“Kurasa aku benar-benar jatuh cinta. Aku tahu ini sangat konyol. Aku hampir selalu mencemooh pembicaraan soal cinta selain pernyataan tentang betapa palsunya kata itu. Kurasa ini yang namanya ironi.”
Matteus MacGregor tak pernah percaya pada cinta—pernikahan yang dilandasi cinta. Meskipun ia menginginkannya, itu sama seperti ingin bertemu seekor unicorn. Namun, tanpa ia sadari, Kimberly Tuddles menyelusup ke hatinya.
Namun, Kimberly Tuddles adalah pelayannya. Hubungan cinta antara majikan dan pelayan dan majikan adalah skandal besar di kalangan bangsawan Inggris pada zaman Victoria, tahun 1800-an. Bagaimana cara Matteus dan Kimberly meraih kebahagiaan dan cinta mereka di tengah situasi sosial yang demikian?
Untuk kategori hisrom YA dan menimbang betapa muda usia penulis yang menulis cerita sedetail ini ya saya merasa salut. Hanya saja saya menemukan kejanggalan yang mengganggu Pertama, mengenai teknologi antara rentang 1802-1807. Kereta api ditemukan setelah adanya penemuan mesin uap oleh James Watt tahun 1825 (kalau tidak salah ingat) dan bahkan saat itu teknologi piringan hitam belum dikenal sampai saat ditemukannya plastik dan teknologi elektromagnetik namun berkali-kali saya menemukan penggunaan kereta api juga piringan hitam, ini sungguh mengganggu. Kedua, disebutkan mengenai era victorian padahal era victoria baru dimulai tahun 1837, bahkan saat terjadinya cerita butuh 30 tahun lagi buat masuk ke era itu. Yang benar era ini adalah era regency (referensi saya dari wikipedia) dimana era ini dipimpin oleh pangeran regent yg bertindak sebagai mandat raja. Walau mungkin pembaca awam bisa menerima tetapi sebagai pembaca getol historical romance, saya agak cerewet soal historisnya. Dari segi cerita saya menilai ceritanya memiliki penokohan yang kurang kuat, namun bisa saja hanya karena usia karakter yang masih di bawah umur dalam cerita ini sehingga saya mencoba meyakinkan diri kalau itu tidak penting tapi ya tetap saja sedikit tidak pas dengan cara berpikirku. Bagaimana anak-anak umur 17 tahun bisa begitu naif dalam memandang cinta dan dunia, itu mungkin agak membuat saya gagal paham. Namun, sekali lagi mungkin hanya saya yang merasa demikian. After all, saya sangat terhibur dengan cerita dan sisipan-sisipan puisinya juga detail mengenai setting tempat yang baik. Walaupun saya tidak menyukai endingnya, namun saya memuji pengarang atas kerja kerasnya menjadikan buku ini cukup baik untuk dibaca. Tetap semangat berkarya dan semoga karya berikutnya bisa lebih baik.
Dear Miss Tuddels • Ginger Elyse Shelley • 224 hlm. • Penerbit Kaktus (Diva Press) • Baca di iPusnas.
Ginger Elyse Shelley adalah nama pena dari Ziggy Zezsyazeoviennazabrizki. Setelah membaca beberapa buku-bukunya, bahkan karya yg menggunakan nama pena ini (bukunya berjudul My Name is Luca), aku jadi amat tertarik membaca buku ini. Ternyata, vibe-nya amat berbeda. Buku ini pure romance, hisrom tepatnya, jarang banget Ziggy nulis pure romance, bahkan JSP aja tipis-tipis romance-nya. Mengambil latar waktu 1802-1807 di era Victoria, kata blurbnya, tapi setelah aku google era Victoria tuh mulainya 1837. Ah, sudahlah, minor aja ini.
Kimberly Tuddels adalah seorang pelayan yg bertugas khusus melayani Matteus Macgregor. Awalnya, Kimberly hanya membantu Granny Catarina, pengasuh Tuan Muda, namun karena usia Granny yg tidak lagi muda, maka Kimberly Tuddels pun menggantikan beliau sepeninggalnya.
Granny Catarina mendidik Tuan Muda Matteus agar memperlakukan wanita seperti lady. Bahkan, Tuan Muda Matteus--Matthew--mengajarkan Kimberly banyak hal, salah satunya adalah membaca dan meminjamkannya buku-buku. Tidak pernah merasa dekat dg orangtuanya, Matthew hanya mendapatkan kasih sayang tulus dari Granny Catarina dan Kimberly Tuddles, perasaan ini lambat laun berubah menjadi cinta. Sebuah skandal besar mengingat keluarga Macgregor adalah bangsawan ternama dan Matthew sedang di puncak popularitas saat itu. Hubungan cinta majikan-pelayan ini pun mendapatkan rintangan yg tdk main-main.
"Sejak kapan cinta bisa salah, Nak? Tidak. Tidak. Cinta memang seperti itu. Muncul di kondisi terburuk, tapi kita tak pernah ingin menyalahkannya." - hlm. 172.
.
Baca buku ini tuh serasa baca buku hisrom terjemahan. Aku bahkan sempat kesulitan saat awal-awal baca karena diksinya yg kaku dan di beberapa bagian sulit dimengerti. Tapi detail dan selipan-selipan puisi maupun musik klasik bikin makin percaya kalo aku tuh lagi baca buku terjemahan. Page turner, nagih, menghanyutkan. Ngalir aja gitu. Tau sendirilah ya, gimana jagonya Ziggy bikin pembaca hanyut dalam cerita yg dia buat.
Sudah bisa ditebak bagaimana endingnya, tapi caranya yg bikin aku kecewa.
=== spoiler ===
Dengan memasukkan dua tokoh baru yg tiba-tiba datang lalu mengeksekusi ending. Cuma muncul di ending aja.
======
Bener kata review lain di GR, bahwa timeline waktunya ngaco. Dari 1807 melompat ke 1805 padahal alurnya maju.
Tapi overall aku puas banget! Jarang2 baca romance karya Ziggy dan ini romance-nya maniss tapi nggak berlebihan, nggak bikin eneg.
4/5 ⭐ dari aku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awal cerita hingga pertengahan, alurnya cukup manis. Matthew dan Kimberly punya dialog yang gemess banget, Matthew ngajarin kim baca sampai gabisa fokus sama pelajarannya. Dialog dan POV-nya Matthew di awal hingga pertengahan tuh bagus banget menurutku, dimana dia diceritakan sebagai anak yang pintar tapi cool gitu dan berkesan sombong. Terus Kim sebagai maid yang polos dan kepoan orangnya. Novelnya banyak menceritakan detail tentang puisi-puisi karya seniman Eropa lama, dan itu makin menghidupkan era Kerajaan Inggris, sesuai dengan alurnya. Aku juga suka detail kue, bunga, dan tempat-tempat yang dituliskan penulis, ceritanya jadi berkesan hidup. Part kesukaanku di novel ini, pas Matthew memelas pada Kim, setelah Kim kepergok sama Darius (walaupun itu jebakannya Darius sih). Matthew kesannya seperti pria yang ga bisa hidup tanpa Kim. DAN AKU SUKA BANGET PART ITU. Awalnya kukira bakal ada tragedi gimana gitu setelah adegan itu, tapi pas menuju akhir, ceritanya malah jadi ngebosenin:((. Povnya Matthew tiba-tiba kaya berubah gitu feelnya, dia jadi kaya cowo yang cerewet dan terlalu banyak monolog yang sebenarnya ga perlu gitu, loh. Aku juga kaget tiba-tiba Darius kerja sama bareng mereka, dan Rebecca kesannya kaya sok akrab gitu. Ceritanya berujung seperti cerita klise kerajaan pada umumnya. Out of my expectations, jujur:(. Rasanya tuh kaya kita udah dibawa terbang sama awal yang manis banget, eh endingnya malah flat. Oh ya, endingnya juga terlalu dipaksain buat sad menurutku, kayaa...semua tiba-tiba kecampur gitu, terlalu banyak yg mau dibahas. Dan dialog romance pas awal-awal antara Matthew dan Kim tuh menurutku kurang bangett, kita ga diberitahu gimana pas Matthew tiba-tiba ngerasa aneh pas bareng Kim, begitu juga dengan Kim, jadi kaya disuruh nebak sendiri gitu. Soo, aku kurang puas buat ceritanya, tapi ga kaget juga karena ini termasuk buku yang lama (2015).
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dear Granny Catarina, terima kasih telah mendidik Matthew menjadi pria bangsawan yang sangat baik, sopan dan penyayang. Seperti halnya Kim, saya sebagai pembaca juga jatuh hati dengan sikap Matthew. Kelembutannya, kesabarannya, dan caranya memperlakukan wanita benar-benar membuat siapapun akan jatuh hati padanya. Dan hal itu cukup sulit ditemukan pada Tuan Muda-Tuan Muda yang lain...
Selama membaca buku ini perasaan saya bercampur aduk antara senang, sedih, marah, benci, tersipu dan lainnya. Ya, buku ini kayak nano-nano, manis asem asin rame rasanya #bukaniklan. Tidak ada satupun yang tidak saya suka dari buku ini, oh, kecuali endingnya. I hate that... huhuhu. Tapi meski endingnya demikian, saya tetap memberikan 4 bintang pada novel yang mengharu biru ini... :')
Ahh,,, saya bingung mau nulis apa lagi. Soalnya saya masih belum terima dengan apa yang terjadi... Mungkin akan saya lanjutkan di blog setelah saya berhasil mengikhlaskan semuanya... hhuhu.
Akhirnya selesai setelah hampir berhenti baca di tengah jalan, jika saya masih berada di usia belasan pertengahan mungkin buku ini menjadi salah satu bacaan yang saya sukai.
Secara garis besar cerita ini mengangkat tema fairy-tale, dengan latar 1800-an dimana, seorang bangsawan Inggris (Baron) jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan pelayannya. Endingnya dramatis namun tidak begitu plot twist.
Salah satu hal yang membuat saya bertahan sampai akhir karena cara penulisan, serta pembawaan cerita yang terasa ringan dan tidak membosankan. Menurut perspektif pribadi buku ini tidak jelek, tapi juga tidak bagus, so-so, maybe just not my cup of tea saja.
Saya selalu jatuh cinta dengan setiap karya Ziggy. Untuk buku ini yang ditulisnya saat usia 16 tahun, benar benar membuat saya takjub. Pasalnya, bahasanya mempesona. Saya suka.
Untuk timeline, memang membingungkan karna selalu berganti tokoh. Namun lama lama dapat dipahami dengan baik walau sulit mengerti di bab bab awal.
Untuk ending, karna sudah sering melahap tulisan Ziggy, saya tau Ziggy punya surprise yang sama untuk tulisan ini. Jadi hati saya sudah siap.
Ziggy dengan nama lain, dan aura yang hadir pun berbeda. Secara keseluruhan aku suka konflik di cerita ini. Bagaimana cinta begitu rumit bila hadir di kelas yg berbeda. Hanya saja ada beberapa hal yg menganggu seperti setting waktu. Di suatu waktu ditulis 1807 di lembar berikutnya 1805 dan itu tidak menunjukkan sedang flashback tapi alur tetap maju seperti biasa. Jadi agak2 bingung masa urutan waktunya
(sebenernya 3.5) Matthew dan Kimberley lucu banget, serius. Hubungannya menggemaskan di awal-awal cerita tapi agak dramatis mendekati ending, dan endingnya aakdhhajd tolong deh padahal itu sebentar lagiii! T___T
Ada satu yang bikin aku nggak nyaman, yaitu penulisan tahun di tiap bab seperti misalnya Bab A tahun 1808 kemudian Bab B tahun 1806. Hal itu aku kira scene flashback, ternyata tidak berpengaruh besar karena alur tetap maju. ENDINGNYA T___T
Kimberly Tuddels datang ke rumah bangsawan MacGregor sebagai seorang pelayan. Tugasnya adalah melayani Tuan Muda Matthew MacGregor yang usianya kurang lebih tiga tahun lebih tua darinya. Sebenarnya Matthew memiliki pengasuh bernama Catarina DiBeneditto, seorang wanita berdarah Italia yang oleh Matthew dipanggil Granny. Namun karena Granny sudah tua, orang tua Matthew merasa perlu untuk mencari pelayan bagi Matthew yang sebaya dengannya.
Granny selalu mengajarkan kepada Matthew untuk memperlakukan semua perempuan layaknya seorang lady. Tidak terkecuali bagi Kimberly. Matthew bahkan mengajar Kimberly hingga dia bisa membaca, menikmati puisi, juga memberikan separuh hak kepemilikan atas anjing kesayangannya.
Seiring waktu, Matthew semakin dekat dengan Kimberly. Apalagi sejak Granny meninggal dunia. Kimberly bukan lagi seorang pelayan baginya. Meski dia sudah menganggap Kimberly sebagai seorang adik, ada rasa di dalam hatinya yang tidak dia pahami. Yang dia tahu dia menyayangi Kimberly karena Matthew tidak mempercayai cinta.
Ketika seseorang menyayangimu, dan tidak ada orang lain yang menyayangimu, kau akan menyayanginya. Benar-benar menyayanginya.
Jujur saja, saya tidak menaruh ekspektasi apapun saat awal membaca buku ini. Saya hanya penasaran dengan tulisan dari seorang Ginger Elyse Shelly yang adalah pseudonym dari Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Nama penulis yang unik membuat saya tertarik untuk membaca karyanya. Kebetulan saya juga akan membaca buku terbaru dari Ziggy yang berjudul Tanah Lada. Saya ingin membandingkan bagaimana “rasa” dari tulisan Ginger maupun Ziggy. Daan… ternyata saya menyukai novel Dear Miss Tuddels yang mengambil genre historical romance ini.
Novel ini menceritakan bagaimana kehidupan dari bangsawan di Inggris di masa lalu, dimana pengasuhan seorang anak dipercayakan kepada orang lain. Kedua orang tua Matthew sangat sibuk dengan urusan sosial mereka, sehingga Matthew hanya bisa merasakan kasih sayang dari pengasuh dan pelayannya. Sementara itu, kehidupan sosial Matthew sudah diatur sejak dia masih kecil, termasuk dengan siapa dia harus bertunangan nantinya. Ketika Matthew menyadari cintanya hanya untuk Kimberly seorang, maka itu berarti ada masalah besar yang harus dia hadapi.
Di sisi lain, novel ini memperlihatkan perbedaan mencolok antara strata sosial Matthew yang seorang bangsawan dan Kimberly yang hanyalah pelayan. Meski keduanya saling mencintai, Kimberly sadar bagaimana seorang pelayan hampir tidak ada artinya di mata para bangsawan. Kimberly harus menyaksikan pertunangan kekasih hatinya dengan gadis yang sederajat dengannya.
Ide ceritanya memang bukan hal yang baru. Tapi cara penulis menceritakan kisah ini membuat saya menyatu dengan Matthew dan Kimberly. Kisah mereka dituliskan dari POV Matthew dan Kimberly sehingga pembaca bisa mengetahui bagaimana pergumulan di dalam diri kedua tokohnya. Saya mengapresiasi Ginger yang adalah seorang penulis lokal tapi bisa membawa sensasi historical romance yang tidak kalah dengan penulis internasional. Satu-satunya kekurangan dalam novel ini adalah typo pada penulisan tanggal kejadian.
Lantas bagaimana akhir kisah antara Matthew dan Kimberly?
The first time i read the sinopsis, i was like 'i must have this book.' so I bought it and it becomes the first novel set in the early 19th century that i read eagerly. And... it didn't ruin my expectation. This book is really entertaining. The writer can illustrate the situation at the time vividly (so far i will go with my opinion since like i said before this is the first novel taking place in 19th century that i read and i have no other references) and she can broaden the major conflict in a good way. After all, the best part of this book is the writers' choice of words. i love it so!
Hubungan cinta yang penuh perbedaan merupakan ide yang tidak akan pernah mati. Novel ini pun mengangkat perbedaan tersebut dalam kisah cinta yang terjalin di antara kedua tokohnya. Saya menikmati ide cerita beda status sosial yang disajikan.
“Cinta bukan alasan untuk menghalalkan segala cara.” (h. 170)
Bagi saya, penulisan Dear Miss Tuddels rapi, mengalir, enak dibaca. Tidak salah setelah mengetahui bahwa Ginger Elyse adalah pseudo dari seorang penulis yang cukup terkenal. Hubungan karakternya juga berhasil membuat saya jatuh hati. Luar biasa sekali penulis yang satu ini ternyata, ya. :’)
Dear Miss Tuddles saya rekomendasikan bagi mereka yang mencintai historical romance. Juga bagi mereka yang suka membaca cerita romantis dengan gaya bahasa sangat mengalir.
... pertama adalah suasana yang dibangun pada novel ini. Terasa benar-benar hidup. Penulis berhasil membawa pembaca –setidaknya saya, ke zaman Victoria. Kedua, adalah gaya penceritaannya yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama, melalui kacamata Kimberly dan Matthew. Sehingga, pembaca di sini dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh Kimberly dan Matthew secara lebih “personal”.
Saya cukup tertarik dengan hubungan Granny dan Matty, dimana Matty adalah keluarga bangsawan sedangkan Granny hanyalah pengasuh. Namun, ketika kau sudah diasuh sejak kecil olehnya—bahkan ayahmu juga diasuh olehnya—mau tidak mau kau akan menghormatinya seperti nenekmu sendiri. Itulah yang terjadi pada hubungan mereka.
Ceritanya menarik. Bahasanya ditulis seolah-olah novel ini adalah novel terjemahan, padahal ternyata bukan, tapi itu bukan masalah yang berarti. Yang membuat saya agak sedikit kurang suka adalah (SPOILER) bagaimana penulis mengangkat isu pemerkosaan tapi kemudian mengabaikannya. Miss Tuddels diperkosa seseorang, tapi kemudian Miss Tuddels & pria itu menjadi berteman. Rasanya kurang masuk akal.
Gemes dengan tingkah Kim yang polos dan terkesan bodoh. Tokoh Darius cocoknya sama Rebecca aja, si menyebalkan dan si bangsawan cerewet. Untuk akhir cerita suka banget, happy ending yang indah.
Aku emang udah diperingatin sih sama endingnya, tapi tetep aja T_T Kasihan bgt Kimberley, apalagi dia mengandung anaknya sama Matthew Endingnya bikin aku sebel yaampun sebel sebel sebel. Aku gak pernah suka baca historical romance tapi yg ini pengecualian.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bukan fans dari endingnya, sih. Tapi konflik dan settingnya terasa nyata, dan ada bagian yang membuat saya senyum-senyum sendiri juga. In fact a good book, tapi karena banyak deskripsi dan setting waktunya panjang bacanya jadi terasa lama.
! mungkin lebih cocok untuk pembaca dewasa karena memang ada konten yang tidak cocok untuk anak-anak.