Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rasuk

Rate this book
Semenjak kepergian sang Ayah, Langgir Janaka __ Gadis remaja yang sering merasa kesepian__ merasa tidak ada satu hal pun dalam hidupnya berjalan dengan baik. Hari-harinya dipenuhi rutukan bagi nasib buruk. Kalimat "Tuhan tidak adil" Seolah menjadi mantra dalam batinnya.
Langgir iri dan ingin kisahnya lebih seperti para sahabatnya; Sekar Tanjung, seorang anak pungut yang dilimpahi kasih sayang keluarga angkatnya. Lintang Kasih yang punya orang tua kaya dan sering bepergian ke luar negeri. Juga Fransisca Inggrid, perempuan cantik yang selalu menemukan kemudahan dalam hidupnya.
Namun, bagaimana jika keinginan itu menjadi nyata? Rohnya merasuk dalam tubuh orang lain. Menjalani hidup sebagai mereka, lalu menelan suka duka yang bukan miliknya, sedangkan raganya sendiri tersembunyi entah dimana. Kini, Langgir sadar, harga yang dibayar untuk keinginan itu... Terlalu Besar.


"Hidup ini begitu semmrawut, hingga kerap kali aku mengutuknya! Mungkin KAU bosan mendengar hati ini menjerit dan memaki. Mereka bilang KAU mendengar semua keluh umatMU..., betul begitu? Lantas, dari sekian banyak garis hidup manusia yang KAU gambar, mengapa harus hidupku yang kau gores berliku?"

340 pages, Paperback

First published September 1, 2015

45 people are currently reading
1298 people want to read

About the author

Risa Saraswati

23 books1,865 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
302 (57%)
4 stars
101 (19%)
3 stars
84 (16%)
2 stars
19 (3%)
1 star
17 (3%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for Anindito Alfaritsi.
65 reviews8 followers
June 26, 2016
Aku baca Rasuk karena kebetulan mengenal pengarangnya. Meski beliau sudah agak lama menjadi penulis, Rasuk adalah karya pertama beliau yang aku baca.

Daripada horor (sebagaimana yang tercantum pada sampul belakangnya), Rasuk sebenarnya lebih dekat ke genre weird stories. Intinya, jenis cerita yang plotnya digerakkan oleh hal-hal "aneh" yang menimpa para tokohnya.

Rasuk bercerita tentang Langgir Janaka, seorang mahasiswi yang sudah bertahun-tahun tertekan oleh kondisi keluarganya di rumah, hingga akhirnya berdampak pada hubungannya dengan sahabat-sahabat dekatnya:
-Sekar Tanjung, anak angkat sebuah keluarga berada yang membuat Langgir iri dengan kedekatan hubungan keluarganya.
-Lintang Kasih, putri tunggal seorang pengusaha makmur yang membuat Langgir iri dengan kekayaan dan rutinitas berpergian mereka ke mancanegera.
-Fransisca Inggrid, seorang perempuan blasteran yang kurang santun dan kerap berganti pacar, yang membuat Langgir iri dengan kecantikannya.

Dalam suatu kejadian yang terjadi saat mereka sedang main ke vila di suatu dusun terpencil bernama Karma Rajani, Langgir mengalami sesuatu yang membuatnya merasuki badan teman-temannya secara bergantian. Hal ini yang kemudian membuka mata Langgir kalau kehidupan teman-temannya juga tak seindah yang ia kira.

Bicara soal cetakannya dulu, Rasuk termasuk enak dibaca. Hanya saja, ada kesan kalau naskahnya sebenarnya masih kurang rapi. Ada satu bagian misalnya, yang tertulisnya "kalajengking" saat seharusnya "kelabang." Lalu ada sejumlah masalah penspasian dan transisi dialog juga. Untungnya, berhubung ceritanya memang menarik, kekurangan-kekurangan tersebut bisa diabaikan.

Nah, soal ceritanya sendiri... damn, ceritanya aneh, man.

Aku belum tahu apakah ini Rasuk saja atau semua buku karangan Mbak Risa itu kayak gini. Aku juga enggak yakin lagi soal apa yang sebelumnya aku harapkan. Tapi cerita novel ini seriusan aneh.

Sampul depannya yang didesain Fariza Dzatalin dan Ayu Widjaja benar-benar indah. Ada kesan elegan dan elok gitu yang dipancarkannya. Nuansa coklatnya seolah memancarkan semacam kesan tradisional yang memang terasa kuat di paruh awal ceritanya.

Jadi, walau setting ceritanya zaman modern, entah karena gaya penamaan karakternya atau memang narasinya berkesan nyastra, ada kombinasi kesan pedesaan, mistis, sekaligus tradisional dalam bagian-bagian awal ceritanya. Penceritaannya dituturkan sedemikian rupa, secara bergantian antara sudut pandang ketiga dan sudut pandang pertama Langgir, sehingga kita dibawa menyelami masa lalu para tokoh utama dan orang-orang di sekeliling mereka.

Hanya saja, dalam perkembangan ke sananya, terutama menjelang klimaks. nuansa elegannya bagiku kayak tiba-tiba hilang. Ada banyak perkembangan dramatis yang terjadi. Lalu separuh ceritanya menuju ke akhir lebih jadi terkesan unintenionally hillarious.

Makanya, kubilang ini aneh.

Meski perlu agak membiasakan di awal, aku seriusan menikmati cerita Rasuk. Tapi meski aku berhasil dibuat simpati dan tersentuh oleh bab-bab awal, aku malah jadi lebih banyak geli dan tersenyum-senyum sendiri pas separuh cerita terlewati.

It's kinda awesome.

Pemilihan gaya narasi yang pindah-pindah sudut pandang tersebut memang wajar sih. Namun yang membuatnya mengangkat alis adalah bagaimana setiap karakter itu benar-benar kayak punya suatu aspek "aneh" dalam hidup mereka.

Awalnya, aku masih maklum saat cerita dibuka dengan pemaparan tentang ibu Langgir, Harum Manis, yang singkatnya, adalah ibu yang abusif secara verbal, dan bahkan condong ke histeris. Separuh jalan, semua pemaparan karakternya sukses membuatku simpati dan ingin tahu tentang mereka. Tapi menjelang ke sana, kita tiba-tiba diperlihatkan bagaimana masa lalu salah satu karakter ternyata telah mengubahnya menjadi seorang maniak. Perkembangannya begitu mendadak dan begitu bikin "Hah" sehingga pada titik itu, aku udah enggak bisa lagi enggak ketawa.

Karakter favoritku di cerita ini, Isabela Sanchez, juga masuk ke cerita dengan begitu tiba-tiba. Bukannya aku benci dia ya. Tapi semua keseriusan sungguh-sungguh dan menyentuh yang ada sebelumnya tahu-tahu dilanjut dengan perkembangan-perkembangan sangat dramatis yang terus terang malah membuatku ngakak.

Entah ya. Meski buku ini baru terbit setahun lalu, aku jadi bertanya-tanya sendiri kapan sebenarnya naskahnya pertama ditulis.

Terlepas dari itu, ini buku yang seru.

Awalnya, aku mau bilang ini buku yang "bagus" sih. Sesuatu yang punya makna dalam dan menggugah gitu. Yah, ceritanya memang masih punya makna dalam. Tapi kekurangan-kekurangannya secara teknis masih ada. Jadi mungkin enggak baik kalau aku ngasihnya lima bintang.

Tapi tetap saja, aku menyukainya.

Aku akan mencoba mencari buku-buku Mbak Risa yang lain.
Profile Image for Cia Adzkiya.
21 reviews
January 29, 2025
This is the second book I'd recommend to anyone asking for book to read after the first place held by the other book. Man this lore is honestly insane, the writer once again made another masterpiece. Ate. Devouring. I kinda wished the ending could've been different but I think a bit of grey and hurt happening is what makes the ending felt wise and warm, and touching, almost cried to it. I really hardly handle myself not to, I can't when its regarding her mother.
Profile Image for Ronald Otong.
113 reviews4 followers
October 16, 2015
Kombinasi dari sakit dan liburan jdnya punya waktu buat beresin buku ini :D

Baca judulnya pikiran saya sih langsung mengarah ke cerita horor...
Setelah dibaca, makin banyak makin banyak ternyata ga ada tentang horornya...
Awalnya sedikit kecewa tapi menurut saya sih Mba Risa bisa nghilangin kesan itu dengan ceritanya yg ga bisa d prediksi. Ditambah dengan PoV yg berubah antara penulis dan tokoh utama yaitu Langgir, makin bikin ceritanya tidak terduga menurut saya. Endingnya pun dibuat tidak full happy ending (biar penasaran bagi yang mau baca). Awalnya saya pikir akan dibuat full happy ending, eh ternyata... :D
Untuk ceritanya sendiri kyknya ga perlu di ceritain ato pake sedikit spoiler, silakan baca sendiri aja y, bukunya bagus kok bikin penasaran...

Pada akhirnya buku ini memang lebih ke cerita drama bukan horor. (tapi bukan drama cengeng :p)



PS: Saya bener2 penasaran, cerita di buku ini nyata ga yah?Klo ada yang tau tolong kasih tau saya :D
Profile Image for Biancasteria.
9 reviews
July 14, 2018
Review paling singkat aja nih wkwk

Suka ama ceritanya, kupikir bakal horor banget, tp kalo disini lebih ngarah ke pesan moral kekeluargaannya dapet, dan kesannya thriller aja sih drpd horor, cerita ini hitungannya "ringan" karena plot twistnya udah ketebak lah.

Tokoh favorit sih isabela, walaupun kayaknya muncul dengan "terpaksa" tp yaaa dia bisa dikatakan kunci lah buat cerita ini,

Ada beberapa part yg rada dipaksa ada atau ada yg hilang, tp so far so good deh :)))
Profile Image for Anggiralia.
9 reviews
August 16, 2025
Reading this book felt like a fever dream. The beginning of the book intrigued me and I soon get invested in the first five chapters, but as I goes on, why does it feel like we have to know the background of every characters in the book even the supporting characters? Like, 60% of this book's chapters is about the background stories of the supports characters, well, it does affect the story progress but not that much I feel especially Abimanyu's chapter. I feel like his existence is only for Fransisca's plot story and by the end of the book we just know he finally met his long lost love in London and that's all.
Also, why do I feel that everyone in this book is having emotional issues?? Like, guys, chill. Can someone please not shout or glaring or sobbing in every chapter??😭😭😭
Everyone except for Lintang Kasih and her dad 😭👍🏻. Also, everyone have a VERY mind-blowing back story and life problems that if I have to choose which character that I would rather live in, I would choose Lintang Kasih's life to live in with her heart illness problem because it feels more bearable than the rest of Putri Sejagad's life problems or other supporting characters' 😭.
Overall, as expected of Risa Saraswati's writing, it again makes me cry and there's always life lesson we could learn from it, and for this book is about gratitude. Sometimes— well, honestly for me, most of the times I feel so ungrateful as a human being, always complaining about life and being envious of other people's especially my friends' life who looks so much more perfect than mine, just like our protagonist here, Langgir Janaka. So thank you, Langgir, for your story has make me and hopefully the readers of this book to be more thankful of what we're having, about the life we're living currently and live it as best as we can with no regrets.
Profile Image for Dina Puspita Dewi.
9 reviews
October 23, 2017
Seberapa banyak dari kita yang sering berpikir seperti Langgir Janaka? Hidup kita selalu kurang, hidup kita selalu sulit, tidak ada yang mencintai dan menginginkan kita, bahkan...ingin mati saja... saya yakin banyak diantara kita yang berpikir seperti ini.


Padahal kenyataannya, hidup ini memang tidak akan pernah sempurna, karena hakikatnya saat kita ingin meraih sesuatu kita harus mengorbankan suatu hal yang lain, tidak bisa dapat kedua-duanya.

Memiliki pemikiran bahwa hidup kita akan lebih baik jika seandainya begini atau begitu atau memiliki ini atau hal lainnya, belum tentu juga kita akan merasakan ‘kesempurnaan’ itu, bisa jadi malah kita semakin haus dan memiliki keinginan yang lain lagi demi mencapai definisi ‘kesempurnaan’ yang sesuai dengan patokan...entah patokan darimana...

Dari kisah ini, seorang Langgir belajar betapa bersyukur adalah satu tindakan kecil yang dapat ia lakukan setiap hari, dan melihat dampaknya yang begitu besar bagi hidupnya. Betapa ia begitu terfokus menginginkan hal-hal besar yang akhirnya membuatnya lupa untuk mensyukuri dan menjaga hal-hal kecil yang ia miliki.

Tapi, beginilah lucunya hidup, setiap manusia mendapatkan penjelasan masalahnya dengan cara yang berbeda-beda, cara Langgir mendapatkan penjelasan akan pertanyaannya dengan merasuki tubuh orang-orang yang selama ini ia nilai sebagai definisi ‘kebahagian yang sempurna’.

Buku ini menceritakan sebuah perjalanan seorang manusia yang menuntut penjelasan kepada-Nya, dan diberikanlah penjelasan itu kepada manusia tersebut dengan cara yang begitu ... misterius, tetapi manusia dengan mudah dapat memahaminya, menerimanya...

Ah, buku ini, sederhana, indah, berisi, dan begitu menyentuh. Meninggalkan jejak dalam hati dan pikiran kita setelah membacanya.
Profile Image for ʟᴇᴇ.
38 reviews1 follower
October 5, 2023
Menceritakan Langgir Janaka, gadis muda yang tak pernah bersyukur atas kehidupannya. Ia iri pada sahabatnya sendiri dan akhirnya jatuh ke lubang saat berlibur, yang menyebabkan dirinya sekarat dan jiwanya merasuk ke jiwa sahabat²nya. Jujur aku kurang suka tokoh Langgir. Buku ini standar sekali, ada senua tokoh dijabarkan latar belakangnya sehingga banyak info dan nama lain yang tidak perlu. Selain itu perubahan kepribadian Langgir juga sudah dapat diprediksi, pun bagian akhir ceritanya. Aku tidak merasa seru saat membaca buku ini.

Seperti membaca buku karangan remaja, penulisan di buku ini juga kurang. Risa tidak menerapkan prinsip "show dont tell", sehingga perasaan yang dirasakan tokoh²nya hanya ditulis secara langsung tanpa ia jabarkan bagaimana kalutnya. Selain itu terkadang masalah² lain sahabatnya juga biasa saja dan tidak terlalu berat atau istimewa, tokohnya terlalu hitam putih, tidak ada rasa takut saat membaca ini padahal ini seharusnya novel horor. Aku membacanya dengan bosan.
Profile Image for Rara.
13 reviews1 follower
January 2, 2024
Udah selesai baca ini sejak lama. Satu-satunya novel Risa Saraswati yang cocok buat aku baca, karena yang lain kurang cocok di aku.
Rasuk punya porsi horor yang cenderung sedikit, lebih besar porsi drama-nya.
[Spoiler Warning]
Cara bercerita yang mengambil POV masing-masing karakter ditambah saat si tokoh utama me'rasuk'i teman-temannya, membuat kisahnya menjadi menarik. POV-nya menjadi istimewa karena seolah memakai kacamata double. Kacamata sebagai Langgir Janaka yang masuk ke tubuh temannya dan juga kacamata si tubuh asli.
Kisah dalam Rasuk memiliki pesan yang tidak menggurui, tetapi tepat sasaran seolah menampar kenyataan bahwa kehidupan itu "sawang-sinawang", alias yang kita lihat indah di kehidupan orang lain belum tentu indah jika kita yang menjalani. Tidak ada yang memiliki kehidupan sempurna, yang dilihat bahagia bisa jadi punya pengorbanan besar dalam hidupnya.
Profile Image for Impy Island.
235 reviews11 followers
January 8, 2026
Ini mungkin menjadi kisah paling bland dan straight forward dari Risa Saraswati. Gaya bahasa yang mengalir, bahkan terlalu mengalir, ditambah alur yang juga terlalu mengalir. Alias, kita langsung diceritakan begini-begitu, tanpa jeda, tanpa permainan logika, tanpa mikir, tanpa nebak-nebak.

Aku suka cerita seperti ini dalam segi membaca cepat. Aku langsung tahu jawaban dari semua pertanyaan. Namun, kisah ini juga bakal jadi kayak ... oh gitu, dan langsung melupakannya dalam sehari atau dua hari. Also ... banyak sekali keanehan dari struktur cerita ini. mungkin akan aku bahas full di blog. (kalau tidak lupa)
Profile Image for Oline Oline Oline.
43 reviews1 follower
June 15, 2021
I like this book alot. I like the characters and their lives, their life issues. They feel real to me and they make me feel genuine emotions.
I cried, I laughed it's a very good book.
The english in this book is very literal, and kinda doesn't make sense and there are some word error(example: kalajenking beberapa halaman kedepan dia shapeshift jadi kelabang)but this is all nitpicking. This book is marketed as horror but it's not necessarily horror or even horror at all, it's more of creepy-thirller-slice-of-life maybe?
I recommend this book
Profile Image for elin.
40 reviews
May 13, 2023
MENARIK BANGEEEET!!!! beda sama yang di film dan tentu versi novel jauh lebih bagus. Bayangin, Langgir yang merasuki semua tubuh teman-temannya bergiliran dan yang tadinya dia iri dengan kehidupan teman-temannya itu, jadi ngerasaan. Life issuesnya beuh 💯💯💯. Romansa, sedikit horror, dan juga friendship.
Profile Image for Zulkifli Afrian.
25 reviews
December 29, 2017
Ceritanya mengalir, enak aja bacanya. Waau inti ceritanya ga begitu original, tp plotnya cukup baik. Overall terhibur. Paling suka pemilihan nama dari karakter yang ada di novelnya, nama-nama yg unik!
Profile Image for Maria.
223 reviews1 follower
April 29, 2024
Sepertinya buku rasuk cukup berbeda dengan buku risa saraswati lainnya yang tidak perlu takut dibaca sebelum matahari terbenam.

Penuh dengan drama dan misteri dan enggak menyangka dengan endingnya, benar-benar enggak ketebak
Profile Image for Aina Purba.
42 reviews4 followers
December 19, 2018
Drama abis ceritanya, padahal nyari horornya😑 rumput tetangga selalu lebih hijau, itu sih pesan moral dari buku ini.
Profile Image for Nurul Dwi.
36 reviews2 followers
December 19, 2018
ceritanya bagus 👍 lebih bagus dari pada filmnya, tapi endingnya bikin nyesek 😭😭
Profile Image for Llima.
75 reviews
January 22, 2019
Mungkin sifat penasaran Tokoh Utamanya, adalah sifat penasaran yang pernah terlintas di kepala kebanyakan manusia.
2 reviews
November 25, 2022
ini cerita bnr2 perpaduan yg pas antara sedih sama serem
3 reviews
February 15, 2024
salah satu novel teh Risa yang akan ku rekomendasikan untuk dibaca karena punya pesan yang baik dan bikin baper. memang gak sehorror itu tapi ini jadi salah satu favorit dari teh Risa. (walau aku baru baca Danur, Maddah, dan Rasuk hehe)
Profile Image for Mutiarizki Hapsari.
39 reviews
July 23, 2018
Sebenernya bacanya bisa satu hari, tapi berhubung sibuk banget.. jadinya cuma bisa baca pas weekend.. Intinya, novel ini menurut aku karya fiksi (fiksi loh, bukan yang non fisik kayak Peter cs) terbaik dari Teh Risa, kayak Ananta Prahadi. Baca Rasuk membuat mata kita terbuka bahwa sesempurna itu orang, TETEP punya kelemahan yang disembunyikan. Rekomendasi BANGET buat yang ngerasa hidupnya selalu nggak adil :'D
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
November 3, 2015
Jadi, teteh sepupu saya itu penggemar Risa Saraswati, tipe yang tiap ada konser Sarasvati di Bandung suka datang, tahu arti lagunya, dan jadi pembeli pertama buku-buku Risa. Saat yang terbaru ini--yaitu Rasuk--terbit, dia pun langsung memilikinya.

Namun selengkap apa pun koleksinya, saya tidak pernah tertarik membacanya. Mungkin karena horor--bukan cangkir teh saya. Sampai akhirnya Rasuk ini datang, dan teteh saya menghabiskannya hanya dalam beberapa jam, ditambah ilustrasi sampulnya yang baguuus banget dan bau bukunya yang enak, saya comot dan coba nikmati. Habis dilahap tiga jam saja!

Ini menjadi perkenalan saya dengan tulisan Teh Risa.

Saya suka sekali desain isinya. Pas banget dengan tone cerita. Terus, alih-alih horor, saya lebih senang menempatkannya di rak 'paranormal' (atau mungkin magic realism?) karena inti kisahnya sendiri lebih kontemporer yang berfokus ke persahabatan dan keluarga. Heartwarming. Suka interaksi antar tokohnya. Suka bonding Inggrid dan adiknya, Lintang dan ayahnya, Langgir dan Borneo. Suka permainan kata-katanya Teh Risa--encer, bikin tak bisa berhenti tapi sesekali merenungi.

Yang juara: Naming! Nama tokohnya unik-unik.

Pokoknya, saya puas menikmati buku cantik ini.

TAPI.

Baik, memang mahasiswi yang nge-geng dan menamai diri mereka Putri Sejagad itu agak kekanakkan, Abimanyu yang dapat akhir bahagia menurut saya terburu-buru dan tak adil, dan beberapa typo cukup mengganggu, tapi bukan itu yang membuat kenyamanan membaca saya nyaris terhenti di tengah jalan.

Ini contoh yang buat saya garuk kepala. Dan sayangnya, ini ada di hampir semua bagian:

Fransisca Inggrid merasa kesal dan wajahnya menggambarkan rasa lelah. "Mau berapa lama lagi, siiiih? Gue udah capek banget, kalo masih jauh mending kita balik lagi, lah!" Lintang tertawa ringan sambil mendelik menatapnya, "Segini aja nyerah? Yakin? Katanya atlet balet? Bweeeek!" Jempol tangan kanannya mengarah ke bawah. Inggrid yang tadi seperti lemas tiba-tiba mempercepat langkahnya, "Gue nggak akan kalah sama orang penyakitan kayak lu!" Lintang meringis kini, memukul punggung Inggrid dari belakang pelan.


Banyak dialog tokoh dalam satu paragraf.

Lebih nyaman begini:

Fransisca Inggrid merasa kesal dan wajahnya menggambarkan rasa lelah. "Mau berapa lama lagi, siiiih? Gue udah capek banget, kalo masih jauh mending kita balik lagi, lah!"

Lintang tertawa ringan sambil mendelik menatapnya, "Segini aja nyerah? Yakin? Katanya atlet balet? Bweeeek!" Jempol tangan kanannya mengarah ke bawah.

Inggrid yang tadi seperti lemas tiba-tiba mempercepat langkahnya, "Gue nggak akan kalah sama orang penyakitan kayak lu!"

Lintang meringis kini, memukul punggung Inggrid dari belakang pelan.


Dan ketika saya lihat penyuntingnya, ternyata sampai dua orang. Amat disayangkan bisa luput dari hal semacam ini.

Mungkin ini terdengar sepele. Tapi percayalah, kecepatan alur dan suasana yang dibangun bisa berubah dengan memasukkan dialog banyak tokoh di satu paragraf. Pula, saya lebih lelah membaca paragraf panjang dibanding yang dipisah-pisah seperti contoh kedua. Padahal cara berceritanya sudah enakeun.

Tapi mungkin itu cuma saya. Buktinya teteh saya nggak komplain apa-apa. Mungkin saya yang ribet...

Oh ya, meskipun begitu, saya masih kesal sama Harum Manis sampai akhir... Teh Risa tega ih, bikin akhir yang begitu. Hehe (waduh, spoiler ya?). Kalau kamu bisa tahan dengan paragraf panjang multi-tokoh begitu, dan mau mencicipi karya Teh Risa yang sedikit kurang menyeramkan dan lebih banyak menghangatkan, kamu bisa baca buku ini. Dijamin seru dan nagih!
Profile Image for Mega Handiyani.
105 reviews3 followers
July 18, 2024
membaca ini hanya sekali duduk, page-turner sekali ceritanya.
juga ada beberapa pesan moral dalam buku ini, dan di akhir cerita membuat saya terharu dan sedih.
Profile Image for Rif.
279 reviews35 followers
October 9, 2016
Dari beberapa halaman pertama pun aku sudah bisa menilai bahwa aku (akan) lebih menyukai Danur daripada yang satu ini. Ceritanya memang mengalir, sampai-sampai rasanya begitu cepat habis.

Sayangnya, aku agak terganggu dengan gaya penulisannya. Pemilihan diksinya kadang kaku, kadang luwes. Entah kenapa rasanya agak mengganggu tone suasana. Belum lagi, satu paragraf biasanya berisi banyak dialog (dari beberapa tokoh). Dalam beberapa kesempatan, hal ini mengurangi efek emosionalnya.

Misalnya di p.43-44:
"Langgir, tempat itu aneh banget! Bisa melihat orang mati! Bisa meramal masa depan! Bisa melihat binatang aneh! Masa kamu anggap tidak menarik, sih?" Lintang Kasih mencecarku. "Iya, betul! Kita semua harus ke sana! Sesekali kita harus liburan dengan cara yang beda." Sekar tak kalah semangat. Aku mengangguk(k)an kepalaku seolah mengerti tujuan dari percakapan mereka. "Jadi, kalian tiba-tiba bikin rencana pergi ke sana? Kapan?" Lintang Kasih tersenyum senang. "Nah! Pintarnya Langgirku!" Dipeluknya tubuhku dengan erat, membuatku merasa canggung. "Weekend ini!" Lintang Kasih kembali bersuara. Sekar berteriak senang sambil berlompatan ke sana-ke sini seperti seekore tikus.


Rasanya lebih enak kalau ditulis seperti ini:
"Langgir, tempat itu aneh banget! Bisa melihat orang mati! Bisa meramal masa depan! Bisa melihat binatang aneh! Masa kamu anggap tidak menarik, sih?" Lintang Kasih mencecarku.

"Iya, betul! Kita semua harus ke sana! Sesekali kita harus liburan dengan cara yang beda." Sekar tak kalah semangat.

Aku mengangguk(k)an kepalaku seolah mengerti tujuan dari percakapan mereka. "Jadi, kalian tiba-tiba bikin rencana pergi ke sana? Kapan?"

Lintang Kasih tersenyum senang. "Nah! Pintarnya Langgirku!" Dipeluknya tubuhku dengan erat, membuatku merasa canggung. "Weekend ini!" Lintang Kasih kembali bersuara.

Sekar berteriak senang sambil berlompatan ke sana-ke sini seperti seekor tikus.

Tapi itu kan pendapatku, dan kadang aku malah protes kalau satu halaman terdiri dari banyak paragraf dengan satu dialog per paragrafnya. Sebenarnya apa mauku?! XD

Sisanya, lumayanlah.. meski bagian epilog yang itu sepertinya terlalu dipaksakan
Profile Image for Rasendriya  Sebayang.
51 reviews2 followers
March 26, 2023
Aku baca rasuk pas aku masih smp, dan waktu itu aku mikirnya ini buku yang bener-bener berkesan dan bagus banget buat aku. Sampe sekarang impressionku masih sama dan kuat. Protagonisnya adalah seorang perempuan pesimis yang merasa seluruh hidupnya dipenuhi dengan ketidakberuntungan. Pandangan dia berubah drastis dalam cerita ini. It’s emotionally impactful for me, and I’m so glad I decided to bought this in Gramedia 🙂
Profile Image for Nday Nday.
Author 1 book
December 3, 2015
I give up.. berhenti di halaman 136. Baca buku ini karena dapat free dari acara Book Review RRI Pro 2 Yogya. Kisahnya seperti terinspirasi dari cerita yang umum ditampilkan di sinetron atau FTV dengan berbagai potongan adegan dramatis yang tidak jarang membuat dahio berkerut, 'really?'. Ditinggal anggota keluarga karena kecelakaan, bayi yang tiba-tiba muncul di depan pintu rumah, perjuangan cari donor jantung, ibu yang memukul anaknya, hubungan anak dan ayah tiri yang ga harmonis dan berbagai kejadian dramatis lain yang sulit dicerna logika saya. Sementara itu karakter dalam novel ini juga cenderung tidak konsisten. Pemilihan nama-nama yang eksotis juga aga janggal. Mungkinkah orang-orang dalam satu lingkaran kisah memiliki nama-nama yang unik semacam itu? Tidak ada kesan horor pula sebagaimana kategori novel ini dimaksudkan. Simply not for me.
Profile Image for Bintang Ach.
94 reviews
April 7, 2016
Untuk ukuran buku horor, buku ini dikategorikan kurang nendang banget. Penulis hanya fokus terhadap kehidupan Langgir Janaka yang kian hari kian sengsara. Unsur horor tidak begitu kentara di buku ini.
Namun, aku cukup mengapresiasi karya Risa yang satu ini. Karena, tidak lagi bercerita tentang sahabat hantunya yang menurutku... cenderung membosankan.
Dan, ini adalah buku fiksi, aku menemukan sesuatu yang sangat berbeda dari buku-buku Risa yang sebelumnya.

Review selengkapnya: http://ach-bookforum.blogspot.co.id/2...
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.