barat.

Hubungan anti komitmen mereka ternyata mengalami masalah. Sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang memaksa keduanya untuk mulai memikirkan komitmen.

Tema yang diangkat oleh novel ini sangat bagus. Tentang persoalan hidup antara menikah atau tidak menikah. Siapa pun yang masih berdebat tentang hal itu, saya rasa cocok sekali membaca buku ini agar bisa lebih mengendorkan urat leher yang terlanjur kencang. *ehem, kena keplak*.

"Dia dan Pat punya ideologi yang berbeda---kalau bukan bertolak belakang. Berdebat sepanjang apa pun, mereka tidak akan bisa menyamakan cara pandang mereka mengenai situasi ini." -- hlm. 132


Menurut saya, perdebatan jenis ini hanya bisa dijawab oleh takdir Tuhan, *uhuk*. Kita boleh saja keras kepala seperti batu tentang masing-masing pilihan hidup ini, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita dihari esok. Kita bahkan tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi dengan kita ditarikan napas berikutnya. Mungkin saja nanti terjadi "sesuatu" seperti kedua tokoh utama kita di atas. Sesuatu yang membuat mereka mulai harus mempertimbangkan untuk berpindah ke sisi yang sebelumnya mereka pandang sebelah mata. Jadi banyak-banyaklah berdoa kepada Tuhan agar memberikan jalan yang terbaik untuk kita, *religius mode on*.

Tentang Wanita yang Selalu Mengalah

Buku ini juga menyinggung isu tentang mengapa wanita yang tampaknya selalu mengalah di dalam sebuah pernikahan. Alasan lain bagi Lana atas sikapnya yang selama ini selalu anti komitmen.

Ibu Lana adalah seorang penari profesional dari Indonesia yang sudah pernah pentas di berbagai panggung di seluruh dunia. Tetapi di saat karirnya sedang bagus-bagusnya, dia jatuh cinta dengan ayah Lana, seorang jurnalis sederhana dari Amerika. Gaji ayahnya tidak cukup untuk meminta bantuan seorang baby sitter untuk menjaga anak mereka. Dan tebak siapa yang harus mengalah meninggalkan profesinya? Jawabannya tentu saja ibu Lana.

"Padahal, bagi Ruruh, perempuan dilahirkan untuk mengalah. Karena, perempuan lebih kuat, lebih sanggup menerima kenyataan." ---hlm. 218


Sang ibu harus meninggalkan dunia tari yang sangat dicintainya demi keluarga. Lana pernah mengintip ibunya menari sendiri diam-diam di rumah dengan latar belakang cahaya senja. Bagi Lana, ibunya tampak seperti malaikat. Tapi kemudian seperti malaikat yang sayapnya patah, di tengah-tengah tariannya, ibu Lana menangis.

Lana yakin tangisan itu adalah tangisan penyesalan karena sang ibu tidak bisa menari lagi karena terjebak dalam sebuah komitmen. Sejak saat itu, Lana menjadi anti komitmen. Dia tidak akan mau mengalah dan mengorbankan karirnya.

Lalu bagaimana akhir kisah Lana dan Samuel? Apakah merekah akhirnya menyerah pada komitmen? Atau keduanya tetap memilih ego mereka masing-masing? Hayuuuk dibaca sendiri bukunya, hihihi.

At last...
Novel ini sangat bagus menurut saya. Tema yang diangkat sangat berani. Pilihan kata-katanya sangat bagus. Paragraf-paragrafnya enak dibaca, mengalir begitu saja. Endingnya menghangatkan hati. Intinya, saya sangat suka dengan novel ini. 4 dari 5 bintang untuk Last Forever, I really liked it.
Profile Image for Rati.
8 reviews92 followers
May 24, 2016
Yang paling saya sukai dari buku ini adalah diksinya. Dan setelah membaca review yg lain, ternyata banyak yg sepakat.
Karakter tokohnya juga kuat.
Tentang dua orang yg anti komitmen, dengan alasan dan latar belakang yang sangat jelas.
Profesi tokoh sebagai pembuat film dokumenter di bawah Nat Geo, mengalir sepanjang cerita, tdk berlebihan, tanpa menggurui. Huh, senangnya jd Lana, bisa menjelajahi tempat2 ajaib di dunia.

Tak ada gading yg tak retak. Saya nemu dua typo, kemudian adegan Pat yg WNA tetiba nimbrung obrolan Samuel dan Rayyi, tp mungkin Samuel dan Rayyi ngobrol in english. Kebencian Lana pd ayahnya jg krg bs dimengerti.
Namun itu nggak mengurangi kadar kesukaan saya pada buku ini. Banyak hal lain yg menjadi poin positif, terutama pelajaran yg diambil dari cerita ini.

4.5 bintang ^^
Profile Image for liez.
180 reviews20 followers
January 12, 2016
Ada beberapa hal yang agak gimana menurutku. Ceritanya memang mainstream dan ketebak, tapi as always tulisannya mba windry enak buat dibaca (walau sempat bosan juga). Termasuk waktu terlama utk namatin buku mba Windry yang biasanya langsung selesai (selain orange yang belum dituntaskan). Bukan buku favoritku. Habis ini mau baca montase, penasaran sama Rayyi kaka :D

Review selengkapnya
Profile Image for Kurnia.
175 reviews10 followers
January 6, 2016
4.5 sebenarnya. Saya memang agak ragu memberi 5, walaupun saya harus mengakui novel ini membuat saya tercengang dan tidak habis pikir. Bagaimana tidak, dipertemukan dengan dua pasangan yang sama-sama ambisius terhadap pekerjaan dan memiliki keegoisan tinggi. Benar-benar tidak ada yang mengalah. Bebal dan sangat keras kepala. Demi Tuhan! Saya gemas sekaligus geregetan dan terkadang hampir membenci.

Oh, Lana, dia perempuan kuat yang sesungguhnya membuat saya terkesan. Saya menyukai karakternya, walau di satu sisi ideologinya terhadap hidup akan komitmen semuanya malah menjadi omong kosong di kepala saya. Oke, dia membenci komitmen, tetapi dia memiliki hubungan-yah walau dibilang tanpa ikatan-tapi di dasar hatinya, hal itu akan alami terikat dengan sendirinya. Barangkali karena melihat kehidupan pernikahan ibunya Lana jadi begitu. Walau saya tahu, ibunya malah berpikir sebaliknya. Saya juga sangat menyukai interaksi antara Lana dan Ibunya. Sedikit mengingatkannya saya pada Ibu saya walau perbedaan sudut pandang di antara kami tidak serumit yang dialami Lana.

Sedangkan Samuel Hardi. Lelaki ini memang angkuh, arogan sekali, tetapi dia memiliki karakter yang mempesona. Tetapi hanya sebatas itu. Saya tidak jatuh cinta. Entah mengapa, meskipun menuju akhir, dia menjadi laki-laki yang hangat. Apalagi ketika dia berpikir, takut kehilangan Lana pada saat ia mendapatkan kesempatan untuk memiliki perempuan itu. Ah, Samuel, percayalah, di dasar hatinya dia memiliki potensi untuk menjadi seorang suami bahkan ayah yang baik.

Lalu kehadiran Rayyi adalah yang sangat saya suka di sini. Terutama percakapannya dengan Samuel, dia memang slengekan, tetapi apa yang dikatakannya memang benar. Saya bahkan lebih antusias dengan Rayyi daripada Samuel, hihihi. Mungkin karena Rayyi sudah membuat saya jatuh hati sejak membaca Montase. Rayyi, kuharap dia memiliki kisah cinta pula, yah berharap Mbak Windry mau menulis kisahnya lagi, sih. X)

Ah, sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis, tapi nanti malah jadi spoiler. Jadi begini dulu saja, terima kasih untuk menghadirkan dua pasangan keras kepala ini. Mbak Windry benar, bahwa terkadang ide hadir dalam kegelisan dan ketakutan sekali pun. Dan butuh keberanian untuk menuangkannya. Dan itu juga yang terjadi pada saya saat akan menulis suatu cerita. Jadi, saya sungguh bersyukur dipertemukan dengan karya mbak Windry yang satu ini. Ditunggu kisah selanjutnya Mbak :)
Profile Image for Titi Sanaria.
202 reviews37 followers
November 6, 2015
Aku suka windry dan telah punya semua bukunya jadi tahu bahwa kemampuan menulisnya makin memikat dari waktu ke waktu.

Berbeda dengan novel-novel sebelumnya, Last Forever ini memang bernada lebih 'dewasa'. Mbak Windry sendiri mengakui ini di postingan salah satu media sosialnya.
Buku ini bercerita tentang Samuel dan Lana, dua orang yang sama-sama mendewakan pekerjaan dan tidak pernah memikirkan akan terikat komitmen yang akan memenjarakan kebebasan mereka. Mereka sama-sama merasa cukup menjalin hubungan fisik yang tak melibatkan hati di dalamnya.
Masalah kemudian muncul ketika Lana hamil dan keduanya harus berpikir ulang tentang hubungan mereka. Hidup terpisah demi kenyamanan hati dan pekerjaan masing-masing, atau menikah, kata mengerikan yang tak pernah ada dalam kamus keduanya. Apakah yang menjadi pilihan mereka saat menyadari ada cinta yang menyusul datang? Apakah cinta akan cukup untuk menjadi alasan melepas mimpi? Siapakah yang berani menjamin bahwa cinta bisa bertahan selamanya?
Windry punya jawaban manis untuk ini.

Aku tidak punya keluhan apapun dengan buku ini. Percakapan-percakapannya mengalir lancar dan enak dibaca. Penokohannya kuat. Dikemas sangat rapi khas Windry. Hanya saja, tema yang diangkat sedikit bertentangan dengan naluri ketimuranku. Hehehe... Dan aku malah kembali jatuh cinta pada Rayyi yang membuatku jatuh bangun di Montase.
Ya, mungkin karena soal selera, aku lebih menikmati Walking after you-London, dan sangat tidak sabar menantikan kedatangan Gilang-Ayu. Semoga mereka cepat muncul dan tidak kelamaan di jalan lahir....
Profile Image for Indri Octa Safitry.
Author 1 book18 followers
June 29, 2020
Aku suka cerita ini. Walau emang Lana dan Samuel punya pandangan yang sama. Tapi, ternyata Lana yang paling keras kepala dan sulit berubah pikiran. Cukup pelik sih. Apalagi Masa lalu Lana yang ku pikir lebih pelik ternyata yah cuma Lana yang seakan mengalami guncangam hidup sama membuat dirinya berpikir komitmen bukan untuk dirinya

Pokoknya suka sih. Lagi2 aku dibuat suka sama karya ka windry. Agak nyesal baru baca buku ini setelah di timbun hehe
Profile Image for Putri Ananta.
Author 1 book12 followers
June 12, 2018
menurutku, ending last forever ini lebih baik dari memori. novel ini terasa lambat tapi gaya menulis mbak windry memang terlalu memikat.
aku suka dengan ide ini. kurang lebih aku bisa memahami cara pandang Lana. tapi sayang, kalau aku jadi Lana, aku kurang mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan terkait prinsipnya.
overall, bolehlah novel ini dibaca kalo senggang.
Profile Image for Dini Afiandri.
Author 4 books17 followers
November 15, 2015
Ini adalah karya mbak Windry yang butuh waktu paling lama untuk saya selesaikan proses membacanya dibanding karyanya yang lain. Dibandingkan Memori, Montase, London dan Interlude yang dapat saya selesaikan sekali duduk, tidak demikian halnya dengan novel Last Forever ini. Selain karena memang jumlah halamannya lebih tebal, ada beberapa hal yang menyebabkan buku ini tidak bisa saya baca dengan lancar.

Yang pertama, saya merasa hasil editan Last Forever ini agak berantakan.
Apa yang menyebabkan saya berkata begitu? yang saya maksudkan bukanlah typo, karena justru novel ini bersih dari typo, tapi banyaknya informasi yang dipadatkan di dalam buku ini. Ada beragam informasi dan latar belakang tokoh yang diselipkan di sana-sini, meski memang semuanya saling berkaitan. Masa lalu Lana, masa lalu Ruruh Rahayu ibunya Lana, cara berpikir Samuel, perdebatan dan kata-kata "bijak" dengan Rayyi, sampai ke latar dan dunia perfilman dokumenter. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, dan meski semuanya saling berkaitan dan mempengaruhi jalan cerita, ini menyebabkan proses membaca saya tidak seluwes biasanya.

Yang kedua, saya ingin berpendapat mengenai lubang besar di novel ini. Dan ini tidak bisa tidak harus menyertakan spoiler, jadi jangan buka tag spoilernya kalau anda belum membaca novel ini.



Hal-hal di atas membuat saya gagal fokus pada kelebihan-kelebihan yang dimiliki buku ini.
Misalnya interaksi Lana dan Samuel yang digambarkan sangat romantis, penuh hasrat, dan manis. Perkembangan hubungan mereka dari cinta yang atas dasar hasrat hingga ke cinta yang berbeda dan lebih dewasa juga digambarkan dengan sangat baik.
Konflik-konflik dibangun dengan atas dasar aksi-reaksi, contohnya

Satu hal terakhir yang ingin saya tambahkan adalah hasil percakapan saya dengan salah seorang teman yang juga membaca novel ini. Mengenai ending novel ini.


Demikianlah sedikit ulasan saya mengenai Last Forever ini. Kesimpulannya, saya masih jauh lebih puas dengan hasil editing dan keseluruhan penceritaan novel mbak Windry yang sebelumnya.
Ada banyak hal yang berkembang dari tulisannya, ada pula sedikit kemunduran. Ilustrasi sketsa yang menawan di dalamnya membuat saya yakin untuk memberi buku ini 3 bintang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
March 31, 2016
Samuel Hardi dan Lana Hart adalah sepasang manusia yang memiliki hubungan tanpa komitmen. Bagi mereka komitmen, pernikahan atau-apalah-namanya hanya membebani mereka saja. Mereka bertemu, bercinta, bercumbu, berpisah. Proses yang sama akan berulang lagi dan lagi setiap kali mereka bertemu. Hal itu berlangsung 7 tahun lamanya.

Baik Samuel maupun Lana adalah sineas berprestasi dengan spesialisasi pada film dokumenter. Mungkin karena kesamaan itulah mereka bisa cocok satu sama lain. Samuel punya studio yang diberi nama Hardi seperti nama belakangnya. Studionya ini sudah langganan dengan National Geographic Channel. Karena studionya itu juga dia bisa berkenalan dengan Lana, seorang produser sekaligus pekerja di Nat Geo Channel. Kalau Samuel sudah bisa mengumpulkan prestasi dan menarik perhatian dunia sinema sejak usia 17 tahun, beda halnya dengan Lana yang menjajaki karirnya setapak demi setapak. Apalagi Lana seorang perempuan, genre yang dipandang sebelah mata di dunia perfilman.

Suatu waktu sepulang dari Kyoto, Lana “mampir” ke Jakarta dengan alasan bertemu dengan ibunya. Nyatanya Lana menemui Samuel dan menghabiskan malam panas bersamanya. Pagi menjelang, Lana diam-diam meninggalkan Samuel. Tingkah Lana ini membuat Samuel kesal bukan main. Tapi Samuel tidak bisa berkutik. Bukankah sudah seperti itu yang mereka inginkan, tanpa komitmen apa-apa? Hanya saja, kepergian Lana kali ini membuat Samuel senewen dan galau.

Sebulan kemudian Lana datang lagi ke Jakarta. Kali ini dia membawa proyek istimewa, ingin meliput keberadaan desa megalitikum di Flores. Karena budget terbatas, Lana hanya membawa satu orang kameramen, Patrick. Sisanya akan menggunakan properti dan kru dari studio Hardi. Samuel sendiri terkejut dengan kedatangan Lana. Dia tidak menyangka orang dari Nat Geo Channel yang akan menggunakan jasa studionya adalah wanita yang membuatnya senewen. Yah setidaknya dia bisa bersama dengan Lana beberapa waktu lagi.

Sayangnya, Lana datang membawa masalah. Dia hamil. Hubungan semalam yang panas dengan Samuel sebulan lalu membuahkan benih di rahimnya. Lana kalut. Anak tidak ada dalam rencana hidupnya. Dia lantas memutuskan untuk aborsi. Tapi ketika dia melihat denyut jantung bayinya di monitor USG, dia tidak sanggup melanjutkan niatnya itu. Rencananya berubah total. Dia akan menghadapinya sendirian. Dia tidak butuh Samuel, apalagi pria itu juga tidak suka dengan komitmen.

Di sinilah titik balik perubahan hidup Lana. Lana yang self-centered dipaksa berubah oleh keadaan. Ketakutannya pada pernikahan menjadi salah satu isu utama yang dibahas di sini. Lana trauma melihat ibunya, Rahayu, yang meninggalkan karirnya sebagai penari profesional demi keluarga. Pasalnya di mata Lana, Rahayu menjadi tidak bahagia karena pernikahan. Apalagi orang tuanya harus berpisah (tapi tidak bercerai) karena pekerjaan masing-masing. Lana tidak mau menjalani kehidupan seperti itu. Di sisi lain, Samuel juga mau tak mau harus berubah. Cintanya pada Lana yang tidak disadarinya tumbuh perlahan membuatnya mengambil sudut pandang yang berbeda. Apalagi setelah dia hampir menghadapi maut, dia takut mati dalam kesendirian.

Novel ini menarik. Khas Windry Ramadhina dengan konflik yang berani dan diselesaikan dengan manis. Hanya saja saya bisa menebak sejak awal cerita ini akan dibawa kemana ketika mengetahui Lana hamil. Saya juga tidak bisa simpatik pada Samuel dan Lana, bisa jadi karena sejak awal saya memiliki pandangan berbeda dengan mereka, meskipun saya berusaha memahami karakternya. Demikian juga Rahayu, tidak ada penjelasan dari Rahayu mengapa dia memilih berpisah dengan suaminya sehingga membuat Lana punya pemahaman sendiri tentang pernikahan. Dan untuk ilustrasinya, sorry to say, malah merusak imajinasi saya tentang Lana dan Samuel:)

Saya memberikan tiga bintang untuk Last Forever, salah satunya karena cover dengan gaya poster film yang menarik. Ohya, saya juga membuat beberapa postingan di twitter karena buku ini saya baca dalam program #BBILagiBaca bersama teman-teman @bbi_2011.
Profile Image for Rere.
192 reviews
June 21, 2016
"It takes great courage to love, knowing it might end anytime but having the faith it will last forever." (Erich Segal)

Last Forever adalah sekuel dari Montase, namun kali ini menceritakan Samuel Hardi, atasan sekaligus pria yang mempekerjakan Rayyi sehingga dia dapat mencapai cita-citanya di dunia perfilman dokumenter. Novel ini adalah novel romance, mengisahkan Samuel Hardi dan Lana Lituhayu Hart, dan hubungan keduanya yang membenci komitmen dan pernikahan. Awalnya hubungan itu tetap bertahan. Sampai akhirnya sesuatu terjadi dan keduanya dipaksa untuk mengambil keputusan-keputusan yang - menurut mereka - akan merenggut kebebasan mereka sendiri.

Oke. Jujur saya membeli novel ini karena tergoda dengan nama Rayyi di covernya. Bisa dibilang saya tidak bisa move on dari Montase. Dan saya juga penasaran akan seperti apakah kisah Samuel Hardi yang dikenal sebagai Casanova dan 'anomali' di dunia perfilman dokumenter. Tadinya saya pikir novel ini akan membuat saya jatuh cinta, seperti saya jatuh cinta pada Montase. Namun justru sebaliknya.

Ceritanya klise. Khas romansa pria dan wanita dewasa yang menganut paham kebebasan dan membenci komitmen dan pernikahan. Dan peringatan! Novel ini ratingnya Dewasa (Adult). Kemudian kalimat. Saya cukup terganggu dengan banyaknya 'perempuan itu' dan 'laki-laki itu'. Dalam satu paragraf, bisa ada dua atau tiga frasa tersebut. Dan itu sangat mengganggu saya. Tidak bisakah diganti dengan kata ganti lain? Entah kenapa setelah membaca tiga novel terjemahan sebelumnya membuat saya tidak nyaman membaca novel ini. Kata-katanya tidak mengalir dengan sempurna. Sebenarnya ide ceritanya bagus, tentang dua orang yang tidak menyukai komitmen. Namun jalan ceritanya jadi sangat khas sinetron. And I really hate that.

Lalu ada karakter Lana yang keras kepala dan egois. Dia memandang semuanya dengan hitam dan putih menurut standarnya sendiri. Dia hanya mengambil kesimpulan begitu saja dari perpisahan kedua orangtuanya, tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sebagian besar jalan cerita ini dihabiskan oleh 'kegalauan' Lana akan pernikahan dan komitmen. Atau konflik psikologis Lana. Saat Samuel sudah siap dengan segala risikonya, di situlah Lana, terus-menerus menolak Samuel sampai akhirnya dia benar-benar yakin. And another drama.

Jangan salah paham. Saya menyukai tulisan mbak Windry, terutama Montase. Karena Last Forever adalah novel kedua mbak Windry yang saya baca setelah Montase, saya berharap sangat tinggi novel ini akan dapat menggerakkan saya seperti Montase. Namun ternyata saya salah. Yah sejauh ini ceritanya oke saja. Saya tidak terlalu suka, dan tidak terlalu tidak menyukainya. Jadi menurut saya 2 bintang sudah cukup.

P.s.: Sorry I have to give bad review. I mean I'm really disappointed here. I know I couldn't possibly write something like mbak Windry and publish it. It's just that this book doesn't give much impact like Montase did for me.
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
March 4, 2016
Dateng tadi pagi bukunya, langsung kelar dibaca siang ini.

Saya tahu ini bukan review. Ini curhat. Tapi saya juga punya polapikir seperti Lana. Betul. Kenapa harus perempuan yang mengalah? Kenapa pernikahan tidak adil bagi perempuan?

Jangan salah. Saya bukan orang yang antikomitmen. Dulu, semasa SMA, saya bahkan punya impian untuk menikah muda. Saya tahu saya akan menyelesaikan S1 saya sebelum usia 21 tahun karena saya lulus SMA di usia 17 dan saya yakin mampu menyelesaikan S1 saya hanya dalam 7 semester (dan memang terjadi. Maka saya pikir, hei, sepertinya menikah muda di usia 21 menyenangkan. Saya bisa melanjutkan program magister setelah menikah. Sayangnya, hingga saya wisuda, saya belum punya calon suami.

Akhirnya rencana itu bergeser. Baiklah, kata saya lagi, pada diri sendiri. Mungkin memang belum saatnya. Maka, saya mulai membangun mimpi demi mimpi. Menjadi penulis, mengambil program magister dan selesai di usia 23 tahun. Bekerja dan mapan sebelum usia 30 tahun dan urusan jodoh tidak perlu dipikirkan, bisa muncul dalam proses pencapaian mimpi itu. Duh, sempurna sekali bukan? Sampai akhirnya saat saya mencoba tes magister (dan gagal) saya bertemu seseorang yang membuat saya mengesampingkan mimpi-mimpi saya.

Simply karena saya ingin bersamanya. Seperti Lana, cinta akhirnya memenangi ego.

Tapi sayangnya, kisah saya bukan kisah Lana, dan tidak banyak laki-laki yang se-bad boy apapun, akan berakhir seperti Samuel atau Papanya Lana.

Jadi, ya, saya terus bertanya-tanya apakah benar komitmen dan cinta akan membahagiakan perempuan dalam pernikahan? Jika Lana, misalnya, pada akhirnya tidak bahagia bersama Samuel, apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi pada perempuan yang sudah mengorbankan dunianya demi bersama laki-laki yang ia cintai tapi ternyata laki-laki itu tidak bisa membahagiakannya?

Benar kan, reviewnya curhat T_T

Tapi membaca Last Forever membuat saya tahu dan mengerti, perempuan akan menyerahkan dunianya, kebahagiaannya pada laki-laki dan takkan menyesal karena itu HANYA JIKA laki-laki itu orang yang tepat, hanya jika laki-laki itu pantas menerimanya. Dan pertanyaannya, bagaimana kita tahu? Bagaimana perempuan tahu ia mencintai laki-laki yang pantas dicintai seperti itu?
Profile Image for Siti Robiah A'dawiyah.
174 reviews23 followers
October 27, 2015
Bagi seorang Samuel Hardi, komitmen ada dalam urutan terakhir dalam hidupnya. Itu sebabnya dia enggan terikat dengan sebuah hubungan.

"Aku tiga puluh tiga tahun, sialan. Lagian, perempuan tidak untuk dimiliki. Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri."


Samuel adalah sosok yang sempurna dan memikat. Oleh karenanya, ia dapat dengan mudah menggaet siapa pun wanita yang dia inginkan. Samuel juga terkenal di dunia film dokumenter. Studio Hardi miliknya sering menjadi partner National Geographic. Melalui kerja sama tersebut Samuel bertemu kedua kalinya dengan Lana Hart, perempuan cantik berjiwa petualang yang bekerja di dunia film dokumenter juga. Pertemuan mereka berlanjut hingga tujuh tahun lamanya.

Bagi Lana, ia adalah perempuan bebas yang senang mengunjungi berbagai tempat unik di dunia. Itu sebabnya ia sangat loyal dengan pekerjaanya di Nat Geo. Suatu kali ia terpikat dengan film karya Samuel yang bercerita mengenai penari tradisional. Pertemuan awal hanya awal untuk pertemuan kedua yang selanjutnya membawa mereka ke hubungan tanpa ikatan.
Keduanya menjalani apa yang Samuel sebut sebagai hubungan ideal. Selama ini mereka baik-baik saja. Tapi ada hal yang tiba-tiba menghadapkan mereka pada keputusan yang akan mengharuskan mereka mengubah pandangan hidup dan keyakinan masing-masing. Mereka akan berbenturan dengan nilai-nilai yang ada dalam lingkungan masyarakat. Di satu titik mereka juga dihadapi untuk menyerah pada impian masing-masing atau tetap mempertahankan impian mereka tapi kehilangan cinta yang tak mereka sadari.

"Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua itu, apa kau sadar?"

Full Review
Profile Image for Henny Sari.
Author 8 books11 followers
January 17, 2016
Buku ini diberikan seseorang kepada saya. Saya baca dan sejujurnya, pendapat saya tentang novel ini begini: penceritaannya cukup rapi. Bahkan terlalu rapi untuk sebuah kehidupan rekaan yang ingin dirasakan hidup seperti realita sesungguhnya, sehingga menjadi hyper real, terasa sekali dibentuknya, cenderung artifisial. Terlalu tergantung pada RUMUS!

Bahasanya baik, tapi kalimat langsungnya terlalu baku dan kaku, sehingga seolah buku ini terjemahan plek-plek dari cerita berbahasa Inggris. Pilihan kata dan logika kalimatnya familiar untuk percakapan dalam bahasa Inggris, tapi tidak bahasa Indo. Selain itu juga terlalu banyak menggunakan paduan kata "mengedikkan bahu", sungguh terlalu banyak, hehe...., latar belakang pekerjaan cukup menarik. Hanya saja.... (nah ini dia) temanya sangat klasik! (Hubungan cinta antara si cantik kaya dan si tampan kaya yang berjalan naik-turun) meskipun 'dibingkai' dg ide (yg menurut saya juga bukan hal baru dan cenderung telah menjadi biasa) mengenai keputusan untuk tidak menikah para tokoh utamanya itu. Terus terang, saya tidak tahan untuk bisa membacanya sampai habis. Saya sabar2kan membacanya sampai akhirnya tak bisa lagi bersabar dan berhenti saat si tokoh utama pria mendapatkan kecelakaan. Ah, mulai nggak bisa ditolerir di sini. Jauh halaman sebelumnya si tokoh perempuannya yg dpt musibah. Terlihat sekali keteraturan dan banyak kebetulan. Terlalu rapi. Terlalu ..., ya itu tadi, taat pada rumus! Rumus buku yg ramah pasar. Dan saya pun berhentilah membacanya. This is another title of the typical story of "sinetron". A sort of it. Terlalu mudah dan lempeeeeng buat saya. Cerita yang cenderung individualis dan berorientasi dominan pada pasar. Yah, dapat dipastikan saya memang bukan target market buku ini. hehehe....

Oya, satu hal lagi, cover-nya sangat malas! gak kreatif!
Profile Image for Deta NF.
234 reviews6 followers
January 5, 2016
"Perempuan tidak untuk dimiliki. Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri." (Samuel, pg. 16)
.
"Buatku, pernikahan berarti meninggalkan semua yang kumiliki saat ini." (Lana, pg. 313)
.
Dari semua novel Mbak Windry yang sudah saya baca (kecuali Metropolis), ini adalah novel beliau yang paling saya tidak sukai. Saya tidak suka hero dan heroin yang menjadi tokoh utama, saya tidak suka alur dan klimaks ceritanya. Dari semua heroin yang pernah Mbak Windry ciptakan, Lana adalah heroin yang paling membuat saya kesal. Saya rasa, alasan Lana membenci pernikahan sangat tidak jelas. Namun di beberapa part, saya merasa terenyuh. Kekhawatirannya menular pada saya yang tahun ini hendak menginjak usia twenty-something dan sudah dituntut untuk mencari pasangan hidup. (Okay, abaikan curhat colongan barusan.) Namun, saya tetap salut terhadap kemampuan Mbak Windry dalam mengolah diksi. Kalimat-kalimat yang tersusun begitu indah sehingga tak membuat saya jenuh kala membaca. Dan, Rayyi hadir sebagai guest star. Ya, Tuhan... saya rindu pria itu. :") 3/5 stars. Montase masih berada di urutan pertama. Dan saya menanti novel beliau selanjutnya. Yang manis, yang tidak mengandung terlalu banyak adegan-adegan dewasa. Wkwk
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
October 1, 2016
Aku tahu betul, menyetujui pendapat-pendapat Lana tentang pernikahan bukan sikap yang bagus. Bukan itu maksud penulis menulis novel ini. Bukannya mendukung, tapi rasa-rasanya aku agak terlalu memahami perasaan Lana, tentang pernikahan yang akan membuatnya kehilangan impian, kehilangan kebebasan dan harus selalu menjadi pihak yang menyerah sepanjang sisa hidupnya.

Untungnya Ibu Lana memiliki pemikiran berbeda dalam menyikapi hal itu. Agak jleb juga sih kata-kata Ibu Lana ini.

Saat muda kita boleh ingin meraih segalanya. Begitu tua, kita harus lebih sabar, lebih pengertian pada dunia. (hlm 100)

Sungguh dia tidak memahami jalan pikiran lelaki dan perempuan muda jaman sekarang. Mereka kelewat skeptis. Seakan-akan, dunia ini telah menjelma sangat buruk dan mereka tidak berani mengambil resiko menderita. Atau barangkali, mereka semata-mata tidak berani percaya bahwa di balik risiko tersebut ada harapan meskipun setitik. (hlm 221)

Dan mengenai Rayyi, aku selalu suka bagaimana dia berinteraksi dengan samuel. Mbak Windry lagi-lagi menampilkan Rayyi dengan keren di sini. Kan jadi berharap kalau dia bakal dibikinin cerita lagi sepeninggal Haru :D
Profile Image for Carswell C.
81 reviews6 followers
January 15, 2016
Novel ini adalah novel dari Windry Ramadhina yang pertama kali saya baca dan tanggapan saya setelah baca Novel ini "wah, serasa nonton film!!" Windry membuat penggambaran latar maupun suasana sangat baik dan detail hingga saya pun bisa mengimajinasikannya dengan mudah dan yang saya sukai dari novel ini yaitu tidak berlebihan. Romance yang disuguhkan di Novel ini tidak berlebihan dan sangat menarik, kebanyak penulis hanya mementingkan sudut romance yang dikuatkan sedangkan yang lainnya tidak, tapi Novel ini seimbang menurut saya malahan saya merasa dibawa masuk kedalam cerita ini. saat membacanya saya merasa iri pada Lana yang bisa berkelana mengelilingi dunia sambil bekerja dan Lana pun mempunyai ibu yang sangat perhatian dan sungguh banyak sekali amanah yang terkandung dalam cerita ini jika kalian membaca dengan sepenuh hati dan tidak memfokuskan pada Lana dan Samuel. tentang Egoisme, Profesionalisme, mengambil keputusan dan tentang perjuangan seorang ibu dan hal itu membuat saya mengingat mama saya sediri hehehe. pokoknya ini Novel recommended! patut dibaca!
Profile Image for Sofi Meloni.
Author 8 books92 followers
March 28, 2016
Love it!

Ceritanya mengalir didukung dengan karakterisasi yang kuat pada setiap tokohnya.
Samuel, Lana, Pat, Rayyi, sampai dengan ibu nya Lana, Rahayu :D

Beberapa hal yang menjadi pertanyaan:
1. Bagian-bagian pasca *the big surprise*, ada moment dimana Samuel dan Lana sempat berubah menjadi normal --- bagian ini agak aneh namun lagi-lagi mengingat karakter kedua orang itu mungkin saja terjadi?
2. Stereotype - Blond girl di salah satu kalimat?
3. Awalnya suka banget dengan Lana yang bersikeras tidak mau bergantung pada pria. Namun pada pertengahan cerita hingga menuju akhir sepertinya memang ujung-ujungnya Lana yang mengalah? Kenapa bukan Samuel aja yang pindah ke New York - karena dia punya Hardi? Hahaha...

Intinya saya menikmati sekali membaca buku ini.
Beberapa lembar pertama berhasil membuat saya membalik halaman demi halaman dengan tidak sabaran. Bagian-bagian menegangkannya sukses bikin ikut cemas dan merinding!

Windry akan selalu menjadi auto-buy author buat saya!
Sukses dan ditunggu tulisan-tulisan berikutnya :D
Profile Image for Sisca Noviana.
10 reviews1 follower
January 5, 2016
First, I wanna thank Mbak Windry to write this novel. Thank you so much.
Bukan apa-apa, tapi terima kasih sudah menuangkan salah satu ketakutan saya dalam sebuah novel.
Saya suka Lana, perempuan memang seharusnya mandiri, punya impian dan tangguh seperti itu. Dan Samuel, he's cool. Tidak sempurna, tapi saya memang suka karakter seperti itu, yang tidak flawless, yang realistis.
Alurnya memang ketebak, tapi saya menikmati setiap babnya. Jenis cerita yang sayang untuk dilewatkan. Walaupun di beberapa bab saya memang agak sebel sama Lana. Dia keras kepala sekali. Hahaha. Dan saya harus mengapresiasi konsistensi karakternya (kalau nggak mau dibilang keras kepala). Saya bukan tipe pembaca yang suka kisah instan dimana tiba-tiba karakternya berubah drastis dalam semalam. Saya percaya perubahan itu butuh proses.
Ditunggu novel berikutnya :)
Profile Image for Red.
18 reviews2 followers
October 26, 2015
Mba Windry....
1. Ini buku yg ngga sengaja paling romantis dari diantara buku-bukumu yg lain.
2. It's too much sweet ending buat seseorang yang gila kerja seperti mreka berdua.
3. Entah kenapa ada sekelebatan di pikiran saya bahwa ada jalan cerita yang mirip dengan "Memori"-nya Mba Windry...yaitu dimana seorang anak takut akan suatu gaya hidup (khususnya tentang cinta) karena pengaruh dari orang tuanya. Tapi lagi-lagi ini menurut pikiran amatirnya saya aja lho Mba..hihihihi!!!

Tapi ya 'persetan' dengan itu smua (hehehe niru sedikit gaya tulisannya), saya tetep suka karyamu Mba Windry..
Thank you for the book jacket!!!
Profile Image for Rifani Magrissa.
129 reviews6 followers
November 20, 2015
Seperti biasa,saya selalu menemukan ciri khas dari penulis yang satu ini. Saya tidak tahu,tetapi setelah membaca montase, interlude, dan walking after you, saya menjadikan penulis ini ke dalam buku yang harus saya baca.

Saya menikmati alurnya yang tidak begitu cepat dan juga tidak lambat. Sebenarnya, saya bisa memberikan 5 bintang kepada novel ini, kalau saja saya tidak harus kelelahan berdiri di toko buku membacanya.

Tapi secara keseluruhan, novel ini termasuk kategori young-adult,hmm dan cenderung jalan ceritanya bukanlah hal lumrah di Indonesia.
Displaying 1 - 30 of 124 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.