What do you think?
Rate this book


340 pages, Paperback
First published September 1, 2015
Fransisca Inggrid merasa kesal dan wajahnya menggambarkan rasa lelah. "Mau berapa lama lagi, siiiih? Gue udah capek banget, kalo masih jauh mending kita balik lagi, lah!" Lintang tertawa ringan sambil mendelik menatapnya, "Segini aja nyerah? Yakin? Katanya atlet balet? Bweeeek!" Jempol tangan kanannya mengarah ke bawah. Inggrid yang tadi seperti lemas tiba-tiba mempercepat langkahnya, "Gue nggak akan kalah sama orang penyakitan kayak lu!" Lintang meringis kini, memukul punggung Inggrid dari belakang pelan.
Fransisca Inggrid merasa kesal dan wajahnya menggambarkan rasa lelah. "Mau berapa lama lagi, siiiih? Gue udah capek banget, kalo masih jauh mending kita balik lagi, lah!"
Lintang tertawa ringan sambil mendelik menatapnya, "Segini aja nyerah? Yakin? Katanya atlet balet? Bweeeek!" Jempol tangan kanannya mengarah ke bawah.
Inggrid yang tadi seperti lemas tiba-tiba mempercepat langkahnya, "Gue nggak akan kalah sama orang penyakitan kayak lu!"
Lintang meringis kini, memukul punggung Inggrid dari belakang pelan.
"Langgir, tempat itu aneh banget! Bisa melihat orang mati! Bisa meramal masa depan! Bisa melihat binatang aneh! Masa kamu anggap tidak menarik, sih?" Lintang Kasih mencecarku. "Iya, betul! Kita semua harus ke sana! Sesekali kita harus liburan dengan cara yang beda." Sekar tak kalah semangat. Aku mengangguk(k)an kepalaku seolah mengerti tujuan dari percakapan mereka. "Jadi, kalian tiba-tiba bikin rencana pergi ke sana? Kapan?" Lintang Kasih tersenyum senang. "Nah! Pintarnya Langgirku!" Dipeluknya tubuhku dengan erat, membuatku merasa canggung. "Weekend ini!" Lintang Kasih kembali bersuara. Sekar berteriak senang sambil berlompatan ke sana-ke sini seperti seekore tikus.
"Langgir, tempat itu aneh banget! Bisa melihat orang mati! Bisa meramal masa depan! Bisa melihat binatang aneh! Masa kamu anggap tidak menarik, sih?" Lintang Kasih mencecarku.
"Iya, betul! Kita semua harus ke sana! Sesekali kita harus liburan dengan cara yang beda." Sekar tak kalah semangat.
Aku mengangguk(k)an kepalaku seolah mengerti tujuan dari percakapan mereka. "Jadi, kalian tiba-tiba bikin rencana pergi ke sana? Kapan?"
Lintang Kasih tersenyum senang. "Nah! Pintarnya Langgirku!" Dipeluknya tubuhku dengan erat, membuatku merasa canggung. "Weekend ini!" Lintang Kasih kembali bersuara.
Sekar berteriak senang sambil berlompatan ke sana-ke sini seperti seekor tikus.