What do you think?
Rate this book


212 pages, Paperback
First published September 1, 2015
Apa yang salah sih jadi jomblo. Ya, memang dia ke mana-mana sendirian. Bareng ransel doang. Tapi, rasanya asyik-asyik saja. Nggak ada yang ngintilin melulu atau cerewet nanya, kamu di mana? Dengan siapa? Melakukan apa? – hlm. 136
Rania, seorang janda kembang yang trauma disakiti pria. Ia lalu membangun sebuah kos-kosan dengan misi tertentu, yaitu mendidik cewek-cewek agar tidak mudah tergoda oleh rayuan cowok. Maka, berdirilah Kos Jomblo, dengan 10 orang penghuni yang memiliki karakter warna warni. Yang seru, meskipun syarat tinggal di Kos Jomblo adalah harus jomblo, tapi isi cerita di buku ini nggak jauh-jauh dari pedekate, pacaran, friendzone, dll. :D
Secara konten, buku ini lucu, seru, koplak. Sayangnya, editingnya gengges alias ganggu banget, deh. Bayangkan, lagi asyik baca tiba-tiba bingung karena penulisan nama tokoh yang sering keliru, typo, tanda baca yang salah, dialog yang saling bertubrukan di satu paragraf (sebaiknya kalau beda tokoh, dienter aja biar nggak bingung), dan ada adegan yang terbalik susunannya.
Di halaman 52 si Vanessa bilang, “Tapi kamu cocok dipanggil Dudung. Tonjokanmu dahsyat.” Tapi, baru di halaman 53 ada adegan Kidung nonjok si Vanessa-nya. Bingung deh, saya.
Mengabaikan editing yang mengganggu, isi dari buku ini sangatlah menghibur. Ada-ada saja kelakuan para jones di buku ini. Buku ini seolah hadir untuk memberikan dukungan kepada para manusia lajang bahwa ….
“Jadi jomblo itu nggak mengerikan, karena jomblo itu bebas merdeka. Meski terhalang dompet tipis di tanggal tua.” – hlm. 81 :D
PS: Terima kasih pemberian bukunya, Mas Dion. :)