Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sayap-sayap Kecil

Rate this book
Sinopsis

1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.

204 pages, Hardcover

First published November 1, 2015

5 people are currently reading
79 people want to read

About the author

Andry Setiawan

31 books144 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (18%)
4 stars
49 (32%)
3 stars
65 (42%)
2 stars
10 (6%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 60 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
October 27, 2015
Bisa juga dibaca di http://www.kubikelromance.com/2015/10...

Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi pada pasangan suami istri, di mana mayoritas pelaku adalah para lelaki. Namun, banyak juga kasus yang terjadi pada anak, para orangtua yang tanpa segan melukai anak mereka sendiri, seperti kisah yang dialami Lana Wijaya, tokoh utama buku ini. Lana sering menjadi korban kekerasan ibunya, dia sering mendapati lebam pada tubuhnya, beberapa kali menghindar pertanyaan teman dan tatapan guru. Kemarahan ibunya kadang tanpa alasan, hanya masalah sepele Lana harus menerima pukulan di tubuhnya, misalkan saja lupa tidak menyiapkan makan. Ibunya akan kalap, memukul dengan sadis, beberapa waktu kemudian dia akan meraung-raung minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, namun hal tersebut tidak pernah terjadi. Memukul-minta maaf-memukul lagi, begitu seterusnya.

Lana tidak bisa berbuat banyak, ibunya adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, dia masih bergantung, ibunya yang membiayai sekolah dan makan. Orangtua Lana bercerai sewaktu masih kecil, ayahnya ingin meninggalkan dunia malam dan mencari kehidupan yang lebih layak, namun ibu Lana menolak, dia memilih tetap menjadi penari malam, kemudian ibu Lana membawanya kabur, Lana tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya dan tidak tahu dia ada di mana. Lana hanya bisa bertahan, dia akan menyelesaikan sekolah, mendapatkan pekerjaan dan meninggalkan ibunya.

Kehadiran Surya, kakak kelas sekaligus tetangganya yang baru memberi warna pada kehidupan Lana yang suram, mereka sering menghabiskan waktu bersama, saling mencurahkan masalah, Surya suka mendengarkan Lana bernyanyi sambil bermain gitar di balkon sekolah. Kedekatan mereka lama kelamaan membuat Lana mempunyai perasaan lebih pada Surya, namun Surya terlalu misterius dan dia sudah keterlaluan menyangkut permasalahan Lana dan ibunya, sampai-sampai menghubungi KPAI! Lana sama sekali tidak ingin ibunya dipenjara, dia satu-satunya keluarga yang Lana punya. Sedangkan Surya hanya ingin menyelamatkan Lana, bahwa Lana bisa mendapatkan keluarga yang lain.

Tema yang cukup berat, kekerasan pada anak, namun dikemas secara ringan oleh Andry Setiawan dengan menggunakan teknik menulis seperti diary, halamannya juga tidak banyak, bisa dibilang buku ini masuk ke jenis novelet. Namun pesan yang ingin disampaikan penulis ke pembaca tergambarkan dengan cukup baik, aspek psikologis para tokohnya dengan mudah bisa kita pahami, penyebab ibunya melakukan kekerasan pada Lana, dampak yang Lana terima akibat kekerasan yang dia alami, serta pandangan orang lain melihat isu yang akhir-akhir ini cukup hangat di kehidupan nyata, bahwa kekerasan pada anak haruslah dihentikan, segera lapor bila kita melihat kekerasan pada anak karena sangat berpengaruh terhadap psikologis anak ke depannya.

Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kita akan merasakan langsung bagaimana perasaan sang tokoh utamanya. Walau kehidupannya suram dan menyedihkan, penulis tidak membuat Lana menjadi seorang gadis yang lemah, dengan kalimat yang cukup sarkasme, penulis ingin menunjukkan seberapa kuat Lana menghadapi permasalahan yang dialami. Tokoh Surya sendiri walau cukup misterius dia digambarkan sebagai cowok yang tidak hanya merasa kasihan namun ingin membantu Lana keluar dari masalah, menjadi tempat berbagi, mencarikan solusi. Sedangkan untuk ibu Lana, ya, dia memang sakit, lewat kacamata Lana kita tidak akan langsung mencerca, dia sangat manusiawi, dia hanya butuh ditolong.

Kekurangan buku ini, kurang tebal, hehehe, maklum saya penyuka buku bantal, coba kalau halamannya lebih banyak dan cerita dikembangkan lebih detail lagi pasti akan sangat menarik. Tema yang diusung penulis sangat bagus, belum banyak penulis dalam negeri mengambil tema seperti ini, mayoritas memilih tema bullying sehingga bisa menambah referensi kita. Selain itu twist yang dihadirkan penulis sama sekali tidak bisa saya tebak, menjadikan buku ini beraroma fantasi. Kali pertama membaca tulisan Andry Setiawan, sepertinya saya tidak akan kapok, cara berceritanya asik, tidak melow dan cenderung sarkasme, dia bisa memalsu sebagai seorang gadis dengan cukup baik, melihat penulis sendiri adalah seorang lelaki, pasti tidak mudah. Cover buku ini juga manis sekali.

Bagi yang ingin membaca karya perdana penerbit Inari, imprint dari penerbit haru, buku ini wajib kamu baca. Penerbit Inari adalah penerbit yang fokus pada karya lokal, dengan tema yang sederhana dan cerita yang ringan untuk pembaca remaja. Selain itu, penerbit Inari juga menerima segala jenis genre, baik itu genre drama, romance, romantic comedy, romance fantasy, suspense/thriller. Saya berharap penerbit Inari juga menerbitkan genre mental illness, salah satu genre favorit saya akhir-akhir ini ^^
Profile Image for Maggie Chen.
145 reviews85 followers
July 11, 2017
Review juga dapat dibaca di >> http://iamnumberthirteen.blogspot.co....

Seperti yang tertulis pada sinopsis, Sayap-Sayap Kecil mengangkat sebuah topik yang menurutku cukup jarang digunakan oleh penulis-penulis Indonesia, yaitu kekerasan pada anak. Yang mana, sebenarnya sangat menarik. Ceritanya sendiri memang cukup sederhana. Jumlah halaman bukunya juga tipis. Aku menyelesaikan buku ini hanya dalam sekali duduk. Dua jam dan buku ini sudah selesai kubaca.

Sayangnya, walau topiknya menarik, ceritanya yang sangat singkat membuat buku ini menjadi mudah 'dilupakan'. Sama sekali tidak meninggalkan dampak apapun padaku karena yah... Rasanya seperti baru berkenalan dengan seseorang, lalu sudah berpisah lagi. Terlalu cepat, dan sulit untuk meninggalkan kesan yang dalam.

Untungnya, penulis cukup cerdik dengan menyisipkan sebuah twist di akhir buku. Berani taruhan 100% orang yang membaca buku ini tidak akan dapat menebak twist di akhir (ini serius). Jujur aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap twist ini. Aku tidak benar-benar menyukainya karena menurutku itu cukup absurd... Tapi toh, twist itu akhirnya membuatku terus teringat dengan buku ini. Yang berarti, telah mematahkan argumenku di paragraf sebelumnya tentang 'buku yang mudah dilupakan'.

Tidak banyak yang dapat kukomentari dari buku ini sebenarnya. Karena karakter-karakternya sendiri tidak cukup unik atau menarik bagiku. Kecuali 'fetish' Lana terhadap buku harian mungkin ya... :D (just kidding). Karena bayangkan saja, Lana mungkin telah menulis buku harian sepanjang hidupnya. Sayap-Sayap Kecil yang sampai ke tangan pembaca ini adalah buku harian ke-11 Lana. In case kalian tidak tahu bahwa Sayap-Sayap Kecil ini ditulis dalam format buku harian, aku akan menegaskan bahwa Sayap-Sayap Kecil memang ditulis dalam format buku harian.

Walau aku menemukan beberapa hal yang sedikit ganjil dari segi cerita, penulisannya sendiri cukup bagus dan bahasanya juga mengalir. Sangat enak untuk dibaca :D

Pada akhirnya, aku tetap merasa buku ini cukup menghibur. Teramat-sangat ringan dan cocok untuk dibaca ketika kalian sedang book-lag. Buku ini akan menjadi buku 'transisi' yang pas untuk move on dari satu buku ke buku lainnya.

3 bintang untuk Sayap-Sayap Kecil karya Andry Setiawan

Buku ini kurekomendasikan untuk kalian yang sedang ingin membaca bacaan ringan, ingin move-on dari sebuah buku (book-lag), atau menyukai buku dengan tema kekeluargaan.

P.S: Aku juga membeli buku Kak Andry Setiawan yang satunya, When the Star Falls. Aku sudah mengintip sedikit dalamnya dan sepertinya isi serta cara penulisannya jauh berbeda dengan Sayap-Sayap Kecil. Jadi penasaran dan tidak sabar untuk membacanya! :D
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books98 followers
May 18, 2017
Sebetulnya aku suka novel dengan pace cepat seperti Sayap-sayap Patah, tapi di sini ada beberapa bagian yang kesannya terburu-buru. Termasuk bagian ending, yang harusnya jadi klimaks menarik, tapi jadi terasa kurang karena eksekusi yang kurang matang.

Terus kayaknya ada sedikit cacat logika (atau disengaja, ya?) pas di diary hari Minggu, tapi Nala malah ke sekolah dan main di atap gedung dengan Surya. Nala kan gitaran di sana setiap istirahat jam makan siang, nah ini waktu sekolah libur ngapain dia masih ke sekolah? Kayak nggak ada aktivitas lain aja. Hhh.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
April 15, 2016
"Suatu saat, iya suatu saat nanti, aku akan bekerja sendiri, hidup dengan uangku sendiri dan jauh dari Ibu. Sangat jauh, saking jauhnya sampai wanita itu tidak akan bisa menemukan diriku, bahkan mengendus keberadaanku pun tidak.
Untuk sekarang, aku rasa aku harus bertahan, setidaknya sampai aku lulus SMA."
Sayap-Sayap Kecil adalah buku pertama yang diterbitkan oleh Penerbit Inari—imprint terbaru Penerbit Haru yang akan fokus menerbitkan karya penulis-penulis Indonesia. Saat mendapat tawaran untuk me-review buku ini, aku seketika mengiakan karena ini bukanlah pertama kalinya aku membaca karya Andry Setiawan. Cerita yang mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak ini disampaikan dalam bentuk buku harian yang ditulis oleh Lana. Karena jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, alur ceritanya jadi sangat sederhana dan terfokus pada hanya beberapa karakter saja. Dengan format penulisan yang dibuat seperti sebuah buku harian atau diary, penulisnya hendak menyampaikan pesan bahwa kekerasan terhadap anak harus dihentikan. Dan di dalamnya juga terdapat kontak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bagi pembaca yang mungkin membutuhkan. Karena ditulis dari sudut pandang pertama Lana, pembaca jadi bisa mengerti dengan baik apa saja yang ia rasakan serta dilema yang ia alami karena Ibunya adalah anggota keluarga satu-satunya yang Lana punya. Misteri tentang Surya sedikit banyak bisa kutebak menjelang akhir, tetapi aku sama sekali tidak menduga ending yang disuguhkan oleh penulisnya. Keputusan yang diambil oleh Lana membuatku terkejut, terlebih lagi adegan klimaks-nya terjadi begitu cepat tanpa memberiku waktu untuk mempersiapkan diri. Aku tidak tahu harus mengkategorikan ending-nya sebagai happy atau sad ending, yang jelas ceritanya menyampaikan sebuah pesan yang kuat kepada pembaca perihal kekerasan terhadap anak.
"Manusia diciptakan untuk menyesal. Apa lagi yang bisa mereka lakukan jika sesuatu sudah telanjur terjadi? Hanya menyesal."
Karena ceritanya yang cukup singkat, karakter-karakter yang ada dalam buku ini tidak ditelusuri secara mendalam. Meski demikian, aku menyukai karakter Lana yang kuat terlepas dari situasi yang sedang ia hadapi. Aku rasa ia memiliki kepribadian yang cukup dewasa pada usianya yang masih 16 tahun. Walaupun ia berusaha untuk tetap tegar, ada pula saat-saat ketika ia merasa lelah menghadapi semuanya. Sosoknya yang rapuh ini berhasil membuatku bersimpati terhadap karakter Lana dan turut merasakan pergolakan emosi yang ia lalui. Karakter yang tidak kalah menarik adalah sosok Ibu Lana yang penuh dengan amarah dan kerap kali melampiaskan hal tersebut pada satu-satunya orang yang ia bisa, anaknya sendiri. Pekerjaannya di klub malam semakin membuatnya terpuruk dan melarikan diri pada hal-hal yang salah. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, karakter Surya dalam buku ini terasa misterius sejak awal karena tidak banyak yang pembaca ketahui tentangnya. Yang jelas Surya yang manis serta baik hati terasa seperti angin segar di tengah semua permasalahan yang terjadi.

Secara keseluruhan, buku ini mengalir dengan baik dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena jumlah halamannya tidak banyak. Seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu menikmati penulisan Andry Setiawan dan aku sangat suka dengan tema yang diangkatnya dalam buku ini. Sebelumnya, aku sudah beberapa kali membaca buku dengan tema bullying dan kekerasan dalam rumah tangga terhadap pasangan, dan aku rasa ini adalah kali pertama aku membaca cerita tentang kekerasan terhadap anak. Lewat buku ini aku sadar bahwa kekerasan terhadap anak masih banyak terjadi dalam lingkungan sekitar kita, dan hal ini merupakan isu yang harus segera ditindaklanjuti. Semoga ke depannya tidak ada anak-anak lain yang bernasib sama seperti Lana.

Profile Image for Orinthia Lee.
Author 12 books123 followers
October 27, 2015
Review ini juga bisa dibaca di sini

Sayap-Sayap Kecil adalah sebuah cerita tentang seorang gadis remaja bernama Lana Wijaya yang hidup berdua dengan ibunya. Sewaktu ia masih kelas 6 SD, ibunya membawa ia kabur dari ayahnya, dan selama lima tahun Lana hidup di bawah pukulan dan siksaan batin dari ibunya. Masalah sepele seperti lupa menyiapkan makan siang saja bisa membuat ibunya naik pitam, memukuli Lana, dan mengata-ngatai putrinya itu dengan makian yang tidak pantas diucapkan oleh seorang ibu.

Karena begitu sering ia pergi ke sekolah dengan memar di tubuhnya, Lana memutuskan untuk tidak berteman dengan siapa pun, ia bahkan sengaja menyendiri saat jam istirahat dengan membawa bekal dari rumah sehingga ia tidak perlu ke kantin. Semua itu semata-mata agar tidak ada temannya yang tanpa sengaja melihat memar di tubuhnya lalu bertanya-tanya dan melaporkan tindak kekerasan ibunya pada guru karena hal itu malah membuat amarah ibunya semakin parah.

Cerita ini ditulis dalam bentuk buku harian, di mana Lana sehari-hari mencurahkan isi hatinya di sana.

Suatu hari, saat Lana sedang menyendiri di tempat rahasianya sambil bernyanyi dan bermain gitar, Surya tiba-tiba muncul dan sejak hari itu selalu bersama-sama dengan Lana. Surya membuat hari-hari Lana terasa lebih menyenangkan, dan bahkan membuat Lana menyukai Surya. Sayangnya, hal tersebut tidak mengubah ibunya. Semakin hari kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, pukulan yang diberikan semakin menyakitkan.

Cerita di buku ini buat saya sangat realistis. Banyak di luar sana anak-anak korban penganiayaan yang tidak mau membongkar kasusnya karena pemikiran yang sama dengan Lana, yaitu takut kehilangan orangtua. Hal ini membuat saya bisa mengerti mengapa Lana begitu keras kepala menyembunyikan perlakuan ibunya dari orang-orang. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan. Semoga saja lewat buku ini akan ada banyak mata yang terbuka. Semoga anak-anak yang senasib dengan Lana mendapatkan perlindungan yang layak.

Ending cerita ini merupakan twist tersendiri yang membuat cerita ini jadi berbau fantasi ringan. Tidak buruk, kok. Menurut saya ending ini menyenangkan. Senang sekali membaca sebuah buku tipis yang ringan namun meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Saya sangat merekomendasikan buku buat kalian yang sedang membaca review ini.

Last but not least, buku ini adalah buku pertama yang diterbitkan oleh Penerbit Inari, imprint dari Penerbit Haru yang akan menerbitkan karya-karya penulis Indonesia. Semoga buku-buku berikutnya lebih baik lagi dari ini! Terima kasih untuk kepercayaannya pada Orinthia's Bookshelf untuk membaca dan mereview Sayap-Sayap Kecil.


XOXO,

Orinthia
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
November 22, 2015
"Sayap-Sayap Kecil" bercerita tentang Lana, seorang gadis SMA yang tinggal bersama ibunya, seorang pekerja dunia malam yang sering mabuk, menggunakan obat terlarang, serta memukul Lana. Pelarian Lana adalah buku harian serta gitarnya. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Surya, kakak kelas sekaligus tetangganya yang misterius.

"Sayap-Sayap Kecil" ini adalah buku pertama dari Penerbit Inari, lini anak dari Penerbit Haru yang fokus untuk menerbitkan karya penulis Indonesia dengan tema yang sederhana dan cerita yang ringan.

Aku, seorang gadis dengan lebam di lengan kanan atas, kini duduk bersila di atas beton hangat, diteduhi oleh tangki air sambil memeluk gitar dan menyetemnya. (hal. 17)


Novela dari Andry Setiawan kali ini mengangkat tema kekerasan pada anak serta Sindrom Stockholm. Lana menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke sindrom itu, karena walau dia sering disiksa, dia tetap mempertahankan ibunya dan tidak menyalahkan wanita itu.

Plotnya diuraikan dalam bentuk catatan harian Lana. Cara ini membuat cerita menjadi ringkas, mudah dibaca, dan memberi gambaran tentang kehidupan gadis itu. Walau menarik, cerita ini juga membuat pembaca merasakan jarak dengan Lana bahkan dengan POV 1 yang dipakai.

Ceritanya cukup kena buat saya. Warna cerita dan suasananya dekat dengan Remedy sehingga saya langsung merasa klop. *eh, ini bukan promo colongan, kok

Twist di tengah ceritanya lumayan menarik. Saya, sih, maunya bagian itu dipanjangin lagi. Kayaknya menarik kalau Lana terjebak pada dilema itu.

Untuk akhir ceritanya, perasaan saya agak tercampur. Di satu sisi menarik, tapi di sisi lain terasa kurang persiapan. Kesannya tiba-tiba saja bagian ini muncul tanpa tedeng aling-aling.

Secara keseluruhan, saya suka dengan novela ini. Ceritanya punya pesan kuat yang sampai ke pembaca. Mungkin kalau dipanjangkan dan masalahnya lebih diperumit lagi, ceritanya bisa lebih bagus lagi.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Callenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
November 3, 2015
Selesai dibaca dalam sekali duduk. 124 halaman yang menarik! Walaupun tidak bikin saya ngasih 4 bintang, buku ini bikin saya looking forward banget ke Penerbit Inari. Bau-baunya penerbit ini beda dari yang lain. Ditunggu buku-buku selanjutnya!

PS:
Lebih banyak drama remaja dan fantasi lokal, plis ;)
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
December 2, 2015
“Memisahkan diri dari lingkar pertemanan adalah hal yang mudah, dibandingkan dengan mencari teman.”

Novel ke-2 penulis yang kubaca setelah Then I Hate You So. Novel yang cenderung tipis tetapi tema yang diangkat cukup berat. Novel ini mencoba memotret "Kekerasan terhadap anak". Isu yang memang sedang hangat akhir-akhir ini.

Membaca kisah Lana ini sungguh mengalir. Halaman yang cenderung sedikit dan gaya menulis berbentuk buku harian membuatku sebagai pembaca begitu larut terhadap kisah Lana. Lana, seorang gadis remaja yang hidup bersama dengan ibunya. Lana seharusnya menjadi seorang gadis yang bahagia, apalagi masa remaja adalah masa yang paling menyenangkan.

Sayangnya, Lana harus menerima kenyataan bahwa ibunya suka memukuli dirinya, dengan alasan yang kadang-kadang tidak jelas. Ibunya adalah seorang penari di sebuah klub, tekanan pekerjaan dan harus menghidupi dirinya dan Lana membuat ibunya sering mabuk-mabukan dan akhirnya malah melakukan pemukulan terhadap Lana, putri satu-satunya. Lana pun harus menerima sekujur tubuhnya dipenuhi lebam-lebam dan Lana tidak ingin siapa pun tahu.

Lana pun tak bisa berbuat apa-apa. Lana pun memilih mencurahkan seluruh perasaannya melalui sebuah buku harian. Lana berusaha menjaga jarak dengan teman-teman sekolahnya, karena tidak ingin teman-temannya tahu mengenai kondisinya. Apalagi sampai melaporkan perbuatan ibunya.

Bukannya Lana takut terhadap ibunya, tetapi Lana hanya mempunyai ibunya. Lana tidak ingin hidup sebatang kara. Lana bertekad untuk menyelesaikan sekolahnya dan akan meninggalkan ibunya ketika dia sudah bekerja nanti.

Hingga suatu hari, Surya hadir dalam kehidupan Lana. Surya adalah kakak kelas Lana sekaligus tetangga barunya. Surya yang misterius perlahan-lahan memasuki kehidupan Lana dan membuat Lana bisa berbagi perasaannya hingga rahasia terdalamnya tentang perbuatan ibunya. Surya pun akhirnya membuat Lana nyaman dan Lana pun menyukainya.

Sampai kemudian ibunya melakukan pemukulan lagi terhadap Lana dan berakibat fatal. Lana pun harus memilih...Pilihan apa yang akan diambil oleh Lana? Bagaimana akhir kisahnya?

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membaca novel ini. Aku begitu larut dengan kisah Lana. Aku bisa merasakan apa yang dialami oleh Lana. Bagaimana pun tidak mudah menjadi Lana, apalagi Lana masih bergantung terhadap ibunya dan ibunya adalah satu-satunya orangtua yang Lana miliki. Tetapi tetap saja itu tidak membenarkan semua yang dilakukan ibunya.

Penulis cukup sukses memotret isu kekerasan terhadap anak melalui kisah Lana. Pesan moral dalam novel ini cukup mengena dan tersampaikan dengan baik, bahwa kekerasan terhadap anak harus segera dilaporkan agar tidak ada Lana-Lana lainnya yang menjadi korban.

Menjelang ending, aku cukup terkejut dengan twist yang dihadirkan oleh penulis. Jujur, aku tidak menyangka bahwa akan diakhiri seperti itu membuat novel ini menjadi "berbeda".

Bagi kamu yang ingin membaca novel pertama dari Penerbit Inari, aku rekomendasikan buku ini. Novel remaja yang ringan tetapi "berisi". Semoga jatuh cinta dan bisa mengambil hikmah dari kisah Lana.^^
Profile Image for Shanya Putri.
346 reviews160 followers
February 3, 2018
13th book of 2018!

Finished this is one sitting.
Thanks to Gramedia Digital!
Udah lama kepengen beli, tapi kegeser sama wishlist lain, hehe.

Formatnya unik, seperti diary. Ada tanggal, bulan, dan tahun. Jadi rasanya kita tuh lagi baca diary-nya Lana.

Ceritanya ringan banget. Agak kecewa sih, sama ending-nya. Seperti terlalu diburu-buru. Coba aja ceritanya di-"lebarin" lagi. Pasti bakal jadi remarkable banget. Aku juga rada nggak setuju sama ending-nya...



Udah. Gitu aja.
Profile Image for Stef.
590 reviews190 followers
June 16, 2018
Buku pertama ko andry yang ku baca. Sebenernya topik tema utama nya lumayan bagus, perihal kekerasan di dalam keluarga yang di lakukan oleh orang tua, terutama di keluarga broken home yang mana si anak menjadi korban perubahan emosi yang terbilang labil dari ibu nya.

Selain itu, format penulisan cerita nya yang berupa seperti penulisan buku diary, yang mengambil sudut pandang dari Lana si tokoh utama nya. Jujur saja aku kurang menikmati gaya bahasa tokohnya disini sedikit kaku dan awkward di beberapa bagian dan juga ending cerita nya yang kerasa banget diburu-buru untuk selesai, padahal sebagai pembaca aku merasa masih ada beberapa konflik yang belum terjawab. 😮
Profile Image for Aya Aruki.
44 reviews4 followers
January 30, 2016
menahan diri untuk tidak memberi rating dulu. msh emosi...
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
July 27, 2019
2,6 bintang.

Ngg... sejujurnya saya punya love-hate feeling sama buku ini. Dibilang suka, tapi banyak yang bikin saya sebel. Dibilang nggak suka, tapi saya cukup suka sama tema dan plot twist-nya, wkwkwk. *dasar pembaca plin-plan*

Jadi... 2 bintang cukup lah ya hehe 2 bintang kalo di Goodreads artinya it was okay kok (dan buku ini memang was okay to me).

Saya jabarkan dalam poin-poin aja ya biar enak bacanya. Oh ya, buku ini mengandung pendapat pribadi jadi kalian boleh sependapat dengan saya ataupun tidak. :)

PROS (+)

1. Tema
Seperti yang udah saya bilang, tema cerita ini lumayan unik dan saya temuin di novel-novel remaja lainnya. Tentang kekerasan orangtua pada anak.

Nyeritain tentang cewek SMA bernama Lana yang tinggal sama ibunya. Orangtua dia udah pisah. Nah, Lana ini sering banget disiksa sama ibunya. Dan narasi penyiksaannya lumayan blakblakan sehingga jadi kerasa feel kepengin nyeret ibunya Lana ke kantor polisi, wkwk.

2. Format
Buku ini formatnya unik: diary. Gaya bahasanya jadi seolah-olah Lana ini lagi cerita ke pembaca lewat buku hariannya, terlebih karena bukunya pake sudut pandang orang pertama (Lana).

3. Plot Twist
Nggak perlu ngomong banyak-banyak lah ya kalo bagian ini. Takut spoiler. 😂 Tapi intinya plot twist buku ini AWALNYA ngingetin saya sama salah satu buku favorit. Untungnya ternyata nggak sama persis. Dan bikin saya terkejut hehe.


CONS (-)

1. Kurang Panjang
Ini amat disayangkan sih karena halaman Sayap-sayap Kecil cuma 125. Untuk ukuran novel (apalagi dengan konflik agak rumit), segitu kurang panjang. Serius. Banyak adegan yang terasa diburu-buru sehingga kurang natural.

2. Insta-Love
Ini masih nyambung sama poin nomor 1. Kayaknya sih faktor halaman juga ya makanya kisah romansa di buku ini terasa kecepetan. [SPOILER ALERT!!!] Lana baru ketemu 3 hari sama Surya (kakak kelasnya yang baru pindah), terus langsung ngaku jatuh cinta... :)) iya sih, pepatah jatuh cinta pada pandangan pertama emang ada, cuma entahlah. Feel-nya bener-bener kurang nampol di saya. Terlebih lagi dengan latar belakang Lana yang sering disiksa ibunya. Segampang itukah dia untuk membuka hati?

Yha, intinya saya kurang bisa relate aja sama bagian ini. 😅 Dan insta-love sepertinya memang bukan secangkir teh saya.

3. Karakter
Ini nih yang bikin saya punya love-hate feeling. Saya nggak begitu bisa nyambung sama Lana. Oke, cara dia bercerita emang asik. Tapi saya gregetan karena dia pasrah aja disiksa ibunya. Memang sih, alasan dia pasrah cukup masuk akal. Tapi ya itu tadi... saya gregetan. 😂 Tapi karena alasan masuk akalnya itu, saya masih bisa memaklumi.

Yang bikin saya pengin ngunyah buku ini (sayangnya saya baca via Gramedia Digital) adalah karakter ibunya Lana. Dia ini emang dari lahir udah jahat ya? Saya emosi sendiri kalo udah ada adegan dia nyiksa Lana.

4. Plot Holes
Balik lagi ke poin nomor 1, karena ceritanya kurang panjang maka cukup banyak bagian yang meninggalkan lubang alias... plot hole.

[SPOILER ALERT!!!] Saya masih mempertanyakan asal usul Surya, kabar ibu Lana setelah pake narkoba (dia akhirnya direhab atau dipenjara?), perpisahan orangtua Lana yang nggak begitu jelas dari kapan, dan latar belakang lainnya yang membuat cerita ini terasa ngambang.

[SPOILER ALERT!!!] Oh ya, saya juga nggak ngerti kenapa ibu Lana sebenci itu sama Lana. Masa cuma gara-gara Lana mau ngerebut posisinya sebagai penari di diskotek (yang bahkan bukan fakta)? Ayahnya Lana sempet bilang sih kalo ibu Lana berubah sejak dia kerja di "dunia malam" itu. Tapi... saya nggak bisa ngeraba kenapa-nya. Again, a plot hole.


Sekian ulasan dari saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Semangat terus ya untuk penulisnya. :)
Profile Image for Maria.
179 reviews882 followers
June 11, 2017
Sayap-sayap kecil mengangkat cerita tentang kekerasan pada anak dalam keluarga. Di sini menceritakan Lana yang tinggal berdua dengan ibunya yang suka memukul Lana dalam keadaan emosional dan kemudian meminta maaf keesokkan harinya.
.
.
Menurutku ide ceritanya sudah menarik, tetapi karakter Lana membuatku bingung. Yang aku tahu berdasarkan cerita yang kubaca (bukan dari riset ya, jadi belum tentu ini fakta) untuk orang seperti Lana biasanya mereka antara anak yang populer dan ceria atau anak yang pendiam dan dibully. Tapi di sini, dia cukup periang dan punya teman, tetapi ada bagian dia mengatakan ingin menarik diri dari pertemanan. Dan dia itu masih sekolah. Setahuku jika ada anak yang terus menolak ke kantin, lama-lama dia akan menyendiri karena dijauhkan juga. Terus kalau karena dia bawa bekal dan tidak ke kantin, bukannya bisa dia bawa bekalnya dan ke kantin ya? Nah, tambahan, dia bilang mau menarik diri, tapi dia bisa membawa gitar (dan btw, gitarnya itu dari mana? Karena setahuku gitar itu kan tidak murah juga... apa itu pinjaman ya?). Jadinya aku agak bingung... untuk bagian plot twistnya, entah kenapa aku tidak mengharapkan 'hasil' seperti itu sih. Seperti tidak ada pengarahan ke sana dan tahu-tahu itu muncul... walau aku lebih mengharapkan 'akhir' yang lain sih...
.
.
Yang kusuka dari novel ini ide ceritanya unik dan dikupas dalam gaya bahasa yang ringan dan mengalir. Kemudian penyampaian yang unik menggunakan diari. Ditambah dengan detail tanggal yang ada di setiap bab. Membuatku terkadang harus bolak balik untuk memastikan supaya tidak salah. Salut deh untuk ini, soalnya aku takut ada permainan tanggal nantinya 😱😅 .
Profile Image for Erny Binsa.
6 reviews1 follower
May 24, 2017
Novel yang unik. Karena isinya seperti buku diary dan aku membacanya dalam sekali duduk, mungkin karena memang bukunya tipis jadi tidak terasa sudah selesai saja.

Awalnya aku pikir ini buku catatan harian biasa , seperti membaca tulisan-tulisan ringan lainnya. Sederhana, tetapi entah kenapa karakternya terlalu biasa. Namun, gaya penulis bercerita aku suka dan twist ending yang tidak terduga...
Profile Image for Nurul.
310 reviews38 followers
February 23, 2018
2,6 bintang. Penceritaannya menarik karna lewat diary tapi ya sayangnya alurnya ada yang mudah ditebak dan twistnya kurang pas aja, endingnya juga kurang memuaskan jadi terkesan terburu-buru dan ada beberapa plot hole. Tapi saya suka novel ini mengangkat tentang keluarga juga tapi saya kurang greget dan kurang dikemas dengan baik aja karna apa ya jujur aja saya nggak ngerti alasan Mama Lana yang mukulin Lana terus
Profile Image for Fataya.
Author 3 books17 followers
July 11, 2018
Membaca buku harian ajaib Lana seperti bukan membaca buku harian. Cukup mengasyikan sampai kau bertemu dengan hal yang tak pernah kau sangka.
Profile Image for Desti Astiani.
123 reviews13 followers
November 4, 2018
Ending cerita yang sungguh sangat mengejutkan.
Kutipan favorit:
"Kau harus tahu bahwa tidak semua niat baik akan dibalas dengan kebaikan pula." - (Hal. 111)
Profile Image for April Cahaya.
Author 2 books11 followers
February 5, 2018
Ringan khas kehidupan remaja gitu. Ada manis2nya saat Lana mulai bertemu dengan si cowok itu. Sedih juga karena perlakuan ibunya Lana pada gadis malang itu.

Awalnya aku suka dengan ceritanya, tapi aku kecewa dengan ending ceritanya.

Gimana ya? Yah, mungkin si penulis pengin menciptakan twist, tapi kurang pas aja.

2.5🌟
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
January 17, 2016
Judul: Sayap-Sayap Kecil
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Inari (Imprint Haru)
Terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2015
Tebal: 124 Halaman

Lana Wijaya adalah siswi kelas sebelas SMA. Ia menjalani hari-hari sebagai gadis yang biasa saja, punya banyak teman namun selalu menjaga diri agar dirinya tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Dikarenakan satu hal, ibunya selalu menyiksanya. Setiap hari kadang Lana merasakan hidup bagai di neraka, dia sering menerima pukulan dan bentuk kekerasan lainnya dari ibunya sendiri, dan kekerasan itu terjadi di bagian-bagian tubuh Lana yang biasa tertutupi, seperti di punggung, paha, dan lengan atas. Ibu Lana memang hebat saat menyiksa Lana, terbukti ia sampai memikirkan hal sejauh itu, demi menghindari kecurigaan orang lain yang berpotensi bersimpati pada Lana dan akan melaporkannya ke pihak berwajib.

Hari-hari Lana berubah ketika ia berteman dengan lelaki misterius yang mengaku kakak kelasnya juga tetangga barunya. Dia bernama Surya. Lelaki itu selalu berusaha mendengarkan Lana yang sering bernyanyi sambil memetik gitarnya di atap gedung sekolahnya. Surya selalu bisa Lana jahili meskipun ia kakak kelasnya, Surya sering melihat Lana mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari ibunya, Surya menyarankan Lana untuk melaporkan ibunya ke kantor polisi, namun Lana menolak. Dan sederet penyiksaan masih akan tetap terjadi sampai Lana sadar bahwa ibunya memang tidak pernah menyayanginya, walaupun Lana sudah melakukan hal-hal terbaik dan terbijaksana sekalipun.

Kisah Sayap-Sayap Kecil akan memberikan pesan pada kita bahwa sesungguhnya hal-hal terbaik dalam kehidupan remaja adalah saat mereka bisa menjalani kehidupan normal dan mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtua. Tokoh Lana dalam kisah Sayap-Sayap Kecil pun mencoba mengajak kita untuk melakukan balas budi kepada orang yang telah memberikan kita penghidupan meskipun bukan dengan cara-cara yang bisa dibilang memanusiakan. Kadang, seorang anak memang akan berpikir bahwa hal terbaik untuk orangtuanya adalah menuruti banyak hal yang diinginkan, meskipun terkadang tak masuk akal dan malah memberikan banyak efek negatif kepada si anak sendiri.

Novel Sayap-Sayap Kecil juga mencoba mengajak kita untuk peka bahwa di sekeliling kita masih terjadi berbagai kekerasan. Sangat disayangkan ketika menimpa anak-anak atau remaja, karena mereka masih dalam taraf pengembangan karakter, mental, dan fisik. Novel ini seperti mencoba menggugah kita bahwa ketika kita melihat bentuk kekerasan di sekeliling kita, alangkah baiknya kita tidak diam sebelum hal-hal tak diinginkan terjadi.[]
Profile Image for Naomi Chen.
228 reviews14 followers
October 21, 2015
Ini novela pertama dari Penerbit Inari.

Dengan kapasitas halaman yang ga banyak, saya bisa tersentuh oleh banyak hal yang tertulis di dalamnya.

1. Perasaan seorang gadis remaja yang menjadi korban kekerasan. Ternyata gak selamanya sudut pandang yang mengatakan bahwa 'seorang anak korban KDRT harus diselamatkan sesegera mungkin' itu mengandung kebenaran. Kadang kita melupakan faktor bahwa korbannya pun merasa takut atau semacamnya seandainya ayah/ibu mereka yang melakukan kekerasan 'diambil' dari hidup mereka dan membuat mereka sebatang kara.

2. Tema Kekerasan Dalam Anak memang lagi booming, tapi ini adalah hal yang sering terjadi dan tanpa kita sadari, diam-diam sering terjadi di sekitar kita. Termasuk bullying sekalipun!

3. Terkadang kita butuh kesedihan untuk merasakan kebahagiaan. Ini adalah pelajaran dari film inside out yang bisa diterapkan di crt novel ini juga (dengan sudut pandang yg agak berbeda). Kadang, kita butuh membuat orang merasa 'sedih' dan 'jera' karena kehilangan untuk membuatnya menjdi lebih baik.

4. Hati-hati dengan sembarang orang yang kamu temui.... ngga selamanya akan mereka berniat baik padamu meskipun mereka bersikap manis. Atau mungkin kamu perlu mencurigai.. bahwa sebenarnya mereka bukan...


Cukup sudah. Baca novela ini membuat saya jadi keinget sama kebiasaan saya wkt SMA dulu, yang sama seperti Lana lakulan. Menulis buku harian di kelas supaya 'tersamar' oleh lingkungan sekitar. Bedanya... kalau buku harian saya dikode/passlock dan membuat temen-temen sekelas jadi pada kepo buat nebak kodenya. Hahaha.
Dan baca novela ini juga membuat saya keinget sama Satoshi Ohno nya ARASHI di J-dorama Shinigami-kun. Jangan tanya kenapa... hahaha....
Profile Image for Fitra Aulianty.
154 reviews4 followers
October 27, 2015
Walaupun halamannya sedikit, tapi secara tidak langsung ada nilai moral yang terkandung di dalamnya. Tentang kasus yang saat ini sedang heboh-hebohnya di tv, kasus kekerasan pada anak--verbal dan nonverbal, atau keduanya.

Seorang anak yang sebenarnya sangat menghormati ibunya, tapi dia juga benci pada wanita tersebut. Anak yang bercita-cita segera lulus SMA agar bisa keluar dari rumahnya dan menghilang dari kehidupan ibunya. Ibunya tidak menyayanginya, tapi Lana selalu memikirkan ibunya. Dan setiap ada orang lain yang menyadari lebam di tubuhnya, Lana selalu menjawab ibunya memukul untuk mengajarinya--yang menyiratkan Lana menyalahkan dirinya sendiri atas pemukulan tersebut.

Kesimpulan ceritanya juga bagus. Adakalanya seorang anak harus membuat keputusan yang besar dan adakalanya juga seorang anak harus bisa menemukan jalan lain yang lebih baik. Karena pada dasarnya seorang anak harus menjalankan kewajibannya dan mendapatkan haknya. Dan seorang anak harus bahagia. Karena mereka hanyalah anak-anak.
Profile Image for Fitriscia.
15 reviews2 followers
June 8, 2016
Full review: https://twinieblio.wordpress.com/2016...

Tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Tema yang diangkat membuatku tertarik membaca buku ini. Sudah lama diendapkan, akhirnya kesampean juga dibaca XD

Secara keseluruhan aku menikmati membaca buku ini. Seperti konsepnya, aku benar-benar seperti sedang membaca diary dari Lana. Aku suka gimana buku ini ditulis, benar-benar terasa kesan diarynya.
Tapi karakter-karakter di buku ini kurang kenaaaa gitu. Gimana ya hmm.... Begitulah. Kurang sampai aja ke aku dengan karakter-karakter mereka ini.
Kemudian tentang twist diakhir cerita yang penulis lakukan. Hmm... Cukup terkejut juga. Aku kira Sayap-Sayap Kecil hanya merujuk pada judul lagu ciptaan Lana, ternyata ada maksud lainnya....
Sebenarnya cukup kecewa Lana memutuskan untuk mengambil pilihan 'itu' :( Tapi, aku tetap terhibur kok dengan cerita ini :)

Secara keseluruhan, lumayan membaca buku ini, buat refreshing sejenak dari pikiran deadline tugas yang semakin dekat XD

3 bintang untuk Lana! :)
Profile Image for Niratisaya.
Author 3 books45 followers
November 18, 2015
Saya luruh pada pandangan pertama begitu novel ini diluncurkan di medsos. Kedua, karena blurb-nya, tentu saja.
Isinya sendiri membuat saya mengalami dilema, antara pengin lebih banyak lagi porsi cerita Lana dan Surya, dan merasa "oke, ini sudah cukup". Overall, untuk interaksi para tokoh dan perkembangan cerita yang nggak disangka-sangka: 4 bintang.

Read longer version of the piece of my mind on Sayap-Sayap Kecil here
Profile Image for Oktabri.
147 reviews4 followers
December 15, 2015
selesai dalam satu jam lebih agak banyak, sesuai dengan jumlah halaman bukunya yang gak terlalu banyak. suka sekali sama keseluruhan ceritanya, menduga-duga ke mana cerila lana ini akan dibawa, eh ternyata endingnya.... duh, plot twist banget! padahal udag banyak hint dibagikan sejak awal cerita dimulai. oh iya, aku mendapatkan buku ini langsung dari penerbitnya (Inari, imprint Haru) dan membacanya dalam rangka #InariInstagramBookTour jadi bisa dilihat ulasanku lebih mendetail tentang buku ini di akun instagram-ku @0ktabri (pakai nol bukan huruf o).
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
January 16, 2016
2.75 bintang
Lumayan untuk bacaan ringan
Profile Image for Rain.
106 reviews18 followers
December 20, 2015
novel kedua karya kak Andry yg kubaca. dan nggak ketebak! lagi!
twistnyaaaa
Profile Image for Bookish Dungeon.
105 reviews
June 16, 2019
“Manusia pada akhirnya harus menghadapi semuanya sendirian, walaupun dikelilingi banyak orang.” Lana (hal 15)

👪👪

Sayap-Sayap Kecil merupakan buku harian atau diary milik cewek Lana Wijaya. Menurut author buku diary ini sangat istimewa, karena cewek yang akrab dipanggil Lana itu dengan santai menuliskan kisahnya dalam buku hariannya dipublik. Yang wajarnya menulis buku harian itu harusnya dituliskan ditempat rahasia, saat menulisnya tidak berkoar-koar memberitahukan bahwa sedang menulisnya. Tapi penulis membuat sosok Lana sungguh berbeda. Penulis justru membuat sosok Lana mempersilakan siapapun yang ingin membaca diarynya, karena yang dituliskan semuanya berdasarkan fakta yang dialaminya. 

Lalu apa isi harian Lana? Isi hariannya hanya berputar keluarga, sekolah, dan Surya.

Sebenarnya tidak banyak yang berbeda seperti kebanyakan remaja yang menjalani kehidupan SMA hanya yang membedakan kehidupan dimasing-masing rumah setiap remaja itu berbeda. Dan cewek itu mengalami broken home. 

Buku harian Lana mengulas seluruh kehidupannya, mengenai kekejaman ibunya yang setiap hari selalu saja memukulinya hanya karena kekesalan ibunya ditempat kerja, pertemuan dengan sosok cowok bernama Surya hingga pertemuannya kembali dengan ayahnya yang menghilang sejak Lana duduk dibangku 6 SD.  

Kita bahas dulu mengenai kehidupan Lana di sekolah. Kehidupan sekolah bukan kehidupan sekolah yang sering dialami remaja umunya. Lana lebih sering menyendiri diatap sekolah, hanya berbekal makanan rumahan dan gitar kesayangannya ia bertahan hingga sekarang. Duduk dan menikmati kesendiriannya. Hingga suatu waktu kemunculan Surya pun cukup merubah kehidupan Lana. Ia mempunyai teman cerita dan teman disaat istirahat sekolahnya. Tak disangka, Surya yang merupakan kakak kelasnya tinggal disamping rumahnya alias tetangganya. Hubungan mereka begitu dekat, berangkat sekolah bersama, istirahat bersama, hingga sebelum tidur pun mereka berdua sempatkan untuk berbincang sebentar. Dan Lana pun jatuh cinta pada sosok Surya. 

Berpindah sebentar pada kehidupan keluarganya. Broken home sudah dirasakan oleh Lana semenjak dia duduk bangku 6 SD. Ibunya membawa kabur Lana dan ayahnya menyerah untuk mencari ibunya dana Lana. Alasan ibunya membawa kabur Lana hanya karena ayahnya melarang dan menyuruh ibunya berhenti bekerja di dunia malam. 

Selama hidupnya dengan ibunya, Lana selalu menerima pukulan dari ibunya disaat ibunya kesal dengan pekerjaannya. Lana selalu menghindari berinteraksi dengan ibunya sebisanya. Ia berpura-pura tidurnya saat ibunya berangkat bekerja, ia bangun pagi saat ibunya pulang dan sudah tertidur pulas. Luka lebam-lebam itu pernah diketahui oleh salah satu teman kelasnya dan melapor pada wali kelasnya. Lana berusaha mati-matian mengatakan bahwa dirinya begitu bandel dirumah sehingga ibunya terpaksa harus menggunakan kekerasan untuk mendisiplinkannya. 

Bagaimana dengan Surya? Apa Surya mengetahui luka lebam yang dimiliki Lana? Ya dia mengetahuinya. Bahkan Lana yang beranggapan Suryalah yang sudah melaporkan kasus dirinya pada KPAI yang pernah melakukan penyuluhkan di sekolahnya.

 Itu sebagian peristiwa penting yang terjadi didalam buku harian Lana? Sisanya kalian bisa baca sendiri, author tak ingin men-spoiler terlalu banyak. Mengenai ending itu SANGAT TWIST SEKALI. Rata-rata review terdahulu mengatakan endingnya TWIST sekali, dimana Surya adalah malaikat pencabut nyawa dan yang mengajak Lana untuk menjadi bagian bersamanya. Dan Lana menentukan pilihannya untuk—author potong disini, kalian harus membacanya dulu. Karena tidak akan mengaduk perasaan jika kalian mengetahui pilihan Lana sebelum membaca buku hariannya. 

👻👻

“Setiap orang perlu pelajaran yang keras—“ Surya (hal 117)
Displaying 1 - 30 of 60 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.