Rasa Coca-cola di mana-mana sama; Tapi bagaimana rasanya cinta?
Di Georgia, kulit domba yang dihamparkan artinya siap menuju pernikahan. Di Indonesia, orang yang naik dan turun dari tangga yang sama artinya dengan menabuh genderang perang pada keluarga pengantin. Pada pesta-pesta pernikahan di Zanzibar kaum perempuan mabuk buah pala hingga tak sadarkan diri …
Sesungguhnya apa persamaan cinta dalam berbagai budaya di dunia? Peter Theisen mencari jawabnya dengan berkeliling dunia dalam petualangan “Tour d'amour” yang menegangkan sekaligus lucu.
Baca buku ini kali kedua, tetapi masih tetap mengakak di beberapa bagian yang menurut saya benar-benar konyol😂
Meski terkesan seperti buku harian, isinya menurut saya lumayan berdaging. Jurnal yang pas untuk mengupas sekelumit makna cinta di berbagai negara, dengan pilihan negara dan lokasi yang tidak biasa. Senang rasanya penulis melihat budaya Minangkabau itu unik😅karena saya masih ada darah sana.
Hopefully there will be another book from this author which will be translated into Indonesian.
Buku ini bukan bagian dari 'The Geography of Genius' ataupun 'The Geography of Bliss'. Penulisnya berbeda, buku ini ditulis oleh orang Jerman bernama Peter Theisen bukan Eric Weiner. Sebenarnya judul asli buku ini adalah 'Liebe in Zeiten der Cola', yang mempunyai arti harfiah 'Cinta di Era Cola'. Negara-negara yang dikunjungi oleh Peter Theisen tidak sebanyak yang dikunjungi Eric Weiner. Peter Theisen "hanya" melakukan penelitian di tujuh negara, yaitu Georgia, Kolombia, Zanzibar, Indonesia, Fiji, dan Samoa.
Buku ini terkesan sangat personal karena berisikan pengalaman-pengalaman pribadi yang dialami penulisnya. Peter Theisen menuliskan secara jujur pengalaman selama penelitiannya dan tidak jarang hal yang dituliskannya itu konyol dan lucu karena gegar budaya (maupun ditaksir wanita yang baru bertemu dengannya). Salah satu contohnya adalah ketika menghadiri sebuah pesta pernikahan di Minangkabau. Dia dan narasumbernya tidak ada yang kenal dengan tuan rumah, namun atas dasar penelitian maka Peter Theisen diizinkan masuk dan berfoto di atas pelaminan bersama pengantin dan keluarganya. Karena tidak memahami budaya maka dia menuruni tangga pelaminan yang sama waktu dia naik ke pelaminan untuk bersalaman. Dalam budaya Minangkabau, hal ini artinya menarik kembali doa yang telah diucapkan kepada pengantin.
Foto menghadiri upacara pernikahan Minangkabau ini dicetak berwarna di halaman belakang sampul depan. Foto-foto dokumentasi lainnya juga dicetak di setiap bab pergantian penelitian negera satu ke negara lainnya. Namun dicetaknya dalam format hitam putih. Foto-foto ini kualitasnya bagus sehingga terlihat jelas dan tidak kabur. Kelima foto hitam putih ini dicetak ulang di satu halaman-dalam sampul belakang.
This book was quite interesting. I love how the author tells us the story. It was light and such an easy read. However the information that I got from this book was not a lot. The information that's displayed in this book sometimes was common knowledge that I think everyone already know. With that being said, its still an okay book to read.
awalnya ngira buku ini bakalan ngebosenin, tapi ternyata menarik jugaa gaya penulisannya itu bikin ga ngebosenin dan juga dpt sedikit banyak pengetahuan tentang beberapa negara yg dijelajahi si penulis
Sempat skeptis pada awalnya, tapi makin lama makin menarik. Peter Thiesen menghabiskan waktunya untuk mencari makna cinta di berbagai negara (termasuk di Sumatera Barat, Indonesia :D). Meski pada akhirnya ia mengakui bahwa pada akhirnya cinta tetap saja sesuatu yang menimbulkan tanda tanya; yang dilakukan berbagai orang hanyalah mencoba berbagai pendekatan untuk menikmatinya.
Dengan membaca ini maka kita akan paham bahwa cara masyarakat di berbagai belahan dunia dalam mengungkapkan dan mendapatkan cinta adalah unik. Dari penuturan penulis dapat diketahui bahwa perbedaan karakter suatu wilayah serta budayanya cukup berperan dalam kehidupan "percintaan" itu. Kita juga dapat belajar bagaimana cara menghargai budaya orang lain, terutama daerah asing yang baru kita kunjungi...
Am Anfang fand ich es nicht sooo interessant und hab mich außerdem gefragt, warum er in den verschiedenen Ländern immer nur Frauen als Reiseführerinnen/Recherchehelferinnen hat. Aber als es dann mit Samoa und Sansibar so richtig exotisch wurde, hat es mir doch viele interessante Einblicke in fremde Kulturen gegeben.