Mari berkenalan dengan tiga orang sahabat: Raina, Dirga, dan Irvi, yang bermimpi untuk bertemu pujaan hati yang, tentu saja, bukanlah perkara mudah.
Raina ditinggal kekasih yang sudah tujuh tahun dipacarinya, kekasih Dirga dijodohkan dengan pria lain oleh orang tuanya, sedangkan Irvi sama sekali tidak mencintai kekasihnya yang sempurna.
Adalah Benny Baiduzzaman, pemilik kedai kopi bernama KopiKita, yang merasa terpanggil membantu mereka bertiga. Bersama, mereka melakukan sebuah perjalanan untuk menguak rahasia tentang cinta, menyingkap kabut gelap dalam diri mereka, dan pada akhirnya, mengambil keputusan terbaik yang sekiranya bisa membuat mereka bahagia.
“Cerita yang menarik. Kisahnya terasa familier, cocok sebagai bacaan untuk mereka yang sedang galau terkait hubungan percintaan. Ken dan Pia melakukan pembagian penceritaan yang unik sehingga karakter-karakter dalam novel ini terasa hidup.” -Sari Musdar, traveler dan penulis novel laris ‘Cinderella in Paris’-
“Wajar jika seseorang tidak percaya pada cinta, apalagi jika pernah disakiti dan dikecewakan. Namun, rasa tidak percaya itu bisa saja hilang ketika cinta yang sesungguhnya datang. Cinta bisa datang tiba-tiba, juga bisa datang dalam ‘wujud’ yang sebenarnya sudah tertanam dalam benak, seperti yang terjadi pada Nay. Dan, untuk kamu yang tak percaya cinta pada pandangan pertama, coba kenali Dirga lebih dalam. Mengikuti kisah keempat sahabat ini membuat saya kembali teringat bahwa persahabatan adalah investasi terbesar dalam hidup.” -Miranti Puspitadewi, jurnalis dan penikmat novel
Novel duet yang cukup menyenangkan untuk dibaca, walau awalnya karena ada 4 sudut pandang baik Raina, Dirga, Irvina dan Om Ben secara bergantian, membuatku harus benar-benar membaca dengan lebih teliti karena tiba-tiba kita akan dijejali masing-masing permasalahan kehidupan percintaan mereka yang kali ini sama-sama kurang beruntung.
Ketiga sahabat ini sering menghabiskan waktu mereka nongkrong di Kafe KopiKita, milik Om Ben. Raina, Dirga dan Irvina disaat yang sama sedang sama-sama galau dengan perasaannya. Raina akhirnya putus dengan kekasihnya, Rendra yang telah lama menjalin hubungan dengannya. Dirga ditinggal nikah kekasihnya, Tata setelah dirinya sudah mantap untuk melamar sedangkan Irvina malah sudah punya Guntur, kekasih yang terasa sempurna, sayangnya Irvina tidak merasakan perasaan apa-apa terhadapnya.
Mereka pun akhirnya melakukan perjalanan hati ke Belitung yang membuat mereka berani untuk move on dan memutuskan tentang apa yang hati dan perasaannya inginkan.
Sederhana dan cukup menghibur. Review selengkapnya menyusul :D
Everything was too easy, and everyone was so wise except for the 3 protagonists. The so called trip to Sumba, Penang, and Belitong were forgettable, and the description of the place was like copying from another article. And the main reason that I gave 1 out of 5 stars was that I can see no real conflict in the book. Sorry not sorry.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini bercerita tentang tiga orang yang patah hati, kemudian ingin menemukan cinta yang sempurna. Banyak luka dalam kisah mereka, banyak juga hal tak terduga. Konsepnya cukup menyegarkan, saya sendiri suka sosok Om Ben dalam cerita.
Beberapa poin yang saya catata adalah, novel ini memakai beberapa sudut pandang, yang sebenarnya belum terlalu kental terasa perpindaham sudut pandangnya, selain dari pemakaian kata-kata ganti 'aku', 'saya', 'gue'. Tokoh dalam novel ini banyak dan beberapa memiliki nama mirip. Sempat di awal-awal saya bingung sendiri membedakannya.
Tapi novel Mbak Pia dan Mbak Ken ini cukup menghibur dan banyak memberikan motivasi dalam hubungan dengan kalimat-kalimat indahnya. Sukses terus, Mbak Pia dan Mbak Ken! :)
awalnya agak bingung gara2 ada 4 sudut pandang, tapi nggak masalah lah ya. cuma agak sedikit... yaapa ya. nggak ngerasain aja gimana hubungan antar tokohnya. ini Lika, Naren, sama Agam dateng2 trs tau2 udah jadian aja. padahal nggak kerasa ada yg spesial bgt. apalagi aku ga bisa ngebayangin agam ini gimana. pandangan aku malah jatuhnya kayak om2. udah punya anak juga. bahasanya agak gimana. apalagi kalo om ben udah ceramah panjang lebar tentang cinta. tour guide nya pas hiking juga. lumayan sih.