What do you think?
Rate this book


384 pages, Paperback
First published October 20, 2015
"'Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri.' Mungkin sekarang kau memikirkan ulang kata-kata itu."Aku selalu menikmati penulisan Windry Ramadhina yang manis dan tidak pernah mau melewatkan buku terbarunya. Dan di buku kali ini, Windry Ramadhina tetap berhasil memikatku dengan tulisannya yang apik serta dua karakter utamanya yang sangat berkesan. Buku yang ditulis dari sudut pandang ketiga ini diawali dengan memperkenalkan kedua karakter utamanya: Samuel Hardi dan Lana Hart, serta hubungan yang mereka jalani selama bertahun-tahun. Konflik utama ceritanya muncul tidak lama kemudian, tetapi aku tidak akan menceritakannya dalam review agar yang belum membaca bisa ikut menikmati kejutannya :) Yang jelas konflik tersebut menimbulkan banyak permasalahan lain dalam ceritanya. Hal yang paling aku sukai dari buku ini adalah melihat perkembangan yang terjadi pada karakter Lana dan Samuel. Aku sangat suka bagaimana dua karakter yang sama-sama anti-komitmen garis keras ini perlahan-lahan mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu. Pembaca akan melihat dengan jelas perjalanan emosi yang harus dilalui oleh Samuel dan Lana dalam cerita ini. Banyak ketakutan, kekhawatiran, dan juga ketidakrelaan saat mereka harus menghadapi apa yang ada di depan. Setelah semua emotional rollercoaster yang harus aku lewati bersamaan dengan kedua karakternya, ending-nya yang manis benar-benar membuatku turut bahagia. Entah apakah hanya aku saja yang terlalu tenggelam dalam ceritanya, yang jelas hatiku menghangat saat membaca adegan terakhir yang sederhana namun menyentuh :')
"Sungguh, dia tidak memahami jalan pikiran lelaki dan perempuan muda zaman sekarang. Mereka kelewat skeptis. Seakan-akan, dunia ini telah menjelma sangat buruk dan mereka tidak berani mengambil risiko menderita. Atau, barangkali, mereka semata-mata tidak berani percaya bahwa di balik risiko tersebut ada harapan meskipun setitik."Mengesampingkan kedua karakter utamanya sebentar, aku harus mengatakan bahwa karakter favoritku dari buku ini adalah Rayyi, orang yang bekerja untuk Samuel. Karakter Rayyi merupakan karakter utama dalam novel Windry Ramadhina yang berjudul, Montase (2013) ; dan sebenarnya cukup ironis karena dalam review-ku untuk Montase aku malah memilih Samuel Hardi sebagai karakter favoritku XD. Karakter Rayyi yang cukup menyebalkan bagi Samuel terasa seperti angin segar karena ia selalu mengatakan hal-hal yang memang perlu didengar oleh atasannya itu. Di tengah semua konflik yang pelik dalam buku ini, kemunculan Rayyi selalu berhasil membuatku tersenyum saat membaca :)
"Samuel bukan takut berhadapan dengan penolakan. Dia takut keinginannya memiliki Lana justru akan menyebabkannya kehilangan perempuan itu. Dia akan kehilangan perempuan itu juga apabila tidak segera berbuat sesuatu. Malakama. Sialan benar."
"Dalam hubungan lelaki dan perempuan, memang harus ada yang dikorbankan. Itu yang membuat hubungan berhasil. Itu yang menjadikan hubungan berharga."Dalam buku ini, Windry Ramadhina sukses membuatku tenggelam dalam kisah Samuel dan Lana serta membuatku bersimpati terhadap apa yang dilalui oleh kedua karakternya. Ceritanya juga sedikit banyak memberikan pencerahan tentang komitmen; mungkin bisa menjadi pertimbangan bagi orang-orang yang selama ini juga merasakan ketakutan/kekhawatiran yang sama seperti Samuel atau Lana. Selain itu, aku juga suka latar belakang pekerjaan Samuel dan Lana yang adalah pembuat film dokumenter; apalagi karena mereka bekerjasama dengan National Geographic. Sedikit banyak aku jadi tahu seluk-beluk pekerjaan tersebut. Aku akan terus menantikan karya Windry Ramadhina yang selanjutnya, karena aku tidak sabar untuk kembali menikmati penulisannya yang selalu berhasil membuatku terbuai :))
"Dia tidak tahu bagaimana omong kosong tersebut berhasil memengaruhi Samuel. Dia tidak mengerti mengapa lelaki itu membiarkan dirinya berubah. Yang jelas, dia dan lelaki itu tidak lagi sama. Sekarang, mereka berdiri berseberangan."
"Kau mudah saja bicara pernikahan. Buatmu, mungkin itu sakral dan indah, seperti dongeng yang berakhir bahagia selama-lamanya. Buatku, pernikahan berarti meninggalkan semua yang kumiliki saat ini." ---hlm. 313
"Percayalah, menikah cuma akan menghilangkan keasyikan. Begitu terikat, lelaki dan perempuan berubah membosankan. Segala hal, bahkan seks, mereka lakukan semata-mata karena rutinitas dan kewajiban. Lalu, salah satu atau keduanya mulai menginginkan pasangan baru. Ujung-ujungnya mereka berpisah, Kalaupun tidak, mereka saling membenci sampai mati." ---hlm. 15
"Dia dan Pat punya ideologi yang berbeda---kalau bukan bertolak belakang. Berdebat sepanjang apa pun, mereka tidak akan bisa menyamakan cara pandang mereka mengenai situasi ini." -- hlm. 132
"Padahal, bagi Ruruh, perempuan dilahirkan untuk mengalah. Karena, perempuan lebih kuat, lebih sanggup menerima kenyataan." ---hlm. 218
"Aku tiga puluh tiga tahun, sialan. Lagian, perempuan tidak untuk dimiliki. Hubungan yang ideal adalah hubungan yang tanpa ikatan. Dengan begitu, lelaki dan perempuan bisa bersama sekaligus tetap sendiri."
"Untuk berada di sisimu, aku harus membuang semua itu, apa kau sadar?"