What do you think?
Rate this book


204 pages, Hardcover
First published November 1, 2015
"Suatu saat, iya suatu saat nanti, aku akan bekerja sendiri, hidup dengan uangku sendiri dan jauh dari Ibu. Sangat jauh, saking jauhnya sampai wanita itu tidak akan bisa menemukan diriku, bahkan mengendus keberadaanku pun tidak.Sayap-Sayap Kecil adalah buku pertama yang diterbitkan oleh Penerbit Inari—imprint terbaru Penerbit Haru yang akan fokus menerbitkan karya penulis-penulis Indonesia. Saat mendapat tawaran untuk me-review buku ini, aku seketika mengiakan karena ini bukanlah pertama kalinya aku membaca karya Andry Setiawan. Cerita yang mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak ini disampaikan dalam bentuk buku harian yang ditulis oleh Lana. Karena jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, alur ceritanya jadi sangat sederhana dan terfokus pada hanya beberapa karakter saja. Dengan format penulisan yang dibuat seperti sebuah buku harian atau diary, penulisnya hendak menyampaikan pesan bahwa kekerasan terhadap anak harus dihentikan. Dan di dalamnya juga terdapat kontak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bagi pembaca yang mungkin membutuhkan. Karena ditulis dari sudut pandang pertama Lana, pembaca jadi bisa mengerti dengan baik apa saja yang ia rasakan serta dilema yang ia alami karena Ibunya adalah anggota keluarga satu-satunya yang Lana punya. Misteri tentang Surya sedikit banyak bisa kutebak menjelang akhir, tetapi aku sama sekali tidak menduga ending yang disuguhkan oleh penulisnya. Keputusan yang diambil oleh Lana membuatku terkejut, terlebih lagi adegan klimaks-nya terjadi begitu cepat tanpa memberiku waktu untuk mempersiapkan diri. Aku tidak tahu harus mengkategorikan ending-nya sebagai happy atau sad ending, yang jelas ceritanya menyampaikan sebuah pesan yang kuat kepada pembaca perihal kekerasan terhadap anak.
Untuk sekarang, aku rasa aku harus bertahan, setidaknya sampai aku lulus SMA."
"Manusia diciptakan untuk menyesal. Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika sesuatu sudah telanjur terjadi? Hanya menyesal."Karena ceritanya yang cukup singkat, karakter-karakter yang ada dalam buku ini tidak ditelusuri secara mendalam. Meski demikian, aku menyukai karakter Lana yang kuat terlepas dari situasi yang sedang ia hadapi. Aku rasa ia memiliki kepribadian yang cukup dewasa pada usianya yang masih 16 tahun. Walaupun ia berusaha untuk tetap tegar, ada pula saat-saat ketika ia merasa lelah menghadapi semuanya. Sosoknya yang rapuh ini berhasil membuatku bersimpati terhadap karakter Lana dan turut merasakan pergolakan emosi yang ia lalui. Karakter yang tidak kalah menarik adalah sosok Ibu Lana yang penuh dengan amarah dan kerap kali melampiaskan hal tersebut pada satu-satunya orang yang ia bisa, anaknya sendiri. Pekerjaannya di klub malam semakin membuatnya terpuruk dan melarikan diri pada hal-hal yang salah. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, karakter Surya dalam buku ini terasa misterius sejak awal karena tidak banyak yang pembaca ketahui tentangnya. Yang jelas Surya yang manis serta baik hati terasa seperti angin segar di tengah semua permasalahan yang terjadi.
Aku, seorang gadis dengan lebam di lengan kanan atas, kini duduk bersila di atas beton hangat, diteduhi oleh tangki air sambil memeluk gitar dan menyetemnya. (hal. 17)