Mengapa brand lokal sulit berkembang di Indonesia?
Mengapa di negeri subur loh jinawi pertaniannya terbelakang?
Mengapa kita kerap gagap menangkap sinyal perubahan?
Bagaimana dunia bisnis sebaiknya menganggapi berbagai persoalan masyarakat?
Seberapa jauh perkembangan teknologi informasi bisa membantu?
Di mana peran utama industri kreatif dan generasi muda?
Sederet pertanyaan di atas terus-menerus mengusik Handoko Hendroyono, praktisi periklanan dan pemasaran yang dikenal sebagai creative storyteller dan content creator. Sebagian buah pikirannya yang ditulis tiga tahun belakangan dan tersebar di berbagai blog dan social media kini dirangkum dalam buku ini.
Dilengkapi banyak contoh kasus, Fish Eye menawarkan cara pandang baru dalam melihat peluang dan masalah di dunia bisnis, kreativitas, dan kemasyarakatan.
Lewat buku ini, penulis yang sudah malang melintang di dunia agensi dan periklanan selama puluhan tahun menceritakan berbagai macam unek-uneknya soal desain dan branding. Penulis mengutarakannya dalam potongan tulisan kecil-kecil serta gambar ilustrasi yang memang nyeni banget. Berbagai keresahan penulis tentang bagaimana membangun industri kreatif di Indonesia beserta bagaimana menghadapinya dipaparkan di sini beserta beberapa ilmu branding dan marketing dari dunia barat. Beberapa quote di buku ini mungkin bagi pemula di industri kreatif akan sangat sangat berguna
Tapi buku ini mempunyai masalah yang sangat sangat besar dan cukup membuat saya membaca buku ini dalam keadaan skimming. Buku ini hanya sedikit membahas tentang branding dan lingkar sekitarnya dan kebanyakan isi keluhannya pun sudah ditemukan solusinya begitu juga dengan pujian yang diberikan di dalam isi buku ini pun juga sudah basi dan tidak relevan (dikarenakan buku ini terbit di tahun 2015 dan cetak an keduanya yang dirilis di tahun 2019 tidak diupdate lagi isinya). Embel embel creative storyteller yang terpampang di depan buku terasa seperti “jebakan betmen” karena buku ini hanya menyampaikan “oh iya kamu harus jadi kreatif dan menolong sesamamu serta lingkunganmu” tapi tidak memberikan bagaimana caranya menjadi “creative storyteller” yang ada buku ini hanya berisikan mimpi-mimpi sehingga saya hampir mencap buku ini sebagai buku “pseudo-motivational-self-help” book yang terlihat murahan karena isinya hanya ajakan dan contoh tanpa ada bukti konkrit bagaimana cara melakukannya atau contoh kasus yang detail terkait hal tersebut.
Beberapa gambar dan ilustrasi yang ada di buku ini memang bagus secara desain tetapi terlihat seperti membuang banyak halaman dari bukunya dan tidak terlihat seperti nyambung dengan isi bukunya (alangkah lebih baik jika pendekatan penulis dalam hal ilustrasi dan desain seperti buku “whatever you think, think the opposite)
Buku ini berkali-kali mengatakan “ayo brand lokal jangan kalah dengan brand luar” tapi tidak diberi tahu caranya seperti apa untuk bersaing dengan brand luar yang ada hanyalah contoh brand A keren, brand B keren, brand C peduli lingkungan. Ok, cool tapi bagaimana caranya untuk bisa ke sana tidak diberi tahu secara jelas dan membuat buku ini bukanlah buku tentang membuat brand tapi lebih ke buku motivasi tapi dibalut dengan bahasa nyeni nan keren untuk menarik minat pembaca millenial yang seolah gundah gulana akan hal itu (yang sebenarnya bagus karena ya memang mungkin target market utama buku ini kesana)
Buku ini akan cocok bagi yang benar-benar-benar-benar baru dalam hal desain, industri kreatif dan teman-temannya tapi bagi orang yang sudah familiar dengan hal itu dan sudah paham sebaiknya tidak disarankan untuk membaca buku ini karena bukunya terlalu banyak motivasi sampai lupa membahas branding itu seperti apa atau mungkin memang buku ini membranding dirinya sendiri sebagai buku motivasi tetapi dikemas dengan gaya metropolitan?
Buku ini bisa saja diselesaikan hanya dalam waktu 2 jam, sembari berdiri di rak toko buku karena pasti ada satu eksemplar yang tidak disegel. Namun, aku rasa buku ini cukup menarik untuk sekedar dibaca sambil lalu. Maka aku putuskan untuk membelinya. Memiliki buku ini ternyata bukanlah suatu tindakan yang menghamburkan uang. Nyatanya, aku mendapat cukup banyak hal baru dari membaca buku ini.
Untuk mencari ide, aku rasa buku ini cocok. Ringan dan bisa habis dalam sekali duduk. Harganya pun bukan harga yang kelewat mahal. Lumayan untuk memberikan kita pandangan baru untuk menciptakan pemecahan masalah.
Membaca buku ini diawal tahun 2021, beberapa poin masih sangat cukup relevan. Buku pengingat untuk mulai mengapresiasi karya dalam negri dan terus bergerak melakukan perubahan walaupun lingkungan dan pemangku kebijakan belum mendukung sepenuhnya. Banyak sekali cerita menarik terkait nama-nama pelaku industri kreatif.
Buku yang ringan dan bisa cepet selesai dibaca dalam waktu singkat, isinya bagus buat ilmu2 pemula tentang gimana jalannya dunia pemasaran saat ini (atau mungkin di tahun 2015) dan be creative from that. Di buku ini kita diajak sebagai warga lokal harus bisa membuat brand yang baru dan peduli lingkungan dengan beberapa contoh brand luar yang sudah melakukan hal tersebut. Enaknya buku ini banyak ilustrasi2 motivasi atas pikiran kita, namun terlalu banyak memakan halaman. Tapi buku ini overall bagus buat nambah ilmu-ilmu tentang dunia pemasaran dan industru kreatif di indonesia sekarang, dengan berbagai permasalahan2 yang ada.
Buku ini jauh dari ekspektasiku. Aku kira dengan embel-embel "creative storyteller" penulis akan menjelaskan atau menggambarkan bagaimana dunia atau tips n trik menulis kreatif. Ternyata tidak.
Dalam buku ini, penulis menjelaskan pemikiran-pemikiran dan prediksi pribadinya terhadap dunia kreativitas kedepannya. Dan well, itu beneran kejadian di tahun 2023.
Ada banyak ilustrasi dalam buku ini ada sebagian yang menggunggah dan menyindir, ada juga yang bikin bertanya-tanya untuk apa ilustrasi ini dimasukkan dalam buku?
Mayaan lah buat nambah pengetahuan dan reform makna kreativitas.
Buku yang sangat nyaman dibaca, saking nyamannya sampai susah dilepas dan tau-tau udah mau abis. Bahasanya ringan tapi bukan berarti tidak berbobot, justru banyak hal menggugah yang disampaikan di dalamnya. Buku ini pertama dicetak tahun 2014, tapi tema di dalamnya masih relevan hingga saat ini. Nice book.
Buku yang ringan namun berbobot itu jarang. Ini adalah salah satu nya.
Kalau sudah baca buku Do & Artisan Brand, sebetulnya pesannya mirip-mirip. Namun tetapi worth buat baca semua nya karena ilustrasinya beda-beda dan ‘magic’ dari buku seperti ini adalah bukan saja pengetahuan yang di tularkan, namun juga ‘api’ yang di percikkan ketika membacanya.
Yang ini bikin ngajak lebih mikir tentang seperti apa sih membangun brand dari sisi bigger picturenya, tetap terasa dapet hal insighful. Tentang bagaimana membangun brand adalah dengan menjadi jawaban dari sebuah permasalahan dilihat dari hulu hingga ke hilir, brand-brand sukses yang menjadi contohnya nih yang bikin mikir. Kok bisa ya dengan ide seperti itu bisa sampai bergaung jauh brand-nya.
Kamu pengen jadi kreatif? atau sedang membangun brand? Buku ini bisa jadi teman ngobrol, karena ditulis oleh seorang praktisi creative storyteller dan content creator. Jadi, singkatnya, buku ini kaya bicarain soal gimana liat peluang dan memanfaatkan kreativitas. Misalnya, gimana sih caranya bangun brand, mengikuti tren, sampai membahas kultur partisipasi gitu. Tapi ini ngga cuma buat brand aja kok, kalo kita mau jadi content creator coba deh baca buku yang satu ini. Bukunya banyak teorinya tapi bahasnya ringan banget. Ada juga kaya 'tips' yang belum pernah kepikiran sama kita, misalnya pas bahas momentum, creative addict, PoV. Terus, ada ilustrasi yang keren dalam buku ini jadi ngga bakal bosen pas lagi baca.
Di dalam Fish eye, mas Handoko Hendroyono menuliskan secara persuasif how to build a creative company with a creative way. Creative way yang saya tangkap dari buku ini adalah make a new original method dalam proses building company tersebut yang nantinya akan membentuk karakter dari perusahaan. Ajakan persuasif tadi di-package berupa storytelling yang menjadikan buku ini nyaman dan tidak terlalu berat untuk dibaca. Selain itu, referensi-referensi yang diberikan oleh mas Handoko menurut saya pribadi sangat bagus untuk di riset.
"Di Indonesia sekarang ini saya melihat Facebook dan Twitter masih banyak menjadi ajang nyampah. Sayang... Dalam hati, saya hanya bisa protes. Tapi melalui tulisan ini, saya akan protes dengan tegas. Bayangkan dengan banyakanya produksi racun, polusi, dan entah apa namanya segala keburukan e-waste, kita masih juga nyampah di Twitter dan Facebook, atau media lainnya. Makanya, saya ngedumel kalau orang asal bicara atau menulis: DASAR NYAMPAH!"
Sekali2 baca buku nonfiksi lagi. Buku yang menarik. Informasi baru yang saya dapat setelah membaca buku ini tidak sampai saya tertegun dan langsung googling mencari nama2 yang disebut. Cukup sekadar tahu lah.
Yak, ini sejenis buku panduan atau how-to be creative or other people's creativity will eat you. Bukan bacaan buat saya tapi :p
Buku yang sangat menarik untuk di baca penuh dengan sarcasm , mudah di pahami dan menginspirasi. Sekali lagi kita diingatkan bahwasanya kita harus lebih kreatif dalam menerapkan strategi di era yg penuh perubahan ini. Kita di ingatkan akan kenyataan ironis ttg banyaknya peluang yang kita tinggalkan. Suatu sudut pandang yang baru dan segar , jarang saya temui.
This book has many awesome illustrations, but I guess what this book offers is just that. Nothing else but criticism without concrete solutions about how to think creative properly.